Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Memahami Interaksi Tradisi Kupatan Pada Hari Raya Islam Di Desa Banjeng Winda Oktavia Ningrum; Wiwid Adiyanto
Jurnal Komunika Islamika : Jurnal Ilmu Komunikasi dan Kajian Islam Vol 9, No 2 (2022): Juli-Desember
Publisher : Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37064/jki.v9i2.14605

Abstract

Representasi Kemiskinan Pada Film Turah Muhammad Kholis Raihan Gusma; Wiwid Adiyanto
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 3 No. 2 (2023): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v3i2.965

Abstract

Isu kemiskinan di Indonesia telah dimasukkan kedalam industri media terutama dalam film, kemiskinan dijadikan komoditas untuk menarik simpati penonton dan meraup keuntungan yang banyak. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan menggunakan analisis semiotika Charles Sanders Peirce. Peirce menjelaskan bahwa ilmu tanda merujuk pada penggunaan tanda pada bahasa dan makna yang terkandung di dalamnya. Penelitian ini menggunakan paradigma kritis. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori Representasi Stuart Hall sebagai dasar untuk melakukan penulisan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk-bentuk kemiskinan yang ada pada film Turah yang dianalisis berdasarkan tanda-tanda yang muncul dalam film tersebut. Film ini menggambarkan tentang isu kemiskinan di suatu kampung didaerah Tegal. Hasil temuan dari penelitian ini menemukan 5 karakteristik kemiskinan diantaranya yaitu 1) tidak mempunyai faktor produksi sendiri. 2) tingkat pendidikan rendah. 3) tidak memiliki fasilitas seperti listrik dan juga air bersih. 4) tidak memiliki keterampilan. 5) ketidakmampuan untuk mendirikan rumah yang layak.
Representasi Kesehatan Mental Dalam Lirik Lagu Secukupnya Karya Hindia (Analisis Semiotika Ferdinand De Saussure) Annisa Rahmasari; Wiwid Adiyanto
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 3 No. 2 (2023): Innovative: Journal Of Social Science Research (Special Issue)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v3i2.1445

Abstract

Menafsirkan makna sebuah lirik merupakan hal yang menarik di masyarakat saat ini. Kesehatan mental telah menjadi isu penting dalam masyarakat modern. Musik sering digunakan sebagai sarana untuk mengekspresikan dan merayakan pengalaman emosional, termasuk masalah kesehatan mental. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi kesehatan mental dalam lagu Hindia “Secukupnya” dengan menggunakan pendekatan Semiotika Ferdinand de Saussure. Dalam analisis ini, teori-teori semiotika Saussure digunakan untuk menganalisis tanda-tanda yang digunakan dalam lirik lagu "Secukupnya". Peneliti mengidentifikasi tanda-tanda verbal dan non-verbal yang merepresentasikan aspek kesehatan mental, seperti kecemasan, overthinking, dan depresi. Hasil analisis menunjukkan bahwa lirik lagu "Secukupnya" karya Hindia secara efektif menggambarkan kompleksitas kesehatan mental. Penggunaan metafora dan simbol dalam lirik lagu mengekspresikan emosi dan pertentangan yang berkaitan dengan kesehatan mental.
Representasi Kecemasan Dalam Lirik Lagu “Rehat” Kunto Aji (Analisis Semiotika Ferdinand De Saussure) Nika Arliani; Wiwid Adiyanto
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 3 No. 3 (2023): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v3i3.2052

Abstract

Kesehatan mental perlu diperhatikan selayaknya kesehatan fisik. Penyebab seseorang melakukan bunuh diri yaitu depresi dan kecemasan. Musik tidak hanya digunakan sebagai media hiburan saja tetapi bermanfaat pada bidang kesehatan mental. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi kecemasan dalam lirik lagu “Rehat” Kunto Aji. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan menggunakan analisis semiotika Ferdinand De Saussure dan paradigma konstruktivisme. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori Representasi Stuart Hall sebagai dasar untuk melakukan penulisan. Hasil temuan dalam representasi kecemasan lirik lagu “Rehat” diantaranya: 1) Lirik lagu “Rehat” terdapat temuan bahwa syair lagu tersebut berisi tentang bagaimana cara mengelolah kecemasan, mengatasi ketakutan dan mengelolah cara untuk ikhlas. 2) Setiap bait lirik lagu ada hubungannya dengan kecemasan. 3) Musik sudah menjadi bagian dalam diri manusia, di kehidupan sehari-hari musik sudah sangat melekat sehingga musik bisa menjadi salah satu metode terapi masalah kecemasan yang sering terjadi di masyarakat.
Representation of Gender Equality in Ngeri Ngeri Sedap Films Auliya Wahyu Larasati*; Wiwid Adiyanto
Riwayat: Educational Journal of History and Humanities Vol 6, No 2 (2023): Social and Religious Aspect in History, Economic Science and Law
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jr.v6i2.31699

Abstract

Film can be the means in deliver issue social the one the story alone contains the problem of gender equality in it, as is the reality of social life equality gender able create distance position between women and men. This study uses a descriptive qualitative method using semiotic analysis from Charles Sanders Pierce. The paradigm in research is clinking to the critical paradigm. This research focuses on signs that show gender equality both verbally and non- verbally on screen on certain scene in the film Horrified Sedap. Theory representation Stuart Hall if be associated with issue equality gender in the film Horrified Horrified will show the film as a medium of criticism today because it is still numerous because it is influenced by reality and culture. The findings on gender equality research are discussed in order to carry out the plan. 2) gender equality in obtaining employment opportunities. 3) the attitude of resistance, the attitude of resistance by the female character against the male character and the resistance of the male character against the male character. 4) the right to voice opinions and concerns of both women and men. 5) the existence of success that has arisen thanks to the cohesiveness of the business of women and men.
Pelatihan dalam Pengembangan Strategi Promosi Desa Wisata Lopati Wiwid Adiyanto; Dani Susilo
GERVASI: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 7 No. 2 (2023): GERVASI: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : LPPM IKIP PGRI Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31571/gervasi.v7i2.5582

Abstract

Permasalahan desa wisata Lopati adalah terhambatnya kegiatan perekonomian karena pandemi Covid-19. Desa wisata Lopati juga belum memaksimalkan media sosial untuk meningkatkan kesadaran calon wisatawan dan menunjang penjualan dari produk UMKM desa Lopati. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memaksimalkan pengembangan UMKM dan sumber daya manusia (SDM) yang ada di desa Wisata Lopati. Kegiatan ini terbagi dalam empat tahap. Pertama, observasi dan koordinasi dengan pelaku UMKM desa wisata Lopati terkait permasalahan yang dihadapi. Kedua, perancangan kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Ketiga, pelaksanaan kegiatan, yaitu pembuatan brosur desa wisata Lopati, pembuatan video profil desa wisata Lopati, pembuatan logo desa wisata Lopati, dan puncaknya adalah sosialisasi pemasaran digital serta strategi pengemasan produk. Tahap terakhir adalah evaluasi kegiatan yang telah dilakukan. Hasil pengabdian ini menunjukkan, pelaku UMKM desa wisata Lopati mulai mengemas produknya berdasarkan arahan pelatihan yang diselenggarakan. Selain itu, para pelaku UMKM tersebut mulai memanfaatkan marketplace untuk memasarkan produknya. Kegiatan ini memerlukan upaya secara berkelanjutan untuk terus memaksimalkan potensi yang ada di desa wisata Lopati.
Glorifikasi Kebebasan Dari Penjara Figur Publik Pelaku Kekerasan Seksual di Infotainment Indonesia Wiwid Adiyanto; Putri Ayu Sabrina
WACANA: Jurnal Ilmiah Ilmu Komunikasi Volume 22, No. 1 June 2023
Publisher : Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/wacana.v22i1.2323

Abstract

Freedom from prison for perpetrators of child sexual abuse, who is also a public figure, was warmly welcomed by fans and relatives. The excitement was inseparable from the infotainment coverage that was broadcast through the mass media. On the other hand, sexual violence has physical and psychological consequences that affect the lives of the victims. The presence of infotainment programs also creates debate, especially in the realm of journalism related to ethics. This study attempts to describe the inequality of coverage of Saipul Jamil's freedom from prison as a former inmate who perpetrates sexual violence on the infotainment program Intens Investigasi. This study places the Critical Discourse Analysis developed by Norman Fairclough as an analytical knife. The results of this study indicate that the glorification carried out by infotainment related to freedom from prison, public figures who are perpetrators of sexual violence have a tendency to normalize sexual violence, especially in public figures. Infotainment texts lead to dispensation for public figures who commit sexual violence. Gender literacy, sexual violence, and the media are absolutely necessary, both for media people and the wider community. In addition, a grassroots movement is needed to stop the glorification that leads to the normalization of sexual violence.
SIKAP MEDIA MENGENAI AKSI REUNI 212 Analisis Framing Aksi Reuni 212 pada Cnnindonesia.com dan Republika.co.id Wiwid Adiyanto
Jurnal Ilmu Komunikasi AKRAB Vol. 5 No. 1 (2020): APRIL
Publisher : AKADEMI KOMUNIKASI RADYA BINATAMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Media framing might drive people’s views on an event. The so-called ‘212’ campaign in 2016 was repeated in 2018 (adopting the theme ‘reunion’ this time). This does not escape from media coverage. The purpose of the 2018 campaign is questionable. First, the use of religious claims to deliver the campaign was held approaching 2019 presidental election ; and the second is the participation of the opposing politicians. This study is aimed at examining the political views of media throughout such campaign. This research use Entman’s framing method to campare Cnnindonesia.com and Republika.co.id reports that cover this campaign. The result shows that CNN Indonesia desribes possible violations of general election’s regulations. On the other hand, Republika frames such campaign as a pure religious campaign without any voilation of such regulations.
KOMUNIKASI PSEUDONYM PENGGUNA MEDIA SOSIAL WHISPER Adiyanto, Wiwid; Putra, Eagan Murtadho Dita
EKSPRESI DAN PERSEPSI : JURNAL ILMU KOMUNIKASI Vol 6 No 3 (2023): September
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33822/jep.v6i3.6106

Abstract

Studi ini berupaya mendeskripsikan pola komunikasi pseudonym dari pengguna media sosial Whisper. Whisper menawarkan pengalaman untuk bebas berekspresi di ruang siber, termasuk mengenai isu-isu sensitif ataupun tentang orang-orang terdekat tanpa teridentifikasi langsung secara personal oleh pengguna lainnya. Di sisi lain, tidak mudah untuk menjadi sepenuhnya anonim melalui pseudonym dalam berinteraksi. Anonim bukan sesuatu yang bersifat biner. Lebih jauh lagi, alih-alih mendapatkan jaminan untuk bebas berekspresi, media sosial berbasis anonim memungkinkan penggunanya melakukan cyberbullying, pelecehan seksual, penipuan, dengan kurangnya pertanggungjawaban. Penelitian ini berusaha untuk mendeskripsikan pola komunikasi pseudonym dari pengguna media sosial Whisper. Teori Difusi Inovasi dan teori Penggunaan dan Kepuasan digunakan sebagai pijakan akademis. Penelitian ini merupakan studi etnografi virtual dengan jenis penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. Paradigma dalam penelitian ini adalah interpretif. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa komunikasi pseudonym melalui Whisper dijadikan sebagai penyalur ketidakpuasan, pengakuan, pencarian informasi, dan pencarian teman. Penelitian ini juga menemukan pelecehan dan titik masuk prostitusi. Komunikasi pseudonym tidak menjadikan para penggunanya menjadi setara. Literasi digital dan kesadaran untuk melakukan komunikasi di ruang publik berbasis internet oleh para penggunanya mutlak diperlukan.
Kajian Kritis Klarifikasi Pihak Terduga Pelaku Kekerasan Seksual di Kampus Adiyanto, Wiwid
Jurnal Media dan Komunikasi Vol. 4 No. 1 (2023): Jurnal Media dan Komunikasi (MEDKOM) No 1 Volume 4 2023
Publisher : Airlangga University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/medkom.v4i1.47321

Abstract

Sexual violence on campus is difficult to prove. On the one hand, voting is an effort to obtain justice and the struggle to create a safe space in the campus environment. On the other hand, sexual violence on campus threatens the campus reputation. Clarification of the parties involved has been found interesting. This study seeks to dismantle messages from the perpetrators or other parties regarding the violence that occurred critically. This study places the Critical Discourse Analysis method developed by Norman Fairclough as a guide for analysis. This study refers to Bourdieu's thoughts regarding symbolic power as the main academic foothold. The results of this study uncover three issues developed by the alleged perpetrators and the campus, namely the declaration of sexual violence, denial, and blaming the victim. Transparency and follow-up sexual activity in cases of violence are necessary. The realization of the solution can be done by building or maximizing ways to handle sexual handling on each campus. The handling division must be neutral, including from the power of the campus hierarchy. In addition, a grassroots movement is needed as a standing narrative for the alleged perpetrators of violence and concern for the alleged victims.