Pudji Achmadi
Departemen Anatomi, Fisiologi, Dan Farmakologi, Sekolah Kedokteran Hewan Dan Biomedis, IPB University, Bogor

Published : 16 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Hand-Powered Centrifuge Made from Cotton for Assessing Hematocrit Fathan Abdul Aziz; Pudji Achmadi; Mokhamad Fakhrul Ulum
Biomedika Vol 13 No 1 (2020): Jurnal Biomedika
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Setia Budi Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31001/biomedika.v13i1.657

Abstract

The hematocrit value test serves as a parameter to help reach an established diagnosis. A centrifuge is an equipment that is used to separate the components of blood from each other based on the properties of each constituent substance. This study aims to developing hand-powered centrifuge made from cotton material to assess the hematocrit of blood in pregnant and non-pregnant ewes. To make the Katunfuge, two circles were cut from a piece of cotton cloth that had been impregnated with batik wax. The knitting thread was inserted into the middle part of the cotton disc and each end rope was tied to the handler. The centrifugal speed resulted from Katunfuge was greater than 2,000 rpm, meaning that it is 99% effective for separating blood components in 15 minutes with 14 times of pulling with hands. The hematocrit values of pregnant ewes (33.0 ± 4.1) were lower than those of non-pregnant ewes (38.5 ± 3.4%). This has proven that Katunfuge is highly potential to be used to assess the hematocrit of other animals.
KINERJA REPRODUKSI TIKUS BUNTING AKIBAT PEMBERIAN EKSTRAK ETANOL PURWOCEN Aryani Sismin Satyaningtijas; Hera Maheshwari; Pudji Achmadi; Wisnugroho Agung Pribadi; Sandra Hapsari; Divo Jondriatno; Isdoni Bustaman; Bambang Kiranadi
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 8, No 1 (2014): March
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (107.496 KB) | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v8i1.1253

Abstract

Pada penelitian ini, purwoceng diberikan pada tikus betina bunting umur 1-13 hari dengan tujuan mengetahui bobot badan, ovarium, dan uterus serta mempertahankan titik implantasi yang terbentuk sebelum masa implantasi. Penelitian ini menggunakan 2 kelompok yaitu kelompok tikus bunting kontrol dan tikus bunting yang mendapatkan purwoceng dengan dosis 25 mg/300 g bobot badan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok tikus yang diberi purwoceng cenderung memiliki bobot ovarium dan uterus lebih berat dibandingkan kelompok kontrol. Purwoceng juga menyebabkan jumlah titik implantasi tikus hampir mendekati jumlah korpus luteum yang sudah terbentuk, dan ini menunjukkan bahwa keberhasilan implantasi lebih baik pada kelompok tikus yang diberi purwoceng.
Effect of the partial solar eclipse on the behavior and activity of rats Tarigan, Ronald; Achmadi, Pudji; Bustamam, Isdoni; Santoso, Koekoeh
Current Biomedicine Vol. 1 No. 2 (2023): July
Publisher : School of Veterinary Medicine and Biomedical Sciences, IPB University, Bogor, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/currbiomed.1.2.62-69

Abstract

Circadian rhythm is the adaptation response of animals against light alteration that affects various behavioral and physiological responses. Bright light is a danger signal for nocturnal animals because it exposes them more to predators. This research aimed to study the changes in the behavior of rats during the partial solar eclipse (PSE) period. The PSE period occurred across Bogor, Indonesia, on 9 March 2016. The PSE started at 06.19 AM, peaked at 07.21 AM, and ended at 08.30 AM. The light level decreased since the early solar eclipse, then dropped significantly at the peak period. The activities of six mature male Sprague Dawley rats were measured using Opto-Varimex-5 Auto Track System during the PSE period. The measurements were repeated one day after the PSE period as the non-PSE period. There were significant differences (P<0.05) in stereotypic time, burst of stereotypic movement, and horizontal count in the early, peak, and end periods of the PSE period compared with the values at the same time of the non-PSE period. The activities of rats changed during the PSE period. Rats did not rest as in their normal nocturnal behavior during darkness but were more active and stressed because of the rapid change in light level during the PSE period.
Analisis In Silico Senyawa Flavonoid Kayu Secang (Caesalpinia sappan L.) pada Reseptor α-Amilase Sebagai Antihiperglikemik Indah Kurnia Klara; Purwono, Rini Madyastuti; Achmadi, Pudji
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 11 No. 3 (2023): November 2023
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.11.3.210-219

Abstract

Pengujian in vitro dan in vivo kayu secang (Caesalpinia sappan L.) sebagai antihiperglikemik sudah dilakukan sebelumnya dan memberikan hasil yang efektif, namun mekanismenya pada hewan belum diketahui. Penelitian ini bertujuan menganalisis mekanisme senyawa metabolit kayu secang (Caesalpinia sappan L.) yang dapat menghambat enzim α-amilase pada hewan melalui penambatan molekuler secara in silico. Profil farmakokinetik ligan diprediksi berdasarkan aturan Lipinski. Prediksi toksisitas dilakukan menggunakan admetSAR. Reseptor diperoleh dari basis data PDB (ID 1OSE). Ligan pembanding yang digunakan adalah akarbosa. Penambatan molekuler dilakukan dengan menambatkan ligan uji brazilin, protosappanin B, protosappanin C, dan sappanchalcone pada enzim α-amilase menggunakan Autodock Vina. Penambatan molekuler dianalisis dengan energi ikatan (ΔG), konstanta inhibisi, serta ikatan kimia. Hasil penambatan molekuler menunjukkan semua ligan uji memiliki potensi sebagai antihiperglikemik. Ligan uji brazilin memiliki aktivitas penghambatan enzim α-amilase lebih baik daripada akarbosa berdasarkan nilai ΔG dan %BSS.
PENGARUH SUHU TERHADAP DIFERENSIAL LEUKOSIT SERTA KADAR MALONDIALDEHIDE (MDA) BURUNG PUYUH (Coturnix coturnix Japonica) Maheshwari, Hera; Sasmita, Annissa Nuridfi; Farajallah, Achmad; Achmadi, Pudji; Santoso, Koekoeh
Bioma Vol. 13 No. 2 (2017): Bioma
Publisher : LPPM Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (506.533 KB) | DOI: 10.21009/Bioma13(2).4

Abstract

The main problem in tropical poultry farming that often happens is a high mortality rate. Deaths occurrance mostly by heat stress, a condition which is caused by high temperature ( > 28 ° C). Prolonged heat stress was given to 24 quails grouped in four groups: A (39 ° C), B (41 ° C), C (43 ° C) and D (45 ° C). Provision of heat stress was done when the quails were 2 days old. Blood sampling was performed at the age of 6 weeks. Overall, there was an increase in the number of white blood cell, heterophile, eosinophil, monocyte, the ratio between heterophyll and lymphocyte and malondialdehyde (MDA) levels in all treatment groups. While the number of lymphocytes decreased in all treatment groups. Basophils had a significant increase in group C, but there was a decrease in group B and D decreased from control. This indicates that maintenance above temperature > 25 ° C can cause oxidative stress due to heat stress in quail.
KINERJA REPRODUKSI TIKUS BUNTING AKIBAT PEMBERIAN EKSTRAK ETANOL PURWOCEN Satyaningtijas, Aryani Sismin; Maheshwari, Hera; Achmadi, Pudji; Pribadi, Wisnugroho Agung; Hapsari, Sandra; Jondriatno, Divo; Bustaman, Isdoni; Kiranadi, Bambang
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 8, No 1 (2014): March
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v8i1.1253

Abstract

Pada penelitian ini, purwoceng diberikan pada tikus betina bunting umur 1-13 hari dengan tujuan mengetahui bobot badan, ovarium, dan uterus serta mempertahankan titik implantasi yang terbentuk sebelum masa implantasi. Penelitian ini menggunakan 2 kelompok yaitu kelompok tikus bunting kontrol dan tikus bunting yang mendapatkan purwoceng dengan dosis 25 mg/300 g bobot badan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok tikus yang diberi purwoceng cenderung memiliki bobot ovarium dan uterus lebih berat dibandingkan kelompok kontrol. Purwoceng juga menyebabkan jumlah titik implantasi tikus hampir mendekati jumlah korpus luteum yang sudah terbentuk, dan ini menunjukkan bahwa keberhasilan implantasi lebih baik pada kelompok tikus yang diberi purwoceng.
Profil eritrosit, hemoglobin, dan nilai hematokrit luwak Jawa (Paradoxurus hemaphroditus) pemakan dan tidak pemakan buah kopi Elsi Rahmadhani; I Wayan Teguh Wibawan; Damiana Rita Ekastuti; Ronald Tarigan; Pudji Achmadi; Isdoni Isdoni; Koekoeh Santoso; Aryani Satyaningtijas
ARSHI Veterinary Letters Vol. 7 No. 1 (2023): ARSHI Veterinary Letters - Februari 2023
Publisher : School of Veterinary Medicine and Biomedical Sciences, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avl.7.1.15-16

Abstract

Luwak Jawa (Paradoxurus hemaphroditus) merupakan hewan yang memiliki kemampuan menghasilkan biji kopi yang berkualitas, sehingga status kesehatannya perlu untuk diperhatikan. Gambaran darah dapat dijadikan sebagai indikator status kesehatan luwak pada kondisi tertentu. Penelitian mengenai luwak telah banyak dilaporkan, namun belum ada penelitian mengenai parameter fisiologis khususnya profil eritrosit dari luwak yang sengaja diberikan buah kopi secara terus menerus selama 3 bulan. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung profil eritrosit pada luwak Jawa pemakan pemakan kopi dan tidak pemakan buah kopi. Gambaran darah luwak Jawa pada saat adaptasi dan pemeliharaan berfluktuasi. Rataan jumlah eritrosit luwak pemakan buah kopi dan tidak pemakan buah kopi adalah (8,24±2,40) x 106/mL dan (8,25±2,16) x 106/mL, kadar hemoglobin adalah (6,18±2,21) g/dL dan (6,40±2,21) g/dL dan nilai hematokrit adalah (16,50±2,21) % dan (16,00±2,14) %. Secara umum gambaran darah luwak Jawa pemakan buah kopi memiliki rataan yang lebih rendah dari pada luwak Jawa yang tidak diberi buah kopi.
Pemendekan waktu siklus estrus pada luwak Jawa (Paradoxurus hermaphroditus) terdeteksi melalui metode ulas vagina Nelda Fliza Zora; Mokhamad Fakhrul Ulum; Damiana Rita Ekastuti; Ronald Tarigan; Pudji Achmadi; Isdoni Bustaman; Koekoeh Santoso; Hera Maheshwari; Agik Suprayogi; Wasmen Manalu; Aryani Satyaningtijas
ARSHI Veterinary Letters Vol. 7 No. 2 (2023): ARSHI Veterinary Letters - Mei 2023
Publisher : School of Veterinary Medicine and Biomedical Sciences, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avl.7.2.35-36

Abstract

Luwak Jawa (Paradoxurus hermaphroditus) merupakan salah satu hewan liar yang dapat dimanfaatkan sebagai penyeleksi biji kopi untuk menghasilkan kopi berkualitas dan bernilai ekonomis tinggi. Pemeliharaan yang tidak sesuai dapat memengaruhi kondisi fisiologis dan reproduksi luwak sehingga penting untuk diketahui sebagai dasar manajemen pemeliharaan dan kesehatan untuk optimalisasi produksi, pencegahan penyakit, dan konservasi luwak. Pemantauan ini bertujuan untuk mengetahui panjang waktu total siklus estrus dan waktu dari setiap fase estrus yaitu fase proestrus, estrus, metestrus dan diestrus. Luwak Jawa dari diperoleh dari pasar hewan sebanyak 2 ekor berjenis kelamin betina dengan bobot badan sekitar 4 kg diambil data ulas vagina selama 21 hari pada pagi dan sore hari. Sel epitel vagina diperiksa di bawah mikroskop dan dianalisa secara kuantitatif. Hasil pengamatan menunjukkan pemendekan siklus estrus dengan panjang total siklus estrus yaitu 121,5±7,5 jam (5 hari). Durasi waktu proestrus 12,0±0,0 jam, estrus 22,5±3,0 jam, metestrus 25,5±3,0 jam dan diestrus 61,5±3,0 jam.
Kadar kolesterol dan glukosa darah luwak Jawa (Paradoxurus hermaphroditus) yang didomestikasi Ira Agustina Dewi Gandasari; Damiana Rita Ekastuti; Ronald Tarigan; Pudji Achmadi; Isdoni Bustaman; Koekoeh Santoso; Hera Maheshwari; Agik Suprayogi; Wasmen Manalu; Aryani Satyaningtijas
ARSHI Veterinary Letters Vol. 7 No. 1 (2023): ARSHI Veterinary Letters - Februari 2023
Publisher : School of Veterinary Medicine and Biomedical Sciences, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avl.7.1.19-20

Abstract

Status kesehatan luwak yang pemanfaatannya cukup tinggi sebagai penghasil kopi belum banyak dipelajari secara lengkap. Informasi mengenai status fisiologis luwak Jawa (Paradoxurus hermaphroditus) yang telah didomestikasi masih terbatas dan sangat diperlukan untuk menilai aspek kesejahteran hewan di penangkaran. Studi ini melaporkan kadar kimia darah dan kolesterol luwak Jawa yang sudah didomestikasi. Luwak dalam penelitian ini diberi pakan berupa pisang, kepala ayam dan juga dog food. Pemeriksaan kimia darah berupa kadar glukosa dan kolesterol darah dilakukan terhadap 6 ekor luwak yang diberi pakan pisang, kepala ayam dan juga dog food. Hasil menunjukkan bahwa luwak Jawa jantan memiliki kadar glukosa sebesar 68,00±22,55 mg/dL dan luwak Jawa betina yaitu sebesar 73,78±12,60 mg/dL. Kadar kolesterol darah pada luwak Jawa jantan yaitu sebesar 145,78±22,29 mg/dL dan luwak Jawa betina yaitu sebesar 142,00±12,44 mg/dL.
Penanganan spectacular dysecdysis pada seekor ular Boa constrictor di Lombok Wildlife Park, Nusa Tenggara Barat Fadhila Satvika; Gilang Kala Maulana; Aryani Sismin Satyaningtijas; Damiana Rita Ekastuti; Hera Maheshwari; Koekoeh Santoso; Ronald Tarigan; Pudji Achmadi; Isdoni Bustamam
ARSHI Veterinary Letters Vol. 7 No. 4 (2023): ARSHI Veterinary Letters - November 2023
Publisher : School of Veterinary Medicine and Biomedical Sciences, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avl.7.4.67-68

Abstract

Lombok Wildlife Park merupakan lembaga konservasi yang berada di Lombok, Nusa Tenggara Barat dengan salah satu satwa liar yang ditangani adalah ular. Tulisan ini melaporkan penanganan spectacular dysecdysis pada seekor ular boa (Boa constrictor). Ular bernama Boly, berumur sekitar 1.5 tahun dengan bobot badan 8 ons mengalami eye caps stuck atau spectacular dysecdysis setelah proses pergantian kulit yang tidak sempurna. Terjadi kebengkakan pada jaringan di kedua mata dan boa kehilangan nafsu makan. Pengobatan dilakukan dengan pemberian antibiotik dan anti inflamasi untuk 3 hari pertama dan dilanjutkan dengan supplemen pendukung berupa zat besi dan vitamin B12 intramuskular selama 3 hari berikutnya. Jaringan bengkak pada mata kiri pecah dan menyebabkan kerusakan pada organ mata, sedangkan jaringan yang telah mengering pada mata kanan dikelupas secara manual. Nafsu makan ular sudah kembali membaik dan sudah mau makan dengan sendirinya.