Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Makna Kultural dalam Lirik Lagu Batak “Pulo Samosir” Karya Nahum Situmorang: Kajian Antropolinguistik Basaria, Ida; Ramadhani, Saskia; Budiman, Ulfiyah; Rahma, Naiya Ar
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 10 No. 2 (2026): Agustus
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v10i2.38132

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya melestarikan lirik lagu tradisional sebagai teks budaya yang menyimpan kekayaan makna kultural, khususnya pada karya musisi legendaris Batak Toba, Nahum Situmorang. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis makna kultural dalam lirik lagu “Pulo Samosir” melalui perspektif antropolinguistik. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa metode simak bebas libat cakap dan catat. Hasil penelitian menunjukkan adanya empat kategori makna kultural utama: keterikatan mendalam terhadap tanah leluhur, representasi kekayaan alam dan mata pencaharian agraris, peran kuliner tradisional (tuak) dalam interaksi sosial, serta filosofi kematian dan penghormatan leluhur. Simpulannya, lagu ini berfungsi sebagai dokumen kultural yang merekam nilai-nilai filosofis masyarakat Batak Toba. Penelitian ini merekomendasikan integrasi lagu tradisional dalam pembelajaran muatan lokal untuk memperkuat pelestarian budaya daerah.
Makna Kultural dalam Lirik Lagu Batak “Pulo Samosir” Karya Nahum Situmorang: Kajian Antropolinguistik Basaria, Ida; Ramadhani, Saskia; Budiman, Ulfiyah; Rahma, Naiya Ar
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 10 No. 2 (2026): Agustus
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v10i2.38182

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya melestarikan lirik lagu tradisional sebagai teks budaya yang menyimpan kekayaan makna kultural, khususnya pada karya musisi legendaris Batak Toba, Nahum Situmorang. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis makna kultural dalam lirik lagu “Pulo Samosir” melalui perspektif antropolinguistik. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa metode simak bebas libat cakap dan catat. Hasil penelitian menunjukkan adanya empat kategori makna kultural utama: keterikatan mendalam terhadap tanah leluhur, representasi kekayaan alam dan mata pencaharian agraris, peran kuliner tradisional (tuak) dalam interaksi sosial, serta filosofi kematian dan penghormatan leluhur. Simpulannya, lagu ini berfungsi sebagai dokumen kultural yang merekam nilai-nilai filosofis masyarakat Batak Toba. Penelitian ini merekomendasikan integrasi lagu tradisional dalam pembelajaran muatan lokal untuk memperkuat pelestarian budaya daerah.
Umpasa dan Nilai Budaya Mangalahat Horbo: Kajian Antropolinguistik Basaria, Ida; Hutabarat, Gaby Gabriela; Habeahan, Marta Erinda; Sembiring, Gressella Sesinta
Realisasi : Ilmu Pendidikan, Seni Rupa dan Desain Vol. 3 No. 2 (2026): April: Realisasi : Ilmu Pendidikan, Seni Rupa dan Desain
Publisher : Asosiasi Seni Desain dan Komunikasi Visual Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62383/realisasi.v3i2.1094

Abstract

This article examines umpasa as the determinant of the validity of the Mangalahat Horbo ritual and as a vehicle for transmitting the cultural values of the Batak Toba people from an anthropolinguistic perspective. Mangalahat Horbo is a buffalo sacrifice ritual that functions simultaneously as a cosmological, political, and linguistic event. This study employs a descriptive qualitative approach using three theoretical frameworks: Dell Hymes' (1974) SPEAKING model to analyze the ritual as a speech event, Roland Barthes' (1968) semiotics to dissect the denotative and connotative meanings of umpasa, and Kluckhohn's (1953) theory of cultural values and Sibarani's (2014) local wisdom theory to identify embedded cultural values. The findings reveal that umpasa operates on three simultaneous layers of meaning: pragmatic-performative, social-hierarchical, and cosmological-ecological. Umpasa is not merely an aesthetic ornament but a constitutive element of the ritual that shapes the social and cosmological reality of the Bius community. Eight cultural values are identified: communicative courtesy, adat knowledge transmission, self-restraint, collective responsibility, cultural preservation, cosmological reciprocity, distributive justice, and ecological harmony. This study affirms the urgency of anthropolinguistic documentation of Mangalahat Horbo before the Parhata masters of umpasa diminish further.