Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

ANALISIS WACANA DALAM PIDATO GIBRAN SAAT DEKLARASI CAPRES-CAWAPRES 2024: KAJIAN LINGUISTIK SISTEMIK FUNGSIONAL DAN RELEVANSINYA DALAM PEMBELAJARAN ANALISIS TEKS Dwipayana, I Kadek Adhi; Bahri, Syaiful; Yoniartini, Desak Made; Suandi, I Nengah
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Undiksha Vol. 13 No. 4 (2023)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbsi.v13i4.70291

Abstract

Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kualitatif yang bersumber dari pidato Girban saat deklarasi Capres dan Cawapres 2024. Data dikumpulkan dengan menggunakan teknik simak dan catat dari sumber video youtube Kompas TV. Ada tiga data yang dianalisis, yaitu data transitivitas (partisipan, proses, dan sirkumstansi), fungsi pertukaran terdiri atas sistem modus (mood) dan modalitas, dan konteks situasional dalam pidato Gibran Rakabuming saat deklarasi Capres-Cawapres. Penelitian ini menggunakan kerangka kerja pendekatan linguistik sistemik fungsional (LSF). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa wacana digunakan untuk mengkomunikasikan ideologi, visi politik, dan pemikiran Gibran sebagai Cawapres terkait tentang keberlanjutan masa depan negara Indonesia. Analisis Linguistik Sistemik Fungsional (LSF) dalam pidato Gibran membantu membedah cara bahasa digunakan untuk membangun representasi ideologi dan arah politik Gibran melalui analisis transitivitas, modalitas, dan konteks situasional. Pidato Gibran menunjukkan “keyakinan” atau “kepastian” yang dibuktikan dengan dominasi penggunaan modalitas epistemik. Pidato Gibran mencerminkan strategi retorika yang digunakan untuk memengaruhi opini publik, memperkuat dukungan politik, dan merespons tantangan politik dalam rangka bersaing dalam pemilu 2024.
Pemanfaatan linguistik generatif transformasional dalam pengajaran pengembangan kalimat berbasis muatan lokal pada Siswa Sekolah Dasar Dwipayana, I Kadek Adhi; Gotama, Putu Andyka Putra; Putrayasa, Ida Bagus
Academy of Education Journal Vol. 15 No. 1 (2024): Academy of Education Journal
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47200/aoej.v15i1.2163

Abstract

This research uses a library research approach that prioritizes philosophical analysis over empirical data testing. There are three important points studied in this research, namely learning sentence analysis in elementary school students using a transformative generative linguistic approach, the application of types of transformation in learning sentence analysis, and the relevance of learning sentence analysis by utilizing local content. The results of this study are projected to be used as a reference source for language teaching guidelines that further develop language creativity, especially the use of sentences. The generative transformational linguistic approach developed by Chomsky, offers an interesting theoretical framework for understanding sentence variation and its underlying structural transformations. Implementation of sentence analysis teaching based on a transformational generative linguistic approach to elementary school students requires implementation steps that are appropriate to the level of cognitive development and language skills of students at the elementary school level, namely the initial stage (first and second grade students), the middle stage (third grade students and four), and advanced stages (fifth and sixth grade students). Implementation of the transformational generative linguistic approach can be carried out through several stages, namely introducing the basic ideas of generative grammar, understanding the basic structure of sentences, understanding syntactic transformations, transformation exercises and case studies. Local cultural inclusion can be utilized in teaching sentences to elementary school students. Students can use language in their own cultural context, consider variations in linguistic expression, and explore the cultural strengths of sentence structure.
PARADOKS PENOKOHAN DALAM SASTRA LISAN INDIGENOUS BALI SEBAGAI MEDIA KETERAMPILAN BERNALAR KRITIS: KAJIAN ETNOPEDAGOGIS: THE PARADOX OF CHARACTERISTICS IN INDIGENOUS BALINESE ORAL LITERATURE AS A MEDIA FOR CRITICAL REASONING SKILLS: AN ETHNOPEDAGOGICAL STUDY Dwipayana, I Kadek Adhi; Suastra, I Wayan; Arnyana, Ida Bagus Putu
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Undiksha Vol. 14 No. 4 (2024)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbsi.v14i4.88084

Abstract

Penelitian ini mengeksplorasi paradoks penokohan dalam cerita-cerita lisan indigenous Bali melalui pendekatan hermeneutik. Penelitian ini bertujuan mengungkap tiga hal pokok, yaitu ideologi perlawanan kelas terhadap ketidakadilan sosial, paradoks penokohan, dan relevansi cerita lisan indigenous bali sebagai media keterampilan bernalar kritis. Metode analisis data menggunakan pendekatan hermeneutik dengan teknik analisis yang meliputi analisis tematik untuk perlawanan kelas dan strategi penokohan, serta konteks sosial untuk mengaitkan cerita sebagai media pengembangan keterampilan bernalar kritis. Analisis ini menyoroti paradoks penokohan dalam cerita, baik dari posisi subordinat maupun dominan, yang terlibat dalam strategi perlawanan terhadap struktur kekuasaan. Penelitian ini juga menilai peran paradoks penokohan dalam menggambarkan konflik sosial dan menciptakan ruang bagi ekspresi ketidakpuasan terhadap norma-norma sosial yang tidak adil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cerita lisan indigenous Bali memberikan gambaran mendalam tentang perlawanan kelas subordinat melalui paradoks penokohan, dengan karakter subordinat yang mengandalkan kecerdikan dan strategi untuk menghadapi kekuasaan yang menindas. Dapat disimpulkan bahwa cerita-cerita lisan indigenous Bali yang mengandung paradoks penokohan memiliki relevansi yang kuat sebagai media keterampilan bernalar kritis. Cerita lisan indigenous Bali dapat diterapkan dalam pembelajaran melalui Narrative-Based Learning dengan langkah-langkah seperti pembacaan, diskusi, analisis konflik dan paradoks, serta refleksi dan penerapan nilai.
INTEGRASI CYBERSASTRA DALAM INOVASI KURIKULUM BAHASA INDONESIA: KONTROVERSI, POTENSI, DAN TANTANGANNYA: INTEGRATION OF CYBERLITERATURE IN INDONESIAN LANGUAGE CURRICULUM INNOVATION: CONTROVERSY, POTENTIAL, AND CHALLENGES Dwipayana, I Kadek Adhi; Artika, I Wayan
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Undiksha Vol. 15 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbsi.v15i1.94033

Abstract

Penelitian ini digolongkan ke dalam penelitian studi literatur, melibatkan penyelidikan dan analisis literatur dan sumber-sumber tertulis untuk mengembangkan pemahaman tentang potensi cybersastra dalam adaptasi kurikulum sastra Indonesia. Peneliti menjalankan sintesis literatur dengan menggabungkan dan merangkum temuan-temuan dari berbagai sumber dengan tujuan substansial, seperti (1) mengungkap kontroversi cybersastra dalam ranah sastra Indonesia, (2) potensi cybersastra dalam inovasi kurikulum bahasa Indonesia, dan (3) tantangan cybersastra dalam inovasi kurikulum bahasa Indonesia. Inovasi kurikulum bahasa Indonesia memang perlu dilakukan gayut dengan perkembangan peradaban postmodern saat ini. Kurikulum harus memberikan pemahaman tentang pengalaman belajar yang harus dimiliki oleh peserta didik. Pembelajar harus didorong mampu menjadi subyek aktif yang memproduksi pengetahuan dan bukan sekedar menjadi objek pasif yang menjadi konsumen dalam pembelajraan sastra. Generasi muda tidak lagi memandang kualitas input karya sastra, namun kepraktisan bentuk dan akses menjadi pertimbangan relevan. Cybersastra memungkinkan fleksibilitas dan mobilitas dalam pembacaan karya sastra. Para blogger, penulis daring, dan aktivis di ruang siber dapat menantang narasi yang dominan dalam sastra cetak dan mempromosikan perspektif alternatif. Pergeseran dari sastra cetak ke cybersastra dapat mencerminkan perubahan lebih besar bagaimana masyarakat memandang, menghasilkan, dan mengkonsumsi karya sastra pada era digital. Potensi cybersastra dalam pembelajaran, dapat menciptakan pengalaman sastra yang lebih dinamis, inklusif, dan berdaya guna dalam mengajarkan konsep-konsep sastra dan literasi di era digital. Tantangan yang menjadi tugas berat dalam penerapan cybersastra di dalam kurikulum bahasa Indonesia adalah ketimpangan pendidikan di Indonesia. Diikotomi antara pendidikan eliter dan akar rumput masih terasa kuat sehingga cybersastra belum dapat menyentuh semua kalangan pembelajar.
INTERKULTURALISME DALAM SASTRA WARNA LOKAL BALI DAN RELEVANSINYA SEBAGAI BAHAN AJAR SASTRA UNTUK MENDUKUNG PENCEGAHAN INTOLERANSI DI SEKOLAH I Made, Sujaya; Liswahyuningsih, Ni Luh Gede; Dwipayana, I Kadek Adhi
Stilistika : Jurnal Pendidikan Bahasa dan Seni Vol. 14 No. 1 (2025): Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Seni
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah Universitas PGRI Mahadewa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59672/stilistika.v14i1.5719

Abstract

This article reveals interculturalism in local Balinese Indonesian literature and its relevance as literary teaching materials to support the prevention of intolerance in schools. This research is motivated by the fact that diversity is an empirical fact of Indonesian society that can have a positive impact as a social and cultural strength of the nation, but can also have a negative impact because it has the potential to cause social conflict. The potential for social conflict usually arises from intolerant attitudes in society, including in the school environment. This indicates that intercultural awareness must continue to be fostered. As a cultural product as well as a cultural practice, literature can play a role in strengthening students' intercultural awareness. Therefore, literary learning requires teaching materials that are relevant and contextual to the needs of building students' intercultural awareness. On that basis, research on interculturalism in local Balinese literature is important to conduct. Local Balinese literature was chosen as the focus of the research because the results of this research are expected to be applied in Bali as an open area with the complexity of typical intercultural problems. The main problems to be answered in this research are the representation of interculturalism in local Balinese literature and its relevance as literary teaching materials to support the prevention of intolerance in schools. This research uses a qualitative descriptive design with a sociology of literature approach. The research data source is in the form of local Balinese Indonesian literature containing intercultural elements. The results of the study found that interculturalism in local Balinese Indonesian literature is woven through the medium of marriage and friendship institutions. The meeting of two different cultures gives rise to cultural shock which is responded to with adaptive and accommodating attitudes of the story characters. In the relationship between characters who have different backgrounds, there are a number of factors that allow interculturalism to occur, namely economy, religion, and tradition. However, this study found a tendency for religion to be a separating factor, while customs and traditions are unifying factors.