Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

OPTIMASI KOMBINASI COCOA BUTTER DAN MILK BUTTER SEBAGAI BASIS BODY BUTTER EKSTRAK ETANOL DAUN JAMBU BIJI (Psidium guajava Linn) Suradnyana, I Gede Made; Mahardika, I Komang Gede; Siada, Nyoman Budiartha
Jurnal Riset Kefarmasian Indonesia Vol. 4 No. 2 (2022): Jurnal Riset Kefarmasian Indonesia
Publisher : APDFI (Asosiasi Pendidikan Diploma Farmasi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33759/jrki.v4i2.242

Abstract

Guava leaf extract is known to contain flavonoids, a class of flavone compounds that have very strong antioxidant activity. The antioxidant activity of guava leaf ethanol extract as measured by the DPPH method showed an IC50 value of 72 µg/ml. Body butter preparations have a better ability to nourish and maintain skin moisture because they contain high oil components. Cocoa butter and milk butter are the bases that are widely used in body butter formulas and are able to maintain skin health. This study aims to determine the area of optimum composition of the combination of cocoa butter and milk butter in body butter preparations of guava leaf ethanol extract (Psidium guajava L.). This study used a factorial design with two factors, namely cocoa butter and milk butter and two levels, namely 2% and 4% for cocoa butter and 2% and 15% for milk butter. The observed responses were pH and spreadibility with data analysis using Design Expert and SPSS software. Based on the results of the research, the optimum area for the combination of cocoa butter and milk butter with the pH equation is Y = 6.00000 – 1.77504(X1) – 4.73345 (X2) + 1.8336(X1X2) and the dispersion equation is Y = 3 ,77692+0,366667(X1) – 0,005128(X2) + 0.033333(X1X2). The optimal composition area of cocoa butter and milk butter has been validated on the combination of 3% cocoa butter and 8,5% milk butter.
Evaluasi Kesesuaian Antibiotik berdasarkan Metode Gyssens pada Peresepan Pasien Covid-19 disertai Koinfeksi Pneumonia di Rumah Sakit “X” Kota Denpasar Rr Asih Juanita; Nyoman Budiartha Siada; Dwi Arymbhi Sanjaya; Herleeyana Meriyani; Ni Putu Nadya Kirana Wulandari
JPSCR: Journal of Pharmaceutical Science and Clinical Research Vol 10, No 3 (2025)
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jpscr.v10i3.78815

Abstract

Koinfeksi bakteri penyebab pneumonia pada individu dengan Covid-19 berpotensi memperburuk kondisi klinis serta meningkatkan risiko morbiditas dan mortalitas apabila tidak memperoleh penanganan yang adekuat.Terapi antibiotik yang diberikan harus sesuai dengan derajat keparahan pneumonia yang diukur dengan skor Pneumonia Severity Index (PSI). Ketidaktepatan terapi antibiotik dapat meningkatkan risiko terjadinya resistensi. Oleh karena itu, evaluasi penggunaan antibiotik sangat penting dilakukan untuk meminimalkan risiko ketidaktepatan terapi yang dapat menyebabkan terjadinya resistensi bakteri terhadap antibiotik. Namun, penelitian mengenai evaluasi kesesuaian antibiotik pada peresepan pasien Covid-19 disertai koinfeksi pneumonia masih terbatas. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengevaluasi kesesuaian antibiotik pada peresepan pasien Covid-19 disertai koinfeksi pneumonia di Rumah Sakit “X” Kota Denpasar. Penelitian dilakukan menggunakan desain cross sectional dengan pendekatan retrospektif. Data penelitian dikumpulkan dari rekam medis pasien kemudian dievaluasi secara kualitatif menggunakan metode gyssens, secara kuantitatif dengan Prescribed Daily Dose (PDD), serta hubungan kesesuaian penggunaan antibiotik dengan perbaikan derajat keparahan dianalisis secara statistik menggunakan uji Fisher. Evaluasi kesesuaian antibiotik secara kualitatif menunjukkan sebesar 87% termasuk kategori IVA (ada alternatif antibiotik yang lebih efektif), 3% kategori IIIA (penggunaan antibiotik terlalu lama), dan 10% kategori 0 (penggunaan antibiotik tepat). Hasil evaluasi secara kuantitatif menunjukkan nilai PDD yaitu cefepime (6 gram/hari); cefotaxime (4,2 gram/hari); cefuroxime, ceftazidime, cefoperazone + sulbactam (3 gram/hari); cefoperazone (2,67 gram/hari); ceftriaxone (1 gram/hari); levofloxacin (0,75 gram/hari), azithromycin (0,5 gram/hari), dan moxifloxacin (0,4 gram/hari).Kesesuaian penggunaan antibiotik tidak memiliki hubungan terhadap perbaikan derajat keparahan pasien Covid-19 disertai koinfeksi pneumonia (p = 1,000).
Evaluasi Pemberian Terapi pada Pasien Demam Berdarah Dengue di Rumah Sakit Umum Provinsi Bali Dwi Arymbhi Sanjaya; Herleeyana Meriyani; Rr Asih Juanita; Nyoman Budiartha Siada; Made Elvenia Ambara Damayanti; Lusy Noviani
JPSCR: Journal of Pharmaceutical Science and Clinical Research Vol 10, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jpscr.v10i1.78958

Abstract

Sekitar 50-100 juta jiwa terjangkit demam berdarah dengue (DBD) setiap tahunnya dengan jumlah kematian mencapai 20.000 hingga 40.000 juta jiwa per tahun menurut World Health Organization (WHO). Provinsi Bali menduduki peringkat ke-3 dengan Incidence Rate (IR) DBD tertinggi pada tahun 2021 yaitu 59,8 per 100.000 penduduk. Penyakit DBD biasanya disertai dengan komplikasi dan penyakit penyerta yang dapat mengakibatkan peningkatan morbiditas dan mortalitas. Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran perbaikan klinis yang diamati dari parameter hematologi (leukosit, hemoglobin, hematokrit, dan trombosit) pada pasien DBD dengan komplikasi dan penyakit penyerta. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan pendekatan cross-sectional yang dilakukan di rumah sakit umum Provinsi Bali. Pengambilan data dilakukan secara retrospektif yaitu data yang diperoleh dari bulan Januari 2020 hingga Desember 2021. Lima puluh tiga sampel pada penelitian diambil menggunakan teknik total sampling. Efektivitas penatalaksanaan DBD dengan komplikasi dan penyakit penyerta pada hari pertama, hari ketiga, dan hari kelima dianalisis menggunakan uji Cochran dengan post-hoc McNemar. Pasien DBD dengan komplikasi dan penyakit penyerta pada penelitian ini sejumlah 53 orang dengan 66% laki-laki dan 34% perempuan dengan rata-rata lama rawat inap yaitu 6,0 hari. Ringer laktat dan parasetamol merupakan jenis terapi yang paling banyak digunakan dalam penatalaksanaan DBD. Penatalaksanaan pasien DBD dengan komplikasi dan penyakit penyerta di rumah sakit umum Provinsi Bali pada tahun 2020-2021 menunjukan peningkatan trombosit dan leukosit yang signifikan sejak hari ketiga hingga hari kelima (p<0,05). 
Kajian Literatur: Study Design Dalam Farmakoepidemiologi Untuk Mengetahui Resistensi Bakteri Terhadap Antibiotik Herleeyana Meriyani; Dwi Arymbhi Sanjaya; Rr Asih Juanita; Nyoman Budiartha Siada
JPSCR: Journal of Pharmaceutical Science and Clinical Research Vol 8, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jpscr.v8i1.61651

Abstract

Penelitian terkait resistensi bakteri terhadap antibiotik dapat dilakukan dengan berbagai study design. Study design merupakan salah satu titik kritis dalam penelitian resistensi bakteri terhadap antibiotik. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran kelebihan dan kekurangan dari study design yang digunakan dalam penelitian farmakoepidemiologi tentang resistensi bakteri terhadap antibiotik. Pencarian literatur dilakukan secara elektronik untuk artikel yang dipublikasikan tahun 2011 hingga 30 Juni 2021 pada basis data EBSCO, Plos One, Proquest, PubMed, ScienceDirect, dan Google Scholar. Kriteria inklusi meliputi original article dengan desain cohort (prospective dan retrospective), case control, cross-sectional dan ecological study; memiliki Digital Object Identifier (DOI); dipublikasi 10 tahun terakhir; serta mengunakan Bahasa Inggris. Artikel dalam bentuk review, tidak merupakan full text, dan artikel dengan jumlah sampel penelitian yang tidak jelas tidak disertakan dalam kajian ini. Artikel yang terkumpul dari 6 database sejumlah 209 artikel (EBSCO 45 artikel, Plos One 42 artikel, ProQuest 32 artikel, PubMed 68 artikel, ScienceDirect 19 artikel dan Google Scholar 3 artikel). Duplikasi artikel dieksklusi (29 artikel). Artikel tidak memenuhi kriteria inklusi (86 artikel), 64 artikel tidak relavan dengan tujuan penelitian, sehingga diperoleh 30 artikel dalam studi ini. Rancangan penelitian pada penelitian ini yaitu case-control (2 artikel), cohort-prospective (14 artikel), cohort-retrospective (5 artikel), cross-sectional (8 artikel) dan ecological study (1 artikel). Masing-masing rancangan memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Pemilihan desain studi dalam penelitian resistensi bakteri terhadap antibiotik dilakukan sesuai dengan tujuan penelitian, jenis paparan yang diamati, jenis outcome serta tipe penelitian (comparative, correlative study) serta ketersediaan sumber daya dalam melakukan penelitian resistensi bakteri terhadap antibiotik.
Evaluasi Rasionalitas Pengobatan Pasien Dengue Hemorrhagic Fever dengan Komplikasi dan Komorbiditas di Rumah Sakit “X” Provinsi Bali Rr Asih Juanita; Herleeyana Meriyani; Dwi Arymbhi Sanjaya; Nyoman Budiartha Siada; Nyoman Ayu Prascitasari
JPSCR: Journal of Pharmaceutical Science and Clinical Research Vol 10, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jpscr.v10i2.92941

Abstract

Penggunaan obat pada pasien Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) dengan komplikasi dan komorbiditas perlu mendapat perhatian khusus untuk menghindari kejadian Drug Related Problems (DRPs) yang dapat memengaruhi luaran klinis. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi rasionalitas pengobatan pada pasien DHF dengan komplikasi dan komorbiditas di Rumah Sakit “X” Provinsi Bali. Jenis penelitian yang digunakan adalah observasional dengan rancangan cross-sectional. Data rekam medis pasien dikumpulkan secara retrospektif tahun 2020-2021. Penilaian rasionalitas pengobatan dilakukan dengan analisis DRPs menggunakan instrumen Pharmaceutical Care Network Europe Association (PCNE) versi 9.1. Luaran klinis dianalisis berdasarkan nilai trombosit, hematokrit, leukosit, dan hemoglobin. Analisis hubungan rasionalitas pengobatan terhadap luaran klinis dilakukan menggunakan uji Chi-square. Dari total 115 pasien yang memenuhi kriteria penelitian, terjadi DRPs pada 33% pasien dan 67% tidak terjadi DRPs. DRPs yang terjadi yaitu P3.2 Unclear problem/complaint (51%); P1.2 Effect of drug treatment not optimal (28%); P1.3 Untreated symptoms or indication (13%); serta P3.1 Unnecessary drug-treatment (8%). Rasionalitas pengobatan tidak berhubungan dengan luaran klinis pasien DHF dengan komplikasi dan komorbiditas di Rumah Sakit “X” Provinsi Bali (p>0,05).
The Association between Resistance of Sepsis-Inducing Bacteria to First-Line Antibiotics and Sepsis Outcome: A Retrospective Cross-Sectional Study Herleeyana Meriyani; Dwi Arymbhi Sanjaya; Rr. Asih Juanita; Nyoman Budiartha Siada; I Wayan Maysa Yudiartha; Kadek Suryawan
Jurnal Ilmiah Medicamento Vol 12 No 1 (2026): Jurnal Ilmiah Medicamento (In progress)
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Mahasaraswati Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36733/medicamento.v12i1.13597

Abstract

Background: Sepsis is a significant infectious disease linked to high mortality rates. Several bacterial pathogens that cause sepsis have shown resistance to first-line antibiotics. This resistance in sepsis-causing bacteria to initial antibiotic agents threatens treatment success, elevating mortality risk, healthcare costs, and prolonged hospital stays.Objective: This study aimed to investigate the relationship between the resistance of sepsis-causing bacteria to first-line antibiotics and sepsis treatment outcomes.Methods: This cross-sectional study was a single-center retrospective study. Data were collected from sepsis patients admitted to the intensive care unit of a general hospital in Bali between 2022 and 2023. The patients included in this study were those with a positive bacterial infection, as provided in the culture result. Therapy outcomes were evaluated based on discharge status: improved or unimproved (deceased). The resistance of sepsis-causing bacteria to first-line antibiotics, including fluoroquinolones, third- and fourth-generation cephalosporins, piperacillin-tazobactam, and vancomycin, was assessed through blood cultures. The relationship between antibiotic resistance and therapy outcomes was analyzed using the Gamma correlation coefficient. This study included 57 of 108 sepsis patients, primarily male (57.89%) and older than 60 years (57.89%).Results: A strong, significant positive correlation was observed between the resistance of sepsis-causing bacteria to third-generation cephalosporins and therapy outcomes (p=0.001; r=0.637). In contrast, resistance to fluoroquinolones (p=0.108; r=0.387), fourth-generation cephalosporins (p=0.377; r=-0.199), piperacillin-tazobactam (p=0.816; r=-0.060), and vancomycin (p=0.911; r=0.030) did not significantly impact therapy outcomes. The outcome of sepsis therapy is associated with resistance of sepsis-causing bacteria to third-generation cephalosporins but not to fluoroquinolones, fourth-generation cephalosporins, piperacillin-tazobactam, or vancomycin. This study uses a relatively small sample size, which precludes subgroup analyses.Conclusion: Non-significant findings for some antibiotics may reflect insufficient power; further study is needed to assess the correlation between resistance of sepsis-causing bacteria to fluoroquinolones, fourth-generation cephalosporins, piperacillin-tazobactam, and vancomycin.
Association Between Antibiotic Consumption and Pseudomonas aeruginosa Non-Susceptibility: A Five-Year Ecological Study at Bali Regional General Hospital Dwi Arymbhi Sanjaya; Herleeyana Meriyani; Rr. Asih Juanita; Nyoman Budiartha Siada; I Putu Yudistira Mahaputra
Jurnal Ilmiah Medicamento Vol 12 No 2 (2026): Jurnal Ilmiah Medicamento (In progress)
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Mahasaraswati Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36733/medicamento.v12i2.14763

Abstract

Background: Pseudomonas aeruginosa is a major cause of healthcare-associated infections (HAIs), which are difficult to eradicate because of the bacterium’s intrinsic and acquired resistance mechanisms. However, evidence regarding the association between hospital antibiotic consumption and antimicrobial resistance remains inconsistent.Objective: This study determines the association between systemic antibiotic consumption and P. aeruginosa non-susceptibility using five years of hospital surveillance data.Methods: A retrospective ecological study was conducted using surveillance data from Bali Regional General Hospital between January 2019 and December 2023. The relationship between antibiotic consumption [defined as daily doses (DDD) per 100 patient-days] and resistance was analyzed by a generalized linear model in which the number of non-susceptible isolates was used as the dependent variable. Moreover, antibiotic consumption, the bed occupancy rate (BOR), the calendar year, and the antibiotic agent (with meropenem taken as the reference category) were used as independent variables.Results: The study included 77 P. aeruginosa isolates and 35 antibiotic-year observations. No statistically significant association was found between antibiotic consumption and non-susceptibility (OR 1.049, 95% CI 0.980–1.122; p = 0.168) or between BOR and non-susceptibility (OR 1.024, 95% CI 0.992–1.057; p = 0.152). Calendar year was inversely associated with the modeled non-susceptibility outcome (OR 0.716, 95% CI 0.592–0.866; p < 0.001). Ceftazidime and cefepime had higher odds of non-susceptibility than meropenem.Conclusion: Antibiotic consumption does not fully explain P. aeruginosa non-susceptibility. Factors such as antibiotic-specific resistance mechanisms and infection prevention and control practices might also have a role in the differences in non-susceptibility.