Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

Sediaan Serum Mikroemulsi dan Aplikasinya sebagai Antioksidan Kulit Shannie Megaliane; Ratih Aryani; Fitrianti Darusman
Jurnal Riset Farmasi Volume 4, No. 1, Juli 2024, Jurnal Riset Farmasi (JRF)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrf.v4i1.3756

Abstract

Abstract. The main problem with the skin, especially facial skin, which tends to be uncovered and is directly exposed to free radicals, which can harm the skin, such as UV rays, causing dry skin, aging and dark spots to appear on the skin. Therefore, antioxidant preparations are needed to reduce these free radicals. Microemulsion serum is a cosmetic preparation that contains high concentrations ands effective in treating skin problems with a clear and thermodynamically stable appearance. Based on this phenomenon, the problems in this study are formulated as follows: What is the rate of penetration of microemulsion preparations on the skin? What is the antioxidant activity of microemulsion preparations? Researchers use the literature study method, by searching for literature in the form of journals using online media such as Google Scholar, Pubmed, and other journal sites with the technique of collecting various scientific literature both primary and secondary. The results of this study were antioxidant compounds in microemulsion serum preparations that had a better penetration rate than non-microemulsion preparations and the antioxidant activity of microemulsion preparations was stronger than without microemulsion due to modification of the particle size to be smaller. Abstrak. Permasalahan utama pada kulit terutama pada kulit wajah yang cenderung tidak tertutupi dan langsung terpapar faktor radikal bebas yang dapat membahayakan kulit seperti sinar UV sehingga menimbulkan kulit kering, penuaan dan muncul bintik-bintik hitam pada kulit. Oleh karena itu, diperlukan sediaan antioksidan untuk meredam radikal bebas tersebut. Serum mikroemulsi merupakan sediaan kosmetika yang mengandung zat aktif  dan efektif dalam mengatasi permasalahan kulit dengan tampilan yang jernih dan stabil secara termodinamika. Berdasarkan fenomena tersebut, maka permasalahan dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: Bagaimana laju penetrasi sediaan mikroemulsi pada kulit? Bagaimana aktivitas antioksidan pada sediaan mikroemulsi? Peneliti menggunakan metode studi pustaka, dengan mencari literatur berupa jurnal menggunakan media online seperti Google Scholar, Pubmed, dan situs jurnal lainnya dengan Teknik pengumpulan berbagai literatur ilmiah baik primer maupun sekunder. Hasil dari penelitian ini adalah senyawa antioksidan dalam sediaan serum mikroemulsi memiliki tingkat laju penetrasi yang lebih baik dibandingkan sediaan tanpa mikroemulsi dan aktivitas antioksidan yang dimiliki sediaan mikroemulsi lebih kuat dibandingkan tanpa mikroemulsi akibat adanya modifikasi ukuran partikel menjadi lebih kecil.
Potensi Senyawa Flavonoid sebagai Pengobatan Luka Safira Qamarani; Ratih Aryani
Jurnal Riset Farmasi Volume 3, No. 2, Desember 2023, Jurnal Riset Farmasi (JRF)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrf.v3i2.3113

Abstract

Abstract. Wound is a condition where biological tissue is damaged so that it can cause effects in the form of bleeding, cellular and anatomical damage to tissue function and can cause bacterial contamination. Somebody can treat wounds on the body with synthetic drugs and natural ingredients. Natural materials that can be used contain flavonoid compounds, one of plant’s secondary metabolites. This study aimed was to determine the potential of flavonoid compounds as a wound treatment. This research was conducted using the Systematic Literature Review method. The results showed that flavonoid compounds can be used as wound medicine due to their antioxidant, antibacterial and immunostimulatory activities. Flavonoids has a direct role in the Wnt/β-catenin, TFG-β, JNK, Nrf2/ARE and Nf- kB signaling pathways that affect wound healing. Abstrak. Luka ialah keadaan dimana jaringan biologis mengalami kerusakan sehingga dapat menimbulkan efek berupa pendarahan, kerusakan seluler maupun anatomis pada fungsi jaringan serta dapat menimbulkan kontaminasi bakteri. Luka pada tubuh dapat diatasi dengan obat sintesis atau bahan alam. Bahan alam yang bisa digunakan yaitu bahan dengan kandungan senyawa flavonoid yang merupakan salah satu metabolit tumbuhan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi flavonoid sebagai pengobatan luka. Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode Systematic Literature Review. Hasil penelitian menujukkan bahwa senyawa flavonoid dapat digunakan sebagai obat luka karena adanya aktivitas antioksidan, antibakteri dan imunostimulator. Flavonoid berperan langsung dalam jalur pensinyalan Wnt/ -catenin, TFG- , JNK, Nrf2/ARE dan Nf-Kb yang mempengaruhi penyembuhan luka.
Tinjauan Farmakologi Batang dan Daun Sembung (Blumea balsamifera L.) sebagai Antidiabetes 10060321017, Tarisa Perolin; Umi Yuniarni; Ratih Aryani
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 5 No. 2 (2025): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v5i2.18931

Abstract

Abstract. Diabetes melitus (DM) is a degenerative disease associated with disturbances in carbohydrate, fat, and protein metabolism, characterized by hyperglycemia due to decreased insulin secretion and sensitivity, which can lead to various complications. Natural ingredients that have been proven to have antidiabetic activity and can be used as medicinal plants are Blumea balsamifera L. This study aims to examine the pharmacological activity of the stems and leaves of sembung as an antidiabetic. The method used is a systematic review of systematic literature conducted by searching for articles in the last 10 years using the PubMed and Science Direct databases. Then the articles were filtered using Mendeley. There are a total of 5 articles discussing the pharmacological activity of the stems and leaves of sembung as an antidiabetic that meet the inclusion and exclusion criteria. The results of the literature study of the five articles discuss the activity of the stems and sembung with the mechanism of inhibiting the alpha amylase enzyme, the glucosidase enzyme, and reducing blood glucose levels in test animals that have been induced by Streptozocin and Alloxan.Abstrak. Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit degeneratif yang disertai gangguan metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein, ditandai dengan hiperglikemia akibat menurunnya sekresi dan sensitivitas insulin, yang dapat menimbulkan berbagai komplikasi. Bahan alam yang telah terbukti memiliki aktivitas antidiabetik dan dapat digunakan sebagai tanaman obat adalah Blumea balsamifera L. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah aktivitas farmakologi batang dan daun sembung sebagai antidiabetes. Metode yang digunakan yaitu kajian sistematik literatur sistematik yang dilakukan dengan pencarian artikel dalam 10 tahun terakhir menggunakan database PubMed dan Science Direct. Kemudian dilakukan penyaringan artikel menggunakan Mendeley. Terdapat total 5 artikel yang membahas mengenai aktivitas farmakologi batang dan daun sembung sebagai antidiabetes yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi. Hasil studi literatur dari ke lima artikel membahas mengenai aktivitas batang dan sembung dengan mekanisme penghambatan enzim alfa amilase, enzim glukosidase, dan menurunkan kadar glukosa darah hewan uji yang telah di induksi Streptozocin dan Aloksan.
Karakterisasi Kandungan dan Uji Aktivitas Antijamur Minyak Kulit Kayu Manis (Cinnamomum Burmanii) Terhadap Candida albicans Annisa Khansa Pratiwi; Sani Ega Priani; Ratih Aryani
Jurnal Riset Farmasi Volume 5, No. 1, Juli 2025, Jurnal Riset Farmasi (JRF)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrf.v5i1.6937

Abstract

Abstract. Oral candidiasis is an infection of the oral mucosa caused by the fungus Candida albicans, characterized by the formation of complex biofilm lesions on the mucosal surface. One natural substance with antifungal activity is cinnamon bark (Cinnamomum burmanii), which contains cinnamaldehyde. This study aims to determine the characteristics of cinnamon bark oil and evaluate its antifungal activity against C. albicans by determining its minimum inhibitory concentration (MIC). Cinnamon oil was characterized according to the quality standards of SNI 06-3734-2006, including organoleptic testing (light yellow color and characteristic aroma), determination of specific gravity (1.030 g/mL), solubility testing in 70% ethanol (1:3), and determination of cinnamaldehyde content (62.63%). The antifungal activity of cinnamon bark oil was tested using the agar diffusion well method with test concentration variations of 0.025, 0.05, 0.1, 0.2, 0.4, and 0.8%. The antifungal activity was indicated by the presence of an inhibition zone, marked by a clear area around the well. Cinnamon bark oil produced a minimum inhibitory concentration (MIC) of 0.05%, which falls into the moderate inhibition response category. Abstrak. Kandidiasis oral adalah infeksi mukosa mulut akibat jamur Candida albicans, ditandai dengan terbentuknya lesi biofilm kompleks pada permukaan mukosa. Salah satu bahan alam yang memiliki aktivitas antijamur adalah kulit batang kayu manis (Cinnamomum burmanii), mengandung sinamaldehid. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik minyak kulit kayu manis serta mengetahui aktivitas antijamur minyak kayu manis terhadap jamur C. albicans melalui penentuan konsentrasi hambat minimum (KHM). Minyak kayu manis di karakterisasi sesuai dengan standar mutu SNI 06-3734-2006 meliputi uji organoleptis (kuning muda dan bau khas), penetapan bobot jenis (1,030 g/mL), penentuan kelarutan dalam etanol 70% (1:3), dan penentuan kadar sinamaldehid (62,63%). Uji aktivitas antijamur minyak kulit kayu manis dengan metode difusi agar cara sumuran dilakukan pada variasi konsentrasi uji sebesar 0,025; 0,05; 0,1; 0,2; 0,4; dan 0,8%. Parameter pengujian aktivitas antijamur ditunjukkan dengan adanya zona hambat yang ditandai oleh zona bening disekitar sumuran.  Minyak kulit kayu manis menghasilkan konsentrasi hambat minimum (KHM) sebesar 0,05%, yang termasuk kategori respon hambatan moderat.