Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

Pengaruh penggunaan Beberapa level Tepung Daun Kelor (Moringa oleifera Lam) dalam Ransum Basal Terhadap Plasma Metabolit Ayam Broiler Erwan, Edi; Wulandari, Santika Yulia; Irawati, Evi
Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Veterinary Science) Vol 11 No 1 (2021): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Vete
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46549/jipvet.v11i1.200

Abstract

Abstract Moringa leaves (Moringa oleifera Lam) is one of the potential local feed ingredients of broiler rations due to its nutrient contents such as carbohydrate (57,01%), crude protein (30,30%), crude fat (2,74%) as well as a source of vitamin C, carotenoids and flavonoids. This study aimed to determine the effect of using different levels of Moringa oleifera Lam leaf meal (MOLM) in basal ration on plasma metabolites, including total cholesterol (TCHO), triglycerides (TG), glucose (GLU), and total protein (TP). The research design of this study was a completely randomized design (CRD) with four treatments and five replications. The treatments were 4 levels of MOLM (0%, 5%, 10% and 15%), in basal ration. The parameters measured were TCHO, TG, Glu, and TP of in blood plasma. The results showed that inclusion of MOLM up to 15% of in basal ration very significantly (P<0.01) lowering levels TG and decreasing Glu. However, the inclusion of MOLM had no effect (P>0.05) on TCHO and TP. It is concluded that moringa leaf flour addition to the basal ration up to 15% could be used to decrease plasma metabolites especially TG and GLU in broiler chickens. Key words:Broilers; Moringa oleifera meal; total cholesterol, triglycerides, glucose and total protein Abstrak Daun kelor (Moringa oleifera Lam) merupakan salah satu bahan pakan lokal yang berpotensi dapat dimanfaatkan sebagai bahan penyusun ransum ayam ras pedaging karena mengandung nutrisi yang tinggi diantaranya karbohidrat (57,01%), protein kasar (30,30%), lemak kasar (2,74%) dan sebagai sumber vitamin C, karotenoid serta flavonoid. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan beberapa level tepung daun kelor dalam ransum basal terhadap plasma metabolit ayam ras pedaging yang meliputi total kolesterol (TCHO), trigliserida (TG), glukosa (Glu) dan total protein (TP). Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dan lima ulangan. Perlakuan yang diberikan terdiri dari 4 level tepung daun kelor di dalam ransum basal yakni 0%, 5%, 10% dan 15%. Parameter yang diukur meliputi TCHO, TG, Glu dan TP pada plasma darah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan tepung daun kelor hingga 15% dalam ransum berpengaruh nyata (P<0,05) menurunkan kadar TG dan berpengaruh sangat nyata (P<0,01) menurunkan Glu. Akan tetapi, pemanfaatan tepung daun kelor hingga 15% tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap TCHO dan TP. Kesimpulan penelitian ini adalah penggunaan tepung daun kelor dalam ransum basal hingga 15% dapat dimanfaatkan untuk menurunkan plasma metabolit khususnya TG dan Glu pada plasma darah ayam broiler. Kata kunci : Ayam ras pedaging; tepung daun kelor; plasma metabolit
Performa Ayam Broiler dengan Ransum Campuran Tepung Eceng Gondok (Eichhornia crassipes) Terfermentasi Aspergillus niger Hidayaturrahman Hidayaturrahman; Edi Erwan; Evi Irawati
Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis Vol 8, No 2 (2021): JITRO, Mei 2021
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (261.401 KB) | DOI: 10.33772/jitro.v8i2.17172

Abstract

ABSTRACTEnceng gondok merupakan salah satu tumbuhan air yang dapat dimanfaatkan sebagai alternatif sumber protein hewani untuk ayam ras pedaging. Namun karena enceng gondok memiliki serat yang tinggi maka memerlukan pengolahan lebih lanjut seperti fermentasi sehingga bisa dimanfaatkan oleh ayam broiler untuk pertumbuhannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui performa ayam broiler yang diberi ransum eceng gondok fermentasi (Aspergillus niger) Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan rancangan acak lengkap (RAL) terdiri dari 4 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah penambahan tepung enceng gondok fermentasi dalam ransum yang terdiri dari 4 level yaitu 0, 2, 4 dan 6%. Variabel yang diuji adalah konsumsi ransum, pertambahan bobot badan dan konversi ransum. Data hasil penelitian dianalisis dengan analisis sidik ragam dan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian tepung enceng gondok fermentasi sampai level 6% dalam ransum memberikan pengaruh tidak nyata (p>0,05) terhadap konsumsi ransum, pertambahan bobot badan dan konversi ransum ayam ras pedaging. Dapat disimpulkan bahwa penambahan tepung enceng gondok yang difermentasi dengan dalam ransum belum dapat meningkatkan performa ayam broiler.Kata kunci: ayam broiler, tepung enceng gondok, performa, Aspergillus nigerPerformance of Broiler Chicken  with Inclution Water Hyacinth Fermented with Aspergillus niger in RationABSTRACTWater hyacinth is one of the aquatic plants that can be used as an alternative source of animal protein for broilers. However, to be used as feed ingredients, it needs to be processed because of its high crude fiber. One of the ways is by fermentation method. The present study aimed to determine the effect of inclusion of water hyacinth fermented flour (WHFF) with Aspergillus niger in ration on performance in broilers chickens This study used an experimental method with a Completely Randomized Design (CRD) consisted 4 treatments and 4 replications. The treatments were the levels of inclusion of fermented water hyacinth flour in the ration which consisted of four levels namely 0, 2, 4, and 6%. The variables measured were feed intake (FI), body weight gain (BWG), and feed conversion ratio (FCR). The results showed that the inclusion of WHFF up to the level of 6% in the ration did not significantly (p>0.05) affect FI, BWG, and FCR. It can be concluded that the inclusion of WHFF up to a level of 6% in the ration could not able to improve the performance of broilers.Keywords: broiler chicken, water hyacinth, performance, Aspergillus niger
Respon Biologis Pemberian Bungkil Kelapa Hasil Fermentasi dengan Trichoderma harzianum dalam Ransum Terhadap Performans Ayam Pedaging Mairizal Mairizal; Edi Erwan
Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Peternakan Vol. 11 No. 4 (2008): November 2008
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (170.134 KB) | DOI: 10.22437/jiiip.v11i4.740

Abstract

The  experiment  was  aimed  to  see  the  effect  of  coconut  cake  fermentation  with Trichoderma Harzianum (TH) in ration on the performance of male broiler. 100 heads of three-day-old broiler chiken were  arranged  to  completely  randomized  treatment  with  5  kinds  of  ration  such  as  0%,  5%,  10%,  15% and  20  %  of  coconut  cake  fermentation  with  TH  and  4  times  replication.  Data  collected  were  feed consuption, body weight gain and feed conversion. Analisys of variance and Duncan’s multiple range test were used to analize the data. The result showed that the use of coconat cake fermentation with TH significantly (P<0,05) reduced body weight gain, but there was no effect (P>0,05) on feed consumption and  feed  conversion.  From  the  experiment  result  we  concluded  that  only  15  %  of  coconut  cake fermentation with TH which can be suggested in male broiler chiken ration
Nutrisi Silase Pelepah Kelapa Sawit Yang Ditambah Biomassa Indigofera (Indigofera zollingeriana): (The Nutrient Content Of Oil Palm Frond Silage added with Indigofera zollingeriana) Yusri Barokah; Arsyadi Ali; Edi Erwan
Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Peternakan Vol 20 No 2 (2017): November 2017
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (268.086 KB) | DOI: 10.22437/jiiip.v20i2.4772

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan Indigofera pada silase kelapa sawit pada bahan kering (BK), protein kasar (PK), serat kasar (SK), ekstrak eter (EE), Bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Agrostologi, Industri Pakan dan Ilmu Tanah dan di Laboratorium Ilmu lmu Nutrisi, Fakultas Pertanian dan Peternakan, Universitas Islam Negeri Suska Riau Riau dari bulan Oktober sampai November 2014. Desain penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap yang terdiri dari lima perlakuan dan empat ulangan, yaitu A: 100% daun kelapa sawit + tetes tebu + 5%, B: biomassa Indigofera + 5% molase 100%, C: 100% kelapa sawit + biomassa 20% Indigofera + 5% molase, D: 100% kelapa sawit + biomassa 40% Indigofera + tetes tebu + 5% dan E: 100% kelapa sawit + biomassa 60% Indigofera + tetes tebu + 5%. Periode fermentasi dilakukan selama 21 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan Indigofera meningkatkan kandungan silase kelapa sawit, ditunjukkan dengan meningkatnya kandungan protein kasar dan BETN. Selain itu kandungan SK lebih rendah dari pada kontrol. Kami menyimpulkan bahwa persentase terbaik dari Indigofera dalam silase kelapa sawit untuk meningkatkan kualitasnya adalah 40%. Kata kunci: daun kelapa sawit, fermentasi, Indigofera, nilai gizi, silase
Karakteristik Karkas Ayam Broiler Fase Finisher yang Diberi Ekstrak Daun Jambu Mete (Anacardium occidentale Linn.) di dalam Air Minum: Carcass characteristics in finisher-Broiler Chickens by Supplementation of Cashew Leaf Extract (Anacardium occidentale Linn.) in Drinking Water Syafaat, Mohammad Alghifari; Erwan, Edi; Handoko, Jully
Journal of Livestock and Animal Health Vol. 4 No. 2 (2021): August
Publisher : Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (268.714 KB) | DOI: 10.32530/jlah.v4i2.439

Abstract

Daun Jambu mete (Anacardium occidentale Linn) merupakan salah satu tumbuhan yang berpotensi menjadi ramuan herbal disebabkan beberapa senyawa yang penting diantaranya mengandung asam anakardiol, asam elagat, flavonoid, kardol, tanin-galat, senyawa fenol, dan metil kardol. Adapun tujuan penelitian ini yakni untuk mengetahui pengaruh pencampuran ekstrak daun jambu mete (EDJM) di dalam air minum terhadap karakteristik karkas ayam broiler meliputi bobot badan akhir, bobot karkas, persentase bobot karkas, bobot lemak abdominal dan persentase bobot lemak abdominal. Total jumlah ayam broiler yang digunakan adalah 80 ekor yang dilakukan pengacakan dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan serta setiap ulangan terdiri dari 4 ekor ayam. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan yang meliputi P0 (0% EDJM/L air minum), P1 (5% EDJM/L air minum), P2 (90% air minum + 10% EDJM), P3 (85% air minum + 15% EDJM) dan P4 (80% air minum + 20% EDJM). Parameter yang diukur adalah bobot badan akhir, bobot karkas, persentase karkas, bobot lemak abdominal dan persentase lemak abdominal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bobot lemak abdominal dan persentase lemak abdominal secara signifikan (P kecil dari 0,05) menurun dengan pemberian EDJM hingga kadar 20%. Namun demikian, pemberian EDJM tidak berpengaruh nyata (P besar dari 0,05) terhadap bobot badan akhir, bobot karkas dan persentase karkas. Dapat disimpulkan bahwa karakteristik karkas ayam broiler khususnya dalam bobot lemak abdominal dan persentase lemak abdominal dapat menurun dengan pemberian EDJM dalam air minum sampai level 20%.
KUALITAS KARKAS AYAM BROILER YANG DISUPLEMENTASI KERATIN HYDROLISAT MELALUI AIR MINUM Erwan, Edi; Rodiallah, Muhamad; Hafizon, M.; Zumarni
LUMBUNG Vol. 22 No. 2 (2023): Agustus
Publisher : Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32530/lumbung.v22i2.699

Abstract

Keratin hydrosilat (KH) dihasilkan dari hidrolisis keratin yang beasal dari unggas dan terdiri dari 92% asam amino dan 8% dipeptide atau tripeptida yang memiliki berat molekul yang rendah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh suplementasi beberapa level KH yang dicampurkan dalam air minum terhadap bobot karkas, persentase karkas dan lemak abdominal ayam broiler fase grower. Penelitian ini telah dilaksanakan pada Februari-Maret 2022 di kandang percobaan ternak, Laboratorium UARDS (UIN Agriculture Research and Development Station) dan Teknologi Produksi Ternak, Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau. Penelitian ini menggunakan Ayam Broiler 80 ekor yang dibagi secara acak berdasarkan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan yang diberikan yaitu P0= tanpa penambahan KH (kontrol), P1= penambahan KH 0,1%/liter air minum, P2= penambahan KH 0,2%/liter air minum, P3= penambahan KH 0,3%/liter air minum. Parameter yang diukur adalah bobot karkas, persentase karkas dan bobot lemak abdominal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian suplementasi KH hingga level 0,3% dalam air minum berpengaruh sangat nyata (P<0,0,1) terhadap bobot karkas, namun berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap persentase karkas dan tidak berpengaruh nyata (P>0,05) bobot lemak abdominal. Kesimpulan dari penelitian ini adalah penggunaan suplementasi KH sampai level 0,3% dalam air minum tidak dapat memperbaiki produksi bobot karkas broiler umur 35 hari.
Arah Kebijakan dan Strategi Program Penelitian dan Pengembangan Provinsi Riau 2019-2024 Irdon; Gevisioner; Karyanti; Zakia, Ismon; Erwan, Edi; Romus, Mahendra; Taslapratama, Irwan; Yendraliza; Ali, Aryadi; Siradjuddin, Irsyadi; Efendi Harahap, Anwar; Misrianti, Restu
IPTEKIN Jurnal Kebijakan Pembangunan dan Inovasi Vol. 3 No. 2 (2018)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peran kegiatan penelitian dan pengembangan (kelitbangan) diharapkan mampu menghasilkan berbagai terobosan baru dalam mendukung optimalisasi kinerja pemerintah daerah dalam rangka percepatan pembangunan daerah secara tepat sasaran dan berdaya saing. Tujuan penelitian adalah menyusun rencana induk kelitbanganyang mengakomodir berbagai aspek penyelenggaraan pemerintahan dalam satu konsep rencana kelitbangan secara komprehensif dan sinergis. Jenis penelitian adalah kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan cara FGD dan studi literature. Beberapa peluang Kelitbangan Provinsi Riau adalah sebagai berikut: 1) Hasil kelitbangan berpeluang menjadi referensi utama dalam perumusan kebijakan di Provinsi Riau, 2) Menghasilkan berbagai inovasi untuk mempercepat pembangunan daerah, 3) Rujukan sumber data kelitbangan dan potensi Daerah. Untuk mewujudkan hal tersebut indikasi program prioritas kelitbangan daerah yang harus dilakukan dalam periode 2019-2024 adalah : 1) Program tata kelola pemerintahan danpelayanan publik, 2) Program sosial dan kemasyarakatan, 3) Program ekonomi dan pembangunan daerah, 4) Program inovasi dan pengembangan iptek.
PENAMBAHAN TANIN KAYU CHESTNUT (Castanea sativa Mill.) DALAM RANSUM KOMERSIAL TERHADAP PERFORMA BURUNG PUYUH (Coturnix coturnix japonica) Zulhairi, Febri; Erwan, Edi; Rodiallah, Muhammad
Jurnal Peternakan (Jurnal of Animal Science) Vol 9, No 1 (2025): JURNAL PETERNAKAN (JURNAL OF ANIMAL SCIENCE)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jas.v9i1.18210

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan  tanin kayu chestnut dalam ransum komersial terhadap performan meliputi konsumsi ransum, pertambahan bobot badan, dan konversi ransum burung puyuh. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Mei sampai Juli 2021 di Peternakan Masyarakat Jalan Garuda Sakti KM. 1 Pekanbaru. Penelitian ini menggunakan 100 ekor puyuh petelur yang dibagi secara acak berdasarkan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan. Adapun tiap ulangan terdiri atas 5 ekor puyuh petelur. Perlakuan yang diberikan yaitu P0 (Kontrol tanpa penambahan tanin CS), P1 (Ransum komersial + tanin CS 0,1%/kg), P2 (Ransum komersial + tanin CS 0,2%/kg) dan P3 (Ransum komersial + tanin CS 0,3%/kg). Parameter yang diukur adalah konsumsi ransum, pertambahan bobot badan dan konversi ransum puyuh petelur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian tanin CS hingga level 0,3% dalam ransum tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap konsumsi ransum, pertambahan bobot badan dan konversi ransum puyuh petelur. Kesimpulan dari penelitian ini adalah penambahan tanin CS sampai level 0,3% masih dapat mempertahankan performa puyuh petelur, ditinjau dari konsumsi ransum, pertambahan bobot badan dan konversi ransum.
PENAMBAHAN TANIN KAYU CHESTNUT (Castanea sativa Mill.) DALAM RANSUM KOMERSIAL TERHADAP PRODUKSI TELUR DAN KADAR KOLESTEROL BURUNG PUYUH (Coturnix japonica) Irfan, Isbul; Erwan, Edi; Rodiallah, Muhammad
Jurnal Peternakan (Jurnal of Animal Science) Vol 9, No 1 (2025): JURNAL PETERNAKAN (JURNAL OF ANIMAL SCIENCE)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jas.v9i1.18209

Abstract

Tanin merupakan senyawa aktif metabolit sekunder yang diketahui mempunyai beberapa khasiat yaitu sebagai astringen, anti diare, anti bakteri dan antioksidan. Pemberian tannin kayu chestnut (0,20%) juga dapat mempercepat pertumbuhan dan mengurangi kematian ayam pedaging. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan tanin Castanea sativa Mill. dalam ransum komersial terhadap produksi telur, berat telur dan kadar kolesterol telur burung puyuh. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei sampai Juli 2021 yang berlokasi di Garuda Sakti jalan Sepakat gang Keluarga dan analisis sampel dilakukan di Laboratorium Bioteknologi Universitas Andalas kota Padang,  Sumatera Barat. Penelitian ini menggunakan burung puyuh betina jenis Coturnix Japonica yang di pelihara mulai DOQ sebanyak 100 ekor umur 0 sampai 56 hari dan tepung kayu chestnut  merupakan  sumber  tanin   yang  ditambahkan  dalam  ransum   yang berfungsi sebagai zat aditif pakan. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan. Setiap unit kandang terdiri dari 5 ekor burung puyuh (Coturnix Coturnix) dengan Perlakuan R0 : Kontrol Tanpa penambahan Castanea sativa (CS) R1 : Ransum Komersial + tanin CS  0,1%/kg.  R2  :  Ransum  Komersial  +  tanin  CS  0,2%/kg.  R3  :  Ransum Komersial + tanin CS 0,3%/kg. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan tanin kayu chestnut (Castanea sativa Mill.) pada taraf 0,1-0,3% ke ransum komersil dapat menurunkan kadar kolesterol dan mempertahankan kadar produksi telur dan berat telur. Perlakuan terbaik adalah pemberian tanin Kayu Chestnut (Castanea  sativa  Mill.)  pada taraf  0,3%  di  dalam  ransum  komersial  terhadap kandungan kolestrol telur terendah yaitu 826,26 mg/dL. Kata kunci:  Burung Puyuh, Tanin Kayu Chestnut, Produksi Telur, Berat Telur dan Kadar Kolesterol Telur
PENDAMPINGAN PEMBUATAN DAN PERHITUNGAN SEDERHANA NILAI PRODUK PAKAN WAFER PADA KELOMPOK TERNAK SAPI TRADISIONAL DI KEPULAUAN MERANTI Azlina, Nur; Noviasari, Henni; Hellyward, James; Erwan, Edi; Desmiyawati, Desmiyawati; Iznillah, Muhammad Luthfi; Amri, Taqiyuddin; Yananta Sari, Debyta; Azahra, Mutiara
Jurnal Abdi Insani Vol 12 No 5 (2025): Jurnal Abdi Insani
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/abdiinsani.v12i5.2295

Abstract

Gogok Darussalam Village, located in Tebing Tinggi Barat District, Kepulauan Meranti Regency, possesses significant potential in sago crop production. The high volume of production results in an abundance of sago pulp waste, which can be utilized as raw material for the production of wafer-based cattle feed. This community service activity aimed to evaluate the formulation of wafer feed and assess the product's value in improving cattle weight gain. The program employed a Community-Based Research (CBR) approach, which actively involves the local community in every stage of the activity, thereby contributing to positive social change. The results of the activity indicated that this research-based approach successfully generated 80 to 90 percent feedback from the community. Despite the generally low level of education among participants, they demonstrated a good understanding of the material presented by the facilitators. The training began with a presentation on the process of producing wafer feed from sago pulp, followed by a simulation of business cost calculations for traditional cattle farming using a combination of wafer feed and natural grass. The findings also revealed that feed costs using wafer products were more economical, efficient, and generated higher profits compared to natural grass feed. In conclusion, wafer feed is feasible for application in both traditional and conventional cattle farming and holds strong potential for improving the welfare of livestock farmers.