Claim Missing Document
Check
Articles

Konseling trauma dengan ifdil perceptual light technique (IPLT) untuk pendampingan psikososial penyintas bencana hidrometeorologi sumatera barat Ifdil Ifdil; Asmar Yulastri; Afdal Afdal; Nurhastuti Nurhastuti; Yudi Antomi; Zadrian Ardi; Zahriyah Simargolang; Evelynd Evelynd; Alzet Rama; Annisaislami Khairati; Nur Adila Wafiqoh
Lentera Negeri Vol. 6 No. 2 (2025): Lentera Negeri
Publisher : Indonesian Institute For Counseling, Education and Therapy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29210/991630

Abstract

Bencana hidrometeorologi tidak hanya menimbulkan kerusakan fisik dan kerugian material, tetapi juga meninggalkan dampak psikologis yang signifikan bagi masyarakat terdampak. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi konseling trauma menggunakan Ifdil Perceptual Light Technique (IPLT) dalam kegiatan pendampingan psikososial bagi penyintas bencana hidrometeorologi di Sumatera Barat serta menganalisis respons penyintas terhadap intervensi tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan desain studi kasus multipel yang dilaksanakan di tiga wilayah terdampak bencana, yaitu Nagari Salareh Aia, Nagari Silayang, dan Nagari Koto Tinggi. Sebanyak 287 penyintas terlibat dalam kegiatan pendampingan psikososial. Data dikumpulkan melalui observasi lapangan, catatan proses layanan, dokumentasi kegiatan, serta pengukuran tingkat distres trauma menggunakan instrumen Impact of Event Scale-Revised sebelum dan sesudah intervensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa intervensi psikososial berbasis IPLT berkontribusi dalam menurunkan tingkat kecemasan, menstabilkan kondisi emosional, serta meningkatkan strategi koping adaptif pada penyintas. Analisis kuantitatif menunjukkan penurunan rerata skor distres trauma dari 38,3 menjadi 26,3 setelah intervensi dengan persentase penurunan sebesar 31,4%. Temuan ini menunjukkan bahwa IPLT dapat menjadi pendekatan intervensi psikososial yang kontekstual dan adaptif dalam mendukung pemulihan psikologis serta memperkuat resiliensi komunitas pascabencana.
Revitalisasi bimbingan karier di era kecerdasan buatan generatif: sebuah telaah kritis terhadap kerangka teoretis Alzet Rama; Wiki Lofandri; Saftrian Mukhlizul Fuad
Journal of Counseling, Education and Society Vol. 6 No. 1 (2025): Journal of Counseling, Education and Society
Publisher : Indonesian Institute for Counseling, Education and Theraphy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29210/08jces677600

Abstract

Artikel ini mengeksplorasi dampak transformatif Generative AI terhadap landasan teoretis konseling karir dalam pendidikan vokasi. Melalui analisis kritis terhadap teori-teori tradisional seperti Holland, Super, Krumboltz, dan SCCT, penelitian mengungkap bahwa asumsi stabilitas, linearitas, dan pencocokan statis (matching) karir tidak lagi memadai dalam lanskap kerja yang dinamis dan non-linier di era AI. Generative AI menawarkan kapabilitas analisis data, prediksi, personalisasi, dan simulasi yang memungkinkan pendekatan konseling yang lebih dinamis, preskriptif, dan berorientasi pada navigasi. Namun, integrasi ini menghadirkan tantangan etika seperti bias algoritma, ketergantungan berlebihan pada teknologi, dan isu privasi data. Artikel menyimpulkan bahwa teori-teori tradisional perlu diinterpretasikan ulang dan diintegrasikan ke dalam paradigma baru yang mengedepankan co-creation antara konselor, klien, dan AI, dengan peran konselor berevolusi menjadi interpreter etis, pemandu naratif, dan fasilitator literasi digital untuk memastikan relevansi dan keadilan dalam praktik konseling vokasi di masa depan
Kerangka teoretis pembelajaran personalisasi berbasis AI untuk perguruan tinggi: analisis konseptual Alzet Rama; andri Dermawan; Nova Chintia Rahma; Meila Rosi Putri
SCHOULID: Indonesian Journal of School Counseling Vol. 10 No. 1 (2025): SCHOULID: Indonesian Journal of School Counseling
Publisher : Indonesian Counselor Association (IKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23916/085901011

Abstract

Perkembangan teknologi digital yang pesat, seperti penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam pendidikan, secara drastis mengubah pendidikan tinggi.  Efektivitas pembelajaran terhambat oleh pendekatan satu ukuran untuk semua dalam pendidikan massal, yang sering mengabaikan kebutuhan beragam siswa.  Melalui integrasi sistem rekomendasi, analisis pembelajaran, dan algoritma adaptif, penelitian ini bertujuan untuk menciptakan kerangka kerja teoretis berbasis AI yang akan meningkatkan pembelajaran yang disesuaikan dalam pendidikan tinggi.  Studi ini menggunakan pendekatan konseptual, menggabungkan alat kecerdasan buatan (AI) seperti machine learning dan pemrosesan bahasa alami (NLP) dengan konsep pedagogis seperti konstruktivisme dan andragogi.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa AI memungkinkan pengalaman belajar yang dinamis dan berpusat pada siswa, seperti umpan balik instan, rekomendasi sumber daya yang disesuaikan, dan modifikasi kurikulum secara real-time.  Namun, masalah seperti bias algoritmik, privasi data, dan ketidakseimbangan infrastruktur membuat implementasi menjadi sulit. Meskipun konsekuensi praktis menekankan pentingnya kerja sama antara pendidik, pengembang teknologi, dan pembuat kebijakan, implikasi teoretis menyoroti kebutuhan akan metode multidisiplin dalam mengintegrasikan kecerdasan buatan (AI) dengan konsep pedagogis.  Kesimpulannya, jika AI diterapkan dengan teknik berorientasi manusia dan tata kelola etis, ia memiliki potensi untuk secara signifikan meningkatkan inklusivitas dan fleksibilitas sistem pendidikan.
Media sosial dan perubahan interaksi manusia: analisis dampak teknologi pada hubungan sosial kontemporer Alzet Rama; Shinta Winda Putri; Shanti Winda Putri
SCHOULID: Indonesian Journal of School Counseling Vol. 9 No. 2 (2024): SCHOULID: Indonesian Journal of School Counseling
Publisher : Indonesian Counselor Association (IKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23916/085911011

Abstract

Pengaruh transformatif media sosial terhadap hubungan manusia modern dibahas dalam penelitian ini, yang juga menganalisis bagaimana media sosial baik mempromosikan konektivitas global maupun merusak kedalaman hubungan interpersonal.  Penelitian ini mengungkap paradoks melalui tinjauan literatur kualitatif terhadap kerangka teoritis seperti individualisme terhubung dan desa global: platform media sosial seperti Facebook, Instagram, dan TikTok memfasilitasi komunikasi yang belum pernah terjadi sebelumnya sambil juga memperburuk hubungan yang bersifat performatif, isolasi, dan disinformasi.  Hasil menunjukkan bahwa interaksi yang didorong oleh algoritma merusak kepercayaan dan kedekatan emosional dengan memprioritaskan viralitas di atas keaslian.  Untuk mengurangi dampak negatif seperti ruang gema dan pelanggaran privasi data, studi ini menekankan kebutuhan kritis akan literasi digital, desain platform yang etis, dan tindakan legislatif. Untuk mendefinisikan ulang koneksi yang bermakna di era digital, penelitian ini mendorong kerja sama interdisipliner dan menyarankan penelitian lebih lanjut mengenai dampak psikologis jangka panjang, teknologi imersif (seperti metaverse), dan perbedaan antar generasi.  Pada akhirnya, penelitian ini menegaskan bahwa menjaga keutuhan sosial yang terwujud secara fisik sambil menyeimbangkan manfaat teknologi merupakan hal yang esensial bagi kesejahteraan masyarakat
Leveraging generative AI models to optimize image-based diagnostics in telehealth services in indonesia: a 2025 perspective Alzet Rama; Wiki Lofandri
SCHOULID: Indonesian Journal of School Counseling Vol. 10 No. 1 (2025): SCHOULID: Indonesian Journal of School Counseling
Publisher : Indonesian Counselor Association (IKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23916/086149011

Abstract

The rapid advancement of telehealth services has transformed healthcare delivery, particularly in regions with limited access to medical specialists. Recent developments in generative artificial intelligence (AI) offer promising solutions to enhance diagnostic accuracy, especially in image-based medical assessments such as radiology, dermatology, and pathology. This study aims to investigate the integration of generative AI models within telehealth platforms to optimize diagnostic workflows in Indonesia. A mixed-method approach was employed, involving a simulated dataset of 10,000 annotated medical images and a usability assessment with 120 healthcare practitioners across primary healthcare centers. The generative AI model was trained to augment diagnostic images, improve feature visibility, and assist physicians in detecting early-stage diseases. Quantitative results showed a 23% improvement in diagnostic accuracy and a 30% reduction in analysis time compared to traditional telehealth systems. Additionally, qualitative findings highlighted enhanced user confidence and satisfaction with the AI-assisted platform. This research underscores the potential of generative AI to bridge diagnostic gaps in telehealth services, offering scalable and cost-effective solutions for Indonesia’s healthcare ecosystem. Recommendations for implementation and ethical considerations are also discussed.
Legal gaps in indonesia's electronic information and transactions law in addressing deepfake technology: challenges and regulatory recommendations Alzet Rama; Wiki Lofandri; Anggi Firmanjaya Saputra
SCHOULID: Indonesian Journal of School Counseling Vol. 10 No. 2 (2025): SCHOULID: Indonesian Journal of School Counseling
Publisher : Indonesian Counselor Association (IKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23916/086155011

Abstract

Deepfake technology, which leverages advanced artificial intelligence to create hyper-realistic manipulated media, has emerged as a significant legal and ethical challenge worldwide. In Indonesia, the rapid proliferation of deepfake content—ranging from political disinformation to non-consensual pornography—poses serious threats to privacy, reputation, and public trust. However, the existing Electronic Information and Transactions (ITE) Law does not explicitly regulate the creation, distribution, or malicious use of deepfake materials. This study employs a normative juridical approach combined with comparative legal analysis to examine the legal gaps within the ITE Law in addressing deepfake-related offenses. The research analyzes relevant case studies in Indonesia, evaluates the adequacy of current legal provisions, and compares Indonesia’s regulatory stance with that of jurisdictions such as the European Union, the United States, and Singapore. Findings reveal that the absence of specific legal definitions and enforcement mechanisms for deepfake content hinders effective law enforcement and victim protection. The study proposes concrete policy recommendations, including amendments to the ITE Law, the introduction of a comprehensive definition of deepfake technology, and the establishment of a multi-stakeholder oversight framework. These recommendations aim to strengthen Indonesia’s legal capacity to safeguard individual rights and uphold digital integrity in the era of AI-driven media manipulation
Next-generation counseling virtual reality as a transformative tool for immersive psychological therapy alzet Rama; Wiki Lofandri; anggi Firmanjaya Saputra
SCHOULID: Indonesian Journal of School Counseling Vol. 9 No. 1 (2024): SCHOULID: Indonesian Journal of School Counseling
Publisher : Indonesian Counselor Association (IKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23916/086180011

Abstract

The rapid evolution of immersive technologies has created new opportunities for innovation in psychological counseling. This article investigates Virtual Reality (VR) as a transformative tool for next-generation counseling, emphasizing its potential to deliver immersive psychological therapy tailored to digital natives. Unlike conventional face-to-face approaches, VR enables controlled, interactive, and safe therapeutic environments that enhance emotional presence, reduce stigma, and improve treatment adherence. Recent studies (2021–2025) highlight VR’s effectiveness in addressing anxiety, phobias, post-traumatic stress, and stress regulation, while also demonstrating its promise for preventive and educational mental health practices. This study employs a systematic literature review supported by pilot case observations to assess the effectiveness and limitations of VR-based counseling. Findings reveal that immersive VR experiences can strengthen client–counselor engagement, foster motivation, and personalize therapeutic pathways through adaptive scenarios and real-time feedback. Moreover, the integration of VR aligns with the vision of Society 5.0, in which human-centered technology addresses complex psychological and social challenges. The study contributes to the growing discourse on digital mental health by positioning VR not merely as a supplementary medium but as a paradigm shift in counseling practice. Future research directions include the development of scalable VR platforms for clinical, educational, and community-based interventions, alongside critical considerations of accessibility, ethics, and long-term psychological outcomes
Paradigma augmented reality dalam pelatihan olahraga: studi konseptual tentang cognitive load theory alzet Rama; Wiki Lofandri
SCHOULID: Indonesian Journal of School Counseling Vol. 10 No. 2 (2025): SCHOULID: Indonesian Journal of School Counseling
Publisher : Indonesian Counselor Association (IKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23916/086248011

Abstract

Revolusi digital secara radikal mengubah cara atlet mempersiapkan diri, dan Augmented Reality (AR) merupakan alat terpenting dalam perubahan ini. teoretis ini mengeksplorasi penerapan augmented reality (AR) dalam pelatihan olahraga, dengan menggunakan Teori Beban Kognitif (CLT) sebagai kerangka kerja untuk menilai dampaknya terhadap beban mental atlet. Evaluasi sistematis terhadap literatur menunjukkan bahwa AR memiliki kemampuan unik untuk mengoptimalkan beban kognitif. Ia secara efisien mengurangi stres mental yang tidak perlu dengan mengubah instruksi yang rumit menjadi petunjuk visual yang mudah dipahami dan terintegrasi secara spasial, yang menghilangkan efek “split-attention”. Di sisi lain, AR meningkatkan beban kognitif yang relevan, yaitu upaya mental yang diperlukan untuk pembelajaran mendalam, dengan memberikan umpan balik real-time dan simulasi visual yang membantu membangun skema motorik yang kuat. Misalnya, dalam angkat beban, Anda dapat menggunakan visualisasi gerakan interaktif untuk membantu mengangkat beban. Dalam senam, dapat menggunakannya untuk memperbaiki postur secara langsung. Namun, masih ada masalah yang perlu diselesaikan, seperti risiko antarmuka yang buruk memperburuk kekacauan kognitif, biaya infrastruktur yang tinggi, dan kebutuhan pengguna untuk beradaptasi. Kami menyimpulkan bahwa integrasi strategis AR dan CLT menyediakan kerangka kerja yang kokoh untuk menciptakan lingkungan pelatihan yang adaptif dan berbasis bukti. Sinergi ini menjanjikan tidak hanya mempercepat proses menguasai kemampuan motorik yang kompleks, tetapi juga membuat jalur menuju performa atletik puncak lebih efisien dan berkelanjutan.
Link and match ke skill-tech-wellness: kerangka konseptual pendidikan vokasi olahraga di era society 5.0 alzet Rama; Wiki Lofandri; Siti Fadillah Sallamah; Rizki Adam
SCHOULID: Indonesian Journal of School Counseling Vol. 9 No. 3 (2024): SCHOULID : Indonesian Journal of School Counseling
Publisher : Indonesian Counselor Association (IKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23916/086306011

Abstract

Era Society 5.0 mentransformasi industri olahraga menjadi ekosistem dinamis yang berpusat pada manusia, teknologi, dan kesejahteraan holistik. Namun, pendidikan vokasi olahraga menghadapi tantangan kesenjangan kompetensi karena kurikulumnya yang konvensional dan tidak selaras dengan tuntutan industri baru. Konsep "Link and Match" tradisional dinilai sudah tidak memadai karena bersifat linear dan mengabaikan penguasaan teknologi serta pendekatan wellness. Penelitian ini merupakan penelitian konseptual dengan pendekatan kualitatif deskriptif-analitis. Data dikumpulkan melalui tinjauan pustaka sistematis terhadap literatur primer dan sekunder terkait Society 5.0, pendidikan vokasi, teknologi olahraga, dan ilmu wellness. Analisis data dilakukan menggunakan analisis isi dan analisis konsep untuk mensintesis temuan dan merumuskan kerangka teoritis baru. Hasil penelitian menghasilkan kerangka konseptual integratif "Skill-Tech-Wellness". Kerangka ini terdiri dari tiga pilar: skill, Kompetensi humanistik dan teknis yang meliputi coaching, manajemen, kewirausahaan, komunikasi, dan pemecahan masalah; tech, Melek dan pemanfaatan teknologi digital seperti wearable device, analitik data, dan kebugaran digital;  wellness, Pendekatan kesehatan holistik yang mencakup aspek fisik, mental, dan sosial. Sinergi dinamis antar ketiga pilar ini menjadi kunci penciptaan lulusan yang unggul. Implementasinya menuntut transformasi kurikulum radikal menjadi berbasis proyek, peningkatan kapasitas dosen, dan pembangunan kemitraan strategis dengan pemain di industri olahraga modern. Kerangka ini merepresentasikan pergeseran paradigma menuju pendidikan vokasi yang futuristik, integratif, dan selaras dengan jiwa Society 5.0.
The quantified athlete in virtual spaces: a theoretical model for integrating VR and biometric data to redefine peak performance training alzet Rama; Wiki Lofandri; siti Fadillah Sallamah
SCHOULID: Indonesian Journal of School Counseling Vol. 9 No. 3 (2024): SCHOULID : Indonesian Journal of School Counseling
Publisher : Indonesian Counselor Association (IKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23916/086355011

Abstract

Artikel ini mengusulkan model teoretis inovatif untuk mengintegrasikan data biometrik atlet (seperti HRV, EEG, EMG) dengan data kinerja dari lingkungan Virtual Reality (VR) dalam sebuah sistem umpan balik tertutup (closed-loop). Evolusi pelatihan atlet telah beralih dari metode tradisional yang subjektif ke pendekatan berbasis data. Namun, sering kali terjadi kesenjangan antara analisis data fisiologis dan data teknis dari VR, yang menghambat pemahaman holistik tentang performa. Model ini dirancang untuk menutup celah tersebut dengan menghubungkan tiga komponen utama: Atlet (sumber data biometrik), Lingkungan Virtual (arena performa), dan Pusat Integrasi Data (The 'Brain'). Pusat ini menggunakan algoritma machine learning untuk menganalisis data secara real-time, mengidentifikasi korelasi misalnya, antara peningkatan detak jantung dan penurunan akurasi, serta memberikan umpan balik instan kepada atlet dan pelatih melalui dashboard atau isyarat dalam VR. Penerapannya dalam berbagai skenario, seperti sepak bola dan tenis, menunjukkan potensi peningkatan performa hingga 30%, percepatan pembelajaran keterampilan, dan pengelolaan kecemasan yang lebih baik. Meski menghadapi tantangan teknis dan etika, model ini membuka peluang bagi pelatihan yang sangat personalisasi, rehabilitasi yang dipercepat, dan pencegahan cedera, sehingga mendefinisikan ulang paradigma pelatihan atlet modern menuju optimasi yang benar-benar holistik.