Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

Literasi Media Digital Ditengah Pesatnya Perkembangan Pemberitaan di Media Sosial Kompas.com Khairun Alfisyahri. MJ; Aryo Subarkah Eddyono
Retorika: Jurnal Komunikasi, Sosial dan Ilmu Politik Vol. 1 No. 1 (2024): Retorika: Jurnal Komunikasi, Sosial dan Ilmu Politik
Publisher : Retorika: Jurnal Komunikasi, Sosial dan Ilmu Politik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan teknologi tumbuh dengan pesat pada saat ini, hal ini terlihat dari perkebangan media massa yang ada di Indonesia. Bermula dari media konvesional seperti surat kabar, televisi, radio kini media massa bertransformasi menjadi media digital hingga ditayangkan di berbagai platform media sosial. Hal ini tentu dipengaruhi oleh banyak faktor antaranya, perkembangan teknologi yang semakin cepat salah satunya adalah internet. Selain itu Literasi media digital juga tumbuh pesat dengan adanya internet, hal ini membuat masyarakat dengan mudahnya mendapatkan informasi atau pemberitaan dari berbagai sumber yang ada salah satunya media sosial. Kompas,com hadir melalui beberapa media sosial guna mempertahankan eksistensinya sebagai media online di Indonesia, seperti Instagram, Facebook, Twitter, TikTok hingga media broadcasting seperti Youtube.
Resepsi Enviromental Enthusiast terhadap Posisi Pemerintah dalam Kampanye #SaveRajaAmpat oleh Media Greenpeace Indonesia Rao, Saira Saima; Eddyono, Aryo Subarkah
Warta Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia Vol 8, No 2 (2025): Warta Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia
Publisher : Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25008/wartaiski.v8i2.443

Abstract

Abstract - This study aims to analyze how the reception of the government's role is formed through the #SaveRajaAmpat campaign by Greenpeace Indonesia media, especially from the perspective of environmental enthusiasts. The campaign highlights the impact of environmental damage caused by nickel mining activities in the Raja Ampat conservation area, Papua. The study uses a qualitative approach with a case study method. Data collection techniques were carried out through in-depth interviews with environmental enthusiasts who actively follow Greenpeace Indonesia's campaign content on various social media platforms, as well as observations of the campaign content. Stuart Hall's reception theory was used to analyze the process of media message interpretation by the audience. The results show that the informants are in a hegemonic position, namely fully accepting the narrative constructed by Greenpeace Indonesia regarding environmental damage and government responsibility. The informants view the government as the main actor in granting mining permits in conservation areas and assess the revocation of permits carried out only as a response to digital public pressure, not as a form of commitment to protecting the environment. The narrative conveyed by Greenpeace is considered credible, based on open research data delivered with critical emotional audio and visuals, and without commercial interests. These findings show that the media plays a major role in shaping public opinion, ecological awareness and show how audiences actively and critically interpret media messages even when they support the dominant narrative.Keywords: Greenpeace Indonesia; #SaveRajaAmpat; Environmental; Enthusiast; Government Reception Abstrak - Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana resepsi terhadap peran pemerintah dibentuk melalui kampanye #SaveRajaAmpat oleh media Greenpeace Indonesia, khususnya dari sudut pandang environmental enthusiast. Kampanye tersebut menyoroti dampak kerusakan lingkungan akibat aktivitas pertambangan nikel di wilayah konservasi Raja Ampat, Papua. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam terhadap environmental enthusiast yang aktif mengikuti konten kampanye Greenpeace Indonesia di berbagai platform media sosial, serta observasi terhadap konten kampanye tersebut. Teori resepsi Stuart Hall digunakan untuk menganalisis proses pemaknaan pesan media oleh audiens. Hasil penelitian menunjukkan bahwa para informan berada pada posisi terhegemoni, yaitu menerima sepenuhnya narasi yang dibangun Greenpeace Indonesia mengenai kerusakan lingkungan dan tanggung jawab pemerintah. Para informan memandang pemerintah sebagai aktor utama dalam pemberian izin tambang di wilayah konservasi dan menilai tindakan pencabutan izin yang dilakukan hanya sebagai respons terhadap tekanan publik secara digital, bukan sebagai bentuk komitmen untuk menjaga lingkungan. Narasi yang disampaikan Greenpeace dianggap kredibel, berbasis data riset terbuka disampaikan dengan audio dan visual yang kritis emosional, serta tanpa kepentingan komersial. Temuan ini menunjukkan bahwa media berperan besar dalam membentuk opini publik, kesadaran ekologis dan memperlihatkan bagaimana khalayak secara aktif dan kritis memaknai pesan media meskipun mendukung narasi dominan. Kata kunci: Greenpeace Indonesia; #SaveRajaAmpat; Lingkungan; Antusias; Resepsi Pemerintah
Strategi Lintas Media dalam Visualisasi Kebijakan APBN: Studi Kasus Konten Karikatur dan Video di Instagram oleh Tim Kreatif Kementerian Keuangan Iga Trisna Purnama Dewi Ningrat; Aryo Subarkah Eddyono
Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Vol. 7 No. 5 (2025): RESLAJ: Religion Education Social Laa Roiba Journal
Publisher : Intitut Agama Islam Nasional Laa Roiba Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47467/reslaj.v7i5.7983

Abstract

This study explores the cross-media communication strategy employed by the Creative Team of the Public Communication and Information Services Bureau (KLI) of Indonesia's Ministry of Finance in delivering fiscal policy information via Instagram. Using a descriptive qualitative approach and case study method, the research analyzes two types of visual content—namely the caricature “APBN Bisa Yura” and the video “Rapor Bulanan #UangKita.” The focus lies on examining the pre-production to post-production stages, and how complex policy narratives are transformed into accessible, visually engaging formats that are algorithmically adaptive and psychologically resonant with digital audiences. Findings indicate that the effectiveness of content does not solely depend on visual aesthetics or engagement metrics, but on the integration of mini-research, strategic visual element selection, and systematic use of platform insights. The results demonstrate that institutional visual communication has evolved into a complex, data-driven creative process, where public policy meaning is constructed and distributed across multiple media platforms. This research contributes novelty in three major aspects: (1) a focus on internal governmental actors in developing visual communication strategies; (2) the application of data and algorithm-driven approaches within institutional creative workflows; and (3) a deep examination of the full visual content production cycle within a governmental context. Moreover, the findings affirm that the Ministry of Finance’s visual communication practices are deeply shaped by mediatization—the integration of media logic into institutional processes—as a strategic response to a highly visual and competitive public communication landscape.
Resepsi Enviromental Enthusiast terhadap Posisi Pemerintah dalam Kampanye #SaveRajaAmpat oleh Media Greenpeace Indonesia Saira Saima Rao; Aryo Subarkah Eddyono
Warta Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia Vol. 8 No. 2 (2025): Warta Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia
Publisher : Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25008/wartaiski.v8i2.443

Abstract

Abstrak - Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana resepsi terhadap peran pemerintah dibentuk melalui kampanye #SaveRajaAmpat oleh media Greenpeace Indonesia, khususnya dari sudut pandang environmental enthusiast. Kampanye tersebut menyoroti dampak kerusakan lingkungan akibat aktivitas pertambangan nikel di wilayah konservasi Raja Ampat, Papua. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam terhadap environmental enthusiast yang aktif mengikuti konten kampanye Greenpeace Indonesia di berbagai platform media sosial, serta observasi terhadap konten kampanye tersebut. Teori resepsi Stuart Hall digunakan untuk menganalisis proses pemaknaan pesan media oleh audiens. Hasil penelitian menunjukkan bahwa para informan berada pada posisi terhegemoni, yaitu menerima sepenuhnya narasi yang dibangun Greenpeace Indonesia mengenai kerusakan lingkungan dan tanggung jawab pemerintah. Para informan memandang pemerintah sebagai aktor utama dalam pemberian izin tambang di wilayah konservasi dan menilai tindakan pencabutan izin yang dilakukan hanya sebagai respons terhadap tekanan publik secara digital, bukan sebagai bentuk komitmen untuk menjaga lingkungan. Narasi yang disampaikan Greenpeace dianggap kredibel, berbasis data riset terbuka & disampaikan dengan audio dan visual yang kritis & emosional, serta tanpa kepentingan komersial. Temuan ini menunjukkan bahwa media berperan besar dalam membentuk opini publik, kesadaran ekologis dan memperlihatkan bagaimana khalayak secara aktif dan kritis memaknai pesan media meskipun mendukung narasi dominan.   Kata kunci: Greenpeace Indonesia; #SaveRajaAmpat; Lingkungan; Antusias; Resepsi Pemerintah
Exposing Commodification Practices in TVOne's Talk Show X Production Related to Issues the Murder of Brigadier Yosua Hutabarat (Vincent Mosco's Approach) Dwi Anggia Ritmadhini; Aryo Subarkah Eddyono
Profetik: Jurnal Komunikasi Vol. 17 No. 2 (2024)
Publisher : Faculty of Social Sciences and Humanities Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/pjk.v17i2.3054

Abstract

The political economy in the TV industry forces a TV company to take various steps to sustain its business. This also happens in TVOne, particularly in the production of talk show X, where the commodification of content, viewers, and workers occurs. This study aims to explore the economic and political practices within the production process of talk show X, from the commodification of content, audience, and workers, particularly related to the murder of Brigadier Yosua Hutabarat. This is qualitative research that is conducted using a critical paradigm. The data were collected through in-depth interviews, observation, and document studies linked to Vincent Mosco’s theory. The results show that the content and audience data of Talk Show X are turned (turns) into commodities that have valued and generated profits for media companies, also, the worker commodification occurred against Talk Show X stakeholders. This research is limited to the economic and political practices within the production of talk show X, focusing on the murder of Brigadier Yosua Hutabarat which involved senior police officials, Inspector General Police Ferdy Sambo. The originality of this research lies in its specific focus on an in-depth analysis of the stage of the commodification of content, audience, and workers in the production process of talk show X, with particular emphasis on the murder of Brigadier Yosua Hutabarat
Exploring The Management Of Community Radio In The Digital Era: A Case Study Of Radio Bamba Ata Fudholi; Aryo Subarkah Eddyono
Journal of Social Research Vol. 4 No. 10 (2025): Journal of Social Research
Publisher : International Journal Labs

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55324/josr.v4i9.2785

Abstract

Amid the pressure of digitalization and a lack of structural support, community radio in Indonesia is struggling to survive as a voice space for citizens. This study examines the sustainability strategy of community radio that is still active and adaptive in the midst of the challenges of the times, namely Radio Bamba (Balaraja). Radio Bamba is a representation of an alternative form of community-based media that relies on the values of participation, solidarity, and local culture. Through a qualitative approach with in-depth interview techniques with managers, broadcasters, active listeners, and representatives of the Indonesian Community Radio Network (JRKI), this study found that adaptation to social media was carried out in a contextual and gradual manner. Radio Bamba, with its network of young managers and a digital entertainment approach, leverages channels such as YouTube and WhatsApp to expand participation. Regulatory pressures and limited resources have led to the emergence of defensive strategies that are informal, but still ethical according to community standards. These findings show that the resilience of community radio is not only in its technological capacity, but in its social power and long-term commitment that grows from affective relationships with citizens. By placing social media as a bridge, not a destination, community radio still has a meaningful living space amidst an increasingly automated media landscape.
Di Balik Layar Otomasi: Membedah Invisible Labor dalam Produksi Konten AI pada ImagiCartoonStudio Ghaisani Dwi Miranti; Aryo Subarkah Eddyono
JPNM Jurnal Pustaka Nusantara Multidisiplin Vol. 4 No. 2 (2026): May : Jurnal Pustaka Nusantara Multidisiplin (ACCEPTED)
Publisher : SM Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59945/jpnm.v4i2.1243

Abstract

Studi ini bertujuan membedah fenomena invisible labor atau tenaga kerja tak tampak dalam ekosistem produksi konten berbasis kecerdasan buatan (AI) pada ImagiCartoonStudio, sebuah entitas kreatif digital di Indonesia yang mengkhususkan diri pada karakter kartun 3D. Menggunakan kerangka teoritis Brooke Erin Duffy mengenai aspirational labor dan social media work, penelitian ini menganalisis bagaimana narasi otomasi yang dipromosikan oleh teknologi AI sering kali mengaburkan peran vital manusia dalam proses kurasi, penyuntingan, dan manajemen algoritma. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan analisis teks dan analisis visual terhadap profil Instagram @imagicartoonstudio. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di balik efisiensi teknologi yang ditawarkan, terdapat beban kerja afektif dan teknis yang bersifat always-on bagi para praktisinya. Profil Instagram studio ini menunjukkan "paradoks visibilitas", di mana produk akhir yang sangat halus (polished) ditampilkan sebagai hasil otomasi yang mudah, sementara kerja keras di balik layar untuk menjinakkan algoritma dan menjaga konsistensi merek tetap tidak diakui secara formal. Temuan ini menegaskan bahwa AI tidak menggantikan tenaga kerja kreatif, melainkan mengubahnya menjadi bentuk yang lebih terfragmentasi, tak berbayar, dan bersifat aspirasional, yang menuntut pembaruan dalam regulasi etika dan standar perlindungan pekerja digital di Indonesia.
Menyoroti Jurnalisme Warga: Lintasan Sejarah, Konflik Kepentingan, dan Keterkaitannya dengan Jurnalisme Profesional Eddyono, Aryo Subarkah; HT, Faruk; Irawanto, Budi
Jurnal Kajian Jurnalisme Vol 3, No 1 (2019): Kajian Jurnalisme
Publisher : Journalism Study Program, Faculty of Communication Sciences, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (262.888 KB) | DOI: 10.24198/jkj.v3i1.21762

Abstract

Jurnalisme warga, yang praktiknya masih bisa ditemui, adalah proses produksi informasi yang dilakukan warga biasa atas peristiwa yang terjadi di sekitarnya di berbagai media. Meskipun terlihat egaliter dan inklusif, pada kenyataannya praktik jurnalisme warga timpang dan diskriminatif. Artikel ini menunjukkan awal mula perjalanan jurnalisme warga dan hal apa saja yang melatarinya. Tujuannya adalah memberikan alternatif pandangan awal mula kehadiran jurnalisme warga, baik di dunia maupun di Indonesia. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, dokumen, serta kepustakaan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa praktik jurnalisme warga sudah sejak lama ada, bahkan lebih tua dari jurnalisme itu sendiri. Jurnalisme warga muncul karena kritik atas jurnalisme profesional yang partisan dan terlalu berorientasi pada pasar; perkembangan teknologi internet; situasi di mana jurnalisme profesional sejak awal keberadaanya tidak bisa dilepaskan dari warga; dan keinginan mendapatkan keuntungan. Di balik itu semua, kepentingan-kepentingan besar yang membayanginya adalah jurnalisme itu sendiri (jurnalisme profesional), demokrasi (kebebasan berekspresi dan menyampaikan pendapat), serta pasar. Ketiganya saling terkait dalam memotivasi kehadiran jurnalisme warga.
The Dilemmas And Parenting Strategies Of Working Parents In The Digital Age: The Roles And Challenges Of Parents In Raising Children In An Era Of Increasingly Advanced Technology Karina Damayanti; Aryo Subarkah Eddyono
Journal Research of Social Science, Economics, and Management Vol. 5 No. 9 (2026): Journal Research of Social Science, Economics, and Management
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jrssem.v5i9.1442

Abstract

As technology evolves, so do the concerns about children’s dependency on gadgets and the potential behavioral issues, such as aggression, that arise when devices are restricted. This research explores how digital media and technology impact parent-child relationships in the modern age, focusing on how parents manage their children's use of technology. By adopting a qualitative approach, this research examines the phenomenon of Intimate Surveillance, which describes how parents balance monitoring and guiding their children in the digital world with a focus on love and care, rather than authoritarian control. In this era, digital parenting requires a shift from traditional control toward understanding how children form their identities, values, and meaning through interactions in the digital space. The study highlights the complexities faced by parents in navigating the digital landscape, as they seek to maintain a balance between freedom and discipline. The findings emphasize that parents are no longer just authorities but partners in guiding their children’s digital experiences. The concept of Intimate Surveillance shows how parents act as both protectors and facilitators, helping children make responsible decisions in the digital world. The research underscores the importance of open communication, emotional support, and digital literacy as essential components of modern parenting. As children grow and engage more with technology, parents must adapt, ensuring that they foster a healthy, balanced relationship with technology that supports their children’s development while minimizing risks like addiction or exposure to inappropriate content.
Pendayagunaan Platform Media Sosial oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Candra Anggraini; Eli Jamilah Mihardja; Aryo Subarkah Eddyono
Warta Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia Vol. 8 No. 1 (2025): Warta Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia
Publisher : Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25008/wartaiski.v8i1.342

Abstract

Penelitian ini mengkaji tentang pendayagunaan teknologi informasi dan komunikasi oleh Kementerian Pekerjaan Umum dalam mendukung pelaksanaan tugas dan fungsi kelembagaan, khususnya dalam menyosialisasikan peran dan tanggung jawabnya kepada masyarakat luas. Peneliti berfokus pada pemanfaatan platform media sosial Instagram sebagai sarana komunikasi publik dan kendala yang dihadapi dalam implementasinya. Studi ini mengisi kesenjangan pada kurangnya kajian mengenai efektivitas penggunaan Instagram oleh lembaga pemerintahan teknis dalam menyampaikan informasi secara interaktif dan berkelanjutan. Dalam riset ini, peneliti berasumsi bahwa pemanfaatan media sosial memerlukan inovasi dan strategi konten yang relevan agar dapat mencapai efektivitas komunikasi yang optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan alasan penggunaan Instagram oleh Kementerian PU serta mengidentifikasi hambatan-hambatan dalam pemanfaatannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif guna menggambarkan secara mendalam fenomena komunikasi yang terjadi. Teori komunikasi publik dan konsep engagement digital digunakan sebagai dasar analisis untuk menginterpretasi data yang dikumpulkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun Instagram mampu memperluas jangkauan informasi kepada masyarakat, Kementerian PU menghadapi kendala berupa kurangnya inovasi dan improvisasi dalam pembuatan konten, serta menurunnya jumlah pengguna aktif Instagram di Indonesia sejak Agustus 2024. Kesimpulan dari penelitian ini menekankan perlunya strategi komunikasi yang lebih kreatif dan adaptif terhadap perubahan tren media sosial.