Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

STUDI FENOMENOLOGI PENGALAMAN PERAWAT INSTALASI GAWAT DARURAT (IGD) DALAM MERAWAT PASIEN TERLANTAR PADA FASE END OF LIFE DI RSUD Dr. SAIFUL ANWAR MALANG Maria Imaculata Ose; Retty Ratnawati; Retno Lestari
Journal of Nursing Science Update (JNSU) Vol. 4 No. 2 (2016)
Publisher : Department of Nursing, Faculty of Health Sciencce, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (477.616 KB)

Abstract

Pasien terlantar dalam keadaan kritis yang memasuki fase End of Life  sering dirawat di IGD. Kondisi tanpa ada keluarga yang mendampingi dan lingkungan IGD yang sibuk dan bising menjadi hambatan juga tantangan dalam perawatan End of Life. Perawatan pasien terlantar dalam tahap End of Life membutuhkan penanganan yang bertujuan memberikan rasa nyaman, ketenangan, kedekatan dukungan  social. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengalaman perawat dalam merawat pasien terlantar dalam fase End of Life di ruang IGD RSUD dr. Saiful Anwar Malang. Desain penelitian dengan metode kualitatif dengan pendekatan Fenomenologi interpretif,  yang melibatkan 7 perawat IGD. Data dikumpulkan melalui Indepth interview dan dianalisis dengan menggunakan analisa tematik Braun & Clark. Hasil penelitian  menghasilkan 7 tema yaitu 1. merasakan hati tersentuh pada pasien terlantar menjelang ajal    2. Tidak membedakan perlakuan pada pasien terlantar  dengan pasien lain yang menjelang ajal 3. Menghargai harkat dan martabat pasien  4. Memilih perawatan suportif sebagai tindakan terbaik  5. Terpaksa meninggalkan pasien tanpa pendampingan spritual 6. Mengalami konflik dalam menempatkan  pasien terlantar yang menjelang ajal  7. Mengharapkan situasi lingkungan kerja yang mendukung. Kesimpulan adalah perawat bersikap profesional, menghormati harkat dan martabat dalam memberikan perawatan tanpa membedakan perlakuan dengan pasien lain yang menjelang ajal. Perasaan hati yang tersentuh muncul saat merawat pasien terlantar yang menjelang ajal tanpa didampingi keluarga. Perawatan End of Life lebih berfokus pada perawatan suportif, sedangkan dukungan spiritual tidak dapat diberikan di IGD karena karakteristik lingkungan yang sibuk dan lebih memprioritaskan pasien kritis. Hal ini menimbulkan konflik dan dilema bagi perawat sehingga diperlukan adanya ruangan khusus dan tim kerohanian untuk menyiapkan kematian yang damai dan bermartabat.Kata Kunci: Pasien terlantar, End of Life, Perawatan Gawat Darurat. 
FENOMENOLOGI : PENGALAMAN CARING PERAWAT PADA PASIEN TRAUMA DENGAN KONDISI KRITIS (P1) DI IGD RSUD TARAKAN-KALIMANTAN UTARA Merry Januar Firstiana; Retty Ratnawati; Retno Lestari
Journal of Nursing Science Update (JNSU) Vol. 5 No. 1 (2017)
Publisher : Department of Nursing, Faculty of Health Sciencce, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1538.51 KB)

Abstract

Kondisi pasien yang mengalami trauma berat secara umum berada dalam kondisi kritis dan memerlukan pertolongan segera. Sehingga caring menjadi tanggung jawab setiap perawat dalam melakukan tindakan keperawatan kepada pasien. Tujuan penelitian ini mengidentifikasi makna caring perawat pada pasien trauma dengan kondisi kritis (P1) di IGD RSUD Tarakan – Kalimantan Utara. Penelitian ini menggunakan desain penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi interpretif yang menekankan pada interpretasi dan memahami makna. Pengumpulan data menggunakan metode wawancara mendalam (indepth interview) berdasarkan pertanyaan semi terstruktur yang bersifat terbuka (open ended question). Analisa data pada penelitian ini menggunakan analisa hermeunetik dari Diecklemann. Partisipan penelitian ini ada delapan orang perawat yang diambil melalui purposive sampling dan menghasilkan sembilan tema meliputi: niat menolong dari hati, komunikasi sebagai kunci kepercayaan, penjelasan berkaitan segala hal tentang pasien agar keluarga siap, dukungan spiritual kepada keluarga menurunkan kecemasan, peduli mendengar keluh kesah pasien dan keluarga, mengalami perubahan emosi, cepat merespon dan memilah kondisi pasien, upaya maksimal perawat melakukan tindakan yang terbaik, dan mementingkan kehadiran keluarga agar bisa memberikan semangat pasien. Pemahaman terhadap nilai caring yang diterapkan perawat pada pasien trauma dapat memberikan pengaruh besar terhadap kondisi selanjutnya. Oleh karena itu perawat harus dapat bersikap profesional dengan segala hal yang terjadi selama merawat pasien. Perawat harus memiliki niat kuat yang ditanamkan dalam dirinya untuk memberikan pertolongan sebagai upaya untuk menghasilkan perawatan yang terbaik dan berkualitas kepada pasien. Sehingga pihak rumah sakit harus memaksimalkan peran dan fungsi perawat IGD pada saat memberikan pelayanan kepada pasien.Kata kunci : fenomenologi, caring, perawat, trauma, kondisi kritis.  
STUDI FENOMENOLOGI: POST TRAUMATIC GROWTH PADA ORANG TUA ANAK PENDERITA KANKER Zidni Nuris Yuhbaba; Indah Winarni; Retno Lestari
Journal of Nursing Science Update (JNSU) Vol. 5 No. 1 (2017)
Publisher : Department of Nursing, Faculty of Health Sciencce, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1551.823 KB)

Abstract

Kanker anak merupakan penyakit yang menakutkan bagi orang tua karena tidak banyak yang mampu bertahan dan sembuh dari penyakit ini. Kanker tidak hanya akan berdampak pada fisik, tetapi juga pada kondisi psikologis penderita maupun orang tuanya. Penelitian menunjukkan bahwa dampak positif post traumatic growth ditemukan pada orang tua anak penderita kanker. Post traumatic growth merupakan pengalaman perubahan positif yang terjadi sebagai hasil perjuangan individu menghadapi krisis yang tinggi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi makna pengalaman orang tua anak penderita kanker tentang post traumatic growth. Desain penelitian adalah kualitatif dengan pendekatan fenomenologi interpretif. Pengambilan data dilakukan dengan wawancara mendalam pada 5 orang tua anak penderita kanker. Hasil penelitian dialalisis dengan metode Interpretif Phenomenology Analysis (IPA). Sembilan tema telah teridentifikasi dari penelitian ini, yaitu: (1) memahami bahwa kanker adalah penyakit yang mengancam kehidupan, (2) mengalami tekanan secara batin, (3) mengalami krisis dalam kehidupannya (4) menilai bahwa kanker merupakan ketetapan dan ujian dari Tuhan, (5) berusaha mengatasi krisis yang dialami (6) mendapat dukungan dari keluarga, sesama orang tua anak penderita kanker dan relawan komunitas, (7) menemukan harapan baru, (8) merasakan perubahan hubungan yang bermakna, dan (9) mengalami perkembangan spiritualitas. Pengalaman orang tua mengalami post traumatic growth merupakan proses yang tidak mudah. Orang tua mengalami krisis dalam hidupnya membuat orang tua menilai kanker sebagai takdir dan ujian dari Tuhan, ia merasa harus berusaha mengatasi krisis yang dialami, hingga pada akhirnya orang tua mendapatkan dukungan dari orang disekitarnya dan menemukan harapan baru, orang tua merasakan perubahan pada hubungan dan mengalami peningkatan spiritualitas. sehingga pengalaman orang tua anak penderita kanker tentang post traumatic growth dapat diintepretasikan sebagai perjuangan menghadapi realita baru kehidupan setelah mengalami peristiwa traumatis. Kata Kunci: studi fenomenologi, orang tua, anak penderita kanker, post traumatic growth  
THE EXPERIENCE OF TEMS NURSES IN HANDLING TRAFFIC ACCIDENT VICTIMS IN RSUD DR. ISKAK TULUNGAGUNG Maria Wisnu Kanita; Retty Ratnawati; Retno Lestari
Journal of Nursing Science Update (JNSU) Vol. 6 No. 1 (2018)
Publisher : Department of Nursing, Faculty of Health Sciencce, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (55.439 KB) | DOI: 10.21776/ub.jik.2018.006.01.7

Abstract

Emergency Medical Services (EMS) in Indonesia has not been developed comprehensively. EMS service that has been running is in RSUD dr. Iskak Tulungagung named Tulungagung Emergency Medical Services (TEMS) with the most incident call are traffic accidents. Nurses experienced some obstacles when handling the traffic accident victims which made it cannot be done optimally. This study aims to explore the experience of nurses in conducting EMS on the handling of traffic accident victims in RSUD dr. Iskak Tulungagung. The research was using qualitative method with interpretive phenomenology approach by using data analysis process based on Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). Nine themes were obtained from 9 participants: 1) Assuming the importance of providing the best treatment, 2) Encourage team cohesiveness to facilitate handling, 3) Feel the contradictions in the self when dealing with victims, 4) Feeling the emergence of spirit in self, 5) Serving with wholeheartedly embodied with the priority of the victim, 6) Experiencing poor acceptance from the community, 7) Experiencing the limited, 8) Craving accurate service by a competent team, and 9) Feeling increasing public trust who knowing TEMS. Establishing EMS from the beginning to the current process, based on the awareness of the nurse and the relevant parties regarding the appropriate and best handling of traffic accident victims to achieve patient safety. Regular evaluation is needed from all related parties and education for community for handling of traffic accident victims in EMS service so it can be given maximally by the nurse.
THE STUDENTS' PERCEPTION OF USING DUOLINGO AS A LANGUAGE TOOL FOR LEARNING ENGLISH Retno Lestari; Retno Lestari
Jurnal Penelitian, Pendidikan, dan Pembelajaran Vol. 17 No. 25 (2022): Jurnal Penelitian, Pendidikan, dan Pembelajaran
Publisher : Jurnal Penelitian, Pendidikan, dan Pembelajaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: With the development of technology, students are more interested in digital learning that uses an internet connection that can be accessed anywhere and anytime. Duolingo app is one of the modern apps that facilitate language acquisition. Duolingo offers a model of English courses based on everyday life in a simpler way. In this application users can learn vocabulary and grammar, even this application provides a mixture of abilities in pronunciation, and word translation and provides activities to understand words from pictures, and others. Duolingo combines elements from audio visual questions in a fun way. With the gamification system offered, it can help to build interest in learning in a comfortable way and not get easily bored when learning.This study aims to determine the perception of students majoring in English towards the use of the Duolingo application as a language learning tool to learn English and to find out what aspects of language improve after using the Duolingo application as a language learning tool. The research design of this research is qualitative research. Participants in this study were 28 English students at the Universitas Islam Malang who had used the Duolingo application for more than 40 days. The data were collected by giving a questionnaire and interviewing the students.From the results of this study, most students are agreeing about the statement toward the use of the Duolingo application in their English learning. The results of the questionnaires and interviews obtained by the researcher explained that students agreed that the Duolingo application had many positive effects on students in language learning such as students becoming more motivated in learning and making students practice more and apply their language skills in everyday life. Also, some aspects of a language improve after using the Duolingo application, such as students knowing a lot of vocabulary and memorizing it easily, becoming better at grammar and pronunciation, and making it easier for students to improve their English language acquisition.Based on the finding of the study, it is addressed for future researchers. The researcher hopes that further research can examine with a larger sample and dig deeper into other topics related to the use of the Duolingo application and its implementation in English language teaching. keywords: Students’ perception, Duolingo, language tool, learning English
STUDI FENOMENOLOGI : RESILIENCE KELUARGA PENDERITA SKIZOFRENIA DI PUSKESMAS BANTUR Wahyu Widiastutik; Indah Winarni; Retno Lestari
Jurnal Ilmiah Kesehatan Keperawatan Vol 12, No 3 (2016): JURNAL ILMIAH KESEHATAN KEPERAWATAN
Publisher : LPPM UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH GOMBONG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26753/jikk.v12i3.161

Abstract

This research discusses the resilience dinamics of schizophrenia sufferer with a relapse which aims to explore the feeling of the family about the resiliece dinamics of schizophrenia sufferer with a relapse. This research metodology uses qualitative approach which involves 6 participants. The data analysis uses interpretative phenomenological analysis. The informative method uses in-depth interview technique with their parents and other relatives. The participantss are people who take care of and understand the condition of patient.The result of the research make 9 themes namely : (1) the family of the sufferer knew schizophrenia as a thougt illness; (2) the family feel uncomfortable; (3) they believed that the supernatural power causing the illness; (4) they try hard to cure the sufferer by alternative treatment; (5)the family have crisis life; (6) they regarded all misery which was experienced as God-given; (7) the family feel the care of health and environment  officers; (8) they Raise from the fall; (9) they accept all condition. Keywords : family resilience, schizophrenia, relapse
ANALYSIS OF DETERMINANT FACTORS IN IMPLEMENTING KNOWLEDGE MANAGEMENT AT PT PELINDO MULTI TERMINAL Retno Lestari; Iskandarini; Prihatin Lumbanraja
International Journal of Economic, Business, Accounting, Agriculture Management and Sharia Administration (IJEBAS) Vol. 4 No. 6 (2024): December
Publisher : CV. Radja Publika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54443/ijebas.v4i6.2290

Abstract

The development of the logistics world, especially in ports, requires companies to continue to innovate for easier coordination nationally. Pelindo merged and divided the companies into subholdings. PT Pelindo Multi Terminal is one of the subholdings of Pelindo that carries out loading and unloading of non-container cargo. Post-merger, the fusion of culture and technology systems used for company operations and company knowledge management has undergone many changes. This study aims to determine the effect of Organizational Culture, Personal Knowledge, Job Procedure, and Technology on Knowledge Management at PT Pelindo Multi Terminal. This type of research is associative. The population in this study were all active workers of PT Pelindo Multi Terminal with samples obtained from the purposive sampling method totaling 247 workers. The data analysis used was multiple linear regression analysis. The results of this study indicate that simultaneously organizational culture, Personal Knowledge, Job Procedure, and Technology have a positive and significant effect on the implementation of Knowledge Management at PT Pelindo Multi Terminal. Partially, organizational culture, Personal Knowledge, Job Procedure, and Technology have a positive and significant effect on the implementation of Knowledge Management at PT Pelindo Multi Terminal.
PENGALAMAN PERAWAT DALAM MERAWAT PASIEN DENGAN MASALAH FISIK DISERTAI GANGGUAN JIWA DI RUANG BEDAH : STUDI FENOMENOLOGI Indah Mukarromah; Retty Ratnawati; Retno Lestari
MEDICA MAJAPAHIT Vol 9 No 2 (2017): Medica Majapahit
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Majapahit Mojokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pelayanan di rumah sakit umum memiliki kemungkinan menerima pasien keluhan fisik disertai gangguan jiwa terutama di ruang bedah. Keberadaan pasien tersebut di ruang bedah menimbulkan beberapa persoalan seperti merusak fasilitas di ruang tersebut sehingga perawat perlu meningkatkan pengawasan dan observasi ekstra kepada pasien tersebut. Karena membutuhkan kewaspadaan terkait kesadaran pasien dengan gangguan fisik yang disertai gangguan jiwa sehingga seringkali mengakibatkan tidak optimalnya dokumentasi pasien dan terlambatnya jadwal timbang terima. Sehingga mengakibatkan perawatan pada pasien lain tidak optimal, pendokumentasian kadang tidak terselesaikan dengan paripurna, dan terlambatnya pelaksanaan jadwal timbang terima. Pada penelitian sebelumnya telah dilakukan penelitian tentang persepsi perawat dalam merawat pasien dengan keluhan fisik yang disertai gangguan jiwa namun untuk penelitian yang berfokus pada pengalaman perawat belum ada. Tujuan penelitian ialah mengeksplorasi pengalaman perawat dalam merawat pasien gangguan jiwa di ruang bedah. Metode : Desain penelitian kualitatif pendekatan fenomenologi interpretif. Wawancara partisipan menggunakan panduan wawancara melibatkan 8 orang secara purposive sampling di ruang bedah RSUD Jombang. Analisis data menggunakan analisis tematik Braun & Clark. Hasil : penelitian ini menemukan delapan tema, yaitu 1) menemukan tanda gangguan jiwa pasien; 2) merasakan tegang menghadapi pasien gangguan jiwa; 3) termotivasi untuk menolong pasien; 4) meski kewalahan namun tetap merawat pasien dalam menangan masalah fisik dan mental secara bersamaan; 5) lebih waspada untuk menciptakan lingkungan perawatan yang nyaman bagi pasien gangguan jiwa; 6) terhambat dengan kelengkapan penunjang pelayanan keperawatan jiwa; 7) merasakan emosi yang beragam saat merawat pasien; 8) mengharapkan adanya pembenahan sumber daya pelayanan keperawatan jiwa. Kesimpulan : pengetahuan dan ketrampilan serta pengalaman berperan penting untuk merawat pasien disertai gangguan jiwa. Meski merasakan ketidaktenteraman pikiran namun terdapat kepuasan dIsaat merawat pasien tersebut. Perawat berupaya memaksimalkan kemampuannya diantara dua kondisi pasien yang mengalami gangguan jiwa dan gangguan pada fisik
Psychometric Properties of the GAD-7 for Assessing Anxiety Disorder Among Students and Populations in Developing Countries: A Systematic Review Haris Petriano; Retno Lestari; Heni Dwi Windarwati
Journal An-Nafs: Kajian Penelitian Psikologi Vol. 10 No. 2 (2025): Journal An-Nafs: Kajian Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Islam Tribakti Lirboyo Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33367/psi.v10i2.8191

Abstract

Generalized anxiety disorder (GAD) is one of the most common anxiety disorders and significantly impacts individual well-being. Early detection using a valid instrument, such as the GAD-7, is essential for effective intervention. However, evidence regarding the psychometric performance of the GAD-7 in developing countries remains fragmented, particularly across student and community populations, necessitating systematic synthesis. This study aimed to systematically review and synthesise evidence on the psychometric properties of the GAD-7, including its validity, reliability, cut-off values, and cultural adaptability, among students and general populations in developing-country contexts. A systematic review was conducted using three databases: PubMed, ScienceDirect, and SAGE Journals. The search employed the keywords “Anxiety Disorder,” “Developing Country,” “Generalized Anxiety Disorder-7,” “Mental Health,” “Psychometric,” and “Student,” using Boolean operators (AND, OR). Of the 3,255 records identified, 15 studies met the inclusion criteria after screening and eligibility assessment and were included in the final synthesis. The review demonstrates that the GAD-7 shows consistently strong construct validity, a stable unidimensional factor structure, and robust convergent validity across diverse cultural and educational settings, with positive correlations observed with related instruments such as the PHQ-9. With high internal consistency (Cronbach’s α = 0.85–0.93) and a commonly supported cut-off score of ≥10, the GAD-7 effectively identifies anxiety symptoms, although context-specific lower cut-off scores were reported in certain clinical and community populations. Overall, the findings indicate that the GAD-7 is a valid, reliable, and culturally adaptable screening instrument for anxiety assessment. By consolidating psychometric evidence across developing-country contexts, this review provides an integrated and up-to-date synthesis that supports the informed use of the GAD-7 in educational, clinical, and public mental health settings, particularly in low-resource environments.