Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Intizar

Kultur Asrama Berbasis Sekolah Sebagai Pusat Pembinaan Karakter (Studi Kasus di SMPIT Al-Furqon Palembang) Munir Munir
Intizar Vol 22 No 2 (2016): Intizar
Publisher : Pusat Penelitian dan Penerbitan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/intizar.v22i2.948

Abstract

Artikel ini merupakan hasil penelitian yang mendeskripsikan tentang kultur asrama di SMPIT Al-Furqan Palembang, memahami makna filosofis asrama bagi masyarakat belajar SMPIT Al-Furqan Palembang, serta memahami sistem nilai dalam kultur tersebut pada konteks pendidikan Islam kontemporer. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan, yakni dengan menjadikan SMPIT Al-Furqan Palembang sebagai objek penelitian. Sedangkan sumber primer dalam penelitian ini, yakni berasal dari hasil observasi dan didukung juga dengan hasil wawancara. Sedangkan yang menjadi informan dalam kajian ini adalah para siswa dan para tenaga pendidik, pembina dan kepala asrama, kepala sekolah, pengurus dapur, petugas keamanan dan ketertiban asrama, kantin dan toko di sekitar asrama, serta beberapa orang wali siswa. Artikel ini menyimpulkan bahwa karakter yang ingin ditanamkan kepada setiap siswa/ peserta didik di SMPIT Al-Furqan Palembang, yakni: religious, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, peduli lingkungan, peduli sosial, dll. Karakter ini akan dicapai dengan membuat tata tertib peraturan, panduan dan sangsi atas setiap pelanggaran.                              This article is the result of research that describes about the dormitory culture at Al-Furqan SMP IT Palembang, understanding the philosophical meaning of hostels for people to learn SMPIT Al-Furqan Palembang, as well as understanding the value system of the culture in the context of contemporary Islamic education. This research is a field study, by making SMP IT Al-Furqan Palembang as research objects. While the primary source in this study is derived from the observation and supported also by the results of the interview. While the informants in this study are students and educators, teachers and matron, principals, kitchen staffs, security guards and order cafeterias and shops around the dormitory, as well as several students’ parents. The article concludes that the character who wants to be imparted to each student / learner in SMP IT Al-Furqan Palembang, namely: religious, honest, tolerant, disciplined, hard work, creative, independent, democratic, environmental care, social care, and so on. These characters will be achieved by making the disciplinary regulations, guidelines and sanctions for any violations.
Pemikiran Pendidikan Pesantren K.H. Hasyim Asy’ari dan Pengembangan Pendidikan Islam di Indonesia Faisal Faisal; Munir Munir; Afriantoni Afriantoni; Mardiah Astuti
Intizar Vol 27 No 1 (2021): Intizar
Publisher : Pusat Penelitian dan Penerbitan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/intizar.v27i1.8730

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsep pendidikan pesantren tradisional K.H. Hasyim Asy’ari selama 48 tahun memimpin Pesantren Tebuireng. Penelitian ini merupakan penelitian kepustrakaan (library research) dengan pendekatan kualitatif. Adapun sumber data yang digunakan adalah buku-buku tentang biografi K.H. Hasyim Asy’ari dan website Pesantren Tebuireng. Kemudian data dianalisis melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ada beberapa pemikiran yang ditawarkan oleh K.H. Hasyim Asy’ari yang identik dengan pengelolaan pesantren tradisional terdapat pada enam konsep, pertama, tujuan pendidikan adalah ibadah mengharap rida Allah Swt. untuk kebahagaian di dunia dan akhirat, mendidik calon ulama yang menguasiai pengetahuan umum (ulama intelektual) dan sarjana dalam bidang pengetahuan umum yang juga menguasai pengetahuan Islam (intelektual ulama). Kedua, pendidik terkait etika pendidik, etika ketika mengajar, dan etika pendidik kepada peserta didik. Ketiga, peserta didik terkait etika peserta didik selama belajar, etika kepada guru, dan etika terhadap mata pelajaran. Keempat, kurikulum terkait pengetahuan agama yang bersumber dari kitab kuning dan pengetahuan umum. Kelima, metode pembelajaran yaitu metode wetonan dan sorogan, metode hafalan, muhawarat, dan metode mudhaharat. dan keenam, evaluasi terkait tes lisan, tertulis, dan pengamatan.