Claim Missing Document
Check
Articles

The Impact of Helicopter Parenting on Academic Self-Efficacy Among College Student: A Quantitative Study Hans Marcellino Santoso; Dewita Karema Sarajar
G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol. 10 No. 01 (2026): January 2026, G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling
Publisher : Universitas PGRI Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/g-couns.v10i01.7869

Abstract

Early adult students face various academic and personal challenges that require a good level of self-efficacy. One factor that can influence academic self-efficacy is parenting style, particularly helicopter parenting, which is characterized by high levels of involvement and supervision of children. This study aims to investigate the impact of helicopter parenting on the academic self-efficacy of college students. The research method employed is quantitative, utilising a simple linear regression design. This research involved 215 respondents aged 18 to 25 years who are or have experienced helicopter parenting patterns. Regression analysis results showed a significant influence between helicopter parenting and academic self-efficacy, with a p-value of 0.005 (p < 0.05) and an R-squared value of 0.037%, indicating that helicopter parenting makes a significant contribution of 3.7%. These findings have implications for parents and educators in understanding the impact of helicopter parenting on academic self-efficacy and in implementing effective parenting patterns. Keywords: helicopter parenting, academic self-efficacy, college students, early adulthood; parenting style
Improving Learning Achievement Through a Self-Esteem Perspective: The Secret to Student Success Yunita, Rossa; Sarajar, Dewita Karema
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 12, No 3 (2024): Volume 12, Issue 3, September 2024
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v12i3.15457

Abstract

When children enter the education stage in secondary school, that is when children enter adolescence where they are looking for their identity by trying new things that they have not encountered before. At this stage the school environment will further develop their thinking patterns and further expand the child's social life. Low self-esteem in students results in them not believing that they are able to do what their parents and teachers expect of them. Low self-esteem, showing avoidant behavior. This study aims to explore the relationship between self-esteem and academic achievement among high school students in Muara Teweh. During adolescence, the school environment and self-esteem play crucial roles in shaping students' identities and academic performance. Previous research has highlighted that low self-esteem can hinder optimal academic achievement. Through a survey of 60 high school students, data were collected using questionnaires to measure self-esteem and academic performance. The results indicate a relationship between self-esteem and academic achievement, although the correlation between them tends to be weak. These findings underscore the importance of attention to both variables in the educational context. Schools and educational communities are encouraged to pay attention to the complex dynamics between self-esteem and academic achievement to create a supportive learning environment for students' development. Students are also encouraged to strengthen their self-confidence in understanding subject matter and taking on new challenges. The implication of this research is that it can be a learning medium and consideration in making policies in the field of education. It is necessary to pay attention to the contribution of other variables in supporting and encouraging student academic achievement at school, such as self-efficacy variables and student learning independence.Saat anak memasuki tahap pendidikan di sekolah menengah, saat itulah  anak memasuki  masa  remaja  dimana mereka  sedang  mencari  jati  dirinya dengan mencoba hal-hal baru yang belum  ditemui  sebelumnya. Pada  tahap  ini  lingkungan sekolah akan lebih mengembangkan pola pikir mereka dan lebih memperluas  kehidupan sosial  anak. Rendahnya self esteem pada diri siswa/i mengakibatkan mereka tidak percaya bahwa mereka mampu melakukan apa yang diharapkan orangtua dan guru kepada mereka. Rendahnya self esteem, memperlihatkan perilaku menghindar. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi hubungan antara self-esteem dan prestasi belajar siswa SMA di Muara Teweh. Dalam tahap remaja, lingkungan sekolah dan kepuasan harga diri memainkan peran penting dalam pembentukan identitas diri dan prestasi belajar siswa. Penelitian sebelumnya menyoroti bahwa self-esteem yang rendah dapat menjadi hambatan dalam pencapaian prestasi belajar yang optimal. Melalui survei terhadap 60 siswa SMA, data dikumpulkan menggunakan angket untuk mengukur self-esteem dan prestasi belajar. Hasil menunjukkan adanya hubungan antara self-esteem dan prestasi belajar, meskipun korelasi antara keduanya cenderung lemah. Temuan ini menggarisbawahi pentingnya perhatian terhadap kedua variabel ini dalam konteks pendidikan. Sekolah dan komunitas pendidikan diharapkan dapat memperhatikan dinamika kompleks antara self-esteem dan prestasi belajar untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang mendukung perkembangan siswa. Siswa juga didorong untuk memperkuat keyakinan diri mereka dalam memahami materi pelajaran dan mengambil tantangan baru. Implikasi dari penerlitian ini  yaitu dapat menjadi media pembelajaran dan pertimbangan dalam mengambil kebijakan dalam bidang pendidikan. Perlu diperhatikan kontribusi variabel lainnya dalam mendukung dan mendorong prestasi akademik siswa di sekolah seperti variabel self efficacy dan kemandirian belajar pada siswa.
Loneliness and Quarter-Life Crisis in Final Year Overseas Students from Outside Java Melalondo, Militya Christy; Sarajar, Dewita Karema
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 12, No 1 (2024): Volume 12, Issue 1, Maret 2024
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v12i1.13237

Abstract

As time goes by there are more demands faced by students, especially when entering their final year. Feelings in the form of fear, anxiety, and worry about the future, including relationships, social life, and career, are also often experienced by individuals, where this phenomenon is called quarter-life crisis. One of the factors that influences a person's quarter-life crisis was their social relationships. For migrant students, loneliness often occurs due to living outside their hometown, far from their parents, and being unable to adapt to the social environment at their place of study. This can encourage someone to experience a quarter-life crisis because the individual feels that he is only fighting alone and there is no presence and support from people around. This study employs a quantitative approach with the objective investigating the correlation between loneliness and quarter-life crisis among final-year students originating from regions outside Java. The subjects in this study were 265 final-year student who have migrated from diverse regions within the country to persue their studies at various universities situated across the Java-island. To measure loneliness and quarter-life crisis, the study utilizes two estabilished instrument, the UCLA Loneliness Scale (Version 3) (α = 0,993) and The Developmental Crisis Questionnaire (α = 0,880). Both instruments are structured with Likert-type scales. The data collected are subjected to analysis using simple regression techniques, facilitated by the statistical software SPSS 25.0-for windows. The findings of this study reveal a statistically significant positive correlation between loneliness and quarter-life crisis, with correlation coefficient r = 0,891 and sig = 0,000 (p < 0,05). The suggest that higher levels of loneliness are associated with a higher likelihood of experiencing quarter-life crisis, whereas lower levels of loneliness are linked to reduced likelihood of encountering quarter-life crisis among final-year student originating from regions outside Java-island. The implications derived from this study underscore the importance for final-year migrant students to enhance the quality of their interpersonal relationship while studying outside their area. This endavor is essential to secure emotional support during challenging periods and to mitigate the risk of being ensnared in a quarter-life crisis.Seiring berjalannya waktu semakin banyak tuntutan yang dihadapi oleh mahasiswa, terutama ketika memasuki tingkat akhir. Perasaan berupa ketakutan, kecemasan, serta kekhawatiran akan masa depan termasuk relasi, kehidupan sosial, dan karier juga seringkali dialami individu, dimana fenomena tersebut disebut dengan quarter-life crisis. Salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya quarter-life crisis pada seseorang adalah relasi sosialnya. Pada mahasiswa perantau, loneliness seringkali terjadi dikarenakan tinggal di luar kampung halaman, jauh dari orang tuanya, dan tidak mampu untuk beradaptasi dalam lingkungan sosial di tempat studinya. Hal ini dapat mendorong seseorang mengalami quarter-life crisis karena individu merasa bahwa dirinya hanya berjuang sendiri dan tidak ada kehadiran serta dukungan dari orang-orang disekitarnya. Penelitian ini merupakan penelitian dengan pendekatan kuantitatif yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara loneliness dengan quarter-life crisis pada mahasiswa perantau tingkat akhir yang berasal dari luar pulau Jawa. Subjek dalam penelitian ini adalah 265 mahasiswa tingkat akhir yang merupakan perantau dari berbagai daerah di Indonesia dan berkuliah di beberapa universitas yang tersebar di pulau Jawa.  Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah UCLA Loneliness Scale (Version 3) (α = 0,993) dan The Developmental Crisis Questionnaire (α = 0,880). Kedua skala tersebut disusun dengan skala model Likert dan diuji menggunakan analisis regresi sederhana dengan uji statistik SPSS 25.0-for windows. Adapun hasil dari penelitian ini ditemukan bahwa terdapat hubungan positif signifikan antara loneliness dan quarter-life crisis, yang ditunjukkan dengan nilai r = 0,891 dan sig = 0,000 (p < 0,05). Artinya semakin tinggi tingkat loneliness, maka semakin tinggi juga tingkat quarter-life crisis, sebaliknya semakin rendah tingkat loneliness, maka semakin rendah juga tingkat quarter-life crisis pada mahasiswa perantau tingkat akhir yang berasal dari luar pulau Jawa. Implikasi dari penelitian ini diharapkan mahasiswa perantau tingkat akhir dapat meningkatkan kualitas relasinya dengan orang lain ketika berada di perantauan agar mampu menemukan dukungan emosional saat berada dalam masa sulit dan tidak terjebak dalam quarter-life crisis.
HUBUNGAN ANTARA FEAR OF MISSING OUT (FOMO) DENGAN INTENSITAS PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL PADA GENERASI Z Novendra, Ilham; Sarajar, Dewita Karema
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v5i2.6110

Abstract

This study aims to determine the relationship between Fear of Missing Out (FoMO) and the intensity of social media use in Generation Z. The method used is a quantitative research method with a correlational design to determine the relationship between FoMO (independent variable) and the Intensity of Social Media Use in Generation Z (dependent variable). The sampling technique applied is nonprobability sampling with the sampling technique method used is purposive sampling. The subjects in this study were Generation Z individuals aged 18–27 years who actively use social media for at least more than three hours per day, with a total of 104 respondents. The data collection method used a questionnaire with a Likert scale with four answer options. Data analysis was carried out using the Spearman's rho correlation method via SPSS version 21.0. The results of the correlation test showed a coefficient value of 0.796 with a significance of 0.000, indicating a very strong and positive relationship between FoMO and the intensity of social media use. This finding indicates that the higher the level of FoMO, the higher the intensity of social media use. ABSTRAK     Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara Fear of Missing Out (FoMO) dan intensitas penggunaan media sosial pada Generasi Z. Metode yang digunakan adalah metode penelitian kuantitatif dengan desain korelasional guna mengetahui hubungan antara FoMO (variabel independent) dengan Intensitas Penggunaan Media Sosial pada  Generasi Z (variabel dependent). Teknik pengambilan sampel yang diterapkan adalah nonprobability sampling dengan metode teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling Subjek dalam penelitian ini adalah individu Generasi Z berusia 18–27 tahun yang aktif menggunakan media sosial minimal lebih dari tiga jam per hari, dengan jumlah responden sebanyak 104 orang. Metode pengambilan data menggunakan kuesioner dengan skala Likert dengan empat opsi pilihan jawaban. Analisis data dilakukan menggunakan metode korelasi Spearman’s rho melalui SPSS versi 21.0. Hasil uji korelasi menunjukkan nilai koefisien sebesar 0,796 dengan signifikansi 0,000, menandakan adanya hubungan yang sangat kuat dan positif antara FoMO dan intensitas penggunaan media sosial. Temuan ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi tingkat FoMO, semakin tinggi pula intensitas penggunaan media sosial.
Hubungan Antara Keterampilan Sosial Dan Problem Focused Coping Guru Pembimbing Khusus Gumilanggeng, Lima Mash Liberty; Sarajar, Dewita Karema
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 4 No. 2 (2024): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v4i2.10254

Abstract

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif korelasional, ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara keterampilan sosial dengan problem focused coping pada Guru Pembimbing Khusus. Jumlah partisipan pada penelitian ini berjumlah 50 orang guru yang berprofesi sebagai guru pembimbing khusus, terdaftar sebagai guru pembimbing khusus di SD atau SMP yang berada di Kota Salatiga dengan pengambilan data menggunakan google form yang diberikan oleh peneliti. Alat ukur yang digunakan adalah skala Social Skill Inventory (SSI) oleh Riggio (1986) untuk mengukur keterampilan sosial dan skala Problem Focused Style of Coping (PF-SOC) oleh Lazarus (1984) untuk mengukur problem focused coping. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan signifikan antara keterampilan sosial dengan problem focused coping GPK, dengan hasil r = 0,561 dengan nilai signifikan = 0,000 (p<0,05) yang artinya semakin baik keterampilan sosial maka semakin baik pula problem focused coping GPK, dan sebaliknya. Kata Kunci: Keterampilan Sosial;Problem Focused Coping;Guru Pembimbing Khusus
Problem Focused Coping dan Prokrastinasi Akademik Mahasiswa Tingkat Akhir UKSW yang Menyusun Tugas Akhir Sulistyorini, Marella Ardelia; Sarajar, Dewita Karema
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 4 No. 3 (2024): Innovative: Journal Of Social Science Research (Special Issue)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v4i3.12158

Abstract

Prokrastinasi adalah ketidakmampuan pengaturan diri individu yang mengakibatkan dilakukannya penundaan pekerjaan secara sengaja. Salah satu faktor yang mempengaruhi prokrastinasi adalah problem focused coping. Penelitian merupakan penelitian kuantitatif korelasional yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara problem focused coping dengan prokrastinasi akademik. Penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling dengan jumlah partisipan sebanyak 130 mahasiswa akhir Universitas Kristen Satya Wacana yang menyusun tugas akhir. Skala yang digunakan yaitu Cope oleh Carver (1989) dan Tuckman Procrastination Scale (TPS) oleh B.W. Tuckman (1991). Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan negatif signifikan antara problem focused coping dan prokrastinasi akademik dengan nilai koefisien korelasi -0,490 dan signifikansi 0,000 (p<0,05). Penelitian ini diharapkan mahasiswa dapat meningkatkan problem focused coping dalam menghadapi tekanan sehingga dapat mengurangi kecenderungan prokrastinasi akademik dalam pengerjaan tugas akhir. Kata Kunci: prokrastinasi akademik; problem focused coping; mahasiswa akhir Procrastination is the self-regulatory failure that results in the intentional delay of work. One of the influencing factors of procrastination is problem-focused coping. This study is a quantitative correlational research aiming to investigate the relationship between problem-focused coping and academic procrastination. The participants in this study were 130 final-year students at Satya Wacana Christian University who were working on their final assignments, selected through purposive sampling. The instruments used were Carver's Cope Inventory (1989) and the Tuckman Procrastination Scale (TPS) by B.W. Tuckman (1991). The findings reveal a significant negative correlation between problem-focused coping and academic procrastination, with a correlation coefficient of -0.490 and a significance level of 0.000 (p < 0.05). This research suggests that enhancing problem-focused coping strategies among students facing academic pressures could reduce tendencies toward academic procrastination in completing final assignments. Keywords: academic procrastination; problem-focused coping; final-year students
Hubungan Motivasi Belajar dengan Prestasi Akademik Mahasiswa Fungsionaris Lembaga Kemahasiswaan Universitas Kristen Satya Wacana Tamon, Putri Ivana Kezia; Sarajar, Dewita Karema
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 4 No. 3 (2024): Innovative: Journal Of Social Science Research (Special Issue)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v4i3.12160

Abstract

Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif korelasional yang bertujuan untuk mengetahui hubungan motivasi belajar dengan prestasi akademik. Pada penelitian ini, peneliti menggunakan teknik purposive sampling dengan total partisipan sebanyak 103 mahasiswa Fungsionaris Lembaga Kemahasiswaan Universitas Kristen Satya Wacana. Instrumen penelitian ini menggunakan skala motivasi belajar dan indeks prestasi kumulatif (IPK). Penelitian ini menggunakan metode analisis data uji korelasi pearson atau Correlation Product Moment. Hasil penelitian ini menunjukkan korelasi sebesar r = 0,465 dan nilai signifikansi sebesar 0,000 (p<0,05). Hasil tersebut menunjukkan bahwa ada hubungan positif antara motivasi belajar dengan prestasi akademik pada mahasiswa fungsionaris Lembaga Kemahasiswaan Universitas Kristen Satya Wacana, yang artinya semakin tinggi motivasi maka semakin tinggi prestasi akademik dan sebaliknya jika prestasi akademik rendah maka makin rendah motivasi belajar.
Kesepian dengan Kecenderungan Adiksi Media Sosial Penggemar K-pop di Indonesia Hombokau, Zefanya Mikha; Sarajar, Dewita Karema
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 4 No. 3 (2024): Innovative: Journal Of Social Science Research (Special Issue)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v4i3.12691

Abstract

Penggemar K-pop sangat erat dengan kemajuan teknologi, salah satunya dengan perkembangan platform media sosial. Ketika mengakses media sosial secara berlebihan dapat memunculkan kecenderungan adiksi media sosial. Akan tetapi, hal tersebut dilakukan oleh penggemar K-pop untuk menghilangkan rasa kesepian yang dialami. Tujuan dalam penelitian ini untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara kesepian dengan kecenderungan adiksi media sosial pada penggemar K-pop di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan korelasional. Terdapat dua skala yang digunakan yaitu skala University of California Los Angeles (UCLA) Loneliness Scale Version 3 yang dikemukakan oleh Russell (1996) dan skala Social Media Addiction Scale - Student Form: The Reliability and Validity Study yang dikembangkan oleh Sahin (2018). Penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Sebanyak 186 penggemar K-pop menjadi partisipan dalam penelitian ini. Semakin tinggi tingkat kesepian yang dirasakan maka semakin tinggi pula tingkat kecenderungan adiksi media sosial yang muncul.
Hubungan Antara Pola Asuh Otoriter Dengan Prokrastinasi Akademik Pada Siswa SMK Negeri X Salatiga Vivianti, Debora; Sarajar, Dewita Karema
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 5 No. 3 (2025): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v5i3.19118

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan antara pola asuh otoriter dan perilaku prokrastinasi akademik pada siswa di SMK Negeri X Salatiga. Pendekatan kuantitatif digunakan dalam studi ini dengan metode korelasional. Sampel terdiri dari 140 siswa yang diperoleh melalui teknik accidental sampling. Instrumen yang digunakan adalah Parental Authority Questionnaire (PAQ) untuk mengukur pola asuh otoriter dan Academic Procrastination Scale (APS) untuk mengukur tingkat prokrastinasi akademik. Teknik analisis data menggunakan korelasi Spearman’s Rho. Hasil analisis menunjukkan adanya korelasi positif signifikan antara pola asuh otoriter dengan prokrastinasi akademik. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi intensitas pola asuh otoriter yang diterapkan, maka semakin tinggi pula kecenderungan siswa untuk menunda tugas akademiknya. Kata Kunci : pola asuh otoriter, prokrastinasi akademik, remaja   Abstract This study aims to determine the relationship between authoritarian parenting and academic procrastination among students at SMK Negeri X Salatiga. A quantitative approach with a correlational method was employed. The sample consisted of 140 students selected through accidental sampling. Instruments used include the Parental Authority Questionnaire (PAQ) to assess authoritarian parenting and the Academic Procrastination Scale (APS) to assess academic procrastination. Data analysis was conducted using Spearman's Rho correlation. The results showed a significant positive correlation between authoritarian parenting and academic procrastination. These findings suggest that the higher the intensity of authoritarian parenting, the higher the students' tendency to procrastinate academically. Keywords: authoritarian parenting; academic procrastination; Teenager
Hubungan Antara Phubbing dengan Kualitas Persahabatan Remaja Paulus, Margaritha Serlin; Sarajar, Dewita Karema
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 5 No. 3 (2025): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v5i3.19155

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara perilaku phubbing dengan kualitas persahabatan pada remaja berusia 16-19 tahun yanga aktif menggunakan smartphone. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain korelasional dan melibatkan 202 pertisipan yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Alat ukur yang digunakan adalah adanya Friendship Quality Questionnaire (FQQ) dan skala phubbing (PS). Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif signifikan antara phubbing dan kualitas persahabatan dengan koefisien korelasi sebesar 0,696 (p<0,05). Artinya, semakin tinggi perilaku phubbing, semakin tinggi pula kualitas persahabatan. Temuan ini menunjukkan bahwa penggunaan smartphone, jika dikelola dengan bijak, tidak selalu berdampak negatif terhadap hubungan sosial. Penelitian ini memberikan wawasan baru mengenai dinamika interaksi remaja di era digital dan pentingnya menyesuaikan penggunaan teknologi dalam konteks sosial Kata Kunci: interaksi sosial, kualitas persahabatan, phubbing, , remaja, smartphone