Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Arsitekno

STUDI ORIENTASI BANGUNAN DAN ADAPTASI NYA TERHADAP KENYAMANAN MANUSIA DALAM BANGUNAN Muhammad Iqbal
Arsitekno Vol 1, No 1 (2013): Jurnal Arsitekno
Publisher : Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/arj.v1i1.1231

Abstract

Dalam rancangan aktif, bangunan sebagai salah satu lingkungan binaan merupakan pengguna energi terbesar untuk mencapai kenyamanan termal manusia, terutama penggunaan pengkondisian udara (Air Conditioning). Berbeda hal nya dengan rancangan bangunan pasif, dimana penekanan rancangan mengarah kepada pemanfaatan energi berkelanjutan, seperti matahari dan angin. Kondisi lingkungan sekitar dan manusia sebagai pengguna bangunan merupakan indikator penting dalam merumuskan kebijakan rancangan pasif, terutama untuk mencapai kenyamanan termal. Kondisi lingkungan sekitar tersebut berupa suhu, kelembapan, kecepatan angin dan radiasi panas matahari dan kondisi manusia berupa aktifitas (metabolic rate) dan pakaian yang digunakan (clo value). Perbedaan orientasi bangunan memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap kondisi termal pada setiap ruangan dalam bangunan, seperti orientasi barat daya dengan barat laut akan berbeda cahaya matahari dan aliran angin serta kelembapannya. Penilaian terhadap termal menggunakan kaedah lapangan dengan pengukuran suhu, kelembapan, kecepatan angin dan tanggapan pengguna secara kuantitatif dengan membagikan kuesioner berdasarkan orientasi yang berbeda dalam ruangan yang diuji. Hasil pengukuran dan kompilasi data kuesioner diolah dengan Thermal ASHRAE Program Comfort IV.0, menunjukkan bahwa perbedaan orientasi bangunan memberikan berbagai kesan kenyamanan pengguna dalam rancangan bangunan alami. Dari beberapa orientasi yang menjadi studi kasus, bangunan yang menghadap ke arah tenggara memberikan kenyamanan termal yang lebih baik daripada orientasi lain.
OVERALL THERMAL TRANSFER VALUE Studi Kasus : Ruang Kuliah III Pada Program Studi Arsitektur Universitas Malikussaleh Muhammad Iqbal
Arsitekno Vol 5, No 5 (2015): Jurnal Arsitekno
Publisher : Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/arj.v5i5.1227

Abstract

Sistem tata udara menggunakan 50-70% energi dari seluruh energi listrik yang digunakan dalam bangunan perkantoran. Beban internal dari gedung internal, yaitu beban yang ditimbulkan oleh lampu, penghuni dan peralatan lain yang menimbulkan panas dan beban eksternal yaitu panas yang masuk dalam bangunan yang diakibatkan oleh radiasi matahari, konduksi dan ventilasi / infiltrasi melalui selubung bangunan. Untuk mengurangi beban eksternal, SNI 03-6389-2000 menentukan kriteria disain yaitu Keseluruhan Thermal Transfer Value (OTTV) harus lebih kecil atau sama dengan 45 Watt / m². Untuk memudahkan perencanaan dalam mendukung konservasi energi, penelitian ini berusaha mencari Window to Wall Ratio (WWR) yang dapat memenuhi OTTV yang diperlukan. Studi dilakukan pada salah satu ruang kuliah sederhana di Prodi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Malikussaleh. Hasil penelitian ini menunjukkan WWR lebih kecil atau sama dengan 0,30 menghasilkan nilai OTTV memenuhi persyaratan yang ditentukan oleh SNI 03-6389-2000.
PERFORMANCE LABELLING OF BUILDINGS Muhammad Iqbal
Arsitekno Vol 3, No 3 (2014): Jurnal Arsitekno
Publisher : Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/arj.v3i3.1215

Abstract

Pelaksanaan konstruksi bangunan yang cukup tinggi pada abad ini telah menggunakan sumber daya material dan energi yang cukup besar baik pada saat pembangunan maupun masa penggunaan bangunan tersebut. Hal ini dapat menyebabkan krisis energy dan memicu pemanasan global jika tidak adanya fungsi pengendalian dan penilaian terhadap hasil pembangunan serta rekomendasi terhadap pembangunan kedepan. Dalam rangka menjaga keberlanjutan sumber energy perlu dikembangkan program-program khusus untuk meningkatkan kesadaran para pemain kunci dalam dunia konstruksi, sepert iperancang, pengembang, pemilik bangunan, kontraktor dan pemerintah serta pihak lainnya. Langkah-langkah strategis yang akan mendorong industry konstruksi untuk lebih memperhatikan isu-isu lingkungan dalam pembangunan dapat dilakukan dengan melembagakan system penilaian dampak lingkungan dan kinerja bangunan sehingga konsep pembangunan yang ramah lingkungan dapat di motivasi dan dicapai.  Beberapa Negara maju telah menerapkan system penilaian bangunan terhadap penggunaan energi, seperti LEED di United States, BREEAM di Inggris, CASBEE diJepang,  NABEERS di Australia, ABRI di Taiwan, HK-BEAM di Hongkongdan Green Mark for Buildings di Singapore dengan tujuan mempercepat adopsi pembangunan lingkungan binaan yang ramah lingkungan dengan menggunakan konsep arsitektur hijau. Gambaran konsep penilaian bangunan yang ramah lingkungan di Negara maju tersebut apakah dapat diterapkan di Negara Malaysia sebagai Negara berkembang.