Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Pengaruh Beban Kerja, Etika kerja, dan Keterikatan Kerja terhadap Kinerja Pegawai Kantor Bupati Kabupaten Pidie dengan Kepuasan Kerja sebagai Variabel Mediasi Syamsul Akmal; Herizal Herizal; Muhammad Nur; Arjuniadi Arjuniadi; Megawati Megawati
Jurnal Bisnis Dan Kajian Strategi Manajemen Vol 9, No 2 (2025): JURNAL BISNIS DAN KAJIAN STRATEGI MANAJEMEN
Publisher : universitas teuku umar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35308/jbksm.v9i2.14836

Abstract

Penelitian ini menganalisis pengaruh beban kerja, etika kerja, dan kebergantungan kerja terhadap kinerja pegawai di Kantor Bupati Pidie, dengan kepuasan kerja sebagai variabel mediasi. Data dikumpulkan dari seluruh 121 pegawai (metode sensus) melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan Partial Least Squares (PLS) melalui SmartPLS 3.0. Hasil menunjukkan bahwa beban kerja, etika kerja, dan kelangsungan kerja tidak berpengaruh langsung signifikan terhadap kinerja pegawai (masing-masing p=0,116; p=0,938; p=0,057), tetapi ketiganya berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan kerja (p=0,000; p=0,005; p=0,000). Kepuasan kerja memiliki pengaruh langsung yang sangat kuat dan signifikan terhadap kinerja (p=0,000) serta berperan sebagai perantara penuh (mediasi penuh) dalam hubungan antara variabel ketiga bebas dengan kinerja (semua jalur mediasi signifikan, p<0,01). Model penelitian ini memiliki daya prediksi yang sangat tinggi dengan R² kepuasan kerja = 0,904 (90,4%) dan R² kinerja pegawai = 0,998 (99,8%). Implikasi praktis dari penelitian ini menekankan bahwa untuk meningkatkan kinerja pegawai, manajemen harus memprioritaskan strategi peningkatan kepuasan kerja, seperti mengelola beban kerja yang proporsional, memperkuat etika kerja dalam budaya organisasi, serta meningkatkan kelangsungan kerja melalui pengembangan karir dan penciptaan lingkungan kerja yang mendukung
The Influence of Digital Leadership, Empowerment, and Job Crafting on Sustainable Performance through Psychological Ownership: Case Study DPMG Pidie Regency Husaini Abdullah; Herizal Herizal; Syamsul Akmal; Zalfa Azrina
Jurnal Ekonomi, Manajemen, dan Bisnis Vol. 4 No. 2 (2026): Jurnal Ekonomi, Manajemen dan Bisnis
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pendidikan (LPP) Kalibra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70716/emis.v4i2.601

Abstract

This study examines the influence of digital leadership, empowerment, and job crafting on sustainable performance through psychological ownership at the Community and Village Empowerment Agency (DPMG) of Pidie Regency. The research was motivated by public-sector performance challenges related to uneven digital transformation, limited human resources, and the need to strengthen employees' sense of ownership toward organizational goals. A quantitative explanatory design was applied. Data were collected through questionnaires distributed to the entire population of 34 employees and government-contract employees at DPMG Pidie Regency. The data were analyzed using Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) with SmartPLS. The measurement model showed acceptable convergent validity and reliability after two psychological ownership indicators were eliminated. The structural model indicated that job crafting had a positive and significant effect on sustainable performance (O = 0.700; t = 2.182; p = 0.030) and psychological ownership (O = 1.197; t = 2.254; p = 0.025). Psychological ownership also had a positive and significant effect on sustainable performance (O = 0.585; t = 6.597; p = 0.000). In contrast, digital leadership and empowerment did not significantly influence either psychological ownership or sustainable performance. The indirect-effect test confirmed that psychological ownership significantly mediated only the relationship between job crafting and sustainable performance. These findings suggest that sustainable performance in local public organizations is more strongly supported by proactive work redesign and employees' psychological attachment than by formal digital leadership or empowerment practices that have not yet been internalized.