I NYOMAN ADI SURATMA
Laboratorium Parasitologi Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana, Kampus Jln. P.B. Sudirman Denpasar, Bali

Published : 27 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Prevalensi Parasit Cacing Saluran Pencernaan pada Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) di Pulau Nusa Penida, Klungkung, Bali Murdayasa, I Wayan Gde; Wandia, I Nengah; Suratma, Nyoman Adi
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (6) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.672 KB)

Abstract

Penyakit parasitik merupakan penyakit infeksi yang umum terjadi pada satwa primata, baik ektoparasit maupun endoparasit yang dapat mengancam menurunnya populasi primata di alam bebas. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang prevalensi parasit cacing pada monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) di Pulau Nusa Penida, Klungkung, Bali. Sebanyak 50 sampel feses dikoleksi dari Pura Puncak Mundidan Pura Goa Giri Putri masing-masing sebanyak 15 sampel, 10 sampel di Pura Puser Sahab, dan 10 sampel di Pura Paluang secara acak dan diawetkan dengan menggunakan 2% Kalium Bikromat (K2Cr2O7). Sampel feses selanjutnya diperiksa di Laboratorium Parasitologi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana, dengan menerapkan metode apung untuk mengetahui keberadaan telur-telur parasit cacing. Data yang diperoleh ditabulasikan dan selanjutnya dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian ditemukan prevalensi parasit cacing monyet ekor panjang di Pulau Nusa Penida sebesar 52% dengan prevalensi parasit Strongyloides sp. sebesar 48% dan Ancylostoma sp. sebesar 38%. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa prevalensi parasit cacing pada monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) di Pulau Nusa Penida, Bali tergolong tinggi.
Prevalensi dan Faktor Risiko Infeksi Cacing Tipe Strongyl pada Babi di Wilayah Dataran Rendah Provinsi Bali Mariyana, Lilik Dwi; Dwinata, I Made; Suratma, Nyoman Adi
Indonesia Medicus Veterinus Vol 9 (6) 2020
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2020.9.6.949

Abstract

Infeksi parasit cacing tipe Strongyl umum menginfeksi ternak babi sehingga dapat menyebabkan gangguan kesehatan, yang berdampak terjadinya penurunan produksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi dan faktor risiko infeksi cacing tipe Strongyl pada babi yang dipelihara di wilayah dataran rendah Provinsi Bali. Sampel penelitian feses babi yang berjumlah 245 sampel yang diambil dari wilayah dataran rendah basah (125 sampel) dan dataran rendah kering (120 sampel). Sampel feses diperiksa dengan metode konsentrasi pengapungan menggunakan larutan NaCl jenuh. Hasil penelitian didapatkan prevalensi infeksi cacing tipe Strongyl pada babi di dataran rendah Provinsi Bali sebesar 70,2% yang berasal dari wilayah dataran rendah basah (62,4%) dan wilayah dataran rendah kering (78,3%). Faktor risiko kebersihan kandang, kepadatan kandang dan wilayah berhubungan dengan prevalensi infeksi cacing tipe Strongyl pada babi, sedangkan faktor jenis kelamin, umur dan pengobatan tidak berhubungan dengan prevalensi infeksi cacing tipe Strongyl.
Prevalensi Infeksi Strongyloides sp. pada Sapi Bali di Mengwi Badung dan Baturiti Tabanan, Provinsi Bali Suastini, Ni Ketut; Apsari, Ida Ayu Pasti; Suratma, Nyoman Adi
Indonesia Medicus Veterinus Vol 10 (2) 2021
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2021.10.2.170

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi infeksi Strongyloides sp. pada sapi bali di dataran rendah basah (Kecamatan Mengwi Badung) dan dataran tinggi basah (Kecamatan Baturiti Tabanan) Provinsi Bali. Jumlah sampel yang diteliti sebanyak 300 sampel, 150 berasal dari dataran rendah basah dan 150 berasal dari dataran tinggi basah. Sampel diperiksa dengan metode pengapungan menggunakan larutan gula jenuh sebagai larutan pengapung. Hasil penelitian dianalisis secara deskriptif menunjukkan prevalensi infeksi Strongyloides sp. pada sapi bali di Provinsi Bali sebesar 5% (15/300) yang berasal dari dataran rendah basah 2,7% (4/150) dan tinggi basah 7,3 % (11/150). Hasil analisis dengan uji chi-square, menunjukkan umur berhubungan dengan prevalensi infeksi Strongyloides sp. sedangkan jenis kelamin dan ketinggian wilayah tidak berhubungan dengan prevalensi infeksi Strongyloides sp.
Prevalensi dan Faktor Risiko Infeksi Cacing Ascaris suum pada Babi di Dataran Rendah Provinsi Bali Wiweka, Ade Hary; Dwinata, I Made; Suratma, I Nyoman Adi
Indonesia Medicus Veterinus Vol 9 (6) 2020
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2020.9.6.940

Abstract

Cacing Ascaris suum merupakan parasit saluran cerna pada babi yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan berupa kekurusan, diare, penurunan produktivitas ternak dan kerugian ekonomi yang besar. Cacing A. suum bersifat zoonosis. Tujuan penenelitian ini adalah untuk mengetahui prevalensi dan faktor risiko infeksi cacing A. suum pada babi di dataran rendah Provinsi Bali. Jumlah sampel yang digunakan sebanyak 200 sampel feses babi segar yang diambil dari wilayah dataran rendah basah dan rendah kering. Sampel feses diperiksa dengan metode konsentrasi pengapungan menggunakan larutan garam dapur (NaCl) jenuh sebagai larutan pengapung. Hasil penelitian menunjukan prevalensi infeksi cacing A. suum pada babi sebesar 18% yang berasal dari wilayah dataran rendah basah 30% (30/100) dan wilayah dataran rendah kering 6% (6/100). Hasil analisis statistika menunjukkan bahwa faktor risiko umur, kepadatan kandang dan wilayah berpengaruh nyata terhadap prevalensi infeksi cacing A. suum pada babi, sedangkan jenis kelamin, kebersihan kandang dan pengobatan tidak berpengaruh nyata.
Prevalensi dan Faktor Risiko Infeksi Koksidia pada Babi di Wilayah Dataran Tinggi di Provinsi Bali Pratiwi, Dede Ayu; Suratma, I Nyoman Adi; Dwinata, I Made
Indonesia Medicus Veterinus Vol 9 (6) 2020
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2020.9.6.900

Abstract

Koksidia merupakan protozoa gastrointestinal yang umum menginfeksi babi. Infeksi dari koksidia disebut koksidiosis. Dampak yang ditimbulkan dari penyakit ini bagi ternak babi muda di antaranya diare dengan feses encer berwarna kuning, kekurusan, pertumbuhan lambat bahkan pada kasus berat dapat mengakibatkan kematian. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui prevalensi infeksi dan faktor risiko infeksi koksidia pada babi di wilayah dataran tinggi Provinsi Bali. Sampel penelitian yang digunakan adalah 200 sampel feses babi dan diperiksa dengan metode apung menggunakan larutan NaCl jenuh. Identifikasi ookista koksidia berdasarkan morfologi. Data yang diperoleh disajikan secara deskriptif dan faktor risiko berupa jenis kelamin, umur, manajemen pemeliharaan dan wilayah dianalisis dengan uji Chi-square. Hasil penelitian didapatkan bahwa prevalensi infeksi koksidia pada babi di wilayah dataran tinggi di Bali sebesar 46,5% yang terdiri dari wilayah dataran tinggi basah di Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan adalah (49,0%) dan wilayah dataran tinggi kering di Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem (44,0%). Faktor risiko jenis kelamin, umur, manajemen pemeliharaan dan wilayah tidak berhubungan dengan prevalensi infeksi koksidia.
Jenis Cacing dan Prevalensi Infeksi Trematoda pada Gajah Sumatera di Tempat Penangkaran Desa Bakas dan Desa Taro, Bali Wisana, Kadek Adya Arsa; Oka, Ida Bagus Made; Suratma, Nyoman Adi
Indonesia Medicus Veterinus Vol 10 (6) 2021
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2021.10.6.908

Abstract

Gajah Sumatera merupakan satwa asli dari Pulau Sumatera yang keberadaan populasinya terancam punah. Gajah Sumatera rentan terhadap penyakit parasit seperti cacing, yang dapat hidup sebagai parasit pada hewan dan manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis cacing Trematoda pada gajah sumatera di Bakas Elephant Tour dan Taro Elephant Safari Park, Bali. Sampel feses yang digunakan sebanyak 39 yang terdiri dari 8 sampel dari Bakas Elephant Tour dan 31 sampel dari Taro Elephant Safari Park. Identifikasi telur cacing dilakukan dengan pemeriksaan feses menggunakan metode Parfitt and Banks dengan modifikasi. Jenis cacing yang ditemukan berdasarkan hasil pemeriksaan feses adalah cacing kelas Trematoda yaitu Paramphistomum sp. dan Fasciola sp. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi infeksi Trematoda pada gajah sumatera di Bakas Elephant Tour dan Taro Elephant Safari Park adalah 17,94%. Berdasarkan lokasinya, prevalensi di Bakas adalah 0% dan di Taro Elephant Safari Park adalah 22,58%.
Ekstrak Daun Kelor (Moringa oleifera) sebagai Pengendali Infestasi Argulus sp pada Ikan Komet (Carassius auratus auratus) Farika E. Y; N. A. Suratma; I. M. Damriyasa Damriyasa
Veterinary Science and Medicine Journal Vol 2 No 1 (2014)
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (364.273 KB)

Abstract

The purpose of this study was to examine the effect of the extract of Moringa oleifera leave on Argulus sp infestation in comet fish, and determine an optimal concentration and time. Moringa oleifera leave was extracted using ethanol 96%. In total, 25 comet fishes (Carassius auratus auratus) were used in this research, in which infested by one to five individuals of Argulus sp per fish. This research used pretest and posttest design with four treatments of extract concentration of Moringa oleifera leave, namely, TI 25 mg/l, TII 37.5 mg/l, TIII 50 mg/l, TIV 62.5 mg/l, and T0 without extract as a control. Each treatment was imposed on five comet fishes. The parameter of this study was the amaount of Argulus sp released from the body of the fish. The results showed that the extract of Moringa oleifera leave had an effect on ectoparasite on comet fish. There was an indication that the more concentration of the extract of Moringa oleifera leave, the more Argulus sp released, although statistically, it was not significant (P>0.05). The optimal time of giving the extract of Moringa oleifera leave to Argulus sp infestation was 12-h.
Seroprevalensi Toxoplasma gondii pada Kambing dan Bioassay Patogenitasnya pada Kucing Ni Made Yunik Novita Dewi Dewi; I Made Damriyasa Damriyasa; Nyoman Adi Suratma
Veterinary Science and Medicine Journal Vol 1 No 2 (2013)
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (123.471 KB)

Abstract

The study aimed to determine seroprevalence of Toxoplasmosis in goats sloughtered at Kampung Jawa, Denpasar, Bali and to evaluate their pathogenicities through bioassay in cats.One hundred serums and meats of goats were collected. Anti-Toxoplasma gondii antibody was determined using Indirect Haemaglutination (IHA) test. The pathogenicity bioassay of Toxoplasma gondii was carried out through inoculating the meats of goats which had seropositive of Toxoplasma gondii to the cats. The pathogenicity was evaluated using the intensity of oocyte sheding from the cats. The result showed that the seroprevalence of Toxoplasmosis was 46%. There was not significant difference between pathogenicity of Toxoplasma gondii in cat inoculated with meat of goat which had a high and low titer of antibody against Toxoplasma gondii.
Potensi Serbuk Daun Kelor (Moringa oleifera) Sebagai Anthelmintik Terhadap Infeksi Ascaris suum dan Feed Supplement pada Babi Muhammad Ulqiya Syukron; I Made Damriyasa; Nyoman Adi Suratma
Veterinary Science and Medicine Journal Vol 2 No 2 (2014)
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (197.862 KB)

Abstract

Pig ascariasis is an intestinal parasitic disease caused by Ascaris suum. The economic losses in pig ascariasis are caused by a bad feed conversion ratio (FCR) and rejection of some organs after animal slaughtering. An anthelmintic utilization and farm management improvement are the common prevention action, however, recently the utilization of herbs as an athelmintic has been developed, one of them is Moringa oleifera leaves. Moringa oleifera leaves are also a potential for a sources of animal food because of their high nutrients. This intervention research aimed to examine the anthelmintic effect of Moringa oleifera leaves and its potency as feed supplement. Experimental design used was ccompletely randomized design split time (CRD Split Time) with six treatments namely Moringa oleifera 5% and an infection of infective larvae of A. suum (1), Moringa oleifera 5% (2), positive control (3), Moringa oleifera 10% (4), Moringa oleifera 10% and infection of infective larvae of A. suum (5), and no treatment as negative control (6). Each treatment was imposed on four female landrace piglets aged 8 weeks and weighed around 11 kg. The results showed that Moringa oleifera 5% and 10% of the feed could inhibit the egg production of A.suum and had a significant effect (P
Seroprevalensi dan Isolasi Toxoplasma gondii pada Ayam Kampung di Bali (SEROPREVALENCE AND ISOLATION OF TOXOPLASMA GONDII AMONG FREE-RANGE CHICKENS IN BALI) I Made Dwinata; Ida Bagus Made Oka; Nyoman Adi Suratma; I Made Damriyasa
Jurnal Veteriner Vol 13 No 4 (2012)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (124.676 KB)

Abstract

The prevalence of Toxoplasma gondii in free range chickens is a good indicator of the prevalence of T.gondii oocysts in the environment and the meat of chicken is considered one of the sources of the humaninfection. A study to determine the seroprevalence of T.gondii in free ranging chickens in eight regency inBali have been undertaken. More over, attempt to isolate T gondii was also performed from the copropositivesample. Seroprevalence was detected using modified agglutination test (MAT) and isolation of T.gondiiwere performed from organs (heart and brain) using pepsin-HCl digestion method. Further the pathogenicityof the isolate was determined by bioassay using mice. The result showed that the seroprevalence was24.8% (31 out of 125 chickens examined). T.gondii was found in 17 of the 31 seropositive chickens (55%)more over all isolates were a vitulent to the mice.