Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search
Journal : Bandung Conference Series: Urban

Konstruksi Sosial Ibn Al-Farabi dalam Masyarakat di Permukiman Magersari Keraton Kasepuhan dan Kanoman Cirebon Kintan Ayu Sevila; Ina Helena Agustina
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (177.733 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3289

Abstract

Abstract. The increase in population which is in line with the increasing need for housing has made the Magersari of Kasepuhan and Kanoman Palaces no longer only intended for courtiers. As a heritage area that is a witness to the history and culture of the Palace from time to time, the Magersari residential social condition in Kasepuhan and Kanoman palaces must have changed along with the entry of immigrants who were neither courtiers nor relatives of the palace. Given the changes that happen to social conditions will affect the meaning formed in social space, the social construction of the Magersari settlements, Keraton Kasepuhan, and Kanoman is a highlight to study. Usage of Ibn Al-Farabi's theory is based on Magersari's background as a heritage area of ​​the Cirebon Sultanate constitutes an Islamic kingdom and also Al-Farabi is an Islamic philosopher and thinker. After a series of observations and in-depth interviews, the author tries to interpret the phenomena caught by using the social construction formulation of Ibn Al-Farabi's theory. Based on empirical findings, it was discovered that the Magersari settlers have positive, optimistic, and open thoughts. Fellow settlers always help each other and have a sense of kinship but still provide boundaries so that they are not too excessive. The settler community still adheres to Islamic values ​​and culture. However, these values ​​began to fade among young people in line with their reluctance to participate in routine agendas in the Magersari settlement, as well as traditional and cultural events held by the Keraton. Abstrak. Peningkatan populalsi yang sejalan dengan peningkatan kebutuhan akan tempat tinggal membuat Magersari Keraton Kasepuhan dan Kanoman tak lagi hanya diperuntukan bagi para abdi dalem. Sebagai kawasan heritage yang merupakan saksi dari sejarah dan kebudayaan Keraton dari masa ke masa, keadaan sosial permukiman Magersari Keraton Kasepuhan dan Kanoman pasti mengalami perubahan seiring dengan masuknya para pendatang yang bukan merupakan abdi dalem maupun kerabat Keraton. Mengingat perubahan yang terjadi pada keadaan sosial akan mempengaruhi pemaknaan yang terbentuk terhadap ruang sosial, maka konstruksi sosial dari permukiman Magersari Keraton Kasepuhan dan Kanoman menjadi hal yang penting untuk diteliti. Penggunaan teori dari Ibn Al-Farabi didasari oleh latar belakang Magersari sebagai kawasan heritage dari Kesultanan Cirebon yang merupakan kerajaan Islam dan Al-Farabi yang merupakan filsuf serta pemikir Islam. Setelah serangkaian observasi dan wawancara mendalam yang dilakukan, penulis berusaha menginterpretasi fenomena yang tertangkap dengan menggunakan rumusan konstruksi sosial dari teori Ibn Al-Farabi. Berdasarkan temuan empiris, didapatkan hasil bahwa masyarakat pemukim Magersari memiliki pemikiran yang positif, optimis dan terbuka. Antar sesama pemukim senantiasa saling membantu dan memiliki rasa kekeluargaan tapi tetap memberi batasan agar tidak terlalu berlebihan. Masyarakat pemukim masih berpegang pada nilai-nilai Islam dan kebudayaan. Namun nilai-nilai ini mulai luntur pada kalangan muda sejalan dengan keengganan mereka untuk berpartisipasi dalam agenda-agenda rutin di dalam permukiman Magersari, maupun agenda-agenda adat-budaya yang diadakan oleh Keraton.
Konstruksi Lingkungan Seyyed Hossein Nasr: Studi Kasus: Permukiman Magersari Keraton Kasepuhan dan Keraton Kanoman, Cirebon Chairunisa Matondang; Ina Helena Agustina
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (101.834 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3358

Abstract

Abstract. Kasepuahan Village and Keraton Kanoman are located in Lemahwungkuk District, Cirebon City. Keraton Kasepuhan was established in 1430 and Keraton Kanoman was established in 1678, Keraton Kanoman has the main purpose of spreading Islam in the land of Sunda. In Seyyed Hossein Nasr's Environmental Theology there is a relationship between God, Man and Nature that must be maintained for the harmony of human life. So the purpose of this study is to construct Seyyed Hossein Nasr's Environmental Theology and validate how things are going in the Magersari settlement. However, over time, magersari settlements have changed from the shape of buildings to population density which causes settlements to look dense, besides that because of the increasing number of people, the residential environment becomes less maintained and less clean. However, the community still carries out activities such as devotional work, this is done by residents to maintain the cleanliness of their residential environment and they are aware of the importance of maintaining personal and surrounding health. Abstrak. Kelurahan Kasepuahan dan Keraton Kanoman terletak di Kecamatan Lemahwungkuk Kota Cirebon. Keraton Kasepuhan berdiri pada Tahun 1430 dan Keraton Kanoman berdiri pada Tahun 1678, Keraton Kanoman memiliki tujuan utama yaitu untuk menyebarkan agama islam di tanah Sunda. Dalam Teologi Lingkungan Seyyed Hossein Nasr ada nya hubungan Tuhan, Manusia dan Alam yang harus dijaga untuk keharmonisan kehidupan manusia. Maka tujuan dari penelitian ini adalah mengkonstruksikan Teologi Lingkungan Seyyed Hossein Nasr dan memvalidasi bagaimana keadaan di permukiman Magersari. Namun seiring berjalannya waktu, permukiman Magersari mengalami perubahan dari bentuk bangunan hingga kepadatan penduduk yang menyebabkan permukiman terlihat padat, selain itu karena semakin banyak nya masyarakat maka lingkungan permukiman menjadi kurang terjaga dan kurang bersih. Namun masyarakat masih melakukan kegiatan seperti kerja bakti, hal ini dilakukan warga untuk tetap menjaga kebersihan lingkungan permukiman mereka dan mereka sadar akan pentingnya menjaga kesehatan pribadi dan sekitar.
Perspektif Pengunjung terhadap Tradisi Budaya Keraton Kasepuhan dan Keraton Kanoman Cirebon Muhammad Hendra Maulana; Ina Helena Agustina
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (179.208 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3370

Abstract

Abstract. The visitor's perspective on the cultural traditions found in the Kasepuhan Palace and Kanoman Palace is a step to find out the potential that can attract visitors. The historical evidence left in the two palaces is still preserved, it can be seen from the shape of the building which is still the same, and some aspects of culture that are still carried out today. The cultural traditions found in the Kasepuhan Palace and Kanoman Palace are intangible cultural tours that have been registered in the intangible cultural heritage of West Java, so they must be preserved and maintained. The methodology used in this research is exploratory. This method is used with the aim of mapping the object of study in depth. In this study, the author aims to find out what attracts visitors to the cultural traditions found in the Kasepuhan Palace and Kanoman Palace, so that they can get a potential that can increase public enthusiasm for participating in a series of activities. The result of the analysis that is expected by the author is to find out a potential that can be the main attraction of the end in following the ritual traditions in the Kasepuhan Palace and Kanoman Palace. Abstrak. Perspektif pengunjung terhadap tradisi budaya yang terdapat di Keraton Kasepuhan dan Keraton Kanoman, menjadi suatu langkah untuk mengetahui potensi yang dapat menarik minat pengunjung. Bukti sejarah yang ditinggalkan dikedua Keraton tersebut masih terjaga dapat dilihat dari bentuk bangunan yang masih sama, dan beberapa aspek kebudayaan yang masih dilakukan hingga sekarang. Tradisi budaya yang terdapat di Keraton Kasepuhan dan Keraton Kanoman menjadi wisata budaya takbenda yang telah terdaftar dalam warisan budaya takbenda Jawa Barat, sehingga harus dilestarikan dan dijaga. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu eksploratif. Metode ini digunakan dengan tujuan memetakan objek kajian secara mendalam. Pada penelitian ini penulis memiliki tujuan untuk mengetahui apakah yang menjadi daya tarik pengunjung terhadap tradisi budaya yang terdapat di Keraton Kasepuhan dan Keraton Kanoman, sehingga dapat mendapatkan suatu potensi yang bisa meningkatkan antusias masyarakat mengikuti rangkaian kegiatan Hasil dari analisis yang diharapkan oleh penulis adalah mengetahui suatu potensi yang dapat menjadi daya tarik utama pengujung dalam mengikuti tradisi ritual di Keraton Kasepuhan dan Keraton Kanoman.
Kajian Falsafah Aboge dalam Sistem Ruang Hunian Di Kota Cirebon Mochamad Ghiffary; Ina Helena Agustina
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.337 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3460

Abstract

Abstract. Indonesia has many ancient philosophies, one of which is in the city of Cirebon which has other important cultural sources. Cirebon has historical evidence that comes from cultural heritage that is local but intangible or intangible. In Cirebon itself, the concept of the embodiment of residential space emerged, namely in the Aboge Philosophy. The purpose of this study is to describe the Aboge philosophy in the residential space system. The approach and analysis method used in this research is to use the hermeneutic approach. In the Aboge philosophy there is a balance between humans, God, and the environment, which is shown through the elements of time, the layout of a room, the direction of the wind, and holding rituals, all of these elements are an effort to get rid of negative energy in the construction of a dwelling. The aboge philosophy that exists and develops in the city of Cirebon is intengible, but this is still maintained by some people and the Cirebon palace by means of "getok tular". Consideration of the aboge philosophy in the creation of a residential space is the location (where will the house face), time (hour, date, day, month), person (name, date of birth, what day was born, whose son), and the process of making a dwelling begins. from making the foundation to raising the temperature. Abstrak. Di Negara Indonesia memiliki banyak falsafah-falsafah kuno salah satunya berada di Kota Cirebon yang memiliki sumber kebudayaan penting lainnya. Cirebon memiliki bukti sejarah yang berasal dari warisan budaya yang sifatnya lokal namun tidak berwujud atau intangible. Di Cirebon itu sendiri muncul konsep perwujudan ruang hunian yakni di dalam Falsafah Aboge. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan Falsafah Aboge dalam sistem ruang hunian. Metode pendekatan dan analisis yang digunakan pada penelitian ini yaitu dengan menggunakan metode pendekatan hermeneutik. Dalam Falsafah Aboge terdapat keseimbangan antara manusia, tuhan, dan lingkungan itu ditunjukan melalui unsur waktu, tata letak suatu ruangan, arah mata angin, serta mengadakan ritual, semua unsur-unsur tersebut merupakan upaya untuk membuang energi negatif dalam pambangunan suatu hunian. Falsafah aboge yang berada dan berkembang di Kota Cirebon ini bersifat intengible, namun hal ini masih tetap dipertahankan oleh sebagaian masyarakat dan keraton Cirebon dengan cara “getok tular”. Pertimbangan falsafah aboge dalam penciptaan suatu ruang hunian terdapat lokasi (rumah akan menghdap kemana), waktu (Jam, Tanggal, Hari, Bulan), orang (nama, tanggal lahir, hari apa dilahirkan, bin siapa), dan proses pembuatan suatu hunian tersebut dimulai dari pembuatan pondasi hingga menaikan suhunan.
Perspektif Pengunjung terhadap Bangunan Keraton Kasepuhan dan Keraton Kanoman Cirebon Suci Dewi Rahmawati; Ina Helena Agustina
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (149.68 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3559

Abstract

Abstract. Indonesia has a lot of cultural diversity that makes Indonesia has potential in the field of cultural tourism. Cultural heritage buildings are one of the cultural attractions that are in great demand by visitors. Kasepuhan Palace and Kanoman Palace are one of the cultural heritage buildings because they have cultural historical values ​​in them. Cultural heritage buildings, especially Kanoman Palace and Kasepuhan Palace, need preservation. Visitors have an important role in the implementation of conservation, one way for visitors to preserve cultural heritage buildings is by visiting these objects. This study analyzes the perspective of visitors to the buildings of the Kasepuhan Palace and Kanoman Palace. The purpose of this study is as a reference for visitors' perspectives on cultural heritage buildings and policy recommendations. The method used in this research is a descriptive qualitative approach. The results of this study are that there is visitor interest in the object of cultural tourism attraction and the perspective of visitors to the Kasepuhan Palace and Kanoman Palace buildings that the buildings inside are still well preserved with their atmosphere and cultural historical values. Abstrak. Indonesia memiliki banyak keragaman budaya yang menjadikan Indonesia memiliki potensi dalam bidang wisata budaya. Bangunan cagar budaya merupakan salah satu objek wisata budaya yang banyak diminati para pengunjung. Keraton Kasepuhan dan Keraton Kanoman merupakan salah satu bangunan cagar budaya karena memiliki nilai sejarah budaya di dalamnya. Bangunan cagar budaya khususnya Keraton Kanoman dan Keraton Kasepuhan perlu adanya pelestarian. Pengunjung memiliki peranan penting dalam pelaksanaan pelestarian, salah satu cara pengunjung melestarikan bangunan cagar budaya dengan mengunjungi objek tersebut. Pada penelitian ini menganalisis perspektif pengunjung terhadap bangunan Keraton Kasepuhan dan Keraton Kanoman. Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai referensi perspektif pengunjung terhadap bangunan cagar budaya dan rekomendasi kebijakan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif. Hasil dari penelitian ini adalah terdapat ketertarikan pengunjung terhadap objek daya tarik wisata budaya dan perspektif pengunjung terhadap bangunan Keraton Kasepuhan dan Keraton Kanoman bahwa bangunan di dalamnya masih terjaga baik suasana dan nilai sejarah budayanya.
Identifikasi Pola Ruang Kampung Sarugo Jorong Sungai Dadok Nagari Koto Tinggi Kabupaten Limapuluh Kota Fajar Maulana; Ina Helena Agustina
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (448.108 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3683

Abstract

Abstract. Jorong Sungai Dadok is an administrative area under Nagari Koto Tinggi. In Jorong, the Dadok River consists of the division of areas based on Minangkabau customs, namely there are several hamlets with settlement centers and community activities located in Koto called Kampung Sarugo. The village is the oldest village in Koto Tinggi and consists of tribes that coexist harmoniously. So that in its territory in one koto consists of several gadang houses, that in the concept of Kampuang or the settlement of the historical gadang house is intended for one tribe, but in Kampung Sarugo there are several tribes with their rumah gadang. The purpose of this study is to identify spatial patterns and settlement patterns. The approach method used is the Exploratory approach method with the aim of identifying spatial patterns and settlements. The conclusion is basically that the concept of the Jorong Dadok River space pattern is an administrative boundary of the area in which there are four hamlet areas, namely Lake, Mudiak Dadok, Padang Jungkek and kampung Tingga surrounded by Taratak and the four hamlets are centered on Koto or what is referred to as Kampung Sarugo as the center of community activities and activities in Jorong Sungai Dadok. Sarugo village as a traditional village in it contains local knowledge and wisdom, which is seen in the matrilineal kinship system, art, traditional ceremonies and physical settlement elements in the form of rumah gadang, balai adat, rangkiang lasuang, cibuak and others. Abstrak. Jorong Sungai Dadok merupakan wilayah administrasi dibawah Nagari Koto Tinggi. Didalam Jorong Sungai Dadok terdiri atas pembagian wilayah berdasarkan adat istiadat Minangkabau yakni terdapat beberapa dusun dengan pusat permukiman dan kegiatan masyarakatnya berada di Koto yang dinamakan Kampung Sarugo. Kampung tersebut merupakan kampung tertua yang ada di Koto Tinggi dan didalamnya terdiri atas suku-suku yang hidup berdampingan secara harmonis. Sehingga dalam wilayahnya dalam satu koto terdiri atas beberapa rumah gadang, bahwa secara konsep Kampuang atau pemukiman rumah gadang sejarahnya itu diperuntukan untuk satu suku, akan tetapi di Kampung Sarugo ini terdapat beberapa suku dengan rumah gadangnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi pola ruang dan pola permukiman. Metode pendekatan yang digunakan yaitu metode pendekatan Eksploratif dengan tujuan untuk mengidentifikasi pola ruang dan permukiman. Kesimpulannya adalah Pada dasarnya bahwa konsep pola ruang Jorong Sungai Dadok merupakan suatu batasan administrasi wilayah yang didalamnya terdapat empat wilayah dusun yakni Danau, Mudiak Dadok, Padang Jungkek dan Kampung Tingga yang dikelilingi oleh Taratak dan keempat dusun tersebut berpusat pada Koto atau yang disebut sebagai Kampung Sarugo sebagai pusat aktivitas dan kegiatan masyarakat di Jorong Sungai Dadok. Kampung Sarugo sebagai kampung adat didalamnya terkandung pengetahuan dan kearifan lokal yakni terlihat dalam sistem kekerabatan matrilineal, kesenian, upacara adat dan elemen permukiman fisik yakni berupa rumah gadang, balai adat, rangkiang lasuang, cibuak dan lainya.
Kajian Falsafah Aboge dalam Sistem Ruang Hunian di Kota Cirebon Mochamad Ghiffary; Ina Helena Agustina
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (261.643 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.4003

Abstract

Abstract. Indonesia has many ancient philosophies, one of which is in the city of Cirebon which has other important cultural sources. Cirebon has historical evidence that comes from cultural heritage that is local but intangible or intangible. In Cirebon itself, the concept of the embodiment of residential space emerged, namely in the Aboge Philosophy. The purpose of this study is to describe the Aboge philosophy in the residential space system. The approach and analysis method used in this research is to use the hermeneutic approach. In the Aboge philosophy there is a balance between humans, God, and the environment, which is shown through the elements of time, the layout of a room, the direction of the wind, and holding rituals, all of these elements are an effort to get rid of negative energy in the construction of a dwelling. The aboge philosophy that exists and develops in the city of Cirebon is intengible, but this is still maintained by some people and the Cirebon palace by means of "getok tular". Consideration of the aboge philosophy in the creation of a residential space is the location (where will the house face), time (hour, date, day, month), person (name, date of birth, what day was born, whose son), and the process of making a dwelling begins. from making the foundation to raising the temperature. Abstrak. Di Negara Indonesia memiliki banyak falsafah-falsafah kuno salah satunya berada di Kota Cirebon yang memiliki sumber kebudayaan penting lainnya. Cirebon memiliki bukti sejarah yang berasal dari warisan budaya yang sifatnya lokal namun tidak berwujud atau intangible. Di Cirebon itu sendiri muncul konsep perwujudan ruang hunian yakni di dalam Falsafah Aboge. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan Falsafah Aboge dalam sistem ruang hunian. Metode pendekatan dan analisis yang digunakan pada penelitian ini yaitu dengan menggunakan metode pendekatan hermeneutik. Dalam Falsafah Aboge terdapat keseimbangan antara manusia, tuhan, dan lingkungan itu ditunjukan melalui unsur waktu, tata letak suatu ruangan, arah mata angin, serta mengadakan ritual, semua unsur-unsur tersebut merupakan upaya untuk membuang energi negatif dalam pambangunan suatu hunian. Falsafah aboge yang berada dan berkembang di Kota Cirebon ini bersifat intengible, namun hal ini masih tetap dipertahankan oleh sebagaian masyarakat dan keraton Cirebon dengan cara “getok tular”. Pertimbangan falsafah aboge dalam penciptaan suatu ruang hunian terdapat lokasi (rumah akan menghdap kemana), waktu (Jam, Tanggal, Hari, Bulan), orang (nama, tanggal lahir, hari apa dilahirkan, bin siapa), dan proses pembuatan suatu hunian tersebut dimulai dari pembuatan pondasi hingga menaikan suhunan.
Perspektif Wisatawan Terhadap Komponen Pariwisata Situs Astana Gede, Kabupaten Ciamis Dika Saputra; Ina Helena Agustina; Riswandha Risang Aji
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i2.8578

Abstract

Abstract. Astana Gede Site is a historical area that is part of the heritage of the Sunda-Galuh Kingdom. It has diverse tourism potentials that are not limited to the historical aspect alone. Despite its great potential, the number of tourists visiting the Astana Gede Site is still relatively low compared to the surrounding tourist attractions. This research aims to identify tourists' perspectives on the tourism components of the Astana Gede Site in order to understand tourists' views and provide evaluations for the development of the Astana Gede Site. The research method used is a qualitative and quantitative descriptive research method. Data collection was done through a survey using questionnaires distributed to tourists visiting the Astana Gede Site. The research findings indicate that cultural, pilgrimage, and natural tourist attractions have received good ratings from tourists. The attractions and accessibility of the tourist attractions are considered adequate by tourists, indicating that this destination has attractive features and can be relatively easily reached. However, there are some amenity facilities that are considered inadequate by tourists. The Astana Gede Site lacks an adequate number of toilets, cleanliness of the prayer room, seating for tourists, and resting places for visitors, furthermore, the reason for the low number of tourist visits is due to insufficient promotion. Abstrak. Situs Astana Gede adalah wilayah bersejarah yang merupakan bagian dari warisan Kerajaan Sunda-Galuh, memiliki beragam potensi wisata yang tidak terbatas pada aspek sejarah saja. Meskipun memiliki potensi yang besar, jumlah wisatawan yang mengunjungi Situs Astana Gede masih relatif rendah dibandingkan dengan objek wisata di sekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perspektif wisatawan terhadap komponen pariwisata Situs Astana Gede dalam rangka mengetahui padangan wisatawan dan menjadi evaluasi bagi pengembangan Situs Astana Gede. Metode penelitian yang digunakan metode penelitian deskriptif kualitatif dan juga kuantitatif. Pengambilan data dilakukan dengan survei menggunakan kuesioner yang disebarkan kepada wisatawan yang mengunjungi Situs Astana Gede. Hasil penelitian menunjukkan bahwa objek wisata budaya, ziarah, dan alam telah memperoleh penilaian yang baik dari wisatawan. Atraksi dan aksesibilitas objek wisata dinilai memadai oleh wisatawan, menunjukkan bahwa destinasi ini memiliki daya tarik yang menarik dan dapat dicapai dengan relatif mudah. Namun, terdapat beberapa fasilitas amenitas yang dinilai kurang memadai oleh wisatawan. Situs Astana Gede memiliki kekurangan pada jumlah toilet, kebersihan mushola, tempat duduk bagi wisatawan dan tempat beristirahat bagi wisatawan yang berkunjung, selain itu alasan minimnya kunjungan wisatawan dikarenakan kurangnya promosi.
Kajian Konservasi Gua Pawon Berdasarkan Kondisi Ekosistem Deden Rizki Oktaviana; Ina Helena Agustina; Riswandha Risang Aji
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i2.8749

Abstract

Abstract. Pawon Cave is a natural cave located in the Citatah karst formation area, Rajamandala and is included in the list of geological nature reserves protected by the West Java Provincial Government. Pawon Cave is evidence of the existence of the Ancient Lake Bandung. However, at this time the vulnerability of the cave ecosystem and natural beauty began to change. There is quite an alarming phenomenon where the cave area has begun to be destroyed. It can be seen in the current physical form of the cave, where there is vandalism or there are graffiti on the walls of the cave carried out by irresponsible humans, not only that limestone mining which is currently still taking place in the area is also worrying because it can erode the rocks around the area. The existence of limestone processing also increases air pollution which is getting worse because can be seen that thick black smoke continues to float into the air caused by the processing. Therefore, the purpose of this research is "to identify the internal and external condition classes of Pawon Cave, as well as conservation efforts that will be carried out based on the identification of condition classes." This research uses quantitative and qualitative approach methods. With a scoring analysis method based on the results of field observations according to applicable parameters. Therefore, the conclusion of this research is that there are two components, namely the internal condition of the cave and the external condition of the cave. overall, the internal and external conditions of Pawon Cave are included in the moderate category. There are several factors that must be improved, such as the physical aspects of the cave, the type of ornamentation and the utilization of the area which will later be carried out in the direction of conservation in the Pawon Cave area. Abstrak. Gua pawon adalah gua alami yang berada di kawasan formasi karst Citatah, Rajamandala dan termasuk kedalam daftar cagar alam geologi yang dilindungi oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Gua Pawon menjadi bukti akan keberadaan Danau Purba Bandung. Namun pada saat ini kerentanan ekosistem gua serta keindahan alam mulai mengalami perubahan. Terdapat fenomena cukup mengkhawatirkan dimana Kawasan gua sudah mulai hancur. Terlihat pada bentuk fisik gua saat ini, dimana terdapat vandalisme atau terdapat coretan – coretan pada dinding gua yang dilakukan oleh manusia yang tidak bertanggung jawab tidak hanya itu penambangan batuan kapur yang saat ini masih terjadi di kawasan tersebut juga mengkhawatirkan karena dapat mengikis batuan di sekitar kawasan tersebut. Adanya pengolahan batuan kapur juga meningkatkan polusi udara yang semakin memburuk karena terlihat asap tebal hitam yang terus menerus mengapung ke udara yang diakibatkan dari pengolahan tersebut. Maka dari itu tujuan dalam penelitian ini yaitu “mengindentifikasi kelas kondisi internal dan eksternal Gua Pawon, serta upaya konservasi yang akan dilakukan berdasarkan identifikasi kelas kondisi.” Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Dengan metode analisis skoring berdasarkan hasil dari observasi lapangan sesuai parameter yang berlaku. Maka dari itu kesimpulan dari penelitian ini terdapat dua komponen yaitu kondisi internal gua serta kondisi eksternal gua. secara keseluruhan kondisi internal dan eksternal Gua Pawon termasuk dalam kategori sedang. Dengan demikian terdapat beberapa faktor yang harus ditingkatkan, seperti aspek fisik gua, jenis ornamen dan pemanfaatan kawasan yang nantinya akan dilakukan arahan konservasi di Kawasan Gua Pawon.
Kajian Pembuktian Teori Faktor Utama Transportasi terhadap Nilai Lahan, Kota Soreang Rifani Ridadikri; Ina Helena Agustina; Riswandha Risang Aji
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 6 No. 1 (2026): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v6i1.23286

Abstract

Abstract. This study examines the development of residential land values ​​resulting from the operation of the Soroja Toll Road. The ease of access created through the construction of the toll road has the potential to spur the development of residential land values. The land value is viewed from the perspective of housing, because the housing sector can relatively emerge triggered by the development of the transportation sector. The purpose of this study is to prove Chan's Theory Regarding the Main Factors of Transportation on Land Values ​​with a case study on the Soroja Toll Road in the Soreang City Area. The analysis method used is descriptive statistics. The results of this study found that changes in residential land use occurred increasingly in 2025, before the operation of the Soroja Toll Road, the land value was at IDR 2,000,000 to IDR 3,000,000 / square meter, while after the Soroja Toll Road operated, the land value increased to IDR 4,500,000 to IDR 7,000,000 / square meter, this proves the transportation theory that Toll Roads influence changes in residential land values Abstrak. Studi ini mengkaji perkembangan nilai lahan perumahan yang diakibatkan oleh beroperasinya Jalan Tol Soroja. Kemudahan akses yang tercipta melalui pembangunan jalan tol berpotensi memacu perkembangan nilai lahan perumahan. Nilai lahan tersebut ditinjau dari perumahan, karena sektor perumahan relatif dapat muncul dipicu dari adanya perkembangan sektor transportasi. Tujuan Penelitian ini adalah untuk membuktikan Teori Chan Mengenai Faktor Utama Transportasi Terhadap Nilai Lahan dengan studi kasus di Jalan Tol Soroja Wilayah Kota Soreang. Metode analisis yang digunakan adalah deskriptif statistik. Hasil dari penelitian ini ditemukan perubahan penggunaan lahan perumahan terjadi semakin berkembang di tahun 2025, sebelum beroperasinya Jalan Tol Soroja nilai lahan berada di Rp2.000.000 hingga Rp3.000.000/meter persegi, sedangkan setelah Jalan Tol Soroja beroperasi nilai lahan meningkat menjadi Rp4.500.000 hingga Rp7.000.000/ meter persegi, hal tersebut membuktikan teori transportasi yaitu Jalan Tol berpengaruh terhadap perubahan nilai lahan perumahan.