Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Perlakuan Sinar Gamma pada Substrat Jerami Padi dan Kapang Phanerochaete Chrysosporium untuk Meningkatkan Delignifikasi melalui Fermentasi Padat Dadang Sudrajat; Nana Mulyana; Tri Retno Diah Larashati; Anna Muawanah; Anisa Ulfatu Aeni
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 14, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jair.2018.14.2.4635

Abstract

ABSTRAK  Delignifikasi pada biomasa lignoselulosa perlu dilakukan untuk mempermudah hidrolisis selulosa. Tujuan dari penelitian ini untuk meningkatkan efisiensi delignifikasi substrat jerami padi oleh kapang Phanerochaete. chrysosporium dengan perlakuan sinar gamma. Metode delignifikasi yang digunakan yaitu metode solid state fermentation. Perlakuan pada penelitian ini adalah iradiasi dosis rendah pada kapang P. chrysosporium 0, 500, 1000, 1500, 2000 Gy, iradiasi dosis tinggi pada jerami padi 0, 50, 100 kGy dan pretreatment NaOH (0%, 1%,2%, 3%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa delignifikasi dengan fermentasi padat oleh kapang P. chrysosporium yang dipapari sinar gamma 1000 Gy dan substrat jerami padi yang di pretreatment NaOH 2% dan diiradiasi 100 kGy dapat meningkatkan efisiensi delignifikasi 85,95% lebih tinggi dibandingkan tanpa iradiasi. Hasil delignifikasi maksimum pada hari ke-12 dengan kadar lignin sebesar 1,634
Evaluasi Jerami Sorgum Varietas Samurai 2 Hasil Iradiasi Gamma secara In Sacco Teguh Wahyono; Widia Apriliani; Anna Muawanah; Sihono Sihono
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 13, No 2 (2017): Desember 2017
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jair.2017.13.2.3527

Abstract

Studi in sacco dilakukan untuk mengevaluasi pengaruh iradiasi gamma terhadap degradasi dan produk fermentasi rumen dari substrat jerami sorgum varietas Samurai 2. Dosis iradiasi yang digunakan sebesar 0, 100 dan 150 kGy bersumber dari cobalt-60. Metode yang digunakan adalah evaluasi secara in sacco dengan titik pengambilan parameter pada jam ke-0, 12, 24, 48 dan 72. Variabel yang diamati adalah degradasi Bahan Kering (BK), karakteristik degradasi BK, degradasi Bahan Organik (BO), karakteristik degradasi BO dan produk fermentasi rumen. Produk fermentasi rumen yang diamati meliputi kondisi pH, konsentrasi amoniak (NH3) dan produksi volatile fatty acid (VFA) total. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan dan lima ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada periode inkubasi ke-72 jam, dosis iradiasi 150 kGy mampu meningkatkan degradasi BK sebesar 21,66% dibandingkan kontrol dan 12,09% dibandingkan dosis 100 kGy (P<0,05). Perlakuan iradiasi gamma dapat meningkatkan nilai degradasi maksimum (a+b) BK pada jerami sorgum varietas Samurai 2 (P<0,05). Perlakuan iradiasi gamma dosis 150 kGy juga mempengaruhi karakteristik degradasi BO yaitu peningkatan parameter degradasi efektif (DE) pada nilai k 0,02 (P<0,05). Perlakuan iradiasi gamma dapat meningkatkan kondisi pH dan konsentrasi NH3 (P<0,05). Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa Iradiasi gamma dosis 100 dan 150 kGy mampu meningkatkan degradasi BK dan BO. Dosis radiasi 150 kGy merupakan dosis terbaik untuk meningkatkan degradasi BK maksimum (a+b).
PENAMBAHAN FRAKSI AMILOSA TERHADAP SIFAT FISIK DAN MEKANIS EDIBLE FILM PATI TAPIOKA Dewi Sondari; Wida Banar Kusumaningrum; Fazhar Akbar; Rahmawati Putri; Sri Fahmiati; Yulianti Sampora; Anna Muawanah
Jurnal Kimia dan Kemasan Vol. 42 No. 2 Oktober 2020
Publisher : Balai Besar Kimia dan Kemasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24817/jkk.v42i2.6095

Abstract

Pati banyak digunakan dalam industri pangan, salah satunya sebagai edible film. Kualitas edible film dipengaruhi oleh rasio amilosa dan amilopektin pada pati, yang dapat dihasilkan melalui proses fraksinasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi optimum dalam pembuatan edible film dari hasil fraksinasi amilosa pati tapioka. Pada proses fraksinasi dilakukan variasi konsentrasi butanol (10%, 12,5%, 15%). Analisis terhadap fraksi amilosa meliputi rendemen, kadar amilosa, kelarutan dan swelling power, kejernihan pasta serta freeze thaw stability. Identifikasi fraksi amilosa dan edible film tapioka alami dan hasil fraksinasi amilosa dilakukan menggunakan Fourier Transform Infrared (FTIR). Analisis edible film meliputi ketebalan, kuat tarik, elongasi serta sudut kontak. Fraksi amilosa hasil fraksinasi pati tapioka dengan pengaruh konsentrasi butanol terbaik adalah fraksi amilosa konsentrasi 12,5% dengan kadar amilosa tertinggi yaitu sebesar 22,19% dengan nilai kelarutan dan swelling power sebesar 18,13 dan 3,33%, kejernihan pasta sebesar 89,05%, dan persentase sineresis sebesar 82%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan fraksi amilosa hasil fraksinasi pati tapioka dengan pengaruh konsentrasi butanol 12,5% menghasilkan edible film yang mempunyai sifat fisika kimia lebih baik dari pati alaminya. Edible film pati tapioka dengan penambahan fraksi amilosa 12,5% menghasilkan edible film yang lebih baik dibandingkan edible film komposisi pati tapioka alami dengan nilai ketebalan sebesar 0,09 mm, kuat tarik sebesar 1,75 N/mm2 contact angle 57,355o  dan elongasi sebesar 11,60%.
Karakteristik Tanaman Sorghum Green Fodder (SGF) Hasil Penanaman Secara Hidroponik yang Dipanen Pada Umur yang Berbeda Teguh Wahyono; Husnul Khotimah; Widhi Kurniawan; Dedi Ansori; Anna Muawanah
Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis Vol 6, No 2 (2019): JITRO, Mei
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (706.939 KB) | DOI: 10.33772/jitro.v6i2.5722

Abstract

Tanaman sorgum yang dibudidayakan secara hidroponik dapat disebut dengan sorghum green fodder (SGF). Penelitian ini bertujuan untuk melakukan evaluasi performa pertumbuhan, profil nutrisi dan kecernaan in vitro tanaman sorgum hasil budidaya hidroponik yang dipanen pada umur yang berbeda. Perlakuan penelitian meliputi SGF yang dipanen pada hari ke 7, 8, 9 dan 10. Pada pengamatan kecernaan in vitro, keempat perlakuan SGF dibandingkan dengan rumput lapangan. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan empat pengulangan. Parameter yang diamati adalah performa pertumbuhan, profil nutrisi, produksi gas dan produk fermentasi rumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa SGF 10 menghasilkan tinggi tanaman dan berat segar tertinggi (P<0,05) namun tidak berbeda nyata dengan SGF 9. Kandungan protein kasar SGF lebih tinggi dibandingkan rumput lapangan (P<0,05). SGF menghasilkan produksi gas total yang lebih tinggi dibandingkan rumput lapangan (P<0,05). Akan tetapi, SGF 10 menghasilkan produksi CH4 yang tinggi. Nilai energi termetabolis (EM) dan kecernaan bahan organik (KcBO) keempat perlakuan SGF terlihat lebih tinggi dibandingkan rumput lapangan (P<0,05). Kesimpulan dari penelitian ini adalah pola pertumbuhan, profil nutrisi dan kecernaan in vitro SGF semakin meningkat seiiring dengan meningkatnya umur pemanenan. Umur panen SGF yang terbaik adalah pada hari ke-9.
Pengaruh Lama Inkubasi dan Variasi Jenis Starter Terhadap Kadar Gula, Asam Laktat, Total Asam dan pH Yoghurt Susu Kedelai Anna Muawanah
Jurnal Kimia Valensi Jurnal Valensi VOLUME 1, NO.1, NOVEMBER 2007
Publisher : Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (49.698 KB) | DOI: 10.15408/jkv.v1i1.206

Abstract

Telah dilakukan penelitian tentang pembuatan yoghurt susu kedelai, untuk mengetahuipengaruh jenis starter terhadap perubahan kadar gula, asam laktat, total asam dan pH padasusu hasil fermentasi. Sebagai perlakuan dalam penelitian ini adalah variasi starterLactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermophillus dan lama inkubasi. Parameteryang diuji meliputi Kadar gula, asam laktat dengan metode HPLC, total asam dengantitrasi dan pH dengan pH meter. Hasilnya menunjukkan bahwa Waktu inkubasimempengaruhi penurunan pH dan kenaikan konsentrasi total asam. Perbandingan variasijumlah dua starter yang digunakan tidak mempengaruhi proses perubahan komponen gulamenjadi asam laktat. Data HPLC menunjukkan bahwa komponen gula adalah sukrosa danlaktosa yang konsentrasinya menurun selama inkubasi dari 0 jam sampai 8 jam. Jenis Asamyang dihasilkan adalah asam laktat, dimana konsentrasinya mengalami peningkatan 0 jamsampai 8 jam, terutama pada sampel yang perbandingan starternya 1:3.
Analisa Radikal Bebas pada Minyak Goreng Pedagang Gorengan Kaki Lima Sri Yadial Chalid; Anna Muawanah; Ida Jubaedah
Jurnal Kimia Valensi Jurnal valensi Volume 1, No.2, Mei 2008
Publisher : Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (53.687 KB) | DOI: 10.15408/jkv.v1i2.254

Abstract

Telah dilakukan penelitian tentang kerusakan minyak goreng pada pedagang gorengan yang berjualan di lokasi Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri II Ciputat. Kerusakan ditinjau dari kadar radikal bebas yang terkandung pada sampel minyak goreng. Radikal bebas adalah molekul reaktif yang dapat menyebabkan penyakit seperti diabetes, kanker, trakoma dan penyakit jantung koroner. Sebanyak 200 ml minyak goreng hasil pengorengan disampling dari pedagang gorengan yaitu pedagang cimol, mie telor goreng, tigor (terigu goreng), batagor, baso goreng dan empe- empe. Sampel diambil pada pukul 10.00 dan 14.00 WIB selama dua hari berturut-turut. Analisa meliputi; warna, kadar air, indeks bias, asam lemak bebas. Analisa kadar radikal bebas diukur dengan menentukan kadar malondialdehid dengan spektrofotometer visible. Ke- 5 sample menunjukkan kadar air berkisar antara 3,47-8,86%, indek bias antara 1,46391 -1,46498, asam lemak bebas 0,24- 0,74% dan radikal bebas 0,012 – 0,069 nmol/ml. Secara umum dapat disimpulkan bahwa minyak goreng yang digunakan pedagang gorengan kaki lima sudah mengalami penurunan mutu gizi karena tidak memenuhi standar mutu yang telah ditetapkan oleh SNI, sehingga kurang aman untuk digunakan. Minyak dan lemak merupakan sumber energy bagi manusia (9 kal/g), wahana bagi vitamin larut lemak seperti vitamin A, D, E dan K, meningkatkan citarasa dan kelezatan makanan dan memperlambat rasa lapar (Winarno, 2002). Selain itu minyak dan lemak juga sumber asam lemak essensial yang sangat penting terutama asam lemak linoleat (18:2 n- 6) dan asam α-linolenat (18:3 n-3) bagi tubuh. Berdasarkan sumber minyak dan lemak dibagi dua yaitu minyak hewani dan nabati. Minyak hewani seperti minyak ikan, lard, sapi dan domba, sedangkan minyak nabati seperti minyak kelapa, minyak sawit, minyak kacang dan minyak zaitun. Dari segi kandungan kimia, minyak disusun oleh asam lemak jenuh, asam lemak tidak jenuh tunggal dan asam lemak tidak jenuh jamak (PUFA). Asam lemak jenuh bersifat merusak kesehatan karena sifatnya yang lengket pada dinding saluran darah, mengakibatkan Atherosklerosis sedangkan asam lemak tidak jenuh dan PUFA terutama asam lemak linoleat dan lineolenat berguna bagi kesehatan dan dikenal dengan sebutan “Good guys” (Winarno, 1999). Minyak goreng yang banyak digunakan pada masyarakat kita adalah minyak nabati seperti minyak sawit dan minyak kelapa. Selama proses penggorengan minyak goreng mengalami berbagai reaksi kimia diantaranya reaksi hidrolidis, oksidasi, isomerisasi dan polimerisasi. Reaksi kimia yang terjadi pada asam lemak contohnya pemanasan minyak pada suhu di atas 200oC dapat menyebabkan terbentuknya polimer, molekul tak jenuh membentuk ikatan cincin (Kataren, 1986, Haliwell B, and Gutteridge JMC. 1999). Alat penggoreng yang terbuat dari besi dapat merangsang oksidasi lemak. Pada pedagang gorengan terutama pedagang kaki lima minyak yang digunakan tidak mengalami pergantian dengan minyak yang baru, biasanya mereka hanya melakukan penambahan beberapa liter saja ke dalam minyak goreng lama. Proses ini menyebabkan penurunan kualitas minyak, ditandai dengan warna minyak yang gelap, indek bias, bilangan asam, bilangan iod, senyawa polimer dan radikal bebas terjadi peningkatan (Djatmiko, Enni. 2000). Banyak data ilmiah yang menyatakan bahwa penyakit degeneratif seperti penyakit jantung, diabetes, tumor dan kanker akibat sumbangan dari radikal bebas yang bersumber terutama dari makanan dan minuman(Nabet BF. 2002, Haliwell B, and Gutteridge JMC. 1999). Kerja radikal bebas pada molekul tubuh berlangsung lama dengan kata lain terakumulasi dalam tubuh dan baru menimbulkan gejala penyakit setelah tahunan (Hishino H et al 2000). Minyak goring sering digunakan sebagai medium untuk pengolahan makanan karena menimbulkan rasa gurih pada makanan, hal ini meningkatkan peminat masakan seperti peminat gorengan. Gorengan merupakan makanan yang merakyat dan banyak disukai pada hampir semua lapisan masyarakat mulai dari anak-anak sampai orang tua. Bagi anak-anak sekolah seperti pelajar SMP, gorengan merupakan jajanan yang lezat dan murah serta cukup mengenyangkan. Jajanan gorengan yang banyak diminati adalah goring mie telur goreng, terigu goring, batagor dan bakso goring. Tidak ada yang bisa menjamin bahwa gorengan yang dijajakan sudah digoreng dengan cara yang benar. Bila kebiasaan ini tidak ada yang mengontrol tidak mustahil akan menyebabkan kerusakan pada generasi muda Indonesia beberapa tahun mendatang. Pada masyarakat kita sudah banyak kasus kematian yang terjadi pada usia produktif dan sifatnya mendadak, seperti kasus kematian akibat penyakit jantung, diabetes, dan penyakit kanker. Penyakit-penyakit di atas merupakan sumbangsih dari waktu masih anak-anak melalui makanan dan minuman. Dengan alasan ini peneliti tertarik melakukan penelitian tentang kandungan radikal bebas pada minyak gorengan yang digunakan pedangan gorengan yang berjualan di sekitar sekolah Menengah Pertama (SMP)N Negeri II Ciputat.
EFEKTIVITAS EKSTRAK PICUNG (P.edule Reinw) YANG DIKERINGKAN DENGAN BAHAN PENGISI SERBUK GERGAJI DALAM PENGAWETAN IKAN Endang Sri Heruwati; Dian Aprianti; Anna Muawanah
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 4, No 2 (2009): Desember 2009
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v4i2.444

Abstract

Biji picung (Pangium edule Reinw) telah terbukti dapat digunakan untuk mengawetkan ikan. Namun demikian, cara penggunaan picung secara tradisional, dengan menaburkan cacahan biji picung segar dianggap kurang praktis, dan ketersediaannya terkendala oleh musim. Ekstrak biji picung juga sudah teruji dapat menghambat pertumbuhan bakteri gram negatif dan positif. Pada penelitian ini dicoba mengawetkan ikan segar menggunakan bubuk picung yang dibuat dari ekstrak picung yang telah dikeringkan menggunakan serbuk gergaji sebagai bahan pengisi. Biji picung segar yang telah dicacah dimaserasi menggunakan pelarut air, etanol 50%, dan etanol 80%. Setelah maserasi dilakukan penyaringan dan penambahan serbuk gergaji kering steril, lalu dikeringkan kembali dalam oven pada suhu 40ºC. Bubuk picung kemudian diaplikasikan pada ikan kembung segar dengan perbandingan 6% (b/b) dan disimpan pada suhu kamar untuk diamati pH, TVB, dan jumlah bakterinya. Untuk mendukung penelitian ini, dilakukan uji aktivitas antibakteri dari bubuk picung terhadap 2 jenis bakteri gram positif (Microccus luteus dan Staphylococcus aureus) serta 2 jenis bakteri gram negatif (Alcaligenes eutrophus dan Enterobacter aerogenes). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari nilai pH, TVB, dan jumlah bakteri yang diperoleh, ternyata bubuk picung dari semua perlakuan tidak mampu menghambat pembusukan ikan sebesar daya pengawetannya dalam bentuk segar. Dari hasil uji aktivitas antibakteri terbukti bahwa bubuk picung hanya mampu menghambat bakteri gram positif. Adapun bakteri gram negatif, yang merupakan penyebab pembusukan ikan, tidak dapat dihambat. Hal ini kemungkinan disebabkan cara pengeringan belum cukup baik sehingga zat pengawet dalam biji picung tidak mampu menembus dinding sel bakteri gram negatif yang terdiri atas dua lapisan, yaitu lipopolisakarida-protein dan peptidoglikan, yang memang lebih sulit untuk ditembus oleh antibiotika, desinfektan, dan senyawa kimia lain. Untuk itu riset masih harus diteruskan dengan cara pengeringan yang tidak menurunkan kemampuan daya antibakteri dari biji picung.
UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK KASARAIR BUNGA KECOMBRANG (Etlingera elatior) SEBAGAI BAHAN PANGAN FUNGSIONAL Dede Sukandar; Nani Radiastutu; Ira Jayanegara; Anna Muawanah; Adeng Hudaya
Jurnal Kimia Terapan Indonesia Vol 13, No 1 (2011)
Publisher : Research Center for Chemistry - LIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2653.155 KB) | DOI: 10.14203/jkti.v13i1.124

Abstract

A research of antioksidant activity from water crude extract of kecombrang flower (Etlingera elatior) have been reported. This Research aim to give erudite evidence of kecombrang flower as a functional food. Antioksidant was examined by activity diphenyl picryl hidrazyl ( DPPH) methode and chemicalcomponent analyses using GCMS. Water crude extract of kecombrang flower shows antioxidan activity ( ICso = 61. 6497 ppm) and waspredicted to have component of l-dodekanol, S-metil-l-oxo-lbuten 1-(21,41, 51-trihidroxyl phenil} and 1tetradecene (tR= 13,26, area=6,03, similarity at 98%).Keyword: Kecombrang ( Etlingera elatior), functional food, antioxidant
Characteristics and Antibacterial Activity of Apis and Trigona Honey Types against Escherichia coli and Staphylococcus Aureus on Various Heating La Ode Sumarlin; Nurul Amilia; Anna Muawanah; Nadya Uswatun Hasanah; Hajar Hajar
Jurnal Kimia Valensi Jurnal Kimia VALENSI Volume 8, No. 2, November 2022
Publisher : Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jkv.v8i2.27241

Abstract

Heating in honey processing can inhibit fermentation, crystallization, and the growth of microorganisms, such as bacteria. However, the effect of the honey heating process on the properties of honey and its antibacterial activity has not been further studied. Therefore, in this study, the properties of honey of both Apis and Trigona species from Bogor, Kalimantan, Sulawesi, Sumatra, and Lombok, were tested. The properties of honey, including water content, acidity, reducing sugar, 5-hydroxymethylfurfural (HMF), and diastase enzyme activity, were tested at heating temperatures 50, 70, and 90 °C. The antibacterial activity was determined using the disc method against Escherichia coli and Staphylococcus aureus. The results showed that the average water content and acidity values decreased after heating. However, the values met the SNI quality requirements with a water content value of < 22% and the acidity value not exceeding 50 mL NaOH 0.1 N/kg in the Apis and Trigona types of honey. The reduced sugar content fluctuated after heating all samples, and the average HMF level of honey increased after heating. However, the activity of the diastase enzyme decreased, although the value was still within the SNI standard value. The selected honey samples of the Apis and Trigona types were active in inhibiting the growth of Staphylococcus aureus but were not active against Escherichia coli.
Isolation and Characterization of Cellulolytic Bacteria During Natural Fermentation of Sweet Orange Peel Waste (Citrus sinensis) La Ode Sumarlin; Farida Ariyanti; Megga Ratnasari Pikoli; Anna Muawanah; Meyliana Wulandari
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol 15, No 2 (2022): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kauniyah.v15i2.23357

Abstract

Abstract Orange peel is one of organic waste which contains fibers, such as cellulose and hemicellulose utilized by cellulolytic microorganisms as growth media in the fermentation process. Cellulolytic microorganisms are widely used in many industries. This research will observe the profile of bacterial colonies, particularly cellulosic bacteria, during the fermentation of orange peels (Citrus sinensis). Fermentation was carried out during the research process; the bacteria were further isolated in Carboxymethyl Cellulose (CMC) media. The fermentation process was performed for 14 weeks where sampling on the first week was done every day for five days (H0–H4), while sampling from the 2nd to 14th weeks were conducted once a week (M2–M14). The isolation process was carried out in a Nutrient Agar medium with spreading method by calculating the Total Plate Count (TPC) of bacterial colonies and observing the macroscopic morphology of bacterial colonies. Bacterial counts are expressed in Colony Forming Units (CFU)/mL or viable count/mL. The identification of bacterial genus was based on the Bergey's Manual of Determinative Bacteriology. Bacterial isolation from the fermentation of sweet orange peel resulted in 20 isolates where 16 isolates were found to be cellulolytic bacteria through qualitative test in Carboxymethyl Cellulose (CMC) agar plate. The hypothetic genus of 16 bacterial isolates were Eubacterium, Cellulomonas, Microbacterium, Micrococcus, Planococcus, Pseudomonas, Azotobacter, Azomonas, Flavobacterium, Cytophaga, and Jonesia. Isolate F15 (Cytophaga and Azomonas) was found to dominate the growth, while other isolates grew alternately with lesser frequency. Hypothetic genus of bacteria actively involved in the process were cellulolytic bacteria, allowing the liquid of fermentation products to be possibly used in the application.AbstrakKulit jeruk merupakan salah satu limbah organik yang mengandung serat seperti selulosa dan hemiselulosa yang dapat dimanfaatkan oleh mikroorganisme selulolitik sebagai media pertumbuhan dalam proses fermentasi. Mikroorganisme selulolitik telah digunakan di banyak industri. Penelitian ini mengamati profil koloni bakteri selama proses fermentasi kulit jeruk terutama bakteri selulotik. Selama proses penelitian dilakukan proses fermentasi, lalu bakteri diisolasi menggunakan media Carboxyl Methyl Callulose (CMC). Proses fermentasi dilakukan selama 14 minggu dengan rincian sampling pada Minggu ke-1 dilakukan setiap hari selama 5 hari (H0–H4), sedangkan minggu ke-2 hingga 14 dilakukan setiap seminggu sekali (M2–M14). Proses isolasi dilakukan dalam medium Nutrient Agar dengan teknik sebar dengan perhitungan koloni Total Plate Count (TPC) dan pengamatan morfologi koloni bakteri secara makroskopis. Hasil perhitungan bakteri dinyatakan dalam Colony Forming Units (CFU)/mL atau viabel count/mL. Pendugaan genus bakteri berdasarkan Bergey's Manual of Determinative Bacteriology. Hasil isolasi bakteri dari fermentasi kulit jeruk manis adalah 20 isolat yang 16 di antaranya merupakan bakteri selulolitik melalui uji kualitatif pada media plat Carboxymethyl Cellulose (CMC). Genus hipotetik bakteri dari 16 isolat adalah Eubacterium, Cellulomonas, Microbacterium, Micrococcus, Planococcus, Pseudomonas, Azotobacter, Azomonas, Flavobacterium, Cytophaga, dan Jonesia. Isolat F15 (Cytophaga dan Azomonas) mendominasi pertumbuhan, sedangkan isolat lain tumbuh berselang seling dengan frekuensi yang lebih kecil. Genus bakteri hipotetik yang terlibat aktif adalah bakteri selulolitik sehingga cairan hasil fermentasi dapat digunakan dalam aplikasi.