Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Relationship Between Early Marriage and Mother’s Levels of Knowledge with Nutritional Status M. Thonthowi Jauhari; Junendri Ardian; Novia Zuriatun Solehah; Tresia Ayu Saputri
AgriHealth: Journal of Agri-food, Nutrition and Public Health Vol 5, No 2 (2024): October
Publisher : Research and Development Center for Food, Nutrition and Public Health (P4GKM) LPPM UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/agrihealth.v5i2.92320

Abstract

Early marriage still needs to be a concern due to the high incidence of cases and the impact it has on the health and nutritional status of toddlers. One of the long-term effects of early marriage is stunting, namely impaired growth and development in toddlers due to malnutrition. This study aims to explore the relationship between maternal age at marriage and nutrition knowledge levels with the nutritional status of toddlers. This research uses observational research with a cross-sectional design. The sample in this study was 48 mothers of toddlers with a history of early marriage. Data analysis used Spearman’s Rank test. The results showed that most of the mothers of toddlers married in their early adolescence (14 to 18 years), namely 29 people (60.4%). As many as 58.3% of toddlers have poor nutritional status, and 1.7% are in the good nutritional status category. The majority of mothers’ knowledge related to nutrition is lacking, as many as 24 (50%). There is a significant relationship between levels of a mother’s knowledge about nutrition and the nutritional status of toddlers with a p-value of 0.001. However, mothers who marry early need to increase their understanding of balanced nutrition in toddlers to prevent malnutrition. Future research needs to look at the nutritional status of toddlers based on the education level of mothers of toddlers who marry early, which may be one of the causes of malnutrition status in toddlers.
Analisis Ketepatan Waktu Makan Dengan Sisa Makanan Serta Asupan Konsumsi Energi dan Protein Pasien DM Tipe II Riyanti Riyanti; Novia Zuriatun Solehah; M. Thonthowi Jauhari; Junendri Ardian; Widani Darma Isasih
JURNAL WACANA KESEHATAN Vol 11, No 1 (2026): Juli
Publisher : Universitas Dharma Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52822/jwk.v11i1.949

Abstract

Diabetes Melitus (DM) tipe 2 merupakan kondisi metabolik kronis atau pangkreas tidak memproduksi cukup insulin yang menyebabkan glukosa menumpuk dalam darah. Diabetes Melitus (DM) memerlukan pengaturan pola dan ketepatan waktu makan agar dapat menjaga kestabilan kadar glikosa darah dan memenuhi kebutuhan gizi pada pasien.  Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan ketepatan waktu makan dengan sisa makanan serta tingkat konsumsi energi dan protein pada pasien diabetes melitus tipe 2 di di RSUD Provinsi NTB. Penelitian ini menggunakan desain observasional dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian berjumlah 72 pasien yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data sisa makanan diperoleh menggunakan metode Comstock, sedangkan tingkat konsumsi energi dan protein dihitung berdasarkan perbandingan asupan dengan kebutuhan pasien. Analisis data menggunakan uji Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat hubungan antara waktu makan dengan sisa makanan (p=0,873) dan tingkat konsumsi protein (p=0,152). Namun, terdapat hubungan signifikan antara waktu makan dengan tingkat konsumsi energi (p=0,033). Ketepatan waktu makan berperan dalam mendukung pemenuhan kebutuhan energi pasien selama perawatan
Hubungan Pola Makan Terhadap Kekambuhan Gastritis Pada Generasi Muda Di Kecamatan Maluk Baiq Amelia Eka Helvyana Putri; Widani Darma Isasih; Ni Made Wiasty Sukanty; Novia Zuriatun Solehah; M. Thonthowi Jauhari
JURNAL WACANA KESEHATAN Vol 11, No 1 (2026): Juli
Publisher : Universitas Dharma Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52822/jwk.v11i1.952

Abstract

Gastritis adalah kumpulan gejala seperti rasa panas di dada, mual, muntah, dan rasa penuh yang dialami oleh penderita gastritis. Penyakit ini dapat disebabkan oleh infeksi Helicobacter pylori atau oleh makanan tertentu yang dapat mengiritasi lambung. Berdasarkan studi pendahuluan, banyak generasi muda masih kurang memperhatikan pola makan karena kesibukan di kehidupan sehari – hari. Oleh karena itu peneliti ingin melakukan penelitian terkait hubungan pola makan terhadap tingkat kekambuhan gastritis di Kecamatan Maluk, Sumbawa Barat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pola makan terhadap tingkat kekambuhan gastritis pada generasi muda di Kecamatan Maluk, Sumbawa Barat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasional analitik dengan desain cross – sectional pada 39 orang yang menderita gastritis, dan menggunakan teknik pengambilan sampel total sampling. Analisis data ini menggunakan uji chi – square dengan uji alternatif berupa uji Fisher exact. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara frekuensi makan dengan tingkat kekambuhan gastritis (nilai p-value 0,054 > α 0,05), tidak ada hubungan yang signifikan antara jenis makanan dengan tingkat kekambuhan gastritis (nilai p-value = 0,711 > α 0,05), dan tidak ada hubungan yang signifikan antara porsi makan dengan tingkat kekambuhan gastritis (nilai p-value 0,121> α 0,05). Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa pola makan tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan tingkat kekambuhan gastritis dapat disebabkan karena adanya perubahan pola makan selama gastritis.
Audiovisual Education: Efforts to Increase Knowledge of Animal Foods in Breast Cancer Patients Begum Hijratul Halida Zia; M. Thonthowi Jauhari; Widani Darma Isasih; Anisah Anisah; Ni Made Wiasty Sukanty
JURNAL WACANA KESEHATAN Vol 11, No 1 (2026): Juli
Publisher : Universitas Dharma Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52822/jwk.v11i1.948

Abstract

Kanker payudara adalah penyakit dengan kejadian tinggi yang membutuhkan dukungan nutrisi optimal selama kemoterapi. Rendahnya pengetahuan pasien mengenai pentingnya mengonsumsi lauk pauk berbasis hewan dapat mempengaruhi asupan protein dan meningkatkan pemborosan makanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pendidikan nutrisi menggunakan media audio-video terhadap tingkat pengetahuan pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi di Rumah Sakit Provinsi NTB. Penelitian ini menggunakan desain kuasi-eksperimental dengan pendekatan pretest-posttest dua kelompok non-acak pada 34 responden yang dibagi menjadi kelompok audio-video dan leaflet. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner pengetahuan sebelum dan sesudah intervensi, kemudian dianalisis menggunakan uji Wilcoxon. Hasil menunjukkan bahwa skor rata-rata pengetahuan pada kelompok audio-video meningkat dari 16,88 menjadi 18,59 dengan nilai p 0,001, menunjukkan adanya pengaruh signifikan pendidikan nutrisi menggunakan media audio-video dalam meningkatkan pengetahuan pasien. Disimpulkan bahwa pendidikan nutrisi melalui media audio-video efektif dalam meningkatkan pengetahuan pasien kanker payudara mengenai pentingnya mengonsumsi lauk pauk berbasis hewan selama kemoterapi.
Hubungan Konsumsi Protein dan Tekanan Darah dengan Kadar Glukosa Darah Penderita Diabetes Melitus Tipe II Azelia Nurpateha Putri; Ni Made Wiasty Sukanty; Junendri Ardian; M. Thonthowi Jauhari; Widani Darma Isasih
JURNAL WACANA KESEHATAN Vol 11, No 1 (2026): Juli
Publisher : Universitas Dharma Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52822/jwk.v11i1.934

Abstract

Abstrak: Diabetes melitus tipe II merupakan penyakit kronis dengan prevalensi yang terus meningkat dan berisiko menimbulkan komplikasi akibat pengendalian glukosa darah yang tidak optimal. Pola konsumsi protein dan tekanan darah diduga berperan dalam pengendalian kadar glukosa darah sehingga perlu diteliti lebih lanjut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara konsumsi protein dan tekanan darah dengan kadar glukosa darah pada penderita diabetes melitus tipe II. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross sectional pada 80 responden yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan Food Frequency Questionnaire (FFQ), pengukuran tekanan darah dengan tensimeter, serta pemeriksaan glukosa darah. Penelitian dilaksanakan pada Mei–Agustus 2025. Analisis data menggunakan uji korelasi Pearson dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil menunjukkan mayoritas responden memiliki konsumsi protein rendah, sebagian mengalami hipertensi (53,8%) dan kadar glukosa darah abnormal (93,8%). Rata-rata kadar glukosa darah tergolong tinggi. Analisis statistik menunjukkan tidak terdapat hubungan signifikan antara konsumsi protein dan kadar glukosa darah (p=0,401) serta tekanan darah dengan kadar glukosa darah (p=0,176). Simpulan penelitian ini menunjukkan bahwa konsumsi protein dan tekanan darah tidak berhubungan secara signifikan dengan kadar glukosa darah. Disarankan pendekatan komprehensif melalui pengaturan diet, aktivitas fisik, dan kepatuhan terapi untuk meningkatkan kontrol glikemik.