Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

Analisa Fitokimia dan Antioksidan Sirup Herbal Ekstrak Batang Serai (Cymbopogon citratus), Teh Hijau (Camelia sinensis) dan Buah Lemon (Citrus limon) Rizki Andalia; nurmalia zakaria
JURNAL ILMIAH FARMASI SIMPLISIA Vol. 6 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Jurusan Farmasi, Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30867/jifs.v6i1.1035

Abstract

Ekstrak etanol batang serai, daun teh hijau dan buah lemon mengandung senyawa flavonoid dan fitokimia lainnya yang berfungsi sebagai antioksidan. Penelitian ini bertujuan memformulasikan ketiga ekstrak tersebut menjadi sediaan sirup herbal. Karakateristik dari simplisia tanaman dan senyawa fitokimia ditentukan, demikian juga dengan karakateristik dan fitokimia sirup herbal, serta aktivitas antioksidannya. Ketiga simplisia mengandung alkaloid, flavonoid, dan saponin. Simplisia daun teh hijau juga mengandung tanin dan steroid, tetapi tidak terdapat pada batang serai dan buah lemon. Sirup herbal yang mengandung ekstrak batang serai (SH1), ekstrak daun teh hijau (SH2), ekstrak buah lemon (SH3), dan campuran ketiga ekstrak (SH4) mengandung alkaloid, flavonoid, saponin dan steroid/terpenoid. Hanya SH2 dan SH4 yang mengadung tanin sedangkan lainnya tidak. Keempat sirup herbal berbentuk cairan sedikit kental dengan warna cokelat kehitaman, aroma kas tanaman dan memiliki rasa sedikit manis hingga sedikit pahit. pH sirup herbal berkisar 4,5-6,8, dengan bobot jenis 1,25–1,32 gr/ml, dan viskositas berkisar 200-3.600 cP. Keempat sirup herbal memiliki aktivitas antioksidan yang sangat tinggi (IC50 < 50 ppm) menggunakan metode peredaman DPPH dengan spektrofotometri Uv-Vis, dimana nilai IC50 32,38 ppm (SH1), 20,49 ppm (SH2), 19,71 ppm (SH3), dan 12,53 ppm (SH4). Daya antioksidan berbeda signifikan tiap sampelnya (p<0,05). Aktivitas antioksidan sirup herbal campuran ekstrak (SH4) lebih rendah dibandingkan Asam Askorbat (IC50 2,33 ppm) (P<0,05).
Anti-Inflammatory Therapeutic Potential of Papaya Root Waste Extract with an Innovative Dermatological Approach Lisma Luciana; Yulidar; Rita Sunartaty; Rizki Andalia
Jurnal Penelitian Pendidikan IPA Vol 11 No 1 (2025): January
Publisher : Postgraduate, University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jppipa.v11i1.9826

Abstract

Papaya (Carica papaya L.) is a tropical plant known for its various health benefits. Almost all parts of this plant, including its roots, contain phytochemical compounds such as flavonoids, alkaloids, saponins, and papain enzymes with potential anti-inflammatory properties. This study aimed to develop an anti-inflammatory cream based on papaya root waste extract, providing a natural therapeutic solution for skin inflammation. Papaya roots were obtained from Laweung, Pidie Regency, and processed using maceration with 96% ethanol solvent, yielding an extract with a 26% recovery rate. Phytochemical analysis revealed the presence of flavonoids, phenolics, tannins, alkaloids, terpenoids, and saponins.The cream formulation was developed with varying extract concentrations: F0 (control), F1 (1.2 g), F2 (1.6 g), and F3 (2.0 g). Based on organoleptic testing, the cream formulations showed good stability in terms of color, aroma, and texture during storage. The added rose oil provided a pleasant fragrance that meets the SNI cosmetic standards. The pH test results indicated that all formulations (F0 to F3) were within the safe range for skin application, between 5.2 and 6.4. Formula F3 had the lowest pH (5.2), but it still complied with the SNI standard. The spreadability test showed varying results, with F0 having the highest spreadability (8.1 cm), while formulas with papaya extract (F1 to F3) showed spreadability ranging from 6.06 to 7.1 cm. The viscosity of the cream increased with higher extract concentrations, with F0 having the lowest viscosity (10,000-10,800 cPs) and F3 the highest (19,000 cPs). Homogeneity testing confirmed that all formulations had uniform distributions without phase separation. In conclusion, the cream based on papaya root waste extract has potential as a natural anti-inflammatory product with physicochemical stability suitable for topical use and adds value to plant waste.
PELATIHAN DAN PEMBENTUKAN KELOMPOK USAHA SERBUK DAUN KELOR SEBAGAI BAHAN BAKU PRODUK HERBAL DI PKK DESA LAM ARA KECAMATAN BANDA RAYA BANDA ACEH Nurmalia Zakaria; Rizki Andalia; Elfariyanti; Asrarika
JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT Vol. 31 No. 4 (2025): OKTOBER-DESEMBER
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jpkm.v31i4.69163

Abstract

Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Lam Ara salah satu PKK di kota Banda Aceh yang berfungsi sebagai fasilitator dan penggerak utama dalam memberdayakan keluarga untuk meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup melalui 10 Program Pokok PKK, salah satunya program pendidikan dan keterampilan. Ketua PKK Lam Ara memiliki misi menjadikan desa Lam Ara sebagai “Desa UMKM Herbal”, melalui peningkatan pengetahuan dan keterampilan masyarakatnya. Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk melatih keterampilan para anggota PKK Lam Ara dalam mengolah daun kelor menjadi serbuk yang tahan lama dan mudah diolah lebih lanjut menjadi produk herbal dan kesehatan. Metode pengabdian berupa penyuluhan, pelatihan, dan pengembangan teknologi tepat guna yang disusun ke dalam lima tahapan yaitu sosioalisasi kegiatan, pelatihan pengolahan daun kelor, penerapan teknologi, pendampingan evaluasi, dan keberlanjutan program. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa pelatihan pembuatan serbuk daun kelor diikuti oleh ibu-ibu PKK sebanyak 20 orang, usia 25-60, dengan mayoritas berdidikan SMA (75%) dan berprofesi sebagai ibu rumah tangga 85%). Hal ini menunjukkan adanya minat yang tinggi dari peserta pelatihan. Pengetahuan dan kerampilan peserta pelatihan meningkat signifikan dengan rata-rata keseluruhan nilai pre-test sebesar 62,75% dan post-test sebesar 94,5% (Sig. <0,05). Sebanyak 10 peserta pelatihan telah mampu mengolah daun kelor menjadi serbuk (50%). Dari hasil kegiatan ini juga terbentuk satu kelompok usaha serbuk daun kelor bernama UMKM Herbal Berkah Sejahtera dan dihasilkan produk serbuk kelor sebanyak 20 botol. Kegiatan pengabdian masyarakat ini berhasil dilaksanakan dengan baik sebagai upaya menjadikan desa Lam Ara sebagai Desa UMKM herbal