Fauziah Nasution
UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan, Indonesia

Published : 13 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

The Role of Cultural Context in Language Acquisition: Strategies for Effective Language Teaching in Higher Education Burhanuddin Burhanuddin; Fauziah Nasution; Tinur Rahmawati Harahap; Bincar Nasution; Eni Sumanti Nasution
International Journal of Educational Research Excellence (IJERE) Vol. 5 No. 2 (2026): July-December
Publisher : PT Inovasi Pratama Internasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55299/ijere.v4i2.1439

Abstract

Language acquisition is a complex process deeply influenced by cultural context, which shapes learners' cognitive frameworks, motivation, and communicative competence. This study investigates the critical role of culture in language learning and proposes pedagogical strategies to enhance language instruction in higher education. By integrating cultural elements into curricula, educators can foster deeper linguistic proficiency and intercultural awareness, preparing students for global communication. A mixed-methods approach was employed, combining an extensive literature review, classroom observations, and surveys involving university-level language instructors (N=50) and students (N=100). Findings reveal that culturally responsive teaching methods—such as the use of authentic materials, intercultural exchange programs, and learner-centered approaches that leverage students' cultural backgrounds—significantly improve language acquisition outcomes. The study concludes with practical recommendations for educators to design more inclusive and effective language programs that align with contemporary educational demands.
Kedatangan dan Perkembangan Islam ke Indonesia Fauziah Nasution
Mawaizh : Jurnal Dakwah dan Pengembangan Sosial Kemanusiaan Vol. 11 No. 1 (2020): Religious Life in Indonesia Today
Publisher : Faculty of Da’wa and Islamic Communication, State Institute for Islamic Studies of Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32923/maw.v11i1.995

Abstract

There are several theories about the arrival of Islam in Indonesia. The diversity of theories is due to the phenomenon of complexity, i.e. Islam does not originate from one place/country, nor is it carried by one group of people and not at the same time. Another factor influencing the diversity of theories is the difference in evidence, elements of interest, religious subjectivity, and the ideology of historians. Although there have been conclusions about the beginning of the entry of Islam into Indonesia in 1963, the process of coming and developing Islam in Indonesia is a changing study. So there is still an opportunity to correct or strengthen an existing theory. Ulama were central actors in the early arrival and development of Islam to Indonesia. Arabic scholars who work as traders are the first group to bring and develop Islam into the territory of Indonesia, then continued by preachers from the professional Sufi circles. The figure of the Sufi cleric is strongly attached to two figures: the merchant who spreads Islam through trade as well as the heartbeat of the people's economy, and to the sultan who spreads Islam through his power. These crystallized characteristics of the propagator of Islam make Islam develop effectively. Islam was developed by Ulama through three channels namely; cultural (da'wah, education, art, culture, and marriage), structural (politics and power), economy (trade routes). In other words, the process of Islamization in Indonesia is influenced by political power and the spirit of preaching.
PENGEMBANGAN STRATEGI METACOGNITIVE LEARNING DALAM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM UNTUK MENGOPTIMALKAN KOMPETENSI SELF REGULATED LEARNING SISWA ABAD 21 DI UPTD. SD NEGERI 33 BANGAI KECAMATAN TORGAMBA KABUPATEN LABUHANBATU SELATAN Juli Azmi; Erawadi Erawadi; Fauziah Nasution
Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar (JIPDAS) Vol 6 No 3 (2026): Vol. 6 No. 3 Juni - Agustus 2026
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial dan Bahasa Institut Pendidikan Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37081/jipdas.v6i3.4767

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan modul pembelajaran berbasis metacognitive learning dalam pembelajaran PAI untuk mengoptimalkan kompetensi Self-Regulated Learning siswa abad 21 di UPTD SD Negeri 33 Bangai. Penelitian ini menggunakan model pengembangan ADDIE yang meliputi tahap Analysis, Design, Development, Implementation, dan Evaluation. Tahap analisis dilakukan untuk mengidentifikasi kebutuhan pembelajaran, karakteristik peserta didik, serta tuntutan kompetensi abad 21 yang memerlukan penguatan kemampuan berpikir reflektif dan pengaturan diri belajar. Tahap desain menghasilkan rancangan modul yang memuat langkah-langkah planning, monitoring, dan evaluating sesuai prinsip metakognitif. Selanjutnya, tahap pengembangan dilakukan melalui penyusunan produk awal modul, validasi ahli, dan revisi produk. Hasil validasi ahli materi memberikan penilaian 92%, termasuk kedalam kategori sangat valid dan layak untuk digunakan. Ahli bahasa menilai modul memenuhi kaidah bahasa Indonesia yang baik, mudah dipahami, serta sesuai dengan karakteristik peserta didik sekolah dasar dengan persentase 86%, termasuk kedalam kategori sangat valid dan layak untuk digunakan. Sedangkan ahli media menilai modul memiliki kualitas tampilan yang menarik, proporsional, dan komunikatif dengan presentase 90%, termasuk kedalam kategori sangat valid dan layak untuk digunakan. Implementasi dilakukan melalui uji coba modul di UPTD SD Negeri 33 Bangai untuk melihat kepraktisan serta efektivitas produk dalam meningkatkan Self-Regulated Learning siswa. Validasi ahli materi, ahli bahasa, dan ahli media menunjukkan bahwa modul yang dikembangkan berada pada kategori sangat valid dan layak digunakan dalam pembelajaran PAI. Hasil implementasi menunjukkan bahwa guru memberikan skor 38 dari 40 dengan rata-rata 4,00, termasuk kategori sangat praktis. Adapun hasil angket siswa menunjukkan peningkatan kemampuan Self-Regulated Learning dengan skor pretest 735 (rata-rata 28) dan posttest 997 (rata-rata 38). Hal ini membuktikan bahwa modul Strategi Metacognitive Learning efektif dalam meningkatkan kemampuan peserta didik mengatur proses belajarnya.