Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Koreografi dan Ekspresi Gangguan Mental: Skizofrenia dalam Tari Kontemporer Bisikan Buku Usang Jepisa, Tomy; Novalinda, Sherli; Emri, Emri
Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 7, No 1 (2023): Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni
Publisher : Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/bcdk.v7i1.4768

Abstract

Penelitian ini membahas bagaimana gangguan skizofrenia, khususnya gejala halusinasi dan delusi, dapat diekspresikan melalui karya tari kontemporer berjudul Bisikan Buku Usang. Karya ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran sosial dan empati terhadap penderita skizofrenia, yang seringkali dipandang sebagai fenomena sosial yang kompleks dan kurang dipahami. Melalui kombinasi gerak tari modern seperti Vouge, Wacking, Tutting, Krumping, dan Hip-Hop, karya ini menyajikan interpretasi artistik dari pengalaman mental dan emosional yang dialami oleh penderita skizofrenia. Proses penciptaan karya ini melibatkan eksplorasi intensif terhadap gerak tubuh yang mampu merepresentasikan kondisi psikis pengidap skizofrenia, terutama dalam menghadapi distorsi realitas. Musik dengan genre creepy dan tata pencahayaan yang dramatis digunakan untuk memperkuat suasana dan memperjelas ekspresi yang dihasilkan. Karya Bisikan Buku Usang tidak hanya berfungsi sebagai medium artistik, tetapi juga sebagai alat komunikasi yang efektif untuk menyampaikan kompleksitas kehidupan penderita skizofrenia kepada masyarakat luas. Dengan demikian, karya ini diharapkan dapat membuka wacana baru dalam memahami dan mendukung individu dengan gangguan mental melalui seni pertunjukan
Analisis Struktur Pertunjukan Opera Batak Sisingamangaraja XII: Episode Tongtang I Tano Batak Sulaiman, Sulaiman; Minawati, Rosta; Alamo, Enrico; Novalinda, Sherli
PANGGUNG Vol 29 No 2 (2019): Konstruksi Identitas Budaya dalam Seni dan Sastra
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v29i2.908

Abstract

ABSTRACTOpera Batak is a “traditional” performance genre from the Toba Batak ethnic group. Opera Batak is staged based on oral tradition through acting, music and dance. The creation of works aims to preserve Sisingamangaraja XII's historical values. The method is carried out beginning with research through observation, interviews, literature studies with steps to work on the search phase, the stage of giving content, the development stage, and the stabilization stage.Transitions of performers and sections are accompanied musical instruments including gondang, suling, serunai, kedapi, hesek, odap and garantung. This mixture is intended to bring the drama to life and entertain the audience. The figures in Opera Batak are Sisingamangaraja XII, Patuan Anggi, Putri Lopian, Boru Sagala, Somaling, Panglima Sarbut and Panglima Amandopang. his episode tells how the war against the Dutch company in the Batak land for about 30 years. Arranged with a flow, dramatic, and conflicting conflict to show Sisingamangaraja's humanity and kinship side in the face of war.Key Word: Opera Batak, Theater, Sisingamangaraja XII, Tongtang I Tano BatakABSTRAKOpera Batak merupakan seni pertunjukan ‘tradisi’ dalam masyarakat Batak.Opera Batak ditampilkan melalui sastra lisan, pemeranan, musik, dan tarian. Penciptaan karya bertujuan untuk melestarikan nilai-nilai kesejarahan Sisingamangaraja XII. Metode dilakukan diawali dengan riset melalui observasi, wawancara, studi pustaka dengan langkah garap; tahap pencarian, tahap memberi isi, tahap pengembangan, dan tahap pemantapan. Opera Batak dipandu pencerita dalam mengenalkan tema, menyapa penonton, menggambarkan kisah, dan menggenalkan pemain. Peralihan pemain dan bagian diiringi musik yang terdiri atas: gondang, suling, sarunai, kecapi, hesek, odap, dan garantung. Tokoh Opera Batak dalam episode Tongtang I Tano Batak adalah Sisingamangaraja XII, Patuan Anggi, Putri Lopian, Boru Sagala, Somaling, Panglima Sarbut, dan Panglima Amandopang. Episode ini menceritakan bagaimana perperangan melawan kompeni Belanda di tanah Batak yang kurang lebih 30 tahun lamanya. Disusun dengan alur, dramatik, dan konflik yang rapat untuk memperlihatkan sisi kemanusian dan kekeluargaan Sisingamangaraja dalam menghadapi perperangan.Kata Kunci: Opera Batak, Teater, Sisingamangaraja XII, Tongtang I Tano Batak