Claim Missing Document
Check
Articles

Amino Acid Absorption by Tiger Grouper Fish (Epinephelus fuscoguttatus) Larvae. (Absorbsi Asam Amino oleh Larva Ikan Kerapu Macan (Epinephelus fuscoguttatus)) Ambariyanto Ambariyanto; Ali Djunaedi; Nur Taufiq S.P.J.; Pribadi Rudhi; Pringgenies Delianis
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 18, No 4 (2013): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (229.314 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.18.4.186-192

Abstract

Ikan Kerapu merupakan salah satu ikan unggulan yang ditargetkan sebagai komoditi eksport Indonesia. Usaha budidayanya saat ini sangat terganggu dengan tingginya mortalitas pada stadia larva. Usaha untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan menggunakan obat seperti antibiotik yang ternyata tidak membuahkan hasil maksimal tetapi justru menimbulkan resistensi beberapa jenis bakteria. Salah satu aspek yang belum pernah dilihat dalam rangka mengatasi masalah ini adalah dengan mengusahakan percepatan pertumbuhan pada stadia larva sehingga akan lebih mampu menghindari dari beberapa penyebab mortalitas. Salah satu sumber energi yang terdapat dalam perairan namun dalam jumlah yang tidak besar adalah dissolved organic matter (DOM). Penelitian ini ditekankan untuk melihat kemampuan larva ikan Kerapu dalam memanfaatkan DOM (digunakan asam amino terlarut ;ATT) yang terdapat di air laut. Sebanyak 16 (enam belas) jenis asam amino yang terdiri dari tiga klas yakni neutral, basic, dan acidic digunakan dalam penelitian ini. Sedangkan larva ikan Kerapu yang digunakan berumur 2 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa larva ikan Kerapu menyerap seluruh jenis asam amino baik neutral, basic, dan acidic. Namun jenis asam amino yang diserap adalah glutamat, histidin, lisin, serin, metionin, tritopan dan iso leusin. Sedangkan yang paling banyak diserap oleh larva ikan ini adalah lisin. Hal yang menarik dalam penelitian ini adalah terdapat beberapa jenis asam amino yang diduga justru dikeluarkan oleh larva ikan tersebut yakni glysin, alanin, tyrosin, valin, phenil alanin dan leusin. Penyerapan beberapa jenis asam amino ini diduga dimanfaatkan oleh larva ikan Kerapu dalam proses pertumbuhannya. Kata kunci : asam amino terlarut, larva, Kerapu Macan, Epinephelus fuscoguttatus   Kerapu (grouper fish) is known as an important and highly economic value fish and a good candidate for major export commodity for Indonesia. However, there is an important problem faced by its cultivation i.e. high mortality rate at larva stage. Many different efforts have been done to overcome this problem mainly by using drugs and antibiotics, which have caused another problem i.e. bacteria resitance. One aspect that has not been widely investigated is by increasing its growth rate so that the larvae will have the ability to avoid mortality, such as by utilising dissolved organic matter (DOM) which naturally occur in the environment. This research investigates the question whether Kerapu fish larvae have the ability to absorb DOM (in this case disolved free amino acids; DAA) as well as the preference and the rate of absorbsion. There were 16 species of DAA used in this experiment which consist of three classes i.e. neutral, basic, and acidic. Two days old larvae were used in the experimant. The results showed that Kerapu larvae absorbed all classes of amino acids, although not all amino acids given being absorbed but only glutamine, histidine, lysin, serine, triptophan, metionine and iso leusine. While the most absorbed amino acids was lysine. One interesting results showed that the larvae secrete several amino acids i.e. glysine, alanine, tyrosine, valine, phenil alanine and leusine. The absorbsion and secretion of amino acids were possibly related to its metabolic processes within the larvae in relation to growth processes. Keywords: dissolved free amino acids, DAA, larvae, Kerapu, Epinephelus fuscoguttatus
Pengaruh Temperatur dan Photoperiod Terhadap Kematangan Gonad Kepiting Bakau (Scylla serrata) Ali Djunaedi; Adi Santoso; W. Widiatmoko; Sarjito Sarjito
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 7, No 2 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (425.067 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.7.2.115-120

Abstract

Penelitian dilakukan untuk mengetahui pengaruh photoperiod dan temperatur terhadap pematangan gonad kepiting bakau. Penelitian dilaksanakan di Hatchery Marine Center IImu Kelautan Jepara, dari bulan September 1999 sampai dengan bulan Desember 1999. Metoda penelitan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) faktorial faktor pertama adalah perlakuan photoperiod dengan 2 taraf pelakuan. yaitu short­day dan long-day. Sedangkan faktor kedua adalah perlakuan temperatur yang juga mempunyai 2 taraf perlakuan yaitu 29 oC dan 31 oC. Hasil penelitian menunjukksn bahwa perlakuan dengan kombinasi photoperiod dan temperatur berpengaruh terhadap perkembangan gonad kepiting bakau. Urutan besarnya nilai lndek kematangan gonad (IKG) adalah 25,41 (A 1B I); 22,06 (A 1B2):20,77 (A2B I) dan 19,88 (A2B2). Hasil analisis regresi nilai simpangan (b) dari persamaan garis menunjukkan nilai IKG terbaik dicapai pada perlakuan short-day dan temperatur 29oC (A 1B1). Sedangkan terendah pada perlakuan long-day dan temperatur 31°C (A2B2).Kata kunci: reproduksi, photoperiod, temperatur; indek kematangan gonad  The research is to investigate the effect of photoperiod and temperature on the gonad development (GSI) of the mud crab. This research was conducted at the marine centre hatchery Jepara from September to December 1999. The method used was completely factorial randomized design. The first factor was photoperiod i.e. short-day and long-day. The second factor was i.e temperetur 29 oC and 31 oC. The result showed that photoperiod and temperatur in combination influenced gonad development of the mud crab. The degree of the gonado somatic index (GSI) was 25,41 (A 1B1); 22,06 (A 1B2); 20,77 (A2B1) and 19.88 (A2B2). The result of regression analysis showed that the highest and the lowest gonado somatic indices occured on the combination between short-day and 29 oC and long-day temperatur 3 1oC respectively. Keywords: reproduction, photoperiod, temperatur; and gonado somatic index (GSI)
Fenomena Pertumbuhan Compensatory dan Kualitas Ikan Nila Merah (Oreochromis sp.) pada Kondisi Laut Adi Santoso; Sarjito Sarjito; Ali Djunaedi
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 11, No 2 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (171.533 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.11.2.106-111

Abstract

Penelitian skala laboratorium untuk mengevaluasi fenomena pertumbuhan compensatory dan kualitas produk (body composition) dari nila merah (Oreochromis sp.) yang dipelihara di air laut dilakukan pada awal Juni sampai awal Agustus 2003 di Hatchery Kampus Kelautan Teluk Awur Jepara FPIK UNDIP. Benih ikan (37,74gr + SD 1,16gr) sebelumnya diaklimatisasikan pada kondisi laut dan dipelihara dalam bak-bak percobaan dengan kepadatan 5 ekor/m3. Perlakuan pemuasaan dengan 3 kali ulangan selama 4 minggu percobaan, yaitu: ikan diberi pakan setiap hari (A/kontrol); diberi pakan selama 6 hari diikuti pemuasaan 1 hari (B); diberi pakan selama 5 hari diikuti pemuasaan 2 hari (C); dan, diberi pakan selama 4 hari diikuti pemuasaan 3 hari (D). Pakan berbentuk pellet tenggelam (PT CP Prima) dengan kandungan protein 24-26%, lemak 3-5%, serat kasar 4-6%, abu 5-8% dan air 11-13%, diberikan 2 kali sehari sebanyak 5% dari biomassa. Pengamatan pertumbuhan dilakukan seminggu sekali. Analisa body composition dilakukan untuk mengukur kandungan protein, lemak, karbohidrat dan air (%). Hasil penelitian memperlihatkan bahwa tidak terjadi perbedaan dalam pertumbuhan selama percobaan; hal ini menunjukkan terjadi fenomena pertumbuhan compensatory. Tingkat pertumbuhanpada masing-masing perlakuan yaitu 7,42 gr/minggu (A); 7,18 gr/minggu (B); 3,44 gr/minggu (C); dan, 5,34 gr/minggu (D). Analisis body composition tidak menunjukkan adanya perbedaan dalam kandungan protein, lemak, karbohidrat, maupun air. Kandungan protein normal (>18%). Kandungan lemak rendah, 1,50-1,80%, diikuti kandungan air yang tinggi (>70%), yang menyebabkan tekstur daging lebih lunak. Kandungan karbohidrat 2,7-4,8%.Kata kunci: nila merah, pertumbuhan compensatory, kuantitas, kualitasThe study to evaluate both compensatory growth phenomenon occurred and the fish quality (body composition) were done under the laboratory conditions from beginning June to beginning August 2003 at the hatchery of Marine Science Teluk Awur-Jepara Campus, Diponegoro University. Red tilapias of mean weight of 37.74g+SD 1.16 g were acclimated in seawater conditions. The fish were cultured in the tank with a density of fivefish/m3 The treatments were feeding daily (A/control); fish fed 6 days–a day unfed (B); fish fed 5 days-2 days unfed; and fish fed 4 days-3 days unfed (D). The food was slowly sinking type (CP Prima) containing protein24-26%, oil 3-5%, fibre 4-6%, ash 5-8%, and water 11-13%. Feeding frequency was twice a day with 5% of the biomass. Growth was measured weekly. For fish quality analysis (body composition), it was done tomeasure the contents of protein, fat, carbohydrate, and water (%). The result showed that there was no significant difference of the growth among the fish (ANOVA); and, in turn, it suggested that the compensatorygrowth was occurred. The growth rates were 7.42 g/week (A), 7.18 g/week (B), 3.44 g/week(C), and 5.34 g/week (D). There was no difference for the contents of protein, fat, carbohydrate, and water. In general, theprotein content was above 18%.The low fat contents (1.50-1.80%) was followed by the high water contents (>70%), so that it made the flesh texture being soft. The carbohydrate contents were 2.74 to 4.8%.Key words: red tilapia, compensatory growth, quantity, quality
Pemanfaatan Fenomena Pertumbuhan Compensatory pada Budidaya Ikan Nila Merah (Oreochromis niloticus) A. Santoso; Ali Djunaedi; Sarjito Sarjito
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 7, No 2 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (454.196 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.7.2.121-126

Abstract

Penelitian dilakukan untuk melihat fenomena pertumbuhan compensatory pada pemeliharaan ikan nila merah (O. niloticus). Penelitian skala laboratorium dilakukan dari pertengahan Agustus sampai pertengahan Oktober 2001, di hatchery Ilmu Kelautan FPK Undip, Teluk Awur, Jepara. Benih ikan nila merah (berat rata­rata 37,74±1,16 gr) yang berasal dari Balai Benih Ikan yang sebelumnya diaklimatisasikan pada kondisi laut dipelihara dalam bak-bak percobaan (kepadatan 5 ekor/m3). Masing-masing bak percobaan berlsi 12 ekor ikan. Perlakuan pemuasaan diberikan dengan 3 kali pengulangan selama satu bulan percobaan, yaitu: ikan diberi pakan setiap hari (A/kontrol): ikan diberi pakan selama 6 hari diikuti pemuasaan 1 hari (B): ikan diberi pakan selama 5 hari diikuti pemuasaan 2 hari (C); ikan diberi pakan selama 4 hari diikuti pemuasaan 3 hari (D). Pakan diberikan 2x sehari sebanyak 5% dari biomassa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan pada semua perlakuan mengalami pertumbuhan, sebagai berikut, 7,42 gr/minggu (A), 7,18 gr/minggu (B), 3.44 gr/minggu (e), dan 5,34 gr/minggu (D). Meskipun tingkat pertumbuhan berbeda, tetapi secara statistik tidak ada perbedaan dalam tingkat pertumbuhannya. Hasil ini menunjukkan telah terjadi pertumbuhan compensatory. dan kemungkinan adanya penghematan pakan sebesar 14 - 43%.Kata kunci: nila merah, pertumbuhan ompensatory, tingkat pertumbuhan  The experiment was done to investigate compensatory phenomenon on the of red tilapia (O. niloticus). The experiment was prepared and commenced from the mid of A ugust to the the mid of October 2001 at the hatchery of Marine Science, Undip, In Teluk Awur Jepara, under the laboratory condition. Red tilapias of mean weight of 37.74 g ÷SD 1.16 obtained from the Hatchery were acclimated in seawater conditions. The fish were cultured in the tanks with a density of 5 fish/m3 (12 fish/tank). The treatments were feeding dally (A/control): fish fed 6 days-a day unfed (B),·fish fed 5 days-2 days unfed (C): and fish fed 4 days-3 days unfed (D). Feeding frequency was twice a day with 5% of the biomass. The results showed that all of the fish at the different treatment tended to grows: and the growth rates were A)7.42 g/week, B)7.18 g/week. C)3.44 g/week and D)5.34 g/week. Satistically, however there was no significant difference of the growth rate among the fish (Ancova). The results also suggested that the compensatory growth occurred, and there was a possibility to save the foods about 14 to 43%.Keywords: red tilapia, compensatory growth, growth rate
Kelulushidupan dan Pertumbuhan Crablet Rajungan (Portunus pelagicus Linn.) Pada Budidaya dengan Substrat Dasar yang Berbeda Ali Djunaedi
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 14, No 1 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (181.046 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.14.1.23-26

Abstract

Salah satu upaya untuk mengurangi tingkat kanibalisme pada budidaya rajungan (Portunus pelagicus Linn.) adalah dengan pemberian setter yang berupa substrat dasar. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh perbedaan substrat dasar terhadap kelulushidupan dan pertumbuhan crablet rajungan. Rajungan stadia crablet (C-5) diperoleh dari BBPBAP jepara dengan berat awal 27,30 + 0,66 mg. Rajungan sebanyak 25 ekor dipelihara selama 25 hari dalam akuarium berukuran 40 x 30 x 30 cm. Metode yang digunakan adalah eksperimental laboratoris dengan rancangan acak lengkap dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan yang digunakan adalah jenis substrat yaitu, Pasir, Lumpur, Liat dan tanpa substrat sebagi kontrol. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa perbedaan substrat dasar memberikan kelulushidupan dan pertumbuhan crablet rajungan yang tidak berbeda nyata (p>0,05).   Kata kunci : rajungan, crablet, substrat, kelulushidupan, pertumbuhan
Tembaga (Cu) Menurunkan Kandungan Pigmen dan Pertumbuhan Mikroalga Merah, Porphyridium cruentum (Effect of Copper on Pigments Content and Growth of Red Microalgae, Porphyridium cruentum) Reza Hafiz Pranajaya; Ali Djunaedi; Bambang Yulianto
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 19, No 2 (2014): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (364.42 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.19.2.97-104

Abstract

Logam berat tembaga (Cu) merupakan salah satu pencemar yang paling mengkhawatirkan di wilayah pesisir dan lautan. Berbagai metode telah banyak dikembangkan untuk mengatasi dan mengurangi pencemaran logam berat, baik secara fisika, kimia dan biologi. Masalah teknis dan biaya yang mahal menyebabkan manusia menggunakan cara biologis (bioremediasi). Salah satu diantaranya menggunakan mikroalga Porphyridium cruentum. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh tingkat konsentrasi logam berat Cu terhadap kandungan klorofil, pigmen fikobiliprotein dan pertumbuhan mikroalga P. cruentum. Bibit mikroalga diperoleh dari Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau Situbondo. Rancangan penelitian menggunakan metode eksperimental laboratorium. Konsentrasi logam berat Cu yang digunakan adalah 0 ppm sebagai kontrol, 1, 2, 3  dan 4 ppm. Logam berat Cu dianalisa menggunakan AAS dan pigmen (klorofil dan fikobiliprotein) menggunakan spektrofotometri UV-Vis.Hasil yang didapat menunjukkan bahwa logam berat Cu dengan konsentrasi yang berbeda memberikan pengaruh yang sangat nyata (P<0,01) terhadap kandungan pigmen (klorofil dan fikobiliprotein), BCF dan pengaruh nyata (P<0,05) terhadap laju pertumbuhan P. cruentum. Semakin tinggi logam berat Cu membuat laju pertumbuhan, kandungan pigmen (klorofil dan fikobiliprotein), dan BCF pada P. cruentum semakin menurun. Prosentase penyerapan logam berat Cu tertinggi sebesar  13,1 % (1 ppm), 8,2 % (2 ppm), 6,9 % (3 ppm), dan 2,6% (4 ppm). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa P. cruentum berpotensi sebagai bioremediator. Kata kunci: Porphyridium cruentum; pigmen; klorofil; fikobiliprotein; pertumbuhan; tembaga   Copper (Cu) is one of heavy metals and the most pollutant at seawater ecosystem. Various methods have been developed to reduce heavy metal pollution with in physics, chemistry and biology method. Technical problems and high costs cause human use biological method (bioremediation). One of them used microalgae Porphyridium cruentum.This study aims to find out the influence of copper exposure levels on chlorophyll, pigment Phycobiliproteins, and the growth of microalgae Porphyridium cruentum. P. cruentum stock was collected from Main Center Brackish Water Aquaculture Development, Situbondo. The research design this study used a experimental laboratory. Concentrations of heavy metals Cu used are 0 ppm as control, 1 ppm, 2 ppm, 3 ppm, and 4 ppm. Heavy metals Cu analysised by AAS and measurent pigments (chlorophyll and phycobiliproteins) performed by spectrometric UV-Vis. The results showed that heavy metals Cu with different concentrations give a very effect influence (P<0.01) to pigment (chlorophyll and phycobiliproteins) content, BCF, and effect influence (P<0.05) to growth. The high Cu resulted decrease to growth of microalgae, cell density, pigments (chlorophyll and phycobiliproteins), and bio concentration factor Porphyridium cruentum. The highly percentage absorption of heavy metals Cu at 13.1% (1 ppm), 8.2% (2 ppm), 6.9% (3 ppm), and 2.6% (4 ppm). The results suggest that P. cruentum has the potential as bioremediator. Keywords: Porphyridium cruentum; chlorophyll; phycobiliproteins; growth; copper
Morfometri dan Perkembangan Gonad untuk Pendugaan Ukuran Kematangan Seksual pada Rajungan (Portunus pelagicus) Ali Djunaedi; Sunaryo Sunaryo; Dyah Rahmawati
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 13, No 1 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (18.407 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.13.1.31-36

Abstract

Dalam rangka pengelolaan sumberdaya rajungan, penelitian tentang morfometri dan perkembangan gonad telah dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pendugaan kematangan seksual rajungan (Portunus pelagicus). Pengukuran karakteristik morfblogi, seperti: lebar karapas, lebar capit, panjang capit, dan panjang daktilus yang dapat bergerak dan lebar abdomen serta pengamatan perkembangan gonad telah dilakukan. Estimasiukuran kematangan morfometri dilakukan dengan metode smooth spline. Sedangkan, estimasi ukuran kematangan fisiologi dilakukan dengan memplotkan data perkembangan gonad pada fungsi logistik. Hasil penelitian menunjukkan kematangan seksual morfometri dan fisiologi pada rajungan jantan maupun betina dicapai secara bersamaan yaitu pada rajungan jantan masing-masing pada ukuran lebar karapas 81 mm dan 86,36 mm dan pada rajungan betina masing-masing dicapai pada ukuran karapas 87 mm dan 91,25 mmKata kunci: Portunus pelagicus, morfometri, perkembangan Gonad, kematangan seksual
Improving Production, Chlorophyll a and Carotenoids Contents of Gracilaria sp. with Liquid Organic Fertilizer from Alginate Waste Ervia Yudiati; Ali Djunaedi; Dea Shinta Kharisma Adziana; Ayunda Ainun Nisa; Rabia Alghazeer
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 26, No 1 (2021): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ik.ijms.26.1.1-6

Abstract

Chlorophyll is a photosynthetic pigment, used in the food sector as a natural dye in food. Carotenoids is used in the health sector to prevent several disease in humans. The production and pigment contents are influenced by nutrient availability. The aim of this study was to increase the production of chlorophyll a and carotenoids contents in Gracilaria sp. Seaweed obtained from Demak aquaculture ponds, then cultivated in aquarium for 28 days.Alginate from Sargassum sp. waste fertilizer was prepared by adding some compounds, fermented by commercial Saccharomyces cerevisiae. Five different treatments (FB (basal formulation: 75 g alginate waste + 22.5mL molase + 7.5 g S. cerevisiae + 250 mL aquadest)), FBL (basal formulation+100% Lamtoro leaves), FBLU (basal formulation+50%Lamtoro leaves+50% carapace shrimp waste), FBU (Basal formulation + 100% carapace shrimp waste) and control-without fertilizer) was applied. Analysis of pigments was determined using the spectrophotometric method. The research design was CRD with 4 treatments and a control. Data were analyzed using Kruskal-Wallis statistical analysis. The result showed that fertilization in culture media could increase the production (DW) and pigment contents. The highest levels of dry weight, chlorophyll a and carotenoids (P<0.05) were resulted from FBLU ie. 6.58 ± 0.07g dry weight; 5.47 mg.L-1 and 0.16 µmol.L-1.The application of organic fertilizer from alginate extract waste to Gracilaria sp. culture media had a significant effect towards growth, dry weight, chlorophyll a and carotenoids pigments content. This inexpensive fertilizer expected to be the solution of green and zero waste management which provide the enviromentally friendly fertilizer.
Skrining Kandidat Bakteri Probiotik dari Saluran Pencernaan Ikan Kerapu Berdasarkan Aktivitas Antibakteri dan Produksi Enzim Proteolitik Ekstraseluler Subagiyo Subagiyo; Ali Djunaedi
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 16, No 1 (2011): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1590.993 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.16.1.41-48

Abstract

Strategi penyehatan ikan secara terpadu merupakan salah satu upaya yang paling efektif dalam pengendalian penyakit serta perlindungan lingkungan pada budidaya akuatik.  Pengembangan probiotik menduduki peran fungsional yang penting bersamaan dengan pengembangan vaksin dan immunostimulan. Penelitian ini bertujuan untuk menseleksi bakteri probiotik yang akan dikembangkan sebagai materi dasar untuk mengkonstruksi konsorsium probiotik dengan target fungsional di saluran pencernaan ikan kerapu. Salah satu kriteria seleksi ditetapkan berdasarkan desain konstruksi konsorsium gut probiotik yaitu kemampuan menghasilkan senyawa antibakteri terhadap bakteri pathogen dan kemampuan menghasilkan enzim pencernaan diantaranya adalah enzim proteolitik ekstraseluler. Penelitian ini dilakukan dengan metode eksplorasi dan eksperiment laboratoris. Ikan kerapu macan secara aseptic diambil saluran pencernaannya, kemudian dihancurkan menggunakan mortar. Penanaman bakteri dilakukan dengan metode pour-plate pada medium nutrient agar. Deteksi aktivitas antibakteria dilakukan dengan metode difusi agar menggunakan paper disk sedangkan deteksi produksi enzim proteolitik ekstraseluler dilakukan dengan metode tusukan pada media yang diperkaya dengan skim milk. Hasil seleksi berdasarkan kriteria seleksi yang telah ditetapkan diperoleh 8 isolat bakteri potensial untuk dapat dikembangkan sebagai konsorsium probiotik. Ke 8 isolat ini mempunyai kemampuan untuk  menghasilkan senyawa antibakteri yang aktif terhadap 4 jenis vibrio (V. parahaemolyticus, V. vulnivicus, V. harveyii, dan V.anguilarum) serta menghasilkan enzim proteolitik ekstraseluler yang diperlukan untuk mencerna senyawa yang bersifat protein yang merupakan komponen utama pakan ikanKata kunci: Probiotik, pengendalian penyakit, antibakteri, enzim proteolitik, saluran  pencernaan, ikan kerapu The strategy to healhty fish in an integrated manner is one of the efforts that is the most effective to environmentally friendly disease control. The development of probiotics occupied the functional role that is important along with the development of the vaccine and immunostimulant. This research aimed to select the candidates of probiotic bacteria that will be developed as basic material to construct the probiotic consortium with the functional target in the digestion tract  of the grouper fish. The one of selection criteria was appointed based on the construction of the gut probiotic consortium is the capacity to produce the antibacterial compound against the pathogen, and the capacity to produce proteolitic enzymes. The research was carried out with the exploration and experimenal laboratory methods The intestine was removed from the fish of the tiger grouper, afterwards was destroyed by mortar. The planting of the bacteria was carried out with the pour-plate method in nutrient agar medium. Antibacterial activity was detection by agar diffusion method using paper disk, while the detection capability to produce extracellular proteolitic enzymes was carried out by using enrichment media with skim milk. The Results of selection obtained eight bacterial isolates that can be developed potentially as the consortium of gut probiotic. The eight bacterial isolates were able to produce antibacterial compounds (that was active against  V. parahaemolyticus, V. vulnivicus, V. harveyii, and V.anguilarum) and extracellular proteolitic enzymes Key words: Probiotic, diseases control, antibacteria, proteolitic enzyme, gastrointestinal tract, grouper
Penempelan Larva Teripang Putih (Holothuria scabra) pada Substrat yang Berbeda Retno Hartati; Widianingsih Widianingsih; Delianis Pringgenies; Nur Taufiq; Ali Djunaedi; Sari Budi Moria
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 7, No 3 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3997.192 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.7.3.164-168

Abstract

Metamorfosis pada larva teripang diikuti dengan perubahan tingkah lakunya. Stadia auricularia bersifat planktonic sedangkan stadia akhir doliolaria dan awal pentactula bersifat bentik dan memerlukan substrat untuk menempel. Perubahan ini merupakan saat kritis dalam pembenihan teripang sehingga substrat yang sesuai perlu diberikan pada media pemeliharaan larva. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesuakaan penempelan larva teripang putih (H. scabra) pada substrat asbes, kasa plastik dan kaca. Penghitungan densitas larva yang menempel pada tiap substrat dilakukan sejak larva mulai menempel pada hari ke-25 hingga larva mencapai stadia juvenil-umur 35 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa substrat memberikan pengaruh yang berbeda nyata (P>0.05) terhadap jumlah larva yang menempel. Larva lebih banyak menempel pada substrat asbes (rata-rata 425,28 individu.m2 dengan kelulushidupan 9,96 % tetapi substrat kaca paling sedikit ditempeli larva (85,18 individu.m2 dengan kelulushidupan 3,98%). Perbedaan jumlah larva yang menempel pada perlakuan substrat diduga berkaitan dengan kekasaran permukaan substrat.Kata kunci: larva teripang putih; penempelen; substrat  The metamorphoses of seacucumber larvae indicate changing in their behaviour. Auricularia stage is planktonic but late doliolaria and early pentactula are benthic and need suitable substrate. It is a critical period in development and culture of seacucumber larvae since the biggest mortality happened during metamorphosis and settlement therefore the suitable substrata need to be provided. The aims of the experiment was to determine larvae's preference on substrate made of asbestos, plastic screen and glass. Density of larvae settled on the substare were counted on day 25 up to juvenile stage of 35 days old. The results showed that the treatment gave significant differences on larvae settlement on the substrate. The larvae found attached on asbestos was highest (425,28 ind.m2 and survival rate 9.96 %) and lowest number larvae settled on glass (85,18 ind.m2 and survival rate 3,98 %). It seemed due to difference roughness of surface.Keywords: larvae seacucurnber; settlement; substrats
Co-Authors A. Santoso Adi Santosa Adi Santoso ADI SANTOSO Adi Suryanto Adi Suryanto Agung Sudaryono Agus Sabdono Agus Trianto Ali Ridlo Alia Fatimah Azzahra Ambariyanto Ambariyanto Amelia, Aninda Putri Anggelina, Amelia Cahya Anggit Puji Muswantoro Anggit Puji Muswantoro Aninda Putri Amelia Apriliani, Seka Indah Ardi Ristiyanto Ayu Permana Sari Ayu Permana Sari Ayunda Ainun Nisa Ayuning Smita Rukmi Ayuning Smita Rukmi Bagus Pitra Aditya Bagus Pitra Aditya Bagus Pitra Aditya Bambang Sulardiono Bambang Yulianto Baskoro Rochaddi Bimo Saskiaoktavian Bintang Septiarani Br Ginting, Feny Amelia Chrisna Adhi Suryono Chrisna Adi Suryono Cinthya Ruhanto Putri Dafit Ariyanto Dea Shinta Kharisma Adziana Delianis Pringgenies Delianis Pringgenies Dwi Susilaningsih Dwicahyo Setiyo Wibowo Dyah Rahmawati Endang Supriyantini Endarwantti, Vionita Ervia Yudiati Ervia Yudiati Ester Tiurlan Farizan Adiya Pratama, Farizan Adiya Fauzi Anwar Fauzi Anwar Fauzia Farida Feny Amelia Br Ginting Gunawan Widi Santosa Hargo Seno Wahyu Edi Haryo Farras Raditya Hutama Hendrik Surya Bahar Heri Susilo Humairah Arifia Sabiladiyni I Nyoman Widiasa Ibnu Pratikto Ichsan Suryo Wibowo Irwani Irwani Ita Riniatsih Ivend Umbu Jawa Ivend Umbu Jawa, Ivend Umbu Jakfar Shodiq Panatar Jauharul Fadli Kharisma Firdaus Linggarjati Kharisma Firdaus Linggarjati Lestari, Raisha Fahmida Dwi Mega Fatimah Rosana Muhammad Eka Darmawan Rafsanjani Muhammad Fatoni Muhammad Syaifudien Bahry Ni’amillah Ni’amillah Ni’amillah Ni’amillah Norma Afiati Nur Taufiq Nur Taufiq S.P.J. Nuril Azhar Panatar, Jakfar Shodiq Petrus Subardjo Priyo Sasmoko Putri, Cinthya Ruhanto Rabia Alghazeer Rabia O. Alghazeer Raden Ario Radila Widya Shafiya Rafsanjani, Muhammad Eka Darmawan Raisha Fahmida Dwi Lestari Retno Hartati Retno Hartati Retno W. Astuti Reza Hafiz Pranajaya Ria Azizah Ria Azizah Ria Azizah Tri Nuraini Richardus Mahatmada Indrajati Rini Pramesti Rini Widiyadmi Ristiyanto, Ardi Rizqina, Cahya Rudhi Pribadi Sabiladiyni, Humairah Arifia Safitri, Shofi Firda Sarah Pebriyani Turnip Sardjito Sardjito Sari Budi Moria Sarjito - Sarjito . Seka Indah Apriliani Setyati , Wilis Ari Shafiya, Radila Widya Shofi Firda Safitri Siti Aminah Siti Aminah Siti Rudiyanti Sri Redjeki Sri Redjeki Subagiyo Subagiyo Subagiyo Subagiyo Subagyo Subagyo Sunaryo Sunaryo Sunaryo Sunaryo Sunaryo Sunaryo Sunaryo Sunaryo Suryono Suryono Tri Adi Nugroho Turnip, Sarah Pebriyani Ulfah Rahmayani Viny Ratnasari W. Widiatmoko Wahyu Febrianto Wibowo, Ichsan Suryo Widianingsih Widianingsih Widianingsih Widianingsih Wilis Ari Setyati Zaenal Arifin