Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Pembuatan Serbuk Pewarna Alami Dari Berbagai Tanaman Tropis Dengan Metode Oven Drying Rinawati Rinawati; Zipora Sembiring; Wasinton Simanjuntak; Emantis Rosa
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (JPKM) TABIKPUN Vol. 2 No. 2 (2021)
Publisher : Faculty of Mathematics and Natural Sciences - Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jpkmt.v2i2.20

Abstract

Pewarna alami yang bersifat tidak beracun, aman bagi kesehatan dan ramah lingkungan sangat berpotensi untuk menggantikan pewarna sintetik. Selama ini pewarna sintetik banyak digunakan untuk membuat makanan menjadi lebih menarik namun memiliki dampak negatif pada kesehatan. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap pewarna alami dan bagaimana pembuatannya. Format kegiatan adalah penyuluhan, diskusi dan pelatihan pembuatan bahan pewarna alami. Hasil pre-test dan post-test menunjukkan peningkatkan pengetahuan dan pemahaman sebesar 34% terhadap bahaya penggunaan bahan aditif sintetis dan keunggulan bahan aditif alami pada makanan dan minuman. Masyarakat juga telah memiliki keterampilan untuk membuat bahan pewarna alami dengan metode oven drying dari berbagai tanaman tropis sehingga dapat digunakan sebagai pengganti pewarna sintetik yang selama ini digunakan.
Metode Pembuatan POC untuk Ibu-Ibu Dusun Pal Enam, Desa Karang Sari, Jati Agung Emantis Rosa; Hendri Busman; Yulianti Yulianti; C. N. Ekowati
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (JPKM) TABIKPUN Vol. 3 No. 1 (2022)
Publisher : Faculty of Mathematics and Natural Sciences - Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jpkmt.v3i1.63

Abstract

Wabah pandemi Covid-19 yang melanda selama saat ini, menimbulkan dampak luas bagi kehidupan masyarakat seperti pembatasan aktivitas di luar rumah dan di tempat keramaian, sehingga banyak dari masyarakat yang mengisi waktunya untuk bercocok tanam dengan menanam sayuran dan tanaman hias. Kendala utama dalam budidaya tanaman biasanya muncul serangan hama dan penyakit tanaman sehingga tanaman tidak subur. Pupuk Organik Cair (POC) yang mudah di buat dan berasal dari lingkungan sendiri,ramah terhadap lingkungan dan tidak berbahaya untuk kesehatan. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan pada ibu–ibu Dusun Pal 6 metode pembuatan POC. Dari hasil evaluasi awal dan akhir yang dilakukan menunjukkan terjadi peningkatan pengetahuan dan pemahaman tentang metode pembuatan POC berbasis sayur. Rata- rata peningkatan pengetahuan sebesar 56% dari evaluasi awal sebesar 34% dan evaluasi akhir sebesar 90%.
TYPES AND ACTIVITIES OF DAILY INSECT POLINATORS IN ORDER GARDEN AND GARDEN FRUIT LIWA Devy Febriyanti; EMANTIS ROSA; Rochmah Agustrina
Jurnal Ilmiah Biologi Eksperimen dan Keanekaragaman Hayati (J-BEKH) Vol. 7 No. 2 (2020)
Publisher : Department of Biology Faculty of Mathematics and Natural Sciences Universitas Lampung in collaboration with The Indonesian Association of Biology (PBI) Lampung Branch.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jbekh.v7i2.148

Abstract

Pollinator insects are insects that play a role in pollinating plants. This research was conducted in December-January 2020 at the Liwa Botanical Garden which aims to determine the types and daily activities of pollinator insects in the Liwa Botanical Garden Ornamental and Fruit Parks. The research used observation methods in 2 locations, namely Ornamental Gardens and Fruit Gardens. Pollinator insect sampling using a sweap net. The data obtained were analyzed descriptively. The results found that including pollinator insects in the Ornamental Park were 11 species and 165 individuals, namely (Junonia orithya, Hypolimnas bolina bolina, Neptis clinioides gunongensis, Oriens gola, Euploea mulciber, Elymnias panthera, Apis cerana, Apis florea, Xilocopa confuse, Lucilia sericerata, Coccinella septempuncata), in the Fruit Garden there were 6 species and 276 individuals, namely (Bactrocera dorsalis, Eurema blanda, Zizina otis, Ypthima baldus newboldi, Apis cerana, and Apis florea). Observation of Junonia orithya's daily activities starts in the morning at 08: 00-11: 00 WIB. Flying activities are initiated by the butterfly around the flower plant then perching on the leaves to sunbathe, suck nectar, suck minerals, suck nectar repeatedly, and look for a partner to carry out mating activities. Observation of daily afternoon activities was carried out at 14: 00-16: 00 WIB Junonia orithya was seen carrying out her activities such as in the morning. When the brightness starts to decrease for example due to rain, the butterflies will rest and take shelter under the leaves or bush environment.
VULNERABILITY TEST OF Aedes aegypti LARVA AGAINST TEMEFOS IN WAY KANDIS, BANDAR LAMPUNG Nurul Hanifah; EMANTIS ROSA; Endah Seytaningrum
Jurnal Ilmiah Biologi Eksperimen dan Keanekaragaman Hayati (J-BEKH) Vol. 7 No. 2 (2020)
Publisher : Department of Biology Faculty of Mathematics and Natural Sciences Universitas Lampung in collaboration with The Indonesian Association of Biology (PBI) Lampung Branch.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jbekh.v7i2.149

Abstract

Aedes aegypti is a major vector of Dengue Fever (DHF) that is spread through mosquito bites. However, Bandar Lampung ranked 3rd out of 15 districts in Lampung Province with an IR (Incidence Rate) of 59.43. One way to reduce dengue cases is vector control. Temefos is commonly used as a chemical vector's control and it is possible can cause resistance to larvae. The information about Aedes Aegypty has not been widely known about larval of Aedes aegypty's susceptibility towards Temefos in Lampung Province. Therefore, this study aims to determine the susceptibility status of Aedes aegypti larvae towards Temefos in Way Kandis Village, Tanjung Senang Regency, Bandar Lampung. This research was conducted in December 2018 - February 2019. This study uses five different temefos concentrations, i.e ;0 mg / L concentration as control, 0.005 mg / L, 0.01 mg / L, 0.02 mg / L, and 0 , Each 03 mg / L was repeated in 4 times. Observations were made by calculating the number of larvae that fainted, died, and lived. The results show that the susceptibility of Aedes aegypti towards Temefos in Way Kandis Village, Tanjung Senang Regency, Bandar Lampung City, is categorized as susceptible in the concentration range of 0.005 - 0.03 mg / L.
THE NUMBER of (Aedes sp.) EGGS LAYING ON DIFFERENCES TYPE AND SPECIES OF PHYTOTELMATA IN AREA OF LAMPUNG UNIVERSITY Saskya Ramadhanti; EMANTIS ROSA; Elly Lestari Rustiati; Tugiyono Tugiyono
Jurnal Ilmiah Biologi Eksperimen dan Keanekaragaman Hayati (J-BEKH) Vol. 7 No. 2 (2020)
Publisher : Department of Biology Faculty of Mathematics and Natural Sciences Universitas Lampung in collaboration with The Indonesian Association of Biology (PBI) Lampung Branch.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jbekh.v7i2.155

Abstract

Phytotelmata is the part of a plant that can collect water and can be used as a natural breeding site for insects including mosquitoes. This research was conducted in August-December 2019 in the University of Lampung to find out the number of egg in phytotelmata and find the type and species of phytotelmata which are natural breeding site for Aedes sp. This study used an observatory method with a descriptive approach in the field. Analysis data was done using ANOVA and continued with the BNT test with 95% (a=5%) confidence. This research show that it found 3 types of phytotelmata like fruit hole, tree hole, axillary with six species of Phytotelmata such as Cocos nucifera, Artocarpus heterophyllus, Bambusa sp., Bauhinia purpurea, Colocasia esculenta, and Musa paradisiaca. The most potential species of phytotelmata became the natural breeding site for Aedes sp. mosquito is a Cocos nucifera with an average of 16,33 eggs.
Bimbingan Teknik Pembuatan Insektarium Bagi Guru-Guru Ipa di Smp Way Tenong Kabupaten Lampung Barat Emantis Rosa; Christina Nugroho Ekowati; Sumardi Sumardi
Prosiding Konferensi Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat dan Corporate Social Responsibility (PKM-CSR) Vol 3 (2020): Peran Perguruan Tinggi dan Dunia Usaha Dalam Pemberdayaan Masyarakat Untuk Menyongsong
Publisher : Asosiasi Sinergi Pengabdi dan Pemberdaya Indonesia (ASPPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (257.864 KB) | DOI: 10.37695/pkmcsr.v3i0.854

Abstract

Salah satu cara untuk mengenal dan memahami suatu organisme dapat dilakukan dengan mengoleksi organisme tersebut untuk dapat memudahkan pengamatan ciri-cirinya. Hal ini k disebabkan karena hewan bergerak aktif. Oleh karena itu perlu proses koleksi untuk memudahkan pengamatan, baik koleksi kering maupun koleksi basah. Pengetahuan untuk mengoleksi dan mengamati organisme hidup sangat penting bagi guru-guru Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) tingkat SMP, untuk membantu pengadaan media praktikum. Untuk itu diperlukan pengetahuan bagaimana cara/ metode mengoleksi hewan, hrwan apa saja yang apa saja yang dapat dikoleksi dan dibuat preparatnya. Dari hasil survei awal, sebagian besar guru IPA –SMP di Lampung Barat belum memiliki ketrampilan dalam koleksi hewan, khususnya serangga. Untuk meningkatkan pengetahuan tentang hal tersebut maka diperlukan bimbingan teknis cara koleksi dan pembuatan insektarium bagi guru –guru yang tergabung dalam MGMP IPA SMP Kabupaten Lampung Barat. Metode bimbingan teknis dilaksanakan dengan pendekatan teori dan praktek pembuatan insektarium. Hasil bimbingan menunjukkan terjadi peningkatan pengetahuan peserta sebesar 48,4% yang ditunjukkan dari persentase sebelum bimbingan dilaksanakan , pengetahuan peserta tentang pembuatan insektarium sebesar 40%. Setelah pelatihan pengetahuan peserta meningkat menjadi 88,4%. Selain itu hasil bimbingan, pembuatan insektarium dapat digunakan berulang kali sebagai media pembelajaran bidang IPA Biologi, khususnya media praktikum keanekaragaman hewan.
Egg Density in Ovitrap and Effect of Temephos (ABATE) on Vulnerability of Aedes aegypti Mosquito Larvae in Rajabasa Raya Village Bandar Lampung City Annisa Aprilia; Emantis Rosa; Gina Dania Pratami
JURNAL SAINS NATURAL Vol. 12 No. 4 (2022): Sains Natural
Publisher : Universitas Nusa Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31938/jsn.v12i4.387

Abstract

Bandar Lampung is a city in Lampung Province with high dengue hemorrhagic fever (DHF) cases. This disease is caused by infection with the Aedes aegypti mosquito. The high number of dengue cases is the reason for monitoring and controlling vector density. Ovitrap placement can be a way to describe the density of eggs in the area so that preventive measures can be more effective. In addition to laying ovitrap, chemical larvicides in the form of temephos (abate) are also used to control dengue vectors. Continuous use of temephos can cause vectors to experience resistance. This study aimed to know the density of mosquito eggs, ovitrap index, and the effect of temephos (abate) on the resistance status of Ae. aegypti larvae. The study was conducted by counting the number of eggs in the ovitrap laid for seven days indoors and outdoors. The larval susceptibility test was carried out using the third instar larvae resulting from the rearing of eggs obtained from the laying of ovitraps. The Third instar larvae were tested using temephos with a concentration of 0.02 mg/L for 1 hour with four replications and then observed and counted after 24 hours. The results of this study showed that the density of mosquito eggs in Rajabasa Raya Village was 0.05 eggs/mL, the ovitrap index was 68.9%, and the susceptibility test was categorized as vulnerable because the larvae died 100%.Keywords: Ae. aegypti; Vector; Ovitrap; Vulnerability; TemephosABSTRAKKepadatan Telur pada Ovitrap dan Pengaruh Temephos (Abate) Terhadap Kerentanan Larva Nyamuk Aedes aegypti di Kelurahan Rajabasa Raya Kota Bandar LampungBandar Lampung menjadi kota di Provinsi Lampung yang memiliki kasus demam berdarah dengue (DBD) yang tinggi. Penyakit ini diakibatkan oleh adanya infeksi nyamuk Aedes aegypti. Kasus DBD yang tinggi menjadi alasan untuk dilakukannya pemantauan dan pengendalian kepadatan vektor. Peletakkan ovitrap dapat menjadi cara untuk menggambarkan kepadatan telur di wilayah tersebut sehingga tindakan pencegahan yang dilakukan dapat lebih efektif. Selain peletakkan ovitrap, larvasida kimia berupa temephos (abate) juga digunakan sebagai cara pengendalian vektor DBD.  Penggunaan temephos secara berkelanjutan dapat menyebabkan vector mengalami resistensi. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kepadatan telur nyamuk, indeks ovitrap, dan pengaruh temephos (abate) terhadap status resistensi larva Ae.aegypti. Penelitian dilakukan dengan menghitung jumLah telur pada ovitrap yang diletakkan selama tujuh hari di dalam rumah dan juga di luar rumah. Uji kerentanan larva dilakukan dengan menggunakan larva instar III hasil pemeliharaan telur yang didapatkan dari peletakan ovitrap. Larva instar III diuji menggunakan temephos dengan konsentrasi 0,02mg/L selama 1 jam dengan empat kali ulangan lalu diamati dan dihitung setelah 24 jam. Hasil dari penelitian ini menunjukkan kepadatan telur nyamuk di Kelurahan Rajabasa Raya sebesar 0,05 butir/mL, indeks ovitrap 68,9%, dan uji kerentanan dikategorikan rentan karena larva mengalami kematian 100%.Kata kunci : Aedes aegypti, vektor, ovitrap, kerentanan, temephos
Potential of Pepper Leaf (Piper nigrum L.) Ethanol Extract As Ovicide for Aedes aegypti Syaalma Difatka Qurota'ayun; Emantis Rosa; Gina Dania Pratami; M Kanedi
JURNAL SAINS NATURAL Vol. 12 No. 4 (2022): Sains Natural
Publisher : Universitas Nusa Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31938/jsn.v12i4.386

Abstract

Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) has an increasing number of infections almost every year in Indonesia. Efforts to prevent this disease are carried out by using insecticides to reduce the spread of the Aedes aegypti mosquito as a disease vector. However, the continuous use of synthetic insecticides for a relatively long time can cause various environmental problems and cause mosquitoes to become resistant. Therefore, it is preferable to use natural insecticides derived from plants with the same effectiveness as ovicides. The content of essential oils and secondary metabolites, such as alkaloids, flavonoids and saponins in pepper plants (Piper nigrum L.), is known to act as an insecticide. This study aims to determine the ovicidal mosquito Ae. aegypti by pepper leaf extract (P. nigrum L.). This study used a completely randomized design (CRD) with 6 variations of extract concentration (0% (control); 0.40%; 0.60%; 0.80%; 1.00%) and four replications for each treatment. Data analysis was carried out using one way ANOVA and post hoc LSD statistical tests. Significantly different results (p<0.05) were obtained, indicating a different effect between control and treatment with variations in extract concentration on mosquito eggs. The concentration of the extract with the most potential as an ovicidal mosquito Ae. aegypti is 1.20%.Keywords:  Ae. aegypti;  pepper leaf; ovicideABSTRAKPotensi Ekstrak Etanol Daun Lada (Piper nigrum L.) sebagai Ovisida Nyamuk Aedes aegyptiDemam Berdarah Dengue (DBD) mengalami peningkatan jumlah infeksi hampir setiap tahun di Indonesia. Upaya pencegahan penyakit ini, dilakukan dengan menggunakan insektisida untuk mengurangi persebaran nyamuk Aedes aegypti sebagai vektor penyakit. Namun penggunaan insektisida sintetik secara kontinu pada waktu yang relatif lama, dapat memunculkan berbagai permasalahan pada lingkungan dan menyebabkan nyamuk menjadi resisten. Oleh karena itu, lebih disarankan penggunaan insektisida alami yang berasal dari tumbuhan dengan efektivitas yang sama sebagai ovisida. Kandungan minyak atsiri dan senyawa metabolit sekunder seperti alkaloid, flavonoid dan saponin yang ada pada tanaman lada (Piper nigrum L.), diketahui dapat berperan sebagai insektisida. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan ovisida nyamuk Ae. aegypti oleh ekstrak daun lada (P. nigrum L.). Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 6 variasi konsentrasi ekstrak (0% (kontrol); 0,40%; 0,60%; 0,80%;, 1,00%) dan empat kali ulangan untuk setiap perlakuan. Analisis data dilakukan menggunakan uji statistik one way ANOVA dan post hoc LSD. Hasil beda nyata (p<0,05) yang didapatkan menunjukkan adanya pengaruh yang berbeda antara control dengan perlakuan variasi konsentrasi ekstrak terhadap telur nyamuk. Konsentrasi ekstrak yang paling berpotensi sebagai ovisida nyamuk Ae. aegypti yaitu 1,20%.Kata kunci: Ae. aegypti; daun lada; ovisida
METODE PEMBUATAN KOMPOS DAN PUPUK ORGANIK CAIR DARI BAHAN LIMBAH RUMAH TANGGA TERHADAP MASYARAKAT DESA BANDAR SARI, KECAMATAN PADANG RATU, KABUPATEN LAMPUNG TENGAH Emantis Rosa; Sumardi Sumardi; C. N. Ekowati; Primasari Pertiwi Pertiwi
BUGUH: JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT Vol. 3 No. 1 (2023): Maret 2023
Publisher : Badan Pelaksana Kuliah Kerja Nyata Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/buguh.v3n1.1252

Abstract

Untuk memenuhi kebutuhan pangan yang sehat diperlukan sayuran sebagai asupan utama sebagai kebutuhan sehari-hari. Namun, sangat disayangkan untuk bercocok tanam sayur-sayuran, masyarakat belum     banyak yang melakukannya. Seperti yang terjadi pada Desa Bandar Sari, Kecamatan Padang Ratu, Kabupaten Lampung Tengah. Sebagian besar mata        pencaharian masyarakat desa tersebut berprofesi sebagai petani karet, sawit dan padi. Kendala yang dihadapi masyarakat tersebut adalah mahalnya harga pupuk, sehingga sulit terjangkau bagi mereka untuk menanam sayuran. Oleh karena itu diperlukan solusi untuk memenuhi kebutuhan pupuk masyarakat. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan membuat pupuk sendiri yang ramah lingkungan yaitu membuat Pupuk Organik Cair dan kompos yang berbahan dasar dari sisa sayuran rumah tangga. Pembuatan pupuk dan kompos ini dapat dilakukan oleh setiap individu, dengan biaya yang sangat murah.   Tujuan dari kegiatan pengabdian ini adalah untuk mengenalkan dan meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang metode pembuatan Pupuk Organik Cair dan Kompos. Hasil pengabdian menunjukkan terjadi peningkatan pengetahuan dan pemahaman masyarakat terhadap  metode pembuatan Pupuk Organik Cair dan kompos sebesar 50% (41% menjadi 91%).
Isolasi dan Aplikasi Fungi Entomopatogen dari Larva Nyamuk Aedes aegypti L. Wuri Artikasari; Emantis Rosa; Bambang Irawan
Jurnal Biologi Papua Vol 11, No 2 (2019)
Publisher : Jurusan Biologi FMIPA Universitas Cenderawasih

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.659 KB) | DOI: 10.31957/jbp.833

Abstract

DHF (Dengue Hemorrhagic Fever) is a serious problem in Indonesia. DHF disease control has been applied so far, one of which is the use of larvacide temephos (abate). However larvacide is a chemical insecticide that has a negative impact on human health and causes resistance. Therefore in this research, biological control is carried out by utilizing entomopathogenic fungi as a larvacide. The purpose of this study was to determine the effectiveness of entomopathogenic fungi isolated from Ae aegypti larvae. Against the death of Ae. Aegypti mosquito larvae with the moist chamber method. This study used a completely randomized design (CRD) with a factorial pattern and performed two repetitions. Factor A is a type of fungi with 3 levels, namely A1: Aspergillus sp1, A2: Aspergillus sp2, and A3: Syncephalastrum sp. Factor B is a dilution with 7 levels, namely B0: Control, B1: 100 (without dilution), B2: 10-1, B3: 10-2, B4: 10-3, B5: 10-4, B6: 10-5 with every treatment was applied in 2 repetitions. Observations were made 24 hours after treatment for 3 days. Data were analyzed using analysis of variances (anova) and continued with the Least Significant Difference Test (LSD) at 5%. The results indicate that fungi isolates are the most effective in killing Ae. Aegypti mosquito larvae is Aspergillus sp1 and Aspergillus sp2 on the treatment of spores without dilution. Key words: DHF; larvacide; Aedes aegypti; Entomopathogenic Fungi.