Ali Djunaedi
Department Of Marine Sciences, Faculty Of Fisheries And Marine Sciences, Diponegoro University, Semarang

Published : 43 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Amino Acid Absorption by Tiger Grouper Fish (Epinephelus fuscoguttatus) Larvae. (Absorbsi Asam Amino oleh Larva Ikan Kerapu Macan (Epinephelus fuscoguttatus)) Ambariyanto Ambariyanto; Ali Djunaedi; Nur Taufiq S.P.J.; Pribadi Rudhi; Pringgenies Delianis
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 18, No 4 (2013): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (229.314 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.18.4.186-192

Abstract

Ikan Kerapu merupakan salah satu ikan unggulan yang ditargetkan sebagai komoditi eksport Indonesia. Usaha budidayanya saat ini sangat terganggu dengan tingginya mortalitas pada stadia larva. Usaha untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan menggunakan obat seperti antibiotik yang ternyata tidak membuahkan hasil maksimal tetapi justru menimbulkan resistensi beberapa jenis bakteria. Salah satu aspek yang belum pernah dilihat dalam rangka mengatasi masalah ini adalah dengan mengusahakan percepatan pertumbuhan pada stadia larva sehingga akan lebih mampu menghindari dari beberapa penyebab mortalitas. Salah satu sumber energi yang terdapat dalam perairan namun dalam jumlah yang tidak besar adalah dissolved organic matter (DOM). Penelitian ini ditekankan untuk melihat kemampuan larva ikan Kerapu dalam memanfaatkan DOM (digunakan asam amino terlarut ;ATT) yang terdapat di air laut. Sebanyak 16 (enam belas) jenis asam amino yang terdiri dari tiga klas yakni neutral, basic, dan acidic digunakan dalam penelitian ini. Sedangkan larva ikan Kerapu yang digunakan berumur 2 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa larva ikan Kerapu menyerap seluruh jenis asam amino baik neutral, basic, dan acidic. Namun jenis asam amino yang diserap adalah glutamat, histidin, lisin, serin, metionin, tritopan dan iso leusin. Sedangkan yang paling banyak diserap oleh larva ikan ini adalah lisin. Hal yang menarik dalam penelitian ini adalah terdapat beberapa jenis asam amino yang diduga justru dikeluarkan oleh larva ikan tersebut yakni glysin, alanin, tyrosin, valin, phenil alanin dan leusin. Penyerapan beberapa jenis asam amino ini diduga dimanfaatkan oleh larva ikan Kerapu dalam proses pertumbuhannya. Kata kunci : asam amino terlarut, larva, Kerapu Macan, Epinephelus fuscoguttatus   Kerapu (grouper fish) is known as an important and highly economic value fish and a good candidate for major export commodity for Indonesia. However, there is an important problem faced by its cultivation i.e. high mortality rate at larva stage. Many different efforts have been done to overcome this problem mainly by using drugs and antibiotics, which have caused another problem i.e. bacteria resitance. One aspect that has not been widely investigated is by increasing its growth rate so that the larvae will have the ability to avoid mortality, such as by utilising dissolved organic matter (DOM) which naturally occur in the environment. This research investigates the question whether Kerapu fish larvae have the ability to absorb DOM (in this case disolved free amino acids; DAA) as well as the preference and the rate of absorbsion. There were 16 species of DAA used in this experiment which consist of three classes i.e. neutral, basic, and acidic. Two days old larvae were used in the experimant. The results showed that Kerapu larvae absorbed all classes of amino acids, although not all amino acids given being absorbed but only glutamine, histidine, lysin, serine, triptophan, metionine and iso leusine. While the most absorbed amino acids was lysine. One interesting results showed that the larvae secrete several amino acids i.e. glysine, alanine, tyrosine, valine, phenil alanine and leusine. The absorbsion and secretion of amino acids were possibly related to its metabolic processes within the larvae in relation to growth processes. Keywords: dissolved free amino acids, DAA, larvae, Kerapu, Epinephelus fuscoguttatus
Pengaruh Temperatur dan Photoperiod Terhadap Kematangan Gonad Kepiting Bakau (Scylla serrata) Ali Djunaedi; Adi Santoso; W. Widiatmoko; Sarjito Sarjito
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 7, No 2 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (425.067 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.7.2.115-120

Abstract

Penelitian dilakukan untuk mengetahui pengaruh photoperiod dan temperatur terhadap pematangan gonad kepiting bakau. Penelitian dilaksanakan di Hatchery Marine Center IImu Kelautan Jepara, dari bulan September 1999 sampai dengan bulan Desember 1999. Metoda penelitan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) faktorial faktor pertama adalah perlakuan photoperiod dengan 2 taraf pelakuan. yaitu short­day dan long-day. Sedangkan faktor kedua adalah perlakuan temperatur yang juga mempunyai 2 taraf perlakuan yaitu 29 oC dan 31 oC. Hasil penelitian menunjukksn bahwa perlakuan dengan kombinasi photoperiod dan temperatur berpengaruh terhadap perkembangan gonad kepiting bakau. Urutan besarnya nilai lndek kematangan gonad (IKG) adalah 25,41 (A 1B I); 22,06 (A 1B2):20,77 (A2B I) dan 19,88 (A2B2). Hasil analisis regresi nilai simpangan (b) dari persamaan garis menunjukkan nilai IKG terbaik dicapai pada perlakuan short-day dan temperatur 29oC (A 1B1). Sedangkan terendah pada perlakuan long-day dan temperatur 31°C (A2B2).Kata kunci: reproduksi, photoperiod, temperatur; indek kematangan gonad  The research is to investigate the effect of photoperiod and temperature on the gonad development (GSI) of the mud crab. This research was conducted at the marine centre hatchery Jepara from September to December 1999. The method used was completely factorial randomized design. The first factor was photoperiod i.e. short-day and long-day. The second factor was i.e temperetur 29 oC and 31 oC. The result showed that photoperiod and temperatur in combination influenced gonad development of the mud crab. The degree of the gonado somatic index (GSI) was 25,41 (A 1B1); 22,06 (A 1B2); 20,77 (A2B1) and 19.88 (A2B2). The result of regression analysis showed that the highest and the lowest gonado somatic indices occured on the combination between short-day and 29 oC and long-day temperatur 3 1oC respectively. Keywords: reproduction, photoperiod, temperatur; and gonado somatic index (GSI)
Fenomena Pertumbuhan Compensatory dan Kualitas Ikan Nila Merah (Oreochromis sp.) pada Kondisi Laut Adi Santoso; Sarjito Sarjito; Ali Djunaedi
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 11, No 2 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (171.533 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.11.2.106-111

Abstract

Penelitian skala laboratorium untuk mengevaluasi fenomena pertumbuhan compensatory dan kualitas produk (body composition) dari nila merah (Oreochromis sp.) yang dipelihara di air laut dilakukan pada awal Juni sampai awal Agustus 2003 di Hatchery Kampus Kelautan Teluk Awur Jepara FPIK UNDIP. Benih ikan (37,74gr + SD 1,16gr) sebelumnya diaklimatisasikan pada kondisi laut dan dipelihara dalam bak-bak percobaan dengan kepadatan 5 ekor/m3. Perlakuan pemuasaan dengan 3 kali ulangan selama 4 minggu percobaan, yaitu: ikan diberi pakan setiap hari (A/kontrol); diberi pakan selama 6 hari diikuti pemuasaan 1 hari (B); diberi pakan selama 5 hari diikuti pemuasaan 2 hari (C); dan, diberi pakan selama 4 hari diikuti pemuasaan 3 hari (D). Pakan berbentuk pellet tenggelam (PT CP Prima) dengan kandungan protein 24-26%, lemak 3-5%, serat kasar 4-6%, abu 5-8% dan air 11-13%, diberikan 2 kali sehari sebanyak 5% dari biomassa. Pengamatan pertumbuhan dilakukan seminggu sekali. Analisa body composition dilakukan untuk mengukur kandungan protein, lemak, karbohidrat dan air (%). Hasil penelitian memperlihatkan bahwa tidak terjadi perbedaan dalam pertumbuhan selama percobaan; hal ini menunjukkan terjadi fenomena pertumbuhan compensatory. Tingkat pertumbuhanpada masing-masing perlakuan yaitu 7,42 gr/minggu (A); 7,18 gr/minggu (B); 3,44 gr/minggu (C); dan, 5,34 gr/minggu (D). Analisis body composition tidak menunjukkan adanya perbedaan dalam kandungan protein, lemak, karbohidrat, maupun air. Kandungan protein normal (>18%). Kandungan lemak rendah, 1,50-1,80%, diikuti kandungan air yang tinggi (>70%), yang menyebabkan tekstur daging lebih lunak. Kandungan karbohidrat 2,7-4,8%.Kata kunci: nila merah, pertumbuhan compensatory, kuantitas, kualitasThe study to evaluate both compensatory growth phenomenon occurred and the fish quality (body composition) were done under the laboratory conditions from beginning June to beginning August 2003 at the hatchery of Marine Science Teluk Awur-Jepara Campus, Diponegoro University. Red tilapias of mean weight of 37.74g+SD 1.16 g were acclimated in seawater conditions. The fish were cultured in the tank with a density of fivefish/m3 The treatments were feeding daily (A/control); fish fed 6 days–a day unfed (B); fish fed 5 days-2 days unfed; and fish fed 4 days-3 days unfed (D). The food was slowly sinking type (CP Prima) containing protein24-26%, oil 3-5%, fibre 4-6%, ash 5-8%, and water 11-13%. Feeding frequency was twice a day with 5% of the biomass. Growth was measured weekly. For fish quality analysis (body composition), it was done tomeasure the contents of protein, fat, carbohydrate, and water (%). The result showed that there was no significant difference of the growth among the fish (ANOVA); and, in turn, it suggested that the compensatorygrowth was occurred. The growth rates were 7.42 g/week (A), 7.18 g/week (B), 3.44 g/week(C), and 5.34 g/week (D). There was no difference for the contents of protein, fat, carbohydrate, and water. In general, theprotein content was above 18%.The low fat contents (1.50-1.80%) was followed by the high water contents (>70%), so that it made the flesh texture being soft. The carbohydrate contents were 2.74 to 4.8%.Key words: red tilapia, compensatory growth, quantity, quality
Pemanfaatan Fenomena Pertumbuhan Compensatory pada Budidaya Ikan Nila Merah (Oreochromis niloticus) A. Santoso; Ali Djunaedi; Sarjito Sarjito
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 7, No 2 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (454.196 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.7.2.121-126

Abstract

Penelitian dilakukan untuk melihat fenomena pertumbuhan compensatory pada pemeliharaan ikan nila merah (O. niloticus). Penelitian skala laboratorium dilakukan dari pertengahan Agustus sampai pertengahan Oktober 2001, di hatchery Ilmu Kelautan FPK Undip, Teluk Awur, Jepara. Benih ikan nila merah (berat rata­rata 37,74±1,16 gr) yang berasal dari Balai Benih Ikan yang sebelumnya diaklimatisasikan pada kondisi laut dipelihara dalam bak-bak percobaan (kepadatan 5 ekor/m3). Masing-masing bak percobaan berlsi 12 ekor ikan. Perlakuan pemuasaan diberikan dengan 3 kali pengulangan selama satu bulan percobaan, yaitu: ikan diberi pakan setiap hari (A/kontrol): ikan diberi pakan selama 6 hari diikuti pemuasaan 1 hari (B): ikan diberi pakan selama 5 hari diikuti pemuasaan 2 hari (C); ikan diberi pakan selama 4 hari diikuti pemuasaan 3 hari (D). Pakan diberikan 2x sehari sebanyak 5% dari biomassa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan pada semua perlakuan mengalami pertumbuhan, sebagai berikut, 7,42 gr/minggu (A), 7,18 gr/minggu (B), 3.44 gr/minggu (e), dan 5,34 gr/minggu (D). Meskipun tingkat pertumbuhan berbeda, tetapi secara statistik tidak ada perbedaan dalam tingkat pertumbuhannya. Hasil ini menunjukkan telah terjadi pertumbuhan compensatory. dan kemungkinan adanya penghematan pakan sebesar 14 - 43%.Kata kunci: nila merah, pertumbuhan ompensatory, tingkat pertumbuhan  The experiment was done to investigate compensatory phenomenon on the of red tilapia (O. niloticus). The experiment was prepared and commenced from the mid of A ugust to the the mid of October 2001 at the hatchery of Marine Science, Undip, In Teluk Awur Jepara, under the laboratory condition. Red tilapias of mean weight of 37.74 g ÷SD 1.16 obtained from the Hatchery were acclimated in seawater conditions. The fish were cultured in the tanks with a density of 5 fish/m3 (12 fish/tank). The treatments were feeding dally (A/control): fish fed 6 days-a day unfed (B),·fish fed 5 days-2 days unfed (C): and fish fed 4 days-3 days unfed (D). Feeding frequency was twice a day with 5% of the biomass. The results showed that all of the fish at the different treatment tended to grows: and the growth rates were A)7.42 g/week, B)7.18 g/week. C)3.44 g/week and D)5.34 g/week. Satistically, however there was no significant difference of the growth rate among the fish (Ancova). The results also suggested that the compensatory growth occurred, and there was a possibility to save the foods about 14 to 43%.Keywords: red tilapia, compensatory growth, growth rate
Kelulushidupan dan Pertumbuhan Crablet Rajungan (Portunus pelagicus Linn.) Pada Budidaya dengan Substrat Dasar yang Berbeda Ali Djunaedi
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 14, No 1 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (181.046 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.14.1.23-26

Abstract

Salah satu upaya untuk mengurangi tingkat kanibalisme pada budidaya rajungan (Portunus pelagicus Linn.) adalah dengan pemberian setter yang berupa substrat dasar. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh perbedaan substrat dasar terhadap kelulushidupan dan pertumbuhan crablet rajungan. Rajungan stadia crablet (C-5) diperoleh dari BBPBAP jepara dengan berat awal 27,30 + 0,66 mg. Rajungan sebanyak 25 ekor dipelihara selama 25 hari dalam akuarium berukuran 40 x 30 x 30 cm. Metode yang digunakan adalah eksperimental laboratoris dengan rancangan acak lengkap dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan yang digunakan adalah jenis substrat yaitu, Pasir, Lumpur, Liat dan tanpa substrat sebagi kontrol. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa perbedaan substrat dasar memberikan kelulushidupan dan pertumbuhan crablet rajungan yang tidak berbeda nyata (p>0,05).   Kata kunci : rajungan, crablet, substrat, kelulushidupan, pertumbuhan
Tembaga (Cu) Menurunkan Kandungan Pigmen dan Pertumbuhan Mikroalga Merah, Porphyridium cruentum (Effect of Copper on Pigments Content and Growth of Red Microalgae, Porphyridium cruentum) Reza Hafiz Pranajaya; Ali Djunaedi; Bambang Yulianto
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 19, No 2 (2014): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (364.42 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.19.2.97-104

Abstract

Logam berat tembaga (Cu) merupakan salah satu pencemar yang paling mengkhawatirkan di wilayah pesisir dan lautan. Berbagai metode telah banyak dikembangkan untuk mengatasi dan mengurangi pencemaran logam berat, baik secara fisika, kimia dan biologi. Masalah teknis dan biaya yang mahal menyebabkan manusia menggunakan cara biologis (bioremediasi). Salah satu diantaranya menggunakan mikroalga Porphyridium cruentum. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh tingkat konsentrasi logam berat Cu terhadap kandungan klorofil, pigmen fikobiliprotein dan pertumbuhan mikroalga P. cruentum. Bibit mikroalga diperoleh dari Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau Situbondo. Rancangan penelitian menggunakan metode eksperimental laboratorium. Konsentrasi logam berat Cu yang digunakan adalah 0 ppm sebagai kontrol, 1, 2, 3  dan 4 ppm. Logam berat Cu dianalisa menggunakan AAS dan pigmen (klorofil dan fikobiliprotein) menggunakan spektrofotometri UV-Vis.Hasil yang didapat menunjukkan bahwa logam berat Cu dengan konsentrasi yang berbeda memberikan pengaruh yang sangat nyata (P<0,01) terhadap kandungan pigmen (klorofil dan fikobiliprotein), BCF dan pengaruh nyata (P<0,05) terhadap laju pertumbuhan P. cruentum. Semakin tinggi logam berat Cu membuat laju pertumbuhan, kandungan pigmen (klorofil dan fikobiliprotein), dan BCF pada P. cruentum semakin menurun. Prosentase penyerapan logam berat Cu tertinggi sebesar  13,1 % (1 ppm), 8,2 % (2 ppm), 6,9 % (3 ppm), dan 2,6% (4 ppm). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa P. cruentum berpotensi sebagai bioremediator. Kata kunci: Porphyridium cruentum; pigmen; klorofil; fikobiliprotein; pertumbuhan; tembaga   Copper (Cu) is one of heavy metals and the most pollutant at seawater ecosystem. Various methods have been developed to reduce heavy metal pollution with in physics, chemistry and biology method. Technical problems and high costs cause human use biological method (bioremediation). One of them used microalgae Porphyridium cruentum.This study aims to find out the influence of copper exposure levels on chlorophyll, pigment Phycobiliproteins, and the growth of microalgae Porphyridium cruentum. P. cruentum stock was collected from Main Center Brackish Water Aquaculture Development, Situbondo. The research design this study used a experimental laboratory. Concentrations of heavy metals Cu used are 0 ppm as control, 1 ppm, 2 ppm, 3 ppm, and 4 ppm. Heavy metals Cu analysised by AAS and measurent pigments (chlorophyll and phycobiliproteins) performed by spectrometric UV-Vis. The results showed that heavy metals Cu with different concentrations give a very effect influence (P<0.01) to pigment (chlorophyll and phycobiliproteins) content, BCF, and effect influence (P<0.05) to growth. The high Cu resulted decrease to growth of microalgae, cell density, pigments (chlorophyll and phycobiliproteins), and bio concentration factor Porphyridium cruentum. The highly percentage absorption of heavy metals Cu at 13.1% (1 ppm), 8.2% (2 ppm), 6.9% (3 ppm), and 2.6% (4 ppm). The results suggest that P. cruentum has the potential as bioremediator. Keywords: Porphyridium cruentum; chlorophyll; phycobiliproteins; growth; copper
Morfometri dan Perkembangan Gonad untuk Pendugaan Ukuran Kematangan Seksual pada Rajungan (Portunus pelagicus) Ali Djunaedi; Sunaryo Sunaryo; Dyah Rahmawati
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 13, No 1 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (18.407 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.13.1.31-36

Abstract

Dalam rangka pengelolaan sumberdaya rajungan, penelitian tentang morfometri dan perkembangan gonad telah dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pendugaan kematangan seksual rajungan (Portunus pelagicus). Pengukuran karakteristik morfblogi, seperti: lebar karapas, lebar capit, panjang capit, dan panjang daktilus yang dapat bergerak dan lebar abdomen serta pengamatan perkembangan gonad telah dilakukan. Estimasiukuran kematangan morfometri dilakukan dengan metode smooth spline. Sedangkan, estimasi ukuran kematangan fisiologi dilakukan dengan memplotkan data perkembangan gonad pada fungsi logistik. Hasil penelitian menunjukkan kematangan seksual morfometri dan fisiologi pada rajungan jantan maupun betina dicapai secara bersamaan yaitu pada rajungan jantan masing-masing pada ukuran lebar karapas 81 mm dan 86,36 mm dan pada rajungan betina masing-masing dicapai pada ukuran karapas 87 mm dan 91,25 mmKata kunci: Portunus pelagicus, morfometri, perkembangan Gonad, kematangan seksual
Produksi Biomassa Mikroalga (Tetraselmis chuii) Dengan Sistem Pemanenan Berbeda Ali Djunaedi
Jurnal Kelautan Tropis Vol 18, No 2 (2015): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (216.196 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v18i2.521

Abstract

Permasalahan yang sering terjadi adalah masih rendahnya berat biomassa yang dihasilkan pada pemanenan mikroalga. Penelitian bertujuan untuk mengetahui tingkat berat kering biomassa T. chuii pada perbedaan sistem pemanenan. Penelitian ini dirancang menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perbedaan sistem pemanenan filtrasi, centrifuge dan flokulasi. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan berat kering biomassa T. chuii. Pada sistem pemanenan filtrasi diperoleh berat kering biomassa sebesar 3,899 ± 0,073 gr, pemanenan centrifuge sebesar 4,242 ± 0,129 gr dan pemanenan flokulasi sebesar 5,65 ± 0,026 gr. Perbedaan sistem pemanenan memberikan pengaruh sangat nyata (p<0,01) terhadap berat kering biomassa.Kata Kunci : Berat kering biomassa, filtrasi, centrifuge dan flokulasi, Tetraselmis chuii.Tetraselmis chuii is known as the higher quality natural food. The cultivation of T. chuii produce the high density, but the harvesting systems reduce it. The aim of the research was to find the appropriate harvesting system to the T. chuii biomass production. The T. chuii cultivations were done using the 30 liters plastic tank, with three replications. There were three treatments, which were applied, such as: filtration, centrifugation and flocculation, using the Completely Randomized Design. The results of this research showed, that the applied of varying harvesting systems to dry weight of T. chuii biomass was significant difference (p<0,01) respectively. The dry weight of microalgae biomass at applied of filtration system was obtained value of 3,89 ± 0,073 g, in centrifugation system of 4,23 ± 0,126 g, and than in the flocculation system of 5,65 ± 0,026 g.Keywords : Biomass Production; Filtration; Flocculation Centrifugation; Tetraselmis chuii. 
Pertumbuhan Kepiting Bakau (Scylla serrata Forsskål, 1775) dengan Ukuran Pakan Berbeda pada Budidaya dengan Sistem Baterai Ali Djunaedi; Sunaryo Sunaryo; Bagus Pitra Aditya
Jurnal Kelautan Tropis Vol 18, No 1 (2015): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.503 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v18i1.513

Abstract

Kepiting bakau (S. serrata Forsskål, 1775) merupakan salah satu sumber daya perikanan bernilai ekonomis tinggi dan potensial untuk dibudidayakan. Pakan adalah faktor produksi yang penting dalam budidaya kepiting bakau. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian pelet yang berbeda ukuran bagi pertumbuhan kepiting bakau (S. serrata Forsskål, 1775). Metode penelitian ini menggunakkan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 10 kali ulangan pada masing-masing perlakuan, yaitu: perlakuan A (diameter pelet + 10 mm), perlakuan B (diameter pelet + 5 mm) dan perlakuan C (diameter pelet + 1 mm). Data laju pertumbuhan spesifik (SGR) dianalisis dengan Anova. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pemberian pelet yang berbeda ukuran berpengaruh sangat nyata (p<0,01) terhadap Laju Pertumbuhan Spesifik (SGR), Rasio Konversi Pakan (FCR) dan Rasio Efisiensi Protein (PER). Hal tersebut menunjukkan bahwa ukuran pellet sangat menentukan pertumbuhan Kepiting Bakau (S. serrata Forsskål, 1775).Kata Kunci : Ukuran Pelet, Kepiting Bakau (S. serrata Forsskål, 1775), Laju Pertumbuhan Spesifik (SGR) Mud crab (S. serrata Forsskål, 1775) is one of the fisheries resources that has high economic value and potential to be cultivated. Feed is one of important production factors on the mud crab farming. The purpose of this study is investigated the effect of different sizes pellets on the growth of mud crab (S. serrata Forsskål, 1775). The research method in this study was used experimental laboratory with completely randomized design (CRD) with 3 treatments and 10 replications in each treatment. Specific growthrate (SGR) data was analyzed with anova. These results indicate that administration of treatment different size pellets effect is very significant (p<0,01) on Specifik Growthrate (SGR), Feed Conversion Ratio (FCR) and Protein Efiecient Ratio (PER). Its that suggest that pellet size affect on the growthrate of the mud crab (S. serrata Forsskål, 1775).Keywords: Pellet Size, Mud crab (S. serrata Forsskål, 1775), Specific growth rate (SGR)
Pertumbuhan Artemia sp. dengan Pemberian Ransum Pakan Buatan Berbeda Ali Djunaedi
Jurnal Kelautan Tropis Vol 18, No 3 (2015): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (195.891 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v18i3.525

Abstract

Silase ikan sebagai pakan buatan Artemia sp mempunyai beberapa keunggulan diantaranya memiliki kandungan nutrisi yang tinggi dan kontinuitas ketersedian sebagai pakan dapat terpenuhi. Keunggulan yang dimiliki silase ikan ini sangat tepat diterapkan dalam menunjang pertumbuhan Artemia sp. Penelitian ini bertujuan untuk megetahui pengaruh berbagai dosis silase ikan terhadap pertumbuhan Artemia sp. Metode yang digunakan adalah eksperimental laboratories. Perlakuan yang diterapkan terdiri dari 4 perlakuan yaitu pemberian silase ikan A (10 mg/L), B (20 mg/L), C (30 mg/L) dan D (40 mg/L) dengan ulangan masing-masing 3 kali. Parameter ukur adalah Pertambahan berat mutlak, pertambahan panjang dan tingkat kelulushidupan. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa rata-rata pertambahan berat mutlak dan pertumbuhan panjang tertinggi diperoleh perlakuan D yaitu 7,99 ± 0,05 mg dan 8,8 ± 0,25 mm, terendah diperoleh perlakuan A yaitu 6,46 ± 0,27 mg dan 7,2 ± 0,32 mm serta untuk tingkat kelulushidupan tertinggi diperoleh perlakuan D yaitu 31,09 ± 1,29 %, terendah diperoleh perlakuan A yaitu 9,67 ± 2,96 %.Kata Kunci : Artemia sp. Silase, Laju Pertumbuhan, Tingkat KelulushidupanSilase is a liquid protein made from trash fish which is decomposed by enzims. Silase has some advantages ie, high nutrition value, easy to produce, economic value and could be produce easily. These could be aplied to support the growth of Artemia sp. The aim of this research is to investigate effect of the various dose of silase on the growth level of Artemia sp. These research was conducted at Laboratorium Pakan Alami Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau(BBPAP), Jepara. Experimental laboratories was used with completely randomized design. The treatments were doses of silase : A (10 mg/L); B (20 mg/L); C (30 mg/L) and D (40 mg/L). The individual weight, length and survival rate were measured. The result showed that the highest average of individual absolute growth (weight) was reached on treatment D (7,99 + 0,05 mg), while the lowest on treatment A (6,46 + 0,27 mg). The highest length growth was reached on treatment D (8,8 + 0,25 mm), while the lowest on theatment A (7,2 + 0,32 mm). The highest survival rate of Artemia sp was reached on treatment D (31,09 + 1,29%) and the lowest on treatment A (9,67 + 2,96%).Keywords : Artemia sp, Silase, Growth rate, Survival rate