Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

PENDUGAAN UMUR SIMPAN EKSTRAK KERING BEKU BIJI MELINJO KERIKIL (GNETUM GNEMON L. “KERIKIL”) BERDASARKAN KADAR SENYAWA RESVERATROL DAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN bambang kunarto; nFN Sutardi; nFN Supriyanto; Chairil Anwar
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 16, No 2 (2019): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v16n2.2019.73-79

Abstract

Biji melinjo kerikil mengandung resveratrol yang merupakan senyawa turunan stilbenoid dan mempunyai aktivitas antioksidan. Selama penyimpanan, senyawa resveratol dapat mengalami perubahan berupa oksidasi dan degradasi yang berdampak pada aktivitas antioksidannya. Penelitian ini bertujuan menduga umur simpan ekstrak kering beku biji melinjo kerikil berdasarkan kadar resveratrol dan aktivitas antioksidan (penghambatan radikal DPPH) sebagai indikator kerusakan. Pendugaan umur simapn dilakukan dengan metoda accelerated shelf life test (ASLT). Metoda ini didasarkan pada penyimpanan pada kondisi yang direkayasa sehingga mempercepat yang terjadinya kerusakan. Penyimpanan dilakukan selama 35 hari pada suhu simpan 35°C, 45°C adn 55°C. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa parameter mutu kritis pada penyimpanan ekstrak kering beku melinjo kerikil adalah aktivitas antioksidan (penghambatan radikal DPPH) karena memiliki energi aktivasi (1301,09 kal/mol) yang lebih rendah dibandingkan energi aktivasi kadar senyawa recveratrol. Umur simpan ekstrak keirng beku biji melinjo kerikil pada penyimpanan 35; 45; 55 dan 28°C berturut-turut adalah 13,57 hari, 12,67 hari, 11,83 hari dan 14,56 hari. Shelf life estimation of melinjo kerikil seeds freeze-dried extract based on resveratrol and antioxidant activityMelinjo kerikil seeds contain resveratrol which is a stilbenoid derivative compound and has antioxidant activity. During storage, resveratrol can be dagraded which have an impact on their antioxidant activity. The aim of this study wa to estimate teh shelf life of melinjo kerikil seed freeze-dried extract based on resveratrol content and inhibition of DPPH radicals as an indicator of damage. Estimation of shelf life is carried out by the accelerated shelf life test (ASLT). This method is based on storage in conditions that are engineered so as to speed up the occurrence of damage. Storage is carried out for 35 days at the temperature of 35°C, 45°C, and 55°C. The results showed that the critical quality parameter in the storage of melinjo kerikil seed freeze-dried extracs was inhibition of DPPH radicals. This is because the activation energy of inhibition of DPPH radicals is lower than the revertrol activation energy. The Shelf life of melinjo kerikil seed freeze-dried extract at storage 35; 45; 55 and 28°C respectively were 13.57 days, 12.67 days, 11.83 days and 14.56 days. 
PENGARUH BERBAGAI LAMA BLANCHING KULIT MELINJO MERAH (Gnetum gnemon L.) TERHADAP TOTAL FENOLAT, TANIN, DAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN Deny Setia; Bambang Kunarto; Iswoyo Iswoyo
Jurnal Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian Vol 13, No 1 (2018): Februari
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (255.401 KB) | DOI: 10.26623/jtphp.v13i1.2373

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kadar senyawa total fenolat, tanin dan aktivitas antioksidan pada kulit melinjo segar dan setelah dilakukan blanching, serta mengetahui korelasi antara kadar senyawa total fenolat, tanin dengan aktivitas antioksidan kulit melinjo merah. Komponen fenol yang diteliti adalah kadar total fenolat, tanin dan aktivitas antioksi dan terkondensasi dengan menggunakan standar berturut-turut asam galat, persen, dan katekin. Aktivitas antioksidan diuji menggunakan 2,2- diphenyl-1-picrylhydrazyl (DPPH) sebagai penangkap radikal bebas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kulit melinjo yang telah dilakukan blanching pada suhu 100°C selama 4menit mempunyai kadar total fenolat,tanin dan aktivitas antioksidan,lebihtinggisecaranyatadibandingkulit melinjo segar yang diekstraksi dengan pelarut etanol 96% (1 : 5). Meningkatnya kadar komponen fenol kulit   melinjo   berkorelasi   secara   signifikan   dengan   meningkatnya   aktivitas antioksidan k u lit m el inj o setelah mengalami blanching dibanding segar. 
Karakteristik Nanoemulsi Ekstrak Buah Parijoto (Medinilla speciosa Blume) Zulhaq Dahri Siqhny; Mita Nurul Azkia; Bambang Kunarto
Jurnal Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian Vol 15, No 1 (2020): Februari
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (337.085 KB) | DOI: 10.26623/jtphp.v15i1.1888

Abstract

Parijoto (Medinilla speciosa) tumbuh subur dan tumbuh liar di lereng-lereng gunung atau di hutan-hutan pada tanah yang berhumus tinggi dan lembab di lereng gunung mulai pada ketinggian 700 hingga 2.300 meter diatas permukaan laut. Salah satu lokasi paling banyak ditemukan tanaman parijoto terdapat di lereng Pegunungan  Muria,  Desa  Colo,  Kecamatan  Dawe, Kabupaten  Kudus, Jawa Tengah. Buah parijoto mengandung senyawa fenolik dan flavonoid yang tinggi, diharapkan buah parijoto dapat digunakan sebagai alternatif pengganti antioksidan sintetik seperti Buttylated Hydroxyanisol (BHA) dan Butilated Hydroxytoluen (BHT). Senyawa BHA dan BHT sejak lama belum diterima sepenuhnya oleh konsumen karena dianggap berbahaya bagi kesehatan tubuh karena dianggap mengandung zat karsinogenik. Penggunaan buah parijoto sebagai antioksidan alami ke dalam makanan, minuman atau produk lainya dalam bentuk utuh maupun irisan sangat tidak efisien. Untuk itu perlu dilakukan tahap ekstraksi buah parijoto. Ultrasonic Assisted Extraction (UAE) adalah salah satu metode ektraksi dengan bantuan gelombang ultrasonik. metode ini adalah metode alternatif ekstraksi non-termal yang lebih efisien, lebih cepat, dan memungkinkan pengurangan pelarut, sehingga menghasilkan ekstrak murni dan yield yang lebih tinggi dibandingkan dengan ekstraksi konvesional. Untuk dapat meningkatkan efek yang optimum penggunaan ekstrak parijoto, diperlukan kondisi bahan yang baik, yaitu seperti bentuk sediaan nanoemulsi. Nanoemulsi merupakan partikel koloid padat dengan diameter 1-1000 nm. Dengan ukuran tersebut, globul-globul dapat terpenetrasi baik dan menembus lapisan pori bahan yang akan dicoating, sehingga ekstrak parijoto yang terlarut dalam globul akan banyak berpenetrasi. Sifat fisik dan stabilitas emulsi dipengaruhi oleh jenis dan konsentrasi emulgator. Jenis emulgator, Tween 80 dipilih dalam penelitian ini. Adanya emulgator yang ditambahkan akan menghasilkan monolayer yang mengelilingi droplet. Komposisi dari emulgator akan dikaji lebih lanjut, dimana Tween 80 yang memiliki nilai HLB 15 akan ditambahkan dengan beberapa variasi konsentrasi.
PENGARUH KONSENTRASI MALTODEKSTRIN TERHADAP KARAKTERISKTIK FISIKOKIMIA SERBUK EKSTRAK BUAH PARIJOTO (Medinilla speciosa Blume) Maslikhatul Ummah; Bambang Kunarto; Ery Pratiwi
Jurnal Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian Vol 16, No 1 (2021): Februari
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/jtphp.v16i1.4402

Abstract

The purpose of this research is to know the effect of increasing the concentration of maltodextrin on the physicochemical characteristics of parijoto fruit (Medinilla speciosa Blume) extract powder by analyzing yield, solubility, color intensity, air content, and anthocyanin content. The experimental design used in this study was a Completely Randomized Design (CRD) with one factor and 3 replications. The studied factors were the concentration of maltodextrin in making powder from parijoto fruit extract which consisted of 6 treatments, they are: 5%, 10%, 15%, 20%, 25%, and 30%. If there is a significant difference between treatments, further testing is carried out with the Duncan test at 5% level. The results showed that the addition of maltodextrin had a significant effect on all parameters of parijoto fruit extract powder. The best anthocyanin powder from parijoto fruit extract was the concentration of maltodextrin 10%, anthocyanin content 2.68 ppm, yield 12.48%, solubility 79.96%, water content 4.22%, lightening level (L*) 55.05, redness level (a*) 18.10, and yellowness level (b*) 16.64.
Lama Ekstraksi Kulit Melinjo Merah (Gnetum gnemon L.) Berbantu Gelombang Ultrasonik Menggunakan Pelarut Etil Asetat terhadap Likopen, β-Karoten dan Aktivitas Antioksidan Dewi Fatimatuzzahroh; Bambang Kunarto; Ery Pratiwi
Jurnal Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian Vol 15, No 2 (2020): SEPTEMBER
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/jtphp.v15i2.2664

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui  kadar likopen dan β-karoten serta aktivitas antioksidan hasil ekstraksi kulit melinjo merah (Gnetum gnemon L.) dengan berbagai lama waktu ekstraksi berbantu gelombang ultrasonik menggunakan pelarut etil asetat. Penelitian ini dilakukan secara laboratoris di Laboratorium Rekayasa Pangan dan Kimia Teknologi Hasil Pertanian Universitas Semarang pada Bulan Maret-Juni 2020. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan 6 perlakuan dan 3 kali ulangan. Perlakuan tersebut meliputi perlakuan lama esktraksi yang terdiri dari : perlakuan lama 10 menit (P1), 20 menit (P2), 30 menit (P3), 40 menit, (P4), 50 menit (P5), dan 60 menit (P6). Parameter yang diamati adalah likopen, β-karoten dan aktivitas antioksidan. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan ANOVA, dan apabila perbedaan akibat perlakuan dilanjutkan dengan uji wilayah ganda Duncan (DMRT) pada taraf 0,05%. Hasil penelitian menunjukkan ekstraksi kulit melinjo merah (Gnetum gnemon L.) berpengaruh terhadap likopen, β-karoten dan aktivitas antioksidan. Untuk mendapatkan likopen, β-karoten dan aktivitas antioksidan adalah pada waktu 20 menit (P2) yang menghasilkan likopen sebesar 209,51 ppm, β-karoten 126,44 µg/g dan aktivitas antioksidan 37,35%.
PENGARUH KONSENTRASI ETANOL PADA PROSES PENGENDAPAN PEKTIN KASAR KULIT DAN DAMI NANGKA (Artocarpus heterophyllus L. ) PASCA HIDROLIS DENGAN HCl TERHADAP KARAKTERISTIK PEKTIN KASAR Jumrotun Chasanah; Rohadi Rohadi; Bambang Kunarto; Ery Pratiwi
Jurnal Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian Vol 14, No 2 (2019): September
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (258.776 KB) | DOI: 10.26623/jtphp.v14i2.2435

Abstract

Jumrotun Chasanah, D.131.14.0065, Pengaruh Konsentrasi Etanol pada Proses Pengendapan Pektin Kasar Kulit Dan Dami Nangka (Artocarpus heterophyllus L.) Pasca Hidrolisis dengan HCl Terhadap Karakteristik Pektin Kasar Pembimbing : Rohadi dan Bambang Kunarto.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi etanol pada proses pengendapan pektin kasar kulit dan dami nangka (Artocarpus heterophyllus L.) pasca hidrolisis dengan HCl terhadap karakteristik pektin kasar. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Biologi Farmasi Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Yayasan Pharmasi Semarang pada bulan Desember2018Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor (konsentrasi etanol), 5 perlakuan konsentrasi etanol (50%, 60%, 70%, 80%, 90%) 4 kali ulangan. Variabel yang diamati antara lain yield, kadar air, kadar abu, berat ekuivalen, kadar metoksil dan kadar galakturonat. Data yang diperoleh dianalisis ragam dan Apabila ada perbedaan antar perlakuan maka diuji lanjut   dengan uji LSD pada taraf 5%. Konsentrasi etanol 90 % sesuai digunakan untuk proses pengendapan pasca hidrolisis dengan HCl dengan Yield 10,31 ± 0,133 %.Hasil Penelitian menunjukan bahwa karakteristik pektin kasar meliputi kadar air 2,02 ± 0,183%, kadar abu 3,00 ± 0,124 %, berat ekuivalen 1235,16 ± 40,05 kadar metoksil 9,17 ± 0,668 % dan kadar galakturonat 265,35 ± 4,266 %.
TOTAL FENOLIK, FLAVONOID, ANTOSIANIN. DAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN OLEORESIN FULI PALA (Myristica Fragrans Houtt) YANG DIEKSTRAK MENGGUNAKAN METODE SOLID LIQUID MICROWAVE ASSISTED EXTRACTION Bambang Kunarto; Putri Arum Wijayanti; Ery Pratiwi; Rohadi Rohadi
Jurnal Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian Vol 14, No 1 (2019): Februari
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (317.543 KB) | DOI: 10.26623/jtphp.v13i1.1845

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh waktu ekstraksi fuli pala (Myristica fragrans Houtt) dengan menggunakan metode Solid Liquid Microwave Assisted Extraction terhadap total fenolik, flavonoid, antosianin, dan aktivitas antioksidan fuli pala (Myristica frgrans Houtt). Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah kepada masyarakat terutama pada industri pala mengenai pemanfaatan ekstraksi fuli pala menggunakan microwave.            Rancangan percobaan yang dilakukan adalah menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor 6 perlakuan dan tiga kali ulangan, yaitu perlakuan  (P0) tanpa perlakuan hanya maserasi, (P1) perlakuan ekstraksi selama 2 menit, (P2) perlakuan ekstraksi selama 4 menit, (P3) perlakuan ekstraksi selama 6 menit, (P4) perlakuan ekstraksi selama 8 menit,  (P5) perlakuan ekstraksi selama 10 menit dan P0 sebagai kontrol. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis sidik ragam, lalu apabila terdapat perbedaan akibat perlakuan dilanjutkan dengan menggunakan uji jarak berganda atau biasa disebut Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) taraf 5%.            Hasil penelitian menunjukkan ekstraksi oleoresin fuli pala (Myristica fragrans Houtt) berpengaruh terhadap total fenolik, flavonoid, antosianin, dan aktiviitas antioksidan.
Pengaruh Lama Ekstraksi Kulit Melinjo Merah (Gnetum gnemon L.) Berbantu Gelombang Ultrasonik Terhadap Yield, Fenolik, Flavonoid, Tanin dan Aktivitas Antioksidan Lisan Mella Rujiyanti; Bambang Kunarto; Ery Pratiwi
Jurnal Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian Vol 15, No 1 (2020): Februari
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (321.664 KB) | DOI: 10.26623/jtphp.v15i1.2290

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui yield, fenolik, flavonoid, tanin dan aktivitas antioksidan pada ekstrak kulit melinjo merah dengan berbagai lama ekstraksi berbantu gelombang ultrasonik. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah kepada masyarakat tentang pemanfaatan ekstraksi kulit melinjo merah berbantu gelombang ultrasonik. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 6 perlakuan dan diulang sebanyak 3 kali, yaitu perlakuan lama ekstraksi 10 menit (P1), perlakuan lama ekstraksi 20 menit (P2), perlakuan lama ekstraksi 30 menit (P3), perlakuan lama ekstraksi 40 menit (P4), perlakuan lama ekstraksi 50 menit (P5), dan perlakuan lama ekstraksi 60 menit (P6). Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan ANOVA, dan apabila perbedaan akibat perlakuan dilanjutkan dengan uji wilayah ganda Duncan (DMRT) pada taraf 0,05%. Hasil penelitian menunjukkan ekstraksi kulit melinjo merah berbantu gelombang ultrasonik berpengaruh terhadap yield, fenolik, flavonoid, tanin dan aktivitas antioksidan. Untuk mendapatkan yield, fenolik, flavonoid, tanin dan aktivitas antioksidan terbaik adalah pada waktu 30 menit (P3) yang mneghasilkan yield sebesar 17,86%, fenolik 2,74 mg GAE/g, flavonoid 2,30 mg QE/g, tanin 2,92 mg TAE/g, dan aktivitas antioksidan sebesar 74,33%.
Optimasi Ekstraksi Berbantu Gelombang Ultrasonik pada Biji Melinjo Kerikil (Gnetum gnemon L., ‘Kerikil’) Menggunakan Response Surface Methodology Bambang Kunarto; Sutardi Sutardi; Supriyanto Supriyanto; Chairil Anwar
Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan Vol 8, No 3 (2019): Agustus 2019
Publisher : Faculty of Animal and Agricultural Sciences, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1362.448 KB) | DOI: 10.17728/jatp.5122

Abstract

Biji melinjo kerikil mengandung senyawa fenolik dan resveratrol sehingga berpotensi sebagai antioksidan, oleh karena itu perlu dilakukan ekstraksi. Metoda ekstraksi konvensional (maserasi, perebusan, refluxing) mempunyai kelemahan yaitu terjadinya kerusakan senyawa fenolik akibat reaksi oksidasi, hidrolisis dan ionisasi selama proses ekstraksi. Oleh karena itu, pada penelitian ini ekstraksi biji melinjo kerikil dilakukan menggunakan metode ekstraksi berbantu gelombang ultrasonik. Penelitian ini bertujuan untuk optimasi ekstraksi biji melinjo kerikil berbantu gelombang ultrasonik yang dilakukan pada berbagai waktu ekstraksi, suhu ekstraksi dan konsentrasi pelarut etanol. Surface response methodology digunakan untuk optimasi kondisi ekstraksi. Biji melinjo kerikil diekstrak menggunakan ultrasonic bath pada frekuensi 40 kHz dengan berbagai suhu (25, 30, 35, 40, 45oC), waktu ekstraksi (10, 20, 30, 40, 50 menit) dan konsentrasi pelarut etanol (40, 50, 60, 70 80%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi optimum ekstraksi biji melinjo kerikil berbantu gelombang ultrasonik adalah pada suhu 30,18oC, waktu 33,01 menit dan konsentrasi pelarut etanol 71,04%. Pada kondisi ini, diperoleh yield ekstrak 18,41 ± 0,01%, total fenolik 11,26 ± 0,06 mg GAE/g, total flavonoid 533,70 ± 0,18 mg CE/100g, resveratrol 7,64 ± 0, 03%, IC50 sebesar 59,52 ± 0,04 ppm dan reducing power 76,31 ± 0,08%. Sebagai kesimpulan, optimasi ekstraksi biji melinjo kerikil berbantu gelombang ultrasonik menggunakan response surface methodology ini cukup baik karena nilai respon yang sebenarnya sesuai dengan nilai respon yang diprediksi.Melinjo kerikil seeds contain phenolic and resveratrol compounds so that it has the potential as an antioxidant, therefore extraction needs to be done. Conventional extraction methods (maceration, boiling, refluxing) have the disadvantage of devasting phenolic compounds due to oxidation, hydrolysis and ionization reactions during the extraction process. Therefore, in this study the extraction of melinjo kerikil seeds done by using the ultrasonic-assisted extraction method. The study aims to optimize ultrasonic-assisted extraction of melinjo kerikil seeds that be done at various extraction times, extraction temperatures and ethanol solvents concentrations. Response surface methodology was used to optimize experimental condition for extraction. Melinjo kerikil seeds were extracted by using ultrasonic bath at a frequency of 40 kHz with various temperatures (25, 30, 35, 40, 45oC), extraction time (10, 20, 30, 40, 50 minutes) and ethanol solvents concentrations (40, 50, 60, 70 80 %). The results showed that the optimum conditions for ultrasonic-assisted extraction of melinjo kerikil seeds were at a temperature of 30.18oC, a time of 33.01 minutes and an ethanol solvent concentration of 71.04%. In this condition, obtained the extract yield 18.41 ± 0.01%, total phenolic 11.26 ± 0.06 mg GAE/g, total flavonoids 533.70 ± 0.18 mg CE/100g, resveratrol 7.64 ± 0,03%, IC50 in the amount of 59.52 ± 0.04 ppm and reducing power 76.31 ± 0.08%. As a conclusion, the optimization ultrasonic-assisted extraction of melinjo kerikil seeds by using response surface methodology is quite good because the actual response value is in accordance with the predicted response value.
Antioxidant Activity of Extract from Ultrasonic-Assisted Extraction of Durian Peels Bambang Kunarto; Ely Yuniarti Sani
Journal of Applied Food Technology Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : Dept. Food Technology, Faculty of Animal and Agricultural Sciences, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (157.14 KB) | DOI: 10.17728/jaft.3309

Abstract

The increase in durian production results in the accumulation of durian peel waste. The bioactive component of durian peel has the potential to be used as an antioxidant. Thus, there is a need to carry out an extraction process to obtain  bioactive compounds from durian peel. However, conventional extraction methods cause damage to phenolic compounds due to oxidation, hydrolysis and ionization reactions during the extraction process. Therefore, durian peel extraction was carried out using ultrasonic assisted extraction method (UAE) in this study. The purpose of this study was to investigate the effect of varying ratios of durian peel to ethanol solvents and extraction time on the yield, total phenolics content, total flavonoids content and antioxidant activity. The results of the research data were analyzed using a two-factor completely randomized design, which included variations of the ratio of durian peel to ethanol solvents and extraction time The Duncan’s New Multiple Range Test (DNMRT) was carried out as a follow up test to determine the differences in each treatment at a significance level of 0.05. The results showed that the best treatment for peel extraction using ultrasonic assisted extraction was a 1: 9 ratio of durian peel to ethanol at an extraction time of 20 minutes. The extraction of durian peel under this condition gave the highest yield of 12.77 ± 0.16%, antioxidant activity (IC50) of 38.33 ± 0.12 ppm, total phenolic content of 63.30 ± 0.08 mgGAE / g and total flavonoids content of 47.53 ± 0.48 mgQE / g. In addition, total phenolics content and total flavonoid content showed a strong correlation to the antioxidant activity of durian peel extract.