Claim Missing Document
Check
Articles

Pendampingan Remaja dalam Alpha Camp Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) Maslebu, Giner; Walangara Nau, Novriest Umbu; Sampoerno; Hermanto Abraham, Rendy; Wisnu Wibisono, Indra; Wahyono, Teguh; Dwi Purnomo, Hindriyanto; Kristianto, Budhi; Karema Sarajar, Dewita; Yuli Agung Suprabowo, Gunawan; C. Leuwol, Sylvie; Nahusona, Ferry; Picauly, Irma Amy
Magistrorum et Scholarium: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24246/jms.v5i22024p119-129

Abstract

Remaja merupakan suatu pelayanan kategorial yang menyasar kelompok usia antara anak-anak (sekolah minggu) dan pemuda. Tekanan stereotip, ekspektasi tinggi tanpa dukungan memadai, dibarengi dengan perubahan masif akibat kemajuan teknologi dan informasi dapat memicu permasalahan kesehatan mental generasi muda jika tidak dikelola dengan bijak. Tantangan lain yang dihadapi adalah mengenai spiritualitas remaja. Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) melihat perlunya mengadakan kegiatan bagi remaja dan pendamping/pembina remaja sebagai platform untuk memperlengkapi para remaja dan pembina dengan berbagai pengetahuan dan kapasitas yang diharapkan mampu membekali remaja dan pembina dalam pelayanan dan kehidupan berbangsa sehari-hari. Pendampingan yang dilakukan oleh para ahli di UKSW meliputi isu-isu seputar perkembangan psikologis, pengembangan bakat-minat, kecerdasan buatan dan implementasi dalam pelayanan serta gerakan cinta lingkungan lewat aksi tanam pohon di desa. Hasilnya, para peserta mendapatkan pengalaman berharga yang tampak dalam hasil survey kepuasan dimana mayoritas responden puas terhadap pendampingan dan 100 % responden memperoleh tambahan pengetahuan.
The Relationship Between Forgiveness and Happiness in Late Adolescents with Divorced Parents: A Correlational Study in Indonesia Eunike Lisi Cintani Putri; Dewita Karema Sarajar
G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol. 9 No. 3 (2025): Agustus 2025. G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling
Publisher : Universitas PGRI Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/g-couns.v9i3.7820

Abstract

This research explores the relationship between forgiveness and happiness in late adolescents from divorced families. With the increasing divorce rate in Indonesia, the psychological impact on children is a concern. The purpose of this study was to determine the relationship between forgiveness and happiness of late adolescents who have a divorced parent background. A quantitative correlational approach with measuring instruments used for forgiveness is the Transgression Interpersonal Motivation Inventory (TRIM-18) and happiness using the Oxford Happiness Questionnaire (OHQ involving 200 late adolescents aged 18-22 years across Indonesia. Data was collected through an online questionnaire measuring the level of forgiveness and happiness. Results showed a significant positive correlation (r = 0.492, p < 0.01), indicating that higher levels of forgiveness were related to greater happiness. This highlights forgiveness as an important psychological mechanism that helps adolescents turn negative experiences into personal strengths, improving their emotional well-being. Keywords: forgiveness, happiness, late adolescents, parent, divorce
The Relationship Between Self-Concept and Decision Making in High School Alumni Undergoing a Gap Year Nikerson, Stefanus Anggoro; Sarajar, Dewita Karema
Bisma The Journal of Counseling Vol. 8 No. 1 (2024): April
Publisher : Department of Guidance and Counseling, FIP, Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/bisma.v8i1.78211

Abstract

Gap year is a period of time used by high school alumni to prepare themselves for continuing their education at university level. The competition that is not easy to get into college makes a gap year an option for preparing yourself. This research aims to analyze the relationship between self-concept and decision making in high school alumni who are undergoing a gap year. The research method used is quantitative with a Pearson's Product Moment correlational design. This research involved 103 high school alumni from all regions in Indonesia who underwent a gap year using the snowball sampling technique. Data collection was carried out using a psychological scale according to the variables which was then distributed online using a Google form. Data were analyzed using product moment correlation analysis by Karl Pearson. The results of this study show that the variables of self-concept and decision making are positively correlated with a weak level of significance with value (r = 0.211 and sig. = 0.016). It can be concluded that self-concept is one of the factors that can improve the decision-making ability of high school alumni who are undergoing a gap year. The latest information in this research has implications for the formation of good concepts by high school alumni to be more optimistic in making decisions about undergoing a gap year.
Hubungan Sense of Community dan Perilaku Prokrastinasi Pada Mahasiswa Fungsionaris Lembaga Kemahasiswaan Fakultas Psikologi UKSW Suwuh, Aaron Aditya; Sarajar, Dewita Karema
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 5 No. 4 (2025): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v5i4.20235

Abstract

Tidak semua mahasiswa mampu menyelesaikan tugas organisasi secara tepat waktu. Mereka kerap menunda penyelesaian tugas karena beban akademik atau kurangnya dukungan sosial. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara sense of community dan perilaku prokrastinasi pada fungsionaris Lembaga Kemahasiswaan Fakultas Psikologi UKSW. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif korelasional dengan teknik total sampling sebanyak 83 partisipan. Instrumen yang digunakan adalah Sense of Community Index 2 dan skala prokrastinasi (α = 0,926 dan α = 0,870). Hasil analisis Spearman menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara sense of community dan prokrastinasi (r = -0,421; p = 0,000). Kata Kunci: Komunitas, Mahasiswa, Organisasi, Prokrastinasi, Sense of Community
HUBUNGAN POLA ASUH OTORITER DENGAN PERILAKU AGRESIF PADA PEMAIN GAME FREE FIRE USIA ANAK DI KABUPATEN POSO Grilisya Mayestica Tabangge; Dewita Karema Sarajar
Journal of Innovation Research and Knowledge Vol. 5 No. 3: Agustus 2025
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pola asuh otoriter dengan perilaku agresif pada anak sekolah dasar yang bermain game Free Fire di Kabupaten Poso. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada meningkatnya penggunaan game online oleh anak-anak, khususnya Free Fire, yang memiliki unsur kekerasan dan berpotensi memperkuat dampak negatif dari pola pengasuhan yang tidak adaptif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Sampel dalam penelitian berjumlah 121 anak usia 6–12 tahun yang dipilih dengan teknik snowball sampling. Alat ukur yang digunakan adalah skala pola asuh otoriter (Baumrind) dan skala perilaku agresif (Buss-Perry Aggression Questionnaire). Hasil analisis menggunakan korelasi Pearson menunjukkan adanya hubungan positif antara pola asuh otoriter dan perilaku agresif, meskipun kekuatannya lemah (r = 0,078; p = 0,196). Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat pola asuh otoriter, semakin tinggi pula kecenderungan perilaku agresif pada anak. Implikasi dari hasil ini menggarisbawahi pentingnya peran orang tua dalam menerapkan pola asuh yang lebih demokratis, hangat, dan komunikatif, terutama dalam membimbing anak yang terpapar konten digital bermuatan kekerasan seperti game Free Fire
Improving Learning Achievement Through a Self-Esteem Perspective: The Secret to Student Success Yunita, Rossa; Sarajar, Dewita Karema
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 12, No 3 (2024): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v12i3.15457

Abstract

When children enter the education stage in secondary school, that is when children enter adolescence where they are looking for their identity by trying new things that they have not encountered before. At this stage the school environment will further develop their thinking patterns and further expand the child's social life. Low self-esteem in students results in them not believing that they are able to do what their parents and teachers expect of them. Low self-esteem, showing avoidant behavior. This study aims to explore the relationship between self-esteem and academic achievement among high school students in Muara Teweh. During adolescence, the school environment and self-esteem play crucial roles in shaping students' identities and academic performance. Previous research has highlighted that low self-esteem can hinder optimal academic achievement. Through a survey of 60 high school students, data were collected using questionnaires to measure self-esteem and academic performance. The results indicate a relationship between self-esteem and academic achievement, although the correlation between them tends to be weak. These findings underscore the importance of attention to both variables in the educational context. Schools and educational communities are encouraged to pay attention to the complex dynamics between self-esteem and academic achievement to create a supportive learning environment for students' development. Students are also encouraged to strengthen their self-confidence in understanding subject matter and taking on new challenges. The implication of this research is that it can be a learning medium and consideration in making policies in the field of education. It is necessary to pay attention to the contribution of other variables in supporting and encouraging student academic achievement at school, such as self-efficacy variables and student learning independence.Saat anak memasuki tahap pendidikan di sekolah menengah, saat itulah  anak memasuki  masa  remaja  dimana mereka  sedang  mencari  jati  dirinya dengan mencoba hal-hal baru yang belum  ditemui  sebelumnya. Pada  tahap  ini  lingkungan sekolah akan lebih mengembangkan pola pikir mereka dan lebih memperluas  kehidupan sosial  anak. Rendahnya self esteem pada diri siswa/i mengakibatkan mereka tidak percaya bahwa mereka mampu melakukan apa yang diharapkan orangtua dan guru kepada mereka. Rendahnya self esteem, memperlihatkan perilaku menghindar. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi hubungan antara self-esteem dan prestasi belajar siswa SMA di Muara Teweh. Dalam tahap remaja, lingkungan sekolah dan kepuasan harga diri memainkan peran penting dalam pembentukan identitas diri dan prestasi belajar siswa. Penelitian sebelumnya menyoroti bahwa self-esteem yang rendah dapat menjadi hambatan dalam pencapaian prestasi belajar yang optimal. Melalui survei terhadap 60 siswa SMA, data dikumpulkan menggunakan angket untuk mengukur self-esteem dan prestasi belajar. Hasil menunjukkan adanya hubungan antara self-esteem dan prestasi belajar, meskipun korelasi antara keduanya cenderung lemah. Temuan ini menggarisbawahi pentingnya perhatian terhadap kedua variabel ini dalam konteks pendidikan. Sekolah dan komunitas pendidikan diharapkan dapat memperhatikan dinamika kompleks antara self-esteem dan prestasi belajar untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang mendukung perkembangan siswa. Siswa juga didorong untuk memperkuat keyakinan diri mereka dalam memahami materi pelajaran dan mengambil tantangan baru. Implikasi dari penerlitian ini  yaitu dapat menjadi media pembelajaran dan pertimbangan dalam mengambil kebijakan dalam bidang pendidikan. Perlu diperhatikan kontribusi variabel lainnya dalam mendukung dan mendorong prestasi akademik siswa di sekolah seperti variabel self efficacy dan kemandirian belajar pada siswa.
Loneliness and Quarter-Life Crisis in Final Year Overseas Students from Outside Java Melalondo, Militya Christy; Sarajar, Dewita Karema
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 12, No 1 (2024): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v12i1.13237

Abstract

As time goes by there are more demands faced by students, especially when entering their final year. Feelings in the form of fear, anxiety, and worry about the future, including relationships, social life, and career, are also often experienced by individuals, where this phenomenon is called quarter-life crisis. One of the factors that influences a person's quarter-life crisis was their social relationships. For migrant students, loneliness often occurs due to living outside their hometown, far from their parents, and being unable to adapt to the social environment at their place of study. This can encourage someone to experience a quarter-life crisis because the individual feels that he is only fighting alone and there is no presence and support from people around. This study employs a quantitative approach with the objective investigating the correlation between loneliness and quarter-life crisis among final-year students originating from regions outside Java. The subjects in this study were 265 final-year student who have migrated from diverse regions within the country to persue their studies at various universities situated across the Java-island. To measure loneliness and quarter-life crisis, the study utilizes two estabilished instrument, the UCLA Loneliness Scale (Version 3) (α = 0,993) and The Developmental Crisis Questionnaire (α = 0,880). Both instruments are structured with Likert-type scales. The data collected are subjected to analysis using simple regression techniques, facilitated by the statistical software SPSS 25.0-for windows. The findings of this study reveal a statistically significant positive correlation between loneliness and quarter-life crisis, with correlation coefficient r = 0,891 and sig = 0,000 (p < 0,05). The suggest that higher levels of loneliness are associated with a higher likelihood of experiencing quarter-life crisis, whereas lower levels of loneliness are linked to reduced likelihood of encountering quarter-life crisis among final-year student originating from regions outside Java-island. The implications derived from this study underscore the importance for final-year migrant students to enhance the quality of their interpersonal relationship while studying outside their area. This endavor is essential to secure emotional support during challenging periods and to mitigate the risk of being ensnared in a quarter-life crisis.Seiring berjalannya waktu semakin banyak tuntutan yang dihadapi oleh mahasiswa, terutama ketika memasuki tingkat akhir. Perasaan berupa ketakutan, kecemasan, serta kekhawatiran akan masa depan termasuk relasi, kehidupan sosial, dan karier juga seringkali dialami individu, dimana fenomena tersebut disebut dengan quarter-life crisis. Salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya quarter-life crisis pada seseorang adalah relasi sosialnya. Pada mahasiswa perantau, loneliness seringkali terjadi dikarenakan tinggal di luar kampung halaman, jauh dari orang tuanya, dan tidak mampu untuk beradaptasi dalam lingkungan sosial di tempat studinya. Hal ini dapat mendorong seseorang mengalami quarter-life crisis karena individu merasa bahwa dirinya hanya berjuang sendiri dan tidak ada kehadiran serta dukungan dari orang-orang disekitarnya. Penelitian ini merupakan penelitian dengan pendekatan kuantitatif yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara loneliness dengan quarter-life crisis pada mahasiswa perantau tingkat akhir yang berasal dari luar pulau Jawa. Subjek dalam penelitian ini adalah 265 mahasiswa tingkat akhir yang merupakan perantau dari berbagai daerah di Indonesia dan berkuliah di beberapa universitas yang tersebar di pulau Jawa.  Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah UCLA Loneliness Scale (Version 3) (α = 0,993) dan The Developmental Crisis Questionnaire (α = 0,880). Kedua skala tersebut disusun dengan skala model Likert dan diuji menggunakan analisis regresi sederhana dengan uji statistik SPSS 25.0-for windows. Adapun hasil dari penelitian ini ditemukan bahwa terdapat hubungan positif signifikan antara loneliness dan quarter-life crisis, yang ditunjukkan dengan nilai r = 0,891 dan sig = 0,000 (p < 0,05). Artinya semakin tinggi tingkat loneliness, maka semakin tinggi juga tingkat quarter-life crisis, sebaliknya semakin rendah tingkat loneliness, maka semakin rendah juga tingkat quarter-life crisis pada mahasiswa perantau tingkat akhir yang berasal dari luar pulau Jawa. Implikasi dari penelitian ini diharapkan mahasiswa perantau tingkat akhir dapat meningkatkan kualitas relasinya dengan orang lain ketika berada di perantauan agar mampu menemukan dukungan emosional saat berada dalam masa sulit dan tidak terjebak dalam quarter-life crisis.
HUBUNGAN ANTARA FEAR OF MISSING OUT (FOMO) DENGAN INTENSITAS PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL PADA GENERASI Z Novendra, Ilham; Sarajar, Dewita Karema
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v5i2.6110

Abstract

This study aims to determine the relationship between Fear of Missing Out (FoMO) and the intensity of social media use in Generation Z. The method used is a quantitative research method with a correlational design to determine the relationship between FoMO (independent variable) and the Intensity of Social Media Use in Generation Z (dependent variable). The sampling technique applied is nonprobability sampling with the sampling technique method used is purposive sampling. The subjects in this study were Generation Z individuals aged 18–27 years who actively use social media for at least more than three hours per day, with a total of 104 respondents. The data collection method used a questionnaire with a Likert scale with four answer options. Data analysis was carried out using the Spearman's rho correlation method via SPSS version 21.0. The results of the correlation test showed a coefficient value of 0.796 with a significance of 0.000, indicating a very strong and positive relationship between FoMO and the intensity of social media use. This finding indicates that the higher the level of FoMO, the higher the intensity of social media use. ABSTRAK     Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara Fear of Missing Out (FoMO) dan intensitas penggunaan media sosial pada Generasi Z. Metode yang digunakan adalah metode penelitian kuantitatif dengan desain korelasional guna mengetahui hubungan antara FoMO (variabel independent) dengan Intensitas Penggunaan Media Sosial pada  Generasi Z (variabel dependent). Teknik pengambilan sampel yang diterapkan adalah nonprobability sampling dengan metode teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling Subjek dalam penelitian ini adalah individu Generasi Z berusia 18–27 tahun yang aktif menggunakan media sosial minimal lebih dari tiga jam per hari, dengan jumlah responden sebanyak 104 orang. Metode pengambilan data menggunakan kuesioner dengan skala Likert dengan empat opsi pilihan jawaban. Analisis data dilakukan menggunakan metode korelasi Spearman’s rho melalui SPSS versi 21.0. Hasil uji korelasi menunjukkan nilai koefisien sebesar 0,796 dengan signifikansi 0,000, menandakan adanya hubungan yang sangat kuat dan positif antara FoMO dan intensitas penggunaan media sosial. Temuan ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi tingkat FoMO, semakin tinggi pula intensitas penggunaan media sosial.
Hubungan Antara Keterampilan Sosial Dan Problem Focused Coping Guru Pembimbing Khusus Gumilanggeng, Lima Mash Liberty; Sarajar, Dewita Karema
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 4 No. 2 (2024): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v4i2.10254

Abstract

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif korelasional, ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara keterampilan sosial dengan problem focused coping pada Guru Pembimbing Khusus. Jumlah partisipan pada penelitian ini berjumlah 50 orang guru yang berprofesi sebagai guru pembimbing khusus, terdaftar sebagai guru pembimbing khusus di SD atau SMP yang berada di Kota Salatiga dengan pengambilan data menggunakan google form yang diberikan oleh peneliti. Alat ukur yang digunakan adalah skala Social Skill Inventory (SSI) oleh Riggio (1986) untuk mengukur keterampilan sosial dan skala Problem Focused Style of Coping (PF-SOC) oleh Lazarus (1984) untuk mengukur problem focused coping. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan signifikan antara keterampilan sosial dengan problem focused coping GPK, dengan hasil r = 0,561 dengan nilai signifikan = 0,000 (p<0,05) yang artinya semakin baik keterampilan sosial maka semakin baik pula problem focused coping GPK, dan sebaliknya. Kata Kunci: Keterampilan Sosial;Problem Focused Coping;Guru Pembimbing Khusus
Problem Focused Coping dan Prokrastinasi Akademik Mahasiswa Tingkat Akhir UKSW yang Menyusun Tugas Akhir Sulistyorini, Marella Ardelia; Sarajar, Dewita Karema
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 4 No. 3 (2024): Innovative: Journal Of Social Science Research (Special Issue)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v4i3.12158

Abstract

Prokrastinasi adalah ketidakmampuan pengaturan diri individu yang mengakibatkan dilakukannya penundaan pekerjaan secara sengaja. Salah satu faktor yang mempengaruhi prokrastinasi adalah problem focused coping. Penelitian merupakan penelitian kuantitatif korelasional yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara problem focused coping dengan prokrastinasi akademik. Penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling dengan jumlah partisipan sebanyak 130 mahasiswa akhir Universitas Kristen Satya Wacana yang menyusun tugas akhir. Skala yang digunakan yaitu Cope oleh Carver (1989) dan Tuckman Procrastination Scale (TPS) oleh B.W. Tuckman (1991). Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan negatif signifikan antara problem focused coping dan prokrastinasi akademik dengan nilai koefisien korelasi -0,490 dan signifikansi 0,000 (p<0,05). Penelitian ini diharapkan mahasiswa dapat meningkatkan problem focused coping dalam menghadapi tekanan sehingga dapat mengurangi kecenderungan prokrastinasi akademik dalam pengerjaan tugas akhir. Kata Kunci: prokrastinasi akademik; problem focused coping; mahasiswa akhir Procrastination is the self-regulatory failure that results in the intentional delay of work. One of the influencing factors of procrastination is problem-focused coping. This study is a quantitative correlational research aiming to investigate the relationship between problem-focused coping and academic procrastination. The participants in this study were 130 final-year students at Satya Wacana Christian University who were working on their final assignments, selected through purposive sampling. The instruments used were Carver's Cope Inventory (1989) and the Tuckman Procrastination Scale (TPS) by B.W. Tuckman (1991). The findings reveal a significant negative correlation between problem-focused coping and academic procrastination, with a correlation coefficient of -0.490 and a significance level of 0.000 (p < 0.05). This research suggests that enhancing problem-focused coping strategies among students facing academic pressures could reduce tendencies toward academic procrastination in completing final assignments. Keywords: academic procrastination; problem-focused coping; final-year students
Co-Authors Ade Christian Dillak Adinda Lisa Sofia Marasut Aginda, Odelia Sabrina Putri Ancilla Carolina Kartijoso Angelie Mutiara Pinka Poluakan Anjellina Kalistsya Cristhy Ardyanta, Daniel Diky Budhi Kristianto C. Leuwol, Sylvie Christiana Hari Soetjiningsih Cintya Widyastuti Jianto, Debora Cristovani Denavia Dani Aji Kartiko Doddy Hendro Wibowo Eden Anthonius Hadadi Erin Claudia Lewerissa Esi Lacosta Esther Jacobus Eunike Lisi Cintani Putri Febrianti, Feni Feni Febrianti Giarto, Nicky Angelica Giner Maslebu Glorya Cipta Husada Nusantara Grilisya Mayestica Tabangge Gumilanggeng, Lima Mash Liberty Hadadi, Eden Anthonius Hans Marcellino Santoso Hapsari, Qanaya Ratih Hermanto Abraham, Rendy Hindriyanto Dwi Purnomo Hombokau, Zefanya Mikha Indra Wisnu Wibisono Insania Ardila Jonathan Kent Setyanto Kamulyan, Alvino Diri Karams, Chantika Adventzia Theresia Kathryn Trifosa Hutabarat Keisya Shaskia Dea Fanda Kristianus Doni Baruna Marandof Lacosta, Esi Leony Anastasya Paath Marasut, Adinda Lisa Sofia marsseda, salsabila agustine Meilina Dwi Kurniawati Melalondo, Militya Christy Mirando Abram Pakasi Monintja, Gloria Kumaat Nahusona, Ferry Nari Liling Narita Kristi Adya Mahanani Natasha Arwen Mandeij Nikerson, Stefanus Anggoro Ninda Graciella Parrangan Putri Novendra, Ilham Novriest Umbu Walangara Nau Palungan, Glori Debora Paulus, Margaritha Serlin Peni Pratiwi Picauly, Irma Amy Prabawaningrum, Anita Budi Proboweni, Dinda Iswari Putri Lorensia Sitepu Romadhoni, Nofrida Tiar Ayu ROSSA YUNITA Salim, Jovanka Tirsa Florensia Sampoerno Selmi Belastrik Mangampa Sembiring, Juliana Karina Sembiring, Yemima Claudya br Setyanto, Jonathan Kent Sherly Shava Nathaniella Sinadia, Juan Gabriel Claudio Sulistyorini, Marella Ardelia Suwuh, Aaron Aditya Tamon, Putri Ivana Kezia Teguh Wahyono Vivianti, Debora Yuli Agung Suprabowo, Gunawan