Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

STUDI DESKRIPTIF PENINGKATAN LITERASI BUD MEMELIHARA LINGKUNGAN DI KOTA DKI JAKARTA Puji Hadiyanti
Jurnal AKRAB Vol. 8 No. 2 (2017): Desember 2017
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v8i2.167

Abstract

Konsep pengentasan kemiskinan oleh pemerintah mengalami perubahan, yakni penanggulangan kemiskinan secara terpadu dengan basis pemberdayaan masyarakat. Konsep pengentasan kemiskinan berbasis pemberdayaan masyarakat digunakan karena diyakini sumber masalah kemiskinan dan keterbelakangan adalah ketidakberdayaan. DKI Jakarta memiliki berbagai permasalahan, diantaranya adalah masalah kemiskinan dan masalah sampah yang berdampak pada degradasi lingkungan. Di kota DKI Jakarta terdapat komunitas yang peduli akan masalah lingkungan, keberadaan komunitas tersebut bertujuan mengatasi masalah kemiskinan dan masalah sampah dengan melakukan peningkatan literasi budaya menjaga lingkungan bagi anggotanya. Kajian ini berupaya untuk mendeskripsikan suatu fenomena peran aktif suatu komunitas dalam peningkatan literasi budaya menjaga lingkungan (sampah) dengan mensinergikan antara kebutuhan melek teknologi dengan perkembangan teknologi-informasi sekaligus peningkatan pendapatan melalui kegiatan literasi memelihara lingkungan. Pada kajian ini, pendekatan yang digunakan ialah kualitatif dengan menggunakan pedoman wawancara, lembar observasi serta dokumentasi sebagai instrumen pengumpul datanya. Adapun dalam menganalisis data, digunakan teknik reduksi, display data serta penarikan kesimpulan dan verifi kasi. Hasil kajian ini yakni mendapatkan deskripsi data berupa fenomena bahwa system daur ulang sampah yang diterapkan pada komunitas tersebut berorientasi pada peningkatan pendapatan rumah tangga sekaligus memberikan penguatan (reinforcement) dalam hal pengenalan teknologi kepada masyarakat itu sendiri melalui kegiatan literasi memelihara lingkungan sehingga literasi budaya memelihara lingkungan dari para anggota meningkat.
The Housewives Intrapersonal Communication Coaching for Strengthening The Family Resilience Nararia Hutama Putra; Daddy Darmawan; Sri Kuswantono; Puji Hadiyanti; Fahtia Maharani; Joko Adi Saputra
Prosiding Seminar Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 5 No. 1 (2024): PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT - SNPPM2024
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Housewives play a crucial role in maintaining the stability and resilience of the family, yet this vital role is often undervalued by society and other family members. This community service initiative is conducted as a response to the stigma faced by housewives, whose roles are frequently questioned, the persistence of patriarchal hegemony in Indonesian society, and the limited access to knowledge and education for women in rural areas. These factors create significant pressure on housewives, particularly due to their inability to express long-held feelings. This community service activity was conducted in Bulak Village, Jatibarang District, Indramayu, involving 20 members of the Family Welfare Empowerment (PKK). The objective was to help strengthen the family resilience through housewives by enhancing their intrapersonal communication skills. The initiative was carried out using the GROW Coaching Model, which is expected to improve basic intrapersonal communication skills. The activities included training, focused discussions, and group reflections to reinforce these skills. The outcome of this community service initiative provided initial insights into how housewives understand themselves. This was evident from the participants willingness to express various negative emotions and feelings that had been suppressed due to family circumstances. Additionally, the discussions helped to emphasize the importance of effectively managing emotions so that participants do not feel overwhelmed and can remain happy in fulfilling their roles within the family. Furthermore, the participants gained a deeper understanding that the quality of communication within the family is foundational to creating an empowered family. In conclusion, this community service initiative successfully contributed to the development of housewives intrapersonal communication skills, significantly strengthening family resilience and fostering better relationships within the family. Keywords: Family Resilience, Grow Coaching Model, Intrapersonal Communication Abstrak Ibu rumah tangga memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas dan ketahanan keluarga, namun peran vital seorang ibu rumah tangga ini seringkali tidak dihargai oleh masyarakat bahkan anggota keluarganya sendiri. Gagasan pelaksanaan pengabdian masyarakat ini muncul sebagai respon atas stigma yang diberikan kepada ibu rumah tangga, dimana perannya sering dipertanyakan, hal ini merupakan bentuk gambaran hegemoni patriarki yang mendarah daging di masyarakat Indonesia, selain itu diskriminasi ini juga muncul dan membuat terbatasnya akses pengetahuan serta pendidikan bagi perempuan di daerah pedesaan. Faktor-faktor tersebut memberikan tekanan yang cukup besar bagi Perempuan dalam hal ini ibu rumah tangga. Tekanan tersebut memberikan dampak akumulasi emosi negatif yang tidak berhasil di validasi karena ketidakmampuan untuk mengekspresikan perasaan yang telah lama terpendam. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan di Desa Bulak, Kecamatan Jatibarang, Indramayu, yang melibatkan 20 anggota PKK. Tujuan pelaksanaan pengabdian ini adalah untuk membantu memperkuat ketahanan keluarga melalui ibu rumah tangga dengan meningkatkan keterampilan komunikasi intrapersonal mereka dengan menggunakan Model Coaching GROW yang diharapkan dapat meningkatkan keterampilan dasar komunikasi intrapersonal. Pengabdian masyarakat ini berfokus pada 3 inti kegiatan yakni pelatihan, Focus Group Discussion, dan refleksi kelompok untuk memperkuat keterampilan tersebut. Adapun harapan pelaksanaan pengabdian masyarakat ini adalah untuk memberikan wawasan awal tentang bagaimana ibu rumah tangga memahami diri mereka sendiri. Pelaksanaan kegiatan pengabdian ini berlangsung baik dan sukses dapat dilihat dari kesediaan peserta untuk mengekspresikan berbagai emosi negatif dan perasaan yang telah lama dipendam akibat kondisi keluarga. Selain itu, FGD membantu menekankan pentingnya mengelola emosi secara efektif agar peserta tidak merasa kewalahan dan tetap bahagia dalam menjalankan peran mereka di dalam keluarga. Para peserta juga memperoleh pemahaman yang lebih mendalam bahwa kualitas komunikasi dalam keluarga merupakan fondasi untuk menciptakan keluarga yang berdaya. Dapat ditarik kesimpulan bahwa pengabdian masyarakat ini berhasil memberikan kontribusi pada pengembangan keterampilan komunikasi intrapersonal ibu rumah tangga, secara signifikan dalam memperkuat ketahanan keluarga dan mendorong hubungan yang lebih baik dalam keluarga. Kata kunci: Ketahanan Keluarga, Model Coaching Grow, Komunikasi Intrapersonal
PELATIHAN BEAUTYSHOOT: PENGANTIN TRADISIONAL, FOTOGRAFI, DAN NARASI BUDAYA Retno Dwi Lestari; Elais Retnowati; Puji Hadiyanti; Elsa Fitri Ana; Hafid Abbas; Ahmad Rofi
Prosiding Seminar Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2025): PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT - SNPPM2025
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Lembaga Sertifikasi Kompetensi Tata Rias Pengantin (LSK-TRP) berperan dalam meningkatkan mutu dan profesionalisme perias pengantin tradisional, namun menghadapi tantangan eksternal berupa rendahnya pemahaman pengantin tradisional (5%), rendahnya jumlah peserta uji kompetensi (30,5%), rendahnya kebutuhan sertifikat di dunia industri, serta rendahnya minat pelatihan, disertai kelemahan internal berupa ketergantungan pada Program PKK dan rendahnya relevansi konten Instagram sebagai sarana edukasi. Analisis SWOT menunjukkan perlunya peningkatan keterampilan fotografi media sosial, sehingga dilaksanakan Pelatihan Beautyshoot dengan pendekatan participatory photography methods untuk mengoptimalkan foto sebagai media pembelajaran berbasis pengalaman nyata. Kegiatan ini dilakukan melalui lima tahapan, yaitu inisiasi berupa pemaparan pentingnya media sosial, kualitas gambar, dan narasi visual- orientasi konsep melalui penjelasan teknis pencahayaan, sudut, dan komposisi- pelaksanaan berupa praktik pengambilan gambar dengan model dan backdrop- analisis kesesuaian hasil foto dengan narasi- serta diseminasi melalui publikasi karya di media sosial dan forum internal LSK-TRP. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan keterampilan fotografi peserta, penguatan dokumentasi keunikan pengantin tradisional, serta optimalisasi media sosial sebagai ruang pembelajaran, promosi, dan pemberdayaan. Abstract The Professional Certification Institute for Traditional Bridal Makeup (LSK-TRP) plays a significant role in enhancing the quality and professionalism of traditional bridal makeup artists. However, it faces several external challenges, including limited public understanding of traditional bridal makeup (5%), a low number of competency test participants (30.5%), minimal demand for certification within the industry, and limited interest in training programs. These are compounded by internal weaknesses such as dependence on the PKK Program and the limited relevance of Instagram content as an educational medium. A SWOT analysis indicates the need to strengthen social media photography skills; therefore, a beauty-shoot training program was implemented using participatory photography methods to optimize photography as an experiential learning medium. The program was conducted through five stages: (1) initiation, consisting of raising awareness of the importance of social media, image quality, and visual narratives; (2) conceptual orientation, including technical explanations of lighting, angles, and composition; (3) implementation, involving hands-on practice with models and backdrops; (4) analysis, evaluating the alignment between photographs and narratives; and (5) dissemination, through the publication of works on social media and internal LSK-TRP forums. The results demonstrate an improvement in participants’ photography skills, strengthened documentation of the uniqueness of traditional bridal makeup, and the optimization of social media as a platform for learning, promotion, and empowerment.
PENGEMBANGAN KAPASITAS KADER KESEHATAN DALAM UPAYA PENCEGAHAN HIV/AIDS PADA KELOMPOK POTENSIAL PEKERJA MIGRAN Fitri Khoiriyah Parinduri; Karta Sasmita; Nararia Hutama Putra; Puji Hadiyanti; Sri Kuswantono; Asma Syifa Nabihah; Joko Adisaputra; Khusni Mubaroq; Ananda Firly Wiyogi; Adi Susilo
Prosiding Seminar Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2025): PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT - SNPPM2025
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Tingginya kasus HIV/AIDS di Indramayu, dengan 4.970 kasus HIV dan 581 kasus AIDS pada tahun 2022, menunjukkan urgensi untuk upaya pencegahan dan penanganan yang efektif, terutama pada kelompok rentan seperti pekerja migran. Program pengembangan kapasitas kader kesehatan dirancang untuk meningkatkan peran kader dalam memberikan edukasi, konseling, dan pendampingan kepada pekerja migran. Tujuannya adalah membekali kader dengan keterampilan komunikasi, pemahaman kebijakan kesehatan, dan metode pencegahan HIV/AIDS, serta mendorong perubahan perilaku sehat pada kelompok sasaran. Metode yang digunakan mencakup pelatihan teknis, komunikasi interpersonal, dan praktik pembuatan media edukasi digital .Hasil pengabdian menunjukkan bahwa sebanyak 65% kader mengalami peningkatan pengetahuan melalui pre-test dan post test. Program ini membuktikan bahwa pemberdayaan kader berbasis komunitas adalah strategi efektif untuk mendukung pencapaian SDGs ke-3 yaitu Kesehatan dan Kesejahteraan. Abstract The high prevalence of HIV/AIDS in Indramayu with 4,970 HIV cases and 581 AIDS cases reported in 2022 underscores the urgent need for effective prevention and intervention strategies, particularly among vulnerable populations such as migrant workers. This community empowerment program was designed to enhance the capacity of community health cadres in delivering education, counseling, and support services to potential and current migrant workers. The program aimed to equip cadres with essential communication skills, knowledge of health policies, and evidence-based HIV/AIDS prevention methods, while also promoting healthy behavioral change among target groups. Implementation methods included technical training, interpersonal communication workshops, and hands-on practice in developing digital educational media. The community service results showed that 65% of the health cadres demonstrated improved knowledge, as measured through pre-test and post-test assessments. This initiative demonstrated that community-based cadre empowerment is an effective strategy to support the achievement of Sustainable Development Goal 3 (Good Health and Well-being).
IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN HOLISTIK DAN PENINGKATAN KOMPETENSI TUTOR PENDIDIKAN KESETARAAN UNTUK MEWUJUDKAN PEMBELAJARAN YANG INKLUSIF, BERMANFAAT, DAN BERKARAKTER Karta Sasmita; Daddy Darmawan; Adi Irvansyah; Puji Hadiyanti; Nararia Hutama Putra; Setiawan Wibowo; Retno Dwi Lestari; Fitri Khoiriyah Parinduri; Asma Syifa Nabihah; Fera Kuraysia; Sylvia Octaviani Tambunan
Prosiding Seminar Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2025): PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT - SNPPM2025
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan Kesetaraan memainkan peran penting dalam memberikan akses pendidikan bagi masyarakat yang tidak dapat mengikuti pendidikan formal. Kualitas tutor menjadi faktor kunci dalam keberhasilan program ini. Pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk mengembangkan kemampuan tutor dalam mengimplenetasikan Model Pembelajaran Holistik yang mengintegrasikan aspek akademik, sosial-emosional, nilai-nilai karakter, dan keterampilan kehidupan nyata untuk meningkatkan kompetensi tutor di PKBM Jingga Kota Bekasi. Metode yang digunakan mencakup pelatihan intensif kepada tutor, pengenalan media pembelajaran interaktif, dan evaluasi berkala. Hasil pengabdian menunjukkan peningkatan kompetensi tutor sebesar 40%, serta motivasi belajar peserta didik yang meningkat 30%. Pembelajaran yang inklusif dan bermakna berhasil meningkatkan kualitas pendidikan di PKBM Jingga, dengan produk yang dihasilkan berupa buku panduan, modul pelatihan, dan platform e-learning yang dapat digunakan secara berkelanjutan. Kesimpulannya, penerapan model ini dapat meningkatkan kualitas pembelajaran yang inklusif, bermanfaat, dan berkarakter di Pendidikan Kesetaraan. Abstract Equivalency Education plays a pivotal role in expanding access to learning for individuals unable to participate in formal schooling. Tutor quality is a key determinant of program success. This community service program aimed to strengthen tutors’ capacity to implement a Holistic Learning Model that integrates academic content, socio-emotional development, character values, and real-life skills, thereby improving tutor competence at PKBM Jingga, Bekasi City. The methods included intensive tutor training, the introduction of interactive learning media, and regular evaluations. The program yielded a 40% increase in tutor competence and a 30% rise in learner motivation. Inclusive and meaningful learning improved the overall quality of education at PKBM Jingga, with tangible outputs including a guidebook, training modules, and a sustainable e-learning platform. In conclusion, implementing this model can enhance inclusive, impactful, and character-building learning in Equivalency Education.