Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

PENGARUH PEMBERIAN BUTYLATED HYDROXYTOLUENE (2,6-DI-TERT-BUTYL-4-METHYLPHENOL) PER ORAL DOSIS BERTINGKAT TERHADAP GAMBARAN HISTOPATOLOGIS HEPAR TIKUS WISTAR Windi Novita Sari; Saebani Saebani; Tuntas Dhanardhono
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 7, No 2 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (576.422 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v7i2.21282

Abstract

Latar Belakang: Butylated Hydroxytoluene (2,6-Di-tert-butyl-4-methylphenol/BHT) adalah antioksidan umum dan aman dalam makanan, obat-obatan, dll. BHT memiliki potensi sebagai salah satu alternatif antioksidan. Penggunaan BHT yang berlebihan dapat menyebabkan keracunan hepar. Hepar memiliki fungsi dan peran kompleks dan dapat rusak oleh senyawa kimia hepatotoksik. Konsumsi jangka panjang antioksidan BHT menjadi salah satu penyebab kerusakan hati manusia.Tujuan: mengetahui pengaruh pemberian Butylated Hydroxytoluene per oral terhadap gambaran histopatologi hepar tikus Wistar.Metode: Penelitian ini merupakan post test only control group design yang menggunakan tikus Wistar jantan, dibagi 1 kelompok kontrol & 3 kelompok perlakuan dengan randomisasi sederhana. Sampel 20 ekor tikus wistar jantan, diadaptasi 1 minggu, lalu kelompok tikus mendapat perlakuan berbeda selama 14 hari. Semua kelompok perlakuan diberi BHT secara sonde selama 14 hari oleh tenaga ahli setiap pagi dengan dosis 300 mg untuk kelompok 1, 600 mg untuk kelompok perlakukan 2, dan 1200 mg untuk kelompok perlakukan 3. Setelah diberi perlakuan, tikus dalam 14 hari dimatikan. Selanjutnya heparnya diambil, setiap tikus dibuat 5 preparat hepar dan 5 lapangan pandang dengan perbesaran 100x dan 400x. Setiap preparat dihitung nilai rerata degenerasi.Hasil: Rerata degenerasi sel hepar tertinggi pada kelompok perlakukan 3. Pada degenerasi terdapat perbedaan gambaran histopatologi yang bermakna secara statistik (<0,05) antara p1 terhadap p2 (p=0,008), p1 terhadap p3 (p=0,008), p1 terhadap K (p=0,008), P2 terhadap P3 (p=0,008), P2 terhadap K (p=0,008), dan P3 terhadap K (p=0,007).Simpulan: Terdapat pengaruh pemberian Butylated Hydroxytoluene per oral terhadap gambaran histopatologi hepar tikus Wistar.
PERBEDAAN KUANTITAS DNA YANG DIEKSTRAK DARI AKAR RAMBUT BERBAGAI FASE PERTUMBUHAN Valensha Yosephi; Tuntas Dhanardhono; Saebani Saebani
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (353.747 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v5i4.15979

Abstract

Latar belakang: Rambut merupakan spesimen biologis yang sering ditemukan di Tempat Kejadian Perkara (TKP). Pemeriksaan forensik biasanya menggunakan cara pemerolehan rambut untuk memperkirakan kuantitas deoxyribonucleic acid (DNA) yang akan didapatkan. Belum ada penelitian di Indonesia mengenai perbedaan kuantitas DNA yang diekstrak dari masing-masing fase pertumbuhan akar rambut.Tujuan: Menganalisis perbedaan kuantitas DNA yang diekstrak dari akar rambut berbagai fase pertumbuhan.Metode: Penelitian observasional dengan rancangan cross sectional ini menggunakan sampel akar rambut (n=15) yang mencakup tiga fase akar rambut, yaitu fase anagen (n=5), fase katagen (n=5), dan fase telogen (n=5). Penggolongan fase akar rambut dilakukan melalui pemeriksaan mikroskopis. Semua sampel diekstraksi dengan metode Chelex, lalu DNA dikuantifikasi menggunakan Nanodrop. Uji statistik yang digunakan adalah One-way Anova dan dilanjutkan Post Hoc Tamhane untuk melihat perbedaan antarkelompok.Hasil: Kuantitas DNA ekstraksi dari akar rambut tiap fase adalah sebagai berikut fase anagen memiliki rerata 28,78 ng/ml, fase katagen memiliki rerata 7,35 ng/ml, dan fase telogen memiliki rerata 3,84 ng/ml. Pada penelitian didapatkan perbedaan yang bermakna antara tiap kelompok fase akar rambut (p<0,001), yaitu fase anagen dan katagen (p=0,025), fase anagen dan telogen (p=0,015), dan fase katagen dan telogen (p=0,014).Simpulan: Terdapat perbedaan bermakna kuantitas DNA yang diekstrak dari akar rambut pada berbagai fase pertumbuhan akar rambut.
ASPEK MEDIS PADA KASUS KEJAHATAN SEKSUAL Sie Ariawan Samatha; Tuntas Dhanardhono; Sigid Kirana Lintang Bhima
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 7, No 2 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (457.455 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v7i2.20849

Abstract

Latar Belakang Kejahatan seksual adalah setiap perbuatan yang dilakukan oleh seseorang terhadap orang lain yang menimbulkan kepuasan seksual bagi dirinya dan mengganggu kehormatan orang lain. Bantuan dokter dalam kasus kejahatan seksual berupa pemeriksaan pada korban baik itu pemeriksaan fisik maupun pengumpulan sampel dari tubuh korban. Namun dalam kenyataan di lapangan sangat sulit bagi dokter untuk melakukan hal – hal tersebut.Tujuan Untuk mengetahui bagaimana aspek medis kasus kejahatan seksualMetode Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Sampel adalah rekam medis kasus kejahatan seksual di dua rumah sakit di kota Semarang yaitu RSUP dokter Kariadi dan RSUD Dokter Adhyatma MPH. Data rekam medis yang diperoleh dicatat menggunakan draft yang mengacu pada standar WHO terhadap kasus kejahatan .Hasil Didapatkan 95 kasus kejahatan seksual dari tahun 2015 – 2016 yang dilaporkan pada RSUP dokter kariadi dan RSUD dokter Adhyatma, MPH. 90% dari total kasus menerima informed consent yang diberikan oleh dokter. 57 % kasus terdapat hasil anamnesis waktu dan tanggal kejadian, 41 % kasus terdapat hasil anamnesis umum, 68% kasus terdapat hasil anamnesis riwayat seksual dan riwayat menstruasi korban. 13 kasus mengandung pertanyaan apa yang dilakukan korban seusdah kejadian, 98% kasus terdapat kronologis kejadian, 94% kasus terdapat identitas pelaku, sebanyak 74 kasus terdapat lokasi kejadian, 14% kasus terdapat hasil riwayat obat – obat yang dikonsumsi korban, dan 88 % kasus terdapat deskripsi jenis kejadian seksual. Sebanyak 97% dari total kasus yang didapat terdapat hasil pemeriksaan fisik dan sebanyak 80% dari total kasus terdapat hasil pemeriksaan genitalia. Sebanyak 20% kasus terdapat dokumentasi pemeriksaan. Sebanyak 5% dari total kasus hasil pemeriksaan swab dan cairan sperma, sebanyak 1% dari total kasus yang dilakukan pemeriksaan darah dan urin. 17% dari total kasus terdapat hasil pemeriksaan kehamilan.Kesimpulan Aspek Medis Kejahatan seksual meliputi informed consent, anamnesis, pemeriksaan fisik yang terdiri dari pemeriksaan tanda vital, pemeriksaan Top to Toe, dan pemeriksaan genital, Pemeriksaan penunjang yang terdiri dari pengambilan swab dan pemeriksaan cairan sperma, pemeriksaan darah dan urin, dan pemeriksaan kehamilan. Dokter dalam Kasus kejahatan seksual juga berperan dalam pengumpulan barang bukti pada tubuh korban.
POLA ADUAN PESERTA JAMINAN KESEHATAN NASIONAL TERHADAP PELAYANAN KEDOKTERAN DI FASILITAS KESEHATAN TINGKAT PERTAMA Khansa Pinasti Anjarsari; Tuntas Dhanardhono; Anugrah Riansari; Sigid Kirana Lintang Bhima
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 9, No 2 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro )
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (443.326 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v9i2.27144

Abstract

Latar Belakang: Badan Penyelenggara Jaminan Sosial yang dikenal sebagai BPJS adalah perusahaan milik negara Indonesia yang secara khusus ditugaskan oleh pemerintah Indonesia untuk menjaga sistem jaminan sosial nasional untuk semua Warga Negara Indonesia. Pada era BPJS ini, FKTP sebagai fasilitas kesehatan pertama memiliki peran penting dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan. Meskipun demikian, FKTP sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan sering mendapat keluhan dari peserta BPJS. Tujuan: mengetahui pola aduan peserta JKN terhadap layanan kedokteran di fasilitas kesehatan tingkat pertama Kota Semarang. Metode: Penelitian deskriptif dengan rancangan retrospektif terhadap data aduan di BPJS Kesehatan Cabang Semarang, dua puskesmas Kota Semarang, dan dua Klinik Pratama Kota Semarang yang dipilih yang dilakukan dari bulan Juni 2019 sampai September 2019.  Teknik pengambilan sampel dengan total sampling (total 402 aduan). Hasil: Aduan yang ditujukan ke FKTP mengenai ketepatan waktu pelayanan (31%), sarana prasarana (28%), pelayanan administrasi (12%), keramahan petugas (3%), dan makanan rawat inap (3%). Aduan ditujukan pada dokter mengenai ketepatan waktu pelayanan (11%), pelayanan dokter (8%), dan keramahan dokter (4%). Wanita lebih banyak mengajukan aduan dibanding laki-laki, yaitu 61%. Usia terbanyak yang melapor adalah rentang usia 26-35 tahun (40%). Pelapor melaporkan aduan dengan cara tertulis (96 %) dan secara langsung atau lisan (4%) . Kesimpulan: Aduan di FKTP terbanyak adalah aduan terkait dengan waktu pelayanan yang lama, baik di pelayanan administrasinya maupun di pelayanan kedokteran.  Meningkatnya kunjungan pasien sejalan dengan peningkatan pelayanan yang diberikan oleh FKTP, namun tidak sebanding dengan jumlah petugas yang bekerja. Tersedianya media seperti kuisioner, formulir, kotak saran, dan aplikasi memudahkan pasien untuk mengajukan aduan di FKTP.Kata kunci: BPJS, aduan, FKTP
THE EFFECT OF HIGH TEMPERATURE HEATING ON WEIGHT AND COLOR CHANGES IN COMPOSITE RESIN AS FORENSIC IDENTIFICATION Farhan Jordan Akbar; Ira Anggar Kusuma; Tuntas Dhanardhono; Yoghi Bagus Prabowo
Dentino : Jurnal Kedokteran Gigi Vol 7, No 2 (2022)
Publisher : FKG Unlam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentino.v7i2.14623

Abstract

Background: Fire disaster is a non-natural disaster that often occurs. The impact is that victims are difficult to identify. One of the identification methods that can be used is dental restorative materials with observing changes in color and weight that occur in dental restorative materials due to exposure to high temperatures. Composite resin is a dental restorative material that is often used because it has good aesthetics, physical and mechanical properties. Purpose: This study to determine the effect of high temperature on weight and color changes in nanohybrid and bulkfill composite resin as a reference for forensic identification. Method: This research is an experimental laboratory with a pre and post-test control group design. A total of 30 nanohybrid composite resin samples and 30 bulkfill composite resin samples were divided into 5 groups consisting of 4 treatment groups and 1 control group. The treatment group was heated at four temperature groups, 30°C-200°C, 30°C- 400°C, 30°C-800°C and 30°C-1100°C using a furnace (Thermo Scientific, USA). Weight changes were measured using a digital scale (Ohaus,China) and color changes were observed using the Shade Guide (Vitapan Classical, Germany). Result: A change in color and weight of the nanohybrid composite resin and bulkfill after being heated at high temperatures. Two-Way ANOVA test and Post Hoc LSD test showed that there was a significant difference in weight between nanohybrid composite resin and bulk fill composite resin at each temperature interval (p<0.001). Conclusions: High temperature heating affects the color and weight changes of nanohybrid and bulkfill composite resin. Keywords: Bulkfill composite resin, High temperature heating, Nanohybrid composite resin 
THE EFFECTS OF HIGH TEMPERATURE HEATING ON COLOUR AND WEIGHT CHANGES IN GIC AND RMGIC (A STUDY TO SUPPORT IDENTIFICATION OF FIRE VICTIMS) Nia Damayanti; Ira A. Kusuma; Tuntas Dhanardhono; Brigitta Natania
Dentino : Jurnal Kedokteran Gigi Vol 7, No 2 (2022)
Publisher : FKG Unlam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentino.v7i2.14629

Abstract

Background: The temperature reached by fire disaster was varies. The disaster can cause fatalities and thus human identification is required. Dental restorative materials have properties that are resistant to high temperatures and play a role in identification process of fire victims. The identification process can be observed from the change in colour and weight of the restorative material. GIC and RMGIC are some of the most commonly used restorative material because they have good aesthetics properties, biocompatible, economical, and can release fluoride.  Purpose: To determine the effect of high temperature heating on colour and weight changes in GIC and RMGIC as a support for forensic identification. Method: A total of 30 GIC and RMGIC samples used in this study were made in the form of cylinder with a size 3x2 mm. Each material was heated at four temperature groups of 30°C-200°C, 30°C-400°C, 30°C-800°C dan 30°C-1100°C using a furnace. The study was continued with the examination of colour using the Vitapan Classical Shade Guide and weight changes using a digital scale. Results: GIC and RMGIC experienced changes in colour and weight changes due to hight temperatures of 30°C-200°C, 30°C-400°C, 30°C-800°C dan 30°C-1100°C. High temperature heating shows the difference of each material. This is indicated by the p value <0,001 in the Two Way Anova Test and Post Hoc LSD which means that there is a significant difference in weight difference between GIC and RMGIC at each temperature interval. Conclusion: High temperature heating affects the colour and weight changes of GIC and RMGIC.  Keywords: Forensic identification, GIC, High temperature heating, RMGIC
PENGARUH JUS BUAH BEET TERHADAP MOTILITAS SPERMATOZOA TIKUS WISTAR JANTAN YANG DIPAPAR ASAP ROKOK Galang Skontantinova; Tun Paksi Sareharto; Donna Hermawati; Tuntas Dhanardhono
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 9, No 1 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro )
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (401.825 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v9i1.26560

Abstract

Latar belakang : Rokok mempengaruhi tingkat fertilitas seorang pria dengan menurunkan motilitas spermatozoa karena radikal bebas yang dikandungnya. Radikal bebas dapat ditangkal dengan antioksidan. Buah beet (Beta vulgaris) memiliki kapasitas antioksidan yang bahkan lebih tinggi. Efek buah beet terhadap motilitas spermatozoa belum ada yang meneliti. Metode penelitian : Penelitian ini merupakan uji eksperimental laboratorik dengan rancangan post test only control group design yang menggunakan tikus wistar jantan sebagai objek percobaan. Uji statistik menggunakan uji Kruskal-Wallis dan uji post hoc Mann-Whitney. Hasil : Pada penelitian ini menggunakan 30 ekor tikus wistar jantan yang dibagi menjadi 4 kelompok dan 1 kelompok kontrol dengan menggunakan uji Kruskal-Wallis didapatkan perbedaan signifikan pada ≥2 kelompok perlakuan dalam kelompok motilitas spermatozoa dengan pergerakan aktif (p<0,001) dan tanpa pergerakan (p=0,001), namun tidak ada perbedaan signifikan antar kelompok perlakuan dalam kelompok motilitas spermatozoa dengan pergerakan lemah (p=0,316). Uji post hoc Mann-Whitney pada kelompok motilitas dengan pergerakan aktif menunjukkan perbedaan signifikan antara kelompok perlakuan asap rokok saja dengan perlakuan asap rokok yang diberi jus buah bit 4 mL/kgBB (p=0,007), 8 mL/kgBB (p=0,006), dan 16 mL/kgBB (p=0,007). Uji post hoc Mann-Whitney pada kelompok motilitas tanpa pergerakan menunjukkan perbedaan signifikan antara kelompok perlakuan asap rokok saja dengan perlakuan asap rokok yang diberi jus buah bit 4 mL/kgBB (p=0,025) dan 16 mL/kgBB (p=0,009). Namun tidak signifikan antara kelompok perlakuan asap rokok saja dengan perlakuan asap rokok yang diberi jus buah bit 8 mL/kgBB (p=0,074) Kesimpulan : Jus buah beet dapat mempengaruhi motilitas spermatozoa yang dipapar asap rokok dan memiliki pengaruh terhadap perbaikan motilitas spermatozoa yang dipapar asap rokok.Kata kunci : Motilitas spermatozoa, Buah beet, Asap rokok, Radikal bebas
PENGARUH PEMBERIAN KALSIUM TERHADAP KADAR HEMOGLOBIN DAN HEMATOKRIT MENCIT BALB/C YANG DIINDUKSI TIMBAL Stevani Dwi Oktavia; Saebani Saebani; Tuntas Dhanardhono
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 8, No 1 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (337.95 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v8i1.23393

Abstract

Latar Belakang: Timbal merupakan substansi berbahaya yang mudah kita temui di lingkungan. Akumulasi timbal dalam tubuh dapat menyebabkan efek toksik pada sistem hematopoiesis dan mengakibatkan anemia. Pada saluran pencernaan, kalsium memiliki mekanisme absorbsi yang serupa dengan timbal sehingga dapat menghambat absorbsi timbal ke dalam darah. Tujuan: Mengetahui bahwa pemberian kalsium berpengaruh positif terhadap kadar hemoglobin dan hematokrit mencit Balb/c yang diinduksi timbal. Metode: Penelitian eksperimental dengan rancangan post-test only control group design. Delapan belas ekor mencit Balb/c jantan dengan berat badan berkisar 20-30 gram dibagi menjadi 3 kelompok secara acak. Kelompok K diberi aquades, kelompok P1 diberi larutan timbal asetat 10 mg/kgBB peroral, dan kelompok P2 diberi larutan timbal asetat 10 mg/kgBB serta kalsium karbonat 62,5 mg/kgBB peroral. Perlakuan berlangsung selama 30 hari dan dilanjutkan dengan pemeriksaan kadar hemoglobin dan hematokrit. Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara statistik menggunakan uji One-Way ANOVA yang dilanjutkan dengan uji post hoc Bonferroni. Hasil: Uji One-Way ANOVA menunjukkan perbedaan yang bermakna (p<0,05) pada kadar hemoglobin dan hematokrit antarkelompok. Melalui uji post hoc didapatkan kelompok P1 memiliki kadar hemoglobin dan hematokrit yang secara signifikan lebih rendah daripada kelompok K, sedangkan pada kelompok P2 kadar hemoglobin dan hematokrit secara signifikan lebih tinggi jika dibandingkan dengan kelompok P1. Kesimpulan: Pemberian kalsium berpengaruh positif terhadap kadar hemoglobin dan hematokrit mencit Balb/c yang diinduksi timbal.Kata kunci: Timbal, kalsium, hemoglobin, hematokrit, mencit Balb/c.
PERBANDINGAN PEMBERIAN BRODIFAKUM DOSIS LD50 DAN LD100 TERHADAP RESIDU BRODIFAKUM PADA HEPAR TIKUS WISTAR Nugraha Adiyasa; Tuntas Dhanardhono; Sigid Kirana Lintang Bhima
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (275.164 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v5i4.15597

Abstract

Latar Belakang : Brodifakum adalah senyawa yang umumnya digunakan sebagai racun tikus. Namun, sering disalah gunakan pada kasus kriminal. Brodifakum akan di metabolisme tubuh melalui organ ekskresi diantaranya hepar. Paparan brodifakum dalam dosis yang berbeda akan menghasilkan kadar residu yang berbeda pula.Tujuan: Mengetahui perbandingan pemberian brodifakum dosis LD50 dan LD100 terhadap jumlah residu brodifakum pada hepar tikus wistar.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan menggunakan pendekatan post test only control group design. 27 sampel tikus wistar diberikan perlakuan pemberian brodifakum secara per oral. Residu brodifakum dideteksi menggunakan High Performance Liquid Chromatography. Dilakukan analisa deskriptif, uji non parametrik Mann-Whitney terhadap data. Hasil analisis dinyatakan bermakna bila nilai p<0,05.Hasil: Konsentrasi brodifakum pada hepar hewan coba meningkat berdasarkan jumlah brodifakum yang dimakan. Tikus mati pada hari ke-3 sebanyak 4, pada hari ke-5 sebanyak 7 dan pada hari terminasi sebanyak 16 tikus diterminasi. Kadar residu terendah didapatkan pada angka 0,00002 mg/kg dan tertinggi pada angka 0,00100 mg/kg. Uji Mann-Whitney didapatkan hasil perbandingan residu brodifakum pada hepar tikus pada dosis kontrol dan LD50 (p=0,001) dan pada kontrol dan LD100 (p=0,000). Antara jumlah residu brodifakum pada hepar tikus pada dosis LD50 dan LD100 (p=0,539).Simpulan: Tidak ada perbedaan bermakna antara jumlah residu brodifakum pada hepar tikus pada dosis LD50 dan LD100 (p=0,539).
PERBANDINGAN RERATA PENGETAHUAN GURU DAN MURID SEKOLAH MENENGAH ATAS DAN KEJURUAN TENTANG KEKERASAN ANAK DI SEKOLAH SEBELUM DAN SETELAH SEMINAR PEMBERDAYAAN USAHA KESEHATAN SEKOLAH Nur Aini; Sigit Kirana Lintang Bhima; Tuntas Dhanardhono
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (343.626 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v5i4.15598

Abstract

Latar belakang : Kekerasan terhadap anak adalah semua bentuk tindakan atau pelakuan menyakitkan secara fisik ataupun emosional. Upaya melakukan pencegahan daan penanganan kasus kekerasan terhadap anak, sudah seharusnya menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah dan masyarakat dalam berbagai bentuk lembaga atau organisasi sosial seperti sekolah. Selain program pencegahan, sekolah juga harus melaksanakan program penanganan kekerasan. Untuk berjalannya program-program tersebut, maka perlu kebijakan sekolah yang bebas dari segala bentuk kekerasan yaitu dengan cara mengaktifkan Usaha Kesehatan Sekolah yang disusun dan disosialisasikan bersama anak didik.Tujuan : Mengetahui pengetahuan guru dan murid Sekolah Menenegah Atas dan kejuruan tentang kekerasan anak di sekolah sebelum dan setelah seminar pemberdayaan Usaha Kesehatan Sekolah.Metode : Penelitian ini menggunakan rancangan quasi eksperimental one group pretest post test design. Untuk mengetahui normalitas menggunakan dengan uji Saphiro-Wilk, kemudian untuk uji hipotesisnya menggunakan uji Wilcoxon.Hasil : Rata-rata nilai pretest responden tentang kekerasan sebesar 78.00 dan rata-rata nilai post test responden tentang kekerasan 87.11. Untuk pengetahuan tetang Usaha Kesehatan Sekolah, rata-rata nilai pretest responden sebesar 74.66, naik menjadi 86.44. Selanjutnya di lakukan uji beda berpasangan Wilcoxon antara pre dan post didapatkan nilai p = 0,000, karena p < 0.05 maka dapat disimpulkan terdapat perbedaan yang bermakna.Kesimpulan : ada perbedaan bermakna antara pengetahuan guru dan murid Sekolah Menengah Atas dan Kejuruan di kota Semarang sebelum dan sesudah seminar tentang program pemberdayaan program ke sekolah.