Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

Job Crafting dan Dukungan Organisasi dengan Komitmen Organisasi pada Karyawan Rosari, Amelia Putri; Diah Sofiah; Hikmah Husniyah Farhanindya
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 5 No. 3: April 2026
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/j-ceki.v5i3.15244

Abstract

Perkembangan lingkungan kerja yang semakin dinamis menuntut karyawan untuk mampu menyesuaikan diri melalui inisiatif pribadi dalam menjalankan peran kerjanya, sekaligus memerlukan adanya dukungan organisasi agar keterikatan kerja dapat dipertahankan dalam jangka panjang. Namun, pada praktiknya, komitmen organisasi karyawan tidak selalu berada pada tingkat yang optimal. Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menelaah hubungan antara job crafting dan dukungan organisasi terhadap komitmen organisasi karyawan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Seluruh populasi dijadikan sampel melalui teknik sampling jenuh dengan jumlah responden sebanyak 107 karyawan. Teknik analisis data yang digunakan adalah regresi linier berganda. Hasil analisis menunjukkan bahwa job crafting dan dukungan organisasi secara simultan berhubungan signifikan dengan komitmen organisasi (F = 82,426; p < 0,01). Secara parsial, job crafting terbukti memiliki hubungan yang signifikan dengan komitmen organisasi (t = 5,613; p < 0,01), sedangkan dukungan organisasi tidak menunjukkan hubungan yang signifikan (t = 0,599; p > 0,05). Temuan ini menunjukkan bahwa komitmen organisasi lebih dipengaruhi oleh inisiatif internal karyawan dalam membentuk pekerjaannya dibandingkan oleh persepsi terhadap dukungan organisasi.  
Perilaku Konsumtif Pengguna E-Commerce Shopee: Bagaimana Peran Gaya Hidup Hedonis dan Kontrol Diri? Talitha Adriyanti Zabrina; Diah Sofiah; Hikmah Husniyah Farhanindya
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 3 No. 03 (2025): September
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractConsumptive behavior can result in waste, anxiety and feelings of insecurity in individuals. Consumer behavior in individuals can be influenced by various factors, including hedonic lifestyle and self-control. This research aims to analyze the relationship between hedonic lifestyle and self-control and consumer behavior among Shopee e-commerce users. The type of research used is quantitative correlational with multiple regression analysis techniques. There were 282 participants in this research. The research results show that hedonic lifestyle and self-control have a very significant relationship with consumer behavior, shown by obtaining a significance value of 0.000 (p<0.01). Partially, hedonic lifestyle shows a t value of 11.296 with a significance of 0.000 (p<0.01). This means that there is a very significant positive relationship between hedonic lifestyle and consumer behavior. Meanwhile, self-control shows a t value of -3.114 with a significance of 0.002 (p<0.01). This means that there is a very significant negative relationship between self-control and consumer behavior.Keywords: Consumptive Behavior; Hedonistic Lifestyle; Self-Control; Shopee usersAbstrakPerilaku konsumtif dapat mengakibatkan timbulnya pemborosan, kecemasan, hingga perasaan tidak aman pada individu. Perilaku konsumtif pada individu dipengaruhi oleh berbagai macam faktor diantaranya yaitu gaya hidup hedonis dan kontrol diri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara gaya hidup hedonis dan kontrol diri dengan perilaku konsumtif pada pengguna e-commerce Shopee. Jenis penelitian yang digunakan yaitu kuantitatif korelasional dengan teknik analisis regresi ganda. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 282 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gaya hidup hedonis dan kontrol diri memiliki hubungan sangat signifikan dengan perilaku konsumtif, ditunjukkan melalui perolehan nilai signifikansi sebesar 0,000 (p<0,01). Secara parsial, gaya hidup hedonis menunjukkan nilai t sebesar 11,296 dengan signifikansi 0,000 (p<0,01). Artinya ada hubungan positif yang sangat signifikan antara gaya hidup hedonis dengan perilaku konsumtif. Sementara kontrol diri menunjukkan nilai t sebesar -3,114 dengan signifikansi 0,002 (p<0,01). Artinya ada hubungan negatif yang sangat signifikan antara kontrol diri dengan perilaku konsumtif.Kata kunci: Perilaku Konsumtif; Gaya Hidup Hedonis; Kontrol Diri; Pengguna Shopee
Work Engagement pada Guru: Bagaimana Peranan Stress Kerja dan Resiliensi? Assyifa Rizqiyah Mufti; Diah Sofiah; Yanto Prasetyo
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 3 No. 03 (2025): September
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractThis study aims to determine the relationship between job stress and resilience with work engagement in teachers at the Attarbiyah Surabaya College Foundation. This research is a type of quantitative research using multiple regression analysis research. The subjects in this study were 123 teachers at the Attarbiyah Surabaya College Foundation. The data collection method was carried out through distributing questionnaires using a Likert scale. The results obtained simultaneously show a coefficient of 18,313 with a significance of 0.000 <0.01, which means that there is a positive relationship between job stress and resilience with work engagement. The results obtained in partial regression of work stress with work engagement show a coefficient of -2.178 with a significance of 0.031 <0.05 which means that the lower the work stress, the higher the work engagement, in partial regression between resilience and work engagement shows a coefficient of 4.757 with a significance of 0.000 <0.05 which meansthat the higher the resilience, the higher the work engagement.Keywords: Work stress, Resilience, Work Engagement, Attarbiyah College FoundationAbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara stress kerja dan resiliensi dengan work engagement pada guru di Yayasan perguruan Attarbiyah Surabaya. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif dengan menggunakan penelitian analisis regresi berganda . Subjek dalam penelitian ini sebanyak 123 Guru di Yayasan perguruan Attarbiyah Surabaya. Metode pengumpulan data yang dilakukan melalui penyebaran kuesioner meggunakan skala likert. Adapun hasil yang diperoleh secara simultan menunjukkan koefiesien 18.313 dengan signifikansi 0.000 <0.01 yang artinya terdapat hubungan positif antara stres kerja dan resiliensi dengan work engagement. Adapun hasil yang diperoleh secara regresi parsial stress kerja dengan work engagement menunjukkan koefisien -2.178 dengan signifikansi 0.031 < 0.05 yang artinya rendah stress kerja maka semakin tinggi work engagement, secara regresi parsial antara resiliensi dengan work engagement menunjukkan koefisien 4.757 dengan signifikansi 0.000 < 0.05 yang artinya semakin tinggi resiliensi maka semakin tinggi juga work engagement.Kata kunci: Stres kerja, Resiliensi, Work Engagement, Yayasan Perguruan Attarbiyah
Hubungan Work Life Balance dan Self Efficacy dengan Organizational Citizenship Behavior pada Karyawan Marsella Margaretha; Diah Sofiah; Yanto Prasetyo
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 3 No. 03 (2025): September
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractCompanies currently are facing the challenge of improving organizational performance through more proactive employee behaviors, such as Organizational Citizenship Behavior, which not only depends on the achievement of primary tasks but also on additional contributions that benefit the organization. Several factors are believed to influence Organizational Citizenship Behavior, such as Work Life Balance and Self Efficacy. However, the relationship between these three factors has not been extensively explored, particularly within the context of organizations in Indonesia. Organizational Citizenship Behavior is one form of voluntary behavior that is highly beneficial to companies. Using a quantitative approach, data was collected from employees as respondents. The results of the study indicate a significant relationship between Work Life Balance and Self Efficacy with Organizational Citizenship Behavior. Employees with a high level of Work Life Balance tend to have higher Self Efficacy, which in turn increases the likelihood of exhibiting Organizational Citizenship Behavior. Data analysis was conducted using multiple linear regression to examine the relationships between variables. The results show that both Work Life Balance and Self Efficacy have a strong positive relationship with Organizational Citizenship Behavior (R = 0.694, p < 0.05). Overall, this study suggests that companies should maintain a positive work environment to ensure that levels of Work Life Balance, Self Efficacy, and Organizational Citizenship Behavior among employees remain high.Keywords: Organizational Citizenship Behavior, Self Efficacy, Work Life BalanceAbstrakPerusahaan saat ini menghadapi tantangan dalam meningkatkan kinerja organisasi melalui perilaku yang lebih proaktif dari karyawan, seperti Organizational Citizenship Behavior, yang tidak hanya bergantung pada pencapaian tugas utama, tetapi juga kontribusi tambahan yang bermanfaat bagi organisasi. Beberapa faktor yang diduga mempengaruhi Organizational Citizenship Behavior adalah Work Life Balance serta Self Efficacy. Namun, hubungan antara ketiga faktor ini belum banyak dieksplorasi secara mendalam, khususnya dalam konteks organisasi di Indonesia. Organizational Citizenship Behavior merupakan salah satu bentuk perilaku sukarela yang sangat menguntungkan bagi perusahaan. Melalui pendekatan kuantitatif, data dikumpulkan dari responden yang merupakan karyawan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara Work Life Balance dan Self Efficacy dengan Organizational Citizenship Behavior. Karyawan dengan Work Life Balance yang tinggi cenderung memiliki Self Efficacy yang lebih tinggi pula, sehingga meningkatkan kecenderungan munculnya perilaku Organizational Citizenship Behavior. Analisis data dilakukan menggunakan regresi linier berganda untuk menguji hubungan antara variabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Work Life Balance dan Self Efficacy memiliki hubungan positif yang sangat signifikan dengan Organizational Citizenship Behavior (R = 0,694, p < 0,05). Secara keseluruhan, penelitian ini menyarankan agar perusahaan dapat mempertahankan lingkungan kerja yang positif agar tingkat Work Life Balance, Self Efficacy, dan Organizational Citizenship Behavior pada kalangan pekerja tetap tinggi.Kata kunci: Organizational Citizenship Behavior, Self Efficacy, Work Life Balance
Kontribusi Kepemimpinan Transformasional dan Resiliensi dengan Burnout pada Karyawan Bomantara Haryono; Diah Sofiah; Yanto Prasetyo
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 3 No. 03 (2025): September
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractThis research aims to analyze the relationship between relationship transformasional leadership, resilience, and burnout. Burnout is often a problem for workers. Through a quantitative approach, data was collected from workers who work. The research results show that there is a significant relationship between transformational leadership and resilience and Burnout. Workers with high levels of transformational leadership tend to have high resilience, thereby reducing the tendency to burnout. Data analysis was carried out using multiple linear regression to test the relationship between variables. The research results show that transformational leadership and resilience have a significant negative relationship with Burnout workers (R = 0.945, p < 0.05). These findings are expected to provide insight for the development of intervention programs aimed at increasing transformational leadership and resilience and reducing burnout in workers.Keywords: Burnout, Resilience, Transformational LeadershipAbstrakPerusahaan saat ini menghadapi tantangan dalam kinerja organisasi melalui perilaku yang lebih proaktif dari karyawan, seperti kepemimpinan transformasional, tetapi juga juga kontribusi tambahan yang bermanfaat bagi perusahaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa adanya hubungan antara kepemimpinan transformasional, resiliensi, dan burnout pada pekerja MyRepublic Surabaya. Burnout sering kali menjadi masalah bagi pekerja. Setelah melakukan hasil uji mean empirik dan mean hipotetik, terbukti bahwa banyak pekerja MyRepublic yang mengalami burnout. Melalui pendekatan kuantitatif, data dikumpulkan dari pekerja . Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara kepemimpinan transformasional dan resiliensi dengan burnout. Pekerja dengan kepemimpinan transformasional yang tinggi cenderung memiliki resiliensi yang tinggi, sehingga mengurangi kecenderungan burnout. Analisis data dilakukan menggunakan regresi linier berganda untuk menguji hubungan antara variabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan transformasional dan resiliensi memiliki hubungan negatif yang signifikan dengan Burnout pada pekerja (R = 0,945 p < 0,05). Temuan ini diharapkan dapat memberikan wawasan bagi pengembangan program intervensi yang bertujuan untuk meningkatkan kepemimpinan transformasional dan resiliensi serta mengurangi burnout pada pekerja.Kata kunci: Burnout, Resiliensi, Kepemimpinan Transformasional
Why generation Z stays: The power of resilience and organizational commitment in reducing turnover intention Diah Sofiah; Erlin Nur Puspasari
Insight: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol. 27 No. 2 (2025): AUGUST 2025
Publisher : Universitas Mercu Buana Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26486/psikologi.v27i2.4463

Abstract

This study aims to examine the mediating role of organizational commitment in the relationship between resilience and turnover intention among Generation Z employees in Indonesia. Previous research have shows resilience directly reduces turnover intention, while others find this effect is mediated by work engagement. This inconsistency highlights the need to explore mediating mechanisms, such as organizational commitment, in the resilience-turnover intention relationship. The study involved 193 Gen Z employees from a multinational corporation, with data collected through established and reliable measures of resilience(α = .962), organizational commitment ( α=.921) and turnover intention (α= .871). Mediation analysis conducted using JASP software revealed that resilience significantly decreased turnover intention through the pathway of continuance commitment (Z = –3.709, p < .001). In contrast, affective and normative commitments did not demonstrate significant mediating effects. Drawing Upon Conservation of Resources (COR) Theory, these findings suggest that Generation Z employees’ retention is primarily driven by concerns over potential losses of valuable resources, such as financial stability and career development opportunities, rather than affective or normative attachments to the organization. This study underscores the critical role of organizational commitment as a mechanism for retaining Gen Z employees and highlight that retention strategies should prioritize on enhancing resource-based incentives and reducing perceived resource loss rather than solely  fostering emotional or normative engagement
Work Life Balance (WLB) dengan Kepuasan Kerja pada Guru Adzani Inez Arisandy; Diah Sofiah; Hikmah Husniyah Farhanindya
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 3 No. 04 (2025): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Teachers play various professional roles that can influence their work-life balance, which in turn affects job satisfaction. This study aims to examine the relationship between work-life balance and job satisfaction among teachers. A quantitative correlational approach was used. The subjects consisted of 47 teachers from SMPN 1 Ngronggot, Nganjuk, selected using the total sampling technique. The instruments used were the Work-Life Balance Scale by Fisher et al. (2009) and the Job Satisfaction Scale by Lester (1987). Data were analyzed using Pearson product-moment correlation. The results showed a significant positive relationship between work-life balance and job satisfaction (r = 0.407; p = 0.005). The higher the work-life balance, the higher the teachers’ job satisfaction. These findings highlight the importance of work-life balance in supporting teacher well-being and work performance. Keywords: job satisfaction; life balance; organizational psychology; teacher; work life balance Abstrak Guru menjalankan berbagai peran profesional yang dapat memengaruhi work life balance, akhirnya berpengaruh pada kepuasan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara work life balance dengan kepuasan kerja pada guru. Menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional. Sebanyak 47 guru SMP Negeri 1 Ngronggot, Nganjuk yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Instrumen yang dipakai adalah skala work life balance dari Fisher et al. (2009) dan skala kepuasan kerja dari Lester (1987). Analisis data dengan korelasi pearson product moment. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara work life balance dan kepuasan kerja (r = 0,407; p = 0,005). Semakin tinggi work life balance, semakin tinggi pula kepuasan kerja guru. Temuan ini menunjukkan pentingnya work life balance dalam mendukung kesejahteraan dan performa kerja guru. Kata kunci: guru; keseimbangan hidup; kepuasan kerja; psikologi organisasi; work life balance
Work Life Balance dan Kepuasan Kerja: Studi pada Karyawan Industri Manufaktur Nylam Cahya Sridevianti; Diah Sofiah; Hikmah Husniyah Farhanindya
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 3 No. 04 (2025): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Employees face pressure to simultaneously fulfill both professional and personal roles. An imbalance between these two can affect job satisfaction levels. This study aims to analyze the relationship between work-life balance and job satisfaction for employees. The method used was a quantitative correlational method through purposive sampling, involving 150 employees. The instruments used included the Hayman work-life balance scale and the Weiss job satisfaction scale, which have undergone validity and reliability testing. Analysis conducted using Pearson correlation showed a significant positive relationship between work-life balance and job satisfaction (r = 0.348; p = 0.000). This finding suggests that the better the work-life balance perceived by employees, the higher their job satisfaction. Therefore, organizations should pay attention to managing work-life balance to improve employee well-being. Keywords: Work Life Balance, Job Satisfaction, Employees, Industrial Psychology Abstrak Karyawan menghadapi tekanan untuk melaksanakan peran profesional dan pribadi secara bersamaan. Ketidakseimbangan antara kedua hal tersebut dapat mempengaruhi tingkat kepuasan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keterkaitan antara keseimbangan kehidupan kerja dan kepuasan kerja bagi karyawan. Metode yang diterapkan adalah kuantitatif korelasional melalui teknik purposive sampling, melibatkan 150 pegawai. Alat yang digunakan meliputi skala keseimbangan kerja-hidup (Hayman) dan skala kepuasan kerja (Weiss), yang sudah melalui pengujian validitas dan reliabilitas. Analisis yang dilakukan dengan korelasi Pearson menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara keseimbangan kerja dan kepuasan pekerjaan (r = 0,348; p = 0,000). Penemuan ini menunjukkan bahwa semakin baik keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan yang dirasakan oleh karyawan, semakin tinggi juga kepuasan kerja mereka. Sehingga, organisasi harus memperhatikan pengelolaan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi untuk meningkatkan kesejahteraan karyawan. Kata kunci: Work Life Balance, Kepuasan Kerja, Karyawan, Psikologi Industri
Niat Resign di Tengah Burnout dan Karier Tanpa Arah Salwa Nur Azizah; Diah Sofiah; Yanto Prasetyo
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 3 No. 04 (2025): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract This study discusses the psychological conditions of employees related to career stagnation and work fatigue in the context of the intention to leave the job. The purpose of this research os to determine whether career plateau and burnout contribute to triggering turnover intention among employees. This study employeed a quantitative correlational design involing 169 employees of a private bank in Surabaya. The instruments used were the career plateau scale, burnout scale, and turnover intention scale. Data were analysed using Spearman Rho correlation. The findings indicate that career plateau and burnout have a positive relationship with turnover intention. These results highlight the importance of organizational attention to career development and psychological well- being as a preventive effort against employees’ intention to resign. Keywords: burnout, career plateau, employees, turnover intention Abstrak Penelitian ini membahas kondisi psikologis karyawan yang berkaitan dengan stagnasi karier dan kelelahan kerja dalam konteks niat untuk keluar dari pekerjaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah career plateau dan burnout berperan dalam memicu turnover intention pada karyawan. Penelitian menggunakan desain kuantitatif korelasional dengan 169 karyawan bank swasta di Surabaya sebagai subjek. Instrumen yang digunakan meliputi skala career plateau, burnout, dan turnover intention. Teknik analisis data menggunakan korelasi Spearman Rho. Hasil penelitian menunjukkan bahwa career plateau dan burnout memiliki hubungan positif dengan turnover intention. Temuan ini menegaskan pentingnya perhatian organisasi terhadap pengembangan karier dan kesejahteraan psikologis sebagai langkah pencegahan terhadap niat keluar dari pekerjaan. Kata kunci: burnout, career plateau, karyawan, turnover intention
Peran Kepuasan Kerja dalam Perilaku Quiet Quitting pada Karyawan Generasi Z Mohamad Rizky al Fazri; Diah Sofiah; Yanto Prasetyo
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 3 No. 04 (2025): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Quiet quitting is a workplace phenomenon that describes employees who work only according to their formal job descriptions without emotional involvement or additional contributions. This phenomenon frequently occurs among Generation Z, who have high expectations for job satisfaction. Job satisfaction is believed to play a role in reducing the tendency toward quiet quitting. This study aims to examine the relationship between job satisfaction and quiet quitting among Generation Z employees. The research used a quantitative correlational method involving 113 Generation Z employees aged 18–28 years, selected through purposive sampling. The instruments used include a job satisfaction scale and a quiet quitting scale. The results show a significant negative correlation between job satisfaction and quiet quitting (r = -0.482, p < 0.01). This indicates that the higher the job satisfaction, the lower the tendency for quiet quitting among Generation Z employees. Keywords : Generation z, Job Satisfaction, Quiet Quitting behavior Abstrak Quiet quitting adalah fenomena kerja yang menggambarkan perilaku karyawan hanya bekerja sesuai tugas formal tanpa keterlibatan atau kontribusi lebih. Fenomena ini kerap terjadi pada Generasi Z yang memiliki ekspektasi tinggi terhadap kepuasan kerja. Kepuasan kerja diyakini berperan dalam mencegah kecenderungan quiet quitting. Penelitian ini tujuannya guna memahami hubungan diantara kepuasan kerja dan quiet quitting atas karyawan Generasi Z. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif korelasional dengan melibatkan 113 responden karyawan Generasi Z dengan rentang umur 18-28 tahun. Pengambilan sampel secara purposive sampling. Alat ukur yang dipakai meliputi skala kepuasan kerja dan skala quiet quitting. Hasil analisis menunjukkan ada korelasi negatif yang signifikan antara kepuasan kerja dan quiet quitting (r = -0,482, p<0,01). Artinya, semakin tinggi kepuasan kerja, maka semakin rendah kecenderungan quiet quitting pada karyawan Generasi Z. Kata Kunci : Generasi Z, Kepuasan kerja, Quiet Quitting