Andi Tenriola Fitri Kessi
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Makassar

Published : 23 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Factors Influencing Musculoskeletal Disorder (MSDs) Complaints Among Shallot Farmers in Tempo Hamlet, Enrekang Regency Andi Tenriola Fitri Kessi; Muhammad Akbar Salcha; Muh. Ade Rivai
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026): JULI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.61424

Abstract

Gangguan muskuloskeletal (Musculoskeletal Disorders/MSDs) merupakan salah satu masalah kesehatan kerja yang paling umum terjadi pada sektor pertanian, terutama pada petani yang bekerja dengan postur tidak ergonomis dan beban fisik yang berulang. Petani bawang merah menghadapi risiko tinggi karena pekerjaan mereka melibatkan posisi membungkuk dan jongkok dalam waktu lama. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi keluhan MSDs pada petani bawang merah di Dusun Tempo, Desa Tempo, Kecamatan Anggeraja, Kabupaten Enrekang. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain observasional analitik dan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian adalah seluruh petani bawang merah di Dusun Tempo yang berjumlah 67 orang, yang seluruhnya direkrut melalui teknik total sampling. Keluhan MSDs diukur menggunakan kuesioner Nordic Body Map (NBM), sedangkan postur kerja dinilai dengan metode Rapid Entire Body Assessment (REBA). Data dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square, dengan uji Fisher's Exact diterapkan pada tabel yang memiliki frekuensi harapan kecil. Sebagian besar responden (80,6%) melaporkan keluhan MSDs pada kategori nyeri. Postur kerja (p=0,018), masa kerja (p<0,001), usia (p=0,011), dan jenis kelamin (p<0,001) berhubungan secara signifikan dengan keluhan MSDs, sedangkan durasi kerja harian tidak menunjukkan hubungan yang signifikan (p=0,545). Keluhan MSDs pada petani bawang merah dipengaruhi oleh postur kerja, masa kerja, usia, dan jenis kelamin, tetapi tidak dipengaruhi oleh durasi kerja harian. Temuan ini menunjukkan perlunya edukasi ergonomi, pengaturan jadwal kerja-istirahat yang lebih baik, serta deteksi dini keluhan otot, terutama bagi petani berusia lanjut dengan masa kerja yang panjang.
Faktor Yang Berhubungan Dengan Gejala Dermatitis Kontak Iritan Pada Karyawan Pencucian Mobil di Kota Makassar Andi Tenriola Fitri Kessi; Muhammad Akbar Salcha; Muh. Qizas Afandi Umar
Jurnal Mitrasehat Vol. 11 No. 1 (2021): Jurnal Mitrasehat
Publisher : LPPM STIK Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51171/jms.v11i1.287

Abstract

Kesehatan kerja merupakan aspek atau unsur kesehatan yang erat berkaitan dengan lingkungan kerja dan pekerjaan secara langsung atau tidak langsung dapat mempengaruhi kesehatan tenaga kerja. Mencegah timbulnya gangguan Kesehatan yang disebabkan oleh kondisi kerja, melindungi tenaga kerja dari bahaya kesehatan yang timbul akibat pekerjaan, dan menempatkan tenaga kerja pada suatu lingkungan kerja yang sesuai dengan kondisi fisik atau faal tubuh dan mental psikologis tenaga kerja yang bersangkutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ontri yang berhubungan dengan kejadian gejala dermatitis kontak iritan pada karyawan pencucian mobil di Kota Makassar. Jenis penelitian yang akan dilakukan adalah jenis penelitian kuantitatif menggunakan pendekatan analitik dengan desain cross sectional. Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh karyawan yang bekerja di pencucian mobil di jalan perintis kemerdekaan Kota Makassar. Pengambilan data dilakukan melalui wawancara dan observasi. Hasil dan pembahasan penelitian ini menunjukkan personal hygne seluruh pekerja tidak menerapkan kriteria secara benar dimana seluruh responden hanya mencuci tangan, Dermatitis kontak akibat kerja didefinisikan sebagai penyakit kulit dimana pajanan di tempat kerja merupakan ontri penyebab yang utama serta ontri ontributor, Penggunaan APD merupakan salah satu cara untuk mencegah terjadinya dermatitis kontak akibat kerja, karena dengan mengunakan APD dapat terhindar dari cipratan bahan kimia dan menghindari kontak langsung dengan bahan kimi, Riwayat penyakit kulit dalam penelitian ini merupakan pekerja yang sebelumnya atau sedang menderita penyakit kulit akibat kerja. Saran dari penelitian ini adalah penyediaan APD, menggunakan APD untuk mencegah terjadinya dermatitis kontak akibat kerja.
PERAN METODE SAFETY TALK DALAM MENINGKATKAN KESADARAN K3 DI TEMPAT KERJA PT. ANTAM TBK KOLAKA Andi Tenriola Fitri Kessi; Muhammad Akbar Salcha; Vhygel Arnelsto Ramba
Jurnal Mitrasehat Vol. 16 No. 3 (2026): Jurnal Mitrasehat
Publisher : LPPM STIK Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51171/jms.v16i3.778

Abstract

Latar belakang: International Labour Organization (ILO) memperkirakan sekitar dua pertiga dari seluruh kematian akibat kecelakaan kerja terjadi secara global. Lebih dari 2,78 juta jiwa meninggal setiap tahun akibat penyakit atau kecelakaan di lingkungan kerja. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2016 mencatat, setiap tahunnya sekitar 1,1 juta kematian di seluruh dunia disebabkan oleh penyakit atau kecelakaan. Angka ini setara dengan hilangnya nyawa 5.000 pekerja setiap harinya, atau sekitar 3 orang setiap menit. Tujuan: Mengetahui peran metode safety talk dalam meningkatkan kesadaran Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di tempat kerja pada PT. ANTAM Tbk UBPN Kolaka Sulawesi Tenggara Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan observasional analitik melalui desain cross-sectional yang melibatkan 53 responden pekerja bagian plant environment dengan teknik pengambilan sampel total sampling Hasil: Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara metode safety talk (p = 0,000), komunikasi K3 (p = 0,003), pengetahuan K3 (p = 0,003), serta pelaksana safety talk (p = 0,005) terhadap kesadaran K3 pekerja. Kesimpulan: Pelaksanaan safety talk yang dilakukan secara rutin, sistematis, dan interaktif mampu meningkatkan pemahaman, sikap, serta perilaku pekerja dalam menerapkan prinsip K3 di lingkungan kerja.