Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

PERTUNJUKAN TEATER EKSPERIMENTAL HUHH HAHH HIHH: SEBUAH KOLABORASI TEATER TARI Saaduddin Saaduddin; Sherli Novalinda
Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 19, No 1 (2017): Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni
Publisher : LPPMPP Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1738.501 KB) | DOI: 10.26887/ekse.v19i1.128

Abstract

Pertunjukan teater berjudul   Huhh..Hahh..Hihh. berangkat dari dua rumusan penting, yakni: (1) Bagaimana mewujudkan pertunjukan Huhh..Hahh..Hihh. melalui kerja kolaborasi teater dan tari?; dan (2) Bagaimana pengkarya mampu memberikan penekanan bentuk eksperimental dengan mengangkat issu zat aditif dalam keseharian kita sebagai sumber penciptaan pertunjukan? Karya ini digarap dengan menghadirkan unsur  teaterikal, tari dan performance art sebagai spektakel di atas panggung. Aspek visual pertunjukan dibangun dengan bentuk pemanggungan yang simbolis
KARYA TARI “SADA” SEBAGAI PERWUJUDAN BUDAYA LOKAL Ahmad Iqbal; Sherli Novalinda
Melayu Arts and Performance Journal Vol 5, No 2 (2022): Melayu Arts and Performance Journal
Publisher : Pascasarjana Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/mapj.v5i2.3175

Abstract

Karya tari Sada terinspirasi dari gerak Silek Kumango yaitu elakan. Elakan merupakan suatu bentuk sikap pertahanan diri,lalu dikaitkan dengan fenomena sosial yaitu Covid-19. Pengkarya tertarik untuk menciptakan sebuah karya tari baru yang difokuskan pada jarak, jarak merupakan suatu bentuk sikap pertahanan diri. Klise elakan Silek Kumango menjadi landasan dasar dengan menggabungkan fenomena Covid-19 bahwasanya menjaga jarak itu penting. Penggarapan pengkarya mengembangkan gerak-gerak elakan Silek Kumango dengan teknik-teknik gerak yang dipelajari sesuai dengan konsep garapan, dan disusun dengan dua alur garap suasana yaitu tenang dan tegang yang diperkuat dengan musik dan elemen-elemen komposisi lainnya. Struktur garapan karya Sada memilki tiga bagian, bagian pertama menginterpretasikan reaksi tubuh pada saat berjarak dekat, sedang dan jauh, Bagian kedua menginterpretasikan pada saat menerima informasi antara benar dan tidak benarnya yang diinterpretasikan pada laser yang ditembakan ke tubuh penari, Bagian tiga menginterpretasiakan pada saat Covid-19 ini antara percaya atau tidak percaya pada tubuh penari. Karya tari ini didukung oleh lima orang penari laki-laki. Tema dalam karya ini adalah tema sosial dan memilih tipe abstrak dalam penggarapannya
KARYA TARI STIGMA: SEBUAH EKSPRESI TARI TENTANG KARAKTER DAN TINGKAH LAKU KORBAN-KORBAN PENYAKIT MAGIS SIJUNDAI Ariefin Alham Jaya Putra; Erman Syaiful; Sherli Novalinda
Jurnal Cerano Seni | Pengkajian dan Penciptaan Seni Pertunjukan Vol. 1 No. 02 (2022): Cerano Seni | Pengkajian dan Penciptaan Seni Pertunjukan
Publisher : Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (450.794 KB) | DOI: 10.22437/cs.v1i02.21876

Abstract

Karya tari Stigma adalah interpretasi dan imajinasi yang diwujudkan ke dalam sebuah karya tari tentang karakter dan tingkah laku korban-korban penyakit magis sijundai. Ritual magis sijundai selalu diiringi dengan perlakuan atau penolakan cinta yang menyinggung si pengirim sijundai. Korban penyakit sijundai akan mengalami kejang, teriak, menangis, menarik rambut, memanjat dinding, dan tidak dapat mengendalikan tubuhnya sendiri. Untuk memvisualisasikan ide garapan ke dalam karya tari ini pengkarya menggunakan ekspresi wajah dan gerak tubuh penari yang menggambarkan bagaimana korban-korban penyakit magis sijundai. Gerak yang digunakan dalam karya Stigma ini berasal dari hasil eksplorasi pengkarya atas karakter atau tingkah laku korban sijundai dan diiringi dengan mantra-mantra ritual sijundai. Metode yang digunakan yaitu pengumpukan data dan observasi lapangan, eksplorasi gerak, improvisasi, pembentukan, dan evaluasi. Karya ini digarap dengan tiga alur suasana dengan mengolah suasana tenang, tegang, dan mencekam. Tema yang digunakan dalam karya ini memilih tema magis dengan tipe abstrak. Karya ini ditarikan oleh delapan orang penari yang terdiri dari empat orang penari laki-laki dan empat orang penari perempuan.
Tradisi Arak-Arakan Si Muntu dan Strategi Pengembangannya dalam Perspektif Kepariwisataan di Sumatera Barat Saaduddin Saaduddin; Sherli Novalinda; Dede Pramayoza; Fresti Yuliza
Laga-Laga : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 9, No 1 (2023): Laga-Laga: Jurnal Seni Pertunjukan
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/lg.v9i1.424

Abstract

Penelitian ini mengambil objek tradisi arak-arakan Si Muntu yang terdapat di Sumatera Barat. Tradisi Arak-arakan Si Muntu umumnya merupakan sebagai sarana kolektif masyarakat yang merupakan bagian dari alek Nagari atau upacara adat.Tradisi Arak-arakan Si Muntu memiliki potensi yang begitu besar dalam pengembangannya. Penelitian ini bertujuan menemukan dan memetakan potensi tradisi arak-arakan Si Muntu dalam perspektif kepariwisataan berkelanjutan. Menggunakan analisis secara deskriptif dari data-data kepustakaan yang didapatkan, maka dapat digambarkan potensi pemetaan tersebut yang memiliki relasi terhadap ekosistem industri kreatif. Antaralain, tradisi arak-arakan Si Muntu memiliki potensi sebagai pengembangan pariwisata, penghasil sumber ekonomi, dan memiliki peluang dalam pengembangan industry kreatif.
Proses Kreatif Penciptaan Karya Tari Kontemporer Meniti Jejak Tubuh Sherli Novalinda
Melayu Arts and Performance Journal Vol 6, No 1 (2023): Melayu Arts and Performance Journal
Publisher : Pascasarjana Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/mapj.v6i1.3704

Abstract

Penelitian mengenai proses kreatif dalam tari kontemporer masih sangat jarang dituliskan di dalam karya – karya penelitian. Hal ini berdampak pada kesenjangan antara produksi praktik seni dengan produksi pengetahuan dari praktik seni itu sendiri. Oleh Karena itu, adalah sangat penting untuk menuliskan proses kreatif penciptaan karya seni sehingga dapat bermanfaat bagi produksi pengetahuan khususnya di bidang tari dan bagi peneliti dan koreografer lainnya. Penelitian ini berfokus pada karya tari Meniti Jejak Tubuh yang merupakan sebuah karya tari kontemporer dimana saya sebagai pencipta/koreografer melakukan riset terhadap perjalanan tubuh saya sendiri yang lahir dan tumbuh di Kerinci lalu melakukan proses kreatif di tengah budaya Minangkabau. Saya melakukan eksperimentasi yang kemudian mengeksplorasi persilangan budaya (cross – culture), persilangan gender (cross – gender), sejarah tubuh, tubuh tradisi, habitus dan Hybridity. Kemudian menjadi sebuah karya tari tunggal yang melibatkan ulang - alik tradisi dan kontemporer, masa lalu dan hari ini serta, Kerinci dan Minang. Penelitian ini menggunakan pendekatan autoetnografi, yaitu suatu metode penelitian yang menggunakan data autobiografi dari peneliti untuk menganalisis dan menginterpretasi asusmsi budaya mereka dalam hal ini proses kreatif yang peneliti lakukan sendiri.Kata Kunci: Meniti Jejak Tubuh; Autoetnografi; Proses AbstractResearch on the creative process in contemporary dance is rarely written about in research works. This has an impact on the gap between the production of art practice and the production of knowledge from the practice of art itself. Therefore, it is very important to write down the creative process of creating works of art so that it can be useful for the production of knowledge, especially in the field of dance and for other researchers and choreographers. This research focuses on the Meniti Jejak Badan dance work, which is a contemporary dance work in which I, as a creator/choreographer, conduct research on the journey of my own body, which was born and grew up in Kerinci and then carried out a creative process in the midst of Minangkabau culture. I did an experiment which then explored cross-culture, cross-gender, body history, body tradition, habitus and hybridity. Then it becomes a single dance work involving a shuttle between tradition and contemporary, past and present as well as, Kerinci and Minang. This study uses an autoethnographic approach, which is a research method that uses autobiographical data from researchers to analyze and interpret their cultural assumptions, in this case the creative process that the researcher does himself.Keywords: Tracing Body Tracks; Autoethnography; Creative Process.
Penciptaan Karya Tari “DUALISME” : Dua Perasaan yang Bertolak Belakang Fattahul Anugraha; Sherli Novalinda; Wardi Metro
Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 6, No 1 (2022): Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni
Publisher : Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/bcdk.v6i1.3727

Abstract

Karya tari “Dualisme”  terinspirasi dari Gangguan Psikis yang ada di sekitar masyarakat. Gangguan tersebut adalah ‘Gangguan Bipolar’, merupakan gangguan mood atau suasana hati yang kronis ditandai dengan episode manik (bahagia), episode depresi mayor (sedih), dan episode campuran. Untuk menggarap konsep ini pengkarya mempunyai ide garapan, menggunakan ekspresi wajah serta tubuh sebagai media ungkap dan komunikasi serta properti kerangka pintu di tengahnya memiliki papan sekat berwarna merah dan hitam yang diinterpretasikan sebagai ruang pembeda dan pembatas antara manik dan depresi mayor. Metode yang digunakan dalam karya ini di antaranya, observasi, pengolahan data, studi pustaka, pemilihan pendukung karya, eksplorasi, penataan gerak, improvisasi, dan evaluasi. Karya ini terdiri dari tiga bagian, bagian pertama menggambarkan episode manik, bagian kedua menggambarkan episode depresi mayor, dan bagian ketiga menggambarkan episode campuran
The Application of Virtual Reality (VR) in the Contemporary Dance Work “Sabitah Eternity” Dwi Prakasa, M Aqsal; Novalinda, Sherli; Sukri, Ali
Melayu Arts and Performance Journal Vol 7, No 1 (2024): Melayu Arts and Performance Journal
Publisher : Pascasarjana Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/mapj.v7i1.4803

Abstract

 Penerapan Virtual Reality (Vr) dalam  Karya Tari Kontemporer “ Sabitah Eternity ”  SABITAH ETERNITY's work is a dance work that tries to be a bridge to connect education to the audience watching this work. The aim is to increase theaudience's sense of empathy and social towards those who are trying to adapt to an era that is often considered an issue that until now is still not very popular. is heavily questioned as a complicated social phenomenon, in this case the Talang Mamak tribe and its Bedukun Balai Terbang treatment rituals. The artist tries to convey how the Talang Mamak people and their healing rituals can go through various situations and conditions towards modern times and adapt in it. This is for the sake of the continuity of culture and community groups, as well asphase of change and response of the Bedukun Balai Terbang ritual performers. In this case the negotiating body of tribal society towards the present era. The use of expression and technology as a medium of communication means that we never know what everyone is feeling. The use of Virtual Reality technology is something new in a form of dance performance that conveys a lot of the content that the artist wants to convey. ABSTRAKKarya SABITAH ETERNITY salah satu karya tari yang mencoba menjadi jembatan penyambung edukasi terhadap audience yang menyaksikan pertunjukan karya ini, bertujuan agar dapat meningkatkan rasa empati dan sosial penonton terhadapmereka yang sedang mencoba beradaptasi dengan zaman yang sering dianggap sebagai isu yang sampai saat ini masih tidakterlalu gencar dipermasalahkan sebagai fenomena sosial yang rumit, dalam hal ini suku Talang Mamak dan ritualpengobatan Bedukun Balai Terbangnya. Pengkarya mencoba menyampaikan bagaimana masyarakat Talang Mamak dan ritual pengobatannya dapat melewati berbagai situasi dan kondisi menuju masa modern dan beradaptasi di dalamnya. Hal itu demi keberlangsungan budaya dan kelompok masyarakatnya, serta fase perubahan dan respon pelaku ritual BedukunBalai Terbang. Dalam hal ini negosiasi tubuh masyarakat suku terhadap era sekarang. Penggunaan ekspresi dan teknologisebagai media komunikasi, bahwa kita tidak pernah tau apa yang dirasakan setiap orang. Penggunaan teknologi Virtual Reality menjadi suatu hal baru dalam suatu bentuk pertunjukan tari yang banyak menyampaikan isi yang ingin disampaikan pengkarya. 
HOW EXPLORING BODY EXPERIMENTATION IN MODERN THEATER OF WEST SUMATRA: A TWO-DECADE STUDY (1990-2010) PRESENTED? Saaduddin, Saaduddin; Novalinda, Sherli
ISLLAC : Journal of Intensive Studies on Language, Literature, Art, and Culture Vol 8, No 1 (2024)
Publisher : Jurusan Sastra Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um006v8i12024p124-144

Abstract

This article examines the emergence of body experimentation in modern theater groups in West Sumatra from 1990 to 2010, focusing on the motives behind using the body as a communicative medium in theatrical performances. The study aims to comprehend the conceptualization and factors contributing to the presence of innovative theatrical presentations. The literature review explores existing studies on Indonesian theater, particularly modern theater, and relevant works related to West Sumatra theater. Due to limited literature on West Sumatran theater, the study utilizes secondary data from journals, magazines, newspaper clippings, and the internet. The research employs a qualitative methodology, incorporating literature review, observation of selected theater groups engaging in body experimentation, and interviews with key figures. Data analysis involves transcribing interviews, selecting relevant information, categorizing data, and conducting a thorough analysis, revealing the evolution of body experimentation in West Sumatran theater. The discussion section delves into three key themes: the influence of traditional spirit on modern Sumatran theater, body exploration within modern theater groups, and the notable rise of body-centric theater in West Sumatra. The article emphasizes the interconnectedness of these themes and their impact on the dynamic theatrical landscape in the region. In conclusion, the research highlights the significance of body experimentation in West Sumatran modern theater, contributing to a broader understanding of evolving theatrical practices in Indonesia, offering valuable insights for scholars, practitioners, and enthusiasts interested in the dynamic intersection of tradition and innovation in performing arts.
Analisis Struktur Pertunjukan Opera Batak Sisingamangaraja XII: Episode Tongtang I Tano Batak Sulaiman Sulaiman; Rosta Minawati; Enrico Alamo; Sherli Novalinda
PANGGUNG Vol 29 No 2 (2019): Konstruksi Identitas Budaya dalam Seni dan Sastra
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v29i2.908

Abstract

ABSTRACTOpera Batak is a “traditional” performance genre from the Toba Batak ethnic group. Opera Batak is staged based on oral tradition through acting, music and dance. The creation of works aims to preserve Sisingamangaraja XII's historical values. The method is carried out beginning with research through observation, interviews, literature studies with steps to work on the search phase, the stage of giving content, the development stage, and the stabilization stage.Transitions of performers and sections are accompanied musical instruments including gondang, suling, serunai, kedapi, hesek, odap and garantung. This mixture is intended to bring the drama to life and entertain the audience. The figures in Opera Batak are Sisingamangaraja XII, Patuan Anggi, Putri Lopian, Boru Sagala, Somaling, Panglima Sarbut and Panglima Amandopang. his episode tells how the war against the Dutch company in the Batak land for about 30 years. Arranged with a flow, dramatic, and conflicting conflict to show Sisingamangaraja's humanity and kinship side in the face of war.Key Word: Opera Batak, Theater, Sisingamangaraja XII, Tongtang I Tano BatakABSTRAKOpera Batak merupakan seni pertunjukan ‘tradisi’ dalam masyarakat Batak.Opera Batak ditampilkan melalui sastra lisan, pemeranan, musik, dan tarian. Penciptaan karya bertujuan untuk melestarikan nilai-nilai kesejarahan Sisingamangaraja XII. Metode dilakukan diawali dengan riset melalui observasi, wawancara, studi pustaka dengan langkah garap; tahap pencarian, tahap memberi isi, tahap pengembangan, dan tahap pemantapan. Opera Batak dipandu pencerita dalam mengenalkan tema, menyapa penonton, menggambarkan kisah, dan menggenalkan pemain. Peralihan pemain dan bagian diiringi musik yang terdiri atas: gondang, suling, sarunai, kecapi, hesek, odap, dan garantung. Tokoh Opera Batak dalam episode Tongtang I Tano Batak adalah Sisingamangaraja XII, Patuan Anggi, Putri Lopian, Boru Sagala, Somaling, Panglima Sarbut, dan Panglima Amandopang. Episode ini menceritakan bagaimana perperangan melawan kompeni Belanda di tanah Batak yang kurang lebih 30 tahun lamanya. Disusun dengan alur, dramatik, dan konflik yang rapat untuk memperlihatkan sisi kemanusian dan kekeluargaan Sisingamangaraja dalam menghadapi perperangan.Kata Kunci: Opera Batak, Teater, Sisingamangaraja XII, Tongtang I Tano Batak 
Koreografi dan Ekspresi Gangguan Mental: Skizofrenia dalam Tari Kontemporer Bisikan Buku Usang Jepisa, Tomy; Novalinda, Sherli; Emri, Emri
Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 7, No 1 (2023): Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni
Publisher : Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/bcdk.v7i1.4768

Abstract

Penelitian ini membahas bagaimana gangguan skizofrenia, khususnya gejala halusinasi dan delusi, dapat diekspresikan melalui karya tari kontemporer berjudul Bisikan Buku Usang. Karya ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran sosial dan empati terhadap penderita skizofrenia, yang seringkali dipandang sebagai fenomena sosial yang kompleks dan kurang dipahami. Melalui kombinasi gerak tari modern seperti Vouge, Wacking, Tutting, Krumping, dan Hip-Hop, karya ini menyajikan interpretasi artistik dari pengalaman mental dan emosional yang dialami oleh penderita skizofrenia. Proses penciptaan karya ini melibatkan eksplorasi intensif terhadap gerak tubuh yang mampu merepresentasikan kondisi psikis pengidap skizofrenia, terutama dalam menghadapi distorsi realitas. Musik dengan genre creepy dan tata pencahayaan yang dramatis digunakan untuk memperkuat suasana dan memperjelas ekspresi yang dihasilkan. Karya Bisikan Buku Usang tidak hanya berfungsi sebagai medium artistik, tetapi juga sebagai alat komunikasi yang efektif untuk menyampaikan kompleksitas kehidupan penderita skizofrenia kepada masyarakat luas. Dengan demikian, karya ini diharapkan dapat membuka wacana baru dalam memahami dan mendukung individu dengan gangguan mental melalui seni pertunjukan