Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

TRADISI MASYARAKAT SEBAGAI KEKUATAN SINKRETISME DI TRUCUK, KLATEN Sutiyono Sutiyono
Jurnal Penelitian Humaniora Vol 16, No 1: April 2011
Publisher : LPPM UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (78.016 KB) | DOI: 10.21831/hum.v16i1.3415

Abstract

This study aims to prove that the societal tradition in in Trucuk alive and growing dynamically, because of the strength of syncretism. This research was conducted in rural areas Trucuk District, Klaten, Central Java. The time to conduct field studies began in March to October 2006. As a research subject, namely: farmer, caretaker shrine, the pilgrims, paranormal, dalang, arts reog elders, chairman slawatan, modin, lurah, Muhammadiyah activists, political elites, religious teachers, kyai, mubaligh, congregational recitation, and the priest mosque. Methods of data collection is participant observer, depth interviews, and study of documentation. This study uses an ethnographic approach. The results showed that the societal tradition who are still be regularly performed of rural communities is slametan. Slametan an intangible form of social activism traditional ceremony which was attended by a group of people from different social groups to come together, accompanied by a serving dish and prayed the Islamic way. In gathering together, all of them understand each other and can understand each other. The discrepancies in all respects to be thin and fixed on the formation of community integration or syncretism. The strength of syncretism make the societal tradition in Trucuk alive and growing dynamically. So, the theory mentions that syncretism is the attempt to unify the different sects (Mulder, 1992) proved in this study
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA DALAM MELAKSANAKAN REVITALISASI BUDAYA LOKAL “BERSIH DESA” DI KETINGAN, SLEMAN Sutiyono Sutiyono; Ni Nyoman Seriati
Jurnal Penelitian Humaniora Vol 18, No 1: April 2013
Publisher : LPPM UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (289.677 KB) | DOI: 10.21831/hum.v18i1.3267

Abstract

Dalam penelitian ini dikaji tentang pemberdayaan masyarakat dalam mendukung revitalisasi budaya lokal. Tujuan penelitian ini adalah ingin melihat  upaya konkrit apa saja yang digunakan untuk memberdayakan masyarakat Desa Ketingan dalam melaksanakan revitalisasi budaya lokal “bersih desa”. Penelitian ini dilaksanakan di daerah Ketingan, Sleman, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Waktu penelitian ditentukan selama 8 bulan, yaitu mulai bulan Maret hingga Oktober 2011. Untuk memperoleh data penelitian dilakukan dengan mempergunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumen- tasi. Sebagai pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif. Hasil Penelitian menunjukkan sebagai berikut. Pertama, upaya konkrit untuk memberdayakan masyarakat desa dalam melaksanakan “Bersih Desa” di Ke- tingan Sleman meliputi: pertama, Rencana Pemberdayaan Masyarakat, identifikasi kelompok-kelompok masyarakat Desa Ketingan yang potensial, identifikas kekayaan lokal, uapaya pemberdayaan masyarakat secara optimal, sosialisasi pemberdayaan; kedua Bersih (1) Acara ritual hadir bakti, (2) Doa bersama, (3) Uraian ritual, (4) Ubo rampe, (5) Acara kirab, (6) Pentas gejok lesung, (7) Pentas wayang kulit, (8) Masak- masak, (9) Gununganuntuk kirab, (10) Biaya, dan yang keempat, Revitalisasi Budaya Lokal, upaya konkrit untuk merevitalisasi budaya lokal dalam melaksanakan “Bersih Desa” di Ketingan Sleman adalah dengan melakukan pembinaan budaya kepada gene- rasi muda dengan label kaderisasi atau regenerasi seniman di desa. Desa, dengan rangkaian acara  menjalin jerja saana dengan pihak swasta
USAHA SANGGAR SENI DIDIK NINI THOWOK DALAM MENEMBUS PASAR Sutiyono Sutiyono
Jurnal Penelitian Humaniora Vol 7, No 2: Oktober 2002
Publisher : LPPM UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (13.414 KB) | DOI: 10.21831/hum.v7i2.7351

Abstract

Abstract The purpose of the research  is to know the effort of Sanggar Seni Didik Nini Thowok Yogyakarta as nonformal art educational program in marketing perforate. Data was obtained through a bibliographical study, observation, interviews and documentary study. Approach of the research is used to qualitative approach. The result of this study showed that the efforts is done by Sanggar Seni Didik Nini Thowok Yogyakarta is: (1) to order sanggar management, (2) to stand at attention of discipline, and (3) publication/promotion of sanggar name. Keywords:art, sanggar, effort
SENI RAKYAT DALAM DIMENSI INDUSTRIAL - Sutiyono
Imaji Vol 10, No 2 (2012): IMAJI AGUSTUS
Publisher : FBS UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (58.242 KB) | DOI: 10.21831/imaji.v10i2.6378

Abstract

This article discusses the role and position of folk art in facing industrialization era. When facing this, folk art, in terms of its presentation, is divided into two. First, folk art should surrender to the power of industrialization. It has to limit its time and space performance in which it has to be recorded in a smaller package. The social followers then only need to play the recording to be able to enjoy the performance. Second, the folk art is presented in a complete form without any reduction. The social followers, thus, prefer to its live performance in its original version. They play a role as a form of cultural resistance in facing this globalization and industrialization era.
SENI TRADISI DI INDONESIA DAN FENOMENA HARAM-HALAL - SUTIYONO
Imaji Vol 12, No 2 (2014): IMAJI AGUSTUS
Publisher : FBS UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (221.213 KB) | DOI: 10.21831/imaji.v12i2.3153

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui posisi seni tradisi di Indonesia kaitanya dengan fonomena sosial di masyarakat yang dianggap haram dan halal. Tulisan ini mengeksplorasi posisi beberapa seni tradisi di antaranya seni slawatan yang masih hidup di masyarakat, terutama di pedesaan. Seni tradisi mampu membentuk ikatan silaturahmi, bahkan ada di antaranya yang dapat merubah akhlak seseorang dari buruk menjadi baik. Akan tetapi, seni tradisi sekarang menghadapi justifikasi dari kelompok sosial keagamaan yang memberikan persepsi atas kesenian tersebut, yakni ada yang menganggap  haram dan ada pula yang menganggap halal.  
HAPPENING ART SEBUAH SENI PERTUNJUKAN PERLAWANAN - Sutiyono
Imaji Vol 14, No 2 (2016): IMAJI OKTOBER
Publisher : FBS UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (226.916 KB) | DOI: 10.21831/imaji.v14i2.12176

Abstract

Dalam suatu aksi demonstrasi massa  lazim disajikan sebuah pertunjukkan  happening art.   Kajian ini betujuan untuk mendeskripsikan posisi  happening art  dalam suatu aksi demonstrasi massa. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa posisi happening art dalam aksi demonstrasi massa sebagai berikut: (1) happening art sejajar dengan seni pertunjukan lain,  karena didukung oleh   elemen-elemen pertunjukan seperti:  gerak tari, musik/iringan, durasi pertunjukan,  pemain, monolog/dialog, rias, busana, arena, dan  properti. (2)  happening art  dalam aksi demonstrasi massa merupakan teater yang secara khusus ditujukan sebagai media perlawanan,dan (3)happening art  menjadi media perlawanan karena didukung hadirnya intelektual organik, contohnya  mahasiswa
MAKNA SIMBOLIS RAGAM GERAK TARI JATHIL OBYOG MASAL 95-NAN DALAM KESENIAN REYOG OBYOG DI DESA PULUNG, KABUPATEN PONOROGO Farida Nur Apriani; Sutiyono Sutiyono
Imaji Vol 16, No 1 (2018): IMAJI APRIL
Publisher : FBS UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (588.963 KB) | DOI: 10.21831/imaji.v16i1.22266

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna simbolis ragam gerak, perbedaan, dan bentuk penyajian tari Jathil Obyog Masal 95-nan dalam kesenian reyog obyog di Desa Pulung, Kabupaten Ponorogo, .Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Objek penelitian adalah Makna Simbolis Ragam Gerak Tari Jathil Obyog Masal 95nan dalam Kesenian Reyog Obyog di Desa Pulung Kabupaten Ponorgo. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik keabsahan data dilakukan dengan teknik triangulasi sumber.Hasil penelitian yang diperoleh yaitu: 1) makna simbolis ragam gerak , a) Nyongklang (prajurit yang melakukan perjalanan mengemban tugas), b) Jalan drap ditempat (kewaspadaan), c) Sembahan (meminta keberkahan Tuhan), d) Pacak gulu (kelincahan melihat situasi), e) Jalan lenggang (kerilekan agar tidak lalai akibat kelelahan), f) Edreg (keluwesan), g) Loncatan (tidak membuat masalah), h) Edreg mundur (mengetahui daerah sekelilingnya), i) sabetan (senjata harus selalu dibawa), j) bumi langit ulat-ulat (tetap sigap), k) polah kaki (rela dan berani mati untuk tugas yang diemban), l) ukel karna (mencari kabar terbaru), m) kebyak sampur, n) bumi langit (sumpah sakti prajurit haruslah tetap dipegang), o) jalan empat (kesigapan prajurit), p) uncal sampur (kepiawaiyan menggunakan senjata) , q) sabetan kibaran, r) lawung (menerima perintah harus dicermati), s) sabetan kibaran, t) keplok dara (antara prajurit harus terjalin persatuan dan kesatuan), dan u) perangan (prajurit sedang berlatih perang dan melatih kekompakan), 2) Tarian Jathil Obyog dalam kesenian Reyog Obyog tidak mengalami kesurupan, 3) Bentuk penyajian dimulai dari tampilnya jathilan, bujang ganong, dan dadak merak.  Kata Kunci : Jathil Obyog, Makna Simbolis tari Jathil Obyog Masal 95-nan.
BENTUK KAPAL PINISI SEBAGAI IDE PENCIPTAAN KARYA SENI LUKIS DENGAN MEDIA TANAH LIAT Wahyuddin Ridwan; Sutiyono Sutiyono
Imaji Vol 17, No 2 (2019): IMAJI OKTOBER
Publisher : FBS UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6157.13 KB) | DOI: 10.21831/imaji.v17i2.26980

Abstract

Tujuan artikel ini untuk mewujudkan bentuk dasar kapal pinisi dalam menerapkan kegiatan melukis dengan menggunakan media tanah liat di dalam pendidikan formal. Penciptaan karya ini menggunakan metode pengembangan. Metode pengembangan penciptaan diperlukan langkah- langkah yang menunjang terciptanya sebuah karya/produk, yaitu: eksplorasi, eksperimentasi, dan pembentukan. Kegiatan eksplorasi dilakukan penjelajahan atau penyelidikan untuk mendapatkan konsep yang akan dijadikan dasar penciptaan. Adapun kegiatan eksperimentasi dimulai dengan pencarian bentuk, teknik. Sedangkan pembentukan yaitu proses perwujudan karya melalui pembuatan model, mendekorasi. Penciptaan karya seni lukis dengan media tanah liat ditemukan bahwa proses ini merupakan upaya dalam pengembangan media seni lukis serta bahan ajar  yang bisa diterapkan dalam lingkup pendidikan formal sebagai pedoman dalam pelaksanaan pembelajaran seni budaya khususnya seni rupa yang berbasis kearifan lokal untuk penanaman karakter dan pengembangan kreativitas bagi peserta didik. Kata Kunci: Bentuk kapal pinisi, penciptaan seni lukis, media tanah liat THE SHAPE OF PINISI SHIP AS A CREATION IDEA OF ART PAINTING WITH CLAY Abstract The purpose of this article is to realize the basic shape of a Pinisi ship in applying painting activities using clay in formal education. The creation of this work uses a development method. The creation development method requires steps that support the creation of a work, namely: exploration, experiment, and formation. The exploration activities were carried out through exploration or investigation to get the concepts that will be used as the basis of creation. The experiment began with the search of forms, techniques. Meanwhile, the formation activities involving the embodiment of the work through modelling, decorating. From the creation of an art with clay in this study, it was found that it was a development of painting media and teaching materials that could be applied in formal educations as a guideline in the implementation of cultural arts learning, especially art based on local wisdom for the cultivation of character and development of learners’ creativity.Keywords: Pinisi ship shape, painting creation, clay media
EVALUASI PELAKSANAAN KURIKULUM 2013 PADA MATA PELAJARAN SENI TARI SMA NEGERI DI SLEMAN YOGYAKARTA Lusi Susilowati; Sutiyono Sutiyono
Imaji Vol 15, No 2 (2017): IMAJI OKTOBER
Publisher : FBS UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6534.991 KB) | DOI: 10.21831/imaji.v15i1.14034

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan evaluasi pelaksanaan Kurikulum 2013 pada mata pelajaran seni tari di sekolah menengah atas Negeri di Sleman Yogyakarta. Penelitian ini merupakan penelitian evaluasi dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Model evaluasi yang digunakan adalah evaluasi formatif yang dikembangkan oleh Scriven. Subjek dalam penelitian ini adalah dua guru dan 59 murid dari dua SMA Negeri di Sleman, Yogyakarta yang ditentukan dengan teknik sampling purposive. Instrumen yang digunakan adalah angket, panduan observasi, panduan wawancara, dan dokumentasi. Angket digunakan untuk mengetahui dan mengukur perencanaan pembelajaran dan cara mengajar guru. Observasi dilakukan untuk pengecekan kesesuaian antara RPP dan silabus dengan kegiatan pembelajaran. Wawancara dan dokumentasi digunakan untuk memperdalam informasi. Validasi instrumen yang digunakan adalah validasi expert judgment, dan teknik triangulasi data digunakan untuk menganalisis data yang meliputi tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) pemahaman guru terhadap Kurikulum 2013 dalam kategori sangat cukup, ini dibktikan dari jawaban interviuw yang memuaskan; 2) perencanaan pelaksanaan pembelajaran di dalam kelas sudah sangat sesuai dan hal ini dapat terlihat dari rata-rata penilaian angket yang diberikan, yaitu 80,3; 3) dan pelaksanaan pembelajaran sangat sesuai dan hal ini dapat dilihat dari rata-rata penilaian angket siswa terhadap berlangsungnya proses pembelajaran yaitu 80,59.Kata kunci: evalusi pelaksanaan pembelajaran kurikulum 2013, seni tari THE EVALUATION OF CURRICULUM 2013 IMPLEMENTATION ON ART DANCE SUBJECT IN STATE SENIOR HIGH SCHOOLSIN SLEMAN YOGYAKARTAAbstract The objective of this research is to describe the evaluation of the implementation of Curriculum 2013 on the art dance subject in state senior high schools in Sleman, Yogyakarta. This research was evaluation research with qualitative descriptive approach. The evaluation model was a formative evaluation which was developed by Scriven. The subjects of this research were two teachers and 59 students of two states senior high schools in Sleman, Yogyakarta which were selected by using the random sampling technique. The instruments were a questionnaire, observation guide, interview guide, and documentation. The questionnaire was used to know and to measure the lesson plan and the procedure of the teaching and learning process. The observation guide was used to check the compatibility among lesson plans and syllabus with the teaching and learning process. The interview guide and documentation were used to deepen the information. The instrument validities used were expert judgment and triangulation. The triangulation was used to analyze the data, consisting of data reduction, presentation, and conclusion. The result of this research shows that 1) the teachers’ comprehension of Curriculum 2013 is defficient enough 2) the planning of the teaching and learning process is very suitable, which could be seen from the average result of the questionnaire which is 80,3; 3) the implementation of the teaching and learning process is very suitable. Which could be seen from the average of students’ questionnaire result of the teaching and learning process, which is 80,59.Keywords: development, method, sight reading, rhythmic
BENTUK, PERUBAHAN FUNGSI, DAN NILAI-NILAI EDUKATIF PADA MUSIK TARI JAPIN TAHTUL DI AMUNTAI Siti Risa Noviyanti; Sutiyono Sutiyono
Imaji Vol 15, No 1 (2017): IMAJI APRIL
Publisher : FBS UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (842.597 KB) | DOI: 10.21831/imaji.v15i1.14033

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengungkap: (1) Bentuk pertunjukkan musik Japin Tahtul di Amuntai, Hulu sungai Utara, Kalimantan Selatan; (2) Perubahan fungsi dari musik Japin Tahtul; dan (3)  nilai-nilai pendidikan yang terdapat dalam musik Japin Tahtul. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif menggunakan pendekatan etnomusikologi dan beberapa teori terkait sejarah, sosiologi dan antropologi. Penelitian ini dilaksanakan di Amutai, Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan. Data diperoleh melalui observasi, dokumentasi dan wawancara. Kemudian data dianalisis menggunakan tehnik analisis data kualitatif yang terdiri dari reduksi data, presentasi data, dan kesimpulan. Hasl dari penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) Bentuk pertunjukkan musik Japin Tahtul mengalami perubahan yang meliputi: para pemain, alat musik, teks lagu, kostum, sajak, tempat dan waktu pertunjukan; (2) Perubahan fungsi dari musik Japin Tahtul yang awalnya merupakan pendukung pertunjukkan tari, kini dapat tampil sendiri sebagai pertunjukkan musik; (3) Musik Japin Tahtul mengandung nilai-nilai pendidikan yang dapat ditemukan di musiknya itu sendiri, termasuk lirik lagu, alat musik dan quartrains.Kata kunci: bentuk, perubahan fungsi, nilai-nilai pendidikan THE FORM, THE FUNCTION CHANGES, AND EDUCATIONAL VALUES IN JAPIN TAHTUL MUSICAbstractThis study aims to reveal: (1) the form of Japin Tahtul Music performance in Amuntai, North Hulu Sungai, South Kalimantan; (2) the change of the function of Japin Tahtul Music; and (3) the educational values containing in Japin Tahtul Music. This study is a qualitative research using the ethnomusicology approach assisted with some additional knowledge including history, sociology, and anthropology. This research was conducted in Amuntai, North Hulu Sungai, South Kalimantan. The data were collected through observation, documentation, and interview. The data were analyzed using qualitative data analysis techniques consisting of data reduction, data presentation, and conclusion. The results of the study are as follows. (1) The form of Japin Tahtul Music performance in Amuntaihas experienced changes that include the players, musical instruments, song texts, costumes, rhymes, venues, and time of the show. (2) The function changes of Japin Tahtul music which was originally music accompaniment of dancecan now stand on its own as a form of musical performance. (3) Japin Tahtul Music contained Educational values, which can be found in the music itself, including song lyrics, musical instruments, and quatrains.Keywords: form, function change, educational values