Claim Missing Document
Check
Articles

Perbandingan Performansi Antara Photodetector Pin Dan Apd Pada Sistem Jaringan Twdm-pon Maulana Pragnya Ghita; Akhmad Hambali; Brian Pamukti
eProceedings of Engineering Vol 5, No 1 (2018): April 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Menurut The Full Service Access Netwrok (FSAN), Time and Wavelength Division Multiplexing(TWDM) dipilih sebagai solusi menuju teknologi Next Generation Passive Optical Network (NG-PON). Pada penelitian ini dilakukan simulasi serta analisis perbandingan performansi antara penggunaan photodetector PIN dan APD pada receiver jaringan TWDM-PON menggunakan software simulator optik. Pembahasan akan mengulas kelayakan jenis photodetector pada konfigurasi sistem TWDM-PON. Pengukuran terhadap kelayakan jaringan TWDM-PON dilakukan dengan merubah parameter panjang link yaitu 40, 50, dan 60 km serta jumlah user yaitu 128, 256, dan 512 ONU. Analisis didekati dengan perhitungan Q Factor dan BER. Hasil simulasi dan perhitungan yang telah dilakukan didapatkan bahwa photodetector PIN dan APD menghasilkan performansi yang baik pada jaringan, 128, 256, dan 512 user. Jaringan 128, 256 dan 512 user memilki performansi yang baik dengan maksimum Q Factor berturut-turut sebesar 34.805, 28.948, 29.885 dan minimum BER berturut-turut sebesar 8.49E-266, 1.23E-184, dan 41E-196.
Analisis Karakteristik Hybrid Optical Amplifier (fiber Raman Amplifier - Erbium Doped Fiber Amplifier) Dengan Konfigurasi Parallel In-line Pada Sistem Long Haul Ultra-dense Wavelength Division Multiplexing Tiara Fadila; Akhmad Hambali; Brian Pamukti
eProceedings of Engineering Vol 5, No 1 (2018): April 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sistem komunikasi optik berkembang dengan pesat pada masa sekarang ini, sehingga kebutuhan bandwidth aplikasi broadband meningkat. Sistem berbasis WDM digunakan untuk memanfaatkan bandwidth secara efisien. Penggunaan Hybrid Optical Amplifier (HOA) diusulkan untuk mengoptimalkan penerapan sistem berbasis WDM dalam memenuhi kebutuhan gain bandwidth yang lebar serta gain flatness, sehingga mampu menangani jaringan dengan beban yang besar pada jarak yang jauh. HOA FRA-EDFA merupakan kombinasi penguat hybrid yang mampu memberikan gain dengan bandwidth yang lebar dengan memanfaatkan kelebihan karakteristik dari masing-masing penguat dan menutupi kerugian yang ada. Dari hasil simulasi, konfigurasi penguat hybrid tersebut mampu memberikan performansi yang lebih baik jika dibandingkan dengan penggunaan satu penguat (FRA atau EDFA). Dengan optimasi Gain Flattening Filter, konfigurasi penguat hybrid FRA-EDFA parallel in-line, memberikan gain flatness dengan nilai rata-rata sebesar 28.94 dB dan bandwidth gain sebesar 96 nm pada rentang panjang gelombang 1529.5 – 1625.5 nm. Hasil simulasi uji performansi penguat hybrid dengan konfigurasi ini pada sistem long haul U-DWDM dapat memberikan performansi yang baik dengan jarak maksimal 210 km. Hal tersebut dibuktikan dengan nilai Q factor terendah pada jarak tersebut sebesar 6.10417 dan BER 5.08E-10 pada kanal ke-70 dari 80 kanal yang digunakan.
Perbandingan Performansi Agregasi Jaringan 40g Dan 80g Pada Teknologi Ng-pon2 Dengan Variasi Jarak Fauzan Munggara; Akhmad Hambali; Brian Pamukti
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Kebutuhan akan data rate yang meningkat dalam jaringan telekomunikasi membuat keadaan saat ini terus menerus dilakukan pengembangan dan penelitian terhadap teknologi-teknologi yang dapat memenuhi kebutuhan tersebut. Next Generation Passive Optical Network Stage 2 (NG-PON2) merupakan salah satu evolusi dari teknologi Passive Optical Network (PON) yang nantinya akan menjadi pengisi dari kebutuhan yang semakin meningkat tersebut. Hasil simulasi pada penelitian ini ialah dengan didapatkan performansi terbaik dengan jarak maksimum yang dapat ditempuh oleh tiap ONU yang ada dengan kombinasi passive splitter 3 stage terbaik pada dua kanal berbeda. Pada kanal pertama untuk 64 ONU arah downstream pada jarak 20 km menghasilkan Received Power =-21.56 dBm ,QFactor = 9,66 dan BER = 3,72 x 10-21 dan arah upstream pada jarak 20 km dengan hasil Received Power=-25,21 dBm, Q-Factor = 6,3 dan BER = 6,25 x 10-10. Kemudian pada kanal kedua untuk 64 ONU arah downstream pada jarak 20 km menghasilkan Received Power =-21.445 dBm , Q-Factor = 9,62 dan BER = 2,19 x 10-20 dan arah upstream dengan hasil Received Power=-25,18 dBm, Q-Factor = 7,12 dan BER = 4,95 x10-11 . Kata Kunci : NG-PON2, Performansi, TWDM. Abstract The need for increasing data rate and the more it increased in telecommunication networks makes the current state continuously in development and research on technologies which can meet those needs. The result of the simulation is getting the best performance with maksimum distance which can reach by each ONU using the best 3-stage passive splitter combination at two different channnel. On the first channel for 64 ONU downstream direction at 20 km the result is Received Power =-21.56 dBm, Q-Factor = 9,66 and BER = 3,72 x 10-21 and upstream direction with result is Received Power =-21,445 dBm, Q-Factor = 9,62 dan BER = 2,19 x 10-20. Next on the second channel for 64 ONU downstream direction at 25 km the result is Received Power=-25,04dBm , Q-Factor = 7,83 dan BER = 1,17 x 10-13and upstream direction with result is Received Power =-25,18 dBm, Q-Factor = 7,12 and BER = 4,95 x 10-11 . Key Words : NG-PON2, Performance, TWDM
Simulasi Sistem Twdm-pon Menggunakan Hybrid Optical Amplifier Pada Next Generation Passive Optical Network Stage 2 (ng-pon 2) Eka Yunita Dian Pratiwi; Akhmad Hambali; Brian Pamukti
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Next-Generation Passive Optical Network 2 (NG-PON 2), merupakan teknologi terbaru untuk mengatasi permasalahan keterbatasan bandwidth pada teknologi Passive Optical Network (PON) saat ini. Pada penelitian ini dilakukan simulasi dan evaluasi performansi jaringan NG-PON 2 dengan metode perubahan bit rate 40 Gbps dan 80 Gbps menggunakan 4 dan 8 kanal TWDM dengan masing-masing kanal mempunyai bit rate 10 Gbps untuk downstream maupun upstream. Sistem tersebut memiliki jarak transmisi dari 10, 20, 30, 40, 50 dan 60 km dengan jumlah 64, 128 dan 256 Optical Network Unit (ONU). Sistem ini menggunakan hybrid optical amplifier (HOA) sebagai booster amplifier dan EDFA sebagai pre-amplifier. Simulasi dilakukan untuk mengetahui pengaruh performansi pada NG-PON 2 apabila dilakukan perubahan bit rate, jarak transmisi dan jumlah ONU terhadap pengaruh Bit Error Rate (BER) di sisi user dengan skenario tanpa penguat dan skenario menggunakan penambahan penguat. Berdasarkan hasil simulasi, performansi sistem terbaik adalah menggunakan penguat yaitu dengan bit rate 40 Gbps dengan jumlah 64 ONU dapat mencapai jarak maksimal 60 km. Nilai Q factor terbaik didapatkan pada jarak 10 km sebesar 23,66 downstream 21,85 upstream , BER 3,86×10-124 downstream dan BER 3,16×10-106 upstream, received power -7,05 dBm downstream dan -7,10 dBm upstream, dengan gain HOA sebesar 16,54 dB dan gain EDFA sebesar 6,31 dB. Penambahan penguat hybrid optical amplifier sebagi booster dan EDFA sebagai preamplifier telah memberikan performansi yang lebih baik dengan semakin banyaknya user dan semakin panjang jarak transmisi sehingga nilai BER mendekati ≤10-9 . Kata kunci : : NG-PON2 , TWDM, Hybrid Optical Amplifier, EDFA Abstract Next Generation Passive Optical Network Stage 2 (NG-PON 2), is the latest technology to help solve the problem of bandwidth resource on Passive Optical Network (PON) today. This research simulate and evaluation the performance of bidirectional NG-PON 2 with 40 Gb/s, and 80 Gb/s bit rate method changes using 4 and 8 TWDM channels with each channel has a 10 Gbps for downstream and upstream. This system has 10, 20, 30, 40 and 50 km transmission distance with the number 64, 128 and 256 Units of Network Optics (ONU).This system uses hybrid optical amplifier (HOA) as booster amplifier and EDFA as a pre-amplifier. The simulation is performed to find out the performance on NG-PON 2, bit rate, transmission distance and number of ONU on the influence of Bit Error Level (BER) on the user side with scenarios without amplifier and scenario using additional amplifier. Based on the simulation results, the best system performance is using amplifier that is with bit rate 40 Gbps with amount of 64 ONU can reach maximum distance 60 km. The best Q factor value obtained in 10 km the value is 23,66 downstream 21,85 upstream, BER 3,86×10-124 downstream and BER 3,16×10-106 upstream, received power -7,05 dBm downstream and -7,10 dBm upstream with Gain HOA 16,54 dB and an EDFA gain 6,31. The addition of a hybrid optical amplifier amplifier as a booster and EDFA as a preamplifier has provided better performance with more users and the longer the transmission distance so that the BER value is close to ≤10-9. Keywords: NG-PON2 , TWDM, Hybrid Optical Amplifier, EDFA
Modualtor Full Duplex Pada Sistem Radio Over Fiber Dengan Metode Ofdm Muhammad Fajar Nugraha; Akhmad Hambali; Brian Pamukti
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Radio over fiber (ROF) merupakan suatu proses pengiriman sinyal radio melalui kabel serat optik. Dengan menggunakan kabel serat optik, maka kualitas sinyal suara yang ditransmisikan tetap bagus atau dapat dikatakan gangguan yang timbul selama proses transmisi kecil, sehingga sinyal yang dibawanya tetap bagus. Orthogonal Frequency Division (OFDM) merupakan teknik modulasi multi-carrier di jaringan nirkabel, OFDM memiliki skema single-carrier untuk mengatasi kondisi saluran tanpa filter dengan pemerataan yang kompleks. Pada tugas akhir ini dilakukan pengumpulan data, setelah melakukan pengumpulan data maka tentukan spesifikasi perangkat berupa modulator optik dan tetapkan parameter yang akan digunakan. Langkah selanjutnya lakukan Simulasi dengan beberapa skenario menyesuaikan berapa banyak perangkat modulator yang telah ditentukan, setelah dilakukan lakukan anlisis pada simulasi yang telah dilakukan maka setiap skenario akan menghasilkan nilai parameter yang berbeda karena spesifikasi setiap perangkat berbeda, jika simulasi dan keluaran parameter tidak sesuai dengan parameter yang di tetapkan maka dilakukan pergantian perangkat hingga parameter dapat terpeuhi. Perhitungan dan Simulasi yang telah dilkukan pada Sistem ROF dengan metode OFDM berbasis full duplex pada Modulator Optik mampu bekerja pada RF band 5 Ghz dan bit rate 1 Ghz pada modulator MZM, EAM, AM, dan PM. Dengan nilai Q Factor yang hanya memenuhi standar ITU-T yaitu MZM dengan nilai 8.97 pada perancanaan dan 6.891 pada simulasi serta nilai BER 2.38 𝑥 10−12 dan 2.74 𝑥 10−12 pada simulasi. Kata kunci: OFDM, ROF, Q-Factor, Bandwidth, LPB, RTB ABSTRACT Radio over fiber (ROF) is a process of sending radio signals through fiber optic cables. Using a fiber optic cable, the quality of the transmitted voice signal remains good or can be said disturbance arising during the transmission process is small, so the signal is still good. Orthogonal Frequency Division (OFDM) is a multicarrier modulation technique in wireless networks, OFDM has a single-carrier scheme to address unfiltered channel conditions with complex equalization. In this final project conducted data collection, after collecting the data then specify the device specifications in the form of optical modulator and set parameters to be used. The next step is to do the simulation with some scenarios to adjust how many modulator devices have been determined, after done anlisis on the simulation that has been done then each scenario will produce different parameter values because the specifications of each device is different, if the simulation and output parameters are not in accordance with the parameters in the set then made the turn of the device until the parameters can be fulfilled. Calculations and Simulations have been performed on ROF system with full duplex-based OFDM method in Optical Modulator able to work on RF band 5 Ghz and 1 Ghz bit rate on modulator MZM, EAM, AM, and PM. With Q Factor value which only meets ITU-T standard that is MZM with value 8,97 in perancanaan and 6,891 at simulation and value BER 𝟐. 𝟑𝟖 𝒙 𝟏𝟎−𝟏𝟐 and 𝟐. 𝟕𝟒 𝒙 𝟏𝟎−𝟏𝟐 in simulation. Keywords: Audio Watermarking, Fast Fourier Transform, Singular Decomposition Value
Pengaruh Kabel Dispersion Compensating Fiber (dcf) Terhadap Performansi Link Sistem Komunikasi Optik Longhaul Dengan Berbagai Skema Jarak Achmad Wildan Almaiz; Akhmad Hambali; Brian Pamukti
eProceedings of Engineering Vol 4, No 3 (2017): Desember, 2017
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dewasa ini dengan bertambahnya kapasitas pengguna internet, data rate dengan kapasitas tinggi menjadi suatu kebutuhan, oleh karena itu desain fiber optik komunikasi jarak jauh dengan bitrate tinggi diperlukan. Tetapi, data rate dengan kapasitas tinggi memiliki kekurangan, dispersi adalah masalah untuk sistem ini. Maka dari itu, dengan menggunakan dispersion compensating fiber (DCF) diharapkan dapat mengoptimalisasikan rancangan fiber optik pada frekuensi tersebut, terutama dari masalah dispersi yang dapat dioptimalisasikan untuk receivingend. DCF adalah salah satu metode baik yang digunakan untuk menangani maslah dispersi, karena memiliki keunggulan diatantaranya bandwidth yang lebar, BER yang baik, stabilitas, sensitivitas yang bagus terhadap temperature[2]. Penggunaan DCF pada tugas akhir ini diterapkan pada Single mode fiber (SM). Dengan jarak hingga 1000km (long haul) dan datarate pada 10 Gbps sebagai pembanding. Skema yang digunakan pada penelitian ini terbagi menjadi 3 bagian, yang pertama yaitu simulasi tanpa DCF, dimana SM dipasang pada jarak longhaul tanpa DCF. Lalu simulasi dengan DCF dimana terdapat 3 skema berbeda yaitu SM dengan DCF, SM dengan DCF yang dirancang secara simetris, dan yang terakhir SM dengan DCF yang dipasang secara paralel, ke tiga skema tersebut didukung dengan penguat Erbium Doped Fiber Amplifier(EDFA). Pada akhir penelitian dengan bit rate 10 Gbps , skema tanpa DCF menghasilkan dispersi yang sangat besar dengan nilai Q factor maksimal berada pada jarak 100 Km, dengan nilai 8 dan BER bernilai 4.883 e -016. Skema post compensation menghasilkan Q factor dengan nilai 6.6 dan BER bernilai 1.011 e -011 pada jarak 400 km. Skema pre compensation menghasilkan Q factor dengan nilai 7.4 dan BER bernilai 5.9 e -014pada jarak 600 km Skema mix compensation menghasilkan Q factor dengan nilai 6.9 dan BER bernilai 1.8 e -012 pada jarak 600 km Skema paralel compensation menghasilkan Q factor dengan nilai 8 dan BER bernilai 1.16 e -06 pada jarak 400 km.Kata Kunci : DCF, BER , Q factor ,EDFA
Performansi Digitized Radio-over-fiber (d-rof) Pada Jaringan 40g Wdm-pon Sisi Downstream Zulfikar Sandy Pratama; Akhmad Hambali; Brian Pamukti
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Pada Radio-over-Fiber (RoF) yang mentransmisikan sinyal radio analog masih terdapat beberapa masalah diantaranya distorsi inter-modulasi (IMD) yang disebabkan oleh factor nonlinearitas dari gelombang mikro dan komponen optik. Bit rate yang tinggi menyebabkan informasi yang ditransmisikan rentan terhadap inter-symbol interference (ISI) dan dispersi pada serat optik. Solusi untuk mengatasi masalah tersebut yaitu dengan mengkonversi sinyal analog menjadi sinyal digital, atau yang disebut digitalisasi, dan mengkompensasi dispersi dengan Dispersion Compensating Fiber (DCF). Pada penelitian ini, dilakukan analisis terhadap performansi Digitized Radio-over-Fiber berdasarkan BER, Q-Factor, dan daya yang disimulasikan dengan program simulasi Optisystem lalu dibandingkan dengan Analog Radio-over-Fiber yang kedua sistem tersebut diintegrasikan dengan jaringan WDM-PON dengan bit rate akumulasi 40 Gbps. Hasil simulasi menunjukkan Analog RoF mempunyai Q-Factor 16,26; 14,03; 8,92 dan Digitized RoF mempunyai Q-Factor 22,15; 17,84; 10,52; pada jarak transmisi 40 km, 60 km, dan 80 km. Kata kunci : Radio-over-Fiber, Analog, Digitized, WDM-PON, 40G ABSTRACT Radio-over-Fiber technology that transmitted analog radio signal still experienced some problems including inter-modulation distortion (IMD) caused by nonlinearity factor from microwave and optical component. High bit rate transmission caused the transmitted information to be susceptible to inter-symbol interference (ISI) and dispersion in optical fiber. Solutions to these problems are converting the analog radio signal to become digitized, and using a Dispersion Compensating Fiber (DCF). In this research we have done some analysis about Digitized Radio-over-Fiber performance based on its BER, Q-Factor, and power. The result will be compared to Analog Radio-over-Fiber system. Both systems have 40 Gbps bit rate accumulation and is integrated with WDM-PON network. From the simulation we get the results for Analog RoF with Q-Factor 16,2676; 14,0293; 8,9212 and Digitized RoF with Q-Factor 22,15; 17,84; 10,52; for the transmission distance of 40 km, 60 km, and 80 km.. Keywords: Radio-over-Fiber, Analog, Digitized, WDM-PON, 40G
Perbandingan Performansi Edfa – Roa Pada Sistem Twdm-pon Berbasis Next Generation Passive Optical Network Stage 2 Ahmad Hidayat; Akhmad Hambali; Brian Pamukti
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Next Generation Passive Optical Network stage 2 (NG-PON2) menjadi perkembangan terbaru dari teknologi PON yang dapat mengirimkan informasi dengan kecepatan ≥ 40 Gbps untuk downstream dan 10 Gbps untuk upstream. Penelitian ini membandingkan penguat erbium doped fiber amplifier (EDFA) dan Raman Optical Amplifier (ROA) pada sistem NG-PON2 menggunakan perangkat lunak. Simulasi menggunakan empat kanal TWDM dengan total bit rate 40 Gbps pada sisi downstream dan 10 Gbps untuk upstream. Simulasi jaringan menggunakan splitting ratio 1:256 dengan jarak transmisi terjauh adalah 60 km. Simulasi skenario pertama dilakukan pada transmisi downstream dengan menambahkan optical amplifier sebagai booster amplifier. Skenario kedua dilakukan simulasi pada transmisi upstream dengan memanbahkan optical amplifier sebagai pre-amplifier. Berdasarkan dari hasil simulasi, didapatkan jenis optical amplifier terbaik pada transmisi downstream yaitu EDFA dengan nilai received power yaitu -23,99 dBm, SNR = 27,46 dB, Q Factor = 14,58, dan BER = 2,85 x 10- 47 . Pada transmisi upstream, EDFA juga menghasilkan performansi yang lebih baik dengan nilai received power yaitu -24,16 dBm, SNR = 23,90 dB, Q Factor = 10,75, dan BER = 2,76 x 10-27 . Berdasarkan nilai tersebut, penguat EDFA lebih unggul apabila diiplementasikan pada sistem NG-PON2 berbasis TWDM – PON.. Kata kunci : Optical amplifier, PON, NG-PON2, TWDM, EDFA, ROA Abstract Next Generation Passive Optical Network stage 2 (NG-PON2) is becoming the latest development of PON technology that can transmit information at speeds of ≥ 40 Gbps for downstream and 10 Gbps for upstream.This research compared the erbium doped fiber amplifier (EDFA) and Raman Optical Amplifier (ROA) on the NGPON2 system using the software. The simulation uses four TWDM channels with a total bit rate of 40 Gbps on the downstream and 10 Gbps for upstream. The network simulation uses 1:256 splitting ratio with the farthest transmission distance is 60 km. The first scenario simulation is performed on the downstream transmission by adding an optical amplifier as a booster amplifier. The second scenario is simulated on the upstream transmission by adding the optical amplifier as a pre-amplifier. Based on the simulation results, the best optical amplifiers in downstream transmission are EDFA with received power value is -23.99 dBm, SNR = 27,46 dB, Q Factor = 14,58, and BER = 2,85 x 10-47. In upstream transmission, EDFA also produces better performance with received power value is -24.16 dBm, SNR = 23.90 dB, Q Factor = 10.75, and BER = 2.76 x 10-27. Based on these values, EDFA amplifier is superior when implemented on NG-PON2 system based TWDM – PON. Keywords: Optical amplifier, PON, NG-PON2, TWDM, EDFA, ROA
Pengaruh Non-linier Terhadap Performansi Sistem Pada Next Generation Optical Network Muhamad Arief Permana; Akhmad Hambali; Brian Pamukti
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak NG-PON2 pertama kali diperkenalkan oleh ITU-T pada tahun 2013 untuk standar G.989.1 dan dilanjutkan G.989.2. NG-PON2 memiliki bitrate sebesar 40 Gbit/s dan menjadi sistem yang menerapkan teknologi TWDM (Time and Wavelength Division Multiplexing). Namun dari banyaknya kelebihan NG-PON2 ternyata masih memiliki rugi-rugi yang menjadi pengaruh performasi jaringan dikatakan baik. Salah satu rugi-rugi NG-PON2 antara lain efek non-linier optik (Kerr Effect). Jika diamati lebih dalam Kerr Effect dapat menimbulkan beberapa efek seperti, Self Phase Modulation (SPM), Cross Phase Modulation (XPM), dan Four Wave Mixing (FWM). Penelitian ini memiliki dua skenario untuk membuktikan pengaruh efek non-linier terhadap performansi NG-PON2. Pada skenario pertama menentukan sistem NG-PON2 yang akan diuji performansinya terhadap efek non-linier. Skenario kedua melakukan simulasi SPM dan XPM pada parameter bidirectional optical fiber dan simulasi 𝑛2 (indeks bias non-linier) dengan mengubah nilai ordonya berdasarkan rumus indeks bias refraktif. Penelitian ini menghasilkan parameter XPM dan SPM tidak signifikan mempengaruhi performansi NG-PON2. Penelitian ini juga mendapatkan penurunan performansi NG-PON2 secara signifikan terjadi pada nilai indeks bias non-linier dengan orde 10-18 , sehingga dengan nilai orde yang besar dapat mengakibatkan kerusakan pada setiap kanal. Selain itu, NG-PON2 memiliki performansi terbaik pada spasi kanal 100 GHz dengan jumlah kanal 4 dan 8 lambda yang sudah dipengaruhi oleh efek non-linier. Kata kunci: NG-PON stage 2, serat optik, Passive Optical Network. Abstract NG-PON2 was first introduced by ITU-T in 2013 for the G.989.1 standard and continued G.989.2. NG-PON2 has a 40 Gbit / s of bitrate and becomes a system that implements TWDM (Time and Wavelength Division Multiplexing) technology. But from many advantages of NG-PON2 it still has losses that the influence of network performance is said to be good. One of the NG-PON2 losses is optical non-linear effect (Kerr Effect). More deeply observed Kerr Effect can cause some effects such as, Self Phase Modulation (SPM), Cross Phase Modulation (XPM), and Four Wave Mixing (FWM). This research has two scenarios to prove the effect of nonlinear on NG-PON2 performance. In the first scenario determine the NG-PON2 system to be tested for its performance against non-linear effects. The second scenario performs SPM and XPM simulations on bidirectional optical fiber parameters and simulation n2 (non-linear refractive index) by changing the value of its order based on the refractive index refractive index. This research resulted the parameters of XPM and SPM did not significantly affect the performance of NG-PON2. This study also found that NG-PON2 performance decrease significantly occurred in non-linear refractive index values of 10-18 by order, so with a large order values can cause damage to each channels. In addition, NG-PON2 has the best performance on 100 GHz channel spacing with 4 and 8 lambda channel numbers that have been affected by non-linear effects. Keywords: NG-PON stage 2, fiber optic, Passive Optical Network
Simulasi Performansi Terhadap Evolusi Teknologi Gpon Ke Ngpon2 Dengan Mengacu Pada Standar Itu-t Muhammad Etfrawan Shobirin; Akhmad Hambali; Brian Pamukti
eProceedings of Engineering Vol 4, No 3 (2017): Desember, 2017
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Adanya pembaruan evolusi teknologi GPON ke NGPON2 diharapkan dapat meningkatkan kebutuhan akses yang cepat dengan bandwidth 40 Gbps yang diberikan, serta jarak panjang kabel optik dapat dicapai 10- 60 km, dan split ratio ODN yang diberikan pada NGPON2 secara teknis dapat mencapai maksimal 1:256. Pada NGPON2 bitrate diberikan sebesar 40 Gbps arah downstream dan 10 Gbps arah upstream, dengan mengganti sistem pada perangkat server yaitu single OLT menjadi stacking 4 OLT. Kedua jaringan GPON maupun NGPON2 bersifat bidirectional. Untuk GPON diberikan panjang gelombang 1480 nm untuk arah downstream dan 1260 nm untuk arah upstream. Untuk NGPON2 diberikan panjang gelombang dengan rentang 1596-1598.4 nm untuk arah downstream dan 1524-1526.4 nm untuk arah upstream, spasi kanal yang digunakan adalah 0.8 nm. panjang link tiap masing-masing yaitu 10, 20, 30 km dengan daya kirim kedua jaringan sebesar 0 dBm. Kedua jaringan menggunakan 1 stage passive splitter dengan ukuran 1:16, 1:32, 1:64, 1:128 user. Berdasarkan hasil uji analisa yang dilakukan berdasarkan acuan ITU-T, terbukti bahwa jaringan NGPON lebih baik dari GPON. Dengan nilai power link budget -16,08 dBm serta -29,28 dBm, untuk nilai minimum dari 16 ONU dengan jarak 10 km, serta nilai maksimum dari 128 ONU dengan jarak 30 km. Dan memperoleh nilai margin daya di atas 0. Serta nilai Q-Factor berada diatas > 6 untuk semua skenario. Sedangkan pada GPON, terdapat nilai margin daya di bawah < 0 pada kondisi 32 ONU dengan jarak maksimum 30 km. Dan nilai Q-Factor di bawah < 6 serta nilai BER di diatas > 10-9 pada kondisi jarak 30 km pada split ratio 128 ONU.Kata kunci : GPON, NGPON2, Bandwidth, Link Power Budget, Q Factor, BER