Ali Djunaedi
Department Of Marine Sciences, Faculty Of Fisheries And Marine Sciences, Diponegoro University, Semarang

Published : 43 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Suplementasi Ekstrak Spirulina sp. Pada Pakan Meningkatkan Toleransi Post-Larva L. vannamei Terhadap Stres Salinitas Lestari, Raisha Fahmida Dwi; Yudiati, Ervia; Djunaedi, Ali
Journal of Marine Research Vol 13, No 1 (2024): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v13i1.37701

Abstract

Litopenaeus vannamei merupakan komoditas yang bernilai ekonomi tinggi pada sektor perikanan dan budidaya. Spirulina sp. merupakan mikroalga yang mengandung nutrisi tinggi dan senyawa potensial yang memiliki efek terapeutik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suplementasi ekstrak Spirulina sp. dalam pakan terhadap tingkat kelangsungan hidup, pertumbuhan, dan tingkat kelangsungan hidup L. vannamei pada uji stres salinitas. Hewan uji yang digunakan adalah post-larvae (PL 8) L. vannamei dengan bobot rata-rata 0,002 g/ekor. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri atas 3 konsentrasi, yaitu 3 mg/kg (SP 3), 6 mg/kg (SP 6), dan 9 mg/kg (SP 9) serta satu kontrol dengan masing-masing 4 pengulangan. L. vannamei dipelihara dan diberi pakan suplementasi Spirulina sp. selama 14 hari. Pada akhir penelitian dilakukan uji stres salinitas dengan menggunakan tabung falcon yang masing-masing diisi 20 ekor PL dan dipaparkan pada akuades (45 mL) dan ditutup rapat. PL diamati dan dihitung jumlah kelulushidupannya setiap 10 menit. Waktu pengamatan dihentikan ketika kematian udang mencapai 50%.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian suplementasi ekstrak Spirulina sp. pada pakan tidak berpengaruh nyata (p>0,05) terhadap pertumbuhan dan tingkat kelangsungan hidup udang. Namun, perlakuan SP 9 menunjukkan pengaruh nyata (p<0,05) terhadap tingkat kelangsungan pada uji stres salinitas. Suplementasi ekstrak Spirulina sp. mampu meningkatkan toleransi L. vannamei terhadap stres salinitas.  Litopenaeus vannamei is high economically viable cultivate in the aquaculture sectors. Spirulina sp. is high nutrients microalgae and potential compound that have therapeutic effects. This study aims to determine the effect of dietary supplementation of Spirulina sp. on feed towards survival rate, growth, and resistance of L. vannamei in the salinity stress test. This experiment was using post-larvae (PL 8) (0.002 g/ind). This study used a completely randomized design (CRD) consisting of 3 concentrations, namely 3 mg/kg (SP 3), 6 mg/kg (SP 6), and 9 mg/kg (SP 9), and one control with 4 repetitions for each treatment.  L. vannamei was reared and fed with Spirulina sp. supplementation for 14 days. On stress salinity test, PL were put in the falcon tube filled with aqua dest with 20 PL each and exposed until 50% mortality. The results showed that the supplementation of Spirulina sp. on feed had no significant effect (p>0.05) on the growth and survival rate of shrimp. However, the SP 9 treatment showed a significant effect (p<0.05) on the survival rate in the salinity stress test. Is concluded that supplementation of Spirulina sp. in the diet managed to increase the resistance of L. vannamei toward stress salinity.
Estimasi Simpanan Karbon dan Bioekologi Lamun di Pantai Prawean, Jepara Endarwantti, Vionita; Djunaedi, Ali; Santosa, Gunawan Widi
Journal of Marine Research Vol 12, No 4 (2023): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v12i4.35699

Abstract

Perubahan iklim global yang semakin meningkat dapat menyebabkan kenaikan kadar karbondioksida pada atmosfer. Lamun dapat mengurangi kadar karbondioksida pada atmosfer dengan cara menyerap karbon anorganik melalui proses fotosintesis lamun dan menyimpannya dalam bentuk karbon organik dalam jangka waktu lama. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi jenis, kerapatan, penutupan, indeks ekologi, biomassa, dan karbon pada vegetasi lamun di Pantai Prawean, Jepara. Penelitian ini menggunakan metode pengambilan data secara purposive sampling. Pendataan kondisi padang lamun mengacu pada metode LIPI 2014 dengan mendata penutupan, dan kerapatan lamun. Pengambilan sampel lamun menggunakan seagrass core secara acak. Sampel lamun diolah dengan metode Loss On Ignition (LOI) untuk mengetahui kadar karbon. Selanjutnya data kadar karbon dikonversikan berdasarkan nilai biomassa lamun. Jenis lamun yang ditemukan di Pantai Prawean berjumlah 5 jenis antara lain Cymodocea rotundata, Thalassia hemprichiii, Oceana serrulata, Enhalus acoroides dan Halodule uninervis. Kerapatan lamun di Pantai Prawean dapat mencapai 1717 individu/m2 pada stasiun 1 dan 780 individu/m2pada stasiun 2. Persentase penutupan lamun total di Pantai Prawean sebesar 39,20 % pada stasiun 1 dan 22,73 % pada stasiun 2. Indeks ekologi pada stasiun 1 memiliki keanekaragaman rendah, keseragaman rendah dan ada dominasi lamun. Sedangkan pada stasiun 2 memiliki keanekaragaman sedang, keseragaman sedang dan dominasi sedang. Total biomassa lamun pada stasiun 1 dan stasiun 2 sebesar 2970,01 g/m2 dan 1345,85 g/m2. Total estimasi kandungan karbon lamun pada stasiun 1 dan stasiun 2 sebesar 1000,61 gC/m2 dan  447,27 gC/m2. Global climate change can cause an increase in carbon dioxide levels in the atmosphere. Seagrass can reduce carbon dioxide levels in the atmosphere by absorbing inorganic carbon through the seagrass photosynthesis process and storing it in the form of organic carbon for a long time. Therefore, this study was conducted to determine species composition, density, cover, ecological index, biomass, and carbon in seagrass vegetation in Prawean Beach, Jepara. This research uses purposive sampling data collection method. Data collection on the condition of seagrass beds refers to the 2014 LIPI method by recording the cover and density of seagrass. Seagrass sampling used random seagrass cores. Seagrass samples were processed by the Loss On Ignition (LOI) method to determine the carbon content. Furthermore, the carbon content data is converted based on the value of seagrass biomass. There are 5 types of seagrass found on Prawean Beach, namely Cymodocea rotundata, Thalassia hemprichiii, Oceana serrulata, Enhalus acoroides and Halodule uninervis. The density of seagrass in Prawean Beach can reach 1717 individuals/m2 at station 1 and 780 individuals/m2 at station 2. The percentage of total seagrass cover in Prawean Beach is 39.20% at station 1 and 22.73% at station 2. station 1 has low diversity, low uniformity and there is a dominance of seagrass. While at station 2 has moderate diversity, moderate uniformity and moderate dominance. The total biomass of seagrass at station 1 and station 2 was 2970.01 g/m2 and 1345.85 g/m2. The total estimated carbon content of seagrass at station 1 and station 2 is 1000.61 gC/m2 and 447.27 gC/m2.
POTENSI BAKTERI KONSORSIUM SIMBION SERASAH MANGROVE SEBAGAI PENGAWET ALAMI MAKANAN TAHU Pringgenies, Delianis; Anggelina, Amelia Cahya; Setyati , Wilis Ari; Djunaedi, Ali
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 12 No. 1 (2020): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (283.899 KB) | DOI: 10.29244/jitkt.v12i1.27536

Abstract

Bakteri simbion serasah mangrove diketahui memiliki aktifitas antibakteri terhadap bakteri Staphilococcus aureus, namun belum banyak dilakukan penelitian terhadap bakteri yang bersimbion dengan serasah mangrove sebagai inovasi bahan alami untuk mengawetkan makanan khususnya tahu. Pada penelitian ini digunakan bakteri konsorsium dari limbah mangrove. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui potensi bakteri konsorsium sebagai bahan pengawet makanan tahu. Tahu direndam dengan kultur cair bakteri konsorsium sebagai perlakuan, sedangkan untuk kontrol positif dilakukan perendaman terhadap tahu menggunakan formalin 37%, dan untuk kontrol negatif tahu tidak diberikan perlakuan apapun. Hasil pengamatan organoleptis pada hari kedua menunjukkan bahwa tahu dari semua perlakuan tidak mengalami perubahan bau, warna dan tekstur, sedang tahu tanpa perlakuan mengalami perubahan bau yang lebih asam, warna kekuningan dan tekstur lebih lembek. Hari ketiga, tahu perlakuan bakteri konsorsium sedikit mengalami perubahan bau dan warna kekuningan dan tekstur agak lembek, perlakuan formalin tidak mengalami perubahan warna sama sekali, namun teksturnya semakin mengeras dan berbau formalin. Jumlah bakteri pada tahu yang diberi perlakuan rendaman bakteri konsorsium memiliki jumlah paling sedikit (6,795x103) dibandingkan dengan jumlah bakteri pada perlakuan formalin (9,766x103) dan tanpa perlakuan (9,766 x 103).