Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Karakterisasi Organoleptik dan Kimia Sosis Ikan Kembung (Rastrelliger Kanagurta L.) dengan Penambahan Ampas Tahu Untuk Meningkatkan Gizi Anak: INDONESIA Jayanti Usman, Jienny; Rizkaprilisa, Windy; Murti, Paulus Damar Bayu
Journal Akademik Universitas Swiss German Vol 6. No. 1 (Aug 2024)
Publisher : Swiss German University & Perhimpunan Penggiat Pangan Fungsional dan Nutrasetikal Indonesia (P3FNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33555/jffn.v6i1.162

Abstract

Salah satu upaya pencegahan stunting pada anak adalah dengan memberikan asupan gizi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan anak seperti makanan yang mengandung protein dan kalsium. Ikan kembung (Rastrelliger kanagurta L.) tinggi protein, kalsium, dan fosfor yang dibutuhkan untuk pertumbuhan anak. Salah satu pemanfaatan ikan kembung adalah diolah menjadi sosis dengan menambahkan ampas tahu untuk meningkatkan nutrisi pada sosis. Ampas tahu masih dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan karena memiliki kandungan protein tinggi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakterisasi kimia (kadar air, abu, lemak, protein, dan kalsium) dan organoleptik (parameter warna, aroma, tekstur, rasa, dan tingkat kesukaan) sosis ikan kembung dengan penambahan ampas tahu. Desain penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dan tiga kali ulangan. Perlakuan yang digunakan adalah proporsi ikan kembung, ampas tahu, dan tepung taipoka yang meliputi F0 (45:0:20), F1 (45:5:15), F2 (45:10:10), dan F3 (45:15:5). Berdasarkan hasil analisis sensori, formula sosis terbaik adalah formula F1 dengan nilai rata-rata berdasarkan parameter warna 3.70, aroma 3.95, tekstur 3.8, rasa 3.9, dan keseluruhan 4. Hasil uji kandungan gizi formula terbaik (sosis F1) adalah kadar air 63.07%, kadar abu 2.59%, lemak 1.48%, protein 10.09%, dan kalsium 75.02 mg. Mengkonsumsi beberapa porsi sosis F1 dapat membantu memenuhi gizi balita stunting.
PANGAN FUNGSIONAL DARI TEMPE NON-KEDELAI: INDONESIA Jayanti, Jienny; Rizkaprilisa, Windy
Science Technology and Management Journal Vol. 4 No. 2 (2024): Agustus 2024
Publisher : Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Nasional Karangturi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53416/stmj.v4i2.242

Abstract

Tempeh is a functional food product which is generally made from soybeans. Until now, the need for soybeans is still largely met by imports. Therefore, it is necessary to study the potential of raw materials from non-soybeans from domestic production to replace soybeans. The aim of this review is to determine the potential of non-soybeans in processing tempeh as a functional food. Various non-soybean varieties such as jack beans, green beans, pigeon peas, lamtoro beans, red beans, peanuts, black soybeans, and saga beans, can be used as an alternative to soybeans as a raw material for making tempeh. The process for making tempeh from non-soybeans is in principle the same as the process for making tempeh from soybeans, the differences are in the length of soaking, boiling/steaming and fermentation. The potential protein content in non-soy tempeh has many benefits due to the presence of bioactive compounds. This non-soybean raw material has the potential to be developed as an alternative raw material to substitute soybeans in making tempeh..
Difficulties Experience of Halal Product Process Assistant During Halal Certification Process Rizkaprilisa, Windy; Paramastuti, Ratih; Anggraeni, Novia; Nurvita, Silvia; Hapsari, Martina Widhi; Murti, Paulus Damar Bayu
Journal of Digital Marketing and Halal Industry Vol. 6 No. 2 (2024)
Publisher : Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/jdmhi.2024.6.2.20335

Abstract

The increase in the issuance of halal certificates will continue to occur every year. Not all business actors understand the halal certification process, so a Proses Produk Halal (PPH) assistant is needed to educate and guide them. PPH assistant experience many obstacles when assisting business actors in registering the halal status of their products. This study aims to analyze the difficulties faced by PPH assistants and formulate ways to overcome these difficulties. Methods of this research use descriptive research that aims to systematically describe or explain a phenomenon that is currently occurring with factual data. The result of this research are most respondents have been PPH assistants for less than 1 year (57%). Business actors apply for halal certification for their products after the products are marketed (47%) and when they are required to be halal certified (53%). The reason business actors apply for halal certification is to follow government regulations (50%). The biggest difficulty experienced by PPH assistants is that business actors need to learn the importance of halal certification for their products (53%). They think that halal certification is a halal product without registering halal (63%). 80% of business actors do not know how to register for halal certification. PPH assistants feel that many business actors do not know how to access the “Si Halal” website (67%). These difficulties result in PPH assistants having different times in the halal certification process, namely more than 3 months (77%), 1-3 months (17%), and less than 1 month (7%).
DIFFERENCE IN POST-HARVEST PROCESSING ON COFFEE FLAVOR PREFERENCE: English Bumi, Salsabila; Kurniaditya, Viki; Rizkaprilisa, Windy; Luwidharto, Joshua
Science Technology and Management Journal Vol. 5 No. 1 (2025): Januari 2025
Publisher : Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Nasional Karangturi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53416/stmj.v5i1.332

Abstract

Coffee is one of the most popular products among consumers, mainly due to its unique flavor profile. Several factors, including plant variety, environmental conditions, and postharvest processing methods, determine this uniqueness. Post-harvest processing, which involves the transformation of coffee beans from cherries to roasted beans, significantly affects the taste, aroma, and body of the coffee. Processing methods such as the wet (full washed) and dry (natural) processes produce distinct flavor characteristics. The wet process tends to yield a clean taste with a bright acidity, while the dry process emphasizes sweetness and fruit complexity. Understanding the impact of these processing methods is essential for coffee producers and the industry to create high-quality products that align with consumer preferences.
KARAKTERISTIK HEDONIK DAN GIZI CENDOL IKAN NILA (OREOCHROMIS NILOTICUS) DENGAN PENAMBAHAN KOPI Anggraeni, Novia; Rizkaprilisa, Windy; Widhi Hapsari, Martina; Paramastuti, Ratih
Jurnal Borneo Saintek Vol 6, No 1 (2023): Jurnal Borneo Saintek
Publisher : Universitas Borneo Tarakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35334/borneo_saintek.v6i1.4200

Abstract

Cendol is one of the popular drinks in Indonesia which is made from flour with incomplete nutritional content, so it is necessary to modify the formulation of cendol by adding tilapia fish meat and coffee grounds to complement the nutritional value of cendol products. The purpose of this study was to determine the effect of the addition of coffee grounds on consumer acceptance and the nutritional value of tilapia cendol products. This study used a completely randomized design (CRD), with 4 treatments adding coffee powder 0 g, 4 g, 6 g, and 8 g. The results showed that the addition of coffee grounds had an effect on the hedonic results of tilapia cendol. The best cendol according to consumer acceptance based on hedonic code K2 results with the addition of 6 g coffee powder with a moisture content of 65.34%, ash content of 0.48%, fat content of 0.52%, protein content of 11.13%, and carbohydrate content of 23 .53%.
Edukasi Konsumsi Makanan dengan Tambahan Monosodium Glutamat (MSG) Sehat Ala Gen-Z Rizkaprilisa, Windy; Bumi, Salsabila Amalia Putri; Sari, Linda Fatika
Empowerment Vol. 7 No. 03 (2024): Empowerment
Publisher : Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/empowerment.v7i03.10880

Abstract

MSG (monosodium glutamate) merupakan peneydap rasa yang bersifat aditif yang sering ditambahkan pada produk pangan baik rumah tangga hingga industri pangan. MSG adalah garam natrium dari asam glutamat. Glutamat inilah yang memberikan rasa umami pada makanan. Banyak sekali beraneka ragam kuliner mengandung tinggi kandungan garam, gula, dan lemak, serta MSG. Keempat bahan tersebut apabila dikonsumsi berlebihan akan memberikan efek buruk bagi kesehatan, apalagi tidak diimbangi dengan konsumsi makanan yang bergizi dan aktivitas fisik. Pengetahuan tentang konsumsi makanan dengan tambahan MSG yang sehat masih sangat kurang sehingga edukasi tentang MSG yang kami lakukan sangatlah dibutuhkan oleh mereka agar mereka lebih cermat lagi dalam mengkonsumsi makanan. Kegiatan edukasi dilakukan di SMA Kalam Kudus yang bertempat di Sukoharjo yang dihadiri oleh para siswa kelas XII sebanyak 30 orang dan 1 orang guru pendamping. Edukasi diberikan oleh para dosen Program Studi Teknologi Pangan, Fakultas Pangan dan Ilmu Kesehatan, Universitas Sugeng Hartono. Kegiatan ini terbagi menjadi beberapa tahap yaitu: 1. Persiapan materi tentang  konsumsi makanan dengan tambahan MSG yang sehat ala Gen-Z; 2. Pemaparan materi meliputi pengantar bahan tambahan pangan, jenis-jenis penyedap rasa, MSG dan cara pembuatannya, macam-macam produk penyedap rasa, dan bagaimana cara cermat dalam memilih produk makanan yang sehat. Salah satu materi yang menarik perhatian mereka adalah proses pembuatan MSG karena pemateri memutarkan video sehingga mereka bisa melihat proses pembuatannya
EDUKASI TENTANG KONSUMSI PEMANIS PADA PRODUK PANGAN DI KALANGAN GEN-Z Joshua Christmas Natanael Luwidharto; Viki Hendi Kurniaditya; Salsabila Amalia Putri Bumi; Windy Rizkaprilisa; Reinata Candra Dewi
DedikasiMU : Journal of Community Service Vol. 7 No. 2 (2025): DedikasiMU Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30587/dedikasimu.v7i2.9881

Abstract

Konsumsi pemanis atau gula secara berlebihan dapat meningkatkan resiko terjadinya penyakit kardiovaskular pada generasi masa depan khususnya generasi z. Oleh karena itu, diperlukan edukasi pada generasi z mengenai konsumsi produk makanan atau minuman mengandung gula atau pemanis secara bijak. Kegiatan edukasi dilaksanakan di SMA Kristen Kalam Kudus Sukoharjo yang dihadiri 30 siswa kelas XII dan 1 orang guru. Edukasi diberikan oleh dosen Program Studi Teknologi Pangan, Universitas Sugeng Hartono. Kegiatan ini terdiri atas dua materi bahasan yaitu: materi I mengenai pendahuluan bahan tambahan pemanis pada produk pangan yaitu pengertian pemanis dan penggunaannya di industri pangan, dan anjuran konsumsi harian pemanis atau gula berdasarkan American Heart Association (AHA). Materi II membahas mengenai produk pangan mengandung pemanis yang ada di sekitar dan tips memilih produk pangan sehat ala generasi z. Pembahasan menunjukkan bahwa tingkat kesadaran kalangan generasi z akan pentingnya konsumsi pemanis atau gula sesuai anjuran tersebut masih sangat rendah. Demikian pula pada produk pangan yang ada di pasaran mengandung gula atau pemanis yang tinggi dan melebihi ambang batas anjuran gula atau pemanis. Oleh karena itu, diperlukan tips memilih produk pangan antara lain memilih produk pangan dengan selalu memperhatikan label kemasan, memilih produk less sugar/ no sugar, dan memilih produk dengan kandungan indeks glikemik rendah dan kaya serat. Edukasi tersebut dapat menjadi langkah awal keberlanjutan kegiatan yang berkaitan dengan pola hidup sehat pada generasi z.
SOSIALISASI INOVASI PRODUK PANGAN SEHAT DAN PENERAPAN PERSONAL HYGIENE PADA SISWA SMA DI SURAKARTA Salsabila Amalia Putri Bumi; Viki Hendi Kurniaditya; Joshua Christmas Natanael Luwidharto; Windi Rizkaprilisa; Septheo Anggara Adi Priyanka
DedikasiMU : Journal of Community Service Vol. 7 No. 2 (2025): DedikasiMU Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30587/dedikasimu.v7i2.9882

Abstract

Pola hidup sehat dapat mencegah berbagai penyakit kronis yang semakin meningkat di kalangan remaja, seperti obesitas, diabetes, dan hipertensi. Edukasi mengenai konsumsi pangan sehat dan personal hygiene merupakan langkah strategis yang perlu diterapkan sejak usia sekolah. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran siswa SMA/SMK di Surakarta mengenai pentingnya pola hidup sehat melalui sosialisasi, praktik inovasi produk pangan sehat, serta edukasi personal hygiene. Salah satu inovasi yang diperkenalkan adalah produk Mie Pelangi, yaitu mie berbahan dasar tepung terigu yang ditambahkan daun kelor, buah naga, dan wortel sebagai sumber vitamin, mineral, dan antioksidan. Kegiatan terdiri dari dua bagian, yaitu pemaparan materi dan praktik pembuatan mie pelangi. Siswa sangat antusias dan memahami pentingnya gizi seimbang serta kebersihan pribadi dalam mendukung kesehatan jangka panjang. Inovasi pangan seperti Mie Pelangi tidak hanya berkontribusi terhadap peningkatan gizi remaja, tetapi juga sebagai peluang wirausaha dengan pemanfaatan bahan pangan lokal.
Difficulties Experience of Halal Product Process Assistant During Halal Certification Process Rizkaprilisa, Windy; Paramastuti, Ratih; Anggraeni, Novia; Nurvita, Silvia; Hapsari, Martina Widhi; Murti, Paulus Damar Bayu
Journal of Digital Marketing and Halal Industry Vol. 6 No. 2 (2024)
Publisher : Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/jdmhi.2024.6.2.20335

Abstract

The increase in the issuance of halal certificates will continue to occur every year. Not all business actors understand the halal certification process, so a Proses Produk Halal (PPH) assistant is needed to educate and guide them. PPH assistant experience many obstacles when assisting business actors in registering the halal status of their products. This study aims to analyze the difficulties faced by PPH assistants and formulate ways to overcome these difficulties. Methods of this research use descriptive research that aims to systematically describe or explain a phenomenon that is currently occurring with factual data. The result of this research are most respondents have been PPH assistants for less than 1 year (57%). Business actors apply for halal certification for their products after the products are marketed (47%) and when they are required to be halal certified (53%). The reason business actors apply for halal certification is to follow government regulations (50%). The biggest difficulty experienced by PPH assistants is that business actors need to learn the importance of halal certification for their products (53%). They think that halal certification is a halal product without registering halal (63%). 80% of business actors do not know how to register for halal certification. PPH assistants feel that many business actors do not know how to access the “Si Halal” website (67%). These difficulties result in PPH assistants having different times in the halal certification process, namely more than 3 months (77%), 1-3 months (17%), and less than 1 month (7%).
Pengembangan Sistem HACCP untuk Meningkatkan Standar Keamanan Pangan di UMKM PS MAS: Studi pada Produk Abon Sapi: INDONESIA Kurniaditya, Viki; Rizkaprilisa, Windy; Luwidharto, Joshua; Bumi, Salsabila; Aristawati, Talitha
Science Technology and Management Journal Vol. 5 No. 2 (2025): Agustus 2025
Publisher : Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Nasional Karangturi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53416/stmj.v5i2.406

Abstract

Keamanan pangan merupakan aspek penting dalam industri pangan, khususnya pada produk berbasis daging seperti abon sapi yang rentan terhadap kontaminasi biologis, kimia, dan fisik. Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) pada proses produksi abon sapi di UMKM PS MAS, Surakarta, guna memastikan keamanan pangan dan meningkatkan kualitas produk. Metode penelitian mencakup wawancara, observasi langsung, studi pustaka, dan dokumentasi untuk mengidentifikasi potensi bahaya serta menentukan titik kendali kritis (Critical Control Points/CCPs). Potensi bahaya terjadi pada tahap perebusan, penggilingan, pengeringan, dan pengemasan. Perebusan menjadi CCP untuk eliminasi mikroorganisme patogen Salmonella dan E. coli, sedangkan penggilingan dan pengeringan mengurangi kadar air produk selama penyimpanan. Implementasi HACCP dapat mengurangi kontaminasi, memperpanjang masa simpan, dan menjaga kualitas organoleptik produk. Penelitian ini memberikan panduan bagi UMKM untuk menerapkan HACCP secara sistematis, mendukung peningkatan daya saing produk lokal di pasar domestik maupun internasional, serta memenuhi standar keamanan pangan sesuai regulasi.