Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

Analisis Penyebab Kekalahan Amerika Serikat Dalam Perang Vietnam T. Mas Turi; Rudy Sutanto; Ansori Ansori
JAMPARING: Jurnal Akuntansi Manajemen Pariwisata dan Pembelajaran Konseling Vol 1, No 2 (2023): Agustus 2023
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jamparing.v1i2.1019

Abstract

Perang Vietnam atau sering disebut dengan istilah perang Indochina kedua terjadi antara tahun 1957 s.d. 1975 di Vietnam. Perang Vietnam sebagai implikasi dari terjadinya Perang Dingin yang melibatkan dua ideologi besar, yakni ideologi Komunis dan SEATO. Pihak yang terlibat dalam perang di Vietnam adalah Republik Vietnam (Vietnam Selatan) dan Republik Demokratik Vietnam/RDV (Vietnam Utara). Vietnam Selatan didukung oleh negara SEATO seperti Amerika Serikat, Australia, Korea Selatan, Selandia Baru, Thailand dan Filipina. Sedangkan Vietnam Utara yang berideologi Komunis didukung oleh negara negara berhaluan komunis speerti Uni Soviet, Tiongkok, Korut, Mongolia dan Kuba. Peran Amerika Serikat dalam perang Vietnam sudah terlihat ketika terjadinya Perang Indochina pertama. Amerika Serikat merupakan salah satu kekuatan yang memberikan dukungan kepada pemerintah kolonial Perancis di Indochina ketika melakukan pemberantasan terhadap kelompok pemberontak komunis melalui Military Assistance and Advisory Group (MAAG). Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui tentang penyebab kekalahan Amerika Serikat dalam perang Vietnam. Metode penelitian yang digunakan adalah metode analisis deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Amerika Serikat melakukan invasi ke Vietnam dengan jumlah pasukan dan peralatan tempur yang besar sebagai bentuk kekhawatiran terhadap efek domino, yakni pengaruh perkembangan komunisme di Asia Tenggara. Sebagai kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa Vietnam Utara menjadi pemenang dalam pertempuran dan terdapat beberapa penyebab yang menjadikan kekalahan Amerika Serikat serta adanya dampak yang ditimbulkan dalam perang Vietnam.
Implementation of Indonesia's Sea Defense Strategy Policy In Facing Military Threats to Support Sea Power Puja Sari Putri; Ansori Ansori; Reghina R. Syifaranie S.; Anis Nurlaily; Hafidz K. Jati
Ministrate: Jurnal Birokrasi dan Pemerintahan Daerah Vol 5, No 3 (2023): Birokrasi dan Pemerintahah di Daerah 12
Publisher : Jurusan Administrasi Publik FISIP UIN SGD Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jbpd.v5i3.30585

Abstract

Indonesia in realizing the World Maritime Axis country requires good physical and mental conditions where all elements greatly affect the performance and performance of the country in carrying out defense and security in order to achieve national goals. This article uses a qualitative method. Regarding the Implementation of the Archipelago Sea Defense Strategy Policy in Facing Military Threats to Support Sea Power. Using the theory of policy implementation according to Edward III, namely Communication, Resources, Disposition and Bureaucratic Structure. To obtain data using the Library Research method, which includes the use of books, scientific journals, trade publications, magazines, newspapers, the internet, and artifacts. That when viewed based on Edward III's first policy implementation theory of communication that good communication will bring Indonesia into defense diplomatically with the country concerned without having to go to war, disposition requires Indonesia to take an active role in collective security efforts in the ASEAN Regional region so as to create decisions that can be mutually agreed upon in cases of territorial waters or state borders in the ASEAN Regional region, resources require Indonesia to understand the current threat spectrum that the glass of power of great power countries has occurred in the region so that the government must take the right steps in fulfilling both human resources and defense equipment, and finally the bureaucratic structure where all elements responsible for marine security must take part in maintaining marine security and defense and minimizing the egocentricity of each institution in order to achieve national goals
Peran Perang Gerilya dalam Menghadapi Tantangan Kedaulatan Negara: Tinjauan atas Empat Konflik Bersejarah Suciati; Ansori Zaini; Sovian Aritonang
Jurnal Kewarganegaraan Vol 8 No 1 (2024): Juni 2024
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/jk.v8i1.6530

Abstract

Abstract Penggunaan taktik gerilya telah menjadi sarana peperangan utama bagi negara-negara dengan kedaulatan atau kemajuan teknologi yang lebih rendah. Esai ini mengkaji peran perang gerilya dalam mengatasi kesenjangan teknologi dalam empat konflik penting dalam sejarah. Pendekatan dalam melakukan penelitian ini adalah kualitatif, dengan fokus pada pendalaman pemahaman fenomena sosial atau budaya melalui analisis naratif dan interpretatif. Desain penelitian yang digunakan adalah studi kasus, yang memungkinkan peneliti menyelidiki beberapa kasus tertentu secara komprehensif dan rinci dalam situasi dunia nyata. Studi kasus dalam penelitian ini antara lain perang gerilya Jenderal Sudirman, perang gerilya Tentara Vietnam Utara (Viet Cong), perang gerilya Mujahidin, dan perang gerilya Mao Tse Tung melawan agresi militer Jepang. Melalui analisis rinci mengenai strategi, taktik, dan keputusan kebijakan dalam keempat konflik tersebut, penulis menyoroti pentingnya perang gerilya sebagai alat untuk melindungi kedaulatan negara-negara yang secara teknologi lemah. Hasil penelitian ini memberikan wawasan penting mengenai strategi perang gerilya dalam konteks modern dan implikasinya terhadap pertahanan nasional. Keywords: Kedaulatan Negara, Perang Gerilya, Strategi Perang, Tantangan Teknologi
Implementation of Indonesia's Sea Defense Strategy Policy In Facing Military Threats to Support Sea Power Puja Sari Putri; Ansori Ansori; Reghina R. Syifaranie S.; Anis Nurlaily; Hafidz K. Jati
Ministrate: Jurnal Birokrasi dan Pemerintahan Daerah Vol. 5 No. 3 (2023): Birokrasi dan Pemerintahah di Daerah 12
Publisher : Jurusan Administrasi Publik FISIP UIN SGD Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jbpd.v5i3.30585

Abstract

Indonesia in realizing the World Maritime Axis country requires good physical and mental conditions where all elements greatly affect the performance and performance of the country in carrying out defense and security in order to achieve national goals. This article uses a qualitative method. Regarding the Implementation of the Archipelago Sea Defense Strategy Policy in Facing Military Threats to Support Sea Power. Using the theory of policy implementation according to Edward III, namely Communication, Resources, Disposition and Bureaucratic Structure. To obtain data using the Library Research method, which includes the use of books, scientific journals, trade publications, magazines, newspapers, the internet, and artifacts. That when viewed based on Edward III's first policy implementation theory of communication that good communication will bring Indonesia into defense diplomatically with the country concerned without having to go to war, disposition requires Indonesia to take an active role in collective security efforts in the ASEAN Regional region so as to create decisions that can be mutually agreed upon in cases of territorial waters or state borders in the ASEAN Regional region, resources require Indonesia to understand the current threat spectrum that the glass of power of great power countries has occurred in the region so that the government must take the right steps in fulfilling both human resources and defense equipment, and finally the bureaucratic structure where all elements responsible for marine security must take part in maintaining marine security and defense and minimizing the egocentricity of each institution in order to achieve national goals
PARADOKS DIGITALISASI ADMINISTRASI PENDIDIKAN PADA GURU SEKOLAH MENENGAH PERTAMA Ansori Zaini
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i2.10077

Abstract

Digital transformation within the education system is expected to improve administrative efficiency and the quality of learning; however, in practice, it has instead given rise to new dynamics regarding teachers’ workloads. This study aims to analyse the impact of the digitalisation of educational administration on teachers’ professionalism using the Pedagogical Content Knowledge perspective. This study employs a descriptive qualitative approach and is based at SMP Negeri 1 Kanor, Bojonegoro Regency. Data were collected through in-depth interviews with research subjects selected through purposive sampling, involving teachers with diverse age and experience backgrounds. The results indicate that the digitalisation of administration increases teachers’ workload, primarily due to a lack of digital literacy and training, as well as the complexity of digital reporting systems. High administrative burdens result in teachers having reduced focus on instructional development. Furthermore, competence-building activities through online training tend to be merely a formality and have not yet contributed optimally to supporting pedagogical practice. This situation gives rise to an imbalance in mental workload, characterised by an overload in fulfilling administrative tasks and a decline in pedagogical activities within the classroom. Furthermore, competency development activities through online training tend to be formal and have not optimally contributed to supporting pedagogical practice. This condition gives rise to an unbalanced mental workload, namely an overload on fulfilling administrative tasks and a decrease in pedagogical activities in the classroom. Therefore, a restructuring of the teacher work system is needed to reduce the administrative burden, strengthen activities that support the development of Pedagogical Content Knowledge, and design proportional training and competency development. ABSTRAK Transformasi digital dalam sistem pendidikan diharapkan mampu meningkatkan efisiensi administrasi dan kualitas pembelajaran, namun dalam praktiknya justru menimbulkan dinamika baru terkait beban kerja guru. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak digitalisasi administrasi pendidikan terhadap profesionalisme guru dengan menggunakan perspektif Pedagogical Content Knowledge. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan lokasi di SMP Negeri 1 Kanor, Kabupaten Bojonegoro. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan subjek penelitian ditentukan secara purposive, melibatkan guru dengan latar belakang usia dan pengalaman yang beragam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa digitalisasi administrasi meningkatkan beban kerja guru, terutama disebabkan minimnya literasi digital dan pelatihan, serta kompleksitas sistem pelaporan digital. Beban administratif yang tinggi berdampak pada berkurangnya fokus guru terhadap pengembangan pembelajaran. Selain itu, kegiatan pengembangan kompetensi melalui pelatihan daring cenderung bersifat formalitas dan belum berkontribusi optimal dalam mendukung praktik pedagogis. Kondisi ini memunculkan fenomena mental workload yang tidak seimbang, yaitu overload pada pemenuhan tugas administrasi dan menurunnya pada aktivitas pedagogis pembelajaran di kelas. Oleh karena itu, diperlukan penataan kebijakan yang lebih proporsional melalui pengurangan beban administratif, penguatan pelatihan, serta pengembangan model pembelajaran campuran guna mendukung optimalisasi kualitas pembelajaran.
KESIAPAN AKSES TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI PESERTA DIDIK DALAM MENDUKUNG MANAJEMEN PENDIDIKAN DIGITAL DI INDONESIA Ansori Zaini
EDUTECH : Jurnal Inovasi Pendidikan Berbantuan Teknologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/edutech.v6i3.12438

Abstract

The digital transformation of education in Indonesia has prompted the implementation of Coding and Artificial Intelligence (AI) learning as mandated by Ministerial Regulation No. 13 of 2025. However, this policy faces serious challenges as students' readiness in accessing information and communication technology (ICT) has not been comprehensively examined using national-level data. This study aims to analyze students' ICT access readiness in supporting digital education transformation in Indonesia. A descriptive quantitative approach was employed using secondary data from the National Socioeconomic Survey (Susenas) of March 2025 and the Education Data System (Dapodik) of 2022, analyzed through the International Telecommunication Union (ITU) digital skills framework. The findings reveal that although mobile phone and internet access among students is relatively high, the use of computers or laptops remains very low and internet usage is still dominated by entertainment activities. The majority of students remain at the basic digital skills level, whereas Coding and AI learning demands advanced digital skills, indicating a significant gap between policy targets and students' actual digital readiness. These findings imply that strengthening ICT infrastructure, expanding computer access in schools, and developing digital literacy are essential prerequisites before Coding and AI learning policies can be implemented optimally and equitably across all educational institutions in Indonesia. ABSTRAK Transformasi pendidikan digital di Indonesia mendorong implementasi pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial (KA) sebagaimana diatur dalam Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025. Namun, kebijakan ini berpotensi menghadapi kendala serius karena kesiapan akses teknologi informasi dan komunikasi (TIK) peserta didik belum pernah dikaji secara komprehensif berbasis data nasional. Penelitian ini bertujuan menganalisis kesiapan akses TIK peserta didik dalam mendukung transformasi pendidikan digital di Indonesia. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan memanfaatkan data sekunder Susenas Maret 2025 dan Dapodik 2022, dianalisis menggunakan kerangka keterampilan digital International Telecommunication Union (ITU). Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun akses telepon seluler dan internet peserta didik sudah tinggi, penggunaan komputer atau laptop masih sangat rendah dan pemanfaatan internet masih didominasi oleh hiburan. Mayoritas peserta didik masih berada pada level basic digital skills, sementara pembelajaran Koding dan KA menuntut penguasaan advanced digital skills, sehingga terdapat kesenjangan signifikan antara target kebijakan dan kesiapan digital peserta didik. Temuan ini mengimplikasikan perlunya penguatan infrastruktur TIK, pemerataan akses komputer, dan pengembangan literasi digital sebelum kebijakan pembelajaran Koding dan KA dapat diimplementasikan secara optimal dan merata di seluruh satuan pendidikan Indonesia.
Pemberdayaan Transportasi Penyeberangan Laut Ujung-Kamal Sebagai Strategi Pertahanan Laut di Selat Madura A Fauzan; Rudy Sutanto; Ansori Zaini
Jurnal Kewarganegaraan Vol 7 No 1 (2023): Juni 2023
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/jk.v7i1.5258

Abstract

Abstrak Selat Madura terletak diantara pulau Jawa dan pulau Madura. Celah sempit dan jarak yang paling dekat berada di ujung barat pulau Madura, tepatnya pantai barat kabupaten Bangkalan sedangkan di pulau Jawa berada di wilayah Kabupaten Gresik dan Kota Surabaya. Pada kedua ujungnya terdapat dua pelabuhan penting yang menghubungkan kedua pulau ini, yaitu pelabuhan Ujung, Tanjung Perak dan pelabuhan Kamal, Bangkalan. Dengan kondisi geografisnya yang saling berdekatan itu, aktifitas di selat Madura lebih banyak didominasi oleh penyeberangan dari pulau Jawa ke pulau Madura dan sebaliknya. Aktifitas penyeberangan dari kedua dermaganya itu telah ada sejak zaman dahulu, dimulai dengan menggunakan perahu-perahu tradisional untuk keperluan mengangkut orang maupun barang, hingga pada perkembangan selanjutnya menggunakan sarana kapal penyeberangan (ferry) milik PT ASDP. Kemudian keberadaan jembatan Suramadu yang telah beropersi sejak tahun 2009 berpengaruh terhadap kehidupan di sekitar wilayah ini, terutama pada sektor transportasi penyeberangan, sehingga sebagian masyarakat mulai beralih melalui jembatan tersebut, sedangkan pada penyeberangan melalui laut sebagian telah mengalami penurunan. Tujuan penelitian adalah: 1) Untuk mengetahui bagaimanakah kondisi sarana transportasi penyeberangan dari Ujung ke Kamal saat ini? dan; 2) Bagaimana strategi pemberdayaan transportasi penyeberangan Ujung – Kamal untuk kepentingan pertahanan laut?. Metode kualitatif digunakan dalam penelitian ini dengan menggunakan studi pustaka dan literatur-literatur yang yang relevan terkait dengan permasalahannya. Hasil penelitian didapatakan bahwa keberadaan sarana transportasi penyeberangan Ujung-Kamal agar tetap berlangsung dan dipertahanan. Sebagai kesimpulan, bahwa mempertahankan kelangsungan sarana transportasi penyeberangan Ujung-Kamal merupakan hal penting, karena keberadaannya sangat potensial untuk diberdayakan sebagai strategi pertahanan laut di selat Madura. Kata kunci: Selat Madura, Transportasi penyeberangan Ujung-Kamal, Strategi Pertahanan Laut
Peran Perang Gerilya dalam Menghadapi Tantangan Kedaulatan Negara: Tinjauan atas Empat Konflik Bersejarah Suciati; Ansori Zaini; Sovian Aritonang
Jurnal Kewarganegaraan Vol 8 No 1 (2024): Juni 2024
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/jk.v8i1.6530

Abstract

Abstract Penggunaan taktik gerilya telah menjadi sarana peperangan utama bagi negara-negara dengan kedaulatan atau kemajuan teknologi yang lebih rendah. Esai ini mengkaji peran perang gerilya dalam mengatasi kesenjangan teknologi dalam empat konflik penting dalam sejarah. Pendekatan dalam melakukan penelitian ini adalah kualitatif, dengan fokus pada pendalaman pemahaman fenomena sosial atau budaya melalui analisis naratif dan interpretatif. Desain penelitian yang digunakan adalah studi kasus, yang memungkinkan peneliti menyelidiki beberapa kasus tertentu secara komprehensif dan rinci dalam situasi dunia nyata. Studi kasus dalam penelitian ini antara lain perang gerilya Jenderal Sudirman, perang gerilya Tentara Vietnam Utara (Viet Cong), perang gerilya Mujahidin, dan perang gerilya Mao Tse Tung melawan agresi militer Jepang. Melalui analisis rinci mengenai strategi, taktik, dan keputusan kebijakan dalam keempat konflik tersebut, penulis menyoroti pentingnya perang gerilya sebagai alat untuk melindungi kedaulatan negara-negara yang secara teknologi lemah. Hasil penelitian ini memberikan wawasan penting mengenai strategi perang gerilya dalam konteks modern dan implikasinya terhadap pertahanan nasional. Keywords: Kedaulatan Negara, Perang Gerilya, Strategi Perang, Tantangan Teknologi
ANALISIS MULTIPLE STREAMS FRAMEWORK KEBIJAKAN SEKOLAH RAKYAT: IMPLIKASI TERHADAP MANAJEMEN PENDIDIKAN DI INDONESIA Ansori Zaini
NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Vol 13, No 2 (2026): NUSANTARA : JURNAL ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jips.v13i2.2026.686-698

Abstract

Kebijakan Sekolah Rakyat muncul sebagai respons terhadap persoalan ketimpangan akses pendidikan dan kemiskinan di Indonesia. Meskipun diposisikan sebagai kebijakan afirmatif untuk kelompok rentan, proses kemunculannya belum banyak dianalisis dalam kerangka teori kebijakan publik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi literatur untuk menganalisis kebijakan Sekolah Rakyat di Indonesia dengan menggunakan kerangka Multiple Streams Framework (MSF) oleh John W. Kingdon serta perspektif manajemen pendidikan. Hasil analisis menunjukkan bahwa program Sekolah Rakyat didorong oleh tingginya angka putus sekolah antarwilayah dan antarjenjang. Sekolah Rakyat diformulasikan sebagai kebijakan afirmatif berbasis asrama dan pembiayaan penuh bagi kelompok miskin dan miskin ekstrem. Kebijakan ini mendapatkan dukungan politik nasional dan komitmen penuh pemerintah sehingga menciptakan peluang kebijakan yang memungkinkan percepatan adopsi kebijakan secara menyeluruh. Dalam perspektif manajemen pendidikan modern, penguatan tata kelola dan optimalisasi teknologi pembelajaran menjadi prasyarat agar Sekolah Rakyat tidak berhenti pada simbol kelembagaan, melainkan efektif mendorong mobilitas sosial vertikal secara berkelanjutan
PENGEMBANGAN MODEL MANAJEMEN KURIKULUM PENDIDIKAN DAN IMPLEMENTASINYA PADA PELATIHAN DASAR KEMILITERAN KOMPONEN CADANGAN Ansori Zaini; I Wayan Warka
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i3.14374

Abstract

Curriculum management is a fundamental element in ensuring the effectiveness and sustainability of educational programs, including strategic education related to national defense and state resilience. Basic Military Training for the Reserve Component, as part of the Total Defense System, requires curriculum management that is not solely oriented toward military operational needs but is also aligned with systematic, adaptive, and sustainable educational curriculum management principles. However, studies that specifically develop a general model of educational curriculum management and examine its implementation in the context of Reserve Component training remain limited. This study aims to develop an educational curriculum management model and analyze its implementation in the Basic Military Training of the Reserve Component in Indonesia. This study employs a qualitative approach with a normative–empirical research design. Normative data were obtained through an analysis of the Regulation of the Minister of Defense of the Republic of Indonesia Number 4 of 2021 concerning the Curriculum for Basic Military Training of the Reserve Component. Empirical data were collected through in-depth interviews with the Head of the Reserve Component Division at the Ministry of Defense of the Republic of Indonesia. Data analysis was conducted using thematic analysis, encompassing the stages of curriculum planning, organizing, implementation, and evaluation as the core framework of educational curriculum management. The findings indicate that the curriculum management of the Basic Military Training for the Reserve Component has been systematically structured by integrating character and attitude development, knowledge and skills enhancement, and military physical training. Nevertheless, the implementation of the curriculum faces several challenges, particularly related to curriculum adaptability to the dynamics of modern defense threats, limitations in training resources, and the absence of a continuous curriculum renewal mechanism. Based on these findings, this study proposes a conceptual and applicative model of educational curriculum management that can be implemented in Reserve Component training and is also relevant for the development of other forms of strategic education. This model is expected to contribute to strengthening curriculum governance in state defense education. ABSTRAK Manajemen kurikulum merupakan aspek fundamental dalam penyelenggaraan pendidikan, termasuk pada pendidikan strategis yang berorientasi pada bela negara dan pertahanan. Pelatihan Dasar Kemiliteran Komponen Cadangan sebagai bagian dari Sistem Pertahanan Semesta membutuhkan pengelolaan kurikulum yang tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan kemiliteran, tetapi juga selaras dengan prinsip-prinsip manajemen kurikulum pendidikan yang sistematis, adaptif, dan berkelanjutan. Namun, kajian yang mengembangkan model manajemen kurikulum pendidikan dan mengimplementasikannya secara komprehensif pada pelatihan Komponen Cadangan masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model manajemen kurikulum pendidikan serta menganalisis implementasinya pada Pelatihan Dasar Kemiliteran Komponen Cadangan di Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain normatif–empiris. Data normatif diperoleh melalui analisis Peraturan Menteri Pertahanan Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2021 tentang Kurikulum Pelatihan Dasar Kemiliteran Komponen Cadangan, sedangkan data empiris dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan Kepala Bagian Komponen Cadangan Kementerian Pertahanan Republik Indonesia. Analisis data dilakukan menggunakan analisis tematik yang mencakup tahap perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi kurikulum sebagai kerangka utama manajemen kurikulum pendidikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa manajemen kurikulum Pelatihan Dasar Kemiliteran Komponen Cadangan telah disusun secara terstruktur dengan mengintegrasikan pembinaan sikap dan perilaku, pengembangan pengetahuan dan keterampilan, serta pembinaan jasmani militer. Meskipun demikian, implementasi kurikulum masih menghadapi tantangan, terutama terkait dengan adaptasi kurikulum terhadap dinamika ancaman pertahanan modern, keterbatasan sumber daya pelatihan, serta mekanisme pembaruan kurikulum yang berkelanjutan. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini menghasilkan model manajemen kurikulum pendidikan yang bersifat konseptual dan aplikatif, yang dapat diimplementasikan pada Pelatihan Dasar Kemiliteran Komponen Cadangan serta relevan bagi pengembangan kurikulum pendidikan strategis lainnya.