Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Demokrasi di Indonesia: Pancasila sebagai Kontekstualisasi Demokrasi Bolo, Andreas Doweng
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 34 No. 2 (2018)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (385.83 KB) | DOI: 10.26593/mel.v34i2.3389.145-167

Abstract

A critical outlook on democracy in general and Pancasila Democracy in particular is a necessary reflection through the course of times. This paper examines Pancasila democracy in descriptive ways as well as prescriptive way. These approaches are an attempt to explore Pancasila democracy as an open ideology in its essence. In Indonesia’s history, Pancasila democracy was once used as a tool to legitimize power. However, discourses on the subject matter in its nature must be done in the diversity of rational arguments and cannot depend on the interpretations of the ruler alone. When democracy is isolated from rational discourses, it can get caught up in various problems such as “money politics” and “identity politics” which eventually destroy democracy itself. This article portrays the dynamics of democracy in Indonesia, both in its formal settings and as a building that allows humanity reach its dignity. Pancasila Democracy can be a space for a change towards Indonesia that is more animating to the spirit of divinity, humanity, and nationalism and towards a society with solid physical and spiritual well-being.
Pemikiran Filosofis (di) Indonesia: Sebuah Telaah Hermeneutis Bolo, Andreas Doweng
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 35 No. 2 (2019)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (287.764 KB) | DOI: 10.26593/mel.v35i2.4039.159-173

Abstract

Tracing the history of philosophical thoughts in Indonesia might lead to the fact that they build up from the daily experiences of Indonesian people. Philosophical thoughts are born of real situations lived by the people responding to the challenges in their lives. In the effort of tracing the history, one may find the courageous leaders of colonial era and the thinkers emerging after the colonial era who speak against the suppression of humanity in any form, whether in the context of politics, religion, culture, or economy. Indonesian thinkers are people who are fearless and devoting their lives to humanity. This may remind one of the classic slogan sapere aude (dare to think for themselves). In this article, the author correlates experiences, theories, and possibilities towards the future concerning the emergence of philosophical thoughts in Indonesia from a hermeneutical viewpoint. This article walks through the course of outlining an understanding of philosophy, applying hermeneutics to correlate the philocophical outline with the thoughts of Indonesian thinkers, and showing new perspective in seeing the dynamics of philosophical thoughts in Indonesia.
MASYARAKAT JEJARING (NETWORK SOCIETY) SEBUAH UPAYA PENGUATAN DEMOKRASI PANCASILA MENUJU PEMILIHAN UMUM 2024 Bolo, Andreas Doweng
Jurnal Pembumian Pancasila Vol 3 No 1 (2023): Urgensi Kepemimpinan Pancasila dalam Kaitannya dengan Tahun Politik Kebangsaan
Publisher : Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Pembumian Pancasila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemilihan umum (pemilu) merupakan salah satu praktik demokrasi. Secara kuantitatif pemilu merupakan sebuah praktik demokrasi paling masif karena melibatkan berbagai perangkat negara dan rakyat dalam jumlah besar. Ada berbagai telaahan tentang pemilu 2024 yang telah bergulir sejak Juni 2022. Tulisan ini merupakan sebuah kajian filosofis dengan memakai metode strukturasi yang dikembangkan Anthony Giddens. Model ini akan membantu merefleksikan realitas pemilu di tengah teknologi informasi yang berkembang pesat. Dunia di satu sisi berada dalam situasi yang oleh Anthony Giddens disebut ontological security tetapi di sisi lain juga berada dalam high-consequence risk. Mencermati pemilu di abad digital yang semakin canggih ini juga menjadi bagian dari refleksi filsafat. Agar pemilu menjadi ajang membangun kedewasaan menuju Indonesia yang lebih sejahtera, adil, dan makmur.
MODEL KEPEMIMPINAN INDONESIA DI TENGAH POLITIK UANG (MONEY POLITICS): SEBUAH REFLEKSI FILOSOFIS TERHADAP PEMILU 2024 Bolo, Andreas Doweng
Jurnal Pembumian Pancasila Vol 4 No 2 (2024): Kepemimpinan Pancasila dalam Pemerintahan Baru
Publisher : Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Pembumian Pancasila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 telah dilalui dengan lancar sesuai tahapan-tahapan yang sudah ditetapkan. Hasil Pemilu di ranah eksekutif dan legislatif telah diumumkan dan diterima publik setelah melewati berbagai mekanisme gugatan. Di level proses demokrasi prosedural bisa dikatakan semuanya berjalan baik sesuai dengan norma-norma yang ditetapkan. Namun, ada satu persoalan yang terus menjadi perdebatan dan masalah serius di negeri ini yakni politik uang (money politics) atau jual beli suara, termasuk di dalam aspek ini adalah patronase (pork-barrel) dan klientelisme. Pertanyaan pokok, yaitu apakah dari pemilu ke pemilu, politik uang semakin berkurang atau semakin marak dipraktikan? Tulisan, Lucky Djani berjudul “Peran Uang dalam Demokrasi Elektoral” menunjukkan praktik politik uang marak terjadi di pemilu 2014. Sedangkan kajian terhadap politik uang pada Pemilu 2019 secara kuantitatif dilakukan dengan sangat mendalam oleh Burhanuddin Muhtadi dalam karyanya berjudul “Votes for Sale-Klientelisme, Defisit Demokrasi, dan Institusi”. Dua kajian ini memperlihatkan tentang maraknya politik uang baik di pemilu 2014 dan 2019. Pertanyaannya, apakah politik uang terjadi lagi pada pemilu 2024 yang baru saja dilewati oleh bangsa Indonesia? Pertanyaan substantif berikut yang perlu didalami yaitu, mengapa politik uang terjadi? Dan akhirnya pertanyaan berikut, bagaimana model kepemimpinan untuk meredam praktik ini? Berbagai kajian dan sejarah menunjukkan bahwa politik uang merusak sendi-sendi kehidupan bersama. Situasi ini juga menjadi lingkaran setan yang merusak demokrasi yang bertujuan demi terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Moderasi Beragama: Menghidupkan Ruang Pertemuan Antar Umat Beragama bagi Gen-Z di Wilayah Cinunuk Kecamatan Cileunyi Andreas Doweng Bolo; Oscar Yasunari; Topik Mulyana; Sophan Ajie
Jurnal Pengabdian Masyarakat Waradin Vol. 5 No. 2 (2025): Jurnal Pengabdian Masyarakat Waradin
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Pariwisata Indonesia Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56910/wrd.v5i2.645

Abstract

Religious moderation has become a serious concern for the government as it strives to maintain interfaith harmony in Indonesia. In 2019, the Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia published a book entitled Moderasi Beragama (Religious Moderation). In this publication, it is explained that the term “moderation” is derived from the Latin word denoting “balance” or “moderation” and from the Arabic term wasath or wasathiyah, which signifies centrality, fairness, and equilibrium. To achieve this ideal, it is necessary to design and expand interfaith meeting spaces – especially those aimed at young people (Generation Z) from diverse religious and belief backgrounds. The Cinunuk area is part of the pastoral care of the Santa Odilia-Cicadas Parish in Bandung and is home to approximately 350 Catholic households living in close proximity to their Muslim neighbors. On several occasions, the Catholic community in Cinunuk has organized joint community initiatives, such as free medical services and the distribution of essential food supplies. Furthermore, the Catholic community has previously engaged in interfaith activities with the Gusdurian group and has maintained positive relations with both the Attamur and Azzakiyyah Islamic boarding schools in the Cileunyi sub-district. To further strengthen intercommunal interactions and foster a dynamic dialogue between the Catholic community in Cinunuk and their Muslim counterparts in the region, a collaborative activity has been designed to reinforce the moderate stance that has been consistently practiced.
Mengangkat Pewacanaan Nasionalisme, Pancasila, dan Seni Simanjuntak, Mardohar Batu Bornok; Bolo, Andreas Doweng; Sirait, Asnita
SUBAKTYA: UNPAR COMMUNITY SERVICE JOURNAL Vol. 1 No. 1 (2024): (JULI 2024) SUBAKTYA: UNPAR Community Service Journal
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/sucsj.v1i1.7928.9-19

Abstract

Pengabdian yang menyasar para seniman muda ini dimaksudkan untuk memperkuat landasan ideologis mereka dengan cara menanamkan Pancasila sebagai sebuah ideologi yang kokoh dalam bernegara. Penanaman ideologi ini dilakukan dengan tiga tema yang semuanya membentuk satu kesatuan: bagaimana prinsip Pancasila berperan dalam mengobati luka sejarah, bagaimana menerapkan gagasan besar Pancasila dalam kehidupan sehari-hari lewat aktivitas yang berdampak pada masyarakat luas, dan terakhir bagaimana Pancasila dapat kita pergunakan untuk menafsirkan ulang makna kepahlawanan. Ketiga tema tersebut diberikan lewat seminar daring (webinar) yang dilakukan dengan cara mengundang ketua-ketua komunitas seniman muda atau perwakilannya. Kegiatan yang berlangsung dari bulan September hingga November 2020 ini melibatkan lima orang pakar, tiga orang dari Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (FSRD-ITB), satu orang dari galeri seni WOT BATU, dan satu orang dari Institut Seni Indonesia Padangpanjang (ISI Padangpanjang). Dari pengabdian ini dapat disimpulkan bahwa para seniman yang aktif di dunia seni di Indonesia memiliki kepedulian yang mendalam tentang urgensi Pancasila dalam kaitannya dengan rasa nasionalisme bangsa ini. Dengan kata lain, integrasi Pancasila bukan hanya sebuah kewajaran, melainkan sebuah keharusan.
The Power of Religion in Indonesia’s Public Sphere Discourses – A Philosophical Perspective Doweng Bolo, Andreas; Borgias, Fransiskus
Sapientia Humana: Jurnal Sosial Humaniora Vol 5 No 01 (2025)
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/jsh.v5i01.9548

Abstract

Makalah ini merupakan kajian tentang pembentukan dan praktik agama diskursif dalam ranah publik Indonesia. Agama merupakan salah satu dimensi fundamental dalam struktur politik Indonesia. Oleh karena itu, agama perlu direfleksikan secara rasional dan terbuka agar tidak terjebak pada pandangan eksklusif yang dapat mengarah pada fundamentalisme dan radikalisme. Filsafat telah menjadi mitra dalam diskusi agama sejak Era Yunani, diperkuat pada Abad Pertengahan, diperdebatkan pada Era Modern, dan mengalami proses redefinisi pada Era Postmodern. Eksplorasi kekuasaan agama dalam teks dan konteks Indonesia dimulai pada masa transisi dari Sukarno ke Suharto (1960–1998) hingga situasi terkini (1998–2023). Dalam dinamika tersebut, kekuasaan agama tampak mendominasi pola pikir dan tindakan masyarakat.
Telisik Seruak Fotografis dalam Karya Eksperimental Krishnamurti Suparka Bolo, Andreas Doweng; Simanjuntak, Mardohar Batu Bornok
Dekonstruksi Vol. 10 No. 03 (2024): Jurnal Dekonstruksi Volume 10.3
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v10i03.253

Abstract

Sejak proses fotografi analog ditemukan pada tahun 1822 oleh Joseph Nicéphore Niépce, persoalan ontologis dan epistemologis medium tersebut tidak pernah tuntas. Berbagai tawaran status pun dilekatkan pada fotografi dengan tujuan mendapatkan satu fondasi teoretik kokoh yang dapat menjawab pertanyaan mendasar seperti “apa itu fotografi” dan “bagaimana fotografi bekerja”. Problematika ini menjadi semakin kompleks saat fotografi digital dan kecerdasan buatan muncul. Konstruksi teori yang rapuh membuat jawaban definitif tentang disposisi fotografi menjadi semakin sulit untuk diraih. Tulisan ini mencoba menawarkan sebuah bangun pewacanaan yang menggamit sofistikasi persoalan semacam ini dengan menggunakan pendekatan seruak (emergence) sebagai titik awal. Upaya mengurai benang kusut diskursus fotografi ini kemudian dibenturkan dengan sebuah upaya eksperimental dari Krishnamurti Suparka dalam pameran dengan pendekatan proses dari bulan Maret hingga April 2024 di Galeri Orbital, Bandung. Dari telisik yang dipaparkan di makalah ini ditunjukkan bahwa seruak fotografis (terutama dari pendekatan Kant-Hawking) dalam karya Suparka berada dalam tahap formatif, yang sudah memberi ruang pada, tetapi masih menyisakan catatan panjang tentang kemenyeruakan sebuah karya.
Complete man, love in truth, and living in diversity, in two ancient Sundanese manuscripts Ajie, Sophan; Sutarno, Alfonsus; Bolo, Andreas Doweng; Yusandi, Yusandi
Socio Politica : Jurnal Ilmiah Jurusan Sosiologi Vol. 15 No. 2 (2025): Jurnal Socio-Politica
Publisher : FISIP UIN SGD Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/socio-politica.v15i2.47363

Abstract

This study examines the moral and philosophical messages of two ancient Sundanese manuscripts, namely Amanat Galunggung and Sanghyang Siksa Kandang Karesian, then relates them to Unpar's Spirituality and Basic Values ​​known as SINDU. Data were collected using a qualitative research strategy through in-depth interviews and literature studies. Then, they were analyzed based on the theory of intertextuality, namely by examining the messages of each manuscript, comparing them, and seeing the correlation or interdependence between the two. The results of the study show that the two ancient Sundanese manuscripts above are full of humanitarian messages that remain relevant and significant for modern human life. The concept of SINDU, which was born more recently, finds its basis and foundation in the teachings that have long existed in the two ancient manuscripts. This study also reveals the existence of basic human needs for humanitarian values ​​throughout their lives, whether in the past, present, or future. Moral and philosophical values ​​are needed by humans in an effort to make themselves humane and divine. Contribution: It underscores the persistent human need for moral and philosophical guidance across time, enriching both academic understanding and practical applications in promoting humane and divine human development.
Pancasila sebagai Karya Estetis Bangsa Indonesia: Sebuah Refleksi Filosofis Doweng Bolo, Andreas
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 27 No. 2 (2011)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/mel.v27i2.305.187-200

Abstract

Pancasila is the nation's art in Indonesia, that is, a masterpiece rooted in the values that have been grown in the society. Since it has been embedded in the society, the values it gives rise should be returned to the society. It is worthy to say that Pancasila is the substantial values of this nation, without which Indonesia will disperse. This value tracing is in fact not a finished work, but an ongoing process. Thus the language used to translate the values ought to be unique, communicative, and contextual. To the end that the language contextual, the learning of local cultural values is an important orientation since only with it Pancasila has a future in this nation. When Pancasila deters the values emerging from the local wisdom then something is definitely wrong there, for these values are the root of Pancasila. Pancasila enriches the local virtues and vice versa. Because Pancasila was formulated from the local virtues then it must also be returned using the local, contextual and hospitabe language. Dogmatic and unsocial language based on the Cartesian patterns that is used to put this ideology into practice needs to be recolored. In this paper, an aesthetic paradigm is reconsidered to make room for experiences. Pancasila should be approached in a language that grew out of the sense of awe. When we talk about awe, we talk about how to talk aesthetically. Being amazed by this spirit is a start to walk through the journey towards being Indonesia. Departing from this aesthetic paradigm, the author examines the spirits that already exist and grow in the societies. Keywords:*Aesthetics, *Pancasila, *experience, *aesthetic experience, *awe, *diversity, *local values, *contextual language, *aesthetic masterpiece, *familial and common experiences, *culturization