Claim Missing Document
Check
Articles

Kajian Pengembangan Sistem Nanostructured Lipid Carriers (NLC) untuk Vitamin A Fatimah Azzahra Sundaning Asih; Hanifa Rahma; Ratih Aryani
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.13595

Abstract

Abstract. Vitamin A is a fat-soluble vitamin that plays a crucial role in maintaining skin health, including enhancing elasticity, preventing lipid peroxidation, and acting as an antioxidant. However, Vitamin A has several limitations, such as low polarity, has a large particle size, high chemical instability, and photoinstability, which can lead to reduced effectiveness and potential irritation. To overcome these limitations, Vitamin A can be formulated into lipid-based nanocarrier systems such as Nanostructured Lipid Carriers (NLC). This study aims to review the formulation and characteristics of NLCs containing Vitamin A and its derivatives. The method used is a Systematic Literature Review (SLR), with articles sourced from reputable databases. The literature review shows that the formulation of NLCs containing Vitamin A is composed of solid lipids, liquid lipids, and non-ionic surfactants. The characterization reveals that the particle size of NLCs ranges from 129 to 762 nm, the polydispersity index (PDI) is less than 0.5, the zeta potential is within the range of -24.6 to -44.3 mV, and the entrapment efficiency is above 90%. Based on these results, NLCs containing Vitamin A exhibit good physical stability and have the potential to enhance the effectiveness of Vitamin A for topical applications. Abstrak. Vitamin A adalah vitamin yang larut dalam lemak dan berperan penting dalam pemeliharaan kesehatan kulit, termasuk meningkatkan elastisitas, mencegah peroksidasi lipid, dan berfungsi sebagai antioksidan. Namun, vitamin A memiliki beberapa keterbatasan, seperti polaritas yang rendah, ukuran partikel yang besar, ketidakstabilan kimia, dan fotoinstabilitas yang dapat menyebabkan penurunan efektivitas dan potensi iritasi. Untuk mengatasi keterbatasan ini, vitamin A dapat diformulasikan dalam sistem penghantaran nano berbasis lipid seperti Nanostructured Lipid Carriers (NLC). Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji formulasi dan karakteristik NLC yang mengandung vitamin A dan turunannya. Metode yang digunakan adalah Systematic Literature Review (SLR) dengan artikel yang diambil dari berbagai basis data bereputasi. Hasil kajian literatur menunjukkan bahwa formulasi NLC yang mengandung vitamin A dibuat dengan kombinasi lipid padat, lipid cair, dan surfaktan non-ionik. Karakterisasi menunjukkan ukuran partikel NLC berada dalam rentang 129 hingga 762 nm, polidispersitas indeks (PDI) kurang dari 0,5, zeta potensial dalam rentang -24,6 hingga -44,3 mV, dan efisiensi penjerapan di atas 90%. Berdasarkan hasil tersebut, NLC yang mengandung vitamin A menunjukkan stabilitas fisik yang baik dan berpotensi meningkatkan efektivitas vitamin A untuk aplikasi topikal.
Uji Stabilitas Warna Sediaan Lip Cream Ekstrak Etanol Ubi Jalar Ungu (Ipomoea batatas (L.) Lam.) dan Natrium Kaseinat sebagai Kopigmen Indra Novian Rukmana; Ratih Aryani; Gita Cahya Eka Darma
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.13901

Abstract

Abstract. Natural dyes can be used as colorants in cosmetic preparations, one of which is anthocyanin pigment derived from purple sweet potato (Ipomoea batatas (L.) Lam.). Generally, natural dyes have unstable stability, so efforts are needed to improve their stability through copigmentation. In this study, a lip cream formulation was created containing a combination of dye from purple sweet potato extract and sodium caseinate as a copigment. The purpose of this research is to determine the stability of the natural dye in purple sweet potato ethanol extract in lip cream formulation and sodium caseinate as a copigment. The extraction process of purple sweet potato was carried out using the maceration method with ethanol solvent added with 1% hydrochloric acid. Stability testing of the formulation was conducted over 14 days, covering organoleptic properties, pH value, homogeneity, spreadability, viscosity, and color intensity. The results showed that the best lip cream formula contained 10% purple sweet potato ethanol extract and 0.5% sodium caseinate, which had good physical properties and maintained color with a percentage decrease in color intensity of 40.81%. Abstrak. Pewarna alami dapat digunakan menjadi pewarna dalam sediaan kosmetika, salah satunya yaitu pigmen antosianin yang berasal dari ubi jalar ungu (Ipomoea batatas (L.) Lam.). Pada umumnya perwarna alami memiliki stabilitas yang tidak stabil, sehingga perlu dilakukan upaya untuk meningkatkan stabilitasnya dengan kopigmentasi. Pada penelitian ini dibuat sediaan lip cream yang mengandung kombinasi pewarna dari ekstrak ubi jalar ungu dan kopigmen natrium kaseinat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui stabilitas pewarna alami ekstrak etanol ubi jalar ungu dalam sediaan lip cream dan natrium kaseinat sebagai kopigmen. Proses ekstraksi ubi jalar ungu menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol yang ditambah dengan 1% asam klorida. Pengujian stabilitas sediaan dilakukan selama 14 hari, meliputi organoleptik, nilai pH, homogenitas, daya sebar, nilai viskositas, dan intensitas warna. Hasil penelitian menunjukkan, formula lip cream terbaik mengandung 10% ekstrak etanol ubi jalar ungu dan 0,5% natrium kaseinat yang memiliki sifat fisik yang baik dan masih dapat mempertahankan warna dengan persen penurunan intensitas warna sebesar 40,81%.
Formulasi Sediaan Steril Spray Gel Mengandung Serbuk Lidah Buaya (Aloe vera .L) dan Madu Jahra Farhanuddin; Sani Ega Priani; Ratih Aryani
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.14089

Abstract

Abstract. Spray gel is a topical preparation that is applied using pressure from a pump so that it produces large and small droplets. The use of aloe vera (Aloe vera .L) and honey topically, have antibacterial, anti-inflammatory, antioxidant activities and can accelerate the healing of open wounds. The purpose of this study is to obtain the optimal formula for a sterile spray gel preparation containing a combination of aloe vera powder (Aloe vera.L) and honey, and the characteristics of sterile spray gel preparations that are in accordance with pharmaceutical requirements are obtained. Aloe vera gel was dried using the freeze dry method, and base optimization was carried out using Viscolam MAC 10 as a gelling agent with concentrations (1%, 3% and 5%). Bases with a concentration of 1% have better evaluation results than concentrations of 3% and 5%. The formulation of sterile spray gel was carried out using a 1% MAC viscolam base with a variation in the concentration of aloe vera F1A (0.25%); F1B (0.5%); and F1C (1%) and honey 3%. The results of the research conducted showed that F1A and F1B sterile spray gel preparations have better characteristics than F1C. Abstrak. Spray gel merupakan sediaan topikal yang diaplikasikan menggunakan tekanan dari pompa sehingga menghasilkan tetesan cairan berukuran besar maupun kecil. Penggunaan lidah buaya (Aloe vera .L) dan madu secara topikal, memiliki aktivitas antibakteri, antiinflamasi, antioksidan serta dapat mempercepat penyembuhan luka terbuka. Tujuan dari penelitian ini untuk mendapatkan formula optimum sediaan spray gel steril mengandung kombinasi serbuk lidah buaya (Aloe vera .L) dan madu, serta didapatkan karakteristik sediaan spray gel steril yang sesuai dengan persyaratan farmasetik. Dilakukan pengeringan gel lidah buaya menggunakan metode freeze dry, serta dilakukan optimasi basis menggunakan Viscolam MAC 10 sebagai gelling agent dengan konsentrasi (1%, 3% dan 5%). Basis dengan konsentrasi 1% memiliki hasil evaluasi yang baik dibandingkan konsentrasi 3% dan 5%. Formulasi spray gel steril dilakukan menggunakan basis viscolam MAC 1% dengan variasi konsentrasi lidah buaya F1A (0,25%); F1B (0,5%); dan F1C (1%) dan madu 3%. Hasil penelitian yang dilakukan didapatkan sediaan spray gel steril F1A dan F1B memiliki karakteristik yang lebih baik dibandingkan F1C.
Karakterisasi Enkapsulat Nanogel Kurkumin dengan Basis Alginat Dialdehid Arsy Auliyana Dewi; Arlina Prima Putri; Ratih Aryani
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.14447

Abstract

Abstract. Curcumin is a hydrophobic polyphenol that is insoluble in water but soluble in organic solvents. Curcumin has shortcomings such as low bioavailability, therefore it is necessary to do coating or encapsulation to increase stability. This research aims to characterize the nanoencapsulation of curcumin alginate dialdehyde based on the values of % transmittance, functional groups, particle size, zeta potential, and percent absorption. The nanogel results obtained were in samples 4 containing a ratio of alginate dialdehyde: sodium alginate (2:8) and 6 containing a ratio of alginate dialdehyde: sodium alginate (2:8) with a curcumin concentration of 1% because it produced a % transmittance of 94% in sample 4 and 92% in sample 6. Then in FTIR-ATR characterization, there are O-H and C=O groups while the results in sample 6 are aromatic C=C groups from these results indicate that there are alginate dialdehyde and curcumin groups in the nanogel sample. While the particle size characteristics in sample 4 are 277.244 nm ± 21.823 nm while in sample 6 are 204.833 nm ± 1.249 nm and the polydispersity index value in sample 4 is 0.299 ± 0.05 while in sample 6 is 1.175 ± 0.047. The result of zeta potential characterization in sample 4 is -2.867 mV ± 0.471 and in sample 6 is -3.767 mV ± 0.124. While the results of the percent of curcumin sorption obtained 17.605%. Abstrak. Kurkumin merupakan polifenol hidrofobik yang tidak larut dalam air namun larut dalam pelarut organik. Kurkumin memiliki kekurangan seperti ketersediaan hayati yang rendah maka dari itu perlu dilakukan pelapisan atau enkapsulasi untuk meningkatkan stabilitas. Dalam penelitian yang dilakukan ini mempunyai tujuan untuk mengkarakterisasi nanoenkapsulasi kurkumin alginat dialdehid berdasarkan nilai % transmitan, gugus fungsi, ukuran partikel, zeta potensial, dan persen penjerapan. Hasil nanogel yang diperoleh yaitu pada sampel 4 yang mengandung perbandingan alginat dialdehid : natrium alginat (2:8) dan 6 yang mengandung perbandingan alginat dialdehid : natrium alginat (2:8) dengan konsentrasi kurkumin 1% karena menghasilkan % transmitan 94% pada sampel 4 dan 92% pada sampel 6. Kemudian pada karakterisisasi FTIR-ATR yaitu terdapat gugus O-H dan C=O sedangkan hasil pada sampel 6 yaitu terdapat gugus C=C aromatik dari hasil tersebut menandakan bahwa terdapatnya gugus alginat dialdehid dan kurkumin dalam sampel nanogel. Sedangkan pada karakteristik ukuran partikel pada sampel 4 yaitu 277,244 nm ± 21,823 nm sedangkan pada sampel 6 yaitu 204,833 nm ± 1,249 nm dan nilai indeks polidispersitas pada sampel 4 yaitu 0,299 ± 0,05 sedangkan pada sampel 6 yaitu 1,175 ± 0,047. Hasil karalterisasi zeta potensial yang pada sampel 4 yaitu -2,867 mV ± 0,471 dan pada sampel 6 yaitu -3,767 mV ± 0,124. Sedangkan hasil persen penjerapan kurkumin diperoleh 17,605%.
Skrining Aktivitas Antidiabetes pada Beberapa Ekstrak Menggunakan Metode Nelson-Somogyi Anisa Sopiani; Ratih Aryani; Bertha Rusdi
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.14592

Abstract

Abstract. Diabetes mellitus is a chronic health condition characterized by high blood glucose levels due to impaired insulin production or function. With the increasing prevalence of diabetes in Indonesia, it encourages researchers to look for alternative treatments sourced from natural materials. One of the first steps is to screen the potential of natural compounds as antidiabetics. In this systematic literature review, the potential of natural ingredients as antidiabetic candidates was assessed in vitro using the Nelson Somogyi method. The results of the study found that some extracts containing flavonoid compounds have the potential to reduce blood glucose levels. The combination of cabbage and tomato ethanol extract in the ratio (1:2) has the best glucose level reduction of 4.52 ppm. Abstrak. Diabetes melitus merupakan kondisi kesehatan kronis yang ditandai dengan tingginya kadar glukosa dalam darah akibat gangguan produksi atau fungsi insulin. Dengan meningkatnya prevalensi diabetes di Indonesia, mendorong para peneliti untuk mencari alternatif pengobatan yang bersumber dari bahan alam. Salah satu langkah awal adalah dengan melakukan skrining potensi senyawa bahan alam sebagai antidiabetes. Pada Systematic literature review ini dilakukan pengkajian potensi bahan alam sebagai kandidat antidiabetes secara in vitro dengan menggunakan metode Nelson Somogyi. Hasil kajian didapatkan bahwa beberapa ekstrak yang mengandung senyawa flavonoid memiliki potensi dalam menurunkan kadar glukosa darah. Kombinasi ekstrak etanol kubis dan ekstrak etanol tomat pada perbandingan (1:2) memiliki penurunan kadar glukosa terbaik sebesar 4,52 ppm.
Formulasi dan Karakterisasi Nanogel Ekstrak Etanol Daun Katuk (Breynia androgyna L.) Fika Nur Hasyaeni; Aulia Fikri Hidayat; Ratih Aryani
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.14645

Abstract

Abstract. Katuk leaf is a medicinal plant in Southeast Asia, including Indonesia. Nanogels are gels with small particle sizes and large surface areas that can increase the penetration of active compounds. Objective: Formulation and characterization of nanogel preparation of ethanol extract of katuk leaf (Breynia androgyna L.). Methods: Simplisia of katuk leaves were dried, characterized, and screened. Extraction by maceration method using 96% ethanol. Formulation of nanoparticle preparations with sodium alginate and CaCl2, concentration variations (4:1; 3:2; 2:3; 1:4). Nanoparticle characteristics: organoleptic, transmittance, particle size, and zeta potential. Evaluation of nanogels: organoleptic, homogeneity, pH, viscosity, spreadability, and stability. Results: The results of the characteristics of katuk leaf simplisia are moisture content, total ash, acid insoluble ash, water soluble essence, ethanol soluble essence, drying shrinkage of 8.26, 6.96, 0.87, 31.55, 26.59, and 9.09% respectively. Simplisia and extracts contain alkaloids, flavonoids, saponins, anthraquinones, monoterpenoids/sesquiterpenoids, tannins, polyphenolics, and triterpenoids. The characteristics of the best nanoparticle formula: percent transmittance of 93.33%, particle size of 209nm, and zeta potential of -41.4mV. The resulting nanogel preparation: clear yellow, odorless, homogeneous, pH 6.4-6.9, spreadability 6.08-6.17cm, viscosity 3812-3846 cPs, stable during 1-week storage. Conclusion: The ethanol extract of katuk leaves can be formulated in a nanogel preparation that is stable during storage and meets the requirements for evaluating the physical properties of nanogel preparations. Abstrak. Daun katuk dikenal sebagai tumbuhan obat di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Nanogel adalah gel dengan ukuran partikel kecil dan luas permukaan luas sehingga dapat meningkatkan penetrasi senyawa aktif. Tujuan: Formulasi dan karakterisasi sediaan nanogel ekstrak etanol daun katuk (Breynia androgyna L.). Metode: Simplisia daun katuk dilakukan proses pengeringan, karakterisasi dan skrining. Ekstraksi dengan metode maserasi menggunakan etanol 96%. Formulasi sediaan nanopartikel dengan natrium alginat dan CaCl2 dengan variasi konsentrasi (4:1; 3:2; 2:3; 1:4). Karakteristik nanopartikel meliputi organoleptik, uji transmitan, ukuran partikel dan potensial zeta. Evaluasi nanogel meliputi organoleptik, homogenitas, pH, viskositas, daya sebar, dan stabilitas. Hasil: Hasil karakteristik simplisia daun katuk yaitu kadar air, abu total, abu tidak larut asam, sari larut air, sari larut etanol, susut pengeringan berturut-turut 8,26, 6,96, 0,87, 31,55, 26,59 dan 9,09%. Simplisia dan ekstrak mengandung alkaloid, flavonoid, saponin, antrakuinon, tanin, monoterpenoid/seskuiterpenoid, polifenolat serta triterpenoid. Hasil karakteristik formula nanopartikel terbaik meliputi persen transmitan 93,33%, ukuran partikel 209nm, dan potensial zeta -41,4mV. Sediaan nanogel yang dihasilkan berwarna kuning jernih, tidak berbau, homogen, pH 6,4-6,9, daya sebar 6,08-6,17cm, viskositas 3812-3846 cPs, stabil selama penyimpanan 1 minggu. Kesimpulan: Ekstrak etanol daun katuk dapat diformulasikan dalam sediaan nanogel yang stabil selama penyimpanan dan memenuhi syarat evaluasi sifat fisik sediaan nanogel.
Formulasi Army Body Mist Minyak Serai Wangi (Citronella oil) sebagai Anti Repellent Hendrik Hermawan; Gita Cahya Eka Darma; Ratih Aryani
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.14660

Abstract

Abstract. Repellent is a material that has the ability to protect humans from mosquito bites when sprayed on the surface of the skin and clothing. One of the natural ingredients that has potential as repellant is citronella essential oil (Citronella oil) with the main compounds containing citronellal (24.33%), citronellol (11.34%) and geraniol (13.17%). Citronella essential oil is formulated in preparation of body mist. The aim of this research is to obtain a formula body mist fragrant lemongrass essential oil as an anti repellent against mosquitoes Aedes aegypti, to determine the length of time the fragrance of the preparation lasts and to determine the effectiveness of the preparation as repellent against mosquitoes Aedes aegypti, To obtain the right concentration of citronella essential oil, in this study solutions were made with different concentration variants from 5-15%. The results of the research carried out showed that the best formula was with the addition of citronella oil for 15% of the duration of the fragrance of the preparation body mist is in formula 3 because the fragrance lasts longer and the amount of citronella essential oil used is greater. Body mist which contains 10% citronella oil (F2) has the lowest perch power value compared to the formula 1.3, bergamot and distilled water (-). Abstrak. Repellant merupakan bahan yang memiliki kemampuan untuk melindungi manusia dari gigitan nyamuk bila disemprotkan ke permukaan kulit dan pakaian. Salah satu bahan alam yang berpotensi sebagai repellant adalah minyak atsiri serai wangi (Citronella oil) dengan kandungan senyawa utama sitronelal (24,33%), sitronelol (11,34%) dan geraniol (13,17%). Minyak atsiri serai wangi diformulasikan dalam sediaan body mist. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh formula body mist minyak atsiri serai wangi sebagai anti repellant terhadap nyamuk Aedes aegypti, untuk mengetahui lama waktu ketahanan wangi sediaan serta untuk mengetahui efektivitas sediaan sebagai repellent terhadap nyamuk Aedes aegypti, Untuk mendapatkan konsentrasi minyak atsiri serai wangi yang tepat, pada penelitian ini dibuat larutan dengan varian konsentrasi yang berbeda dari 5-15%. Hasil penelitian yang dilakukan didapatkan formula terbaik dengan penambahan minyak serai wangi sebesar 15% lama waktu ketahanan wangi sediaan body mist berada pada formula 3 karena waktu ketahanan wanginya lebih lama dan minyak atsiri serai wangi yang digunakan jumlahnya lebih banyak. Body mist yang mengandung minyak serai wangi 10% (F2) memiliki nilai daya hinggap paling sedikit dibandingkan dengan formula 1,3,bergamot dan aquadest (-).
Formulasi dan Uji Aktivitas Antioksidan Sabun Cair Ekstrak Etanol Ubi Jalar Ungu Ipomoea batatas (L.) Lam. Syafira Nissa Fahira; Ratih Aryani; Sani Ega Priani
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.14743

Abstract

Abstract. The formation of free radicals in the skin can cause oxidative stress which is the origin of various skin diseases. Free radicals bind to the skin and can be prevented by antioxidant compounds. Therefore, it is necessary to develop a preparation that has the potential to act as an antioxidant. This research aims to make soap containing antioxidants using ethanol extract from purple sweet potato Ipomoea batatas (L.) Lam. Testing begins by ensuring the identity, characterization, and phytochemical screening of purple sweet potatoes. Then extraction was carried out using the maceration method using 70% ethanol. The antioxidant activity of soap will be tested using the DPPH method. In this research, the best soap formula was produced which contained 5% ethanol extract of purple sweet potato and 2% vitamin C with soap evaluation that met the requirements, namely pH test, alkaline or free fatty acid test, and viscosity test. In the soap preparation formula, the IC50 value was found to be 62.03 ppm which is a category of strong antioxidant activity. Abstrak. Pembentukan radikal bebas di kulit dapat menyebabkan stres oksidatif yang menjadi asal mula berbagai penyakit kulit. Ikatan radikal bebas dengan kulit dapat dicegah oleh senyawa antioksidan. Oleh karena itu, perlu dikembangkan suatu sediaan yang berpotensi sebagai antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk membuat sabun yang mengandung antioksidan dengan menggunakan ekstrak etanol ubi jalar ungu Ipomoea batatas (L.) Lam. Pengujian diawali dengan memastikan identitas, karakterisasi, dan skrining fitokimia pada ubi jalar ungu. Kemudian dilakukan ekstraksi dengan metode maserasi menggunakan etanol 70%. Aktivitas antioksidan pada sabun akan diuji dengan menggunakan metode DPPH. Pada penelitian ini dihasilkan formula terbaik sabun yang mengandung 5% ekstrak etanol ubi jalar ungu dan 2% vitamin C dengan evaluasi sabun yang memenuhi persyaratan yaitu uji pH, uji alkali atau asam lemak bebas, dan uji viskositas. Pada formula sediaan sabun tersebut didapatkan nilai IC50 sebesar 62,03 ppm sehingga masuk kedalam kategori aktivitas antioksidan yang kuat.
Pengembangan Eksipien tablet dari Pati Termodifikasi Feni Muhaimin Febriyanti; Ratih Aryani; Bertha Rusdi
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.14913

Abstract

Abstract. Starch is a primary metabolite, namely polysaccharides derived from plants found in plant parts such as roots, stems, seeds, and fruits, this starch is composed of two molecular components, namely amylose and amylopectin. Modified starch is natural starch that has undergone advanced stages as an effort to change physical and chemical properties in a controlled manner so as to change one or more properties of the starch, so as to support the use of starch as an excipient in the pharmaceutical industry. This study was conducted to determine the potential of modified starch that can be used as an excipient in tablet preparations. The research conducted was a literature study using research articles available online. Based on the studies that have been carried out, modified starch has the potential as an excipient material in tablet making by covering fillers, crushers, and binders which is proven that modified starch can be selected as an excipient in the manufacture of tablet pharmaceutical preparations because modified starch has physicochemical properties that are more supportive than natural starch which has disadvantages if used as an excipient material in tablet preparation when used in its natural form. Abstrak. Pati merupakan metabolit primer yaitu polisakarida yang berasal dari tumbuhan yang terdapat pada bagian tumbuhan seperti pada akar, batang, biji, dan buah, pati ini tersusun dari dua komponen molekul yaitu amilosa dan amilopektin. Pati modifikasi adalah pati alami yang telah mengalami tahap lanjutan sebagai upaya perubahan sifat fisika dan kimia secara terkendali sehingga dapat merubah satu atau lebih sifat dari pati tersebut, sehingga dapat menunjang penggunaan pati sebagai bahan eksipien pada industri farmasi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui potensi pati termodifikasi yang dapat digunakan sebagai bahan eksipien pada sediaan tablet. Penelitian yang dilakukan adalah studi literatur dengan menggunakan artikel penelitian yang tersedia secara online. Berdasarkan kajian yang telah dilakukan, pati termodifikasi mempunyai potensi sebagai bahan eksipien pada pembuatan tablet dengan meliputi pengisi, penghancur, dan pengikat yang dibuktikan bahwa pati termodifikasi dapat dipilih sebagai eksipien dalam pembuatan sediaan farmasi tablet karena pati termodifikasi memiliki sifat fisikokimia yang lebih menunjang dibandingkan dengan pati alami yang memiliki kekurangan jika dijadikan sebagai bahan eksipien pada pembuatan sediaan tablet apabila dipakai dalam bentuk alaminya.
Glimepiride sebagai Antidiabetika Oral pada Diabetes Melitus Tipe 2 Dwi Oktariani; Fitrianti Darusman; Ratih Aryani
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v4i2.14952

Abstract

Abstract. Diabetes mellitus is a non-infectious disease with a high prevalence in the world. It has become a growing global problem. The International Diabetes Federation estimates the holistic prevalence of diabetes mellitus to be 540 million in 2021, increasing to 783 million in 2045. So far there is currently no cure for diabetes, but pharmacological therapy may be required to maintain blood glucose levels as close to normal as possible and to delay the development of diabetes-related health problems. Glimepiride is used as an oral antihyperglycemic agent, which is effective and well tolerated in the treatment of type 2 diabetes. This study aims to determine the physicochemical properties and mechanism of glimepiride in reducing blood glucose levels and to determine the advantages of glimepiride from other antidiabes. Glimepirid is an active pharmaceutical substance with the characteristics of a white to almost white powder that is practically insoluble in water, has two polymorphic forms, namely forms I and II. Glimepiride lowers blood sugar levels by binding to sulfonylurea receptors (SUR) ATP-sensitive potassium channels on pancreatic β-cells. Glimepiride lowers blood sugar levels well at low doses, has a fast onset of action, and the side effect of hypoglycemia is lower than other insulin secretagogues. Abstrak. Diabetes melitus merupakan salah satu penyakit tidak menular dengan pravelensi yang tinggi di dunia. Penyakit ini telah menjadi masalah global yang terus berkembang. Federasi Diabetes Internasional memperkirakan prevalensi diabetes melitus secara holistik merupakan 540 juta di tahun 2021, dan meningkat menjadi 783 juta di tahun 2045. Sejauh ini belum ada obat untuk diabetes, tetapi terapi farmakologis mungkin diperlukan untuk mempertahankan kadar glukosa darah sedekat mungkin dengan normal dan untuk menunda perkembangan masalah kesehatan terkait diabetes. Glimepiride digunakan sebagai agen antihiperglikemik oral, yang efektif dan dapat ditoleransi dengan baik dalam pengobatan diabetes tipe 2. Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui sifat fisikokimia dan mekanisme glimepirid dalam menurunkan kadar glukosa darah serta mengetahui kelebihan glimepirid dari antidiabes lainnya. Glimepirid merupakan zat aktif farmasi dengan pemerian serbuk putih sampai hampir putih yang praktis tidak larut dalam air, memiliki dua bentuk polimorf, yaitu bentuk I dan II. Glimepirid menurunkan kadar gula darah dengan berikatan dengan reseptor sulfonilurea (SUR) saluran kalium sensitif ATP pada sel β pankreas. Glimepirid menurunkan kadar gula darah dengan baik pada dosis rendah, memiliki onset kerja yang cepat, serta efek samping hipoglikemia yang lebih rendah dari secretagog insulin lainnya.