Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Analisis Antioksidan Dan Organoleptik Teh Herbal Kulit Buah Naga (Hylocereus polyrhizus) Yuan Ardani Malo; Melycorianda Hubi Ndapamuri; Lusia Danga Lewu
Sandalwood Journal Of Agribusiness And Agrotechnology Vol. 4 No. 1 (2026): Edisi Mei 2026 (SJAA)
Publisher : Prodi Agroteknologi dan Agribisnis - Universitas Kristen Wira Wacana Sumba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58300/jb988855

Abstract

Tanaman buah naga termasuk tanaman tropis. Curah hujan yang ideal untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman ini sekitar 60 mm/bulan atau 720 mm/tahun. Bagian buah naga yang sering dimanfaatkan adalah bagian daging buah yang berwarna merah, putih ataupun ungu sedangkan kulitnya yang mempunyai berat 30 - 35% dari berat buah belum dimanfaatkan secara maksimal dan hanya dibuang sebagai sampah, padahal kulit buah naga mengandung zat bioaktif yang bermanfaat bagi tubuh antara lain antioksidan (dalam bentuk asam askorbat, betakaroten, dan antosianin), dan serat pangan (dalam bentuk pektin). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis aktivitas antioksidan dan karakteristik organoleptik teh herbal kulit buah naga merah ( Hylocereus polyrhizus ) berdasarkan variasi suhu dan lama pengeringan. Penelitian dilakukan menggunakan rancangan perlakuan kombinasi suhu pengeringan (50°C, 75°C, dan 100°C) serta lama pengeringan (18 jam, 21 jam, dan 24 jam). Analisis dilakukan terhadap aktivitas antioksidan menggunakan nilai IC50 serta pengujian organoleptik meliputi warna, aroma, rasa, dan tekstur dengan metode hedonik menggunakan 25 panelis pengukuran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu dan lama pengeringan mempengaruhi aktivitas antioksidan dan tingkat kesukaan panelis terhadap teh herbal kulit buah naga merah. Nilai aktivitas antioksidan terbaik diperoleh pada perlakuan A3B3 (100°C/24 jam) dengan nilai IC50 sebesar 1.814,720 ppm. Hasil organoleptik menunjukkan bahwa warna yang paling disukai terdapat pada perlakuan A1B3 (50°C/24 jam), aroma pada perlakuan A1B1 (50°C/18 jam), rasa pada perlakuan A2B3 (75°C/24 jam), dan tekstur pada perlakuan A3B1 (100°C/18 jam). Secara umum, teh herbal kulit buah naga merah diterima panelis pada kategori suka.
Efektifitas Ekstrak Daun Tembakau Terhadap Mortalitas Hama Ulat Grayak (Spodoptera Frugiperda) Dedito Prasetio Umbu Hina; Lusia Danga Lewu; Melycorianda Hubi Ndapamuri
Jurnal Biogenerasi Vol. 11 No. 3 (2026): Juli - September 2026
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/dsqb6453

Abstract

Penurunan produksi jagung di Kabupaten Sumba Timur yang diduga dipicu oleh serangan hama ulat grayak (Spodoptera frugiperda) dan dampak negatif penggunaan pestisida kimia mendorong pencarian alternatif pengendalian yang lebih ramah lingkungan, seperti pestisida nabati dari ekstrak daun tembakau. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pestisida nabati ekstrak daun tembakau terhadap mortalitas ulat grayak serta menentukan dosis ekstrak yang memberikan mortalitas tertinggi. Penelitian ini bersifat eksperimental. Metode yang digunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 6 perlakuan dan 4 ulangan pada larva instar-3 Spodoptera frugiperda sebagai sampel (perlakuan berbagai konsentrasi ekstrak daun tembakau), dan data mortalitas, kecepatan kematian, penurunan aktivitas makan, serta gejala kematian dianalisis menggunakan ANOVA diikuti uji lanjut DMRT pada α = 5%. Penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun tembakau efektif meningkatkan mortalitas ulat grayak dan menurunkan aktivitas makannya, dengan konsentrasi 25% (P5) paling cepat dan paling tinggi efeknya. Analisis ANOVA memperlihatkan pengaruh yang sangat signifikan pada mortalitas, kecepatan kematian, dan penurunan aktivitas makan (Fhit > Ftab; p < 0,01), dan uji lanjut menunjukkan P5 berbeda nyata dari perlakuan lain. Hasil ini mengindikasikan bahwa meningkatnya konsentrasi ekstrak—kemungkinan besar kandungan nikotin yang lebih tinggi—meningkatkan toksisitas terhadap S. frugiperda sehingga mempercepat gejala keracunan dan kematian. Ekstrak daun tembakau terbukti efektif meningkatkan mortalitas dan menurunkan aktivitas makan ulat grayak secara dosis-respons, dengan konsentrasi 25% (P5) paling efektif, ekstrak ini berpotensi dikembangkan sebagai alternatif pestisida nabati yang lebih ramah lingkungan untuk pengendalian Spodoptera frugiperda pada budidaya jagung.
Pengaruh Pemberian Kompos Feses Kambing Terhadap Peningkatan Sifat Fisik Dan Kimia Tanah Lahan Kering Maxi Sandro Christian Lodo Ola; Lusia Danga Lewu; Yonce Melyanus Killa
Sandalwood Journal Of Agribusiness And Agrotechnology Vol. 4 No. 1 (2026): Edisi Mei 2026 (SJAA)
Publisher : Prodi Agroteknologi dan Agribisnis - Universitas Kristen Wira Wacana Sumba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58300/fz898649

Abstract

Produktivitas lahan kering di Sumba Timur rendah akibat keterbatasan air, degradasi tanah, erosi, kandungan bahan organik rendah, dan ketersediaan hara terbatas. Penelitian ini bertujuan mengetahui dosis kompos feses kambing yang paling efektif untuk meningkatkan produktivitas tanah lahan kering. Menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 taraf perlakuan (0%, 10%, 20%, 30%, 40% per polybag) dan 4 ulangan. Tanah halus homogen dicampur kompos sesuai dosis, diinkubasi 7–14 hari, kemudian diamati parameter bobot isi, kadar air, permeabilitas, porositas, pH, KTK, dan C-organik yang dianalisis menggunakan ANOVA dan uji BNT taraf 5%. Hasil prnrlitian menunjukkan dosis 10–30% (P1–P3) meningkatkan sifat fisik tanah melalui penurunan bobot isi (1,36–1,45 g/cm³) dan peningkatan permeabilitas sangat nyata dari 9,63 cm/jam menjadi 40,23–53,15 cm/jam, mendukung gembur tanah, porositas, drainase, dan aerasi. Namun, dosis 40% (P4) menurunkan kualitas fisik tanah karena bobot isi meningkat menjadi 1,80 g/cm³ akibat pemadatan mekanis atau bahan organik belum terdekomposisi sempurna. Kompos meningkatkan sifat kimia tanah melalui peningkatan pH dari asam moderat 6,34 menuju netral 7,00 pada dosis 40%, akibat pelepasan kation basa (Ca²?, Mg²?, K?) yang menetralkan keasaman dan meningkatkan ketersediaan hara N, P, K. Meskipun demikian, kompos tidak meningkatkan secara nyata kadar air tanah, KTK, dan C-organik. Dosis optimal untuk lahan kering adalah 10–30% yang menurunkan kepadatan, meningkatkan permeabilitas, dan menaikkan pH mendekati netral tanpa menyebabkan pemadatan.