Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

HUBUNGAN STRES DAN ASUPAN GIZI TERHADAP KETIDAKTERTURAN SIKLUS MENSTRUASI PADA SISWI SMA NEGERI 21 MAKASSAR Prasetyo Hutomo, Wahyuni Maria
Diagnosis Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol. 13 No. 5 (2018): Diagnosis: Jurnal Ilmiah Kesehatan
Publisher : STIKES Nani Hasanuddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Menstruasi adalah perdarahan yang siklik dari uterus sebagai tanda bahwa alat kandungan dalam tubuh seorang wanita menjalankan fungsinya. Menstruasi disebut tidak teratur hanya bila tidak mengikuti pola siklus seseorang. Anovulasi adalah penyebab utama keterlambatan menstruasi pada banyak wanita. Menstruasi juga tidak teratur dalam beberapa bulan atau tahun setelah mendapatkan menstruasi pertama (menarke). Hal ini karena hormon-hormon yang mengontrol menstruasi membutuhkan waktu untuk mencapai keseimbangan. Siklus haid yang normal terjadi setiap 21-25 hari sekali, dengan lama hari haid sekitar 3-7 hari. Jumlah darah haid normal sekitar 30-40 mililiter (mL). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui Hubungan Stress dan Asupan Gizi Terhadap ketidakteraturan siklus menstruasi pada siswi SMA negeri 21 Makassar. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional. Pengambilan sampel menggunakan Nonprobablity sampling yaitu sampling jenuh, didapatkan 46 responden. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner dan dianalisis dengan uji chi square (ρ˂0,05). Hasil analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan antara stress dengan ketidakteraturan siklus menstruasi (ρ=0,000), terdapat adanya hubungan antara asupan zat gizi dengan ketidakteraturan siklus menstruasi (ρ=0,003), Kesimpulan dalam penelitian ini adalah terdapat hubungan antara stress, asupan zat gizi, terhadap ketidakteraturan siklus menstruasi pada siswi SMA negeri 21 Makassar, dimana stress merupakan faktor yang paling dominan berhubungan dengan ketidakteraturan siklus menstruasi.
HUBUNGAN PARIETAS DENGAN KUNJUNGAN ANTENATAL CARE (ANC) DI PUSKESMAS DUM DISTRIK SORONG KEPULAUANKOTA SORONG Hutomo, Wahyuni Maria Prasetyo
Diagnosis Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol. 16 No. 2 (2021): Diagnosis: Jurnal Ilmiah Kesehatan
Publisher : STIKES Nani Hasanuddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Menurut data Dinas Kesehatan Kota Sorong periode tahun 2019 menunjukan bahwa di puskesmas Dum Distrik Sorong Kepulauan Kota Sorong memiliki cakupan kunjungan antenatal care yang masih rendah jika dibandingkan dengan puskesmas sorong timur dan puskesmas malawei distrik manoi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan parietas dengan antenatal care (ANC) di Puskesmas Dum Distrik Sorong Kepulauan Kota Sorong. Jenis penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah semua ibu hamil trimester III sebanyak 30 orang. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 30 orang. Teknik sampling yang digunakan yaitu total sampling. Instrumen yang digunakan berupa kuesioner. Uji statistik yang digunakan yaitu uji chi- square. Hasil penelitian ini menunjukan ada hubungan Parietas (p- value=0,010), dengan kunjungan antenatal care di Puskesmas Dum Distrik Sorong Kepulauan Kota Sorong. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ada hubungan dan Parietas dengan kunjungan antenatal care di Puskesmas Dum Distrik Sorong Kepulauan Kota Sorong. Diharapkan bagi petugas kesehatan di Puskesmas Dum Distrik Sorong Kepulauan Kota Sorong agar lebih meningkatkan pelayanan terkait antenatal care.
Socioeconomic Factors and Its Correlation with Nutritional Status in Toddlers: A Study in Papua Etnis, Anita Ratna; Hutomo, Wahyuni Maria Prasetyo; Su, Hansen Maikel; Rahman, Irfandi; Kolong, Endofita
Journal of Health Sciences and Epidemiology Vol. 2 No. 2 (2024): August 2024
Publisher : RRZ Scientific Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62404/jhse.v2i2.49

Abstract

Nutritional status in toddlers is a critical indicator of overall well-being and long-term health outcomes. Malnutrition among children is persistent and continues to be an alarming burden, often linked to socioeconomic factors in Papua. This study aims to analyze the relationship between socioeconomics and the nutritional health of toddlers. This cross-sectional study involved 300 toddlers aged 1–5 years from working areas at the Primary Health Center (PHC) Remu, Sorong City, Papua. We collected data by conducting structured interviews with the mothers and measuring the anthropometric traits of the toddlers. Socioeconomics was assessed through family income, maternal education, and access to healthcare. We measured nutritional status using WHO standards for weight-for-age (underweight), height-for-age (stunting), and weight-for-height (wasting). We implemented the Pearson and Spearman correlation tests for data analysis. The results indicated family income (p < 0.05), maternal education (p < 0.05), and access to healthcare (p < 0.05) were significantly correlated with nutritional status. This study highlights the significant influence of socioeconomic status on the nutritional status of toddlers in Papua. Toddlers from families with higher income, better maternal education, and enhanced accessibility to healthcare had better nutritional outcomes, with lower rates of stunting, wasting, and underweight. These findings suggest the need for targeted interventions aimed at improving socioeconomic conditions and enhancing access to nutritional and healthcare services in Papua, particularly in rural and remote areas, to reduce malnutrition and promote better health outcomes for children.
Relationship Between Age, Gender, and Marital Status with The Intention to Disclose HIV Status Among PLHIV Hutomo, Wahyuni Maria Prasetyo; Pramukti, Iqbal; Sari , Sheizi Prista
Poltekita : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 17 No. 4 (2024): February
Publisher : Poltekkes Kemenkes Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33860/jik.v17i4.3524

Abstract

Globally, Human Immunodeficiency Virus (HIV) remains a public health problem. The World Health Organization (WHO) reports 39.0 million (33.1-45.7 million) people living with HIV by the end of 2022, with two-thirds (25.6 million) in the African region. Based on national data in 2022, West Java has the 3rd highest number of HIV cases based on data and reporting from 2010-2022, which amounted to 52,970 cases, so it is necessary to disclose the status to the closest people to prevent transmission. HIV-positive status disclosure is the decision of PLWHA to disclose personal information about their disease and transmit it to others. This study aims to determine the relationship between age, gender, and marital status in disclosing HIV status in PLWHA. This study is a quantitative research, analytic research design with a cross-sectional design conducted on 74 PLWHA in Sumedang Regency Hospital. Data were analyzed using the chi-square test and Fisher's exact test. The results of bivariate analysis showed age Ϸ=0.033 and OR 2.739 (CI 95% 1.184-6.337), gender Ϸ=0.002 and OR 5.091 (CI 95% 1.712-15.139), single marital status Ϸ=0.004 and OR 4.4381 (CI 95% 1.628-12.099). (CI 95% 1.628-12.099) so that it is known that the variable most associated with disclosure of HIV-positive status in PLWHA at Sumedang District Hospital and the most associated with disclosure of HIV-positive status.
Hubungan Antara Usia dan Pengetahuan dengan Persepsi Stigma HIV/AIDS Pada Ibu Rumah Tangga di Kabupaten Garut Haroen, Hartiah; Hutomo, Wahyuni Maria Prasetyo; Mambangsari, Citra Windani; Witdiawati, Witdiawati; Harun, Hasniatisari
Malahayati Nursing Journal Vol 6, No 1 (2024): Volume 6 Nomor 1 2024
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v6i1.12991

Abstract

ABSTRACT There are approximately 5,100 new Human Immunodeficiency Virus (HIV) infections in the Housewife (IRT) group every year, and 35% of them are infected from their partners. This rate is higher than HIV cases in other groups such as the MSM (man sex with man). West Java is one of the four provinces with the highest number of HIV/AIDS cases in Indonesia. One of the districts in West Java with a high rate of HIV transmission is Garut Regency, where the estimation of 1,681 people with HIV/AIDS. To determine the relationship between age and knowledge with the perception of HIV/AIDS stigma among housewives. This research is a quantitative research with a cross sectional approach. Data collection was conducted in May 2023 and located in Village X, Garut Regency, West Java. The study population was housewives with inclusion criteria of women of childbearing age (aged 20-49 years) who resided permanently in the ciwalen sub-district area using purposive sampling technique as many as 97 housewives. Data collection was conducted door to door using a questionnaire which included demographic characteristics data, knowledge about HIV/AIDS using the HIV-KQ-18 Instrument consisting of 18 question items and perceived stigma using the stigma questionnaire from Berger's HIV Stigma Scale (HSS). Data were analyzed using SPSS software (Version 21), frequency distribution analysis and chi-square test. The research results showed that the majority of housewives (64 people, 66.0%) had poor knowledge about HIV, (32.0%) had high stigma about HIV and (34.0%) had low stigma. Meanwhile, only a few (34.0%) of the housewives had good knowledge and (25.8%) the housewives' stigma about HIV was low. Relationship between domestic workers' knowledge and stigma about HIV (P<0.021). The majority of housewives in the early adulthood stage (55 people, 56.7%), had high stigma (28.9%) and low stigma (27.8%), low stigma was more often found in late adulthood housewives (53.4%). Age was related to stigma about HIV (P < 0.014). To increase knowledge about HIV and reduce stigma in society, efforts are being made to increase knowledge and group discussions about HIV/AIDS. Keywords: HIV/AIDS, Housewives, Age, Knowledge, Stigma.  ABSTRAK Terdapat 5.100 infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) baru  pada kelompok Ibu Rumah Tangga (IRT) setiap tahunya dan sebagian besar 35% tertular dari pasangannya, angkat tersebut lebih tinggi dibandingkan kasus HIV pada kelompok lainnya seperti kelompok MSM (man sex with man). Jawa Barat merupakan salah satu dari empat provinsi dengan jumlah kasus HIV/AIDS tertinggi di Indonesia. Salah satu kabupaten di Jawa Barat yang  angka penularan HIV-nya tinggi adalah Kabupaten Garut,  perkiraan jumlah orang yang hidup dengan HIV (ODHIV) sebanyak 1.681 orang. Diketahui hubungan usia dan pengetahuan dengan persepsi stigma  HIV/AIDS pada ibu rumah tangga. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Pengambilan data dilakukan pada bulan Mei 2023 dan berlokasi di Desa X, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Populasi penelitian adalah ibu rumah tangga dengan kriteria inklusi wanita usia subur (usia 20-49 tahun) yang bertempat tinggal tetap di wilayah tersebut dengan menggunakan teknik purposive sampling sebanyak 97 ibu rumah tangga. Pengumpulan data dilakukan secara door to door dengan menggunakan kuesioner yang meliputi data karakteristik demografi, pengetahuan tentang HIV/AIDS dengan menggunakan Instrumen HIV-KQ-18 yang terdiri dari 18 item pertanyaan dan stigma yang dirasakan dengan menggunakan kuesioner stigma dari Berger's HIV Stigma Scale (HSS). Analisis data dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak SPSS (Versi 21), analisis distribusi frekuensi dan uji chi-square. Penelitian menunjukan mayoritas IRT (64 orang, 66,0%) memiliki pengetahuan yang kurang baik tentang HIV, (32.0%) memiliki stigma tentang HIV yang tinggi dan (34,0%) yang memiliki Stigma rendah. Sementara hanya sedikit (34,0%) diantara IRT yang memiliki pengetahuan baik dan (25,8%) stigma IRT tentang HIV yang rendah. Hubungan pengetahuan dan stigma IRT tentang HIV (P<0.021). Mayoritas Usia IRT pada tahap dewasa awal (55 orang, 56.7%), memiliki  stigma tinggi (28,9%) dan stigma rendah( 27,8%), stigma rendah lebih banyak dijumpai pada IRT Usia dewasa akhir (53,4%). Usia memiliki hubungan dengan stigma tentang HIV (P < 0.014). Untuk meningkatkan pengetahuan tentang HIV dan mengurangi stigma di masyarakat  dilakukan upaya-upaya peningkatan pengetahuan dan  diskusi kelompok bersama tentang HIV/ AIDS. Kata Kunci: HIV/AIDS, Ibu Rumah Tangga, Usia, Pengetahuan, Stigma.