Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tahapan Proses Adopsi Inovasi Ayam Kub Winda Rahayu; Sri Wahyuni; Hery Bachrizal Tanjung
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v7i9.14078

Abstract

Penelitian ini mengkaji tentang Tahapan Proses Adopsi Inovasi Ayam KUB di Sumatera Barat dilakukan pada pada bulan Februari sampai April 2023 di Kota Payakumbuh, Kab. 50 Kota dan Kab. Tanah Datar. Tujuan Penelitian adalah: “Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi tahapan adopsi inovasi ayam KUB”. Penelitian ini mengggunakan metode multi studi kasus. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara menggunakan kuisioner kepada 78 oran peserta bimbingan teknis (bimtek) Inovasi ayam KUB. Analisis data yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kuantitatif berupa pemberian skor dengan skala likert dan analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Bimtek ayam KUB baru bisa merubah pengetahuan dan sikap peserta yaitu sampai pada tahapan sadar, minat, evaluasi dan mencoba, namun belum menerapkan dengan baik sehingga pelaksanaan bimtek perlu ditingkatkan agar bisa sampai ke tahap menerapkan inovasi ayam KUB. Tahapan Proses Adopsi Inovasi Ayam KUB dipengaruhi oleh Umur, Pendidikan, Jumlah Ternak, Pendapatan, Pengalaman, Keunggulan Relatif, Kesesuaian, Kerumitan, Kemampuan diamati, Kemampuan diujicobakan, dukungan BPTP, Dukungan Balitvet Baso, Dukungan Dinas Peternakan Provinsi, Dukungan Dinas Peternakan Kab/Kota dan Dukungan Penyuluh Karakteristik Inovasi Ayam KUB berpengaruh terhadap Pemerintah harus melakukan peningkatan kapasitas sumberdaya manusia pada penyuluh ASN, penyuluh swadaya, pelaku utama dan pelaku usaha terhadap pengembangan inovasi ayam KUB dalam bentuk Training of Trainers (TOT). Pelaksanaan bimtek selanjutnya oleh BPTP Sumbar sebaiknya dengan menambah jadwal, materi dan memperbanyak praktek sehingga mampu meningkatkan keterampilan peserta bimtek dalam menerapkan inovasi ayam KUB.
Rancang Bangun Pembangkit Frekuensi Gelombang Ultrasonik Untuk Mengusir Lalat Hijau (Chrysomya megacephala) Sri Wahyuni; Wildian Wildian
Jurnal Fisika Unand Vol 13 No 2 (2024)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jfu.13.2.290-296.2024

Abstract

Telah dirancang sebuah pembangkit gelombang frekuensi ultrasonik menggunakan IC NE555 yang berbasis Arduino Uno. Perangkat ini dirancang dengan menggunakan IC NE555 sebagai pembangkit gelombang yang memakai rangkaian osilator. Frekuensi ultrasonik yang dihasilkan dari rangkaian pembangkit gelombang yaitu 25-100 kHz. Pengujian rangkaian osilator menggunakan osiloskop. Frekuensi ultrasonik mulai berpengaruh terhadap karakterisasi perilaku lalat hijau yaitu pada frekuensi 60 kHz. Lalat hijau banyak mengalami perubahan perilaku akustik pada jarak 20 cm dari sumber pembangkit gelombang dan waktu pemaparan selama 60 menit seluruh lalat hijau menjauh dari sumber pembangkit gelombang.
Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Produksi Padi di Kota Padang Lusi Nanda Putri; Osmet Osmet; Sri Wahyuni
Journal of Socio-economics on Tropical Agriculture Vol. 2 No. 3 (2020): December
Publisher : UNIVERSITAS ANDALAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/joseta.v2i3.404

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi produksi padi diKotaPadang. Metode penentuan daerah penelitian dilakukansecara sengaja (purposivemethod)karenakotaPadangsebagaiibukotaprovinsiSumateraBaratdanmemilikijumlahproduksipadiyang tinggi diantara kota yang ada di Provinsi Sumatera Barat dan padi sawah merupakan usahatanidominan sebagai matapencaharian utama di Kota Padang. Metode dalam penelitian ini adalah metodeeksplanatoridenganpendekatankuantitatifmenggunakandatatimeseries.AnalisisdatayangdigunakandalampenelitianiniyaitumodelanalisislineardanmodelanalisisproduksiCobb-Douglass, pengujian asumsi klasik, dan analisis regresi. Produksi padi di Kota Padang pada tahun2003-2017mengalamifluktuasi.Daritahun2003-2017,produksipaditertinggiyaitupadatahun2017 sebesar 99.018 ton. Penelitian ini menggunakan model regresi linear bergandadan Cobb-Douglass, analisis data menggunakan 3 variabel bebas yaitu luas tanam, luas panen, dan rasio hargapupuk urea per harga beras dan produksi padi sebagai variabel terikat. Hasil penelitian menunjukkanbahwa produksi padi dipengaruhi oleh dua faktor yaitu luas tanam dan luas panen. Pada luas tanamberpengaruh negatif signifikan hal ini disebabkan oleh adanya serangan hama penyakit tumbuhanyang terjadi pada tahun 2010-2017 dan pada luas panen berpengaruh positif signifikan terhadapproduksi padi. Sedangkan rasio harga pupuk urea per harga beras tidak mempengaruhi produksi padikarena harga pupuk cenderung stabil. Pemerintah diharapkan dapat melindungi areal luas tanam danluas panen padi di Kota Padang dari ancaman serangan hama penyakit tumbuhan agar produksi padidiKota Padangdapatterusmeningkat.
Analisis Modal Sosial pada Kelompok Tobo Konsi dan Keompok Tani Tobo di Nagari Sijunjung Fitria Ramadhani Firlia; Sri Wahyuni; Nuraini Budi Astuti
Journal of Socio-economics on Tropical Agriculture Vol. 3 No. 1 (2021): April
Publisher : UNIVERSITAS ANDALAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/joseta.v3i1.412

Abstract

Penelitian ini bertujuan: (1) untuk mendeskripsikan karakteristik kelompok tobo konsi dan kelompok tani tobo di Nagari Sijunjung (2) menganalisis modal sosial pada kelompok tobo konsi dan kelompok tani tobo di Nagari Sijunjung. Penelitian ini dilakukan pada tanggal 14 Agustus 2019 sampai 14 September 2019. Metode yang digunakan adalah metode survei. Populasi dalam penelitian ini adalah 210 petani dari 4 kelompok tobo konsi dan 174 petani dari 4 kelompok tani tobo. Penetapan sampel menggunakan teknik proporsional random sampling. Penetapan jumlah sampel menggunakan rumus slovin. Berdasarkan teknik tersebut didapatkan sampel sebanyak 68 petani mewakili kelompok tobo konsi dan 64 petani mewakili kelompok tani tobo. Analisis data yang digunakan ialah analisis deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok tobo konsi dan kelompok tani tobo mempunyai tujuan yang sama, yaitu membantu anggota dan mengeratkan rasa saling tolong menolong. Modal sosial pada kelompok tobo konsi dan kelompok tani tobo tidak terlalu jauh berbeda, dimana untuk bonding dan bridging nya sama-sama kuat, dan linking nya sama-sama lemah. Hal ini disebabkan oleh tingginya ikatan kedalam dan ke sesama pada kedua kelompok. Sedangkan pada kelompok tani tobo walaupun memiliki relasi terhadap pihak luar/pemerintah akan tetapi linking nya masih tergolong rendah.
Analisis Modal Sosial pada Kelompok Tobo Konsi dan Kelompok Tani Tobo di Nagari Sijunjung Fitria Ramadhani Firlia; Sri Wahyuni; Nuraini Budi Astuti
Journal of Socio-economics on Tropical Agriculture Vol. 4 No. 1 (2022): April
Publisher : UNIVERSITAS ANDALAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/joseta.v4i1.438

Abstract

Penelitian ini bertujuan: (1) untuk mendeskripsikan karakteristik kelompok tobo konsi dan kelompok tani tobo di Nagari Sijunjung (2) menganalisis modal sosial pada kelompok tobo konsi dan kelompok tani tobo di Nagari Sijunjung. Penelitian ini dilakukan pada tanggal 14 Agustus 2019 sampai 14 September 2019. Metode yang digunakan adalah metode survei. Populasi dalam penelitian ini adalah 210 petani dari 4 kelompok tobo konsi dan 174 petani dari 4 kelompok tani tobo. Penetapan sampel menggunakan teknik proporsional random sampling. Penetapan jumlah sampel menggunakan rumus slovin. Berdasarkan teknik tersebut didapatkan sampel sebanyak 68 petani mewakili kelompok tobo konsi dan 64 petani mewakili kelompok tani tobo. Analisis data yang digunakan ialah analisis deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok tobo konsi dan kelompok tani tobo mempunyai tujuan yang sama, yaitu membantu anggota dan mengeratkan rasa saling tolong menolong. Modal sosial pada kelompok tobo konsi dan kelompok tani tobo tidak terlalu jauh berbeda, dimana untuk bonding dan bridging nya sama-sama kuat, dan linking nya sama-sama lemah. Hal ini disebabkan oleh tingginya ikatan kedalam dan ke sesama pada kedua kelompok. Sedangkan pada kelompok tani tobo walaupun memiliki relasi terhadap pihak luar/pemerintah akan tetapi linking nya masih tergolong rendah.
Determinant Factors of Gapoktan in Promoting Business Ventures: a Case Study of Sepakat Farmer Group in Nagari Canduang, West Sumatra Wahyuni , Sri; Syahni, Rahmat; Fairuzi, Syofyan; Mahfuzh, Fuad
Jurnal AGRISEP JURNAL AGRISEP VOL. 25 NO. 01 2026 (MARCH)
Publisher : Badan Penerbitan Fakultas Pertanian, Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jagrisep.25.01.105-124

Abstract

Gapoktan (gabungan kelompok tani/farmer group associations) play a vital role in increasing the economic scale and operational efficiency of agricultural collectives, yet many face challenges in sustaining business ventures. The study therefore seeks to explore success factors for Gapoktan to sustain itself in commerce-related activities. The specific goals of this study are to discuss the role of Gapoktan, their partners, their collaborative partners, and factors that act as enablers for them. A qualitative descriptive method was employed, using Focus Group Discussions (FGD) with the Gapoktan chairperson, farmer group leaders, and the Agricultural Extension Center coordinator. According to the findings, the Sepakat Gapoktan is primarily engaged in three activities: (1) organic vegetable marketing; (2) compost production, and; (3) Biological Agent Service Information Center. The main factors contributing to the success of Gapoktan in its business ventures are: (1) effective leadership by the Gapoktan chairperson, (2) treating the association as a business entity rather than a social group, (3) engagement of local leaders, (4) commitment to terms of time, energy, and financial resources, 5) collaboration with external institutions.
KOHERENSI DOKUMEN PERENCANAAN DAN IMPLEMENTASI PROGRAM AGROPOLITAN DI SELUPU REJANG, KABUPATEN REJANG LEBONG, PROVINSI BENGKULU Mya Novita Sari; Yonariza Yonariza; Hasnah Hasnah; Sri Wahyuni
JAS (Jurnal Agri Sains) Vol 9, No 2: Desember 2025
Publisher : Universitas Muara Bungo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36355/jas.v9i2.1937

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat koherensi antara dokumen perencanaan formal dan realitas implementasi Program Agropolitan di Kecamatan Selupu Rejang, Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu. Peneltian menggunakan metode campuran (mixed methods) sekuensial eksplanatori, data dikumpulkan melalui analisis dokumen sistematis terhadap RPJMD 2019–2024, RTRW 2012–2032, dan Laporan Evaluasi Program apa?, serta wawancara mendalam dengan pemangku kepentingan dan petani. Hasil penelitian menunjukkan adanya Policy Coherence Gap yang signifikan. Koherensi program berada pada tingkat Koherensi Konseptual Tinggi dimana dokumen perencanaan saling selaras dan sesuai konsep agropolitan menuut  Friedmann Douglass, (1978) namun pada tingkat Koherensi Implementasi Rendah. Kesenjangan kuantitatif menunjukkan realisasi infrastruktur dan unit pengolahan hasil kurang dari 60% dari target. Akar masalahnya terletak pada Koherensi Horizontal yang Lemah akibat fragmentasi kelembagaan (ego-sektoral) dan rendahnya Koherensi Sumber Daya karena prioritas politik jangka pendek (interests) mengalahkan visi jangka panjang (capacity). Rekomendasi mendesak adalah pembentukan mekanisme Tata Kelola Kolaboratif yang formal dan penguatan partisipasi masyarakat untuk memastikan program Agropolitan tidak hanya baik di atas kertas, tetapi efektif di lapangan.
Perencanaan Kawasan Kopi di Bengkulu (Analisis Keterlibatan Petani dan Peran Pemerintah) Fery Murtiningrum; Melinda Noer; Sri Wahyuni; Dodi Devianto
Jurnal Ilmiah Membangun Desa dan Pertanian Vol. 10 No. 1 (2025)
Publisher : Department of Agribusiness, Halu Oleo University Jointly with Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia - Indonesian Society of Agricultural Economics (PERHEPI/ISAE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37149/jimdp.v10i1.1818

Abstract

Effective development planning is essential for achieving economic and agricultural goals, including developing coffee-growing areas. However, research on the role of farmers in this process remains limited. This study examines the planning process for coffee-growing area development in Bengkulu Province and the extent of farmer involvement in the process. The research was conducted in Kepahiang and Rejang Lebong Regencies in 2024, purposively selected as the two largest coffee-producing regions in Bengkulu. A total of 110 farmers from Kepahiang and 227 from Rejang Lebong were chosen through simple random sampling. The study analyzed variables related to the planning process, farmer empowerment through data access (including access to information, participation, inclusivity, and local institutional capacity), and community perceptions measured using a Likert scale. Findings indicate that the government plays a central role as the leading sector in coffee area development. Meanwhile, farmer groups primarily propose activities, provide data, and implement planned programs. Farmer participation mainly involves data collection and program preparation. Meetings provide equal opportunities for farmers to voice their opinions, with no restrictions on participation in group activities or discussions with agricultural offices and extension workers. Additionally, local institutions, particularly farmer groups, facilitate integrating farmers into the planning process. The study highlights the need for more substantial farmer involvement and institutional support to improve planning effectiveness and ensure sustainable coffee area development. Strengthening collaboration between government agencies, farmer organizations, and agricultural extension workers is recommended to enhance decision-making, increase inclusivity, and improve long-term development outcomes. Policies encouraging active farmer participation and institutional capacity-building will be crucial for achieving sustainable and equitable development in coffee-growing areas.