Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

TERRITORIALITY IN THE UTILIZATION OF POST-REVITALIZATION KAYUTANGAN CORRIDOR Ramadhanty, Fakhita Aulia; Asikin, Damayanti; Santosa, Herry
Journal of Environmental Engineering and Sustainable Technology Vol 12, No 1 (2025)
Publisher : Directorate of Research and Community Service (DRPM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kayutangan Street Corridor in Malang City is a historical area that has been revitalized since 2020, aiming to revive its identity as a heritage public space as well as a commercial corridor of the city. After revitalization, the area's pedestrian path has experienced an increase in function and activity, but it also raises new problems in the form of overlapping spatial use and territorial behavior by various user groups. This study aims to identify the pattern of utilization and territoriality of pedestrian paths formed in the Kayutangan corridor after revitalization. The method used is qualitative descriptive with data collection techniques in the form of placed centered mapping and photography surveys, which are carried out in three corridor distribution zones. The results of the study show that pedestrian paths are used not only for pedestrian mobility, but also social, informal economy, and cultural activities. It was found that there was an overlap of functions on the pedestrian path which eventually formed various kinds of territories, namely the primary territory by the owner of the shop/building, the secondary territory by informal traders, and the public territory by pedestrians and temporary visitors. This phenomenon indicates the existence of spatial conflicts and need for more inclusive space management. The conclusion of this study emphasizes the importance of managing public spaces that are sensitive to social dynamics so that the function of pedestrians as an inclusive urban space can be maintained.
Perancangan Malang Productive Zone dengan Pendekatan Active Living untuk Meningkatkan Aktivitas Gerak Penggunanya Hangayomi, Aurelia Rayya; Asikin, Damayanti
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 13 No. 2 (2025): Jurnal Mahasiswa Arsitektur UB
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kota Malang, yang terletak di Jawa Timur, memiliki populasi sebesar 847.182 orang pada tahun 2023 dengan mayoritas penduduknya berada dalam rentang usia produktif 20-39 tahun. Hal ini disebabkan oleh pertumbuhan ekonomi kota yang mencapai 6,07% pada tahun 2023. Penduduk kota ini sebagian besar terlibat dalam aktivitas produktif seperti bekerja dan belajar, termasuk di ruang kerja bersama (co-working space). Digitalisasi juga mempengaruhi aktivitas kerja dan belajar, dengan meningkatnya produk digital dan kerja jarak jauh atau hybrid. Namun, aktivitas ini memiliki dampak negatif terhadap kesehatan fisik dan mental serta kesejahteraan secara keseluruhan. Ada dua penyakit degeneratif di kota ini, yaitu Diabetes Mellitus (DM) dan hipertensi yang mempengaruhi kondisi kesehatan penduduk. Konsep active living diperlukan untuk meningkatkan tingkat aktivitas fisik. Active Design Guidelines (ADG) diperkenalkan pada tahun 2010 untuk meningkatkan kualitas kesehatan kota. Untuk itu, ketersediaan sebuah zona yang mendukung produktivitas utamanya masyarakat usia produktif Kota Malang dengan desain yang membuat penggunanya tetap aktif bergerak diperlukan untuk meningkatkan kualitas kesehatan dilengkapi fasilitas untuk mendukung gaya hidup sehat pengunjungnya dengan metode strukturalisme.   Kata kunci: active living, co-working space, gaya hidup sehat, ruang produktif
Intergenerational Care Center dengan Pendekatan Arsitektur Biofilik di Kota Surabaya Salsabila, Santika Fitri; Asikin, Damayanti
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 13 No. 2 (2025): Jurnal Mahasiswa Arsitektur UB
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peningkatan jumlah lansia dan partisipasi kerja perempuan memunculkan kebutuhan akan fasilitas yang dapat melayani dua kelompok usia sekaligus, yaitu lansia dan anak-anak. Surabaya Barat sebagai wilayah dengan pertumbuhan tinggi belum memiliki fasilitas terpadu yang menggabungkan panti werdha eksklusif dan day care dalam satu kawasan. Intergenerational Care Center dirancang sebagai solusi untuk menjawab kebutuhan tersebut sekaligus mendorong interaksi sosial antar generasi. Pendekatan arsitektur biofilik digunakan untuk menciptakan suasana yang sehat, alami, dan nyaman melalui penggunaan elemen alam seperti pencahayaan alami, ventilasi silang, ruang terbuka hijau, dan material alami. Selain itu, perancangan dilakukan dengan metode empirisme, yaitu melalui pengamatan langsung terhadap aktivitas pengguna dan kondisi eksisting sebagai dasar dalam merumuskan keputusan desain. Proses perancangan dimulai dari analisis kebutuhan pengguna, tapak, dan fungsi ruang, kemudian dikembangkan menjadi konsep tata massa, zonasi, dan perancangan ruang yang seimbang antara fungsi interaksi dan privasi. Diharapkan perancangan ini dapat menjadi alternatif fasilitas sosial yang mendukung kesejahteraan fisik dan psikologis bagi lansia dan juga anak-anak.   Kata kunci: intergenerational care center, lansia, anak-anak, arsitektur biofilik
Eduwisata Budidaya Tambak dengan Pendekatan Arsitektur Berkelanjutan di Kabupaten Sidoarjo Putri, Annida Nisrina; Asikin, Damayanti
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 13 No. 2 (2025): Jurnal Mahasiswa Arsitektur UB
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sidoarjo memiliki potensi yang tinggi di bidang perikanan, khususnya budidaya tambak. Budidaya ini menjadi mata pencaharian yang banyak diminati oleh masyarakat. Hasil dari budidaya dapat diolah menjadi nilai tambah bagi industri lokal. Namun, budidaya tambak yang tidak dilakukan secara tepat dapat mencemari lingkungan. Air limbah tambak yang dibuang secara langsung tanpa diolah terlebih dahulu dapat berdampak buruk bagi lingkungan. Kandungan senyawa nitrogen dalam bentuk ammonia dan zat organik dalam air limbah yang berasal dari sisa pakan dan hasil metabolisme ikan dapat menurunkan kualitas air. Di sisi lain, pencemaran tersebut juga dapat terjadi karena kurangnya pengetahuan dan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan. Perancangan ini mengusung eduwisata budidaya tambak sebagai wadah edukasi dan rekreasi guna mengurangi kerusakan lingkungan. Metode perancangan yang digunakan adalah arsitektur berkelanjutan dan pragmatis dengan mengeksplorasi alternatif desain berdasarkan identifikasi permasalahan. Hasil dari perancangan berupa eduwisata dengan desain tapak yang berkontribusi membentuk iklim yang sehat melalui sirkulasi dan vegetasi, mengelola air hujan, mengelola limbah dengan TPS dan constructed wetland, serta meningkatkan nilai ekonomi melalui fasilitas komersial, desain bangunan yang menerapkan hemat energi, desain ruang yang efisien, dan desain struktur yang tanggap iklim.   Kata kunci: eduwisata, budidaya, pragmatisme, arsitektur berkelanjutan
Karakter Spasial Bangunan Masjid Jami Adji Amir Hasanoeddin Di Kabupaten Kutai Kartanegara Arsita, Ema Dwi; Titisari, Ema Yunita; Asikin, Damayanti
Action Research Literate Vol. 8 No. 3 (2024): Action Research Literate
Publisher : Ridwan Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46799/arl.v8i3.271

Abstract

Bangunan masjid Jami Adji Amir Hasanoeddin merupakan simbol masuknya agama Islam di Kerajaan Kutai Kartanegara yang sebelumnya merupakan kerajaan Hindu tertua di Indonesia. Masuknya Islam di Kerajaan Kutai tentu membawa pengaruh seperti dibangunnya tempat ibadah. Besarnya antusias masyarakat Kutai untuk memperdalam Ilmu Agama Islam menyebabkan bertambahnya kebutuhan ruang yang awalnya hanya musholla kecil di tepi Sungai Mahakam, hingga dibangunnya Masjid Jami Adji Amir Hasanoeddin. Kini Masjid Jami Adji Amir Hasanoeddin telah ditetapkan sebagai bangunan Cagar Budaya, sehingga penting untuk diteliti bagaimana karakter spasial masjid setelah mengalami pembangunan besar-besaran. Metode penelitian menggunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif dengan observasi dan wawancara terkait keadaan asli bangunan, yang dilandasi dengan teori yang berkaitan dengan karakter spasial. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa pembentuk karakter spasial dalam arsitektur Masjid Timur Tengah menjadi penentu dan katalis bagi proses pembangunan peradaban Islam yang terletak pada fungsi dengan semua dimensinya. Di Nusantara sendiri Islam masuk dan berkembang secara perlahan hingga masuk ke Kalimantan
The Architecture Identity of Jami Adji Amir Hasanoeddin Mosque in Kutai Kartanegara Arsita, Ema Dwi; Titisari, Ema Yunita; Asikin, Damayanti
Journal of Social Research Vol. 3 No. 1 (2023): Journal of Social Research
Publisher : International Journal Labs

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55324/josr.v3i1.1668

Abstract

Jami Adji Amir Hasanoeddin mosque is a symbol of the cultural and historical development of the city, especially regarding the entry of Islam into Kutai Kartanegara. The arrival of Islam in the Kutai kingdom certainly brought great cultural influence and acculturation, including the mosque style. In the context of the development of an increasingly globalized city and as a symbol that supports the image of the city, the architectural identity of the Jami Adji Amir Hasanoeddin Mosque needs to be identified as a guide in facing possible changes. This study used a qualitative method with a descriptive approach. The data were collected through interviews and field observations. The units of observation are determined based on the research framework compiled from the theory of architectural identity. The unit of observation for architectural identity includes spatial organization, time, semantics, design principles, building form, building materials, and context with the environment. From the results of the study, it was found that there was acculturation of Kutai, Javanese, Malay, Middle Eastern, and Dutch Indis architecture from each unit of observation of Architectural Identity.
Bentuk Dan Makna Pada Arsitektur Vernakular Rumah Adat Osing Desa Kemiren, Banyuwangi: Form, Meaning, Environmental Evaluation and Physical Resilience in Vernacular Architecture of Osing Traditional Houses in Kemiren Village Banyuwangi Cendika, Nauval Risla; Antariksa, Antariksa; Asikin, Damayanti
Jurnal Rekayasa Sipil dan Lingkungan Vol. 8 No. 2 (2024): Jurnal Rekayasa Sipil dan Lingkungan
Publisher : Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/jrsl.v8i2.49830

Abstract

Studi ini mengkaji tentang bentuk dan makna pada arsitektur vernakular pada permukiman Osing Desa Kemiren, Banyuwangi. Permukiman Osing Desa Kemiren dipilih menjadi lokasi penelitian berdasarkan keunikan bentuk arsitekturnya yang menarik untuk dieksplorasi. Tujuan kajian ini adalah untuk mendapatkan gambaran tentang bentuk arsitekturnya beserta makna yang terkandung di dalamnya. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan melakukan proses pengambilan data secara langsung melalui observasi dan wawancara. Data pada penelitian ini dikumpulkan melalui observasi langsung dan wawancara. Hasil observasi dan wawancara tersebut kemudian di analisis secara kualitatif untuk mendapatkan makna yang terkandung di dalamnya. Masyarakat Osing masih menjaga erat nilai dan norm serta tradisi atau adat istiadat masyarakatnya. Permukiman dan rumah-rumah menunjukkan secara arsitektural, menjaga lingkungan dan kelestarian alam serta tidak merusak hutan. Hasil dari kajian ini adalah melihat bentuk arsitektur vernakular rumah adat Osing di Permukiman Osing Desa Kemiren dengan bentuk rumahnya mengadaptasi dan menggunakan bahan alam setempat.
MENELISIK HILANGNYA ‘RUANG TAMU”, MENGIKIS BUDAYA SILATURAHMI Handajani, Rinawati Pudji; Asikin, Damayanti
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 12, No 2 (2025): October
Publisher : Architecture Program Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/lantang.v12i2.88185

Abstract

Ruang tamu pada rumah kecil Indonesia telah bergeser, dari ruang penerima formal menjadi area yang kerap dilebur dengan ruang keluarga karena keterbatasan lahan dan kebutuhan multifungsi. Studi deskriptif-kualitatif ini menelaah sepuluh rumah tipe kecil di Perumahan Bulan Terang Utama, Malang, melalui observasi terstruktur, wawancara, dan pemetaan ruang untuk merekonstruksi hierarki ruang serta alur sirkulasi tamu. Analisis menegaskan dua strategi utama. Strategi pertama mengubah teras depan menjadi ruang tamu semi-terbuka, memendekkan rute tamu, mengurangi paparan ke area privat, serta menambah kapasitas interaksi. Strategi kedua mempertahankan ruang tamu menyatu dengan ruang keluarga, dengan teras berfungsi sebagai limpahan ketika jumlah tamu meningkat. Mekanisme pengatur batas konsisten pada seluruh objek meliputi relokasi area servis, orientasi duduk mengarahkan pandangan menjauh dari kamar tidur, penggunaan partisi ringan atau penataan level lantai, serta pengelolaan bukaan untuk kenyamanan termal dan visual. Dari sisi sosiokultural, strategi tersebut menjaga kesinambungan silaturahmi tanpa renovasi besar, sekaligus menyesuaikan praktik menerima tamu. Penelitian merekomendasikan prinsip penataan peka budaya bagi rumah kecil yaitu sirkulasi tamu terfokus di bagian depan, pembatas visual adaptif, penggunaan furnitur modular, serta aturan penggunaan ruang yang disepakati keluarga. Temuan memberi rujukan bagi perancang, pengembang, dan pemilik untuk mengoptimalkan area depan sebagai zona perantara ramah, efisien, sekaligus melindungi privasi.
Evaluasi Tingkat Kecenderungan Penerapan Tema/Konsep Arsitektur Nusantara Dalam Skripsi Arsitektur Tahun Akademik 2007-2011 Handajani, Rinawati P.; Asikin, Damayanti; Pamungkas, Sigmawan T.; Nugroho, Agung Murti; Astrini, Wulan
RUAS Vol. 10 No. 2 (2012)
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.ruas.2012.010.02.6

Abstract

This study aimed to determine the level of student tendencies in the Department of Architecture FTUB in impelementing Nusantara Architecture in their final task and to knwo the variety of Nusantara Architecture concept that have been implemented by graduates of Department of Architecture FTUB. The limitation of this study is the final task of students of Department of Architecture FTUB within the last 5 years (2007-2011). Evaluation indicators are tendency level of implementing Nusantara Architecture theme/concept which is confined to the theme, isue, approaches and outcomes. Benefits provided from this study, especially for Department of Architecture FTUB are to evaluate the success of the curriculum to enhance competency in accordance with the vision and mission of the department, as a guide for the improvement and development of curriculum-based Nusantara Architecture, as a guide in the development of lecturing materials by each laboratory. Besides, it is expected to provide benefits to other departments in the FTUB to evaluate the successful in implementing curriculum to improve the competence of graduates.Keywords: Final task, tendency level, Nusantara Architecture
Identifikasi Konsep Arsitektur Hijau di Permukiman DAS Brantas Kelurahan Penanggungan Malang Asikin, Damayanti; Handajani, Rinawati P.; Pamungkas, Sigmawan Tri; Razziati, Haru A.
RUAS Vol. 11 No. 1 (2013)
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.ruas.2013.011.01.6

Abstract

The review was conducted to identify the concept of green architecture in the area of settlement on Watershed (DAS) Brantas Malang as informal settlements. Using the Theory of Ekistics - Doxiadis, acquisition search results of initial study settlements forming elements such as: a) Nature: rivers, topography, green open space, building orientation, and building density; b) Shells: housing / residential and public facilities; and c) Networks: drainage system, toilets, utility networks. Parameters used green architecture concept based on the concept of green architecture for residential and Greenship Rating Tools For Building Built Version 1.0.O. The natural environment have 2 parameters with a maximum value of 4; the protection element have 2 parameters with a maximum value of 2, and the network element have 4 parameters with a maximum value of 10. Assessment parameters on the protection element reaches a maximum value of 1.5 from 2 or 75% due to the utilization of the potential of the river as a public facility - Recreational fishing is also using the building with natural materials and shaped shelter is open. While actual network elements is the dominant element in this region does not reach the maximum value has not been used optimally due to the natural potential, especially rivers, to improve environmental quality. While elements of the natural environment to obtain the smallest value due to the relatively high density of buildings and the neighborhood was developed without planning.Keywords: concept of green architecture, Brantas Watershed Settlement, Malang