Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

Pola Resistensi Bakteri Staphylococus Aureus, Escherichia Coli, Pseudomonas Aeruginosa Terhadap Berbagai Antibiotik Hilda, Hilda
Husada Mahakam Vol 4 No 1 (2015): November 2015
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Kalimantan Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.207 KB)

Abstract

Antibiotik merupakan pengobatan untuk penyakit infeksi. Berbagai studi menunjukkan sekitar 40-62% antibiotik digunakan secara tidak tepat, hal ini menimbulkan problem resistensi dengan segala akibat yang sangat merugikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola resistensi bakteri S.aureus, E.coli dan P. aeruginosa terhadap berbagai antibiotik. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif terhadap data sekunder dari pencatatan hasil biakan berbagai spesimen yang diperiksa di Laboratorium Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur. Sampel diambil secara total sampling terhadap   78 isolat S.aureus  terdiri dari 43  isolat E.coli dan 20 isolat P.aeruginosa yang diperoleh dari berbagai specimen. Hasil penelitian didapatkan   resistensi yang tinggi pada  S.aureus, E.coli dan P.aeruginosa terhadap berbagai antibiotika   antibiotik secara sembarangan
PENGARUH BUDAYA ORGANISASI TERHADAP KINERJA PERAWAT PELAKSANA DI RSUD AW SJAHRANIE Hilda, Hilda; Arsyawina, Arsyawina
Husada Mahakam Vol 4 No 6 (2018): Mei 2018
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Kalimantan Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (458.479 KB)

Abstract

Kinerja perawat merupakan ukuran keberhasilan dalam mencapai tujuan pelayanan keperawatan dan cerminan mutu pelayanan yang diberikan. Sebagai ujung tombak pelayanan keperawatan di rumah sakit, kinerja perawat merupakan nilai bersama dalam kerangka sistem budaya mutu. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis hubungan budaya organisasi dengan kinerja perawat pelaksana di RSUD AW Sjahranie Samarinda. Penelitian ini adalah analitik observasional dengan desain cross sectional study. Perawat pelaksana yang berjumlah 110 orang dijadikan sebagai sampel dalam penelitian ini. Sampel  di setiap ruangan ditentukan secara proporsional dan  diambil secara simple random sampling. Budaya organisasi dan 7 dimensi pendukungnya merupakan variabel bebas sedangkan variabel terikat adalah kinerja perawat. Pengumpulan data menggunakan kuesioner terstruktur dan dianalisis menggunakan uji chi square dan regresi logistik berganda. Hasil penelitian menunjukkan budaya organisasi berpengaruh secara bermakna dengan kategori kuat terhadap optimalisasi kinerja perawat pelaksana. Dimensi budaya organisasi  yang  paling berpengaruh terhadap kinerja perawat pelaksana adalah perhatian hal hal yang detail setiap melakukan pekerjaan dan orientasi terhadap manusia. Manajemen rumah sakit diharapkan dapat mensosialisasikan pendekatan unsur budaya organisasi dalam setiap penerapan kegiatan keperawatan di lingkungan kerjanya.
Hubungan Lama Berkerja Dan Pelatihan Mikroskopis Tuberkulosis (Tb) Dengan Penerapan Pemantapan Mutu Internal di Puskesmas Kota Samarinda Widiastuti, Hesti Prawita; Hilda, Hilda
Husada Mahakam Vol 1 No I (2017): Proceeding Book "Mensinergikan GERMAS dengan Penatalaksanaan PENYAKIT TIDAK MENU
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Kalimantan Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (209.56 KB)

Abstract

Tuberkulosis masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Masalah utama dalam penanggulangan programtuberkulosis adalah pengelolaan kualitas laboratorium yang belum optimal, sehingga dapat mempengaruhi hasildari pemeriksaan sputum. Pemantapan Mutu Internal (PMI) merupakan salah satu alat penting untuk menjaminkualitas hasil pemeriksaan mikroskopik. Tingkat kesalahan petugas dalam pembuatan slide BTA di PuskesmasKota Samarinda tahun 2015 adalah > 5%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan karakteristikdengan penerapan PMI di Puskesmas kota Samarinda pada tahun 2017. Penelitian ini merupakan penelitiananalitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh petugas laboratoriumPuskesmas di Samarinda sebanyak 32 orang. Data diperoleh dengan menggunakan kuesioner dan dianalisisdengan chi quadrat (X2). Hasil penelitian menunjukkan bahwa petugas laboratorium di puskesmas 93,6%berpendidikan D3 Analis kesehatan, yang pernah mengikuti pelatihan mikroskopis TB (53,1%) dan 81,3%petugas laboratorium bekerja kurang dari 10 tahun. Tidak ada hubungan lama kerja (p=1,00), pendidikan(p=0,254) dan pelatihan (p=0,503) dengan penerapan pemantapan mutu internal di Puskesmas. Prosespembuatan sediaan sputum TB di laboratorium puskesmas belum mengikuti prosedur sesuai dengan mutuinternal. Disarankan agar penerapan mutu internal laboratorium di Puskesmas dilaksanakan dan dievaluasisecara terus menerus.
Analisis Hasil Cross Check Pemeriksaan Mikroskopis Tuberkulosis di Kota Samarinda Tahun 2008-2009 Hilda, Hilda
Husada Mahakam Vol 3 No 1 (2011): Mei 2011
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Kalimantan Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (933.778 KB)

Abstract

Salah satu komponen strategi DOTS adalah mengutamakan diagnosis melalui pemeriksaan dahak (sputum) sebagai komponen kunci untuk mendeteksi dan menatalaksanai kasus-kasus infeksi TB (Lumb, 2004). Peningkatan mutu layanan laboratorium merupakan syarat utama dalam meningkatkan penemuan kasus TB di lapangan. Pengawasan terhadap kualitas laboratorium melalui pemeriksaan uji silang (cross check). Penelitian ini bersifat Deskriftif, bertujuan menggambarkan analisis data hasil cross check pemeriksaan mikroskop tuberkulosis di kota Samarinda tahun 2009. Populasi dan sampel dalam penelitian ini adalah semua slide hasil cross check yang berasal dari puskesmas yang ada pada wasor dinas kesehatan kota Samarinda. Penelitian ini dilakukan di Dinas Kesehatan Kota Samarinda pada tanggal 22 Juni 2009 sampai 4 juli 2009. Variabel dalam penelitian ini meliputi karakteristik pemeriksaan mikroskop sputum TB yaitu kualitas hapusan, kualitas pewarnaan, ketebalan, kerataan dan ukuran. Hasil error rate slide mikroskop sputum TB di kota Samarinda masih diatas 5% yaitu (7,32%) dan bersifat fluktuatif. Tingginya error rate ini disebabkan oleh tingginya preparat yang positif palsu (5,51%) dan negatif palsu (1,81%). Hasil ini disebabkan oleh kualitas hapusan (ketebalan, kerataan dan ukuran) dan pewarnaan yang kurang baik. Umumnya rendahnya kualitas slide disebabkan slide kotor oleh karena terdaptnya endapan reagen ZN. Petugas laboratorium harus lebih memperhatikan protap pembuatan sediaan maupun pewarnaan. Sebaiknya reagen ZN disaring untuk menghilangkan endapan. Dinas Kesehatan Kota Samarinda diharapkan dapat melakukan program On The Job Training bagi para petugas laboratorium
Implementation of Behavioral Theory in Learning of Competency-Based Nursing Practices Rasmun Rasmun; Joko Sapto Pramono; Hilda Hilda; Grace Carol Sipasulta
Health Notions Vol 2, No 8 (2018): August
Publisher : Humanistic Network for Science and Technology (HNST)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (160.06 KB) | DOI: 10.33846/hn.v2i8.269

Abstract

Nursing vocational education is an education that emphasizes the competence or performance of certain skills, which is supported by good attitudes and behavior and extensive knowledge of the area of expertise. So that later they can carry out the task of providing health services in accordance with community expectations. To get high skills during clinical learning it is necessary to apply a learning theory model that allows students to achieve these skills and skills. The implementation of the behavioral theory according to the author is a model theory that allows it to achieve the objectives of learning clinical practice based on competence. The emphasis on behavioral theory focuses on changing the mindset and behavior of a person, in this case, students will imitate or model the model. Learners learn by imitating the correct practices and then doing the same actions and doing so many repetitions. Students who are required to carry out a practicum program for 3 weeks with a duration of 18 days by practicing as many as 75 times the same actions, for example taking action in the form of a physical examination with all the right techniques and methods in different patients, can be ascertained students become teachers/proficient in need, and good attitude. Keywords: Nursing student, Behavioral theory in learning, Competency-based nursing practices, Imitation, Repetition
Strengthening Patients Safety Culture through the Implementation of SBAR Communication Method Hilda Hilda; Rizky Setiadi; Emmy Putri Wahyuni; Supriadi Supriadi; Rina Loriana; Rasmun Rasmun; Evy Nurachmah
Health Notions Vol 2, No 8 (2018): August
Publisher : Humanistic Network for Science and Technology (HNST)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (216.45 KB) | DOI: 10.33846/hn.v2i8.262

Abstract

The communication method of Situation, Background, Assessment, and Recommendation (SBAR) are effective communication techniques that aim to improve patient safety. This study aims to analyze the application of SBAR communication to nurses to improve the safety culture of patients who are part of the service at A.W. Sjahranie Hospital, Samarinda, Indonesia. This study used a cross-sectional design with a population of 452 people spread over 14 service units. The sample size was 77 people. Variables in this study were SBAR communication methods and patient safety culture. The instrument used to assess the application was the SBAR communication method in the form of an observation sheet for the procedure for reporting patients' conditions during handover while collecting data on variable patient safety culture used a questionnaire from the agency for Healthcare Research Quality (AHRQ). Data of SBAR communication technique variables were collected using the observation method, while the patient safety culture variable was collected by distributing patient safety culture questionnaires. Data were analyzed using a Chi-Square test. The results of this study showed that nurses who used the SBAR communication method had a better patient safety culture (p = 0.000). The conclusion is the SBAR communication method to nurses can use to improve patient safety culture in the hospital. Keywords: SBAR communication method, Patient safety culture
The Strategy of Developing Patients’ Safety Culture in Hospital Hilda Hilda; Arsyawina Arsyawina; Edi Sukamto; Rahmat Bakhtiar; Supriadi Supriadi; Rivan Firdaus; Emmy Putri W.
Health Notions Vol 5, No 12 (2021): December
Publisher : Humanistic Network for Science and Technology (HNST)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/hn51203

Abstract

The important factor affecting patients’ treatment and safety service quality is patients’ safety culture. This research aimed to identify the most effective strategy to develop the patients’ safety culture to prevent nursing error in the highest referral hospital in East Kalimantan Province. This research is a mix method. The population in this study were all nurses in the inpatient room totaling 342 people and a sample of 119 people obtained by proportional random sampling. In quantitative research, data were obtained using questionnaires and then analyzed using multiple linear regression. While qualitative data were obtained through in-depth interviews with 3 informants, namely the implementing nurse, the head of the inpatient room and the chairman of the patient safety committee. The results of the analysis show that there are two environmental factors that influence patient safety culture, namely lifesaving control (p value = 0.002) and patient safety (p value = 0.041). Through in-depth interviews, it is known that individual, organizational, and environmental factors are effective in developing a patient safety culture.Keywords: strategy; development; patients safety culture
EVALUASI PELAKSANAAN TUJUH LANGKAH MENUJU KESELAMATAN PASIEN DI PUSKESMAS LOA KULU KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA Noer Octaviani; Hilda Hilda; Lukman Nulhakim
Jurnal Kedokteran Mulawarman Vol 7, No 2 (2020): Jurnal Kedokteran Mulawarman
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/j.ked.mulawarman.v7i2.4255

Abstract

Keselamatan pasien di Puskesmas merupakan salah satu prioritas utama dalam memberikan pelayanan kepada pasien salah satunya melalui penerapan tujuh langkah menuju keselamatan pasien. Tujuan penelitian untuk mengevaluasi pelaksanaan tujuh langkah menuju keselamatan pasien. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dilaksanakan di Puskesmas Loa Kulu Kabupaten Kutai Kartanegara pada bulan Januari-Maret 2020. Informan yang terlibat sebanyak lima orang terdiri dari dua orang unsur manajemen yaitu pimpinan Puskesmas dan ketua tim keselamatan pasien dan tiga orang representasi dari koordinator unit pelayanan yaitu poli umum, poli Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dan farmasi. Hasil penelitian menggambarkan langkah pertama, budaya keselamatan; dan  kedua, manajemen kepemimpinan telah dilaksanakan secara optimal; sedangkan ketiga, pengelolaan risiko;  keempat, sistem pelaporan;  kelima, berkomunikasi dengan pasien dan masyarakat;  keenam, belajar dan berbagi tentang pembelajaran keselamatan; dan  ketujuh, implementasi solusi dalam mencegah cedera belum dilaksanakan secara optimal. Puskesmas dapat meningkatkan staf yang memahami keselamatan pasien dan melakukan kaji banding dengan Puskesmas yang telah menerapkan program keselamatan pasien dengan baik.
Ketanggapan Pemerintah Daerah terhadap Sasaran Tata Kelola Roadmap Jaminan Kesehatan Nasional Tahun 2014 – 2019 di Provinsi Kalimantan Timur Rahmat Bakhtiar; Hilda Hilda; Krispinus Duma
Jurnal Kebijakan Kesehatan Indonesia Vol 10, No 3 (2021)
Publisher : Center for Health Policy and Management

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkki.66042

Abstract

Peta Jalan Jaminan Kesehatan Nasional 2014-2019 merupakan wujud komitmen Pemerintah untuk mengintegrasikan perencanaan program pembangunan nasional untuk mengimplementasikan program jaminan kesehatan dalam mencapai kepesertaan menyeluruh program jaminan kesehatan. Sebanyak 24 stakeholder potensial diwawancarai secara mendalam dan  dianalisa secara deskriptif dalam aspek kebijakan dan ketanggapan sesuai dengan peran masing masing.  Hasil evaluasi  peta jalan di provinsi Kalimantan Timur menunjukkan sasaran tata kelola yaitu sasaran 1, 5 dan 8  belum sepenuhnya tercapai. Jumlah kepesertaan belum mencapai target UHC (93,64%). Keterbukaan akses terhadap data diawal periode peta jalan mengakibatkan Pemerintah Daerah dan BPJS kesulitan mencapai target universal health coverage. Ketanggapan Pemerintah Daerah terlihat meningkatnya intensifitas koordinasi stakeholder dengan  BPJS serta adanya aturan sinkronisasi kegiatan yang dibuat secara bersama.  Memperbaiki tata kelola dan dukungan stakeholder program JKN-KIS diperlukan dalam upaya memeratakan pelayanan kesehatan dan mencapai target universal health coverage.
HUBUNGAN KUALITAS PELAYANAN TERHADAP KEPUASAAN PASIEN DI PUSKESMAS TANAH GROGOT TAHUN 2020 Setya Nor Rahmi; Hilda Hilda; Nilam Noorma
Jurnal Kedokteran Mulawarman Vol 9, No 1 (2022): Jurnal Kedokteran Mulawarman
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jkm.v9i1.7602

Abstract

Kualitas pelayanan kesehatan dasar Puskesmas menjadi prioritas dalam isu transformasi pelayanan kesehatan dan mendukung ketercapaian Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan di Kabupaten/Kota. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kualitas pelayanan terhadap kepuasan pasien di Puskesmas Tanah Grogot Tahun 2020. Penelitian ini adalah analitik observasional dengan pendekatan cross- sectional. Sebanyak 98 pasien yang berobat lebih dari sekali dijadikan sebagai sampel. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive. Variabel penelitian adalah kualitas pelayanan dan kepuasan pasien yang diukur berdasarkan skala Likert. Sebanyak 57,1% pasien menyatakan puas terhadap pelayanan yang diberikan dan 82,4% pasien menyatakan kualitas pelayanan baik.Berdasarkan hasil uji statistik chi square tidak terdapat hubungan kualitas pelayanan terhadap kepuasaan pasien di Puskesmas Tanah Grogot dengan nilai p (sig) sebesar 0,130. Kepuasan pasien bersifat dinamis, oleh karenanya pemantauan tingkat kepuasan pasien harus selalu dilakukan secara berkala dan informasi keluhan yang disampaikan oleh pasien harus ditindak lanjuti dengan baik.