Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Edukasi dan Pelatihan Tanaman Herbal, Teh Rosella Untuk Mengatasi Hipertensi (Darah Tinggi) di Masyarakat [Education and Training on Herbal Plants, Rosella Tea, to Treat Hypertension (High Blood Pressure) in the Community] Darini Kurniawati; Irma Irpiana; Mariyatul Kiptiyah; Firda Alfisah; Muhammad Alfian Daud
Indonesia Berdaya Vol. 7 No. 3 (2026)
Publisher : UKInstitute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47679/ib.20261492

Abstract

Hypertension or high blood pressure is one of the non-communicable diseases that is the leading cause of premature death in the world, which if left untreated can trigger serious complications such as heart disease and stroke. One alternative non-pharmacological treatment that is starting to be widely developed in the community is the use of the herbal plant Rosella (Hibiscus sabdariffa). The objectives and focus of this activity are: Increase public knowledge about the dangers of hypertension, Provide education about the content of anthocyanin compounds in Rosella flowers that function as natural ACE-inhibitors and diuretics, Provide training on how to process dried Rosella flower petals into a safe brewed tea, and introduce the correct dosage to avoid side effects for the stomach. There was an 83,75% increase in public knowledge about complementary therapies after the counseling. The community is now able to independently process Rosella tea as a family health drink that is economical and effective in helping to maintain stable systolic and diastolic blood pressure. Abstrak. Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi penyebab utama kematian dini di dunia, yang jika tidak ditangani dapat memicu komplikasi serius seperti penyakit jantung dan stroke. Salah satu alternatif pengobatan non-farmakologis yang mulai banyak dikembangkan di masyarakat adalah pemanfaatan tanaman herbal Rosella (Hibiscus sabdariffa). Tujuan dan fokus kegiatan ini adalah untuk: Meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai bahaya hipertensi, Memberikan edukasi mengenai kandungan senyawa antosianin dalam bunga Rosella yang berfungsi sebagai ACE-inhibitor alami dan diuretik, Memberikan pelatihan cara pengolahan kelopak bunga Rosella kering menjadi teh seduhan yang aman dikonsumsi, serta mengenalkan dosis penggunaan yang tepat agar tidak menimbulkan efek samping bagi lambung. Terdapat peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai terapi komplementer sebesar 83,75% setelah dilakukan penyuluhan. Masyarakat kini mampu secara mandiri mengolah teh Rosella sebagai minuman kesehatan keluarga yang ekonomis dan efektif dalam membantu menjaga kestabilan tekanan darah sistolik dan diastolik.
Studi Farmakovigilans Efek Samping Obat Hipertensi pada Pasien Rawat Jalan di RSUD Ulin Banjarmasin: Pharmacovigilance Study of Hypertension Drug Side Effects in Outpatients at Ulin General Hospital Banjarmasin Viviana Viviana; Darini Kurniawati; Ani Agustina; Iwan Yuwindry
Jurnal Surya Medika (JSM) Vol. 11 No. 3 (2025): Jurnal Surya Medika (JSM)
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/jsm.v11i3.11951

Abstract

Hipertensi merupakan kondisi medis yang tidak menular, namun menjadi pemicu utama penyakit jantung dan stroke. Efek samping penggunaan obat hipertensi dipengaruhi oleh durasi pemakaian jangka panjang serta peningkatan dosis obat. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengkajian terkait efek samping obat hipertensi menggunakan Algoritma Naranjo.Tujuan Penelitian mengetahui kejadian efek samping yang terjadi pada pengobatan hipertensi dan mengidentifikasi ketegori efek samping dengan Naranjo.Metode Observasional Analitik pendekatan Cross Sectional dan kuisioner Algoritma Naranjo untuk mengetahui kategori efek samping obat. Didapatkan hasil efek samping yang dirasakan 36 responden yaitu batuk kering 13 responden (36,11%), kaki bengkak11 responden (30,55%), pusing 8 responden (22,22%), sakit kepala dan kadang sulit tidur 2 responden (5,55%), sakit kepala 1 responden (2,77%) dan batuk kering disertai sakit kepala 1 responden (2,77%). Berdasarkan kuesioner Naranjo diperoleh 14 responden (38,88%) Possible, dan 22 responden (61,11%) Probable. Obat yang menimbulkan kejadian efek samping yaitu Captopril, Amlodipine, Candesartan, Bisoprolol, dan Propanolol. Dapat disimpulkan bahwa 36 responden mengalami efek samping dari obat hipertensi yaitu batuk kering, kaki bengkak, pusing, sakit kepala dan kadang sulit tidur, sakit kepala, dan batuk kering disertai sakit kepala. Berdasarkan Algoritma Naranjo 14 responden (Possible), dan 22 responden (Probable).
MONITORING EFEK SAMPING OBAT TUBERKULOSIS DI PUSKESMAS PEKAUMAN KOTA BANJARMASIN Fifi Alayda Azzahra; Darini Kurniawati; Erlina Syamsu; Saftia Aryzki
JFM (Jurnal Farmasi Malahayati) Vol 9, No 2 (2026)
Publisher : Jurnal Farmasi Malahayati (JFM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jfm.v9i2.26438

Abstract

ABSTRAK  Latar Belakang: Tuberkulosis (TB) merupakan salah satu masalah kesehatanutama di Indonesia yang disebabkan oleh Mycobacteriumtuberculosis. Puskesmas Pekauman Kota Banjarmasin merupakan puskesmas dengan jumlahkasus TB terbanyak di kota tersebut, sehingga risiko kejadian efek sampingobat (ESO) juga tinggi. Penggunaan obat anti tuberkulosis dalamjangka panjangberpotensi menimbulkan ESO, sehingga monitoring perlu dilakukan untukmenjamin keamanan pasien.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis dan kejadianefeksamping obat pada pasien TB yang menjalani pengobatan di PuskesmasPekauman Kota Banjarmasin.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional deskriptif denganrancangan crosssectional. Sampel dipilih menggunakan teknik purposivesampling, dengan jumlah responden sebanyak 33 pasien TB. Data diperolehmelalui wawancara menggunakan lembar observasional serta rekammedis pasien.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas pasien berada pada usiaproduktif (25–35 tahun). Dari 33 responden, efek samping yang paling seringterjadi adalah perubahan warna urin (66,66%), diikuti gatal (42,42%), mual (18,18%), nyeri persendian dan batuk (masing-masing 12,12%), pusing (9,9%), muntah (6,6%), dan pilek (3,3%).Simpulan: Monitoring efek samping obat TB menunjukkan sebagian besar pasien mengalami ESO dengan gejala dominan berupa perubahan warna urin dan gatal. Monitoring berkelanjutan perlu dilakukan untuk meningkatkan keberhasilan terapi dan keselamatan pasien.
Perbandingan Aktivitas Antidiabetik antara Ekstrak Daun Alpokat dan Ekstrak Rimpang Temulawak Tunggal Darini Kurniawati
Health Research Journal of Indonesia Vol 4 No 6 (2026): Health Research Journal of Indonesia
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/hrji.v4i6.1603

Abstract

Prevalensi Diabetes Melitus terus meningkat, sementara obat-obatan sintetis menggunakan bahan baku dari luar negeri dan sering kali menimbulkan efek samping yang tidak diinginkan. Indonesia dikenal memiliki ribuan tanaman berkhasiat obat, termasuk daun alpokat dan rimpang temulawak, yang secara empiris dimanfaatkan oleh masyarakat Dayak di Kalimantan Selatan untuk mengobati Diabetes Melitus. Praktik penggunaan empiris ini bervariasi ada yang hanya menggunakan daun alpokat, ada yang hanya menggunakan rimpang temulawak, dan ada pula yang mengombinasikan keduanya tanpa adanya standar dosis yang seragam. Tujuan penelitian: Mengidentifikasi aktivitas antidiabetes dari ekstrak daun alpokat dan rimpang temulawak, baik secara tunggal maupun kombinasi. Metode Penelitian: True experimental dengan desain Pre-Posttest Control Group. Sampel yang digunakan adalah 15 ekor tikus Wistar jantan yang dibagi menjadi 5 kelompok (n = 3), yaitu kelompok positif (Metformin 500 mg), kelompok negatif (Na CMC 0,5%), serta kelompok perlakuan yang terdiri dari Kelompok Formula Kombinasi (0,6 gram ekstrak temulawak dan 0,4 gram alpokat), Kelompok Formula Tunggal Ekstrak Temulawak 17,5 mg/kgBB, dan Kelompok Formula Tunggal Ekstrak Daun Alpokat 175 mg/kgBB; semuanya diberikan selama 14 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas antidiabetes ekstrak etanol rimpang temulawak lebih kuat dibandingkan dengan ekstrak etanol daun alpokat maupun Metformin 500 mg. Formula 1, yang merupakan kombinasi dari 0,6 g ekstrak etanol rimpang temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) dan 0,4 g ekstrak etanol daun alpokat (Persea americana P. Mill), memiliki aktivitas antidiabetes yang lebih kuat dibandingkan dengan ekstrak etanol rimpang temulawak tunggal, ekstrak etanol daun alpokat tunggal, maupun Metformin 500 mg.
Profil Penggunaan Insulin Dan Oral Antidiabetika (OAD) PASIEN Rawat Jalan RSUD dr. H. Andi Abdurrahman Noor Tahun 2025 Masriani Masriani; Darini Kurniawati; Rina Saputri; Dewi Susanti Atmaja
Health Research Journal of Indonesia Vol 4 No 6 (2026): Health Research Journal of Indonesia
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/hrji.v4i6.1796

Abstract

Latar Belakang: Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit kronis dengan prevalensi yang terus meningkat dan memerlukan terapi farmakologis jangka panjang, baik menggunakan insulin maupun oral antidiabetika (OAD). Peningkatan jumlah pasien DM berimplikasi pada meningkatnya penggunaan obat antidiabetika, sehingga diperlukan data profil penggunaan insulin dan OAD sebagai dasar evaluasi terapi dan perencanaan pengadaan obat. Tujuan: Untuk mengetahui profil penggunaan insulin dan OAD pada pasien di instalasi rawat jalan klinik penyakit dalam di RSUD dr. H. Andi Abdurrahman Noor. Metode: Jenis penelitian kuantitatif dengan rancangan observasional deskriptif dan pendekatan retrospektif. Jumlah sampel sebanyak 110 pasien yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pasien DM berada pada rentang usia 30–59 tahun. Pasien perempuan lebih banyak dibandingkan laki-laki. Berdasarkan pekerjaan, sebagian besar pasien merupakan ibu rumah tangga. Jenis insulin yang digunakan meliputi novorapid, levemir, humalog, dan rizodeg, dengan penggunaan terbanyak berupa kombinasi insulin novorapid–levemir. OAD yang paling banyak digunakan adalah metformin 500 mg dan glimepiride 2 mg. Pemberian insulin dilakukan secara subkutan dengan dosis terbanyak 10–20 IU per hari, sedangkan OAD diberikan secara oral dengan frekuensi 2–3 kali sehari. Simpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa profil penggunaan insulin dan OAD pada pasien DM rawat jalan di RSUD dr. H. Andi Abdurrahman Noor didominasi oleh terapi kombinasi insulin dan penggunaan OAD metformin, dengan pola dosis dan rute pemberian yang sesuai dengan pedoman terapi diabetes melitus nasional.
Pengetahuan Pemenuhan Gizi Pada Ibu Hamil Dalam Upaya Pencegahan Stunting Di Wilayah Kerja Puskesmas Batulicin Sri Suhartini; Novita Dewi Iswandari; Darini Kurniawati
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Indonesia Vol. 3 No. 3 (2023): November : Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Indonesia
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jikki.v3i3.2158

Abstract

Good nutritional status is one of the determining factors for the success of health development which is an inseparable part of overall national development. Pregnant women need more nutrients than not pregnant. The purpose of the study was to determine the picture of knowledge of nutritional fulfillment in pregnant women towards stunting prevention in the Working Area of the Batulicin Health Center. Quantitative research with a cross sectional approach. There were 30 samples with accidental sampling technique. Univariate data analysis. The results of the study of respondents' characteristics based on the most age obtained the highest percentage results were at the age of not at risk (aged 20 to 35 years) as many as 25 respondents or 83.3% and at the high education level (high school to college) as many as 18 people (6%). The highest level of knowledge in the good category was 19 people or 63.3%, the other categories in the results were sufficient and lacking.