Claim Missing Document
Check
Articles

Found 38 Documents
Search

Modelling the Impact of Travel Time Uncertainty to the Cocoa Supply Chain Network Febri Zukhruf; Russ Bona Frazila
Jurnal Teknik Sipil Vol 25 No 1 (2018)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2018.25.1.1

Abstract

AbstractThe uncertainty issue becoming more and more important in term of freight transport, which essentially affect the transport cost. As an essential parameter to construct the product price, the transport cost variations sequentially impact the supply chain network structures. This paper then presents the multi-channelled supply chain network equilibrium (SCNE) model with the behaviour of freight carriers by considering variation of travel time. The cocoa SCNE model is then invoked to represent the trading chain of cocoa. As different with the previous researches, the model takes into account the variation of traffic flow and the road capacity to the freight cycle time, which is practically used for estimating the transport cost. The variation is propagated based on the Monte Carlo simulation approach. Finally, the model is applied to an actual cocoa SCN in Sulawesi for investigating the impact of travel time variation to the price of cocoa.AbstrakKetidakpastian di dalam jaringan transportasi menjadi isu yang semakin penting di dalam dunia angkutan barang, yang secara subtantif dapat mempengaruhi komponen biaya transportasi. Sebagai parameter penting untuk membangun harga produk, variasi biaya transportasi berperan dalam mempengaruhi struktur jaringan rantai pasokan. Makalah ini kemudian mendiskusikan model supply chain network equilibrium (SCNE) dengan perilaku angkutan barang dengan mempertimbangkan variasi waktu tempuh. Cocoa SCNE model kemudian digunakan untuk mewakili rantai pasok komoditas kakao. Berbeda dengan penelitian sebelumnya, makalah ini memperhitungkan variasi arus lalu lintas dan kapasitas jalan terhadap waktu siklus pengiriman, yang secara praktis digunakan untuk memperkirakan biaya transportasi. Variasi tersebut dibangun dengan mendasarkan kepada pendekatan simulasi Monte Carlo. Akhirnya, model ini diterapkan pada jaringan rantai pasok kakao di Sulawesi untuk menyelidiki dampak variasi waktu tempuh terhadap harga kakao.  
Model Optimasi Pemeliharaan Jalan Multi Tahun dengan Batasan Anggaran Febri Zukhruf; Russ Bona Frazila; Jzolanda Tsavalista Burhani; Rafika Almira Samantha Ag
Jurnal Teknik Sipil Vol 26 No 2 (2019)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2019.26.2.6

Abstract

Pavement maintenance has longtermly been perceived as an essential factor for the road network efficiency and the driver safety. However, these activities involve the challenge issues relating to the pavement aging, the deterioration mechanism, and the available budget constraints. This paper then presents an optimization model for handling the multiyear maintenance programs in the network-level by including budget constraint. The model is developed as a mathematical programming problem, in which the Lagrange relaxation-based procedure is invoked for solving the problem. The numerical examples are also presented for providing the better insight of model application, in which the model could provide not only the multiyear maintenance programs but also the optimum budget allocation by considering the expected roughness performance of road network.Pemeliharaan perkerasan jalan telah lama dianggap sebagai faktor penting dalam menentukan efisiensi jaringan jalan. Namun, kegiatan ini selalu melibatkan tantangan yang berkaitan dengan penuaan perkerasan, mekanisme deteriorasi, dan keterbatasan anggaran yang tersedia. Artikel ini kemudian mengusulkan model optimasi matematika untuk strategi pemeliharaan jalan multi tahun pada level jaringan. Model ini bertugas untuk menentukan jenis kegiatan pemeliharaan dan waktunya dengan tujuan meminimalkan nilai International Roughness Index (IRI) melalui pengoptimalan pemanfaatan alokasi anggaran. Untuk menginvestigasi aplikabilitas dari model ini,  eksperimen numerikal dilakukan pada jaringan jalan sederhana. Hasil dari eksperimen tersebut mengindikasikan kemampuan model tidak hanya dapat digunakan untuk merencanakan kegiatan pemeliharaan multi tahun dengan batasan anggaran, akan tetapi juga dapat digunakan untuk memberikan masukan terkiat penentuan alokasi anggaran dengan mengkonsiderasikan performa yang ingin dicapai.
Model Optimasi untuk Restorasi Jaringan Jalan Terdampak Bencana Febri Zukhruf; Russ Bona Frazila
Jurnal Teknik Sipil Vol 27 No 3 (2020)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2020.27.3.8

Abstract

Terputusnya jaringan jalan pada umumnya menjadi faktor kendala utama dalam distribusi bantuan setelah terjadinya bencana. Oleh karenanya pengembangan model terkait pemulihan (i.e., restorasi) jaringan jalan telah mendapatkan perhatian lebih dari banyak peneliti. Makalah ini kemudian mengusulkan model restorasi jaringan jalan dengan mengintegrasikan konsep konektivitas dapen algoritma Hungarian. Konsep konektivitas digunakan untuk memprioritaskan jalan terdampak yang ingin diperbaiki oleh tim restorasi. Sementara itu, algoritma Hungarian digunakan untuk melakukan penugasan tim restorasi secara lebih efisien. Hasil eksperimen numerikal mengindikasikan bahwa model restorasi yang diusulkan mampu memulihkan jaringan jalan secara lebih cepat dengan biaya yang lebih murah.
Pengembangan metode penilaian indikator transportasi berkelanjutan di Indonesia Russ Bona Frazila; Febri Zukhruf; Taufiq Suryo Nugroho; Rudy Hermawan Karsaman; Harmein Rahman
Jurnal Teknik Sipil Vol 28 No 1 (2021): Jurnal Teknik Sipil
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2021.28.1.8

Abstract

Abstrak Kegiatan ekonomi di suatu kawasan perlu ditunjang oleh mobilitas yang tinggi namun tetap efisien. Hal tersebut dapat diwujudkan dengan pengembangan sistem transportasi berkelanjutan di suatu kawasan. Sistem transportasi yang berkelanjutan memastikan bahwa sumber daya yang digunakan untuk melakukan mobilitas pada saat ini tidak akan menimbulkan dampak negatif bagi generasi yang akan datang. Makalah ini mengusulkan metode penilaikan indikator transportasi berkelanjutan di Indonesia dan membagi indikator transportasi berkelanjutan menjadi tiga pilar: ekonomi, sosial, dan lingkungan. Selain itu makalah ini mengusulkan metode perhitungan indikator transportasi berkelanjutan untuk 2 jenis kawasan: kawasan perkotaan, dan kawasan antar kota. Metode perhitungan indeks ini kemudian diaplikasikan untuk menghitung indeks transportasi berkelanjutan di kawasan kota-kota provinsi Jawa Barat. Untuk kawasan antar kota, perhitungan indeks untuk provinsi Jawa Barat kemudian dibandingkan dengan 4 provinsi lain di Indonesia dengan karakter yang hampir sama yaitu: Sumatera Utara, Banten, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Keywords: Indeks transportasi; kawasan perkotaan; transportasi berkelanjutan Abstract In many cities and countries, efficient movements for people and goods are required to support the economy. This can usually be achieved by developing a sustainable transportation system. A sustainable transportation system ensures that the resources used to provide existing transportation system will continue to be available in the future and that the externalities associated with transportation will not have negative impacts to the future generations. This paper suggests a method to calculate index to measure sustainability of the transport systems in Indonesia. The method includes a calculation for three main pillars of a sustainable transportation system: economy, social, and environment. Further, this paper suggests the methods to calculate the index for two different area: urban area and inter urban area. The suggested methods then are applied for West Java. For urban area, we calculate the index for five cities in West Java. As for intercity cases, the index for West Java than is compared with four other provinces with similar characteristics: North Sumatera, Banten, West Java, Central Java, and East Java. Keywords: Transportation index; urban area, sustainable transport
PERHITUNGAN PENURUNAN BEBAN EMISI PENCEMARAN UDARA DARI PEMBANGUNAN JALUR TOL JORR W2 DI DKI JAKARTA Lailatus Siami; Asep Sofyan; Russ Bona Frazila
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 20 No. 2 (2014)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtl.2014.20.2.6

Abstract

Abstrak: Sebagai pusat urbanisasi, mobilitas barang dan manusia di Kota Jakarta memiliki rutinitas transportasi yang padat setiap hari. Hal ini ditandai dengan adanya orientasi mobilitas manusia dari perumahan di sekeliling Jakarta (Jabodetabek) menuju tempat kerja di Kota Jakarta. Dengan pertumbuhan jumlah kendaraan sebesar ±8% per tahun, sektor transportasi memiliki dampak berupa kemacetan dan pencemaran udara. Dari penelitian sebelumnya (Darmanto, 2012) sektor dominan dalam penyumbang emisi CO dan PM10  adalah sektor transportasi sebesar 78,85% dan 99,94%. Sehingga, diperlukan penanganan khusus pada sektor transportasi. Pendekatan pada jaringan jalan yang kompleks di Jakarta dilakukan dengan menggunakan model jaringan jalan. Sehingga didapatkan volume kendaraan tiap ruas jalan untuk dihitung beban emisinya. Berdasarkan hasil representasi dari model jaringan jalan, ruas jalan dengan volume tertinggi berada di jalan tol Cawang dan jalan utama pada jalan Ciputat Raya. Hasil dari inventarisasi emisi pada ruas jalan berbeda "“ beda pada tiap jenis polutan. Hal ini dipengaruhi oleh proporsi jenis kendaraan yang ikut menentukan faktor emisi. 70,68% beban emisi didominasi oleh polutan CO sebesar 973.734,26 ton/tahun. Sistem transportasi di Jakarta disusun dalam pola transportasi makro (PTM). Dan pada RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah),   terdapat beberapa rencana prioritas untuk pembangunan transportasi. Salah satunya adalah pembangunan tol dalam kota maupun tol luar kota. Pada studi ini, skenario yang dipilih adalah pembangunan jalur tol JORR W2 (Jakarta Outer Ring Road West 2). Jalur tol ini Di daerah Kebon Jeruk "“ Ulujami yang juga dijadikan akses bus. Dari skenario ini, didapatkan penurunan beban emisi sebesar  2% untuk polutan NOx; 1,6% untuk polutan NO2; 0,4% untuk polutan CO; 0,8% untuk polutan PM10 dan 0,1% untuk polutan VOC.  Kata kunci: Sektor transportasi, model jaringan jalan, RPJMD, JORR W2, penurunan emisi Abstract : As the center of urbanitation for goods and human, Jakarta surely have a dense of mass transportation everyday. It is showed by the mobile of human from the surround (Jabodetabek) to workplace in Jakarta. By the 2011, the rate of vehicle number is ±8% each year. It is a common that transportation sector has a traffic congestion and traffic air pollution impact. Previous study (Darmanto, 2012) showed the dominant sector of highest emission of CO and PM10 from transportation sector as 78,8 % and 99,4%. So it will be necessary to take particular handling from transportation sector. The approach of complex road networking uses road networking model. So that, flow of vehicle in every road derived to be calculated in emission inventory. Based on emission inventory of road segmentation, Cawang road highway has the highest number for number of vehicle. And so does Ciputat Raya road. The result of emission inventory for each road is different for each parameter. Due to the proportion of vehicle which determine the factor emission. 70,68% CO as the highest emission is 973.734,26 ton/year. Transportation system in Jakarta conduct in Jakarta's macro transportation (JMT) master plan. And in RPJMD (Mid-term action), there are some specific priority of transportation action. It is highway road development inner and outside of Jakarta. In this study, scenario will be do in development of Jakarta Outer Ring Road West 2(JORR W2). And the suitable scenario highway development in Kebun Jeruk "“ Ulujami for bus ccesable. Based on the scenario, reduction of NOx emission is 2%; 1,6% for NO2 emission; 0,4% for CO emission; 0,8% for PM10 emission and 0,1% for VOC emission.  Key  words:  Transportation sector,  traffic  networking model,  Mid-term action,  JORR  W2,  emission reduction
SIMULASI PEMODELAN JARINGAN JALAN UNTUK MEMPREDIKSI PENGURANGAN EMISI CO, NOx, PM10, DAN SO2 DARI RENCANA PEMBANGUNAN BUS RAPID TRANSIT DI KOTA TANGERANG Qiyam Maulana B.S; Asep Sofyan; Russ Bona Frazila
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 22 No. 1 (2016)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/j.tl.2016.22.1.7

Abstract

Abstrak: Pencemaran udara saat ini menjadi salah satu masalah utama di kota-kota besar di Indonesia seperti di kota Tangerang. Sebagai daerah penyangga ibu kota Negara DKI Jakarta, Kota Tangerang merupakan salah satu wilayah dengan laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi ditandai dengan bertambahnya jumlah industri, kawasan bisnis dan jumlah kendaraan bermotor. Saat ini jumlah dan penggunaan kendaraan bermotor bertambah dengan tingkat pertumbuhan rata-rata 10% per tahun. Pemerintah kota Tangerang berencana membangun fasilitas Bus Rapid Transit (BRT) guna mengatasi masalah kemacetan. Hal tersebut tentunya akan berdampak pada berkurangnya emisi yang dihasilkan dari sektor transportasi karena berkurangnya penggunaan kendaraan pribadi yang beralih ke BRT. Terdapat tiga skenario pemodelan yang dibuat pada penelitian ini yaitu Business As Usual, skenario BRT satu koridor, dan Skenario BRT 5 Koridor. Ketiga skenario tersebut juga diproyeksikan dalam lima tahun kedepan yaitu tahun 2021. Inventarisasi Emisi pada Segementasi Jalan di Kota Tangerang Tahun 2016 tanpa skenario adalah 270.292 ton/tahun untuk polutan CO. Polutan NOx sebesar 23.857 ton/tahun. Polutan PM10 sebesar 3.349 ton/tahun dan polutan SO2 sebesar 571 ton/tahun. Hasil dari penelitian menunjukkan Penurunan beban emisi dari skenario BRT 1 koridor pada tahun 2016 rata "“ rata sebesar 1,5%. Untuk proyeksi tahun 2021 penurunan dari skenario BRT 1 koridor sebesar 5,6%. Sedangkan untuk skenario BRT 5 koridor rata-rata penurunan beban emisinya sebesar 16 %. Kata kunci: Inventarisasi emisi, pemodelan jaringan jalan, bus rapid transit Abstract : Air pollution is currently one of the main problems in big cities in Indonesia such as in the city of Tangerang. As the buffer area state capital of Jakarta, Tangerang City is one of the areas with a high rate of economic growth marked by the growing number of industries, the business district and the number of motor vehicles. Currently the number and use of motor vehicles increased with an average growth rate of 10% per year. Tangerang city government plans to build facilities Bus Rapid Transit (BRT) in order to overcome the problem of traffic jam. It certainly will have an impact on the reduction of emissions resulting from the transport sector due to reduced use of private vehicles are switching to BRT. There are three scenarios modeling made in this study is Business As Usual scenario, BRT one corridor scenario, and BRT five corridor Scenario. The three scenario is also projected in five years until 2021. Emissions Inventory at Tangerang Segmentation 2016 without scenario is 270.292 tonnes / year for pollutants CO. NOx pollutants by 23.857 tonnes / year. PM10 pollutants by 3.349 tons / year and pollutants SO2 by 571 tons / year. Results from the study showed that average reduction value of BRT one corridor scenario in 2016 is 1.5%. For the projected 2021 of BRT one corridor scenario by 5.6%. While the BRT five corridor scenario for an average reduction of emissions burden quite by 16%. Key words: emission inventory, road network modeling, bus rapid transit
ANALISA REOLOGI DASAR ASPAL MODIFIKASI NANO ABU CANGKANG SAWIT Fitra Ramdhani; Bambang Sugeng Subagio; Harmein Rahman; Russ Bona Frazila
Racic : Rab Construction Research Vol 8 No 2 (2023): DESEMBER
Publisher : LPPM Universitas Abdurrab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36341/racic.v8i2.4216

Abstract

Pengembangan aspal modifikasi dengan menggunakan nano teknologi merupakan salah satu inovasi dalam menciptakan sebuah material baru yang berskala nano meter yang mempunyai sifat lebih unggul dari material yang berukuran besar. Keunikan dari nano material yaitu semakin kecil ukuran material maka luas permukaan dan kinerja karakteristik material dalam campuran aspal semakin meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari penambahan Nano Abu Cangkang Sawit (NACS) pada bitumen terhadap sifat reologi dasar aspal.. Metode penelitian menggunakan metode pengujian di laboratorium. Material nano yang digunakan adalah material abu cangkang sawit yang diperoleh dari limbah sisa pembakaran cangkang sawit yang berasal dari Riau yang kemudian diproses menjadi Nano Abu Cangkang Sawit (NACS) di laboratorium Kimia ITB. Aspal yang digunakan yaitu aspal Pen 60/70 produksi Pertamina. Penggunaan material NACS dalam modifikasi aspal dengan variasi 1%, 2%, dan 3% NACS dapat menurunkan nilai penetrasi ,meningkatkan titik lembek, menurunkan nilai daktilitas dan menurunkan suhu pencampuran dan suhu pemadatan seiring dengan bertambahnya persentase NACS.. Kata-kata Kunci: Nano Abu Cangkang Sawit (NACS), reologi dasar aspal, Nano teknologi
IMPROVING ROAD NETWORK CONSIDERING RICE SUPPLY CHAIN NETWORK Maulana, Andrean; Sjaruddin, Ade; Frazila, Russ Bona; Zukhruf, Febri
Jurnal Transportasi Vol. 24 No. 1 (2024): Jurnal Transportasi
Publisher : Forum Studi Transportasi antar Perguruan Tinggi (FSTPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/jtrans.v24i1.7911.62-73

Abstract

The stakeholders involved in the rice supply chain, who rely on transportation networks, have a shared objective of enhancing their operational efficiency to maximise surplus. This paper presents a model that aims to evaluate the impact of road network improvement on the stakeholders involved in the rice supply chain network. The entities considered as related stakeholders in this context encompass collectors, wholesalers, and retailers, that have a distinct logistics cost structure and profit ratio.The model is developed within the framework of bi-level optimization, in which the upper level decides the road network improvement action and the lower level describes the optimality conditions of the rice supply chain network. The method of successive averages (MSA) is proposed to solve the lower-level problem, where a full enumeration-based approach is conducted in the upper-level problem The case study is situated in the Cugenang District of the Cianjur Regency, an area renowned for its productivity value in the rice farming sector, surpassing other sectors in economic significance. The numerical experiment evaluates three alternatives for road development, with the alternative consisting of solid connectivity to stakeholders yielding the greatest surplus, refer to Alternative 1 with highest surplus investment ratio (0.0000232).