Claim Missing Document
Check
Articles

Penentuan Indoor Positioning System (IPS) menggunakan Metode Received Signal Strength (RSS) untuk Visible Light Communication (VLC) FASYA, ISTI; HAMBALI, AKHMAD; PAMUKTI, BRIAN
ELKOMIKA: Jurnal Teknik Energi Elektrik, Teknik Telekomunikasi, & Teknik Elektronika Vol 11, No 2: Published April 2023
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/elkomika.v11i2.325

Abstract

ABSTRAKPenentuan posisi di dalam ruangan merupakan hal yang penting untuk menjadikan petunjuk di dalam ruangan. Banyak metode lain yang sudah dilakukan penelitian tetapi ada beberapa kendala seperti tidak dapat digunakan di area sensitive dan biaya yang mahal. Pada penelitian ini kami mengusulkan untuk melakukan simulasi penentuan posisi menggunakan metode Received Signal Strength (RSS) dengan Light Emitting Diode (LED) dan Positive Intrinsic Negatif (PIN). Dengan asumsi pada ruangan tertutup yang berukuran 5 × 5 × 3 m3, kami melakukan simulasi 4 skenario posisi transmitter. Pada setiap skenario memiliki 3 buah transmitter pada level daya 1 watt yang lebih rendah dari penelitian-penelitian sebelumnya. Dari hasil simulasi yang ekstensif menyatakan bahwa, pada skenario 1 memiliki hasil akurasi 27,97%, skenario 2 sebesar 43,33%, skenario 3 sebesar 86,84%, dan skenario 4 dengan hasil 21,15%.Kata kunci: indoor positioning system, received signal strength, visible light communication ABSTRACTDetermining the position in the room is important to be a guide in the room. Many other methods have been researched, but there are some obstacles such as not being able to be used in sensitive areas and expensive. In this study, we suggest simulating buying a position using the Received Signal Strength (RSS) method with Light Emitting Diode (LED) and Positive Intrinsic Negative (PIN). Assuming that the room is 5 × 5 × 3 m3 closed, we simulated 4 transmitter position scenarios. Each scenario has 3 transmitters at a power level of 1 watt which is lower than previous studies. From the extensive simulation results stated that scenario 1 has an accuracy of 27.97%, scenario 2 is 43.33%, scenario 3 is 86.84%, and scenario 4 is 21.15%.Keywords: indoor positioning system, received signal strength, visible light communication
Cognitive Successive Interference Cancellation for Multi-User Visible Light Communication Systems MARSUKI, AMINAH INDAHSARI; PAMUKTI, BRIAN
ELKOMIKA: Jurnal Teknik Energi Elektrik, Teknik Telekomunikasi, & Teknik Elektronika Vol 13, No 2: Published April 2025
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/elkomika.v13i2.185

Abstract

Wireless communication technology continues to face challenges in meeting high bandwidth demands and the capability to serve numerous users. One promising solution is the non-orthogonal multiple access (NOMA) scheme, particularly through the use of power domain (PD) in the application of visible light communication (VLC) technology. However, PD-NOMA still faces power allocation and detection issues at the receiver end. We propose the Cognitive-SIC-VLC method, which considers the line of sight (LOS). Using combined multiplexing techniques, variations in user positions within the system can result in low SNR (dB) values when detecting a BER threshold of 10-3. In three power allocation experiment scenarios, the third scenario was the best with an initial power allocation of 0.95 and a power increment for each user of 0.05. This has been proven to have very low SNR requirements for users close to the LED.
PERANCANGAN DAN ANALISIS SISTEM KOMUNIKASI SERAT OPTIK LINK SAMARINDA-PENAJAM PASER UTARA MENGGUNAKAN TEKNOLOGI DWDM ‘Aunurrafieq, Muhammad Naufal; Hambali, Akhmad; Pamukti, Brian
Telkatika: Jurnal Telekomunikasi Elektro Komputasi & Informatika Vol. 2 No. 2 (2023): Juni 2023
Publisher : Perpustakaan Universitas Telkom

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rencana pemerintah Indonesia terkini mengenai pemindahan Ibu Kota Negara Indonesia ke pulau Kalimantan tepatnya disekitar wilayah Kabupaten Penajam Paser Utara menuntut tingkat pelayanan dan fasilitas layanan telekomunikasi yang maksimal agar dapat menunjang kebutuhan pemerintah dan masyarakat di wilayah tersebut sehingga diperlukan perancangan jaringan telekomunikasi yang mumpuni untuk mengatasi permasalahan tersebut. Pada penelitian dilakukan perancangan, simulasi, serta analisis sistem komunikasi serat optik pada dari Samarinda menuju Penajam Paser Utara menggunakan teknologi Dense Wavelength Division Multiplexing (DWDM). Standar performansi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Link Power Budget (LPB), Rise Time Budget (RTB), Signal to Noise Ratio (SNR), Q-factor, dan Bit Error Rate (BER). Dalam penelitian ini diujikan beberapa skenario gain pada amplifier dengan nilai 35 dB, 39 dB, dan 43 dB dimana skenario dengan gain 43 dB mampu memenuhi standar performansi dan layak untuk digunakan serta diimplementasikan dimana skenario ini mampu menghasilkan nilai BER terkecil sebesar 9,91547 _ 10_13 dan nilai bit error rate terbesar yaitu 9,1891 _ 10_11.Kata kunci: dense wavelength division multiplexing, link power budget, rise time budget, signal to noise ratio, Q-factor, bit error rate.
Analisis Performansi Kapasitas Sistem UVLC Berbasis NOMA dengan Perubahan Metode Alokasi Daya pada Kanal Propagasi NLoS Fadilah, Budi Ikhwan; Mufti A, Nachwan; Pamukti, Brian
eProceedings of Engineering Vol. 10 No. 4 (2023): Agustus 2023
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Underwater Visible Light Communication (UVLC) merupakan salah satu penerapan teknologi VLC yang menggunakan pancaran Light Emitting Diode (LED) pada medium air. UVLC menjadi alternatif yang tepat untuk komunikasi bawah air selain penggunaan gelombang akustik dan radio. Efektivitas biaya dan konsumsi energi yang rendah menjadi keunggulan lainnya. Salah satu kekurangan yang dimiliki UVLC adalah sempitnya bandwidth modulasi sehingga mengakibatkan pengurangan kapasitas yang dicapai sistem. Untuk mengatasi permasalahan tersebut diimplementasikan Non-Orthogonal Multiple Access (NOMA). NOMA adalah suatu teknik penggabungan beberapa sinyal yang dibedakan berdasarkan daya tiap user. Dalam sistem NOMA, terdapat superposition coding di sisi pengirim dan successive interference cancellation (SIC) di sisi penerima. Pada Tugas Akhir ini, membandingkan dua metode alokasi daya yaitu Gain Ratio Power Allocation (GRPA) dan Static Power Allocation (SPA). Selain itu, dilakukan juga penelitian pada kanal dengan kondisi terdapat turbulensi dan tanpa adanya turbulensi. Adapun Parameter yang diujikan adalah Signal to Interference Plus Noise Ratio (SINR) serta kapasitas. Hasil simulasi dan analisis didapatkan sistem NOMA-UVLC dengan alokasi daya GRPA lebih stabil dibandingkan dengan alokasi daya SPA dengan rata-rata kenaikan kapasitas 52%. Kapasitas sistem mengalami penurunan pada kondisi turbulensi serta dipengaruhi oleh diterapkannya residu pada proses Successive Interference Cancellation (SIC) dibandingkan tidak mengalami residu pada proses SIC.Kata kunci— UVLC, NOMA, NLoS, power allocationn, sic
Performansi Static Power Allocation Di Ruangan Indoor Pada Sistem VLC-NOMA Menggunakan Modulasi PPM Afifah, Syifa Hana; Adriansyah, Nachwan Mufti; Pamukti, Brian
eProceedings of Engineering Vol. 10 No. 5 (2023): Oktober 2023
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seiring penggunaan teknologi yang semakin pesatmembuat berkembangnya inovasi dalam dunia teknologi.Visible Light Communication (VLC) adalah sistem komunikasiyang memanfaatkan cahaya tampak sebagai mediatransmisinya. VLC memiliki kekurangan pada bandwithmodulasi yang terbagi saat pengguanaan user dalam jumlahbanyak. Dalam mentransmisikan data VLC juga dapatmengalami interferensi dari suatu objek yang meghalangicahaya untuk sampai lansung ke user. Pada penelitian inimenganalisis Non-Orthogonal Multiple Access (NOMA) dalammengatasi kekurangan pada VLC. Teknik alokasi daya yangdigunakan adalah Static Power Allocation (SPA) danmeggunakan Pulse Position Modulation (PPM). Penelitian inimenggunakan kanal Line of Sight (LOS) dan Non-Line of Sight(NLOS). Parameter performansi yang digunakan yaitu Signalto Interference plus Noise Ratio (SINR), kapasitas kanal, dan BitError Rate (BER). Berdasarkan penelitian ini dapatdisimpulkan bahwa hasil SINR dengan kondisi kanal LOS lebihbaik dibandingkan kondisi kanal NLOS. Skenario yangmemiliki 2 user mendapatkan nilai SINR tertinggidibandingkan skenario lain nya, dengan nilai 33,450dB untukkanal LOS dan 25,491dB untuk kanal NLOS. Sedangkan untukBER dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi level padamodulasi PPM digunakan, maka hasil dari BER akan semakinbaik.Kata kunci— Visible Light Communication, Non-Orthogonal Multiple Access, Pulse Position Modulation, BitError Rate, Signal to Interference plus Noise Ratio
Performance Evaluation of Successive Interference Cancellation on Gain Ratio Power Allocation using Underwater Visible Light Communication Channel Nur'Adli, Luthfi; Fahmi, Arfianto; Pamukti, Brian
JOIV : International Journal on Informatics Visualization Vol 6, No 2 (2022)
Publisher : Society of Visual Informatics

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30630/joiv.6.2.994

Abstract

Underwater Visible light communication (UVLC) is a network communication wirelessly where information is transmitted employing light through visible waves; in this case, the light source comes from a light-emitting diode (LED) as a transmitter underwater. VLC has several advantages over radio frequency technology, such as safer communication because light propagation cannot penetrate the wall, so it is difficult to do hacking, easy to get a license, relatively build cheap cost, and has no side effects on health. However, VLC has several limitations, one of which is the narrow bandwidth modulation. VLC undergoes a distribution of modulated bandwidth to allocate against each user. This bandwidth sharing has an impact on reduced system capacity. This study applied non-orthogonal multiple access (NOMA) to increase system capacity. This research analyzes the performance of the two best power allocation methods in a water medium, including gain ratio power allocation (GRPA) and static power allocation (SPA). In the results obtained in the NOMA-UVLC power allocation value, GRPA is more stable than SPA power allocation. Then applying residue in the successive interference cancellation (SIC) process will result in a decrease in system capacity compared to no residue in the SIC process. This study found that the GRPA power allocation is more stable in capacity performance compared to the application of SPA power allocation. Average capacity increase of 48.5% in GRPA power allocation
Analisis Performansi Teknologi Dwdm Dengan Penguat Optik Hybrid Roa-Edfa Berbasis Soliton Barawasi, Tika Nadhiah; Pamukti, Brian; Yudiansyah, Yudiansyah
eProceedings of Engineering Vol. 12 No. 6 (2025): Desember 2025
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peningkatan kebutuhan akan transmisi data berkapasitas besar dan jarak jauh mendorong penggunaan teknologi Dense wavelength division multiplexing (DWDM) dalam sistem komunikasi optik. Namun, tantangan utama pada DWDM adalah redaman dan dispersi sinyal yang terjadi seiring bertambahnya jarak transmisi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis performansi sistem DWDM berbasis soliton dengan kombinasi penguat optik hybrid ROA-EDFA dalam dua konfigurasi: ROA sebagai booster amplifier dan sebagai inline amplifier. Selain itu, diteliti pula pengaruh penggunaan dispersion compensation fiber (DCF) dalam meningkatkan kualitas sinyal. Simulasi dilakukan menggunakan perangkat lunak OptiSystem 7.0 dengan variasi daya laser dari -8 dBm hingga 8 dBm, serta panjang serat optik 30 km, 50 km, dan 100 km. Hasil menunjukkan bahwa konfigurasi ROA sebagai booster amplifier memberikan performa terbaik, terutama jika dikombinasikan dengan DCF, dengan nilai bit error rate (BER) mencapai 10⁻³⁶. Sebaliknya, penggunaan ROA sebagai inline amplifier menunjukkan penurunan kualitas sinyal pada daya rendah dan jarak jauh. Kesimpulannya, konfigurasi ROA sebagai booster amplifier dengan DCF sangat direkomendasikan untuk sistem DWDM jarak jauh. Penggunaan soliton juga terbukti efektif dalam mempertahankan kestabilan sinyal dan menekan efek dispersi dalam jaringan optik. Kata kunci— sortasi pisang, computer vision, ESP8266, teachable machine, otomasi, blynk