Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : COMMICAST

Analisis manajemen event Reyog Jazz sebagai salah satu strategi komunikasi pemasaran budaya dan wisata Kabupaten Ponorogo Ayunda, Fatika Bella; Megantari, Krisna
COMMICAST Vol 2, No 2 (2021): September
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12928/commicast.v2i2.3347

Abstract

Pemerintah Kabupaten Ponorogo sedang melakukan upaya untuk memasarkan atau mengembangkan potensi yang ada di Ponorogo agar dikenal oleh masyarakat dari lokal, nasional maupun internasional. Salah satunya dengan menggunakan acara, seperti acara Reyog Jazz yang dibuat sebagai strategi komunikasi pemasaran budaya dan wisata Kabupaten Ponorogo. Maka dari itu untuk melaksanakan acara Reyog Jazz dibutuhkan pengorganisasian dari awal sampai akhir yang disebut dengan manajemen acara. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, dimana permasalahan yang sistematis dan berdasarkan data yang diperoleh melalui observasi langsung atau wawancara kepada pihak-pihak yang dirasa kompeten untuk menjawab permasalahan yang ada, seperti Bapak Agus Setiawan Basuni selaku Founder WartaJazz, Ibu Farida Nuraini, S .Sos., MM dan Bapak Franky Andrias.M selaku Dinas Pariwisata Kabupaten Ponorogo, Relawan, serta beberapa pengunjung yang mentonton acara Reyog Jazz. Untuk menjawab permasalahan yang ada maka teori yang digunakan manajemen acara milik Goldblatt yang terdiri dari Penelitian, Desain, Perencanaan, Koordinasi, Evaluasi. Hasil dari penelitian ini menunjukan bagaimana tim Reyog Jazz merencanakan acara sampai dengan penerapannya. Dan jika dilihat, tim Reyog Jazz sudah menerapkan acara manajemen dengan cukup baik meskipun pada implementasinya masih terdapat beberapa evaluasi. Hasil dari penelitian ini menunjukan bagaimana tim Reyog Jazz merencanakan acara sampai dengan penerapannya. Dan jika dilihat, tim Reyog Jazz sudah menerapkan acara manajemen dengan cukup baik meskipun pada implementasinya masih terdapat beberapa evaluasi. Hasil dari penelitian ini menunjukan bagaimana tim Reyog Jazz merencanakan acara sampai dengan penerapannya. Dan jika dilihat, tim Reyog Jazz sudah menerapkan acara manajemen dengan cukup baik meskipun pada implementasinya masih terdapat beberapa evaluasi.
Analisis manajemen event Reyog Jazz sebagai salah satu strategi komunikasi pemasaran budaya dan wisata Kabupaten Ponorogo Ayunda, Fatika Bella; Megantari, Krisna
COMMICAST Vol. 2 No. 2 (2021): September
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12928/commicast.v2i2.3347

Abstract

Pemerintah Kabupaten Ponorogo sedang melakukan upaya untuk memasarkan atau mengembangkan potensi yang ada di Ponorogo agar dikenal oleh masyarakat dari lokal, nasional maupun internasional. Salah satunya dengan menggunakan acara, seperti acara Reyog Jazz yang dibuat sebagai strategi komunikasi pemasaran budaya dan wisata Kabupaten Ponorogo. Maka dari itu untuk melaksanakan acara Reyog Jazz dibutuhkan pengorganisasian dari awal sampai akhir yang disebut dengan manajemen acara. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, dimana permasalahan yang sistematis dan berdasarkan data yang diperoleh melalui observasi langsung atau wawancara kepada pihak-pihak yang dirasa kompeten untuk menjawab permasalahan yang ada, seperti Bapak Agus Setiawan Basuni selaku Founder WartaJazz, Ibu Farida Nuraini, S .Sos., MM dan Bapak Franky Andrias.M selaku Dinas Pariwisata Kabupaten Ponorogo, Relawan, serta beberapa pengunjung yang mentonton acara Reyog Jazz. Untuk menjawab permasalahan yang ada maka teori yang digunakan manajemen acara milik Goldblatt yang terdiri dari Penelitian, Desain, Perencanaan, Koordinasi, Evaluasi. Hasil dari penelitian ini menunjukan bagaimana tim Reyog Jazz merencanakan acara sampai dengan penerapannya. Dan jika dilihat, tim Reyog Jazz sudah menerapkan acara manajemen dengan cukup baik meskipun pada implementasinya masih terdapat beberapa evaluasi. Hasil dari penelitian ini menunjukan bagaimana tim Reyog Jazz merencanakan acara sampai dengan penerapannya. Dan jika dilihat, tim Reyog Jazz sudah menerapkan acara manajemen dengan cukup baik meskipun pada implementasinya masih terdapat beberapa evaluasi. Hasil dari penelitian ini menunjukan bagaimana tim Reyog Jazz merencanakan acara sampai dengan penerapannya. Dan jika dilihat, tim Reyog Jazz sudah menerapkan acara manajemen dengan cukup baik meskipun pada implementasinya masih terdapat beberapa evaluasi.
Cross-Cultural Communication to Support the Education of Indonesian Migrant Children: An Ethnographic Study at the AMI Tutoring Center in Penang, Malaysia Musyaffa, Alifa Salma; Nugroho, Oki Cahyo; Lestarini, Niken; Megantari, Krisna
COMMICAST Vol. 6 No. 3 (2025): December
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12928/commicast.v6i3.15090

Abstract

Increasing numbers of undocumented Indonesian migrant children in Malaysia face limited access to formal schooling and must navigate multilingual, multicultural environments that shape their learning experiences. While previous studies focus on legal and administrative barriers, the role of cross-cultural communication in non-formal education remains understudied. This research examines how communication practices support inclusive education at the AMI Penang Guidance Center. The study aims to explore how migrant children manage linguistic and cultural differences in daily learning and how educators adapt their communication to meet diverse needs. Using an ethnographic approach, data were collected through participant observation and semi-structured interviews with six children (ages 9–11) and educators at the center. Analysis followed thematic coding and was interpreted using Hurn and Tomalin’s cross-cultural communication and STAR (Stop, Think, Assess, Respond) frameworks. Findings show that children frequently experience confusion, hesitation, and identity negotiation when switching between Indonesian, Malay, and their mother tongues. Educators interpret these behaviors through cultural rather than purely linguistic lenses and respond with bilingual scaffolding, culturally familiar materials, emotional support, and flexible teaching strategies. These practices enhance students’ confidence, communication skills, and sense of belonging. The study contributes theoretically by positioning cross-cultural communication as a core dimension of inclusive education in transnational settings. Practically, it offers insights for designing culturally responsive non-formal education for undocumented migrant children.