Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Analisis Efisiensi Pelayanan Rawat Inap Sebelum dan Selama Pandemi Covid-19 Berdasarkan Grafik Barber Johnson Di RS PKU Muhammadiyah Nanggulan I Gusti Agung Ngurah Putra Pradnyantara
Jurnal Manajemen Informasi Kesehatan Indonesia (JMIKI) Vol 10, No 1 (2022)
Publisher : Asosiasi Perguruan Tinggi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Indonesia- APTIRMIKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33560/jmiki.v10i1.389

Abstract

Latar Belakang: Statistik rumah sakit digunakan sebagai tolak ukur kualitas pelayanan dan dasar untuk pengambilan keputusan. Grafik Barber Johnson dapat digunakan sebagai sumber informasi dalam proses pengambilan keputusan. Untuk mengetahui tingkat efisiensi pengolalaan Tempat Tidur rumah sakit diperlukan indikator rumah sakit yaitu BOR, LOS, TOI, dan BTO.Tujuan: Mengetahui analsisi efisiensi pelayanan rawat inap sebelum dan selama pandemi covid-19berdasarkan grafik Barber Johnson di RS PKU Muhammadiyah Nanggulan tahun 2021.Metode:Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif dan cara pengumpulan data dengan observasi dan wawancara.Hasil: Adapun batasan efisien Barber Johnson adalah BOR = 75%-85%, LOS = 3-12 hari, TOI = 1-3 hari, dan BTO = 30 kali. Berdasarkan grafik Barber Johson sebelum masa pandemi dan selama masa pandemi tingkat penggunaan tempat tidur belum efisien. Pencapaian nilai BOR sebelum pandemi : 12,67% sedangkan selama pandemi 8,28 %. Untuk LOS sebelum pandemi= 2,69 hari, selama pandemi= 2,19 hari. Untuk TOI sebelum pandemi = 18,59 hari, selama pandemi= 24,35 hari. Sedangkan untuk BTO sebelum pandemi = 17,18 kali dan selama pandemi = 13,74 kali.Kesimpulan: Dari empat indikator Barber Johnson tersebut pelayanan rawat inap sebelum dan selama Pandemi covid-19 belum masuk daerah efisien. Nilai BOR mengalami penurunan. Agar nilai BOR masuk daerah efisien upaya yang dapat dilakukan adalah promosi rumah sakit kepada masyarakat dan meningkatkan pelayanan masyarakat secara optimal.Kata kunci: Efisiensi, Pelayanan Rawat Inap, Grafik Barber Johnson
KEAKURATAN KODE DIAGNOSIS PENYAKIT BERDASARKAN ICD- 10 DI PUSKESMAS GONDOKUSUMAN II KOTA YOGYAKARTA I Gusti Agung Ngurah Putra Pradnyantara
Jurnal Manajemen Informasi Kesehatan Indonesia (JMIKI) Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Asosiasi Perguruan Tinggi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Indonesia- APTIRMIKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33560/.v1i1.58

Abstract

ABSTRAKSistem klasifikasi penyakit merupakan pengelompokan penyakit-penyakit yang sejenis denganInternational Statistical Classification of Diseases and Related Health Problem Tenth Revisions(ICD-10) untuk istilah penyakit dan masalah yang berkaitan dengan kesehatan. Penerapanpengodean harus sesuai ICD-10 guna mendapatkan kode yang akurat karena hasilnya digunakanuntuk mengindeks pencatatan penyakit, pelaporan nasional dan internasional morbiditas danmortalitas, analisis pembiayaan pelayanan kesehatan, serta untuk penelitian epidemiologi danklinis. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui keakuratan kode diagnosis penyakit berdasarkanICD-10 di Puskesmas Gondokusuman II Kota Yogyakarta pada tahun 2012. Penelitian inimenggunakan jenis penelitian kualitatif dengan rancangan penelitian secara cross sectional.Populasi obyek dalam penelitian ini adalah seluruh berkas rekam medis pasien rawat jalan padaperiode bulan Januari sampai dengan bulan Juni tahun 2012 sedangkan populasi subyeknya adalahseluruh dokter dan perawat. Sampel pada penelitian ini berjumlah 385 berkas rekam medis denganmenggunakan teknik simple random sampling sedangkan sampel subyeknya adalah 2 orang dokterdan 2 orang perawat. Hasil analisis menunjukkan bahwa jumlah kode yang akurat sebanyak 174kode (45,2%), dan tidak akurat sebanyak 211 kode (54,8%). Ada beberapa faktor penyebabketidakakuratan kode diagnosis di Puskesmas Gondokusuman II Kota Yogyakarta diantaranyatidak sesuainya kualifikasi SDM yang bertugas untuk mengode diagnosis, tidak adanya StandardOperating Procedure (SOP) untuk pengodean diagnosis, data diagnosis dan kodenya yang ada disistem informasi manajemen puskesmas (SIMPUS) tidak lengkap, serta tidak optimalnyapenggunaan buku ICD-10 sebagai panduan untuk mengode diagnosis penyakit.Kata Kunci : ICD-10, keakuratan kode diagnosis, SIMPUSABSTRACTDisease classification system is a grouping of diseases that are similar to the InternationalStatistical Classification of Diseases and Related Health Problems Tenth Revisions (ICD-10) forthe term of diseases and health-related issues. The implementation should be appropriate withICD-10 in order to obtain the accuracy of codes because the results are used to index therecording of diseases, national and international reporting of morbidity and mortality, theanalysis of health care financial, as well as for research and clinical epidemiology. The purpose ofthis study to determine the accuracy of the diagnosis codes based on ICD-10 at Public HealthCenter of Gondokusuman II Yogyakarta in 2012. This research was using qualitative researchwith cross sectional design. The population of objects in this study was all files of outpatientmedical records for the period of January to June in 2012 while the population of subjects was thewhole doctors and nurses. The sample of objects in this research was 385 medical records usedsimple random sampling technique while the sample of subject was 2 doctors and 2 nurses. Theanalysis showed that the amount of codes that accurate was 174 codes (45.2%) and inaccuratewas 211 codes (54.8%). There were several factors that cause the codes was inaccurate at PublicHealth Centerof Gondokusuman II Yogyakarta such as incompatibility among qualified humanresources assigned to code the diagnosis, the absence of the Standard Operating Procedure (SOP)for diagnosis of coding, diagnosis data and the codes at management information system of publichealth center (SIMPUS) were not completed, and the use of ICD-10 book as a guide to code thediagnosis was not optimal.Keywords: ICD-10, the accuracy of diagnosis codes, SIMPUS
Analisis Selisih Biaya Antara Tarif riil Rumah Sakit Dengan Tarif Ina-Cbg’s Pada Kasus Sectio Caesarean Di Rumah Sakit Panti Nugroho I Gusti Agung Ngurah Putra Pradnyantara
Jurnal Manajemen Informasi Kesehatan Indonesia (JMIKI) Vol 11 No 2 (2023)
Publisher : Asosiasi Perguruan Tinggi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Indonesia- APTIRMIKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33560/jmiki.v11i2.406

Abstract

AbstrakLatar Belakang :Angka operasi caesar terus meningkat di setiap negara, WHO merekomendasikan Caesarean Section Rate (CSR) yang ideal bagi suatu negara berkisar 10% sampai 15%. Rumah Sakit Panti Nugroho merupakan rumah sakit rujukan Pelayanan Obstetri Neonatal Emergency Dasar (PONED) yang bekerja sama dengan Jaminan Kesehatan Nasional yang menerapkan sistem INA-CBG’s. Dalam penerapan sistem INA-CBG’s sering terjadi permasalahan dalam pembiayaanya. Hal yang sering terjadi adalah besarnya tarif rumah sakit pada prosedur Sectio Caesarea melebihi klaim INA-CBG’s. Tujuan :Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui selisih antara tarif rumah sakit dengan klaim INA-CBG’s di RS Panti Nugroho. Metode penelitian : penelitian ini adalah  penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif, data diambil secara retrospektif dari data klaim peserta JKN pasien Sectio Caesarea tahun 2020 di RS Panti Nugroho sebanyak 89 sampel data menggunakan total sampel. Perhitungan data untuk mengetahui selisih dilakukan dengan cara mengurangkan tarif rumah sakit dengan tarif INA-CBG’s.Hasil penelitian: menunjukkan selisih antara tarif rumah sakit dengan tarif INA-CBG’s pada pasien Sectio Caesarea di RS Panti Nugroho adalah selisih negative nilai, selisih minimumnya sebesar Rp 834.699,00 dan selisih maksimalnya sebesar Rp 7.517.699,00 dengan nilai rata-rata selisihnya sebesar Rp3.036.855,37. nilai persentase selisih minimal sebesar 13,59% dan persentase selisih maksimalnya sebesar 58,62% dengan nilai rata-rata persentase selisihnya sebesar 36,66%Kesimpulan :dapat disimpulkan bahwa nilai rata-rata pada tarif RS dan tarif INACBG tidak sama, dimana tarif RS lebih besar dari pada tarif INACBG Diharapkan tim BPJS melakukan analisa tarif setiap bulannya untuk bahan evaluasi manajemen rumah sakit dalam pengendalian tarif dan melakukan evaluasi penghitungan unit cost pada layanan persalinan dengan pertolongan section caesarean yang mengalami selisih tarif Kata Kunci: Selisih tarif, Sectio Cesarea, Tarif Rumah Sakit.
FAKTOR PENYEBAB KETIDAKLENGKAPAN PENGISIAN FORMULIR PASIEN PULANG BERDASARKAN MIRM 15 DI RS DKT Dr SOETARTO YOGYAKARTA: - pradnyantara, gusti
Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat Berkala (JIKeMB) Vol 6 No 1 (2024): MAY 2024
Publisher : Universitas Veteran Bangun Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32585/jikemb.v6i1.5343

Abstract

Background: One of the forms of recording medical record documents is a summary of the patient going home (Discharge Summary). Recording of medical records must be made as complete as possible by a doctor or authorized health worker. However, in reality, it is still common to find forms that are filled out incompletely. From this background, the researcher wants to know what factors cause incompleteness. Objective: To find out what factors cause incompleteness in filling out the patient's discharge form Methods: The research used is descriptive research with a qualitative approach. Results: From the results of interviews conducted, it was found that filling out the forms was following the applicable standard operating procedures, and having carried out socialization regularly, one of the factors that caused the incompleteness was the busyness of the doctor and the burden. The work is so heavy that doctors and nurses forget to fill out the patient's return form Conclusion: filling out the patient's discharge form is following the MIRM 15 standard, and it is expected that the hospital will use this standard. One of the factors that cause incompleteness is the busyness of the doctor and the heavy workload.
PENINGKATAN PENGETAHUAN DAN KEWASPADAAN REMAJA MENGENAI KERACUNAN ALKOHOL DAN DETEKSINYA MELALUI PENGELOLAAN SAMPEL URINE SERTA PENGENALAN CATATAN REKAM MEDIS ELEKTRONIK Ni Luh Nova Dilisca Dwi Putri; Made Wahyu Aditya; Ni Ketut Ayu Mirayanti; I Gusti Agung Ngurah Putra Pradnyantara
JURNAL PENGABDIAN MANDIRI Vol. 3 No. 9: September 2024
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53625/jpm.v3i9.8652

Abstract

Alkohol adalah zat psikoaktif dengan sifat penghasil ketergantungan. Penggunaan alkohol menyebabkan beban sosial, ekonomi dan dampak terhadap kesehatan. Selain penyakit kronis yang mungkin berkembang, penggunaan alkohol juga dikaitkan dengan peningkatan risiko kondisi kesehatan akut, seperti cedera, termasuk kecelakaan lalu lintas. Prevalensi populasi mengkonsumsi alkohol menunjukkan sebagian besar mulai kebiasaan ini sejak awal hingga pertengahan remaja. Survei nasional memperjelas bahwa penggunaan alkohol di kalangan remaja tersebar luas dan berbahaya, hampir tiga perempat remaja di sekolah menengah melaporkan pernah minum minuman beralkohol. Tujuan dilakukan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan remaja terhadap dampak bahaya konsumsi alkohol dan dapat mengenal deteksi alkohol melalui pengelolaan sampel urine secara kualitatif, tidak hanya itu dalam pengabdian mayarakat ini juga akan di kenalkan bagaimana cara melakukan pencatatan rekam medis hasil pemeriksaan kesehatan, sehingga pencatatan data hasil pemeriksaan kesehatan yang dilakukan di UKS dapat dilakukan dengan baik. Metode Pengabdian masyarakat dilakukan dengan ceramah, diskusi, dan percobaan pemeriksaan. Melalui kegiatan pengabdian masyarakat menunjukkan terjadinya peningkatan pengetahuan siswa terhadap bahaya minuman beralkohol, peningkatan pengetahuan siswa terhadap tahapan pengelolaan spesimen urine, dan peningkatan pengetahuan siswa terhadap pencatatan rekam medis elektronik.
PENCEGAHAN STUNTING MELALUI PEMBERDAYAAN KELUARGA DALAM POLA ASUH NUTRISI PADA 1000 HARI PERTAMA KEHIDUPAN: Pencegahan Stunting Melalui Pemberdayaan Keluarga Dalam Pola Asuh Nutrisi Pada 1000 Hari Pertama Kehidupan Di Banjar Punduh Kulit Desa Peguyangan Kaja Denpasar Ayu Mirayanti, Ni Ketut; Nova Dilisca , Ni Luh; Putra Pradnyantara, I Gusti Agung Ngurah; Wahyu Aditya, Made
Jurnal Pengabdian Masyarakat Permata Indonesia Vol 7 No 2 (2024): Volume 7 Nomor 2, Oktober 2024
Publisher : Permata Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59737/jpmpi.v7i2.312

Abstract

Pengabdian kepada masyarakat merupakan pelaksanaan pengamalan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni budaya langsung pada masyarakat. Upaya Pencegahan Stunting Melalui Pemberdayaan Keluarga Dalam Pola Asuh Nutrisi Pada 1000 Hari Pertama Kehidupanmerupakan upaya untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Upaya untuk meningkatkan status gizi harus dimulai sedini mungkin, tepatnya dimulai dari masa kehidupan janin atau Periode 1000 HPK. Status gizi pada 1000 HPK akan mempengaruhikualitas kesehatan, intelektual, dan produktivitas balita pada masa yang akan datang. Ibu dan bayi memerlukan gizi yang cukup dan berkualitas untuk menjamin status gizi dan status kesehatan (kemampuan motorik, sosial, dan kognitif), kemampuan belajar dan produktivitas balita. Pencegahan stunting harus kita mulai dari unit terkecil dari masyarakat yaitu keluarga. Upaya yang dilakukan yaitu dengan diteksi dini kejadian stunting dan juga pemberian informasi kesehatan dan simulasi pemberian pola asuh nutrisi pada 1000 hari pertama kehidupan.Kegiatan ini akan dilaksanakan selama 3 hari Di Banjar Punduh Kulit Desa Peguyangan Kaja Denpasar.
Transformasi Efisiensi Pelayanan Rawat Inap: Analisis Multi-Dimensi Menggunakan Indikator Barber Johnson Pradnyantara, I Gusti Agung Ngurah Putra; Januansyah , Revan; Seha , Harinto Nur; Faidah, Nurul
Bali Medika Jurnal Vol 11 No 1 (2024): Bali Medika Jurnal Vol 11 No 1 Juli 2024
Publisher : Stikes Wira Medika Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36376/bmj.v11i1.390

Abstract

Dalam statistik rumah sakit terdapat beberapa indikator pelayanan rawat inap, yaitu BOR, AvLOS, TOI, BTO, GDR dan NDR. Pemanfaatan data pelaporan berhubungan dengan mekanisme alur prosedur pelayanan untuk kepentingan internal dan eksternal rumah sakit. Berdasarkan studi pendahuluan di Rumah Sakit Dkt Dr. Soetarto Yogyakarta, data 3 tahun terakhir terdapat peningkatan indikator pelayanan rawat inap tetapi masih belum masuk kategori efisien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tren indikator pelayanan rawat inap selama 3 tahun terakhir di RS DKT Dr. Soetarto Yogyakarta dan mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi pelayanan. Kebaruan penelitian ini terletak pada pendekatan analisis longitudinal yang dikombinasikan dengan wawancara mendalam untuk memahami konteks dan upaya perbaikan yang dilakukan rumah sakit. Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan kualitatif dengan jenis data sekunder yaitu rekapitulasi SHRI pertahun dalam kurung waktu 3 tahun terakhir serta wawancara kepada petugas pelaporan, dari hasil analisis perbandingan indikator pelayanan rawat inap selama 3 tahun terakhir diketahui hanya nilai LOS yang memenuhi standar efisiensi, untuk indikator BOR, TOI, dan BTO belum memenuhi standar barber johnson karena jumlah kunjungan dirumah sakit khususnya rawat inap masih rendah.   In hospital statistics there are several indicators of inpatient services, namely BOR, AvLOS, TOI, BTO, GDR and NDR. The use of reporting data is related to the mechanism for the flow of service procedures for internal and external purposes of the hospital. Based on a preliminary study at Dr. DKT Hospital. Soetarto Yogyakarta, data for the last 3 years shows an increase in inpatient service indicators but it is still not in the efficient category. The aim of this research is to analyze the benefits of inpatient service indicators over the last 3 years. This type of research is descriptive with a qualitative approach with secondary data, namely recapitulation of SHRI per year within the last 3 years as well as interviews with reporting officers. From the results of the comparative analysis of inpatient service indicators over the last 3 years, it is known that only the LOS value meets efficiency standards, for BOR, TOI and BTO indicators do not meet Barber Johnson standards because the number of hospital visits, especially inpatient stays, is still low.
ANALISIS PENGAJUAN KLAIM BPJS KESEHATAN NON KAPITASI PUSKESMAS NANGGULAN KABUPATEN KULON PROGO Heri Kusniawan; Harinto Nur Seha; I Gusti Agung Ngurah Putra Pradnyantara
Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Indonesia Vol. 1 No. 1 (2021): Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Indonesia
Publisher : program studi Rekam Medis dan Infomasi Kesehatan ITSK RS dr Soepraoen Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62951/jurmiki.v1i1.2

Abstract

The Nanggulan Community Health Center is the main accredited health center, it is known that 23,000 residents of the Nanggulan sub-district are registered as members of the BPJS Health, both PBI and non-PBI. In the non-capitation BPJS Health claim process, there are obstacles that cause the submission of BPJS claims to be delayed and the disbursement of puskesmas funds taking a long time. From this background, the researcher wants to know how to submit BPJS claims at the Nanggulan Health Center. Objective  to knowing how to submit BPJS claims at the Nanggulan Health Center. Methods is to Descriptive research with a qualitative approach. Results this research is submission of non-capitation BPJS Health claims using SOPs based on the MoU. The P-Care application also plays a role because there must be a print out of P-Care which is a requirement for submitting a claim. There are obstacles found at the Nanggulan Health Center, namely claims made only for delivery claims, this is due to the lack of human resources for claims officers, incomplete files are still found, and bridging failures often occur between SIMPUS and P-Care applications which affect P-Care print outs. The submission of non-capitation BPJS Health claims at the Nanggulan Health Center has been going well but problems are still found in the completeness of the non-capitation claim files, claims made are only claims for childbirth, and SIMPUS is often not bridging with P-Care. 
Tantangan penerapan Rekam Medis Elektronik (RME) berdasarkan regulasi Permenkes No. 24 Tahun 2022 Damayanti, Putu Sri; Adiputra, I Made Sudarma; Pradnyantara, I Gusti Agung Ngurah Putra
Health Sciences and Pharmacy Journal Vol. 9 No. 1 (2025)
Publisher : STIKes Surya Global Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32504/hspj.v9i1.1164

Abstract

Implementasi Rekam Medis Elektronik (RME) kini diwajibkan bagi semua fasilitas kesehatan di Indonesia sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan No. 24 Tahun 2022, yang bertujuan untuk menstandarisasi pengelolaan rekam medis dan meningkatkan kualitas layanan kesehatan. Penelitian sebelumnya menunjukkan berbagai tantangan dalam penerapan RME, namun hambatan spesifik di bawah regulasi baru, terutama di rumah sakit daerah, belum banyak diteliti. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tantangan spesifik yang dihadapi Rumah Sakit Umum Dharma Yadnya Kota Denpasar dalam mengimplementasikan RME sesuai dengan regulasi baru tersebut. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kualitatif, dengan data dikumpulkan melalui wawancara dengan lima tenaga kesehatan yang dipilih secara purposive sampling. Fokus utama adalah mengidentifikasi tantangan yang berkaitan dengan kesiapan staf, kepatuhan hukum, manajemen rumah sakit, dan infrastruktur teknologi. Hasil penelitian menunjukkan adanya hambatan signifikan seperti pelatihan internal yang terbatas untuk staf, pemahaman yang kurang terhadap regulasi RME, dan gangguan teknis yang sering mengganggu pelayanan pasien. Temuan juga mengidentifikasi kesenjangan dalam kesiapan staf dan dukungan teknologi yang tidak memadai sebagai hambatan utama dalam implementasi RME yang efektif. Simpulan dari penelitian ini menunjukkan perlunya peningkatan di beberapa area kritis, termasuk memperbaiki program pelatihan staf, meningkatkan kesadaran hukum, memperkuat praktik manajemen rumah sakit, dan memperbarui infrastruktur teknologi untuk mendukung implementasi RME. Peningkatan ini sangat penting untuk mengoptimalkan layanan pasien dan mencapai manfaat yang diinginkan dari adopsi RME.
SOSIALISASI PENTINGNYA KLASIFIKASI KODEFIKASI PENYAKIT KASUS BALITA DALAM MENUNJANG KLAIM ASURANSI JKN PADA MASA DIGITALISASI REKAM MEDIS ELEKTRONIK Putra Pradnyantara, I Gusti Agung Ngurah; Ni Ketut Ayu Mirayanti; Luh Nova Dilisca, Ni; made wahyu aditya
Jurnal Pengabdian Masyarakat Permata Indonesia Vol 8 No 1 (2025): Volume 8, Nomor 1 , April 2025
Publisher : Permata Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59737/jpmpi.v8i1.333

Abstract

SatuSehat is a national integrated health data exchange platform, currently Satu Sehat will be developed to play an active role in the digitalization of health data, the health service process will be carried out through the Satu Sehat platform, the codification classification is very useful for health workers because it is the main benchmark in health financing. Health services are inseparable from health financing, especially in the implementation of JKN, so health workers are required to maximize services, especially to avoid errors in the claim process, socialization regarding the classification of disease codification based on ICD 10 is very necessary in order to provide an overview of the claim process in the health service provider environment, the target of this socialization is SMK Kesehatan students. The method used is to socialize the introduction of disease codification classification for 45 minutes and examples of its implementation, the results of this community service found that students had never received basic knowledge about the Classification and codification of diseases, students were enthusiastic and followed all the presentations given, there was a significant increase in student knowledge about the claim process.