Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

Analisis Normatif terhadap Hak Waris Perempuan dalam Perspektif Hukum Islam, Hukum Adat dan Hukum Perdata di Indonesia Lollyta Julius; M. Sudirman; Benny Djaja
Desentralisasi : Jurnal Hukum, Kebijakan Publik, dan Pemerintahan Vol. 2 No. 3 (2025): Agustus : Desentralisasi : Jurnal Hukum, Kebijakan Publik, dan Pemerintahan
Publisher : Asosiasi Peneliti dan Pengajar Ilmu Hukum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62383/desentralisasi.v2i3.730

Abstract

This study aims to analyze the normative provisions regarding women's inheritance rights in three legal systems applicable in Indonesia, namely Islamic law, customary law, and civil law. These three systems have different legal bases, values, and mechanisms in regulating inheritance rights, especially regarding the position and rights of women as heirs. Islamic law determines women's inheritance shares based on the provisions of the Qur'an and Al-Hadith or As Sunnah with the principle of proportionality according to socio-economic responsibilities in the family. On the other hand, customary law is highly dependent on the local kinship system, whether patrilineal, matrilineal, or bilateral, which causes great variation in granting inheritance rights to women. Meanwhile, civil law originating from the Civil Code emphasizes equality between men and women in inheritance rights, without gender differentiation. This study uses a normative legal approach with a qualitative analysis method on primary and secondary legal materials. The results of the study show that although normatively civil law and several customary law systems provide space for equality, in social practice and cultural interpretation of women in obtaining inheritance rights, harmonization between legal systems is still needed, as well as increasing legal awareness in society for women. This study also emphasizes the importance of strengthening the role of the state and law enforcement officers in implementing inheritance rights for women.
Upaya Perlindungan Hukum terhadap Dampak Pembangunan Ibu Kota Nusantara terhadap Kepemilikan Tanah Masyarakat Lokal Wanda Putri Dzakiah; M.Sudirman; Benny Djaja
Mahkamah : Jurnal Riset Ilmu Hukum Vol. 2 No. 3 (2025): Juli : Mahkamah : Jurnal Riset Ilmu Hukum
Publisher : Asosiasi Peneliti dan Pengajar Ilmu Hukum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62383/mahkamah.v2i3.677

Abstract

The development of the Nusantara Capital City (IKN) in East Kalimantan presents significant legal challenges regarding local communities' land ownership. Although regulations such as Law Number 3 of 2022 on the National Capital, Law Number 2 of 2012 on Land Procurement for Public Interest Development, and Law Number 5 of 1960 on Basic Agrarian Principles provide legal protection mechanisms, the reality on the ground indicates various obstacles in implementing these laws. Therefore, this study aims to analyze the legal protection available for land ownership held by local communities in the development of IKN. Additionally, it seeks to identify challenges related to the implementation of the prevailing legal framework. An empirical juridical approach is employed to examine legislative provisions and field realities, including conflicts arising in the land acquisition process. The findings reveal that legal protection remains hindered by a lack of transparency, weak access to justice for local communities, and uncertainty in the compensation mechanism. Consequently, improving transparency, strengthening regulations, and ensuring active community involvement in every stage of land procurement are crucial to prevent the development of IKN from compromising the rights of local communities.
SISTEM PUBLIKASI PERTANAHAN YANG MENJAMIN KEPASTIAN HUKUM SERTIFIKAT HAK ATAS TANAH oktaviani, sherly; Benny Djaja
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 7 No. 2 (2023): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v7i2.9949.2023

Abstract

Penyelenggaraaan pendaftaran tanah diatur dalam Pasal 19 Undang-Undang Pokok Agraria dan sebagai pelaksanaan dari pasal tersebut, diterbitkanlah Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran tanah yang bersifat recht kadaster yaitu menjamin kepastian hukum. Namun, dalam praktik masih ditemukan banyak permasalahan terkait dengan pendaftaran tanah, salah satunya dari segi kepastian hukum hak atas tanah dan perlindungan hukum terkait dengan sistem publikasi. Tujuan dari penelitian jurnal ini adalah untuk mengetahui penerapan pasal 32 PP Nomor 24 Tahun 1997 terkait dengan kekuatan sertifikat hak atas tanah dalam sistem publikasi negatif mengandung unsur positif. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian normatif yang menggunakan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan kasus. Dalam sistem publikasi yang dianut oleh Indonesia, sertifikat merupakan surat tanda bukti hak yang berlaku sebagai alat pembuktian yang kuat mengenai data fisik dan data yuridis yang sesuai dengan surat ukur dan buku tanah. Dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa adanya celah yang dapat menimbulkan ketidakpastian hukum, yaitu sertifikat sebagai tanda bukti kepemilikan yang kuat bukan sebagai tanda bukti yang mutlak. Bila ada pihak lain yang merasa dirugikan dengan diterbitkannya sertifikat dapat mengajukan keberatan dengan syarat tidak melebihi 5 tahun sejak sertifikat diterbitkan, namun masih banyak terjadi permasalahan timbulnya gugatan untuk sertifikat yang sudah lebih dari 5 tahun diterbitkan sehingga menimbulkan ketidakpastian hukum bagi pemegang hak. Penerapan sistem publikasi di Indonesia masih memerlukan berbagai perbaikan untuk kedepannya, karena pada saat ini lembaga rechtsverwerking pada dasarnya dapat memberikan jaminan kepastian hukum namun dalam pelaksanaannya masih menimbulkan kerugian kepada pemegang hak yang sebenarnya.
Perlindungan Hukum Bagi Pihak Yang Dirugikan Dalam Perjanjian Jual Beli Online Menurut Hukum Perdata Indonesia Matara, Opa Jermias; Benny Djaja; M. Sudirman
Jurnal Kajian Hukum dan Pendidikan Kewarganegaraan Vol. 2 No. 1 (2025): Oktober - Desember
Publisher : GLOBAL SCIENTS PUBLISHER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study discusses theiforms ofilegal protectionifor injured parties inionline sales agreements accordingito Indonesian civil law. The development ofiinformation technologyihas drivenisignificantichangesiin theitrading system, from conventional transactions to electronic transactions. However, this progress has also given rise to various legal issues, such as default, fraud, and a lack of transparency in the implementationiofiagreements. Theipurpose ofithis studyiisito determine how civil law provides protection for injured parties and how the legal resolution mechanisms are. Theiresearch methodiused isinormative legaliresearch withia statutoryiand conceptualiapproach, through a literature review of various primary, secondary, anditertiary legalisources. Theiresults showithat legaliprotectioniin online sales can be achieved throughithe applicationiof theiprinciple ofigoodifaith, the mechanism of default, and unlawful acts as regulated in theiCiviliCode. In addition, the recognition of the validity of electronic agreements iniLaw Numberi11 ofi2008 concerningiElectronic Informationiand Transactionsistrengthensithe legal position of parties in digital transactions. Disputeiresolution canibeipursued throughilitigation orinon-litigationichannels such as mediation and BPSK. This research confirms that the synergy between regulations, public legal awareness, and business actors' responsibilities is crucial in creating effective legal protection for parties harmed in online sales agreements.
Aspek Pertanggungjawaban Pidana Aparatur Sipil Negara Dalam Pemalsuan Tanda Tangan Korupsi Venti Arista Lakuteru; Benny Djaja; M. Sudirman
Jurnal Kajian Hukum dan Pendidikan Kewarganegaraan Vol. 2 No. 1 (2025): Oktober - Desember
Publisher : GLOBAL SCIENTS PUBLISHER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The forgery of signatures carried out by Alfonsius Siamloy as Regional Secretary of Southwest Maluku District (Sekretaris Daerah MBD) was related to fictitious official travel orders (SPPD) in the 2017–2018 fiscal year. This act resulted in state losses of IDR 1,500,000,000 (one billion five hundred million rupiah) based on the calculation of the Maluku Province Representative of the Financial and Development Supervisory Agency (BPKP). His actions were considered as making false or fictitious signatures. A series of signature forgeries clearly conflicted with Civil Servant (PNS) discipline. The Indonesian government has regulated this through Government Regulation Number 53 of 2010 concerning Civil Servant Discipline. Furthermore, Article 250 paragraph 2 of Government Regulation Number 17 of 2020 stipulates sanctions for civil servants committing crimes related to their positions. Forgery of signatures is also comprehensively regulated in Article 263 of the Indonesian Criminal Code (KUHP). Thus, State Civil Apparatus (ASN) who commit violations must be held criminally accountable Abstract ditulis dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia (kecuali artikel yang ditulis dalam bahasa Inggris) yang berisikan isu-isu pokok, tujuan penelitian, metode/pendekatan dan hasil penelitian. Abstrak ditulis dalam dua bahasa yaitu Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia, maksimal 200 kata dalam bahasa Inggrisdan150 kata dalam bahasa Indonesia. Abstrak ditulis dengan Times New Roman9, spasi 1, bercetak lurus dan dengan format satu kolom. (Times New Roman 9, spasi tunggal, dan cetak miring), maksimal 1 halaman.
Tanggung Jawab Notaris dalam Perlindungan Data Pribadi Klien Berdasarkan UU No. 27 Tahun 2022 Tentang Perlindungan Data Pribadi Alifia Jasmine; Benny Djaja; Maman Sudirman
Jurnal Ilmu Hukum, Humaniora dan Politik Vol. 5 No. 1 (2024): (JIHHP) Jurnal Ilmu Hukum, Humaniora dan Politik
Publisher : Dinasti Review Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/jihhp.v5i1.3204

Abstract

Dalam menjalankan kewenangannya sebagai pejabat pembuat akta autentik, seorang Notaris diwajibkan untuk menjalankan kewenangannya berdasarkan UUJN dan Kode Etik Notaris. Dalam praktik sehari-hari, Notaris sangat lekat dengan penggunaan data pribadi kliennya yang mana hal ini termuat dalam akta autentik maupun dokumen-dokumen lain yang dibuatnya. Hal tersebut tentunya membawa tanggung jawab tersendiri bagi Notaris untuk dapat menjaga kerahasiaan atas informasi dalam akta maupun dokumen yang ada padanya. Di Tengah masifnya penggunaan data pribadi, pemerintah pun mengundangkan UU PDP sebagai regulasi yang memberikan kepastian hukum bagi masyarakat maupun pihak-pihak terkait dalam menggunakan data pribadi. Dengan menggunakan metode yuridis normatif, penelitian ini akan membahas mengenai dampak UU PDP terhadap kewajiban Notaris serta tanggung jawab Notaris apabila terdapat kebocoran data klien dengan mengacu pada hukum nasional. Berdasarkan hasil analisis penulis, ditemukan bahwa diundangkannya UU PDP membawa dampak bagi Notaris yang mana dalam hal ini Notaris dikategorikan sebagai Pengendali Data Pribadi sehingga mengemban kewajiban serta tanggung jawab yang diamanatkan dalam UU PDP, selain menjalankan kewajiban yang diatur dalam UUJN. Selain itu, dengan mengacu pada prinsip tanggung jawab liability based on fault dan strict liability, maka Notaris bertanggung jawab apabila terjadi kebocoran data klien dalam Protokol Notaris.
Government Efforts to Protect Intellectual Property For Ki Masjong and Agus Cultural Heritage Aditya Salsabila Consoleo; M.Sudirman; Benny Djaja
Jurnal Kajian Hukum Dan Kebijakan Publik | E-ISSN : 3031-8882 Vol. 2 No. 1 (2024): Juli - Desember
Publisher : CV. ITTC INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62379/ck55hh30

Abstract

The city of Serang in the Banten area has many social relics including the Banten area, the residence of Ki Masjong and Agus Ju. The lack of attention from the local government is one of the reasons and sources of problems that need to be solved, and there are still many cultural heritage sites in Serang City that have not been protected and managed properly. The process of examining information is carried out in a clear way, subjective, descriptive analysis aims to describe the results of observations from issues regarding the protection of the government against intellectual property, Cultural Heritage to IPR in Islam and general law, namely the Old Banten Pilgrimage based on Law Number 11 of 2010 concerning Cultural Heritage to then describe the obstacles faced by the City Education and Culture Office Therefore, it is hoped that the results of this study can present a complete picture of the central object of this research. This is the result of research and discussion that resulted in the conclusion that there is a lack of legal protection carried out by the Serang city government against the Old Banten Pilgrimage Cultural Heritage.
Judges' Consideration On Decision Number 582/PDT.G/2019/PN.JKT.TIM Related Legitieme Portie From The Perspective Of The Civil Law Regarding The Division Of Inheritance Zhuo, Mariana; Benny Djaja
Jurnal Jurisprudence Vol. 13, No. 1, June 2023
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/jurisprudence.v13i1.1779

Abstract

ABSTRACT  Purpose: The research aims to determine which comes first and is the higher heir according to law or will on the legal basis of the District Court Judge's Decision Number: 582/PDT.G/2019/PN.JKT.TIM between JM, who sued FN, FTN, AR, and JK. In her case, as the fifth child of the heirs, plaintiff/JM demanded a fair and equitable distribution of inheritance for all the heirs, both sons and daughters, where it turned out that the inheritance was only for daughters in the will. For this reason, this study aims to analyze (1) the basis for Decision Number: 582/PDT.G/2019/PN.JKT.TIM and determine (2) which heir takes precedence based on a will or law. Methodology: The research method used was descriptive analysis, with a normative juridical approach, i.e., library research conducted on secondary data. Results: The study concluded that the consideration of the judge's decision rejected the lawsuit because the lawsuit contained formal defects, was unclear or obscure (obscuur libel), and was unacceptable (Niet Onvantkelijk Verklaard). The selection of heirs based on a will must take precedence by winning the contents and distribution in a will, which is not against the law. The legal consideration is because the will is the testator's last will, but it still conflicts with the absolute portion of the legal property of the testator. Application of this study: This study provides input to readers to better know and understand the rights of heirs in Indonesian laws and regulations. Novelty/Originality of this study: There is a need for outreach to the community, especially couples who are getting married and notaries or related parties, in the event of a purchase or transfer of movable or immovable property which can be inherited. Keywords: Legitime Fortie; Civil law; Inheritance   ABSTRAK Tujuan: Penelitian bertujuan untuk mengetahui ahli waris yang lebih dahulu dan lebih tinggi menurut hukum atau ahli waris menurut wasiat, dengan dasar hukum Putusan Hakim Pengadilan Negeri Nomor: 582/PDT.G/2019/PN.JKT.TIM antara JM, yang menggugat FN, FTN, AR, dan JK. Penggugat/JM, dalam perkaranya sebagai anak kelima ahli waris, menuntut adanya pembagian harta waris yang adil dan merata bagi semua anak ahli waris yang meninggal, baik putra maupun putri, yang ternyata dalam wasiat, harta peninggalan hanya untuk anak perempuan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis (1) dasar putusan Undang-Undang Nomor: 582/PDT.G/2019/PN.JKT.TIM dan mengetahui (2) manakah yang didahulukan antara ahli waris berdasarkan surat wasiat  atau ahli waris berdasarkan undang-undang. Metodologi: Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif-analisis, dengan pendekatan yuridis normatif, yaitu penelitian kepustakaan yang dilakukan terhadap data sekunder. Temuan: Penelitian ini menyimpulkan bahwa pertimbangan putusan hakim menolak gugatan karena gugatan mengandung cacat formil, tidak jelas atau kabur (obscuur libel), dan gugatan tidak dapat diterima (Niet Onvantkelijk Verklaard). Pemilihan ahli waris berdasarkan wasiatlah yang harus didahulukan dengan memenangkan isi dan pembagiannya dalam suatu wasiat yang tidak bertentangan dengan hukum. Pertimbangan hukumnya adalah karena wasiat merupakan wasiat terakhir dari ahli waris tetapi tetap bertentangan dengan pembagian mutlak dari ahli waris yang sah. Kegunaan: Studi ini memberikan masukan kepada pembaca untuk lebih mengetahui dan memahami hak-hak ahli waris dalam peraturan perundang-undangan di Indonesia. Kebaruan/Originalitas: Perlu adanya sosialisasi kepada masyarakat, khususnya pasangan yang akan menikah dan kepada notaris atau pihak terkait, dalam hal terjadi pembelian atau pemindahtanganan barang bergerak atau tidak bergerak yang dapat dijadikan warisan. Kata kunci: Legitime Fortie; Hukum Perdata; Pewarisan
PERTANGGUNGJAWABAN HUKUM PERDATA PEJABAT PEMBUAT AKTA TANAH (PPAT) DALAM PERALIHAN HAK ATAS TANAH (ANALISIS PUTUSAN NOMOR 86/PDT.G/2009/PN.DEPOK) Desy Agatha Sari; M. Sudirman; Benny Djaja
Journal of Social and Economics Research Vol 6 No 1 (2024): JSER, June 2024
Publisher : Ikatan Dosen Menulis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54783/jser.v6i1.389

Abstract

Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) menurut Pasal 1 angka 1 Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 1998 tentang Peraturan Jabatan Pejabat Pembuat Akta Tanah sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 1998 tentang Peraturan Jabatan Pejabat Pembuat Akta Tanah, adalah pejabat umum yang diberikan kewenangan untuk membuat akta-akta otentik mengenai perbuatan hukum tertentu mengenai hak atas tanah atau Hak Milik Atas Satuan Rumah Susun. Pada praktiknya, terdapat PPAT yang melakukan peralihan hak atas tanah kepada pembeli tanpa sepengetahuan penjual sedangkan belum terjadi pelunasan, sehingga menimbulkan kerugian bagi penjual. Penelitian ini adalah penelitian hukum normative yang menggunakan data sekunder yang dikumpulkan melalui studi kepustakaan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, pertimbangan Hakim didasarkan pada perbuatan PPAT yang bertentangan dengan asas tunai dalam pembuatan Akta Jual Beli (AJB), karena faktanya, PPAT tetap melakukan penomoran AJB tanpa sepengetahuan penjual (Penggugat) yang mana kemudian dijadikan dasar untuk peralihan hak dari atas nama Penggugat ke atas nama pembeli (Tergugat I) dalam bentuk sertifikat. Pertanggungjawaban hukum PPAT selain secara keperdataan dinyatakan melakukan perbuatan melawan hukum, secara administratif adalah potensi dijatuhi sanksi berupa teguran tertulis sampai pemberhentian dari jabatannya, dan secara pidana adalah potensi diancam dan dipidana karena melakukan pemalsuan akta otentik secara bersama-sama.
Peran Notaris Dalam Pelaksanaan Wasiat Wajibah Terhadap Ahli Waris Beda Agama Dalam Putusan Pengadilan Agama Curup Nomor 11 Tahun 2022 Julianti Putri Wajim; Benny Djaja; M. Sudirman
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 3 No 5 (2025): 2025
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v3i5.2275

Abstract

Permasalahan waris beda agama masih menjadi polemik dalam praktik hukum waris Islam di Indonesia. Kompilasi Hukum Islam (KHI) secara tegas mensyaratkan ahli waris beragama Islam, sehingga ahli waris non-Muslim dianggap terhalang menerima warisan. Namun, perkembangan yurisprudensi, termasuk Putusan Pengadilan Agama Curup Nomor 11/Pdt.P/2022/PA.Crp, menunjukkan adanya pengakuan terhadap pemberian Wasiat Wajibah bagi ahli waris yang berbeda agama. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran Notaris dalam pelaksanaan Wasiat Wajibah tersebut, mengingat Notaris merupakan pejabat umum yang berwenang membuat akta autentik dan menjamin kepastian hukum. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif dengan pendekatan kasus (case approach). Hasil kajian menunjukkan bahwa Notaris berperan penting dalam mengakomodasi pelaksanaan Wasiat Wajibah melalui pembuatan akta wasiat atau akta pembagian warisan yang mengikat para pihak. Keberadaan akta autentik dari Notaris tidak hanya memberikan perlindungan hukum bagi ahli waris beda agama, tetapi juga menjadi instrumen harmonisasi antara hukum Islam, putusan pengadilan, dan praktik kenotariatan. Dengan demikian, Notaris memiliki posisi strategis dalam menjembatani kebutuhan keadilan keluarga pewaris sekaligus kepastian hukum dalam sengketa waris beda agama.