p-Index From 2021 - 2026
8.478
P-Index
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Kurios

Pelestarian Alam sebagai Perwujudan Mandat Pembangunan: Suatu Kajian Etis-Teologis Kalis Stevanus
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 5, No 2 (2019): Oktober 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v5i2.107

Abstract

Lately, the attention and awareness of humankind to protect and maintain environmental sustainability are increasing. Environmental damage today is a big problem and is global, which is now an increasingly critical problem. The world is experiencing the danger of an ecological crisis. This article is intended to describe the Church's ethical-theological attitude in addressing environ-mental issues today is a very crucial issue to consider. Using research that uses qualitative research using descriptive methods based on the Bible and also using library research by analyzing literature both books and journals that discuss environmental issues. Based on ethical-theological studies, it can be concluded that humans are the managers of nature, and preservation of nature is as an implementation of love for others. By understanding this, it is hoped that the Environment, which has been entrusted to humans, needs to be managed wisely, responsibly and productively as possible for the needs and progress of future generations. Abstrak Akhir-akhir ini perhatian dan kesadaran umat manusia untuk menjaga dan memelihara kelestarian lingkungan hidupnya semakin meningkat. Kerusakan lingkungan hidup dewasa ini merupakan isu besar dan bersifat global (mendunia), yang kini menjadi masalah yang semakin genting. Dunia sedang menghadapi bahaya krisis ekologis. Artikel ini bertujuan untuk memaparkan sikap etis-teologis Gereja dalam menyikapi isu tentang lingkungan hidup dewasa ini menjadi isu yang sangat krusial untuk diperhatikan. Adapun pende-katan penelitian yang penulis gunakan adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif berdasarkan Alkitab dan juga menggunakan penelitian kepustakaan dengan cara menganalis literatur baik buku maupun jurnal yang membahas permasalahan lingkungan hidup. Berdasarkan kajian etis-teologis diperoleh kesimpulan bahwa, manusia adalah pengelola alam, dan pelestarian alam adalah sebagai implementasi kasih kepada sesama. Dengan pemahaman ini, diharapkan lingkungan hidup yang telah dipercayakan kepada manusia, perlu dikelola secara bijak, bertanggungjawab dan seproduktif mungkin untuk kepentingan dan kelangsungan generasi mendatang.
Sikap Etis Gereja Terhadap Perceraian dan Pernikahan Kembali Stevanus, Kalis
KURIOS Vol. 4 No. 2 (2018): Oktober 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v4i2.80

Abstract

This paper aims to expose the ethical attitude of the church in dealing with divorce and remarriage in order to be useful as an input for the pastoral ministry in taking handle with those who are going to divorce, has been divorced or who has remarried. By using an analytical descriptive on texts such Matthew 5:32; 19: 9; Mark 10: 11-12; Luke 16:18, and 1 Corinthians 7: 10-11, then the following results are obtained: First, Christian marriage is a monogamous and wholly partnership(indestructible); second, adultery destroys the foundation of marriage, but it should not be a legal reason for divorce; third, divorce never recommended or ordered; fourth, only the separation is allowed, not the divorce due to the goal of reconciliation; fifth, remarriage with the person who has been divorced is a transgression; sixth, the settlement of divorce and remarriage issues that have occurred is the responsibility of the believers communally (whole) to regain those who have separated from their partners.   Abstrak Artikel ini bertujuan untuk memaparkan sikap etis gereja dalam menyikapi perceraian dan pernikahan kembali agar bermanfaat sebagai bahan masukan bagi pelayanan pastoral gereja https://alimentoshoy.acta.org.co/ dalam menangani anggota warganya yang hendak bercerai, telah bercerai atau yang menikah kembali. Dengan penggunaan metode analisis-deskriptif terhadap teks-teks seperti: Matius 5:32; 19:9; Markus 10:11-12; Lukas 16:18 dan 1 Korintus 7:10-11, maka diperoleh hasil: Pertama, pernikahan Kristen merupakan persekutuan yang bersifat monogami dan seumur hidup (tak terceraikan); kedua, perzinahan merusak fondasi pernikahan, tapi hal itu tidak boleh dijadikan alasan legal untuk bercerai; ketiga, perceraian tidak pernah dianjurkan maupun diperintahkan; keempat, hanya perpisahan yang diperbolehkan, bukan perceraian dengan tujuan untuk rekonsiliasi; kelima, pernikahan kembali dengan orang yang sudah bercerai merupakan pelanggaran (kesalahan); keenam, penyelesaian masalah perceraian dan pernikahan kembali yang telah terjadi adalah tanggung jawab warga gereja secara komunal (keseluruhan) untuk mendapatkan kembali mereka yang telah berpisah dari pasangannya.