Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Opera Batak Sisingamangaraja XII Episode Ugamo Malim Horja Bolon Na Parpudi: Usungan Tradisi dan Kontemporer Enrico Alamo; Rosta Minawati; Sulaiman Sulaiman; Sherli Novalinda
Dance and Theatre Review Vol 3, No 2: November 2020
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1996.455 KB) | DOI: 10.24821/dtr.v3i2.4418

Abstract

Batak Opera of Sisingamangaraja XII the Episode of Ugamo Malim Horja Bolon Na Parpudi: Carriying out the Tradition and Contemporary. The purpose of research and creation of Batak opera is to revitalize Batak traditional arts. Sisingamangaraja Opera Batak XII, the episode of Ugamo Malim Horja Bolon Na Parpudi, results from the research and creation of the Sisingamangaraja XII Batak opera. The creation of Batak opera uses research methods, namely observation, interviews, literature study, and documentation. The working process begins with reading the script, making blocks according to the script, detailing blocking, playing the role/scenes, music, and tutoring, selecting and doing the artistic and lighting creation. Opera Batak was done in contemporary work, including story elements, jokes (amalopas), and even accompaniment (uning-uning). Sisingamangaraja Opera Batak XII, the episode of Ugamo Malim Horja Bolon Na Parpudi tells the story of Ugamo Malim in the Dutch colonial era and the family of King Sisingamangaraja XII. The story’s plot consists of; news of the death of King Sisingamangaraja XII, the captivity of the Sisingamangaraja XII family, Ompu Ni Onggung, and Ompu Portahan Batu, who had a grudge against King Sisingamangaraja XII and followers of Ugamo Malim’s teachings. Tortor dance and Cawan dance were created contemporary. Sisingamangaraja Batak Opera XII, the episode of Ugamo Malim Horja Bolon Na Parpudi wants to maintain the existence and preserve the traditional arts of the Batak community.Keywords: Batak opera; Sisingamaraja XII; ugamo malim; tortor
Si Muntu as an Event of Meaning: A Hermeneutic Reading of the Processional Tradition in West Sumatra Saaduddin Saaduddin; Sherli Novalinda
Melayu Arts and Performance Journal Vol 9, No 1 (2026): Melayu Arts and Performance Journal
Publisher : Pascasarjana Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/mapj.v9i1.6338

Abstract

Artikel ini mengkaji tradisi arak-arakan Si Muntu di Sumatera Barat melalui pendekatan hermeneutika untuk memahami bagaimana praktik performatif tersebut membangun, mentransmisikan, dan mentransformasikan makna kolektif masyarakat. Si Muntu tidak diposisikan sekadar sebagai figur ritual atau ekspresi folklor, melainkan sebagai “teks budaya” yang terus ditafsir ulang dalam konteks sosial, politik, dan historis yang berubah. Dengan menggunakan kerangka hermeneutika filosofis, penelitian ini menelaah relasi antara simbol, tubuh performatif, ruang komunal, dan horizon pemaknaan masyarakat pendukungnya. Data diperoleh melalui observasi partisipatif, dokumentasi visual, dan wawancara mendalam dengan pelaku serta tokoh adat. Analisis menunjukkan bahwa Si Muntu berfungsi sebagai medium negosiasi identitas, memori kolektif, dan dinamika kuasa, sekaligus membuka ruang tafsir baru di tengah perubahan zaman. Dengan demikian, tradisi ini tidak bersifat statis, tetapi merupakan peristiwa makna yang selalu berada dalam proses penafsiran ulang.