Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

AKTIVITAS PREBIOTIK PISANG SERTA EFEKNYA TERHADAP KESEHATAN DAN PENYAKIT Bertha Rusdi; Ratih Aryani; Umi Yuniarni
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa Vol 6, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiff.v6i2.11825

Abstract

Prebiotik dapat ditemukan dalam bentuk serat pangan pada sayuran dan buah-buahan. Prebiotik secara selektif mampu meningkatkan pertumbuhan bakteri menguntungkan pada saluran pencernaan. Bakteri menguntungkan pada kolon akan mengubah prebiotik menjadi asam lemak rantai pendek yang memiliki efek menguntungkan bagi kesehatan inangnya. Pisang (Musa spp.) merupakan salah satu buah yang telah banyak diteliti sebagai prebiotik. Berbagai varietas pisang telah diteliti dan menunjukkan efek pada pertumbuhan bakteri menguntungkan Bifidobacterium dan Lactobacilli. Tujuan tinjauan pustaka sistematis ini adalah untuk merangkum informasi ilmiah mengenai potensi pisang sebagai prebiotik. Artikel ini membahas mengenai jenis dan bagian-bagian tanaman yang digunakan, senyawa yang berperan dalam efek prebiotik serta efek pisang terhadap kesehatan dan pengendalian penyakit. Metode yang digunakan adalah penelusuran artikel melalui basis data Science Direct dan Google Scholar. Hasil penelusuran menunjukkan bahwa varietas pisang yang banyak diteliti sebagian besar berasal dari persilangan Musa acuminata (genom A) dengan Musa balbisiana (genom B). Bagian buah, kulit buah, dan batang pisang terbukti memiliki efek sebagai prebiotik. Kandungan senyawa yang berperan dalam meningkatkan bakteri Bifidobacteria dan Lactobacilli diantaranya adalah pati, pektin, oligosakarida, fruktan serta selulosa larut air. Efek prebiotik pisang diketahui berkaitan dengan efeknya sebagai antiinflamasi, peningkat sistem imun dan antibakteri.
Peranan Uji Ekivalensi In Vitro Dan Ekivalensi In Vivo dalam Penentuan Kualitas Obat Niken Fitria Yuliar; Fitrianti Darusman; Ratih Aryani
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v3i2.7944

Abstract

Abstract. Drugs are available in the form of innovator and copy drugs. The high cost of innovator drugs makes it difficult for patients to obtain the drugs they need. Therefore, many pharmaceutical industries have developed copy drugs from their innovator drugs. To get a distribution license, the pharmaceutical industry must conduct an equivalence study on copy drugs to ensure that the copy drug has the same efficacy, safety and quality as the innovator drug. However, several surveys show that most patients believe that the effectiveness of copy drugs is not equivalent to the innovator drug. This study aims to determine the role of in vitro equivalence and in vivo equivalence studies in determining drug quality. This study is expected to provide benefits for the public so they are no longer hesitant to use copy drugs. The equivalence study has an important role in ensuring that the quality of the copy drug is equivalent to the innovator drug in terms of efficacy, safety and quality of the copy drug. Abstrak. Obat tersedia dalam bentuk obat inovator dan obat copy. Tingginya harga obat inovator membuat pasien sulit untuk memperoleh obat yang dibutuhkan. Sehingga banyak industri farmasi yang mengembangkan obat copy dari obat inovatornya. Untuk mendapatkan izin edar, industri farmasi harus melakukan uji ekivalensi terhadap obat copy guna menjamin obat copy memiliki khasiat, keamanan dan mutu yang setara dengan obat inovatornya. Namun, beberapa survei menunjukkan sebagian besar pasien percaya bahwa efektivitas obat copy tidak setara dengan obat inovatornya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peranan uji ekivalensi in vitro dan ekivalensi in vivo dalam penentuan kualitas obat. Sehingga penelitian ini diharapkan memberikan manfaat bagi masyarakat agar tidak lagi ragu menggunakan obat copy. Uji ekivalensi memiliki peran penting dalam menjamin kualitas dari obat copy setara dengan obat inovator dalam hal khasiat, keamanan serta mutu obat copy.
Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Teh Hijau (Camellia sinensis (L.) O. Kuntze) Terhadap Bakteri Staphylococcus epidermidis dan Staphylococcus aureus Penyebab Bau Kaki Delfiana Aura Efrida; Sani Ega Priani; Ratih Aryani
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v3i2.7950

Abstract

Abstrak. Bau kaki dapat menandakan kehigienisan seseorang yang buruk dan berdampak pada hubungan sosial dengan menurunnya kepercayaan diri yang disebabkan oleh adanya bakteri Staphylococcus epidermidis dan Staphylococcus aureus. Daun teh hijau (Camellia sinensis (L.) O. Kuntze) mengandung epigallocatechin gallate (EGCG) yang berpotensi sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri dari ekstrak etanol daun teh hijau terhadap bakteri penyebab bau kaki. Telah dilakukan penetapan parameter standar simplisia daun teh hijau. Metode ekstraksi yang dilakukan yaitu metode refluks menggunakan pelarut etanol 96%. Dilakukan penapisan fitokimia pada simplisia dan ekstrak etanol daun teh hijau. Uji aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun teh hijau dilakukan dengan metode difusi sumuran agar. Penetapan parameter standar simplisia berupa parameter spesifik dan nonspesifik telah memenuhi persyaratan. Penapisan fitokimia simplisia dan ekstrak etanol daun teh hijau mengandung golongan senyawa berupa alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, polifenolat, kuinon, monoterpen dan seskuiterpen, serta triterpenoid dan steroid. Aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun teh hijau terhadap bakteri penyebab bau kaki diperoleh nilai Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) sebesar 0,1%. Abstract. Foot odor can indicate a person’s poor hygiene and impact social relationships with decreased self-confidence caused by the presence of Staphylococcus epidermidis and Staphylococcus aureus bacteria. Green tea leaves (Camellia sinensis (L.) O. Kuntze) contain epigallocatechin gallate (EGCG) which has antibacterial potential. This study aims to determine the antibacterial activity of ethanol extract of green tea leaves against bacteria that cause foot odor. Standard parameters of green tea leaf simplisia have been determined. The extraction method was carried out by reflux method using 96% ethanol solvent. Phytochemical screening was carried out on simplisia and ethanol extract of green tea leaves. The antibacterial activity test of ethanol extract of green tea leaves was carried out by the agar well diffusion method. Determination of standard parameters of simplisia in the form of specific and nonspecific parameters has met the requirements. Phytochemical screening of simplisia and ethanol extract of green tea leaves contains compound groups in the form of alkaloids, flavonoids, saponins, tannins, polyphenolates, quinones, monoterpenes and sesquiterpenes, as well as triterpenoids and steroids. The antibacterial activity of ethanol extract of green tea leaves against bacteria that cause foot odor obtained a Minimum Inhibitory Concentration (MIC) value of 0.1%.
Kajian Pengembangan Sistem Nanocarrier Berbasis Lipid untuk Penghantaran Tamoxifen pada Terapi Endokrin Kanker Payudara Brisa Elisa; Ratih Aryani; Dina Mulyanti
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v3i2.8121

Abstract

Abstract. Tamoxifen is an antiestrogen that is the first line of endocrine therapy for breast cancer with HR+. The active substance has very low water solubility (about 0.3 mg/L) and metabolism in the liver, resulting in low bioavailability. Various lipid-based drug delivery systems can be developed to increase the effectiveness and reduce the side effects of tamoxifen. This study aims to determine the strategy for developing lipid-based nanocarrier systems in the form of liposomes, niosomes, SLNs, and NLCs in the delivery of tamoxifen, as well as to find the best nanocarrier system to increase the effectiveness and reduce the side effects of tamoxifen. This study was conducted using the Systematic Literature Review (SLR) method. The results showed that tamoxifen formulated in NLC form, with GMS as solid lipid components, olive oil as liquid lipids, POE-40-S as surfactant, PVA as co-surfactant, and prepared by microemulsion-cooling method provided the best characteristics of lipid-based nanocarrier systems, and stable. Liposome and NLC systems showed the greatest increase in the effectiveness of tamoxifen, marked by increased growth inhibition of MCF-7, MDA MB-231 cells, pharmacokinetic data (Cmax and AUC), and survival of the test animals. In addition, the development of lipid nanocarriers can also reduce the hepatotoxicity of tamoxifen, such as reducing ALT and AST levels. Keywords: Tamoxifen, Nanocarrier, Lipids. Abstrak. Tamoxifen merupakan antiestrogen yang menjadi first line untuk terapi endokrin kanker payudara dengan HR+. Zat aktif tersebut memiliki kelarutan dalam air yang sangat rendah (sekitar 0,3 mg/L) dan mengalami metabolisme di hati, sehingga bioavailabilitasnya rendah. Berbagai sistem penghantaran obat berbasis lipid dapat dikembangkan untuk mencapai peningkatan efektifitas dan penurunan efek samping tamoxifen. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui strategi pengembangan sistem nanocarrier berbasis lipid dalam bentuk liposom, niosom, SLN, dan NLC dalam penghantaran tamoxifen, serta mendapatkan sistem nanocarrier yang paling baik untuk meningkatkan efektifitas dan menurunkan efek samping tamoxifen. Kajian ini dilakukan dengan metode Systematic Literature Review (SLR). Hasil kajian menunjukkan bahwa tamoxifen yang diformulasikan dalam bentuk NLC, dengan komponen lipid padat GMS, lipid cair minyak zaitun, surfaktan POE-40-S dan ko-surfaktan PVA, serta dibuat dengan metode mikroemulsi-pendinginan memberikan karakteristik sistem nanocarrier berbasis lipid yang paling baik dan stabil. Sistem liposom dan NLC menunjukkan peningkatan efektifitas tamoxifen yang paling besar ditandai dengan meningkatnya penghambatan pertumbuhan sel MCF-7, MDA MB-231, data farmakokinetik (Cmax dan AUC), serta kelangsungan hidup hewan uji. Selain itu, pengembangan lipid nanocarrier juga dapat mengurangi hepatotoksik tamoxifen, seperti menurunkan kadar ALT dan AST. Kata Kunci: Tamoxifen, Nanocarrier, Lipid.
Formulasi Sediaan Cleansing Balm Mengandung Allantoin (Aluminum dihydroxy allantoinate) Sebagai Eksfoliator Laluna Salsa Midika; Mentari Luthfika Dewi; Ratih Aryani
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v3i2.8517

Abstract

Penggunaan kosmetik dalam jangka waktu yang lama dengan pembersihan yang tidak sempurna akan menyebabkan penumpukan sebum yang akan mengakibatkan timbulnya jerawat. Cleansing balm merupakan produk yang pembersih wajah pada tahap pertama proses double cleansing yang bertujuan untuk mengangkat kosmetik seperti makeup waterproof, kotoran, dan minyak berlebih. Cleansing balm juga dapat berfungsi untuk mengangkat sel-sel kulit mati dengan penambahan zat aktif allantoin sebagai agent eksfoliator. Formulasi basis dilakukan dengan variasi konsentrasi F1- F3 pada komponen bahan yaitu lanolin dan shea butter. Formula basis terpilih adalah F3 dengan komponen bahan lanolin 60% dan shea butter 25%. Dilakukan penambahan zat aktif allantoin 0,35% pada basis terpilih. Didapatkan hasil evaluasi F3 mengandung allantoin 0,35% pada uji organoleptik beraroma vanilla dan berwarna kuning, uji homogenitas dihasilkan sediaan yang homogen, daya sebar sebesar 4,4 ± 0,03 cm, uji daya bersih dengan waktu 9 detik ± 0 , uji titik leleh menghasilkan suhu 32°C ± 0,57, uji viskositas 158.333 cps ± 0,55 sifat alir termasuk kedalam tipe tiksotropik dan dilakukan uji stabilitas. Hasil uji stabilitas dengan metode cycling test formula tersebut terbukti stabil. Keywords: Cleansing balm, waterproof makeup, exfoliator The use of cosmetics for a long time with imperfect cleansing will cause a buildup of sebum which will result in acne. Cleansing balm is a product that cleanses the face in the first stage of the double cleansing process which aims to remove cosmetics such as waterproof makeup, dirt and excess oil. Cleansing balm can also function to remove dead skin cells with the addition of the active substance allantoin as an exfoliator agent. The basic formulation was carried out by varying the concentration of F1-F3 on the ingredients, namely lanolin and shea butter. The selected base formula is F3 with 60% lanolin and 25% shea butter. The active substance allantoin 0.35% was added to the selected base. The results of the F3 evaluation contained 0.35% allantoin in the organoleptic test with a vanilla flavor and yellow color, homogeneity test produced a homogeneous preparation, spreadability of 4.4 ± 0.03 cm, clean power test with a time of 9 seconds ± 0 , point test melting yielded temperature 32°C ± 0.57, viscosity test 158,333 cps ± 0.55 flow properties included in the thixotropic type and stability tests were carried out. The results of the stability test using the cycling test method proved to be stable. Kata Kunci: Cleansing balm, makeup waterproof, eksfoliator
Kajian Literatur Profil Farmakokinetika Sacubitril-Valsartan Pada Subjek Sehat dan Gagal Jantung Firda Amelya; Ratih Aryani; Fetri Lestari
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v3i2.8536

Abstract

Abstract. Sacubitril-Valsartan is a first-class therapeutic agent for ARNI (Angiotensin Receptor-Neprilysin Inhibitor) which can reduce blood pressure and reduce mortality and morbidity in patients with Heart failure with Reduced Ejection Fraction (HFrEF). A combination of Neprilysin inhibitors (NEPi) and Angiotensin II Receptor Blockers (ARBs) is required to reduce the increased bradykinin concentrations due to neprilysin inhibition. The success of Sacubitril-Valsartan therapy is determined by the dosage setting design taking into account pharmacokinetic factors. The pharmacokinetic profile of each individual may vary, influenced by differences in race/ethnicity, gender, age, drug interactions and physiological changes. This study aims to determine the pharmacokinetic parameters of the drug Sacubitril-Valsartan based on differences in race/ethnicity, sex, age, drug interactions, in subjects with impaired kidney function, and in subjects with heart failure. The method used for this study is the SLR (Systematic Literature Review) method. The articles used in this study were 10 journal articles obtained from the PMC database, Wiley, Springer Link. The results showed that race/ethnicity affects T1/2 longer in Caucasians, female sex has a longer T1/2, older people have a longer T1/2, Cmax, T1/2, AUC0-24h increased in impaired kidney function with decreased CL, Cmax and T1/2 increased in HFREF patients. Keywords: Pharmacokinetic, Sacubitril-Valsartan, Heart failure. Abstrak. Sacubitril-Valsartan merupakan agen terapeutik kelas pertama ARNI (Angiotensin Reseptor-Neprilysin Inhibitor) yang dapat menurunkan tekanan darah dan menurunkan mortalitas dan morbiditas pada pasien Heart failure with Reduced Ejection Fraction (HFrEF). Kombinasi Neprilysin inhibitor (NEPi) dan Angiotensin II Receptor Blockers (ARB) diperlukan untuk mengurangi konsentrasi bradikinin yang meningkat akibat penghambatan neprilysin. Keberhasilan terapi Sacubitril-Valsartan ditentukan oleh rancangan pengaturan dosis dengan mempertimbangkan faktor farmakokinetika. Profil farmakokinetika pada setiap individu dapat bervariasi dipengaruhi oleh perbedaan ras/etnis, jenis kelamin, usia, interaksi obat-obatan dan perubahan fisiologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui parameter farmakokinetika obat Sacubitril-Valsartan berdasarkan perbedaan ras/etnis, jenis kelamin, usia, interaksi obat-obatan, pada subjek dengan gangguan fungsi ginjal, dan pada subjek gagal jantung. Metode yang digunakan untuk penelitian ini adalah metode SLR (Systematic Literature Review). Artikel yang digunakan pada penelitian ini sebanyak 10 artikel jurnal yang diperoleh dari database PMC, Wiley, Springer Link. Hasil penelitian menunjukan bahwa ras/etnis mempengaruhi T1/2 lebih lama pada ras Kaukasia, jenis kelamin perempuan memiliki T1/2 lebih lama, usia tua memiliki T1/2 lebih lama, Cmax, T1/2, AUC0-24jam meningkat pada subjek gangguan fungsi ginjal dengan CL yang menurun, Cmax dan T1/2 meningkat pada pasien HFREF. Kata Kunci: Farmakokinetika, Sacubitril-Valsartan, Gagal Jantung.
FORMULASI DAN KARAKTERISASI SISTEM NIOSOM ETIL VITAMIN C Ratu Nabila Afriandini; Aulia Fikri Hidayat; Ratih Aryani
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v3i2.8627

Abstract

Abstrak. Etil vitamin C merupakan salah satu senyawa turunan vitamin C yang memiliki stabilitas yang lebih baik di banding turunan lainnya, yang memiliki fungsi sebagai whitening agent. Namun senyawa etil vitamin C diketahui sulit berpenentrasi kedalam kulit yang dikarenakan memiliki kelarutan yang tinggi dalam air. Niosom merupakan salah satu sistem penghantaran yang dapat meningkatkan senyawa untuk berpenetrasi pada penghantaran dengan rute topikal. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan formula niosom etil vitamin C yang optimum berdasarkan karakterisasi yang dilakukan dan membandingkan daya penentrasi niosom etil vitamin C dengan etil vitamin C murni. Dibuat tiga formula dalam pembuatan niosom dengan memvariasikan komposisi surfaktan dengan perbandingan jumlah kolesterol : span 60 adalah (1:1), (1:3), dan (1:5) dengan metode hidrasi lapis tipis. Niosom yang diperoleh dari hasil karakterisasi efisiensi penjerapan, ukuran partikel, indeks polidispersitas, dan potensial zeta. Pada F1 (1:1) dengan nilai efisiensi penjerapan 75%±0,010, ukuran partikel 1,380 µm dengan ukuran yang kurang homogen dan potensial zeta -49,7±0,115 mV dipilih sebagai formula terbaik. Selanjutnya dilakukan uji penetrasi secara in vitro pada formula terbaik yang dibandingkan dengan etil vitamin C murni menggunakan metode sel difusi franz. Hasil penetrasi yang didapat memberikan nilai jumlah kumulatif terpenetrasi niosom etil vitamin C 39,8532±1,174 µg/cm2 dan fluks 19,9627±0,587 µg/cm2.jam sedangkan hasil penetrasi etil vitamin C murni memberikan nilai jumlah kumulatif terpenetrasi 25,0956±0,542 µg/cm2 dan fluks 12,5478 ±0,271 µg/cm2.jam. Sehingga hasil uji penetrasi menunjukan niosom etil vitamin C memiliki kemampuan penetrasi yang lebih baik dibanding etil vitamin C murni Abstract. Ethyl ascorbic acid is one of the compounds derived from vitamin C which has better stability compared to other derivatives, which has a function as a whitening agent. However, the ethyl compound of vitamin C is known to be difficult to penetrate into the skin due to its high solubility in water. Niosomes are one of the delivery systems that can increase compounds to penetrate the topical route of delivery. This study aims to obtain the optimum ethyl ascorbic acid niosome formula based on the characterization performed and to compare the penetrating power of ethyl ascorbic acid niosome with pure etil ascorbic acid . Three formulas were prepared for the manufacture of niosomes by varying the surfactant composition with a ratio of total cholesterol: span 60, namely (1:1), (1:3), and (1:5) using the thin layer hydration method. Niosomes which have been obtained from the results of the characterization of entrapment efficiency, particle size, polydispersity index, and zeta potential. In F1 (1:1) with an adsorption efficiency value of 75% ± 0.010, a particle size of 1.380 µm with a less homogeneous size and a zeta potential of -49.7 ± 0.115 mV was chosen as the best formula. Furthermore, an in vitro penetration test was carried out on the best formula compared to pure ethyl ascorbic acid using the Franz diffusion cell method. The penetration results obtained gave a cumulative amount penetrated by ethyl ascorbic acid niosome 39.8532 ± 1.174 µg/cm2 and a flux of 19.9627 ± 0.587 µg/cm2.hour while the penetration results of pure ethyl ascorbic acid gave a cumulative amount penetrated 25.0956 ± 0.542 µg/cm2 and a flux of 12.5478 ±0.271 µg/cm2.hour. So the results of the penetration test showed that niosome ethyl ascorbic acid has a better penetration ability than pure ethyl ascorbic acid
KARAKTERISASI MINYAK LAVENDER (Lavandula angustifolia) UNTUK ALTERNATIF BAHAN AKTIF SEDIAAN FARMASI Hepy Nuriska; Dina Mulyanti; Ratih Aryani
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v3i2.8914

Abstract

Acne is a skin disease in which there is a buildup of oil that causes clogged facial skin pores, triggering bacterial activity and inflammation. Antibacterial is a substance that can inhibit the growth of bacteria that can kill acne bacteria. Lavender oil is known to contain active compounds that have antibacterial activity. The purpose of this study was to determine the characteristics of lavender oil as an alternative pharmaceutical ingredient. Oil characterization was carried out by organoleptic testing and content analysis using the Gas Chromatography Mass Spectroscopy (GC-MS) method. The results showed that lavender oil has a liquid form, white to yellow in color, with a characteristic aromatic odor of lavender oil and contains alpha pinene (0.44%), camphene (0.30%), beta pinene (0.41%), beta mycene (1.11%), acetic acid (0.74%), limonene (1.50%), cineole (4.72), linalool (36.55%), camphor (3.16%), terpinine- 4-ol (2.07%), linalyl acetate (32.54), geranyl acetate (1.79%), nerly acetate (1.14%), and caryophyllene (7.55%), with high content of linalool and linalyl acetate, lavender oil can be an alternative active ingredient in pharmaceutical preparations which are known to have antibacterial activity. Jerawat adalah penyakit kulit dengan adanya penumpukan minyak yang menyebabkan pori-pori kulit wajah tersumbat sehingga memicu aktivitas bakteri dan peradangan. Antibakteri merupakan zat yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri yang dapat membunuh bakteri jerawat. Minyak lavender diketahui mengandung senyawa-senyawa aktif yang memiliki aktivitas antibakteri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik minyak lavender sebagai bahan alternatif sediaan farmasi. Karakterisasi minyak dilakukan pengujian organoleptik dan analis kandungan menggunakan metode Gas Chromatography Mass Spectroscopy (GC-MS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa minyak lavender memiliki bentuk cairan, berwarna putih kuning, dengan bau khas aromatik minyak lavender dan mengandung senyawa alpha pinene (0,44%), camphene (0,30%), beta pinene (0,41%), beta mycene (1,11%), asam asetat (0,74%), limonene (1,50%), cineole (4,72), linalool (36,55%), camphor (3,16%), terpinine-4-ol (2,07%), linalil asetat (32,54), geranil asetat (1,79%), nerly asetat (1,14%), dan caryophyllene (7,55%), dengan tingginya kandungan linalool dan linalyl asetat maka minyak lavender dapat menjadi alternatif bahan aktif sediaan farmasi yang diketahui memiliki aktivitas antibakteri.
Potensi Ekstrak Daun Tin (Ficus carica L.) Sebagai Antibakteri Syavina Nur Zahira; Ratih Aryani; Budi Prabowo Soewondo
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v3i2.8932

Abstract

Abstract: The most common infection in humans is a bacterial infection that can potentially cause severe disease, septic shock, and multiorgan dysfunction. Disease-causing bacteria include Escherichia coli and Staphylococcus aureus. Treatment of bacterial infections is done using antibiotics. However, the irrational use of antibiotics can lead to antibiotic resistance. Antibiotic resistance can lead to failure in treating various infectious diseases, so alternative treatments are needed from natural ingredients with antibacterial mechanisms. Fig leaf extract contains different secondary metabolites which can be used as antibacterials. This study aims to determine the antibacterial activity of fig leaf extract against E.coli and S.aureus bacteria and determine the compounds contained in fig leaf extract that have the potential as antibacterial agents. The method used in this study is the Systematic Literature Review (SLR) method from research journals that have been published. The results showed that fig leaf extract had better antibacterial activity in inhibiting gram-positive bacteria such as S.aureus. The best antibacterial activity of fig leaf extract was n-hexane extract because, at a concentration of 0.2%, it inhibited E.coli and S.aureus bacteria by 9 mm (medium) and 12 mm (strong), respectively. Fig leaf extract contains flavonoids, tannins, and terpenoids, which have an antibacterial mechanism. Abstrak: Infeksi yang paling umum terjadi pada manusia adalah infeksi bakteri yang berpotensi menyebabkan terjadinya infeksi berat, syok septik, dan disfungsi multiorgan. Bakteri penyebab penyakit diantaranya adalah Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Pengobatan infeksi bakteri dilakukan dengan menggunakan antibiotik. Namun, pengunaan antibiotik yang irasional dapat menimbulkan terjadinya resistensi antibiotik. Resistensi antibiotik dapat mengakibatkan kegagalan dalam pengobatan berbagai jenis penyakit infeksi, sehingga diperlukan alternatif pengobatan yang bersumber dari bahan alam yang memiliki mekanisme sebagai antibakteri. Ekstrak daun tin memiliki berbagai kandungan metabolit sekunder yang dapat digunakan sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak daun tin terhadap bakteri E.coli dan S.aureus, serta mengetahui senyawa yang terkandung dalam ekstrak daun tin yang berpotensi sebagai antibakteri. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Systematic Literature Review (SLR) dari jurnal-jurnal penelitian yang telah dipublikasikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun tin memiliki aktivitas antibakteri yang lebih baik dalam menghambat bakteri gram positif seperti S.aureus. Aktivitas antibakteri ekstrak daun tin terbaik adalah ekstrak n-heksan karena pada konsentrasi 0,2% dapat menghambat bakteri E.coli dan S.aureus berturut-turut sebesar 9 mm (sedang) dan 12 mm (kuat). Senyawa yang terkandung dalam ekstrak daun tin adalah flavonoid, tanin, dan terpenoid yang memiliki mekanisme sebagai antibakteri.
EDUKASI PENGGUNAAN SUPLEMEN DAN HERBAL PENINGKAT IMUNITAS DI KELURAHAN KARASAK KOTA BANDUNG Fetri lestari; Yani lukmayani; Ratih Aryani; Kiki Mulkiya Yuliawati
Jurnal Pengabdian Masyarakat (Jupemas) Vol 2, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Bakti Tunas Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36465/jupemas.v2i2.860

Abstract

Peningkatan kasus Covid-19 di Kota Bandung berdampak pada kebutuhan akan peningkatan imunitas tubuh, selain diterapkannya protokol kesehatan dalam mencegah penularan virus. Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) ini bertujuan memberikan edukasi mengenai penggunaan suplemen dan herbal untuk meningkatkan imunitas tubuh, serta cara mengolah herbal di rumah. Program dilakukan di Kelurahan Karasak, Kecamatan Astanaanyar Kota Bandung pada bulan April 2021, berupa ceramah dan penayangan video. Evaluasi peningkatan pemahaman peserta berupa  skor tes akhir, dibandingkan dengan skor tes awal.  Kegiatan PKM ini berhasil meningkatkan pemahaman peserta mengenai suplemen dan herbal peningkat imunitas sebesar 36,2% berdasarkan hasil tes. Untuk mendorong keberdayaan warga dalam budidaya TOGA, diberikan 100 bibit jahe merah sekaligus dalam rangka mendukung pendirian Kampung Jahe di Kelurahan Karasak. Selain itu juga diberikan bibit cabe rawit dan set peralatan untuk penanaman secara hidroponik. Setelah dilaksanakannya PKM ini diharapkan agar warga memahami penggunaan suplemen dan herbal yang tepat sebagai upaya menjaga imunitas dan cara mengolah herbal, serta aktif membudidaya TOGA.