Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL KEPALA MADRASAH DALAM MENINGKATKAN KINERJA GURU Wahyu Hidayat; Agus Gunawan; Purnomo Mulyosaputro; Wawan Gunawan; Vita Vitisia
Irfani (e-Journal) Vol. 20 No. 1 (2024): Irfani (e-Journal)
Publisher : LP2M IAIN Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30603/ir.v20i1.5138

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana pengaruh kepemimpinan transformasional kepala madrasah terhadap kinerja guru. Sebagai fokus utama dari penelitian ini adalah memberikan mendefinisikan kepemimpinan transformasional, mengidentifikasi kriteria utama dalam kepemimpinan transformasional, serta mengevaluasi bagaimana gaya kepemimpinan ini dapat meningkatkan kinerja guru. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data didapat melalui wawancara mendalam, observasi langsung, dan analisis dokumen terkait. Subjek penelitian ini terdiri dari kepala madrasah, guru, dan staf tata usaha atau staf administratif di beberapa madrasah. Analisis data dilakukan secara tematik untuk mengidentifikasi pola dan tema utama yang berkaitan dengan kepemimpinan transformasional dan kinerja guru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan transformasional kepala madrasah berperan signifikan dalam meningkatkan kinerja guru. Gaya kepemimpinan ini memiliki dimensi pengaruh ideal, motivasi inspirasional, stimulasi intelektual, dan pertimbangan individual. Kepala madrasah yang menerapkan gaya kepemimpinan transformasional cenderung mampu memberikan motivasi yang tinggi kepada guru, menciptakan lingkungan kerja yang kondusif, dapat memberikan inovasi dan kreativitas, serta memperhatikan kebutuhan individu guru. Berdasarkan hal tersebut, gaya kepemimpinan transformasional terbukti efektif dalam mengelola sumber daya manusia dan meningkatkan kinerja organisasi madrasah secara keseluruhan.
Diskursus Sekularisasi Pendidikan Kontemporer dan Dampaknya terhadap Moralitas (Studi Analisis Filsafat Pendidikan Al-Attas dan John Dewey) Ilzamudin Ma'ruf; Agus Gunawan; Rifdillah Rifdillah; Akhmad Sufyan
Kaganga:Jurnal Pendidikan Sejarah dan Riset Sosial Humaniora Vol. 7 No. 1 (2024): Kaganga: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Riset Sosial Humaniora
Publisher : Institut Penelitian Matematika, Komputer, Keperawatan, Pendidikan dan Ekonomi (IPM2KPE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31539/kaganga.v7i1.8706

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui diskursus sekularisasi pendidikan kontemporer dan dampaknya terhadap moralitas. Penelitian ini adalah penelitian analisis deskriptif yang ingin mengkaji lebih dalam terkait diskursus sekularisasi dalam ranah pendidikan Hasil analisa penelitian ini bahwa disorientasi makna moral, ilmu dan pendidikan memiliki kaitan erat dengan paham pragmatisme dan paradigma individual ala sekularis, sikap yang cenderung memisahkan sakralitas dan spiritualitas menjadi kunci keberhasilan pergeseran orientasi pendidikan di atas. Disisi lain peneliti melihat urgensi pada tatanan pendidikan yang perlu kembali diintegrasikan, baik unsur-unsur yang berkaitan erat dengan elemen-elemen World View Islam yang bersifat holistik hingga rekonstruksi orientasi pendidikan yang lebih dominan pada pembentukan manusia yang utuh dan menjunjung moralitas yang bersifat lebih komprehensif, universal dan tidak gersang akan nilai, norma dan peran agama. Simpulan penelitian ini bahwa pemikiran John Dewey dan Al-Attas dalam ranah pendidikan merupakan dua ciri khas yang berbeda. Ide Al-Attas dapat dijadikan tawaran solusi terhadap problem seputar disorientasi ilmu, shifting identity and bias (bias identitas dan perubahan). Sedangkan John Dewey sangat mencerminkan identitas kebaratan. Kata Kunci: Al-Attas, John Dewey, Loss of Adab, Sekularisasi Pendidikan.
Menerapkan Prinsip Komunikasi Terapeutik dalam Supervisi Pendidikan untuk Menciptakan Lingkungan Kerja yang Positif Syifa Fauziah El Abida; Ahmad Jubaedi; Agus Gunawan; Supardi
IQRO: Journal of Islamic Education Vol. 8 No. 2 (2025): AGUSTUS 2025
Publisher : Prodi Pendidikan Agama Islam FTIK IAIN Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24256/iqro.v8i2.8329

Abstract

Supervisi pendidikan di Indonesia masih didominasi oleh pendekatan inspektif-evaluatif yang menimbulkan tekanan psikologis pada guru dan menghambat pengembangan profesional berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan menganalisis penerapan prinsip komunikasi terapeutik dalam supervisi pendidikan dan dampaknya terhadap terciptanya lingkungan kerja yang positif. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi pustaka melalui kajian sistematis terhadap literatur akademik yang dipublikasikan tahun 2021-2025 untuk artikel dan buku-buku di 10 tahun terakhir yang diperoleh dari berbagai basis data seperti Google Scholar, ERIC, ProQuest, dan portal jurnal nasional terakreditasi. Analisis data dilakukan dengan teknik content analysis tematik untuk mengidentifikasi, mengkategorisasi, dan mensintesis tema-tema utama terkait komunikasi terapeutik dalam supervisi. Hasil penelitian mengidentifikasi lima prinsip inti komunikasi terapeutik yang dapat dioperasionalisasikan dalam tahapan supervisi klinis: empati, mendengarkan aktif, kejujuran terapeutik, penerimaan tanpa syarat, dan konkretisasi masalah. Penelitian menemukan tiga mekanisme psikologis bagaimana komunikasi terapeutik memfasilitasi psychological safety: pengurangan ancaman perseptual, pembangunan kepercayaan interpersonal, dan normalisasi kegagalan sebagai pembelajaran. Temuan menunjukkan bahwa komunikasi terapeutik mentransformasi dinamika supervisi dari hierarkis-defensif menjadi kolaboratif-konstruktif, dengan supervisor mampu memberikan feedback jujur namun tetap supportive melalui diferensiasi evaluasi perilaku dari evaluasi personal. Faktor pendukung implementasi meliputi kompetensi emotional intelligence supervisor, alokasi waktu memadai, dan budaya organisasi yang developmental, sementara hambatan utama adalah beban kerja berlebihan, keterbatasan kompetensi komunikasi, dan budaya hierarkis. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan model supervisi komunikatif-terapeutik yang mengintegrasikan person-centered theory dengan clinical supervision cycle, memperkaya literatur supervisi pendidikan dengan dimensi humanistik dari disiplin psikologi konseling, serta menawarkan kerangka operasional untuk transformasi praktik supervisi menuju pendekatan yang lebih humanis dan berorientasi pengembangan profesional berkelanjutan.
From Tafaqquh Fiddin to Applied Sciences: The Transformation of Islamic Education in Indonesia Abdullah Hanif; Ilzamudin Ma'mur; Agus Gunawan
Khazanah Pendidikan Islam Vol. 6 No. 3 (2024): Khazanah Pendidikan Islam
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/kpi.v6i3.41500

Abstract

In facing the demands of globalisation and the Fourth Industrial Revolution, Islamic education in Indonesia encounters challenges to remain relevant by preserving religious values while responding to the need for practical skills. This study aims to explore the transformation of Islamic education in Indonesia, particularly in the context of the shift from the scholarly tradition of tafaqquh fiddin (deep understanding of religion) to applied sciences. The research evaluates how Islamic boarding schools (pesantren), Islamic schools (madrasah), and Islamic higher education institutions (PTKI, or Perguruan Tinggi Keagamaan Islam) adapt to the demands of globalisation and modern economic developments requiring practical and professional skills. This study employs a qualitative approach by analysing literature, curricula, and policies related to Islamic education in Indonesia. Data were collected from various sources such as journals, books, and policy documents. The findings reveal that Islamic education in Indonesia has undergone significant transformation. Pesantren have begun integrating vocational skills such as agribusiness and information technology, madrasah have broadened their focus to include academic education and practical skills, while PTKI have adopted non-religious programmes such as economics and health sciences. This transformation has produced graduates who not only possess profound religious understanding but also practical skills relevant to the modern job market. The study underscores the importance of integrating religious education with applied sciences to ensure the relevance of Islamic education in the modern era. These findings provide a foundation for the development of adaptive educational policies, such as competency-based curricula and support for vocational education. This research also offers a unique contribution to the literature on Islamic education by highlighting a significant shift in the scholarly tradition in Indonesia, particularly in balancing religious values with applicative skills for success in the professional world.