Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

PERAN STRATEGIS APOTEKER DALAM PELAYANAN KEFARMASIAN SWAMEDIKASI (SELF MEDICATION) Sari, Annisa Kartika; Hanistya, Ria; Samlan, Karima; Wahyuningsih, Etik; Wiputri, Oktaviany Irma; Dessidianti, Rachma; Isnaeni, Isnaeni
Usadha Journal of Pharmacy Vol. 2 No. 4 (2023): November
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/ujp.v2i4.181

Abstract

Mendukung dan memberdayakan individu untuk melakukan perawatan diri secara mandiri merupakan bagian penting dari praktik apoteker di seluruh dunia. Pengobatan sendiri merupakan salah satu elemen dari perawatan diri, yaitu pemilihan dan penggunaan obat oleh seseorang untuk mengobati penyakit atau gejala yang mereka sadari. Persentase populasi swamedikasi di Indonesia mengalami peningkatan selama 3 tahun terakhir. Hal ini tentunya tidak terlepas dari peran apoteker dalam memberikan pelayanan pengobatan sendiri. Oleh karena itu, tinjauan literatur ini dilakukan untuk menggali informasi mengenai pelayanan kefarmasian khususnya swamedikasi yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia dan hasilnya dapat digunakan sebagai bahan evaluasi bagi peran apoteker di Indonesia. Artikel disusun dengan menggunakan metode literature review dari artikel-artikel yang diperoleh melalui database online seperti google scholar, PubMed, NCBI dengan menggunakan kata kunci "Pengobatan sendiri", "Peran Apoteker", dan "Apoteker Komunitas". Kriteria inklusi adalah jurnal yang diakses dalam bentuk full text, jurnal dengan desain penelitian cross-sectional, kohort, kualitatif, kuantitatif, dan mixed method, dan jurnal yang diterbitkan dalam 10 tahun terakhir (2013-2023). Apoteker di beberapa daerah di Indonesia berperan penting dalam mendukung masyarakat dalam meningkatkan kualitas kesehatannya dengan cara mengobati gejala dan penyakit ringan yang diderita (swamedikasi), melalui pemberian rekomendasi baik dengan cara memberikan rujukan ke dokter, memberikan saran dan edukasi farmakologi maupun non farmakologi. Namun demikian, beberapa kendala dalam melaksanakan pelayanan kefarmasian khususnya swamedikasi dapat terjadi sehingga menyebabkan pelayanan kefarmasian tidak terjadi secara optimal. Oleh karena itu, perlu dilakukan evaluasi dan mencari solusi dari faktor-faktor yang mempengaruhi swamedikasi. Kajian ini berkaitan dengan karakteristik swamedikasi yang terjadi di Indonesia dan dapat digunakan sebagai bahan evaluasi bagi tenaga kefarmasian, khususnya apoteker, untuk meningkatkan pelayanan kefarmasian agar persepsi masyarakat terhadap peran apoteker semakin baik dan profesional, sehingga tujuan terapi pasien dapat tercapai secara optimal.
Profil Peresepan Antibiotik Pada Pasien Infeksi Kehamilan Oktaviany Irma Wiputri; Inayatun Fajarizky; Dwi Handayani; Fuad Muzakky; Karima Samlan
Jurnal Altifani Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2026): Januari 2026 - Jurnal Altifani Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : Indonesian Scientific Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59395/altifani.v6i1.1000

Abstract

Infeksi pada kehamilan merupakan kondisi yang dapat meningkatkan risiko komplikasi baik bagi ibu maupun janin, sehingga penggunaan antibiotik yang rasional dan aman menjadi sangat penting. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil penggunaan antibiotik pada pasien infeksi kehamilan di RS PKU Muhammadiyah Surabaya selama periode Januari hingga Desember 2024. Desain penelitian ini bersifat observasional deskriptif dengan pendekatan retrospektif. Data diperoleh melalui telaah rekam medis dengan teknik purposive sampling terhadap 82 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas pasien berada pada kelompok usia 20–30 tahun (70%) dan usia kehamilan trimester kedua (46%). Jenis infeksi terbanyak adalah infeksi saluran kemih (55%), diikuti vaginosis bacterialis (28%) dan influenza (16%). Antibiotik yang paling sering diresepkan adalah amoksisilin (30%), cefixime (25%), dan metronidazol (25%) dengan durasi terapi terbanyak selama 7 hari (68%). Secara hematologis, seluruh pasien (100%) mengalami leukositosis, 4% mengalami anemia, dan 3% mengalami trombositopenia. Sebagian besar pasien tercatat sebagai peserta BPJS (73%), dengan perbedaan jumlah dan jenis antibiotik dibanding pasien umum, termasuk bentuk sediaan generik dan paten. Meskipun sebagian besar antibiotik yang digunakan sesuai dengan pedoman terapi kehamilan, masih ditemukan penggunaan antibiotik kategori Watch yang sebaiknya diawasi. Oleh karena itu, diperlukan pedoman spesifik untuk terapi antibiotik pada ibu hamil serta evaluasi terhadap kesetaraan pelayanan kefarmasian, guna menjamin penggunaan antibiotik yang rasional, aman, dan merata bagi seluruh pasien.
Gambaran Terapi Analgesik Non-Opioid Pada Pasien Paska Sectio Caesarea Oktaviany Irma Wiputri; Salwa Marpho Amathonte Fajarianto; Rosy Nurlita Hapsari; Supatmi Supatmi; Karima Samlan
Jurnal Altifani Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2026): Maret 2026 - Jurnal Altifani Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : Indonesian Scientific Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59395/altifani.v6i2.1056

Abstract

Insisi pada proses persalinan sectio caesarea memicu terjadinya inflamasi akut dan rasa nyeri akibat perubahan kontinuitas jaringan. Kondisi tersebut dapat menyebabkan ketidaknyamanan dan pergerakan yang terbatas. Tingkat nyeri persalinan sesar lebih tinggi (27,3%) dibandingkan dengan nyeri pada persalinan normal (9%). Tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi profil terapi analgesik non opioid pada pasien pasca sectio caesarea periode Januari-Desember 2024. Desain penelitian yaitu observasional deskriptif dengan pendekatan retrospektif dan menggunakan purposive sampling. Hasil studi menunjukkan bahwa sampel yang memenuhi kriteria inklusi sebanyak 169. Usia pasien didominasi 31-35 tahun (29%), dengan riwayat SC (15%) dan lama perawatan 3 hari (67%). Skala nyeri pasca SC berdasarkan VAS menunjukkan nyeri ringan 91-3) hingga sedang (4-6). Analgesik non-opioid terbanyak yaitu injeksi ketorolak 30 mg (35%), diikuti dengan tablet asam mefenamat 500 mg (29%) dan tablet parasetamol 500 mg (21%). Penggunaan tunggal paling banyak adalah injeksi ketorolak (38%) dan kombinasi oral parasetamol dan asam mefenamat (21%). Hasil ini menunjukkan bahwa ketorolak menjadi pilihan analgesik nonopioid pada pasien pasca sectio caesarea di rumah sakit tersebut, sehingga diperlukan evaluasi lebih lanjut terkait efektivitas, keamanan, serta peluang optimalisasi kombinasi analgesik nonopioid dalam upaya meningkatkan kontrol nyeri dan kenyamanan ibu pasca SC.
Profil Perencanaan dan Pengadaan Obat Di Instalasi Farmasi Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Surabaya Menggunakan Analisis ABC-VEN Karima Samlan; Selly Nita Noni Amanda; Rachma Dessidianti; Fuad Muzakky; Ria Hanistya; Widiyanti Afifah; Eka Amalia Suciati
Jurnal Altifani Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 5 No. 4 (2025): Juli 2025 - Jurnal Altifani Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : Indonesian Scientific Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59395/smt59n40

Abstract

Instalasi farmasi rumah sakit mempunyai peranan yang sangat penting untuk melakukan pengelolaan obat terkait perencanaan obat serta pengadaan obat oleh karena itu diperlukan metode yang tepat agar terjamin ketersediaan obat saat dibutuhkan, salah satu metode yang dapat digunakan adalah metode ABC-VEN. Analisis ABC yaitu mengklasifikasikan kategori persediaan menjadi tiga kategori yaitu A (Fast Moving), B (Moderate Moving), dan C (Slow Moving). Analisis VEN menentukan prioritas V (Vital) harus tersedia, E (Essential) perlu tersedia, N (Nonessential) bukan prioritas. Penelitian ini merupakan penelitian non-eksperimental menggunakan analisis deskriptif, pengambilan data dilakukan secara retrospektif dengan data kuantitatif dan kualitatif, data diperoleh dari pemakaian obat periode bulan Januari sampai Desember 2023. Penelitian dilakukan pada bulan Januari sampai Juni 2024. Hasil penelitian ini menunjukkan pada analisis ABC dimana 52 item merupakan kelompok A (70%), 77 item merupakan kelompok B (20%), 675 item merupakan kelompok C (10%). Analisis VEN dari 64 item merupakan kelompok V (8,07%), 551 item merupakan kelompok E (68,45%), 188 item merupakan kelompok N (23,48%). Perencanaan serta pengadaan obat yang sudah dilakukan di logistik obat Instalasi Farmasi Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Surabaya berdasarkan hasil observasi serta wawancara yang telah dilakukan terdapat beberapa kendala dalam prosesnya namun dapat diselesaikan dengan mudah sehingga perencanaan dan pengadaan yang dilakukan sudah cukup efektif serta efisien.